Category: Articles


Interstisi 1

https://anchor.fm/j-sudrijanta/episodes/Interstisi-1-edb96t

Inspirasi Rumah Keheningan dengan tema “Rahasia bagaimana mentransformasikan penderitaan secara mendasar dan hidup dalam keindahan dari moment ke moment” terdiri dari 7 episode. Secara bertahap akan disiarkan pada hari Senin dan Kamis pagi.

Apabila anda merasa bahwa inspirasi Rumah Keheningan bermanfaat, mohon Anda melakukan langkah berikut:

  1. Membantu menyebarkan sekurang-kurangnya kepada 3 orang dari jaringan Anda dan mereka menjadi anggota group Whatsapp Anda.
  2. Mintalah agar masing-masing anggota group Whatsapp Anda juga melakukan hal yang sama seperti Anda: menyebarkan kepada 3 orang lainnya. Begitu seterusnya.
  3. Dalam group tidak diperbolehkan melakukan chatting.
  4. Group hanya dipakai untuk dua fungsi:
    1. Pertama, untuk menyebarkan tautan yang diterima dari Rumah Keheningan.
    2. Kedua, untuk melaporkan bahwa Episode hari itu sudah didengarkan, sudah bermeditasi minimal 15 menit, dan tugas sudah dilaksanakan. Laporan hanya bertuliskan: “Episode X done”.
  5. Koordinator group disarankan untuk mengecek lewat japri (jalur pribadi) apabila anggotanya tidak membuat laporan dalam waktu 24 jam, agar bisa membantu yang mengalami kesulitan.
  6. Anggota diperbolehkan memberi informasi tentang pengalaman yang dialami, bertanya atau minta klarifikasi kepada coordinator hanya melalui japri.

 

Terimakasih atas kemurahan hatinya dalam berbagi.

Peace and Love

By J. Sudrijanta

https://anchor.fm/j-sudrijanta/episodes/Episode-ke-1-Komitment-Spiritual-ecs519

“Awakening is the ultimate of religion. Religion is, not really, in believing something outside of your being. It is not in believing or following some authoritative figure, the church, temple, organization or any ideological system of belief. Religion is trusting in what is eternal within you.” –Banai Ray, Awakening Inner Guru

Secara rohani, hanya ada jenis manusia di bawah langit: mereka yang sudah bangun dan mereka yang masih tidur.

Bangun artinya mengalami kebangkitan atau keselamatan menurut tradisi Kristiani. Mengalami pencerahan menurut tradisi Buddhist. Mengalami pembebasan menurut tradisi Hindu. Mencapai Insan Kamil menurut Islam.

Bangun pada intinya berarti hidup dalam kesadaran baru dan tidak lagi menderita.

Tidur adalah kebalikannya: hidup dalam ketidaksadaran dan menderita.

Pada dasarnya hanya ada dua jenis kesadaran yang membentuk semua pengalaman manusia. Itu adalah kesadaran yang menciptakan penderitaan dan kesadaran yang melahirkan keindahan.

Kapan kita mengalami Keindahan hidup? Keindahan hidup kita alami pada moment-moment ketika kita mampu bersikap tenang di tengah kekacauan. Tetap damai di tengah konflik dan permusuhan. Tulus menerima kelemahan dan ketidaksempurnaan. Bisa merasakan sukacita melihat apa yang ada. Menjadi kagum bahwa segalanya akhirnya menjadi baik adanya.

Kebalikan dari Keindahan hidup adalah penderitaan. Anda bisa mengganti penderitaan dengan stress, galau, cemas, kesepian, takut, benci, marah, tidak berharga, putus asa, atau semua yang kita alami sebagai emosi negative.

Dua tipe kesadaran ini tidak mungkin bermanifest dalam waktu yang sama. Apabila kita memilih berjalan kearah selatan, tidak mungkin kita sekaligus berjalan kea rah utara. Demikian pula apabila kita memilih untuk menderita, tidak mungkin pada saat yang sama kita bahagia.

Pada tingkat manakah kita hidup dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari? Pada hari-hari ini, apakah Anda hidup bersumber dari tingkatan kesadaran yang menciptakan penderitaan ataukah kesadaran yang membangkitkan keindahan?

Kesadaran yang menciptakan penderitaan kita sebut “ketidaksadaran”, sedangkan kesadaran yang membangkitkan keindahan kita namakan kesadaran asali atau kesadaran murni.

Ada “ketidaksadaran” terpendam di benak kita yang mengatakan, “Aku adalah tubuh, pikiran, emosi, dan energy. Tubuh, pikiran, emosi, dan energy adalah aku atau milkku.” Tidak. Siapa Anda yang sesungguhnya melampaui tubuh, pikiran, emosi dan energy.

Kita lupa kebenaran spiritual ini, bahwa “Kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia.” Begitulah temuan seorang Jesuit Paleontolog awal abad 20, Pierre Teilhard de Chardin. (Pier Teyard de Shardong).

Kita semua adalah makhluk spiritual yang memiliki tubuh fisik, pikiran, emosi, dan energy. Anda bisa mengganti makhluk spiritual dengan jiwa, spirit atau roh, terang kesadaran atau kesadaran murni.

Lupa akan identitas asali kita adalah bentuk ketidaksadaran dan semua pengalaman penderitaan manusia berakar dari ketidaksadaran ini.

Inilah rahasia dari kekuatan kesadaran. Semakin dalam kita tersambung dengan kesadaran asali, semakin terasa indah hidup kita. Sebaliknya, semakin jauh dari kesadaran asali—yang berarti kita hidup dalam “ketidaksadaran”–semakin kuat sengat penderitaan kita.

Apabila kita hidup dalam keindahan, secara alamiah kita akan hidup lebih sehat; pikiran lebih jernih dan terbuka pada cakrawala lebih luas; emosi lebih terkendali; hati kita menjadi lebih peka; dan vitalitas energy dari dalam membuat hidup kita lebih bergairah.

Hidup dalam keindahan membuat segala sesuatu terhubung, terkoneksi, dan sinkron dengan impian kita. Sinkronisitas adalah keterhubungan peristiwa-peristiwa yang selaras dengan intensi kita. Itu terasa seperti alam semesta sedang membawa berkah kebaikan untuk hidup kita sesuai dengan hasrat terdalam yang kita harapkan.

Hidup dalam keindahan membuat kita lebih kreatif. Kita mengeluarkan energy lebih sedikit tetapi menghasilkan pencapaian jauh lebih banyak. Solusi cerdas atas suatu masalah muncul begitu saja. Hubungan-hubungan lama yang menyakitkan disembuhkan dan hubungan-hubungan baru diperkuat. Orang atau kesempatan datang tepat pada saat kita membutuhkan. Kita menyaksikan banyak orang dan segala makhluk saling berbagi keindahan hidup.

Inti dari keindahan hidup adalah berhentinya mekanisme “ketidaksadaran” dalam diri kita dan lalu kita hidup dari kedalaman, dari kepenuhan. Kepenuhan dan keindahan dari dalam membuncah keluar, membuat orang tergerak untuk memberi dan memberi; tidak ada tempat untuk menuntut bagi kepentingan egois diri sendiri.

Banyak peristiwa terjadi yang membuat kita berdecak kagum. Kedamaian, keheningan, welas asih, sukacita, kemurahan hati, keberanian mengalir terus seperti air sungai. Kita dibuat bangun setiap kali dan melihat realitas kesatuan dan interkoneksi hidup kita dalam segala hal.

Bayangkan apabila lebih banyak orang bangun dan hidup dalam keindahan seperti ini. Mereka akan terkoneksi satu dengan yang lain, membentuk lingkaran-lingkaran kehidupan yang saling tersambung sebagai tubuh social yang kuat dan indah. Solidaritas, kolaborasi, kesatuan, inter-koneksi berfungsi seperti system kekebalan tubuh yang berfungsi menjadi benteng pertahanan social yang kuat dalam menahan goncangan krisis apapun.

Apakah Anda sungguh berminat menemukan keindahan hidup mulai saat ini? Kita akan melangkah bersama dan langkah pertama adalah komitment:

Maukah Anda berhenti memilih penderitaan setiap hari dan membiarkan pohon keindahan mekar dalam diri Anda?

(Bell)

 

Melepas Penderitaan dengan Mudah

By J. Sudrijanta

“The Great Way is not difficult for those who have no preferences.When love and hate both absent.

Everything becomes clear and undisguised.

Make the smallest distinction, however, and heaven and earth are set infinitely apart.”

–Sutra On Trust in the Heart-Mind

Melepas selalu berarti melepaskan genggaman atau cengkeraman terhadap sesuatu. Bukan objeknya yang kita lepaskan, melainkan kelekatan kita terhadap objeknya. Apabila kita melepas objeknya sekalipun, tetapi kita masih melekatinya, kita belum sungguh melepas.

Untuk bisa hidup wajar sebagai manusia dan berfungsi di tengah dunia, kita perlu memiliki sesuatu. Kita membutuhkan sandang, pangan, papan, fasilitas kesehatan, pendidikan, sarana komunikasi, alat transportasi, pekerjaan, keluarga, persahabatan, uang, pikiran di kepala dan seribu satu hal baik di luar maupun di dalam diri kita.

Persoalannya adalah begitu kita melekati suatu hal, maka kita menjadi menderita. Tidak ada lagi kebebasan, kedamaian, sukacita. Sebaliknya kita menemukan sebuah kebebasan sekaligus keindahan hidup pada moment kita lepas-bebas. Lepas bebas artinya, mampu menggunakan segala sarana, sama sekali tanpa melekatinya.

Apa yang ada setelah batin seluruhnya berhenti melekat? Batin kembali seperti aslinya, jernih, terang-benderang. Tidak ada dualitas cinta atau benci, suka atau duka. Segala hal terhubung, saling mempengaruhi, menyatu, tak-terpisahkan. Seperti halnya surga dan bumi, menyatu adanya. Begitu kita melekat pada hal kecil sekalipun, kata Sutra “Percaya pada Hati-Budi” (On Trust in the Heart-Mind), “surga dan bumi terbelah tanpa batas.”

Prinsip non-dualitas ini sangat menolong dalam praktik melepas. Pertama-tama, kita bisa belajar melihat kebenaran ini. Di dalam suka ada duka, di dalam penderitaan ada kebahagiaan, di dalam konflik ada damai, di dalam ketidaktahuan ada pencerahan, di dalam kesakitan ada kebebasan. Janganlah kita mengambil yang satu dan membuang yang lain. Terimalah keduanya dengan damai sebagai satu realita.

Dalam latihan, kita hanya perlu mulai dengan menemukan relaksasi tubuh dan batin. Rasakan dan realisasikan relaksasi saat tubuh tidak enak, sakit, tidak nyaman. Rasakan dan realisasikan relaksasi saat batin tegang, didera duka, penderitaan, konflik, ketidaktahuan, kesakitan.

Relaksasi adalah proses alamiah yang membawa kita pada lapisan realita batiniah yang lebih dalam tanpa kita melakukan apapun. Tanpa daya upaya, tanpa konsentrasi, tanpa konflik atau pergulatan.

Relaksasi adalah seperti pintu gerbang yang akan membawa kita pada lapisan realita lain. Setelah satu pintu relaksasi terbuka, kita dibawa kepada lapisan realita yang lebih dalam. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya kita sampai pada penghujung perjalanan, melampaui segala hal di mana tidak ada lagi yang melekati dan yang dilekati. Kita melampaui keterikatan pada lapisan-lapisan tubuh fisik, pikiran, perasaan dan energy.

Melepas, melepas dan melepas adalah cara sederhana namun sangat efektif dalam melakukan perjalanan ke alam batin. Perjalanan ke alam batin adalah perjalanan untuk menemukan atau merealisasikan hakikat kita terdalam dan melampauinya.

Menghadirkan surga di bumi adalah menghadirkan elemen kemahaluasan ruang kesadaran batiniah yang merangkum, melingkupi dan meresapi segala hal yang disadari. Setiap kali kita masuk pada realitas ini, segala kelekatan dan cengkeraman batin bukan hanya terlepas secara alamiah. Lebih jauh, Anda akan menyaksikan kebebasan dan keindahan hidup menjadi kidung dan tarian alam semesta dalam diri Anda.*

Pesan Penting Kepada Dunia

By J. Sudrijanta, S.J.

 

“If we can really understand the problem, the answer will come out of it, because the answer is not separate from the problem.”—J Krishnamurti

 

Pernahkah Anda tidak bisa tidur karena batin pepat dengan masalah? Pikiran terus berputar tanpa kendali. Kepala pening. Leher ngelu Pundak kaku. Perut mual. Badan meriang. Tubuh lungkrah. Hari-hari penuh dengan tekanan. Jiwa betul-betul lelah.

 

Orang bisa dihantam oleh masalah dan masalah. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Tanpa henti. Anda bisa menemukan orang-orang atau masyarakat  seperti ini di manapun. Entah di negara maju atau negara berkembang, di kota atau desa, pusat atau pedalaman, di kalangan orang kaya atau orang miskin.

 

Namun tidak ada yang lebih kompleks dan ruwet dibanding masalah-masalah di daerah-daerah konflik atau perang. Kemiskinan dalam banyak dimensi. Keterbelakangan pendidikan. Buruknya kesehatan. Maraknya kejahatan. Mental korup. Mudah curiga. A lot berubah. Mudah meledak. Budaya kekerasan. Kebencian yang diturunkan dari generasi ke generasi. Semua itu adalah sekedar contoh-contoh masalah pelik di daerah-daerah konflik atau perang di manapun.

 

Apabila Anda hidup di tinggah-tengah situasi seperti itu, hanya ada dua kemungkinan ekstrem. Pertama, Anda akan lebih mudah sakit, stress, dan bisa gila; atau kedua, Anda akan tumbuh lebih berkembang dan menjadi lebih bijaksana.

 

Masalah apapun, termasuk yang paling kompleks dan ruwet, bisa menjadi guru terbaik bagi pencerahan. Semua bergantung sikap kita.

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak ada masalah yang abadi. Ledakan, sekuat apapun, pasti mereda dan berhenti. Ledakan bisa kembali muncul tapi pasti berhenti. Begitu seterusnya. Masalah adalah seperti ledakan. Timbul dan tenggelam. Tidak ada yang abadi. Semua masalah baginya adalah peristiwa biasa. Tidak ada masalah besar atau kecil, berat atau ringan. Segala hal datang dan pergi, muncul dan lenyap. Cara membaca seperti ini membuat jiwa tenang. Tidak mudah bergolak. Stabil. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan maha penting kepada dunia, “Tenanglah. Itu hal yang biasa. Tidak usah terlalu serius.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak ada masalah yang tidak berguna. Tidak ada hal negatif terjadi tanpa hal positif pada saat yang sama. Justru karena ada ledakan masalah, hal-hal baru menjadi terbuka. Seringkali apa yang harus kita fokuskan menjadi lebih jelas. Intensi dan nurani dimurnikan. Nilai-nilai yang kita perjuangkan menjadi terang-benderang. Pemahaman akan halnya semakin diperdalam. Orang menyebutnya, “Blessing in disguise,” sebuah berkat terselubung. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan penting kepada dunia, “Tangkaplah sebanyak mungkin pesan bernilai luhur di balik kritikan pedas, perlakuan kejam atau kemalangan apapun yang menimpa Anda.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak satupun masalah di luar yang bisa menggoncang jiwa, kecuali ia mengijinkannya. Jiwanya tetap tenang, damai, tidak bergolak. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepahitan. Tutur katanya tidak berubah. Tetap lembut. Tidak kehilangan senyum ataupun tawa. Namun bisa tegas dan kehadirannya menggetarkan. Dalam situasi tekanan apapun, termasuk ketika eksistensinya terancam, ia tahu bagaimana menjadi tenang dan tetap tenang. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan penting kepada dunia, “Apa yang di dalam (batin/jiwa) jauh lebih penting daripada apa yang di luar (batin/jiwa). Teguklah damai dan sukacita batiniah, sekalipun dunia terbakar.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak ada satupun masalah yang perlu dipecahkan. Solusi atas pecahan satu masalah akan menimbulkan pecahan masalah yang lain. Pasti! Jawaban atas suatu masalah sudah ada dalam masalahnya. Maka pahami keseluruhan masalahnya! Itulah cara yang lebih tepat daripada mencari penyelesaian masalah. Karena dengan memahami, kita mengatasi. Maka orang yang tercerahkan lebih siap untuk menolong orang lain. Bukan dengan cepat-cepat memberi solusi, tetapi mengajak orang lain agar sama-sama memahami. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan kepada dunia, “Berhentilah untuk mengubah orang lain. Itu akan membuat Anda stress dan sakit hati. Ubahlah diri Anda sendiri dan cukup berikan cinta dan hati Anda.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, pusat perhatiannya bukan masalah tetapi ruang batiniah. Ruang batiniah adalah ruang sebelum muncul segala bentuk sensasi, pikiran, emosi, energi, termasuk setiap masalah. Ruang batiniah adalah kecerdasan/ kesadaran/keheningan/rigpa/ kekosongan/roh/qualia. Bila orang mulai berpikir tanpa berakar pada ruang batiniah ini, seluruh proses pikiran menjadi bersifat reaktif dan superfisial. Segala keputusan beresiko keliru. Daya kreatif tersumbat dan orang tidak akan menemukan solusi terbaik, kata-kata yang tepat, tindakan yang benar. Orang seperti ini seolah sedang mengirimkan pesan penting kepada dunia, “Heninglah dan gunakan otakmu, bukan diperbudak oleh pikiranmu.”

 

Apabila jiwa kita mudah tergetarkan oleh kata-kata orang-orang tercerahkan, kita sendiri tidak jauh dari pencerahan. *

Murah Hati

Oleh J. Sudrijanta S.J.

“If truth doesn’t set you free, generosity of spirit will.” ― Katerina Stoykova Klemer

Ada banyak jalan pencerahan dan praktik bermurah hati adalah salah satu jalan terdekat menuju pencerahan. Apabila kita belum berjumpa dengan kebenaran yang mencerahkan, praktik bermurah hati akan menolong kita.

Apabila tidak ada orang ingin memberi dan hanya ingin menuntut, apa jadinya dunia ini? Dalam kenyataan, masih banyak orang baik di muka bumi. Mereka bukan hanya senang memberi, tetapi memberi dengan murah hati telah menjadi orientasi dasar hidupnya. Mereka bukan hanya orang-orang kaya yang berkelimpahan materi, tetapi juga orang biasa bahkan orang miskin dalam ukuran umum.

Praktik bermurah hati bukan hanya menghantar kita pada pencerahan, tetapi juga mendorong dengan kuat gerak perubahan dunia ini ke arah yang lebih baik. Apabila orang memahami kebenaran ini, apakah ada orang yang tidak ingin bermurah hati?

1

Apa yang disebut dengan murah hati?

Pertama, murah hati adalah kualitas batin yang membuat orang ringan memberi, bahkan memberi lebih daripada apa yang diminta atau dibutuhkan.

Apa factor kunci yang membuat orang murah hati? Bahagia adalah factor kuncinya. Ketika Anda bahagia, Anda menjadi orang yang murah hati. Ketika Anda murah hati, Anda akan menjadi lebih bahagia. Apabila orang memahami kebenaran ini, apakah ada orang yang tidak ingin bermurah hati?

Apapun yang ada di dalam akan terekspresikan ke luar. Begitu pula saat Anda bahagia. Energi kebahagiaan akan terekspresikan keluar dalam bentuk memberi.

Sesungguhnya tidak ada orang egois atau orang altruis. Yang ada adalah sebagian orang hidup tidak bahagia, sebagaian yang lain bahagia atau sangat bahagia. Orang yang tidak bahagia pasti kikir atau tidak murah hati. Orang yang bahagia pasti murah hati, dan yang sangat-sangat bahagia hidupnya pasti sangat-sangat murah hati.

Apa yang kita berikan bersifat terbatas apabila menyangkut hal-hal finansial atau fisik. Uang atau materi yang Anda berikan kepada mereka yang membutuhkan selalu dalam jumlah terbatas.

Pemberian secara non-fisik tidak mengenal batas. Itu bisa bisa berupa senyuman, sikap positif, kreatifitas, sumbangan pemikiran, energy kedamaian, cinta kasih, pengertian, pemahaman, penerimaan, perhatian atau doa. Pemberian non-fisik tidak kenal kata rugi dan tidak memiliki resiko apapun. Dengan kata lain, kita bisa bermurah hati secara lebih luas jangkauannya, tak terbatas, tidak beresiko, tidak butuh biaya, tidak ada ruginya, apabila kebaikan yang mau kita bagikan bersifat non-fisik.

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.
Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu;
Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27-28)

Apabila kita sudah mengasihi orang yang mengasihi kita, saatnya sekarang untuk memperluas jangkauan kemurahan hati dengan mengasihi orang yang membenci kita. Apabila kita sudah bisa mengasihi tetangga kita tanpa pandang bulu apakah mereka baik atau jahat, kita bisa belajar tidak menyakiti dan mencintai hewan sebagai sesame makhluk hidup. Apabila kita sudah bisa menyayangi hewan, kita bisa belajar untuk tidak menyakiti dan mencintai pohon, hutan dan alam semesta.

Apabila praktik ini kita lakukan, bukankah tidak aka nada lagi konflik dan peperangan di muka bumi? Selama masih ada konflik dan peperangan, jangan-jangan kita sendiri belum sungguh bermurah hati; dan kita belum bermurah hati karena kita belum cukup bahagia.

2

Kedua, murah hati adalah juga sebuah kualitas spiritual bahwa kita bisa menyediakan diri untuk dipakai oleh Tuhan dan alam semesta untuk menghadirkan kebahagiaan dan kebaikan bagi sesama melalui proses “memberi dan menerima.”

Ketika kita memberi, kita sedang mengekspresikan kebahagiaan kita ke luar, dan ekspresi ini berfungsi sebagai jembatan atau kendaraan bagi Tuhan dan alam semesta untuk menghadirkan kebahagiaan di dunia.

Tuhan dan alam semesta ini tak sedetik pun berhenti menopang dan memberi keberlimpahan hidup bagi banyak sekali makhluk. Berkah Tuhan dan aliran energy alam semesta mengalir melalui proses memberi dan menerima.

Tubuh kita adalah tubuh alam semesta dan tubuh alam semesta adalah tubuh kita. Batin kita adalah batin alam semesta dan batin alam semesta adalah batin kita. Diri kita dan alam semesta selalu dalam jalinan keterhubungan, saling bergantung dan saling mempengaruhi.

Apabila kita menahan kebaikan yang seharusnya kita berikan kepada sesame dan makhluk lain, kita sedang menahan atau menunda lebih banyak kebaikan yang mau diberikan kepada kita. Memberi sebagai ekspresi dari kebahagiaan di hati membuat berkah Tuhan dan keberlimpahan alam semesta berputar dalam hidup kita.

Dengan memberi sesungguhnya kita menerima. Pemberian kepada orang lain sesungguhnya adalah pemberian kepada diri sendiri. Apabila orang mengerti kebenaran ini, apakah ada orang yang tidak ingin memberi?

Apabila Anda mengekspresikan kebahagiaan Anda kepada sesosok jiwa yang dipertemukan dengan Anda, siapakah yang pertama-tama merasakan pemberian Anda? Anda sendiri bukan? Dengan membuat orang lain bahagia, pertama-tama kita sendirilah yang bahagia dan kebahagiaan yang kita ekspresikan kepada orang lain akan menambah kebahagiaan kita. Itulah mengapa memberi lebih membahagiakan daripada menerima, dan sesungguhnya ketika memberi pada saat yang sama kita menerima.

“Bila orang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga pipimu yang lain;
bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu.” (Lukas 6:29-30)

3

Ketiga, murah hati adalah juga kualitas batin yang memungkinkan kita berbuat untuk orang lain apa yang kita kehendaki orang lain perbuat untuk diri kita.

Apabila kita ingin lebih bahagia, kita perlu lebih banyak membahagiakan orang lain. Apabila kita ingin lebih damai, kita perlu membuat orang-orang disekitar merasakan damai dengan kehadiran kita. Apabila kita ingin lebih sejahtera, bekerjalah dengan keras untuk menolong orang lain agar lebih sejahtera.

“Sebagaimana kamu kehendaki orang berbuat kepadamu, demikian pula hendaknya kamu berbuat kepada mereka.” (Lukas 6:31)

Singkatnya, tanamlah pohon kebaikan sebanyak mungkin, apabila kita ingin memetik lebih banyak buah kebaikan. Mengapa? Karena kita tidak bisa memetik buah kebaikan yang tidak kita tanam. Kita hanya akan bisa menuai apa yang kita tanam.

4

Keempat, murah hati adalah juga tahu dan sadar apa yang sungguh kita butuhkan untuk kedamaian dan kebahagiaan bagi tubuh dan batin kita.
Bisa jadi kita murah hati kepada orang lain, tapi tidak cukup murah hati untuk diri sendiri. Mengapa? Karena kita belum sadar.

Apa bedanya tahu dan sadar? Apabila kita tahu bahwa marah-marah menyakiti orang lain dan diri sendiri dan tetap saja kita suka marah-marah, itu artinya kita tahu tapi belum sadar.

Apakah Anda tahu ketika Anda marah, Anda menyebarkan racun dalam tubuh Anda? Ilmu kedokteran membuktikan itu. Jadi kalaupun Anda tahu tapi tetap suka meracuni tubuh Anda dengan suka marah-marah, itu artinya tahu tapi tidak sadar. Dengan kata lain, Anda belum cukup bermurah hati pada diri Anda sendiri.

Sadar artinya kita tahu apa yang sungguh kita inginkan dan kita bisa merealisasikannya sekarang juga.

Janganlah memasukkan situasi-situasi yang terus berubah di luar sebagai basis pengalaman batiniah kita. Situasi di luar adalah satu hal dan apa yang Anda rasakan tentang situasi di luar adalah hal yang lain. Situasi di luar tidak pernah terjadi 100% sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi apapun yang terjadi dalam interioritas kita, kita sendirilah yang menentukan.

Kedamaian dan sukacita adalah rumah kita. Apabila setiap kali kita mengingatkan diri kita untuk kembali pulang ke rumah, damai dan sukacita hidup adalah satu-satunya cara terbaik, kita bisa menghayati kehidupan dari saat ke saat.

5

Ada orang yang sangat dikagumi dunia karena berhasil melakukan percepatan pembangunan infrastruktur dan pemerataan pembangunan di berbagai daerah yang akan memicu pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan makin mudahnya akses dan perjumpaan peradaban dan budaya di seluruh negeri. Hal ini tidak dilakukan oleh semua pemimpin negeri ini sebelumnya.

Namun di negeri sendiri, orang ini dicaci, direndahkan, dan mau disingkirkan oleh gerombolan para peternak politik yang berkomplot dengan para pemuka agama yang haus uang dan kekuasaan.

Dengan mengutip tulisan berikut yang dibuat orang ini, saya bukan bermaksud berkampanye. Hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa orang ini memiliki kualitas kemurahan hati yang mengagumkan. Itulah mengapa dunia mengaguminya, meskipun sebagian yang lain mencaci.

“Tidak semua kalangan elit bisa terima punya presiden seperti saya. Saya itu kan bukan siapa-siapa. Bukan anak kongklomerat, bukan orang kaya, dan tidak datang dari keluarga terpandang. Penghinaan itu kan hanya bisa dilakukan kepada mereka yang dianggapnya rendahan. Saya ya…mungkin saja rendahan.

Tapi jadi presiden kan memang untuk bekerja pada negara, bukan menjadi penguasa segala-galanya. Kunci menghadapi kebencian dan penghinaan adalah rendahkan hati serendah-rendahnya. Terus fokuskan perhatian kita untuk semakin banyak bekerja. Penghinaan apabila kita hadapi dengan rasa sombong sedikit saja, bisa membuat kita sakit. Nggak perlu dilawan, biarkan saja.” –Jokowi, Presiden RI

J. Sudrijanta, S.J.
Email: sudrijanta1@gmail.com; sudrijanta@yahoo.co.uk
Blog: http://www.meditativestate.wordpress.com

Hidup Bahagia Secara Alamiah

Oleh J Sudrijanta

Semua orang tahu apa bedanya kenikmatan dan kebahagiaan. Kenikmatan adalah kebahagiaan yang dikondisikan oleh hal-hal di luar. Anda bahagia kalau bisa makan enak, misalnya, bisa memenuhi kebutuhan biologis, punya teman banyak, mendapat pujian atau pengakuan, dan seterusnya. Kebahagiaan seperti itu disebut kenikmatan.

Kebahagiaan yang bukan kenikmatan adalah sukacita tanpa sebab, sukacita tanpa bergantung pada hal-hal di luar.

Apa yang kita cari sepanjang hidup? Kenikmatan atau kebahagiaan? Kebahagiaan sebagai kenikmatan adalah kebahagiaan yang sering kita cari atau kita kejar selama hidup. Kita sering berpikir keliru: semakin banyak kenikmatan, semakin besar kebahagiaan. Kenyataannya berbalikan.

Kenikmatan tentu punya tempatnya dalam hidup. Tetapi kebahagiaan, atau sukacita batiniah yang tidak dikondisikan hal-hal di luar, adalah sesuatu yang lain. Ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya dan

Apabila ada kebahagiaan seperti ini di hati kita, maka kebahagiaan ini akan tereskpresikan ke luar, dan kita tidak tertarik sekedar mencari kenikmatan dari luar. Kebahagiaan yang kita ekspresikan keluar tentu lebih dalam daripada kebahagiaan yang kita dapatkan dari luar.

Rasa damai, kasih, antusiasme, rasa lapang, rasa keberlimpahan dari dalam, adalah bentuk-bentuk kebahagiaan. Ketika kita berada dalam situasi yang sulit atau tidak enak sekalipun, apabila batin kita tidak tergoncang, tetap tenang dan stabil, di situ ada suatu kebahagiaan yang lain.

Berbahagialah hai kamu yang miskin, sebab kamulah yang empunya kerajaan Allah. (Lukas 6: 20)
Berbahagialah, hai kamu yang se¬karang ini menangis, karena kamu akan ter¬tawa. (Lukas 6: 22b)

Sabda Bahagia dalam Injil di atas berbicara tentang kebahagiaan yang sesungguhnya—bukan kebahagiaan yang terkondisi, bukan kebahagiaan yang terkait dengan hal-hal di luar, bukan kebahagiaan sebagai kenikmatan. Itu adalah kebahagiaan sesungguhnya dan kebahagian seperti itu alamiah.

Ketika Anda hidup bahagia secara alamiah, apapun keadaan Anda dalam hubungan dengan dunia di luar, tidak penting, dalam arti tidak menggoncang batin Anda.

Ketika Anda hidup bahagia secara alamiah, jiwa Anda menjadi tenang, damai, meskipun barangkali miskin, lapar, hidup penuh tangisan, ditolak atau dibenci orang.

Ketika Anda hidup bahagia secara alamiah, Anda digetarkan rasa ketercukupan, kepuasan atau rasa keberlimpahan dari dalam. Anda tidak lagi tertarik untuk mencari, tetapi sekarang bergerak untuk memberi.

Kebahagiaan alamiah tidak bisa dicari, tidak perlu dikejar, tetapi hanya perlu direalisasikan. Anda tidak perlu melakukan sesuatu yang menyenangkan supaya Anda bahagia. Kebahagiaan alamiah tidak ditentukan apakah Anda mendapat sesuatu atau tidak mendapat sesuatu, tidak ditentukan apakah Anda memiliki lebih atau kurang, tidak ditentukan apakah Anda bisa melakukan atau tidak bisa melakukan sesuatu.

Tiga praktik kesadaran berikut akan menolong kita untuk menemukan kebahagiaan secara alamiah kapanpun kita mau.

1. Sadarilah bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab Anda

Menjadi bahagia adalah tanggung jawab utama dan pertama setiap orang. Janganlah kita melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, situasi di luar, atau bahkan Tuhan, atas kemalangan hidup kita. Hidup kita menyedihkan atau membahagiakan, kita sendirilah yang menciptakan.
Menjadi bahagia bukanlah tujuan hidup, tetapi sebuah tuntutan hidup. Apabila Anda tidak bahagia, apapun yang Anda lakukan apa artinya? Kalau Anda tidak bahagia, Anda hidup seperti dalam penjara. Hanya kalau Anda bahagia, banyak kemungkinan dan cakrawala luas akan terbuka.

Apapun yang Anda lakukan, energy batiniah Anda itulah yang Anda sebarkan Apabila tidak ada sesuatu yang menggetarkan Anda dari dalam, Anda tidak akan bisa melakukan sesuatu yang menggetarkan bagi dunia. Apabila Anda punya perhatian pada dunia di luar Anda, hal yang pertama yang perlu dilakukan adalah mentransformasikan diri Anda menjadi makhluk yang bahagia.

Saat menghadapi konflik atau situasi-situasi yang sulit, kita perlu berlatih lebih banyak diam, tidak menilai, tidak menyalahkan, tidak membenarkan. Rasakan apa saja yang Anda alami di dalam tubuh dan batin. Rasakan relaksasi dan ketenangan di dalamnya. Bertahanlah di sana selama Anda bisa. Maka kebahagiaan batiniah akan lahir secara alamiah.

2. Realisasikan bahwa kebahagiaan adalah keadaan asali siapa Anda
Kita hidup dengan memiliki banyak dimensi. Ada dimensi fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Dalam setiap dimensi, ada penderitaan dan kenikmatannya masing-masing.

Persoalannya adalah ini. Ketika kita mengidentikkan diri dengan apa yang kita miliki, maka kita melupakan identitas siapa kita yang sesungguhnya. Merealisasikan identitas yang sesungguhnya, yaitu makhluk spiritual yang bahagia sejak semula, adalah dengan memutus identifikasi diri kita dengan apa yang kita miliki.

Kita bukanlah hal-hal yang kita miliki. Kita bukanlah tubuh fisik, bukan pikiran, bukan emosi, bukan identitas yang ditempelkan oleh orang lain, bukan ego atau keakuan. Siapa Anda yang sesungguhnya melampaui itu semua.

Disidentifikasi terhadap segala kepemilikan adalah cara efektif untuk merealisasi identitas asali kita. Oleh karena itu, praktik melepas menjadi penting.

3.Kembangkan cara melihat melampaui konsep pikiran

Semua penderitaan batin muncul sebagai hasil dari persepsi yang melenceng dari fakta apa adanya. Proses-proses kognisi dan afeksi menjadi lebih penting dari pada hidup sebagai hidup itu sendiri.
Kita kehilangan cita rasa dan pemahaman mendalam apa artinya betul-betul hidup. Pecahan pikiran di benak kita dan emosi dalam diri kita yang sering kita cengkeram menghalangi persepi cerah tentang kenyataan.

Padahal pikiran dan emosi bukanlah kenyataanya itu sendiri. Pikiran dan emosi hanyalah pecahan energy sebagai hasil reaksi memori atas stimuli. Memori hanya impresi dari kenyataan dan bukan kenyataannya itu sendiri. Jadi pikiran dan emosi bukanlah representasi kenyataan itu sendiri.

Seluruh hidup ciptaan dan proses penciptaan berlangsung secara mengagumkan dari saat ke saat. Setiap moment selalu indah, segar dan baru. Fakta ini tidak tertangkap apabila kita memahami menurut beban pengaruh emosi dan pikiran. Satu buah pikiran buruk saja atau satu ledakan emosi negative saja yang kita cengkeram bisa menghancurkan segalanya.

Batin yang sempit adalah batin yang mencengkeram setiap pengalaman. Batin yang maha luas adalah batin yang mampu melihat melampaui konsep pikiran. Batin yang maha luas adalah seperti langit luas tak-terbatas dan batin yang sempit sebagai kumpulan pikiran, emosi dan reaksi-reaksi mental adalah seperti awan. Awan cepat muncul dan lenyap. Tetapi langit yang maha luas tetap ada di tempatnya, tanpa terpengaruh oleh muncul dan lenyapnya fenomena awan. Kita bisa belajar mengembangkan persepsi cerah dengan melihat dari langit yang maha luas.

Semua pengalaman dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini berlangsung sempurna, indah dan bermanfaat. Apabila kita bisa melihat segala pengalaman dan peristiwa dari batin yang maha luas, tidak mustahil kita hidup bahagia secara alamiah.*

Oleh J. Sudrijanta

Apa hal kunci yang kita butuhkan agar dunia menjadi lebih damai? Ada banyak factor bagi perdamaian di dunia. Tidak ada kedamaian tanpa keadilan; tidak ada keadilan tanpa iman yang membebaskan; tidak ada iman yang membebaskan tanpa keterbukaan untuk dialog agama; dan tidak ada dialog agama tanpa dialog kehidupan.

Keadilan, iman yang membebaskan, keterbukaan untuk dialog agama dan dialog kehidupan adalah factor-faktor yang paling dekat bagi terciptanya perdamaian. Namun itu bukan kuncinya. Kunci utamanya terletak pada kualitas kesadaran manusianya sendiri: dunia ini akan menjadi lebih damai apabila kita, Anda dan saya, hidup damai.

Damai bukanlah tidak adanya konflik atau kekacauan di luar. Damai adalah hati yang tenang, bebas, tidak ada rasa takut, tidak memiliki konflik dan kekacauan batin, meskipun hidup di tengah situasi di luar yang kacau.

Damai adalah juga hati yang tidak galau menghadapi setiap bentuk kekesalan, kecemasan dan penderitaan batin.

Mari kita belajar untuk menemukan kembali kedamaian yang lebih dalam dengan berkaca dari seorang tokoh pengusung kedamaian di awal abad pertama, yaitu Yesus Kristus.

Yesus hidup pada masa di mana dunia sudah bergolak. Ia dilahirkan dalam situasi konflik dan kekerasan. Begitu lahir, Ia diungsikan ke negeri orang karena ancaman pembunuhan. Setelah kembali ke negara asalnya, Ia dibesarkan di bawah regim penjajahan Romawi yang menciptakan banyak kekacauan, dan regim pemimpin agama Yahudi yang suka kekuasaan. Pada puncak kematangan hidupnya, Ia mati sebagai korban kebencian.

Para peneliti kain kafan Yesus dari Turin memberikan testimony. Seorang anak muda 30-an tahun mati dengan luka-luka akibat siksaan yang amat keji, seperti terekam pada bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. Yang paling mencengangkan, menurut mereka, adalah meskipun anak muda ini menanggung penderitaan fisik yang amat berat, wajahnya memancarkan kedamaian yang amat dalam.

Kedamaian Yesus bukanlah milik Yesus sendiri. Kedamaian Yesus adalah Hakikat Kristus, yang adalah hakikat semua jiwa dan segala makhluk. Ini adalah kedamaian alamiah, tak-terbatas, tak-terkondisi, sebagai Hakikat Asali Jiwa kita.

Di tengah dunia yang sarat konflik, kekerasan dan kebencian, kita perlu belajar untuk “menemukan kembali” kedamaian alamiah ini. Bukan mencari kedamaian, tetapi menemukan kembali. Sebab kedamaian alamiah ini tidak pernah hilang dari jiwa kita. Saat kita sakit hati, cemas atau menderita, kedamaian alamiah itu tertutupi namun tetap ada di tempatnya.

Kedamaian alamiah ini seperti sinar matahari. Kadangkala kita tidak melihat sinar matahari karena tertutup oleh awan. Tetapi sesungguhnya matahari tidak pernah berhenti bersinar. Kita bisa melihat awan karena matahari menyinarinya. Jadi kedamaian alamiah selalu ada dalam jiwa kita, hanya seringkali tertutupi oleh awan penderitaan, berbagai bentuk kekesalan, kecemasan, ketakutan, konflik dan kekerasan yang kita ciptakan sendiri.

Kebiasaan kita dalam belajar dan menjalani kehidupan seringkali justru menjauhkan kita dari kedamaian di hati. Aktivitas apapun yang kita lakukan seringkali berujung pada penderitaan apabila kita belum tercerahkan atau tidak damai. Melihat dalam-dalam peta kehidupan kita bahwa aktivitas apapun yang kita lakukan seringkali hanya berujung pada penderitaan, akan membangkitkan motivasi untuk mencari solusi yang mendasar atas semua kesulitan hidup kita.

Seringkali kita hidup hanya mengandalkan pikiran. Pikiran adalah pecahan energy, bukan sumber energy. Pecahan energy andalan kita ini seringkali teracuni oleh tiga penyakit spiritual: nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan. Penderitaan kita memiliki lapisan-lapisan yang dalam dan penderitaan terdalam tidak disebabkan oleh ketiga hal tersebut, melainkan karena kelekatan kita terhadap ketiganya.

Bagaimanakah kita bisa menemukan kedamaian hati di tengah kekacauan di luar ataupun di tengah kekesalan, kecemasan dan penderitaan batin kita?

Kehidupan Yesus mengajarkan kita sebuah jalan pembebasan yang efektif. Gunakan salib untuk bebas dari salib. Gunakan kecemasan untuk bebas dari kecemasan. Gunakan rasa sakit untuk bebas dari rasa sakit.

Pada saat kecil kami anak-anak suka bermain-main di sungai dekat rumah di desa lereng Gunung Merapi. Airnya berlimpah dan jernih. Suatu kali telinga saya kemasukan banyak air. Dengan segala cara saya keluarkan air dari telinga tetapi tidak berhasil. Setelah sampai di rumah, saya bilang kepada ibu saya. Dia menyuruh saya untuk memasukkan air ke telinga yang kemasukan air untuk mengeluarkan airnya. Saya agak heran dengan instruksi tersebut. Tapi saya langsung coba dan berhasil.

Jalan pembebasan dari penderitaan adalah justru dengan memeluk penderitaan. Jalan pembebasan dari rasa sakit di hati adalah justru dengan memeluk rasa sakit di hati. Itu seperti memasukkan air ke telinga yang kemasukan air untuk mengeluarkan airnya.

Dari mana kita bisa mulai? Kita mulai dengan berhenti: berhenti menilai, berhenti menyalahkan, berhenti membenarkan diri; berhenti melarikan diri, berhenti melawan, berhenti menekan. Berhenti adalah kearifan tertinggi. Berhenti membuat kita berhati lapang sehingga bisa menyambut pengalaman sepahit apapun. Gunakan kearifan ini untuk menyentuh setiap kekesalan dan penderitaan kita tepat pada titiknya.

Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, Nelson Mandela adalah contoh orang-orang yang berhasil melewati tekanan. Masing-masing mengalami penderitaan luar biasa, namun mereka berhasil keluar dari tekanan yang sulit hingga mampu mengubah hidup jutaan orang. Persis seperti Yesus atau guru-guru spiritual besar dalam sejarah.

Apa yang membuat mereka ini berbeda dari kebanyakan orang? Mereka tidak lari seperti kebanyakan orang. Mereka menerjunkan diri sepenuhnya dalam pengalaman terberat, menyelami sedalam mungkin bencana yang menimpa mereka, dan bertahan dalam masa yang sulit.

Mahatma Gandhi dipenjara karena perjuangannya membela kemerdekaan bangsanya dan mengalami penderitaan besar. Namun dengan menjalani masa sulit dengan penuh kesadaran dan menyelaminya dengan banyak melakukan pencarian jiwa, akhirnya ia sadar bahwa “tanpa kekerasan” (ahimsa atau non-violence) adalah satu-satunya jawaban bagi krisis yang dihadapi bangsanya.

Martin Luther King Jr mengalami penderitaan yang tidak kalah berat. Para pengikutnya ingin melakukan kerusuhan dan menggulingkan pemerintah yang mentolerir diskriminasi. Seperti Gandhi, ia juga mencerna pengalaman menyakitkan, masuk ke dalam penderitaan, melakukan pencarian jiwa, lalu muncul dengan kesadaran “pembangkangan sipil” (civil disobedience) adalah satu-satunya jalan untuk melangkah maju.

Nelson Mandela adalah contoh yang lain. Ia dipenjara 20 tahun karena berani berbicara melawan kebijakan diskriminasi ras. Setelah bertahun-tahun dipenjara, mandela bisa saja berubah menjadi orang yang penuh kepahitan, kemarahan dan bahkan bertikai semakin keras dengan pemerintah bangsanya karena sebagian terbesar hidup Mandela telah direnggut darinya. Namun waktu Mandela dilepaskan, ia mengusung pesan “rekonsiliasi” (reconciliation).

Kini di Nusantara ini, Anda juga memiliki orang-orang besar seperti Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi. Saya tidak perlu menyebutkan nama karena Andapun sudah mengerti. Orang ini dicaci maki tiap hari, tapi ia tidak bergeming. Bekerja, bekerja dan bekerja untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik dalam jangka panjang. Ada lagi tokoh luar biasa yang masih mendekam di penjara karena korban kebencian dari para peternak politik yang korup. Kita tunggu saja apa yang akan dia lakukan setelah keluar dari penjara tidak lama lagi.

Kita ingat kata-kata penghiburan dari Yesus: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu kuberikan kepadamu, dan damai yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh 17:27)

Kedamaian bukanlah “tujuan hidup”, tetapi “tuntutan hidup”. Kedamaian tidak bisa digapai “suatu saat nanti”, tetapi hanya tersedia “saat ini.” Kedamaian tidak berada “di luar sana”, tetapi “di dalam sini.”

Apabila kita melakukan segala aktivitas dalam damai, aktivitas tersebut akan berakhir juga dengan damai dan akan menambah kualitas kebahagiaan kita. Sebaliknya apabila kita melakukan segala aktifitas tanpa damai, aktivitas tersebut akan membawa kita pada ujung penderitaan dan makin menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Kita memiliki banyak sekali tanggung jawab dalam hidup ini: tanggung jawab terhadap orang lain, tanggung jawab bagi masyarakat dan bangsa ini, dan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan. Tetapi seringkali kita lupa tanggung jawab yang utama dan pertama, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Bertanggung jawab terhadap disi sendiri bisa dimulai dengan bertanggung jawab terhadap apa saja yang kita rasakan. Apabila Anda terus-menerus kesal dan sakit hati, itu adalah tanggung jawab Anda. Apabila Anda hidup bahagia, itu juga adalah tanggung jawab Anda. Menderita atau bahagia sepenuhnya adalah hasil ciptaan Anda sendiri.

Berbeda dengan kedamaian. Kedamaian tidak perlu Anda ciptakan. Kedamaian adalah kondisi alamiah jiwa Anda. Kedamaian adalah rumah Anda, Hakikat Jiwa Anda. Kedamaian tidak perlu dicari, hanya perlu ditemukan kembali.

Anda bebas kapanpun untuk kembali ke rumah. Rasa kesal, sakit dan penderitaan ada agar kita bisa mengalami kedamaian yang lebih dalam, lebih bijaksana, cinta dan welas asih lebih sempurna. Kedamaian alamiah begitu dekat dengan kita, jauh lebih dekat dari pada nafas, sensasi, pikiran dan emosi kita. Mari kita belajar menyentuhnya dan menghidupinya.

Mari kita bawa perdamaian itu dalam hidup berkeluarga, hidup beragama, hidup bermasyarakat, dalam aktivitas politik dan ekonomi. Janganlah berjuang untuk menciptakan perdamaian sementara hati Anda tidak damai. Tetapi jadilah damai, jadilah pendamai. Dunia akan menjadi lebih damai apabila kita sendiri damai. Keluarga Anda akan menjadi lebih damai apabila Anda sendiri damai.

Kristus dilahirkan di tengah dunia supaya Hakikat Kristus, Hakikat Jiwa Asali kita yang penuh damai, dilahirkan kembali dalam diri kita. Apabila kita hidup sesuai hakikat kita, kita akan hidup lebih damai dan kita akan melihat dunia juga akan menjadi lebih damai.*

(*) Disampaikan dalam renungan malam natal 24 Desember 2018, di hadapan 5000 umat di Blok Q.

Oleh J Sudrijanta

Adalah kecenderungan umum bahwa orang lebih menghargai sehat daripada sakit. Padahal keduanya memiliki nilai yang sama. Rasa sakit adalah bagian dari hidup sehat dan menolong kita untuk mengalami pencerahan.

Tidak semua symptom rasa sakit bersifat patologis. Symptom rasa sakit non-patologis tersebut bisa bersifat ringan, seperti ketika Anda duduk lama dalam meditasi, dan bisa bersifat kronis atau terminal seperti penyakit kanker—tentu saja tidak semua symptom penyakit kanker atau penyakit-penyakit yang mematikan bersifat patologis.

Apa yang Anda lakukan ketika sakit? Anda pergi mencari obat? Obat dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit atau mengurangi rasa sakit. Namun untuk penyakit-penyakit tertentu, baik skala ringan atau berat, bahkan kronis atau terminal, tidak ada obat yang lebih ampuh selain rasa sakit itu sendiri.

Symptom rasa sakit berfungsi untuk membantu kita mengenal diri. Seperti halnya kematian, rasa sakit adalah fenomena alamiah yang perlu dipahami, bukan untuk ditekan atau dihindari, yaitu sebagai penunjuk akan realita kehidupan kita yang tersembunyi yang barangkali belum kita lihat dan pahami.

Bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi sakit? Ketika timbul rasa sakit, rasakan dalam-dalam kesakitan itu. Dengan merasakan sakit dalam-dalam, tidak ada satupun bagian dari tubuh Anda yang akan menjadi lebih buruk. Justru sebaliknya, merasakan dalam-dalam symptom rasa sakit akan membawa penyembuhan dan pencerahan.

Merasakan symptom rasa sakit dalam-dalam tidak akan membuat Anda mati. Tidak ada kematian yang disebabkan oleh rasa sakit. Semua kematian normal terjadi karena orangnya sudah siap untuk mati, bukan karena sakit. Jadi rasakan dalam-dalam rasa sakit itu, pun kalau Anda berpikir akan mati karena rasa sakit. Biarlah kematian terjadi kalaupun harus terjadi! Totalitas dalam menerima rasa sakit, memeluk, merasakan dalam-dalam, menjadi penting untuk mendatangkan efek penyembuhan baik fisik maupun non-fisik.

Merasakan rasa sakit dalam-dalam bukan hanya bisa membawa penyembuhan fisik, tetapi juga membawa pencerahan. Semua rasa sakit adalah rasa sakit dalam relasi-relasi. Ketika timbul rasa sakit, jangan bertanya, apa yang salah dengan tubuh ini? Tetapi bertanyalah, apa yang sekiranya mau ditunjukkan oleh tubuh ini sebagai yang mungkin keliru dengan relasi-relasi dan kondisi hidup kita. Adakah cara berpikir yang keliru, adakah hubungan-hubungan yang tidak sehat, adakah cara hidup dan cara mencari penghidupan yang tidak benar?

Tidak cukup bertanya, obat apakah untuk menyembuhkan symptom rasa sakit? Tetapi bertanyalah, apa yang mungkin diminta atau dituntut oleh tubuh ini untuk memulai hidup sehat atau menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Banyak cerita mengisahkan bahwa hidup sesorang berubah secara signifikan karena pernah mengalami ‘krisis’ saat sakit. Jadi moment sakit bisa menolong orang untuk mengalami perubahan hidup secara berarti.

Kita perlu mengenali korelasi antara symptom rasa sakit dan kondisi hidup kita. Saat sakit seringkali adalah saat yang paling tepat untuk mengenal, merasakan dan menghadapi langsung persoalan-persoalan hidup kita. Tubuh ini adalah yang pertama kali merasakan apa yang terjadi dengan kehidupan kita. Pikiran bisa menipu, tetapi tubuh tidak bisa bohong. Kita bisa berlari dari persoalan-persoalan hidup, enggan menghadapi trauma-trauma emosional yang terpendam, berusaha untuk menekan atau membuangnya. Saat sakit datang, kita tidak bisa lari. Itulah saat di mana kita harus berani menghadapinya, termasuk apabila persoalan tersebut adalah rasa sakit itu sendiri.

Kita perlu bukan hanya mengenal efek dari symptom rasa sakit terhadap kehidupan kita, baik secara fisik, mental, dan emosional. Tetapi juga memahami bahwa setiap kondisi tubuh, termasuk kondisi sakit, bukanlah sekedar kondisi fisik, tetapi juga selalu merupakan kondisi kesadaran (a state of consciousness). Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, lewat cara merasakan dalam-dalam symptom rasa sakit secara lebih intensif, kita berkontak secara langsung dengan realitas hidup kita dan belajar menyadari dengan tingkatan kesadaran yang berbeda dari tingkatan kesadaran yang menciptakan symptom rasa sakit tersebut (state of awareness). Saat meditasi atau retret adalah saat-saat terbaik untuk melakukan praktik memeluk rasa sakit secara lebih intensif.

Di sinilah kita belajar mentransendir rasa sakit. Terdapat dua aspek ketika kita belajar merasakan dalam-dalam rasa sakit, yaitu kesadaran (awareness) dan rasa sakit (sicknesses). Kesadaran tentang sesuatu selalu melampaui sesuatu tersebut. Begitu pula kesadaran terhadap rasa sakit selalu melampauinya atau membuat kita bisa melampauinya.

Kunci penyembuhan dan pencerahan atas rasa sakit adalah merasakan dalam-dalam dan menyadari symptom rasa sakit pada tingkatan yang baru. Apa yang kita sadari bukan sekedar sensasi fisik yang terasakan pada titik lokasi tertentu atau kaitannya dengan kondisi mental-emosional tertentu, tetapi tingkatan kesadaran yang menunjukkan siapa diri kita melampaui ‘identitas tubuh’ dan bagaimana kita bisa merasakan diri kita dan hidup kita secara baru.

Kemandegan (stuck) terjadi hanya ketika kita mengidentikkan diri dengan tubuh fisik. Ketika Anda merasa terpenjara dalam tubuh fisik dan menderita karena sakit, itu adalah pertanda bahwa Anda sudah mengidentikkan diri dengan tubuh fisik. Sadari kemandegan ini dan rasakan dalam-dalam kemandegan ini dari tingkatan kesadaran yang berbeda (awareness). Lalu lihat sendiri apa yang terjadi.

Setiap symptom rasa sakit, apabila dirasakan dalam-dalam pada tingkatan kesadaran yang berbeda dari tingkatan kesadaran yang menciptakan rasa sakit tersebut, tidak mustahil akan mendatangkan penyembuhan-penyembuhan. Juga akan memberikan pemahaman-pemahaman baru tentang kehidupan serta rasa kehadiran yang baru dan berbeda. Kalaupun symptom rasa sakit masih ada, Anda akan bisa menanggungnya dengan damai dan mampu menjalani hidup secara berbeda.*

Oleh J. Sudrijanta

Praktik Kesadaran adalah inti dari semua praktik meditasi. Namun tidak semua meditasi membawa kepada pembebasan sekaligus kepenuhan hidup. Untuk menemukan suatu Praktik Kesadaran yang secara efektif membawa kepada pembebasan sekaligus kepenuhan hidup, dibutuhkan pengertian langsung dari tangan pertama tentang berbagai aspek atau dimensi Kesadaran (Awareness).

Berikut adalah paparan tentang beberapa aspek Kesadaran yang perlu dialami sendiri secara actual. Aspek-aspek yang dimaksud adalah Relax Awareness (Kesadaran Relaks), Choiceless Awareness (Kesadaran Tanpa-Memilih), Intuitive Awareness (Kesadaran Intuitif), Discerning Awareness (Kesadaran Disernmen), Unbounded Awareness (Kesadaran yang Tak-Terikat), dan Immanent-and-Transcendent Awareness (Kesadaran Imanen sekaligus Transenden).

Istilah-istilah tersebut berbeda satu dengan yang lain, namun maknanya saling tumpang tindih, saling berkaitan, dan sesungguhnya menunjuk pada hakikat Kesadaran yang tidak berbeda. Untuk mengungkap kekayaan yang bisa ditimba dari praktik Kesadaran, konsep-konsep tersebut kiranya bisa menjadi petunjuk untuk melakukan eksplorasi lebih dalam.

Relax Awareness (Kesadaran Relaks)

“One day, as your confidence in awareness grows,
Mind will appear as witless as a child
And awareness as wise as venerable old sage.
Awareness will not run after mind, but eclipse it;
In a relaxed, serene state, rest at ease.” –Dilgo Khyentse Rinpoche

Meditasi tidak akan bisa berjalan apabila tubuh dan batin kita terlalu tegang. Maka relaksasi menjadi penting. Namun keadaan relaks bukanlah pertama-tama berasal dari kondisi tubuh atau mental. Kita tetap bisa relaks meskipun tubuh sedang sakit atau tidak sehat. Begitu pula kita tetap bisa relaks meskipun pikiran atau emosi sedang kacau. Jadi relaks tidak muncul pertama-tama dari kondisi tubuh atau mental, tetapi dari kesadaran.

Ada banyak cara relaksasi. Misalnya dengan yoga, senam, olah raga dan rekreasi, selain meditasi. Bedanya, dalam meditasi, relaksasi bisa dicapai pada tingkatan yang sangat dalam. Sedangkan relaksasi dengan cara-cara yang lain lebih bersifat kurang dalam.

Dalam praktik meditasi, kita bisa berlatih relaksasi dengan menyadari secara langsung ketegangan dalam tubuh dan batin. Semakin banyak ketegangan kita temukan, semakin banyak kesempatan kita menjadi relaks.

Dalam latihan, kita bisa menjadikan kesadaran-relaks (relax-awareness) sebagai jangkar. Rasakan relaksasi itu dari saat ke saat. Rasakan. Bukan berjuang untuk relaks. Cukup rasakan. Rasakan secara langsung suasana relaks di balik setiap ketegangan.

Nafas adalah factor jasmani yang penting. Menyadari nafas, dengan cara yang tepat, menjadi alat bantu yang efektif agar kita menjadi lebih relaks. Dengan bantuan penyadaran pada nafas, pada saat yang sama kita menyadari ketegangan-ketegangan dalam tubuh dan batin. Semakin banyak ketegangan halus kita temukan, semakin dalam relaksasi kita rasakan.

Kondisi relaks ini akan membuat pengenalan dan keyakinan kita pada Kesadaran menguat. Setelah ketegangan yang diciptakan pikiran semakin mereda, Kesadaran makin menguat, seperti bulan yang timbul di langit dan menerangi kegelapan malam. Begitu pula dengan menguatnya Kesadaran, tubuh dan batin menjadi lebih relaks. Akhirnya orang menjadi lebih sadar dan waspada, namun bebas dari ketegangan.


Choiceless Awareness (Kesadaran Tanpa-Memilih)

“To be choicelessly aware implies [a state where] there is no decision, no will, no choice.” –Jiddu Krishnamurti

Setelah tubuh dan batin kita menjadi lebih relaks seiring dengan bangkitnya Relax-Awareness, keadaan “Sadar Tanpa-memilih” (Choiceless Awareness) akan bisa didekati dengan lebih mudah. Kesadaran Tanpa Memilih adalah istilah lain dari persepsi tanpa-berpusat-pada-diri atau “mengamati tanpa si pengamat” (J. Krishnamurti 1895-1986)

Dalam praktik meditasi, Kesadaran Tanpa-Memilih adalah suatu perhatian tanpa terfokus atau terkonsentrasi pada objek utama. Konsentrasi terfokus masih bekerja secara dualistic, ada “subjek” yang mengamati dan “objek” yang diamati. Dalam Kesadaran Tanpa-Memilih tidak ada lagi dualitas antara si pemerhati dan apa yang diperhatikan, karena si pemerhati tidaklah berbeda dari apa yang harus diperhatikan.

Kesadaran Tanpa-Memililih adalah persepsi tentang fenomena di luar (eksternal) maupun di dalam (internal) batin tanpa melibatkan kehendak dan upaya untuk memilih atau memutuskan. Kita tidak memilih untuk suka atau tidak suka, melekat atau membenci.

Seseorang yang mempersepsikan sesuatu dengan amat jelas, jernih, gamblang, tanpa distorsi akan bertindak secara langsung, seketika, dan alamiah dari Kesadaran ini. Persepsi yang terdistorsi melibatkan proses-proses memilih dan memutuskan, sedangkan persepsi tanpa distorsi tidak membutuhkan proses memilih dan memutuskan. Melihat—dalam kejernihan, tanpa distorsi—adalah bertindak seketika. Kualitas batin dan tindakan yang demikian adalah bebas dari konflik.

Distorsi datang dari semua pengalaman, pengetahuan, dan dorongan-dorongan kompulsif dalam diri kita. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir selalu kita melihat dari latar belakang ini. Kita melihat dengan sudut pandang tertentu. Kita melihat dengan reaksi-reaksi tertentu. Kita memilih selalu menurut keterkondisian kita. Melihat tanpa memilih artinya melihat tanpa keterkondisian, tanpa latar belakang, tanpa reaksi-reaksi, tanpa sudut pandang.

Kita musti menyadari keterkondisian ini. Apabila terdapat perhatian total terhadap fakta, maka latar belakang yang menghalangi pemahaman kita tentang fakta terhapuskan.

Tidak ada teknik, metode atau cara untuk membangkitkan Kesadaran Tanpa-Memilih. Semua Teknik atau metode menyiratkan suatu konflik. Agar muncul Kesadaran Tanpa-Memilih, semua upaya untuk memilih musti berhenti. Berhentinya daya upaya untuk memilih juga bukan berasal dari suatu keputusan, melainkan hasil dari penyelidikan dengan perhatian total. Apabila terdapat perhatian total terhadap fakta, maka keterkondisian tidak ada.

Intuitive Awareness (Kesadaran Intuitif)

“Intuitive insight can be gained only by means of a true inner realization.” –Buddhadasa Bhikku

“Sensitivity in its highest form is intelligence.” –Jiddu Krishnamurti

Kesadaran Tanpa-Memilih membuka pemahaman penuh tentang suatu realita kompleks dari suatu fenomena—atau cukup dikatakan “mengetahui halnya sebagaimana adanya”.

Kesadaran Intuitive (Intuitive Awareness) berbeda dari Kesadaran Analitik (Analytical Consciousness). Kesadaran Analitik adalah kesadaran pikiran. Ia bekerja dengan menggunakan konsep-konsep, menganalisa, menalar, membandingkan, menilai, dan menyimpulkan. Kesadaran Intuitif adalah kesadaran tanpa melibatkan proses-proses berpikir. Ia mengetahui langsung halnya seperti apa adanya, tanpa melalui proses-proses penalaran. Itu adalah suatu kecerdasan lain melampaui intelek.

Tahu (intelektual) berbeda dari Sadar (intuitif). Barangkali Orang tahu saat ia marah, namun belum tentu ia Sadar. Saat marah meledak, apakah orang Sadar? Orang tidak Sadar akan ketegangan pada tubuhnya sendiri. Tidak Sadar akan rasa perasaan lain di balik rasa marah. Tidak Sadar akan motif-motif tersembunyi. Tidak sadar akan delusi atau keyakinan-keyakinan keliru. Apabila orang Sadar akan semua itu ketika kemarahan muncul, Kesadaran Intuitif sudah bekerja. Itu seperti melihat sekuntum bunga secara berbeda.

Anda bisa melihat sekuntum bunga secara lebih dekat dengan perhatian total, tanpa memikirkannya. Sekuntum bunga yang dilihat dengan cara demikian akan menunjukkan dirinya secara lebih kaya. Kita bisa mencium kompleks aromanya, menangkap paduan warna-warninya, sulur-sulurnya, lapisan-lapisan pembentuknya, keterhubungan bagian-bagiannya satu dengan yang lain.

Dengan melihat dari Kesadaran Intuitif kemarahan sebagai kemarahan, kita mengetahui secara menyeluruh proses-proses batin yang membangkitkan rasa marah. Pada moment timbulnya pemahaman intuitif tersebut, seketika kita dibebaskan dari kemarahan yang kita sadari. Energi kemarahan hilang dengan cepat seperti sebuah balon yang tertusuk peniti, kempes dengan cepat. Kita tidak perlu berjuang untuk menjadi sabar atau tidak marah lagi. Karena kemarahan itu sudah sirna begitu saja tanpa daya upaya untuk melenyapkannya.

Kesadaran Intuitif tidak ada hubungannya dengan kemampuan meramal peristiwa yang bakal terjadi, melihat melampaui indera (extra sensoric perception), kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan clairvoyance. Kemampuan-kemampuan seperti itu semua tidak menunjukkan kualitas batin seseorang.

Istilah lain yang masih dekat dengan Kesadaran Intuitif adalah Kepekaan (sensitivity). Yang dimaksud di sini tentu bukanlah peka karena mudah tersinggung, tetapi Peka menangkap halnya dalam totalitasnya.


Discerning Awareness (Kesadaran Disernmen)

“If anyone has any truth-discerning awareness, they will be able to see for themselves without having to believe me, and that seeing will more and more open the way for further study towards the ultimate truth.” –Buddhadasa Bhikkhu

“You shall know the truth and the truth shall make you free.” (Jesus Christ according to John 8: 32)

Kesadaran Disernment (Discerning Awareness) berbeda dari Kesadaran Diskriminatif (Discriminative Consciousness). Kesadaran diskriminatif bekerja dengan cara memilah-milah menurut apa yang benar dan yang salah sesuai norma, aturan atau doktrin tertentu. Sedangkan Kesadaran Disernmen bekerja dengan melihat halnya seperti apa adanya atau mengetahui kebenarannya secara langsung.

Misalnya, tentang kebenaran spiritual bahwa segala fenomena pada hakikatnya “tidak kekal, tidak memuaskan, dan tidak memiliki inti-diri”. Apabila seseorang melihat dan memahami hakikat segala fenomena seperti tersebut di atas, bukan sekedar sebagai doktrin di kepala, maka ia terbebas dari dukkha setiap kali merealisasikannya. Orang tersebut, kita katakan, melihat dari Kesadaran Disernmen.

Kesadaran Disernmen membuat seseorang melihat dengan pandangan cerah. Pencerahan adalah melihat seperti apa adanya, melihat hakikatnya, melihat langsung kebenarannya. Penglihatan seseorang dengan pandangan cerah tidak terjebak oleh apa yang tampak. Mereka mampu melihat melampaui apa yang tampak.

Persepsi pikiran kita mengatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah benda padat. Namun para ahli fisika menemukan bahwa apa yang disebut benda padat tersebut 99,999% adalah “kekosongan”. Jadi tubuh kita pada dasarnya adalah sebuah kekosongan, yang berada di planet bumi yang adalah kekosongan, di tengah alam semesta yang juga adalah kekosongan. Kekosongan di sini berarti tidak memiliki “inti-diri” atau “tanpa-diri”.

Kekosongan juga berarti “tak-terpisahkan”. Kita bisa melihat realita tak-terpisahkan, misalnya, dalam hubungan antara kita dan dunia. “Kita adalah dunia”. Dunia yang kita tinggali ini adalah ekstensi eksistensi dan relasi-relasi kita satu dengan yang lain. Kita seringkali mengeluhkan kemacetan saat kita berada di tengah jalan, seolah problem ada di luar diri kita. Padahal kita adalah bagian dari kemacetan itu. “Lalu lintas itu adalah kita.”

Realisasi kekosongan atas segala fenomena ini membuat kita bebas dari cengkeraman pada apa yang tampak. Kita hanya bisa melihat dengan pandangan cerah apabila kita lepas bebas terhadap segala hal. Begitu pula pandangan cerah yang muncul dari Kesadaran Disernmen ini membuat identifikasi kita pada dunia bentuk dirontokkan dan menjadikan kita makin lepas bebas.

Batin yang lepas bebas adalah prasyarat mutlak agar orang bisa menghidupi Kesadaran Disernmen dan Kesadaran Disernmen akan menuntun orang kepada Kesadaran yang membebaskan. Yang dibutuhkan di sini bukan analisa, juga bukan percaya, melainkan penyelidikan dengan batin yang bebas untuk menemukan Kebenarannya sendiri dari tangan pertama.

Mengetahui kebenaran di sini berarti merealisasikan kebenaran secara langsung. Dengan cara inilah kita menghidupi kebenaran yang kita temukan dari tangan pertama. Kebenaran dari tangan pertama inilah yang membebaskan kita, bukan daya upaya kita untuk bebas.

Unbounded Awareness (Kesadaran yang Tak-Terikat)

“Unbounded Awareness sponataneoulsly comprehends harmony in all various aspects of living.” –Maharishi

“You are Unbounded Awareness—Bliss, Supreme Bliss—in which the universe appears like the mirage of a snake in a rope. Be happy.” –Asthavakra Gita

Kesadaran yang Tak-Terikat (Unbounded Awareness) adalah satu-satunya factor yang bisa membebaskan manusia dari cengkeraman oleh segala hal yang disadarinya. Sedangkan kesadaran pikiran (consciousness) bersifat terikat oleh segala hal yang disadarinya.

Kesadaran adalah prinsip kesatuan dari semua aspek kehidupan dan menciptakan keselarasan dari semua aspek tersebut. Pikiran bekerja dengan cara memisahkan antara imanent dan transendent, tubuh dan batin, nilai dan kebutuhan. Kesadaran bekerja mengatasi semua pemisahan dan menyatukan atau menyelaraskan.

Pikiran adalah pecahan. Kita tidak bisa membuat utuh apa yang terpecah dengan instrument yang terpecah. Keutuhan dan keselarasan tubuh-batin hanya bisa dibangun melalui Kesadaran.

Begitu pula apa yang tampak terpisah atau terkotak-kotak di dunia wujud, sesungguhnya adalah realita yang tak-terpisahkan satu dengan yang lain. Hanya Kesadaran Tak-Terikat yang mampu menangkap kebenaran ini.

Kesadaran Tak-Terikat memiliki dimensi trans-personal yang mengatasi segala identitas dan identifikasi baik secara psikologis, social, politik, ekonomi, etnis, budaya dan religi. Di tataran luar kita memiliki begitu banyak perbedaan; di tataran terdalam, kita sesungguhnya tidak berbeda. Realisasi Kesadaran Tak-Terikat ini karenanya menembus sekat-sekat pemisah.

Kesadaran itu sendiri adalah esensi dari keilahian sekaligus hakikat universal dari setiap makhluk, satu dan tak-terpisahkan. Itu menjadi prinsip kesatuan antara alam bentuk dan tak-berbentuk. Itu adalah fondasi dari jalinan keterhubungan dari segala yang ada.

Mereka yang mempraktikkan kesadaran bukan hanya bekerja bagi kesejahteraan dan pencerahan mereka sendiri, tetapi juga bagi dunia. Mereka memiliki kemampuan untuk merespons setiap tantangan dari kedalaman dan memberi kontribusi sesuai kapasitas mereka.

Dunia yang sakit ini tidak bisa disembuhkan melalui politik atau psikologi identitas. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dalam dengan menyentuh dimensi terdalam keberadaan setiap orang dan segala makhluk, yaitu Kesadaran Universal.

Tidak ada upaya yang lebih efektif untuk mengubah diri sendiri dan dunia apabila tidak bersentuhan langsung dengan aspek Kesadaran. Karena Kesadaran adalah fondasi bagi “surga yang baru dan bumi yang baru”.

Immanent and Transcendent Awareness (Kesadaran Imanen dan Transenden)

“As the might air which pervades everything, ever abides in space, know that in the same way all beings abide in Me.”—The Bhagavad Gita

“Things that have fallen to the level of [being seen as] objects of cognition… are [in reality] essentially awareness.” –Utpaladeva

Kesadaran adalah elemen dasariah dari segala yang ada, meresapi sekaligus mengatasinya secara sempurna. Ia bersifat immanent sekaligus transenden.

Tanpa Kesadaran, tidak ada sesuatu yang bisa ada. Dalam segala fenomena, Kesadaran itu ada. Di dalam tubuh, perasaan, pikiran manusia. Di dalam tetumbuhan atau hewan. Di dalam bakteri atau makhluk hidup paling kecil. Di dalam atom, sub-atom, gelombang, air, api, udara, tanah. Pendeknya, tidak ada alam semesta dan segala isinya tanpa adanya Kesadaran. Jadi Kesadaran adalah sumber dari segala yang ada dan meresapi segala yang ada.

Karena Kesadaran ada di mana-mana, meresapi dunia wujud, dan pada hakikatnya tidak berbeda, maka kita selalu terhubung dan saling mempengaruhi pada berbagai tingkatan sampai pada tingkatan yang dalam. Pada lingkup dunia wujud kita dan sesama manusia serta segala makhluk memiliki berbagai tingkatan perbedaan. Namun kita pada hakikatnya tidak berbeda melampaui dunia wujud.

Hanya ketika kita secara eksperiensial kehilangan Kesadaran, maka kita melekati tubuh, perasaan, pikiran dan dunia wujud. Kita hidup dalam keterkondisian secara psikologis, social, budaya, dan religi. Keletakan yang paling dalam adalah kelekatan pada ego atau keakuan kita. Itulah sumber penyakit spiritual umat manusia dan dunia. Namun praktik kesadaran bukan sekedar untuk mentransendensikan keterkondisian kita, tetapi juga membuat kita secara penuh mampu merasakan keterkondisian kita.

Emosi yang membelenggu adalah contoh dari keterkondisian. Dengan sepenuhnya sadar, kita bisa merasakan emosi apapun tanpa kehilangan jangkar Kesadaran, tanpa mengidentikan diri kita dengan emosi yang kita sadari. Kesadaran bukan hanya kebebasan dari emosi yang tadinya mencengkeram kita atau kita cengkeram. Kesadaran juga adalah kebebasan untuk—kebebasan untuk merasakan emosi bahkan secara lebih penuh tanpa terserap ke dalam emosi. Kita tidak bisa melakukan praktik kebebasan untuk merasakan tanpa Kesadaran Murni akan emosi kita yang pada hakikatnya berbeda dari rasa-perasaan emosi tersebut.

Apabila kita “hidup, bergerak dan ada” berakar dari Kesadaran, maka kita bisa hidup dan berfungsi kembali dengan tubuh, perasaan dan pikiran dan berhubungan dengan dunia wujud dengan kedalaman, kebebasan dan kepenuhan.

Tidak ada pengalaman manusia yang lebih dalam daripada perjumpaan dengan sesuatu yang melampaui keterbatasan dirinya, yaitu Sesuatu Yang Lain. Dalam Bahasa agama theistik, Sesuatu Yang Lain itu disebut dengan nama “Allah”.

Allah adalah Sesuatu Yang Lain yang hanya bisa didekati secara paling baik melalui Kesadaran. Allah bukanlah sosok, diri, atau jiwa yang memiliki Kesadaran, tetapi Ia adalah Kesadaran itu sendiri. Tentu saja Allah tidak sama tetapi juga sekaligus tidak berbeda dari “Kesadaran” itu sendiri. Seperti halnya kekuatan Allah hadir dalam segala, begitu pula Kesadaran ada dalam segala. Untuk menemukan Allah dalam segala, kita perlu menemukan Kesadaran dalam segala. Kita bisa menyebutNya dengan banyak nama seperti “Kesadaran Agung”, “Kesadaran Ilahi”, “Sesuatu Yang Tak-Diketahui”, “Sesuatu yang Transenden sekaligus Imanen”.

Praktik Kesadaran pada akhirnya bukan hanya membawa kita terhubung kembali secara alamiah dengan Sesuatu Yang Lain yang mengatasi segala yang ada (transenden), tetapi juga suatu praktik merealisasikan kepenuhan manifestasi Kesadaran Agung ini melalui tubuh, perasaan dan pikiran kita (imanen). Kita berlatih untuk hadir dan berfungsi di dunia untuk memastikan bahwa Ia bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita dan melalui diri kita. Itu adalah separuh dari akhir perjalanan pertama namun bukan akhir realisasi.

Akhir dari paruh perjalanan kedua adalah kesatuan dengan Sesuatu Yang Lain ini dalam diriNya secara total dalam keabadian atau berakhirnya secara total dan permanen segala keterkondisian. Secara lebih sederhana bisa dikatakan bahwa akhir realisasi adalah kehidupan tanpa keterkondisian atau “kehidupan tanpa ego/keakuan” (Bernadette Roberts). Itulah akhir realisasi.

Baik akhir paruh perjalanan pertama maupun kedua hanya bisa dicapai melalui praksis Kesadaran Saat Ini.*

Tiga Model Hidup Spiritual

Oleh J. Sudrijanta

Banyak orang menjalani hidup religi atau spiritual dalam keadaan “tidur”. “Tidur” yang dimaksud di sini adalah “tidak sadar”.

Apabila agama dan spiritualitas hanya dihayati sebagai sarana untuk menyokong survival dan memperkuat ego, maka orang tersebut masih “tidur” atau “tidak sadar”.

Tidak ada cara hidup dan cara menghayati religi atau spiritual yang lebih otentik tanpa menjalani hidup yang berkesadaran. “Bangun” secara spiritual adalah hidup berkesadaran. Praktik hidup berkesadaran adalah laku spiritual yang paling dekat membawa pembebasan dan pencerahan.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga model dalam menjalani hidup religi atau hidup spiritual: model pengikut, model pencari, dan model praktisi. Dari ketiganya, hanya model praktisi lah yang paling selaras dengan ideal hidup berkesadaran.

Model Pengikut

Mayoritas penganut agama berada pada model ini. Mereka terutama berasal dari generasi tua dan sebagian kecil berasal dari generasi muda yang hidupnya terkungkung dalam komunitas agamanya yang eksklusif.

Allah atau sesuatu yang mengatasi yang imanen bagi mereka ditemukan di tempat-tempat khusus seperti di bangunan Masjid, gedung Gereja, Pura, tempat-tempat ziarah, dan tempat-tempat lain yang dianggap suci. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang paling ideal di mana orang bisa menemukan ketenangan atau bisa berjumpa dengan Allahnya.

Percaya adalah kunci dalam hidup beriman. Tidak penting apakah orang paham akan isi kitab-kitab, ajaran para pemuka agama dan tradisi di mana mereka hidup. Yang paling penting adalah percaya meskipun tidak melihat langsung kebenarannya, serta setia melakukan ritual dan kewajiban agamanya. Pada umumnya para pengikut ini gemar bergabung dengan kelompok-kelompok doa, devosi, atau pengajian. Banyak dari mereka sangat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di komunitas agamanya namun tanpa kedalaman.

Meskipun tidak memiliki pemahaman yang dalam tentang isi kitab-kitab, mereka meyakini bahwa kebenaran bukan hanya ada di dalam agamanya, tetapi mereka sering mengklaim bahwa kebenaran hanya ada secara ekslusif di dalam agama mereka saja.

Mereka merasakan bahwa agamanya adalah rumahnya. Mereka menemukan ketenangan di dalam rumah agamanya, entah mereka beragama Islam, Katolik, Hindu, Budha atau yang lain. Mereka merasa eksis menjadi bagian dari sebuah komunitas agama atau komunitas spiritual yang lebih besar. Apapun yang mereka lakukan di dalam dan bersama komunitasnya, banyak diwarnai oleh kepentingan ego pribadi atau ego kolektif.

Orientasi dasar dari hidup keagamaan mereka berciri privat. Yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Allah dan hidup serba berkecukupan di dunia. Dimensi sosial dari hidup keagamaan atau hidup spiritual kurang mendapat tempat.

Agama sebagai rumah aman ini bisa meninabobokkan warganya. Setiap anggota komunitasnya merasa diperhatikan, dipenuhi kebutuhan dasarnya, dibela dan dilindungi. Mereka dijauhkan dari apa saja yang bisa menggoncang iman mereka. Mereka diberi janji-janji surga, diberi kepastian-kepastian iman, dengan berpegang pada dogma-dogma dan konsep-konsep kebenaran. Mereka hidup seperti di dalam sangkar emas.

Jebakan lainnya adalah bahwa orang bisa menjadi “mabuk agama” atau “over dosis agama”. Agama dipakai sebagai tolok ukur utama dalam memilih sekolah, teman bergaul, pasangan hidup, pekerjaan, gubernur atau presiden. Orang-orang yang “mabuk agama” ini mudah dieksploitasi oleh para pemuka agama dan para peternak politik demi bisnis dan kekuasaan mereka.

Agama sebagai rumah aman bisa menjadi penjara yang menyesakkan ketika mereka melihat para pemimpin atau pengurus agamanya hanya mementingkan uang, kekuasaan, aturan, tuntutan organisasi, berlaku rigid, dangkal dan superfisial.

Model Pencari

Mereka yang sudah bosan atau jenuh dengan agama sebagai penjara yang menyesakkan atau sebagai sangkar emas dan mulai menyadari akan kebutuhan spiritual yang lebih dalam akan mulai melakukan pencarian. Semua orang dari segala umur, dari anak-anak hingga usia lanjut, bisa merasakan kebutuhan ini. Secara lebih khusus, sebagian besar anak-anak milenial yang dilahirkan di era pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, cepat atau lambat akan menjadi para pencari. Mereka tidak puas hanya menjadi generasi pengikut seperti orang tua mereka.

Mereka mencari siapa Allah itu dan apakah memang ada. Mereka mencari apa betul surga dan neraka itu ada. Mereka mencari apa betul kebenaran yang dikotbahkan di Masjid-Masjid atau Gereja-Gereja itu cocok dengan fakta-fakta kehidupan. Apabila tidak, mereka akan bilang itu semua hanya omong kosong.

Percaya buta bukan hanya tidak cukup tetapi juga naif. Mereka lebih membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang fakta-fakta kehidupan. Iman menuntut pemahaman dan musti rasional.

Mereka tidak menempatkan agama sebagai rumah melainkan sebagai supermarket. Mereka mencari barang dan jasa spiritual yang bisa dibeli. Mereka membaca buku-buku spiritual, mengambil kursus kitab suci, mengikuti seminar atau workshop, mengambil program retret atau meditasi, terlibat dalam support groups dan kelompok-kelompok pelayanan. Apabila mereka tidak menemukan sesuatu yang dicari, mereka tidak takut untuk mencari di luar agama yang dianutnya.

Mereka tidak mudah percaya pada apa yang disampaikan oleh para orang tua, pemuka agama, guru-guru spiritual, dan para pendidik. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka temukan melalui internet atau media sosial.

Mereka “ngaji di media sosial” atau “belajar kitab-kita dari internet.” Loyalitas dan hubungan antara murid dan guru, santri dan kyai, umat dan pembimbing rohani makin memudar. Sebagian dari mereka menjadi “anti-agama.” Mereka bisa memilih “guru-guru spiritual” dan “teks-teks spiritual” yang mereka anggap paling cocok dengan kebutuhan atau selera mereka. Ego mereka menentukan ajaran mana yang akan diterima atau ditolak.

Banyak dari generasi milenial ini menganut ideologi post-truth. Mereka hanya mau menerima sesuatu sebagai kebenaran apabila cocok dengan rasa-perasaan dan keyakinan yang sudah mereka pegang sebagai kebenaran. Emosi lebih penting dari pada fakta dan keyakinan lebih utama daripada data. Mengapa pada pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, banyak orang tidak memilih calon gubernur yang lebih profesional dan justru memilih calon gubernur yang kurang profesional? Pilihan mereka menunjukkan ideologi post-truth yang mereka anut: “Tidak penting gubernur pilihanku bisa bekerja atau tidak; yang penting satu iman denganku.” Itu sekedar contoh yang paling gamblang.

Sebagian tidak mengedepankan emosi dan keyakinan malainkan fakta. Kebenaran haruslah sesuai dengan fakta. Maka mereka akan sulit menerima spekulasi atau penilaian selama tidak didukung oleh fakta-fakta. Namun posisi ini akan membuat sebagian dari mereka kesulitan dalam memahami misteri atau kebenaran-kebenaran spiritual melampui intelek ketika pemahan rasional menjadi matriks pencarian.

Pencarian akan membuat pertumbuhan spiritual menjadi lebih matang. Akan tetapi apabila pencarian dijadikan tujuan itu sendiri, maka mereka akan menjadi pengembara spiritual atau gelandangan spiritual tanpa akar, tanpa rumah. Bisa jadi mereka belajar banyak jalan spiritual dari tradisi yang berbeda-beda. Namun mereka tidak sungguh mendalam. Mereka seperti menggali banyak sumur namun dangkal. Sebagian dari mereka merasa tercerabut dari tradisi atau akar spiritual dari mana mereka berasal dan mereka terus mengembara tanpa arah. Sebagian yang lain akhirnya kembali menemukan akar atau rumahnya dan justru diperkaya melalui pencarian yang sudah mencapai di penghujung jalan.

Model Praktisi

Model ini banyak dipraktikkan oleh mereka yang sudah sampai di penghujung jalan, yang tahu betul keunggulan-keunggulan sekaligus jebakan-jebakan dari model pengikut dan model pencari.

Allah atau sesuatu yang Tak-Dikenal yang tak terpisahkan dari segala hal yang dikenal, ditemukan bukan hanya pada tempat atau lokasi tertentu dan moment-moment tertentu, melainkan di semua lokasi dan semua moment sepanjang waktu. Terlebih lagi Allah yang demikian bisa didekati secara lebih baik melalui gerak, kerja atau aktivitas.

Ungkapan-ungkapan berikut menunjukkan kebenaran yang dimaksud. “Tubuh ini adalah Bait Allah dan seluruh gerak melalui tubuh ini adalah doanya.” “Tubuh ini adalah Budha.” “Allah adalah fondasi dari inter-being (jalinan bersama yang saling mempengaruhi). “Rumah Allah bukan hanya di Gereja tetapi juga di alam semesta.” “Kerajaan Allah adalah di sini dan sekarang ini.”

Kunci dari iman bukanlah kepercayaan ataupun pemahaman rasional, melainkan realisasi kebenaran. Kebenaran yang membebaskan adalah kebenaran yang ditemukan melalui penghayatan. Kebenaran yang ditemukan dari kitab-kitab atau pemegang otoritas kebenaran hanyalah konsep tentang kebenaran, bukan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang sesungguhnya mustilah ditemukan sendiri secara langsung dari tangan pertama. Praktik “melihat” dan “mengetahui” kebenaran langsung adalah praktik spiritual yang paling utama. Itulah inti dari praktik “diskresi spiritual.”

Kebenaran yang membebaskan ini tentulah melampaui dogma, melampaui kepercayaan atau keyakinan, melampaui rasa-perasaan emosi. Kebenaran yang sesungguhnya seperti ini tidak bisa ditemukan hanya dengan mengikuti aturan atau syariah, malainkan buah dari praktik, latihan, laku, atau olah hidup.

Kebenaran yang sesungguhnya tidak berada di tempat yang jauh. Ini adalah soal gerak batinnya sendiri dengan lika-liku pikiran dan keakuannya. Menyadari dan memahami fakta-fakta kebenaran batinnya sendiri dari moment ke moment, membuka akses pada kedalaman hidup dan menggerakkan aktivitas untuk melakukan segala hal dengan cinta dan perhatian yang besar. Apabila kita sendiri hidup secara berbeda setiap hari, dunia juga akan bergerak secara berbeda. Realisasi pembebasan dan pencerahan baik bagi diri sendiri maupun sesama makhluk ini, hanya bisa dicapai melalaui praksis saat ini.

Rumah spiritual dari para praktisi bukanlah tempat atau lokasi tertentu, melainkan seluruh alam semesta di mana mereka melakukan praktik spiritual dari saat ke saat. Mereka bisa melakukan praktik spiritual di manapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Mengurus pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, bekerja di kantor atau menjalankan bisnis, berkarya di bidang politik, aktif terlibat sebagai anggota RT/RW, terlibat dalam pelayanan sosial, semuanya bisa menjadi praktik spiritual yang konkret, indah dan menyegarkan.

Mereka tidak kehilangan akar tradisi dari mana mereka berasal sekaligus memiliki sayab kebebasan untuk melakukan eksplorasi. Eksplorasi kedalam maupun keluar tradisi di mana mereka berasal akan memperkuat akar-akar spiritual mereka. Yang Islam akan menjadi lebih Islami, yang Katolik akan menjadi lebih Katolik, yang Budhist akan menjadi lebih Budha, tanpa menjadi terkotak-kotak dalam sekat-sekat agama dan tradisi.

Selama ego masih bercokol, semua praktisi spiritual masih memiliki peluang untuk mengalami jebakan. Misalnya, mereka bisa saja terjebak dalam rasa aman palsu atau merasa sudah mengalami pencerahan tanpa mau terlibat bersama komunitasnya untuk menolong sesama makhluk. Dengan kata lain, dalam bentuk yang masih kasar, bisa jadi para praktisi hidup berkesadaran terjebak seperti kedua model yang lain: terjebak dalam “sangkar emas”, “anti-agama”, “anti-sosial”, dan “over dosis spiritual”.

Berbeda dari dua model yang lain, praktik spiritual yang dibarengi dengan refleksi, diskresi, dan komitment total bagi pembebasan dan pencerahan diri sendiri dan sesama, dengan menanggalkan ego dan keakuan, memperkecil kemungkinan orang terjatuh dalam jebakan yang tidak perlu.*