https://anchor.fm/dashboard/episode/edv1ui

Segala sesuatu, termasuk hidup kita, berada selalu dalam keterhubungan dan saling mempengaruhi. Tidak ada satu pun fenomena yang soliter, yang bisa hidup sendirian tanpa bergantung satu dengan yang lain.

Ilmu pengetahuan menemukan bahwa DNA kita sebagai manusia hanyalah 10%. Sebanyak 90% elemen yang membentuk tubuh kita berasal dari elemen-elemen yang bukan manusia. Begitulah temuan Lewis Thomas, seorang pakar Biologi yang hidup tahun 1913-1993.

Berikut penjelasannya lebih jauh.

Setiap atom dalam tubuh kita berusia milyaran tahun. Hidrogen, elemen yang paling banyak kita jumpai di alam semesta dan juga dalam tubuh kita, dihasilkan oleh dentuman besar 13,7 milyar tahun lalu. Karbon dan oksigen yang ditempa pada bintang-bintang antara 7-12 milyar tahun lalu menyebar melintasi ruang angkasa ketika terjadi ledakan bintang-bintang. Itu artinya komponen tubuh Anda berusia sangat kuno: Anda adalah debunya bintang-bintang.

Tubuh kita dihuni oleh organisme amat kecil yang jumlahnya hamper tak terbatas. Setiap manusia memiliki lebih dari 10 trilyun sel, tetapi 10 kalinya lebih banyak adalah bakteri. Artinya, tubuh Anda menjadi rumah bagi trilyunan bakteri. Kebanyakan tidak berbahaya dan sebagian bersifat simbiosis.

Tanpa organisme ini, menurut Lewis, kita tidak akan bisa “menggerakkan otot, mengetuk-ngetukkan jari, atau memikirkan sesuatu.” Tubuh kita adalah sebuah komunitas. Tanpa mereka semua, kita tidak bisa di sini saat ini. Tanpa mereka, kita tidak bisa berpikir, merasa, atau berbicara.

Ibu bumi bukanlah sekedar organisme. Ini terlalu besar, terlalu kompleks, terlalu banyak bagian yang bekerja dengan keterhubungan dan kebergantungan satu dengan yang lain yang tak terlihat. Ibu bumi bukanlah organisme, tetapi paling mirip seperti sel tunggal. Dan Anda adalah bagian dari sel itu.

Itulah temuan Lewis Thomas yang bisa Anda simak dalam tulisannya The Lives of A Cell. Temuan ini memperkuat pandangan spiritual yang sudah berusia ribuan tahun bahwa manusia, termasuk segala sesuatu, adalah makhluk interbeing. Artinya, kita ada seperti ini di sini, karena, hanya karena, adanya yang lain yang bukan kita. Tanpa adanya yang lain itu, kita pun juga tidak ada. Itulah interbeing.

Anda bisa ada di sini saat ini karena nenek moyang,  orang tua, guru-guru spiritual, keluarga dan komunitas Anda juga hadir dalam tubuh dan batin Anda sekarang. Kalau mereka tidak hadir di sini saat ini, Anda pun juga tidak ada di sini saat ini. Anda, nenek moyang, guru-guru spiritual, keluarga dan komunitas Anda adalah interbeing.

Kita banyak menderita bukan karena kejadian-kejadian tidak enak yang menimpa kita, tetapi  pertama-tama karena karena ego atau keakuan kita masih kuat bercokol. Mengapa ia ada? Ia ada karena pikiran yang terdelusi masih ada. Dan mengapa pikiran terdelusi masih ada? Ia ada karena kotoran-kotoran batin masih ada. Ego, pikiran dan kotoran batin adalah interbeing.

Bagi kebanyakan dari kita, kebenaran ini sekedar sebagai gagasan intelektual belaka, bukan sebagai pengalaman actual.

Mengapa demikian?

Kelekatan kita dengan pikiran begitu kuat. Pikiran kitalah yang memilah-milah dan memotong keseluruhan menjadi bagian-bagian yang terpisah dan tidak berhubungan. Seolah itulah kebenaran. Padahal sesungguhnya itu hanya ada di benak kita, bukan sebagai kenyataan. Pikiran selamanya bersifat dualistic dan tidak pernah bisa menembus realitas kesatuan atas segala hal.

Pikiran kita tidak bisa dipakai untuk menjangkau kebenaran ini. Meskipun pikiran tidak mampu menangkapnya, kita tetap bisa mengerti kebenarannya. Kita juga bisa masuk secara aktuil dalam jaringan interkoneksi hidup kita dengan segala hal. Karena itulah hakikat hidup kita sebagai interbeing.

Meditasi Episode 6 akan menghantar Anda ke sana.

(Bell)

Peace and Blessings