Category: Articles


Oleh J Sudrijanta

Adalah kecenderungan umum bahwa orang lebih menghargai sehat daripada sakit. Padahal keduanya memiliki nilai yang sama. Rasa sakit adalah bagian dari hidup sehat dan menolong kita untuk mengalami pencerahan.

Tidak semua symptom rasa sakit bersifat patologis. Symptom rasa sakit non-patologis tersebut bisa bersifat ringan, seperti ketika Anda duduk lama dalam meditasi, dan bisa bersifat kronis atau terminal seperti penyakit kanker—tentu saja tidak semua symptom penyakit kanker atau penyakit-penyakit yang mematikan bersifat patologis.

Apa yang Anda lakukan ketika sakit? Anda pergi mencari obat? Obat dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit atau mengurangi rasa sakit. Namun untuk penyakit-penyakit tertentu, baik skala ringan atau berat, bahkan kronis atau terminal, tidak ada obat yang lebih ampuh selain rasa sakit itu sendiri.

Symptom rasa sakit berfungsi untuk membantu kita mengenal diri. Seperti halnya kematian, rasa sakit adalah fenomena alamiah yang perlu dipahami, bukan untuk ditekan atau dihindari, yaitu sebagai penunjuk akan realita kehidupan kita yang tersembunyi yang barangkali belum kita lihat dan pahami.

Bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi sakit? Ketika timbul rasa sakit, rasakan dalam-dalam kesakitan itu. Dengan merasakan sakit dalam-dalam, tidak ada satupun bagian dari tubuh Anda yang akan menjadi lebih buruk. Justru sebaliknya, merasakan dalam-dalam symptom rasa sakit akan membawa penyembuhan dan pencerahan.

Merasakan symptom rasa sakit dalam-dalam tidak akan membuat Anda mati. Tidak ada kematian yang disebabkan oleh rasa sakit. Semua kematian normal terjadi karena orangnya sudah siap untuk mati, bukan karena sakit. Jadi rasakan dalam-dalam rasa sakit itu, pun kalau Anda berpikir akan mati karena rasa sakit. Biarlah kematian terjadi kalaupun harus terjadi! Totalitas dalam menerima rasa sakit, memeluk, merasakan dalam-dalam, menjadi penting untuk mendatangkan efek penyembuhan baik fisik maupun non-fisik.

Merasakan rasa sakit dalam-dalam bukan hanya bisa membawa penyembuhan fisik, tetapi juga membawa pencerahan. Semua rasa sakit adalah rasa sakit dalam relasi-relasi. Ketika timbul rasa sakit, jangan bertanya, apa yang salah dengan tubuh ini? Tetapi bertanyalah, apa yang sekiranya mau ditunjukkan oleh tubuh ini sebagai yang mungkin keliru dengan relasi-relasi dan kondisi hidup kita. Adakah cara berpikir yang keliru, adakah hubungan-hubungan yang tidak sehat, adakah cara hidup dan cara mencari penghidupan yang tidak benar?

Tidak cukup bertanya, obat apakah untuk menyembuhkan symptom rasa sakit? Tetapi bertanyalah, apa yang mungkin diminta atau dituntut oleh tubuh ini untuk memulai hidup sehat atau menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Banyak cerita mengisahkan bahwa hidup sesorang berubah secara signifikan karena pernah mengalami ‘krisis’ saat sakit. Jadi moment sakit bisa menolong orang untuk mengalami perubahan hidup secara berarti.

Kita perlu mengenali korelasi antara symptom rasa sakit dan kondisi hidup kita. Saat sakit seringkali adalah saat yang paling tepat untuk mengenal, merasakan dan menghadapi langsung persoalan-persoalan hidup kita. Tubuh ini adalah yang pertama kali merasakan apa yang terjadi dengan kehidupan kita. Pikiran bisa menipu, tetapi tubuh tidak bisa bohong. Kita bisa berlari dari persoalan-persoalan hidup, enggan menghadapi trauma-trauma emosional yang terpendam, berusaha untuk menekan atau membuangnya. Saat sakit datang, kita tidak bisa lari. Itulah saat di mana kita harus berani menghadapinya, termasuk apabila persoalan tersebut adalah rasa sakit itu sendiri.

Kita perlu bukan hanya mengenal efek dari symptom rasa sakit terhadap kehidupan kita, baik secara fisik, mental, dan emosional. Tetapi juga memahami bahwa setiap kondisi tubuh, termasuk kondisi sakit, bukanlah sekedar kondisi fisik, tetapi juga selalu merupakan kondisi kesadaran (a state of consciousness). Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, lewat cara merasakan dalam-dalam symptom rasa sakit secara lebih intensif, kita berkontak secara langsung dengan realitas hidup kita dan belajar menyadari dengan tingkatan kesadaran yang berbeda dari tingkatan kesadaran yang menciptakan symptom rasa sakit tersebut (state of awareness). Saat meditasi atau retret adalah saat-saat terbaik untuk melakukan praktik memeluk rasa sakit secara lebih intensif.

Di sinilah kita belajar mentransendir rasa sakit. Terdapat dua aspek ketika kita belajar merasakan dalam-dalam rasa sakit, yaitu kesadaran (awareness) dan rasa sakit (sicknesses). Kesadaran tentang sesuatu selalu melampaui sesuatu tersebut. Begitu pula kesadaran terhadap rasa sakit selalu melampauinya atau membuat kita bisa melampauinya.

Kunci penyembuhan dan pencerahan atas rasa sakit adalah merasakan dalam-dalam dan menyadari symptom rasa sakit pada tingkatan yang baru. Apa yang kita sadari bukan sekedar sensasi fisik yang terasakan pada titik lokasi tertentu atau kaitannya dengan kondisi mental-emosional tertentu, tetapi tingkatan kesadaran yang menunjukkan siapa diri kita melampaui ‘identitas tubuh’ dan bagaimana kita bisa merasakan diri kita dan hidup kita secara baru.

Kemandegan (stuck) terjadi hanya ketika kita mengidentikkan diri dengan tubuh fisik. Ketika Anda merasa terpenjara dalam tubuh fisik dan menderita karena sakit, itu adalah pertanda bahwa Anda sudah mengidentikkan diri dengan tubuh fisik. Sadari kemandegan ini dan rasakan dalam-dalam kemandegan ini dari tingkatan kesadaran yang berbeda (awareness). Lalu lihat sendiri apa yang terjadi.

Setiap symptom rasa sakit, apabila dirasakan dalam-dalam pada tingkatan kesadaran yang berbeda dari tingkatan kesadaran yang menciptakan rasa sakit tersebut, tidak mustahil akan mendatangkan penyembuhan-penyembuhan. Juga akan memberikan pemahaman-pemahaman baru tentang kehidupan serta rasa kehadiran yang baru dan berbeda. Kalaupun symptom rasa sakit masih ada, Anda akan bisa menanggungnya dengan damai dan mampu menjalani hidup secara berbeda.*

Oleh J. Sudrijanta

Praktik Kesadaran adalah inti dari semua praktik meditasi. Namun tidak semua meditasi membawa kepada pembebasan sekaligus kepenuhan hidup. Untuk menemukan suatu Praktik Kesadaran yang secara efektif membawa kepada pembebasan sekaligus kepenuhan hidup, dibutuhkan pengertian langsung dari tangan pertama tentang berbagai aspek atau dimensi Kesadaran (Awareness).

Berikut adalah paparan tentang beberapa aspek Kesadaran yang perlu dialami sendiri secara actual. Aspek-aspek yang dimaksud adalah Relax Awareness (Kesadaran Relaks), Choiceless Awareness (Kesadaran Tanpa-Memilih), Intuitive Awareness (Kesadaran Intuitif), Discerning Awareness (Kesadaran Disernmen), Unbounded Awareness (Kesadaran yang Tak-Terikat), dan Immanent-and-Transcendent Awareness (Kesadaran Imanen sekaligus Transenden).

Istilah-istilah tersebut berbeda satu dengan yang lain, namun maknanya saling tumpang tindih, saling berkaitan, dan sesungguhnya menunjuk pada hakikat Kesadaran yang tidak berbeda. Untuk mengungkap kekayaan yang bisa ditimba dari praktik Kesadaran, konsep-konsep tersebut kiranya bisa menjadi petunjuk untuk melakukan eksplorasi lebih dalam.

Relax Awareness (Kesadaran Relaks)

“One day, as your confidence in awareness grows,
Mind will appear as witless as a child
And awareness as wise as venerable old sage.
Awareness will not run after mind, but eclipse it;
In a relaxed, serene state, rest at ease.” –Dilgo Khyentse Rinpoche

Meditasi tidak akan bisa berjalan apabila tubuh dan batin kita terlalu tegang. Maka relaksasi menjadi penting. Namun keadaan relaks bukanlah pertama-tama berasal dari kondisi tubuh atau mental. Kita tetap bisa relaks meskipun tubuh sedang sakit atau tidak sehat. Begitu pula kita tetap bisa relaks meskipun pikiran atau emosi sedang kacau. Jadi relaks tidak muncul pertama-tama dari kondisi tubuh atau mental, tetapi dari kesadaran.

Ada banyak cara relaksasi. Misalnya dengan yoga, senam, olah raga dan rekreasi, selain meditasi. Bedanya, dalam meditasi, relaksasi bisa dicapai pada tingkatan yang sangat dalam. Sedangkan relaksasi dengan cara-cara yang lain lebih bersifat kurang dalam.

Dalam praktik meditasi, kita bisa berlatih relaksasi dengan menyadari secara langsung ketegangan dalam tubuh dan batin. Semakin banyak ketegangan kita temukan, semakin banyak kesempatan kita menjadi relaks.

Dalam latihan, kita bisa menjadikan kesadaran-relaks (relax-awareness) sebagai jangkar. Rasakan relaksasi itu dari saat ke saat. Rasakan. Bukan berjuang untuk relaks. Cukup rasakan. Rasakan secara langsung suasana relaks di balik setiap ketegangan.

Nafas adalah factor jasmani yang penting. Menyadari nafas, dengan cara yang tepat, menjadi alat bantu yang efektif agar kita menjadi lebih relaks. Dengan bantuan penyadaran pada nafas, pada saat yang sama kita menyadari ketegangan-ketegangan dalam tubuh dan batin. Semakin banyak ketegangan halus kita temukan, semakin dalam relaksasi kita rasakan.

Kondisi relaks ini akan membuat pengenalan dan keyakinan kita pada Kesadaran menguat. Setelah ketegangan yang diciptakan pikiran semakin mereda, Kesadaran makin menguat, seperti bulan yang timbul di langit dan menerangi kegelapan malam. Begitu pula dengan menguatnya Kesadaran, tubuh dan batin menjadi lebih relaks. Akhirnya orang menjadi lebih sadar dan waspada, namun bebas dari ketegangan.


Choiceless Awareness (Kesadaran Tanpa-Memilih)

“To be choicelessly aware implies [a state where] there is no decision, no will, no choice.” –Jiddu Krishnamurti

Setelah tubuh dan batin kita menjadi lebih relaks seiring dengan bangkitnya Relax-Awareness, keadaan “Sadar Tanpa-memilih” (Choiceless Awareness) akan bisa didekati dengan lebih mudah. Kesadaran Tanpa Memilih adalah istilah lain dari persepsi tanpa-berpusat-pada-diri atau “mengamati tanpa si pengamat” (J. Krishnamurti 1895-1986)

Dalam praktik meditasi, Kesadaran Tanpa-Memilih adalah suatu perhatian tanpa terfokus atau terkonsentrasi pada objek utama. Konsentrasi terfokus masih bekerja secara dualistic, ada “subjek” yang mengamati dan “objek” yang diamati. Dalam Kesadaran Tanpa-Memilih tidak ada lagi dualitas antara si pemerhati dan apa yang diperhatikan, karena si pemerhati tidaklah berbeda dari apa yang harus diperhatikan.

Kesadaran Tanpa-Memililih adalah persepsi tentang fenomena di luar (eksternal) maupun di dalam (internal) batin tanpa melibatkan kehendak dan upaya untuk memilih atau memutuskan. Kita tidak memilih untuk suka atau tidak suka, melekat atau membenci.

Seseorang yang mempersepsikan sesuatu dengan amat jelas, jernih, gamblang, tanpa distorsi akan bertindak secara langsung, seketika, dan alamiah dari Kesadaran ini. Persepsi yang terdistorsi melibatkan proses-proses memilih dan memutuskan, sedangkan persepsi tanpa distorsi tidak membutuhkan proses memilih dan memutuskan. Melihat—dalam kejernihan, tanpa distorsi—adalah bertindak seketika. Kualitas batin dan tindakan yang demikian adalah bebas dari konflik.

Distorsi datang dari semua pengalaman, pengetahuan, dan dorongan-dorongan kompulsif dalam diri kita. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir selalu kita melihat dari latar belakang ini. Kita melihat dengan sudut pandang tertentu. Kita melihat dengan reaksi-reaksi tertentu. Kita memilih selalu menurut keterkondisian kita. Melihat tanpa memilih artinya melihat tanpa keterkondisian, tanpa latar belakang, tanpa reaksi-reaksi, tanpa sudut pandang.

Kita musti menyadari keterkondisian ini. Apabila terdapat perhatian total terhadap fakta, maka latar belakang yang menghalangi pemahaman kita tentang fakta terhapuskan.

Tidak ada teknik, metode atau cara untuk membangkitkan Kesadaran Tanpa-Memilih. Semua Teknik atau metode menyiratkan suatu konflik. Agar muncul Kesadaran Tanpa-Memilih, semua upaya untuk memilih musti berhenti. Berhentinya daya upaya untuk memilih juga bukan berasal dari suatu keputusan, melainkan hasil dari penyelidikan dengan perhatian total. Apabila terdapat perhatian total terhadap fakta, maka keterkondisian tidak ada.

Intuitive Awareness (Kesadaran Intuitif)

“Intuitive insight can be gained only by means of a true inner realization.” –Buddhadasa Bhikku

“Sensitivity in its highest form is intelligence.” –Jiddu Krishnamurti

Kesadaran Tanpa-Memilih membuka pemahaman penuh tentang suatu realita kompleks dari suatu fenomena—atau cukup dikatakan “mengetahui halnya sebagaimana adanya”.

Kesadaran Intuitive (Intuitive Awareness) berbeda dari Kesadaran Analitik (Analytical Consciousness). Kesadaran Analitik adalah kesadaran pikiran. Ia bekerja dengan menggunakan konsep-konsep, menganalisa, menalar, membandingkan, menilai, dan menyimpulkan. Kesadaran Intuitif adalah kesadaran tanpa melibatkan proses-proses berpikir. Ia mengetahui langsung halnya seperti apa adanya, tanpa melalui proses-proses penalaran. Itu adalah suatu kecerdasan lain melampaui intelek.

Tahu (intelektual) berbeda dari Sadar (intuitif). Barangkali Orang tahu saat ia marah, namun belum tentu ia Sadar. Saat marah meledak, apakah orang Sadar? Orang tidak Sadar akan ketegangan pada tubuhnya sendiri. Tidak Sadar akan rasa perasaan lain di balik rasa marah. Tidak Sadar akan motif-motif tersembunyi. Tidak sadar akan delusi atau keyakinan-keyakinan keliru. Apabila orang Sadar akan semua itu ketika kemarahan muncul, Kesadaran Intuitif sudah bekerja. Itu seperti melihat sekuntum bunga secara berbeda.

Anda bisa melihat sekuntum bunga secara lebih dekat dengan perhatian total, tanpa memikirkannya. Sekuntum bunga yang dilihat dengan cara demikian akan menunjukkan dirinya secara lebih kaya. Kita bisa mencium kompleks aromanya, menangkap paduan warna-warninya, sulur-sulurnya, lapisan-lapisan pembentuknya, keterhubungan bagian-bagiannya satu dengan yang lain.

Dengan melihat dari Kesadaran Intuitif kemarahan sebagai kemarahan, kita mengetahui secara menyeluruh proses-proses batin yang membangkitkan rasa marah. Pada moment timbulnya pemahaman intuitif tersebut, seketika kita dibebaskan dari kemarahan yang kita sadari. Energi kemarahan hilang dengan cepat seperti sebuah balon yang tertusuk peniti, kempes dengan cepat. Kita tidak perlu berjuang untuk menjadi sabar atau tidak marah lagi. Karena kemarahan itu sudah sirna begitu saja tanpa daya upaya untuk melenyapkannya.

Kesadaran Intuitif tidak ada hubungannya dengan kemampuan meramal peristiwa yang bakal terjadi, melihat melampaui indera (extra sensoric perception), kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan clairvoyance. Kemampuan-kemampuan seperti itu semua tidak menunjukkan kualitas batin seseorang.

Istilah lain yang masih dekat dengan Kesadaran Intuitif adalah Kepekaan (sensitivity). Yang dimaksud di sini tentu bukanlah peka karena mudah tersinggung, tetapi Peka menangkap halnya dalam totalitasnya.


Discerning Awareness (Kesadaran Disernmen)

“If anyone has any truth-discerning awareness, they will be able to see for themselves without having to believe me, and that seeing will more and more open the way for further study towards the ultimate truth.” –Buddhadasa Bhikkhu

“You shall know the truth and the truth shall make you free.” (Jesus Christ according to John 8: 32)

Kesadaran Disernment (Discerning Awareness) berbeda dari Kesadaran Diskriminatif (Discriminative Consciousness). Kesadaran diskriminatif bekerja dengan cara memilah-milah menurut apa yang benar dan yang salah sesuai norma, aturan atau doktrin tertentu. Sedangkan Kesadaran Disernmen bekerja dengan melihat halnya seperti apa adanya atau mengetahui kebenarannya secara langsung.

Misalnya, tentang kebenaran spiritual bahwa segala fenomena pada hakikatnya “tidak kekal, tidak memuaskan, dan tidak memiliki inti-diri”. Apabila seseorang melihat dan memahami hakikat segala fenomena seperti tersebut di atas, bukan sekedar sebagai doktrin di kepala, maka ia terbebas dari dukkha setiap kali merealisasikannya. Orang tersebut, kita katakan, melihat dari Kesadaran Disernmen.

Kesadaran Disernmen membuat seseorang melihat dengan pandangan cerah. Pencerahan adalah melihat seperti apa adanya, melihat hakikatnya, melihat langsung kebenarannya. Penglihatan seseorang dengan pandangan cerah tidak terjebak oleh apa yang tampak. Mereka mampu melihat melampaui apa yang tampak.

Persepsi pikiran kita mengatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah benda padat. Namun para ahli fisika menemukan bahwa apa yang disebut benda padat tersebut 99,999% adalah “kekosongan”. Jadi tubuh kita pada dasarnya adalah sebuah kekosongan, yang berada di planet bumi yang adalah kekosongan, di tengah alam semesta yang juga adalah kekosongan. Kekosongan di sini berarti tidak memiliki “inti-diri” atau “tanpa-diri”.

Kekosongan juga berarti “tak-terpisahkan”. Kita bisa melihat realita tak-terpisahkan, misalnya, dalam hubungan antara kita dan dunia. “Kita adalah dunia”. Dunia yang kita tinggali ini adalah ekstensi eksistensi dan relasi-relasi kita satu dengan yang lain. Kita seringkali mengeluhkan kemacetan saat kita berada di tengah jalan, seolah problem ada di luar diri kita. Padahal kita adalah bagian dari kemacetan itu. “Lalu lintas itu adalah kita.”

Realisasi kekosongan atas segala fenomena ini membuat kita bebas dari cengkeraman pada apa yang tampak. Kita hanya bisa melihat dengan pandangan cerah apabila kita lepas bebas terhadap segala hal. Begitu pula pandangan cerah yang muncul dari Kesadaran Disernmen ini membuat identifikasi kita pada dunia bentuk dirontokkan dan menjadikan kita makin lepas bebas.

Batin yang lepas bebas adalah prasyarat mutlak agar orang bisa menghidupi Kesadaran Disernmen dan Kesadaran Disernmen akan menuntun orang kepada Kesadaran yang membebaskan. Yang dibutuhkan di sini bukan analisa, juga bukan percaya, melainkan penyelidikan dengan batin yang bebas untuk menemukan Kebenarannya sendiri dari tangan pertama.

Mengetahui kebenaran di sini berarti merealisasikan kebenaran secara langsung. Dengan cara inilah kita menghidupi kebenaran yang kita temukan dari tangan pertama. Kebenaran dari tangan pertama inilah yang membebaskan kita, bukan daya upaya kita untuk bebas.

Unbounded Awareness (Kesadaran yang Tak-Terikat)

“Unbounded Awareness sponataneoulsly comprehends harmony in all various aspects of living.” –Maharishi

“You are Unbounded Awareness—Bliss, Supreme Bliss—in which the universe appears like the mirage of a snake in a rope. Be happy.” –Asthavakra Gita

Kesadaran yang Tak-Terikat (Unbounded Awareness) adalah satu-satunya factor yang bisa membebaskan manusia dari cengkeraman oleh segala hal yang disadarinya. Sedangkan kesadaran pikiran (consciousness) bersifat terikat oleh segala hal yang disadarinya.

Kesadaran adalah prinsip kesatuan dari semua aspek kehidupan dan menciptakan keselarasan dari semua aspek tersebut. Pikiran bekerja dengan cara memisahkan antara imanent dan transendent, tubuh dan batin, nilai dan kebutuhan. Kesadaran bekerja mengatasi semua pemisahan dan menyatukan atau menyelaraskan.

Pikiran adalah pecahan. Kita tidak bisa membuat utuh apa yang terpecah dengan instrument yang terpecah. Keutuhan dan keselarasan tubuh-batin hanya bisa dibangun melalui Kesadaran.

Begitu pula apa yang tampak terpisah atau terkotak-kotak di dunia wujud, sesungguhnya adalah realita yang tak-terpisahkan satu dengan yang lain. Hanya Kesadaran Tak-Terikat yang mampu menangkap kebenaran ini.

Kesadaran Tak-Terikat memiliki dimensi trans-personal yang mengatasi segala identitas dan identifikasi baik secara psikologis, social, politik, ekonomi, etnis, budaya dan religi. Di tataran luar kita memiliki begitu banyak perbedaan; di tataran terdalam, kita sesungguhnya tidak berbeda. Realisasi Kesadaran Tak-Terikat ini karenanya menembus sekat-sekat pemisah.

Kesadaran itu sendiri adalah esensi dari keilahian sekaligus hakikat universal dari setiap makhluk, satu dan tak-terpisahkan. Itu menjadi prinsip kesatuan antara alam bentuk dan tak-berbentuk. Itu adalah fondasi dari jalinan keterhubungan dari segala yang ada.

Mereka yang mempraktikkan kesadaran bukan hanya bekerja bagi kesejahteraan dan pencerahan mereka sendiri, tetapi juga bagi dunia. Mereka memiliki kemampuan untuk merespons setiap tantangan dari kedalaman dan memberi kontribusi sesuai kapasitas mereka.

Dunia yang sakit ini tidak bisa disembuhkan melalui politik atau psikologi identitas. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dalam dengan menyentuh dimensi terdalam keberadaan setiap orang dan segala makhluk, yaitu Kesadaran Universal.

Tidak ada upaya yang lebih efektif untuk mengubah diri sendiri dan dunia apabila tidak bersentuhan langsung dengan aspek Kesadaran. Karena Kesadaran adalah fondasi bagi “surga yang baru dan bumi yang baru”.

Immanent and Transcendent Awareness (Kesadaran Imanen dan Transenden)

“As the might air which pervades everything, ever abides in space, know that in the same way all beings abide in Me.”—The Bhagavad Gita

“Things that have fallen to the level of [being seen as] objects of cognition… are [in reality] essentially awareness.” –Utpaladeva

Kesadaran adalah elemen dasariah dari segala yang ada, meresapi sekaligus mengatasinya secara sempurna. Ia bersifat immanent sekaligus transenden.

Tanpa Kesadaran, tidak ada sesuatu yang bisa ada. Dalam segala fenomena, Kesadaran itu ada. Di dalam tubuh, perasaan, pikiran manusia. Di dalam tetumbuhan atau hewan. Di dalam bakteri atau makhluk hidup paling kecil. Di dalam atom, sub-atom, gelombang, air, api, udara, tanah. Pendeknya, tidak ada alam semesta dan segala isinya tanpa adanya Kesadaran. Jadi Kesadaran adalah sumber dari segala yang ada dan meresapi segala yang ada.

Karena Kesadaran ada di mana-mana, meresapi dunia wujud, dan pada hakikatnya tidak berbeda, maka kita selalu terhubung dan saling mempengaruhi pada berbagai tingkatan sampai pada tingkatan yang dalam. Pada lingkup dunia wujud kita dan sesama manusia serta segala makhluk memiliki berbagai tingkatan perbedaan. Namun kita pada hakikatnya tidak berbeda melampaui dunia wujud.

Hanya ketika kita secara eksperiensial kehilangan Kesadaran, maka kita melekati tubuh, perasaan, pikiran dan dunia wujud. Kita hidup dalam keterkondisian secara psikologis, social, budaya, dan religi. Keletakan yang paling dalam adalah kelekatan pada ego atau keakuan kita. Itulah sumber penyakit spiritual umat manusia dan dunia. Namun praktik kesadaran bukan sekedar untuk mentransendensikan keterkondisian kita, tetapi juga membuat kita secara penuh mampu merasakan keterkondisian kita.

Emosi yang membelenggu adalah contoh dari keterkondisian. Dengan sepenuhnya sadar, kita bisa merasakan emosi apapun tanpa kehilangan jangkar Kesadaran, tanpa mengidentikan diri kita dengan emosi yang kita sadari. Kesadaran bukan hanya kebebasan dari emosi yang tadinya mencengkeram kita atau kita cengkeram. Kesadaran juga adalah kebebasan untuk—kebebasan untuk merasakan emosi bahkan secara lebih penuh tanpa terserap ke dalam emosi. Kita tidak bisa melakukan praktik kebebasan untuk merasakan tanpa Kesadaran Murni akan emosi kita yang pada hakikatnya berbeda dari rasa-perasaan emosi tersebut.

Apabila kita “hidup, bergerak dan ada” berakar dari Kesadaran, maka kita bisa hidup dan berfungsi kembali dengan tubuh, perasaan dan pikiran dan berhubungan dengan dunia wujud dengan kedalaman, kebebasan dan kepenuhan.

Tidak ada pengalaman manusia yang lebih dalam daripada perjumpaan dengan sesuatu yang melampaui keterbatasan dirinya, yaitu Sesuatu Yang Lain. Dalam Bahasa agama theistik, Sesuatu Yang Lain itu disebut dengan nama “Allah”.

Allah adalah Sesuatu Yang Lain yang hanya bisa didekati secara paling baik melalui Kesadaran. Allah bukanlah sosok, diri, atau jiwa yang memiliki Kesadaran, tetapi Ia adalah Kesadaran itu sendiri. Tentu saja Allah tidak sama tetapi juga sekaligus tidak berbeda dari “Kesadaran” itu sendiri. Seperti halnya kekuatan Allah hadir dalam segala, begitu pula Kesadaran ada dalam segala. Untuk menemukan Allah dalam segala, kita perlu menemukan Kesadaran dalam segala. Kita bisa menyebutNya dengan banyak nama seperti “Kesadaran Agung”, “Kesadaran Ilahi”, “Sesuatu Yang Tak-Diketahui”, “Sesuatu yang Transenden sekaligus Imanen”.

Praktik Kesadaran pada akhirnya bukan hanya membawa kita terhubung kembali secara alamiah dengan Sesuatu Yang Lain yang mengatasi segala yang ada (transenden), tetapi juga suatu praktik merealisasikan kepenuhan manifestasi Kesadaran Agung ini melalui tubuh, perasaan dan pikiran kita (imanen). Kita berlatih untuk hadir dan berfungsi di dunia untuk memastikan bahwa Ia bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita dan melalui diri kita. Itu adalah separuh dari akhir perjalanan pertama namun bukan akhir realisasi.

Akhir dari paruh perjalanan kedua adalah kesatuan dengan Sesuatu Yang Lain ini dalam diriNya secara total dalam keabadian atau berakhirnya secara total dan permanen segala keterkondisian. Secara lebih sederhana bisa dikatakan bahwa akhir realisasi adalah kehidupan tanpa keterkondisian atau “kehidupan tanpa ego/keakuan” (Bernadette Roberts). Itulah akhir realisasi.

Baik akhir paruh perjalanan pertama maupun kedua hanya bisa dicapai melalui praksis Kesadaran Saat Ini.*

Tiga Model Hidup Spiritual

Oleh J. Sudrijanta

Banyak orang menjalani hidup religi atau spiritual dalam keadaan “tidur”. “Tidur” yang dimaksud di sini adalah “tidak sadar”.

Apabila agama dan spiritualitas hanya dihayati sebagai sarana untuk menyokong survival dan memperkuat ego, maka orang tersebut masih “tidur” atau “tidak sadar”.

Tidak ada cara hidup dan cara menghayati religi atau spiritual yang lebih otentik tanpa menjalani hidup yang berkesadaran. “Bangun” secara spiritual adalah hidup berkesadaran. Praktik hidup berkesadaran adalah laku spiritual yang paling dekat membawa pembebasan dan pencerahan.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga model dalam menjalani hidup religi atau hidup spiritual: model pengikut, model pencari, dan model praktisi. Dari ketiganya, hanya model praktisi lah yang paling selaras dengan ideal hidup berkesadaran.

Model Pengikut

Mayoritas penganut agama berada pada model ini. Mereka terutama berasal dari generasi tua dan sebagian kecil berasal dari generasi muda yang hidupnya terkungkung dalam komunitas agamanya yang eksklusif.

Allah atau sesuatu yang mengatasi yang imanen bagi mereka ditemukan di tempat-tempat khusus seperti di bangunan Masjid, gedung Gereja, Pura, tempat-tempat ziarah, dan tempat-tempat lain yang dianggap suci. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang paling ideal di mana orang bisa menemukan ketenangan atau bisa berjumpa dengan Allahnya.

Percaya adalah kunci dalam hidup beriman. Tidak penting apakah orang paham akan isi kitab-kitab, ajaran para pemuka agama dan tradisi di mana mereka hidup. Yang paling penting adalah percaya meskipun tidak melihat langsung kebenarannya, serta setia melakukan ritual dan kewajiban agamanya. Pada umumnya para pengikut ini gemar bergabung dengan kelompok-kelompok doa, devosi, atau pengajian. Banyak dari mereka sangat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di komunitas agamanya namun tanpa kedalaman.

Meskipun tidak memiliki pemahaman yang dalam tentang isi kitab-kitab, mereka meyakini bahwa kebenaran bukan hanya ada di dalam agamanya, tetapi mereka sering mengklaim bahwa kebenaran hanya ada secara ekslusif di dalam agama mereka saja.

Mereka merasakan bahwa agamanya adalah rumahnya. Mereka menemukan ketenangan di dalam rumah agamanya, entah mereka beragama Islam, Katolik, Hindu, Budha atau yang lain. Mereka merasa eksis menjadi bagian dari sebuah komunitas agama atau komunitas spiritual yang lebih besar. Apapun yang mereka lakukan di dalam dan bersama komunitasnya, banyak diwarnai oleh kepentingan ego pribadi atau ego kolektif.

Orientasi dasar dari hidup keagamaan mereka berciri privat. Yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Allah dan hidup serba berkecukupan di dunia. Dimensi sosial dari hidup keagamaan atau hidup spiritual kurang mendapat tempat.

Agama sebagai rumah aman ini bisa meninabobokkan warganya. Setiap anggota komunitasnya merasa diperhatikan, dipenuhi kebutuhan dasarnya, dibela dan dilindungi. Mereka dijauhkan dari apa saja yang bisa menggoncang iman mereka. Mereka diberi janji-janji surga, diberi kepastian-kepastian iman, dengan berpegang pada dogma-dogma dan konsep-konsep kebenaran. Mereka hidup seperti di dalam sangkar emas.

Jebakan lainnya adalah bahwa orang bisa menjadi “mabuk agama” atau “over dosis agama”. Agama dipakai sebagai tolok ukur utama dalam memilih sekolah, teman bergaul, pasangan hidup, pekerjaan, gubernur atau presiden. Orang-orang yang “mabuk agama” ini mudah dieksploitasi oleh para pemuka agama dan para peternak politik demi bisnis dan kekuasaan mereka.

Agama sebagai rumah aman bisa menjadi penjara yang menyesakkan ketika mereka melihat para pemimpin atau pengurus agamanya hanya mementingkan uang, kekuasaan, aturan, tuntutan organisasi, berlaku rigid, dangkal dan superfisial.

Model Pencari

Mereka yang sudah bosan atau jenuh dengan agama sebagai penjara yang menyesakkan atau sebagai sangkar emas dan mulai menyadari akan kebutuhan spiritual yang lebih dalam akan mulai melakukan pencarian. Semua orang dari segala umur, dari anak-anak hingga usia lanjut, bisa merasakan kebutuhan ini. Secara lebih khusus, sebagian besar anak-anak milenial yang dilahirkan di era pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, cepat atau lambat akan menjadi para pencari. Mereka tidak puas hanya menjadi generasi pengikut seperti orang tua mereka.

Mereka mencari siapa Allah itu dan apakah memang ada. Mereka mencari apa betul surga dan neraka itu ada. Mereka mencari apa betul kebenaran yang dikotbahkan di Masjid-Masjid atau Gereja-Gereja itu cocok dengan fakta-fakta kehidupan. Apabila tidak, mereka akan bilang itu semua hanya omong kosong.

Percaya buta bukan hanya tidak cukup tetapi juga naif. Mereka lebih membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang fakta-fakta kehidupan. Iman menuntut pemahaman dan musti rasional.

Mereka tidak menempatkan agama sebagai rumah melainkan sebagai supermarket. Mereka mencari barang dan jasa spiritual yang bisa dibeli. Mereka membaca buku-buku spiritual, mengambil kursus kitab suci, mengikuti seminar atau workshop, mengambil program retret atau meditasi, terlibat dalam support groups dan kelompok-kelompok pelayanan. Apabila mereka tidak menemukan sesuatu yang dicari, mereka tidak takut untuk mencari di luar agama yang dianutnya.

Mereka tidak mudah percaya pada apa yang disampaikan oleh para orang tua, pemuka agama, guru-guru spiritual, dan para pendidik. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka temukan melalui internet atau media sosial.

Mereka “ngaji di media sosial” atau “belajar kitab-kita dari internet.” Loyalitas dan hubungan antara murid dan guru, santri dan kyai, umat dan pembimbing rohani makin memudar. Sebagian dari mereka menjadi “anti-agama.” Mereka bisa memilih “guru-guru spiritual” dan “teks-teks spiritual” yang mereka anggap paling cocok dengan kebutuhan atau selera mereka. Ego mereka menentukan ajaran mana yang akan diterima atau ditolak.

Banyak dari generasi milenial ini menganut ideologi post-truth. Mereka hanya mau menerima sesuatu sebagai kebenaran apabila cocok dengan rasa-perasaan dan keyakinan yang sudah mereka pegang sebagai kebenaran. Emosi lebih penting dari pada fakta dan keyakinan lebih utama daripada data. Mengapa pada pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, banyak orang tidak memilih calon gubernur yang lebih profesional dan justru memilih calon gubernur yang kurang profesional? Pilihan mereka menunjukkan ideologi post-truth yang mereka anut: “Tidak penting gubernur pilihanku bisa bekerja atau tidak; yang penting satu iman denganku.” Itu sekedar contoh yang paling gamblang.

Sebagian tidak mengedepankan emosi dan keyakinan malainkan fakta. Kebenaran haruslah sesuai dengan fakta. Maka mereka akan sulit menerima spekulasi atau penilaian selama tidak didukung oleh fakta-fakta. Namun posisi ini akan membuat sebagian dari mereka kesulitan dalam memahami misteri atau kebenaran-kebenaran spiritual melampui intelek ketika pemahan rasional menjadi matriks pencarian.

Pencarian akan membuat pertumbuhan spiritual menjadi lebih matang. Akan tetapi apabila pencarian dijadikan tujuan itu sendiri, maka mereka akan menjadi pengembara spiritual atau gelandangan spiritual tanpa akar, tanpa rumah. Bisa jadi mereka belajar banyak jalan spiritual dari tradisi yang berbeda-beda. Namun mereka tidak sungguh mendalam. Mereka seperti menggali banyak sumur namun dangkal. Sebagian dari mereka merasa tercerabut dari tradisi atau akar spiritual dari mana mereka berasal dan mereka terus mengembara tanpa arah. Sebagian yang lain akhirnya kembali menemukan akar atau rumahnya dan justru diperkaya melalui pencarian yang sudah mencapai di penghujung jalan.

Model Praktisi

Model ini banyak dipraktikkan oleh mereka yang sudah sampai di penghujung jalan, yang tahu betul keunggulan-keunggulan sekaligus jebakan-jebakan dari model pengikut dan model pencari.

Allah atau sesuatu yang Tak-Dikenal yang tak terpisahkan dari segala hal yang dikenal, ditemukan bukan hanya pada tempat atau lokasi tertentu dan moment-moment tertentu, melainkan di semua lokasi dan semua moment sepanjang waktu. Terlebih lagi Allah yang demikian bisa didekati secara lebih baik melalui gerak, kerja atau aktivitas.

Ungkapan-ungkapan berikut menunjukkan kebenaran yang dimaksud. “Tubuh ini adalah Bait Allah dan seluruh gerak melalui tubuh ini adalah doanya.” “Tubuh ini adalah Budha.” “Allah adalah fondasi dari inter-being (jalinan bersama yang saling mempengaruhi). “Rumah Allah bukan hanya di Gereja tetapi juga di alam semesta.” “Kerajaan Allah adalah di sini dan sekarang ini.”

Kunci dari iman bukanlah kepercayaan ataupun pemahaman rasional, melainkan realisasi kebenaran. Kebenaran yang membebaskan adalah kebenaran yang ditemukan melalui penghayatan. Kebenaran yang ditemukan dari kitab-kitab atau pemegang otoritas kebenaran hanyalah konsep tentang kebenaran, bukan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang sesungguhnya mustilah ditemukan sendiri secara langsung dari tangan pertama. Praktik “melihat” dan “mengetahui” kebenaran langsung adalah praktik spiritual yang paling utama. Itulah inti dari praktik “diskresi spiritual.”

Kebenaran yang membebaskan ini tentulah melampaui dogma, melampaui kepercayaan atau keyakinan, melampaui rasa-perasaan emosi. Kebenaran yang sesungguhnya seperti ini tidak bisa ditemukan hanya dengan mengikuti aturan atau syariah, malainkan buah dari praktik, latihan, laku, atau olah hidup.

Kebenaran yang sesungguhnya tidak berada di tempat yang jauh. Ini adalah soal gerak batinnya sendiri dengan lika-liku pikiran dan keakuannya. Menyadari dan memahami fakta-fakta kebenaran batinnya sendiri dari moment ke moment, membuka akses pada kedalaman hidup dan menggerakkan aktivitas untuk melakukan segala hal dengan cinta dan perhatian yang besar. Apabila kita sendiri hidup secara berbeda setiap hari, dunia juga akan bergerak secara berbeda. Realisasi pembebasan dan pencerahan baik bagi diri sendiri maupun sesama makhluk ini, hanya bisa dicapai melalaui praksis saat ini.

Rumah spiritual dari para praktisi bukanlah tempat atau lokasi tertentu, melainkan seluruh alam semesta di mana mereka melakukan praktik spiritual dari saat ke saat. Mereka bisa melakukan praktik spiritual di manapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Mengurus pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, bekerja di kantor atau menjalankan bisnis, berkarya di bidang politik, aktif terlibat sebagai anggota RT/RW, terlibat dalam pelayanan sosial, semuanya bisa menjadi praktik spiritual yang konkret, indah dan menyegarkan.

Mereka tidak kehilangan akar tradisi dari mana mereka berasal sekaligus memiliki sayab kebebasan untuk melakukan eksplorasi. Eksplorasi kedalam maupun keluar tradisi di mana mereka berasal akan memperkuat akar-akar spiritual mereka. Yang Islam akan menjadi lebih Islami, yang Katolik akan menjadi lebih Katolik, yang Budhist akan menjadi lebih Budha, tanpa menjadi terkotak-kotak dalam sekat-sekat agama dan tradisi.

Selama ego masih bercokol, semua praktisi spiritual masih memiliki peluang untuk mengalami jebakan. Misalnya, mereka bisa saja terjebak dalam rasa aman palsu atau merasa sudah mengalami pencerahan tanpa mau terlibat bersama komunitasnya untuk menolong sesama makhluk. Dengan kata lain, dalam bentuk yang masih kasar, bisa jadi para praktisi hidup berkesadaran terjebak seperti kedua model yang lain: terjebak dalam “sangkar emas”, “anti-agama”, “anti-sosial”, dan “over dosis spiritual”.

Berbeda dari dua model yang lain, praktik spiritual yang dibarengi dengan refleksi, diskresi, dan komitment total bagi pembebasan dan pencerahan diri sendiri dan sesama, dengan menanggalkan ego dan keakuan, memperkecil kemungkinan orang terjatuh dalam jebakan yang tidak perlu.*

Pengampunan sebagai Jalan Pembebasan

Oleh J. Sudrijanta

Apa yang akan terjadi dengan kesehatan kita apabila kita tidak bisa mengampuni orang yang berbuat salah terhadap kita? Orang yang tidak bisa mengampuni pastilah memiliki problem kesehatan, entah kesehatan fisik, emosional, maupun mental. Apabila kita banyak mengampuni, tekanan darah akan cenderung menurun, system kekebalan tubuh meningkat, bebas dari penyakit kronis psiko-somatik, hubungan-hubungan pribadi menjadi lebih baik, dan bebas dari kecemasan dan depresi. Banyak kajian telah membuktikan hal tersebut.

Dalam ranah psiko-spiritual, ketidakmampuan mengampuni membuat orang mengalami stagnasi atau kemandegan. Dengan meminjam skala kesadaran dari David R. Hawkins, kita bisa melihat lebih jelas dampak yang bisa diukur dari sebuah tindakan pengampunan.

David R. Hawkins, PhD (Power vs Force, The Hidden Determinants of Human Behaviour, 1995-2000) membuat skala kesadaran 0 – 1.000 dengan menggunakan metode kinesiology atau “test reaksi otot”, yang lebih dulu dikembangkan oleh Dr. John Diamond sebagai disiplin ilmu baru tahun 70-an. Angka 0 menunjukkan tingkat kesadaran terendah, sedangkan 1.000 menunjukkan tingkat kesadaran tertinggi.

Mereka yang hidup dengan energy negative, tingkat energy kesadarannya berada di bawah 175. Energi kesadaran yang paling rendah berada di angka 20, yaitu mereka yang didera oleh rasa malu. Rasa salah, 30. Putus asa, 50. Rasa pedih, 75. Rasa takut atau cemas, 100. Rasa kecewa, 125. Kebencian atau rasa permusuhan, 150. Sombong atau suka menuntut 175. Semua rasa perasaan tersebut menunjukkan perlunya tindakan pengampunan.

Energi kesadaran orang akan berubah dari negative menjadi positif ketika orang menunjukkan keberanian. Energi yang dihasilkan oleh keberanian berada pada angka 200. Lebih jauh lagi, apabila orang bisa mengampuni, energy kesadarannya meningkat menjadi 350 dan pengampunan ini membuka pintu bagi energy kesadaran yang lebih tinggi, seperti pemahaman (400), kasih (500), sukacita (540), damai (600) dan pandangan cerah (700-1.000).

Mengampuni Setiap Saat

Ketidakmampuan dalam mengampuni orang lain atau diri sendiri selalu terkait dengan peristiwa di masa lampau, masa depan dan masa kini. Orang bisa merasakan kecemasan karena peristiwa yang telah lewat, atau takut karena peristiwa yang belum terjadi, atau penuh ketegangan karena suka membuat perlawanan terhadap kondisi sekarang. Itu menunjukkan bahwa orang tidak mengampuni. Tidak mampu mengampuni artinya tidak bisa menerima situasi seperti apa adanya, entah situasi di masa lampau, masa depan atau masa sekarang.

Pengampunan terhadap masa sekarang lebih penting daripada pengampunan terhadap masa lampau dan masa depan. Apabila kita mampu mengampuni setiap saat, maka tidak akan ada penumpukan kekesalan yang perlu diampuni atau dilepaskan di masa depan. Kita memiliki problem dengan masa lampau atau masa depan karena kita tidak pernah sungguh mengampuni sepenuh hati di saat sekarang.

Pengampunan sebagai Pelepasan Kekesalan (Kilesa) dan Penderitaan (Dukkha)

Pengampunan pertama-tama adalah pelepasan dari kekesalan (kilesa) dan penderitaan (dukkha). Pelepasan atau pembebasan dari kekesalan dan penderitaan ini sesungguhnya berjalan secara mudah dan alamiah apabila kita mampu melihat sendiri delusi-delusi atau persepsi-persepsi keliru yang sudah kita yakini sebagai kebenaran. Yang tidak mudah adalah bagaimana kita menemukan sendiri secara aktuil delusi-delusi ini.

Banyak delusi di balik kesulitan kita dalam mengampuni. Berikut adalah sekedar beberapa contoh.
1) “Penderitaan dan kebahagiaan kita ditentukan dari luar—perilaku orang lain, perilaku diri sendiri serta kondisi-kondisi dari masa lampau, masa sekarang dan masa depan.” Kekesalan dan penderitaan muncul karena delusi ini. Sesungguhnya, “pikiran dan keakuan” kita sendirilah yang menciptakan kekesalan dan penderitaan. Apabila kita melepaskan diri dari cengkeraman “pikiran dan keakuan”—sebagai inti dari proses pengampunan—maka kita bebas dari kekesalan dan penderitaan.
2) “Pengampunan adalah sebuah kelemahan; pembalasan adalah bukti kekuatan.” Delusi ini membuat kita (ego atau keakuan) merasa eksis hanya kalau kita bisa melakukan balas dendam, tetapi kita akan terus merasa tidak damai. Sebaliknya, apabila kita sungguh mengampuni, kita menemukan kelegaan, kedamaian dan kekuatan.
3) “Pengampunan tidak layak dan tidak efektif diberikan apabila orang tidak menunjukkan perubahan perilaku.” Delusi ini mudah dipatahkan dengan melihat fakta-fakta efek positif dari tindakan pengampunan tanpa syarat. Pengampunan justru sering menjadi pintu perubahan perilaku, bukan sebaliknya.

Pengampunan sebagai Welas Asih

Pengampunan adalah juga berarti berkontak dari kedalaman. Berkontak dari kedalaman berarti berkontak bukan secara reaktif. “Saat aku ingat atau bertemu dengan orang yang melukaiku, aku tidak akan menghindar, sembunyi, membenci atau balas dendam. Aku akan menjaga intensi yang baik dan memberi rasa hormat, empati atau welas asih.” Pengampunan di sini bermakna lebih aktif: “memberi rasa hormat, empati atau welas asih.”

“Apabila pada saat ingat atau berjumpa dengan orang yang melakukaiku masih timbul kebencian, keinginan untuk menghindar, membenci atau balas dendam, aku akan merasakan dan menyadari sensasi-sensasi dalam tubuh dengan bantuan nafas yang dalam sampai reaksi-reaksi ini mereda dan hilang.” Pengampunan di sini bermakna transformative.

Sambil kita merasakan dan menyadari reaksi-reaksi tubuh dan batin pada moment kontak dengan orang yang melukai kita, kita realisasikan kebenaran ini bahwa orang lain tidak akan pernah bisa melukai “siapa kita yang sesungguhnya.” Yang bisa terluka hanyalah gambaran kita tentang diri kita, tetapi bukan hakikat kita yang sesungguhnya. Apabila kita berada pada kedalaman kesadaran, tidak lagi mencengkeram gambaran mental tentang diri kita atau orang lain, maka rasa luka yang tadinya terasa menggumpal seperti sebongkah es, kini lumer atau mencair seperti gumpalan es yang terkena sinar matahari. Moment “kontak” dengan orang yang melukai kita bisa menjadi moment penyembuhan dan pembebasan.

Pikiran tidak bisa mengampuni. Kalaupun kita berjanji sampai 1000 kali untuk mengampuni, selama kita tidak masuk pada kedalaman, pada kesadaran tanpa reaksi, kita tidak akan mampu mengampuni. Itulah mengapa kita sering terkejut. Kita pikir kita sudah mengampuni; ternyata kita masih merasakan luka atau kebencian saat bertemu dengan orang yang melukai kita.

Setelah kita mengalami pembebasan dari rasa luka barulah mungkin kita bisa berhubungan kembali dengan orang yang tadinya melukai kita dengan cara baru. Kita bisa menghormati orang tersebut dan mampu memberikan energy welas asih, karena kita lebih dulu bisa menghormati dan berwelas asih pada diri sendiri.

Mengampuni Diri Sendiri

Tidak mudah mengampuni orang lain, tetapi lebih tidak mudah lagi mengampuni diri sendiri. Dengan kata lain, adalah lebih tidak mudah untuk melepaskan kekesalan-kekesalan terhadap diri sendiri, untuk menerima diri dengan sepenuh hati, menghargai dan berwelas asih pada diri sendiri.

Apabila kita bertemu dengan kekesalan terhadap diri sendiri, hal yang pertama perlu diingat adalah janganlah kita mencari pembebasan, kedamaian atau apapun juga di luar dari apa yang kita rasakan. Apabila Anda tidak merasa damai, ampunilah bahwa Anda tidak damai. Rasakan dan sadari kekesalan tersebut melalui sensasi-sensasi tubuh sebagai reaksi fisik terhadap keadaan batin Anda. Bisakah merasakan dan menyadari kekesalan dan reaksi-rekasi tubuh-batin, tanpa reaksi? Pada moment Anda sungguh merasakan dan menyadari tanpa reaksi—yang berarti sungguh menerima seperti apa adanya, kekesalan itu diubah menjadi kedamaian.

Apabila Anda terus membawa luka di dalam hati dan tidak mau mengampuni, maka Anda tidak respek pada diri sendiri. Siapa yang Anda harapakan bisa menghargai diri Anda kalau bukan Anda sendiri?

Pengampunan adalah sebuah seni atau keahlian yang hanya bisa dikuasai kalau dipraktikkan. Selama masih timbul rasa luka, kebencian, kekesalan, rasa marah, rasa takut, kecemasan atau kekhawatiran, kita masih perlu berlatih untuk mengampuni.

Mengampuni tanpa syarat adalah manusiawi sekaligus ilahi. “Allah adalah pengampun”. Apabila kita lebih banyak mengampuni dengan sepenuh hati, kita menjadi lebih manusiawi sekaligus ilahi.*

Teroris Bukan Orang Jahat

By J. Sudrijanta

Kita sering mendengar pertanyaan seperti ini, “Mengapa fenomena kekerasan dan kejahatan tidak pernah hilang dari sejarah kehidupan manusia di muka bumi?” Tentu ada banyak factor penyebab. Salah satu akar penyebabnya terkait dengan kuat dan masifnya delusi tentang “kebaikan” vs “kejahatan” yang diyakini sebagai kebenaran bagi kebanyakan orang.

Ada “benar dan salah” menurut hukum positif dan ada “baik dan buruk” menurut hukum moral. Tetapi bagi orang-orang yang sudah lebih maju kesadarannya, pada tataran yang lebih dalam tidak dikenal dualitas, seperti dualitas “kebaikan vs kejahatan”. Apa yang ada hanyalah “kebaikan”.

Kejahatan sebagai pecahan kebaikan

Apa yang dipandang sebagai “kejahatan” sesungguhnya hanyalah “kebaikan yang terpecah” dan semua kebaikan yang masih memiliki lawan bukanlah kebaikan yang sesungguhnya.

Para pelaku kejahatan atau orang-orang yang dicap jahat pada dirinya bukanlah orang-orang jahat. Mereka pada dasarnya adalah orang-orang baik tetapi melakukan tindakan “kebaikan yang terpecah.” Sebagai contoh, para teroris yakin bahwa jalan tercepat masuk surga adalah dengan mati sahid, yaitu mati karena memerangi kaum kafir. Mati dengan cara demikian adalah jalan “terbaik” bagi mereka, tetapi sebuah “kebodohan” bagi yang lain.

Kebaikan yang terpecah selalu menciptakan penderitaan bagi orang lain sekaligus diri sendiri. Sedangkan kebaikan yang utuh tidak membawa dampak penderitaan bagi orang lain dan diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab, kebaikan yang utuh selalu bebas ego atau kepentingan diri sendiri. Sedangkan kebaikan yang terpecah selalu ditunggangi ego atau kepentingan diri sendiri.

Singkatnya, semua tindakan yang sudah dibersihkan seluruhnya dari penghalang ego adalah “tindakan yang utuh” sedangkan semua tindakan yang ditunggangi atau digerakkan oleh ego adalah “tindakatan yang terpecah”. “Keutuhan” adalah esensi dari “kebaikan” dan “keterpecahan” adalah esensi dari “kejahatan” itu sendiri.

Kebaikan utuh adalah seperti cahaya dan kebaikan yang terpecah adalah seperti bayang-bayang. Bayang-bayang hanya ada selama terdapat cahaya yang terhalang oleh benda-benda. Bayang-bayang adalah pecahan cahaya atau pancaran cahaya yang terhalang. Tidak ada bayang-bayang yang eksis dari dirinya sendiri, begitu pula “kejahatan”. Jadi dari dirinya sendiri, tidak ada yang disebut entitas kejahatan; yang ada hanyalah tindakan jahat sebagai pecahan kebaikan.

Darimanakah tindakan kejahatan berasal?

Tindakan jahat adalah reaksi dari batin yang terkondisi sedangkan tindakan kebaikan adalah respons dari batin yang bebas keterkondisian. Pusat dari keterkondisian dan keterpecahan ini adalah delusi diri atau ego.

Batin yang terkondisi adalah proses-proses sebab-akibat atau aksi-reaksi yang membentuk arus keterkondisian. Arus ini bernama ketakutan, kecemasan, keserakahan, kebencian, kemarahan, kebrutalan, kekerasan dan seterusnya.

Tidak ada “inti-diri” atau “entitas” dalam arus ini. Ia terus mengalir sepanjang waktu seperti arus sungai. Apapun tidak bisa membatasi gerak arus ini termasuk kematian fisik, kecuali batin berada dalam kebebasan total.

Hanya dalam kebebasan total, terdapat perhatian total tak-terbagi terhadap fakta keterpecahan batinnya sendiri. Pada moment ketika batin berada pada keutuhan atau totalitas, tidak terdapat pecahan sekecil apapun, batin seperti ini tidak bisa dipengaruhi oleh arus pecahan apapun. Pada moment inilah batin keluar secara alamiah dari arus keterkondisiannya.

Tidak ada “orang” jahat

“Kejahatan” dengan demikian tidak memiliki realitas intrinsic pada dirinya. Apa yang ada hanyalah tindakan jahat atau arus kejahatan sebagai pecahan kebaikan, tetapi tidak ada “orang” jahat—“entitas” jahat, “sosok” jahat, “makhluk” jahat, “penguasa” jahat, “kelompok” jahat.

Banyak tindakan “kejahatan” muncul justru karena masih banyak orang memegang kepercayaan bahwa terdapat entitas kejahatan dan akibatnya konflik “kebaikan vs kejahatan” dianggap biasa dan bersifat abadi. Apabila kita meyakini bahwa ini benar demikian, maka kita semua ikut bertanggung jawab terhadap nasib kemanusiaan yang semakin buruk.

Kepercayaan bahwa sebuah kejahatan dilakukan oleh “orang” jahat menjadi landasan bagi aksi-aksi yang lebih jahat lagi. Inilah yang terjadi. Apabila seseorang dipandang sebagai orang jahat, maka orang lain mendapatkan pembenaran—secara politik, moral, social, religius—untuk melakukan apa saja untuk melenyapkan orang jahat tersebut, termasuk pengusiran, penyiksaan dan pembunuhan.

Ada banyak bentuk “kejahatan” seperti perkosaan, penyiksaan, pengusiran paksa, pembunuhan, genocida, perampokan, produksi dan pengedaran narkoba, dst. Itu semua disebut sebagai tindakan jahat karena mengakibatkan penderitaan. Namun melekatkan kejahatan pada si pelaku—bukan pada perilaku atau tindakannya—justru memperkuat tindakan “kejahatan.”

Ironisnya, tindakan jahat seringkali dilakukan justru mengatasnamakan “kebaikan”–untuk membela kemanusiaan, untuk menurunkan angka kejahatan, atau untuk mencari keadilan. Lalu orang merasa sah melakukan kekerasan sebagai bentuk balas dendam atau merasa sah dengan pembenaran bahwa “tujuan bisa menghalalkan cara.” Meyakini adanya “orang” jahat merupakan sebuah bentuk kayakinan yang “jahat” karena bisa membawa kepada tindakan yang sama-sama “jahat”.

Orang sakit bukanlah “orang” jahat

Mengapa kita tidak memahami bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kesakitan dalam dirinya dan mereka sendiri adalah orang-orang yang paling menderita sebelum mereka membuat orang lain menderita? Apabila kita ingin melenyapkan mereka, kita tidak berbeda dari diri mereka.

Kaum teroris, pelaku kekerasan, pembunuh, pebisnis narkoba, para criminal dan kaum tyran adalah orang-orang yang bukan hanya menyebabkan orang lain menderita. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan pemahaman dari orang lain bahwa mereka sendiri menderita dan membutuhkan bantuan untuk keluar dari penderitaan.

Banyak dari pelaku kekerasan terhadap anak-anak seringkali adalah orang-orang yang dulunya pernah menjadi korban kekerasan di usia anak-anak. Para pencuri dan perampok seringkali adalah korban dari pemiskinan karena perselingkuhan korporasi bisnis dan politik. Para teroris seringkali adalah orang-orang polos biasa yang menjadi korban indoktrinasi dari para pembela keyakinan yang keliru. Arus “kejahatan” ini terus bergerak dan berputar.

“Kejahatan” karenanya adalah sebuah istilah yang ditempelkan pada bentuk-bentuk ekstrem yang disalahpahami dari “perilaku patologis”—perilaku yang berakar pada penderitaan para pelaku itu sendiri yang mengakibatkan penderitaan orang lain. Para teroris atau para produsen dan pebisnis narkoba, misalnya, bukanlah orang-orang jahat, betapapun tindakan mereka bisa menyebabkan jutaan orang lain menderita. Mereka bukan orang-orang “jahat”, tetapi orang-orang sakit; dan orang sakit butuh disembuhkan, bukan dilenyapkan.

Mereka juga membutuhkan rekonsiliasi. Rekonsiliasi pada tingkatan manapun, baik secara personal, interpersonal maupun komunal, membutuhkan pengakuan jujur akan apa yang menjadi kebutuhan dasariah yang melandasi setiap tindakan kejahatan.

Mereka membutuhkan bantuan spiritual, psikologis dan etis. Mereka membutuhkan bantuan untuk membongkar keyakinan-keyakinan palsu, kepercayaan-kepercayaan sempit, pikiran-pikiran dan pengetahuan yang terdelusi. Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bahwa rasa takut, kepedihan dan penderitaan yang mereka alami tidak berbeda dari pengalaman semua orang lain. Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bahwa balas dendam bukanlah jawaban persoalan.

Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bahwa siapapun yang mereka rasakan telah menyebabkan diri mereka menderita—atau terhadap siapa mereka merasakan kebencian dan kemarahan—pada dasarnya bukanlah orang-orang “jahat”. Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bagaimana konsep “kebaikan vs kejahatan” telah mendorong lebih banyak tindakan kejahatan di muka bumi.

Kita butuh perlindungan dan kepastian hukum untuk melindungi kemanusiaan dan keutuhan hidup bersama dari segala bentuk tindakan jahat. Terhadap mereka yang jelas-jelas sudah melakukan tindakan yang melukai kemanusiaan dan keutuhan hidup bersama, haruslah diambil tindakan hukum, ditangkap dan dikarantina, sebelum mendapatkan bantuan penyembuhan dan rekonsiliasi.

Kita semua membutuhkan perlindungan agar terbebas dari tindakan jahat yang dilakukan dari luar, tetapi kita juga perlu waspada terhadap sumber kejahatan yang tersembunyi di dalam diri kita masing-masing.

Konsep adanya “kejahatan” telah membawa kepada kesalahan, kekerasan dan kepedihan yang paling buruk. Tidak ada jalan keluar bagi kemanusiaan dan keutuhan hidup bersama untuk mengatasi semua hal yang mengerikan sebagai “jahat” apabila kita tidak membersihkan diri kita dari kepercayaan akan adanya “sosok” yang jahat.

Di satu pihak kita perlu melawan habis segala bentuk tindakan jahat. Di pihak lain kita musti merangkul para pelaku kejahatan dengan kasih, penerimaan dan pemahaman terbaik.*

Konflik, Perang, dan Identitas

By J. Sudrijanta

“Semua konflik dan peperangan berakar pada konflik identitas.”

Ada banyak bentuk konflik dan peperangan. Namun tidak ada konflik dan peperangan yang tidak melibatkan konflik identitas. Lebih jauh lagi, semua konflik di luar–konflik antar individu, antar kelompok, antar agama, atau antar bangsa– berakar pada konflik identitas dalam diri individu itu sendiri dan kelompoknya. Oleh karena itu, penting menerangi pertanyaan tentang identitas kita.

Bagaimana menerangi pertanyaan, “Siapakah aku ini?”

Terdapat dua dimensi yang membentuk identitas kita, yaitu dimensi bentuk dan dimensi tak-berbentuk.

Dalam dunia bentuk, kita memiliki identitas terkait dengan tubuh, agama, suku, ras, golongan, materi, serta bentuk-bentuk pemikiran dan keyakinan. Atribut yang kita bawa mempengaruhi persepsi tentang diri kita, sifat, karakter dan kepribadian kita.

Dalam dunia melampaui bentuk, siapa diri kita melampaui sifat, karakter dan kepribadian. Tidak ada lagi yang disebut individu atau persona; yang ada tinggal ‘kesadaran’ (awareness). ‘Kesadaran’ inilah yang saya maksud sebagai ‘tanpa-diri’ (no-self), ‘roh’ (spirit), atau ‘makhluk spiritual’ (spiritual being). Identitas asali tidak terkait dengan dunia wujud (‘nama-rupa’). Itulah identitas kita yang sesungguhnya.

Jadi, “siapakah aku ini”? Kita pertama-tama bukanlah tubuh (materi) yang berkesadaran, tetapi “makhluk berkesadaran” atau “makhluk roh” yang bermanifestasi dalam tubuh (materi) manusia. Kita bukanlah manusia—dengan tubuh dan pikiran– yang memiliki pengalaman spiritual, tetapi kita pertama-tama adalah “makhluk spiritual” yang memiliki pengalaman sebagai manusia. Itu adalah identitas asali kita.

Apabila Anda lupa identitas asali Anda, lalu mencari identitas siapa diri Anda dalam dunia bentuk dan melekatkan diri pada tubuh dan bentuk-bentuk pemikiran, maka Anda akan hilang ditelan kegelapan penderitaan. Identias asali tidak perlu dicari lagi. Anda sudahlah menjadi diri Anda sendiri; Anda pertama-tama adalah “kesadaran” yang mewujud dalam tubuh dan bentuk-bentuk pemikiran.

Konflik dan perang sepanjang sejarah manusia berlangsung karena banyak factor dan makin diperparah apabila sudah menyangkut konflik identitas, apalagi identitas agama. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Semua konflik dan peperangan bukan makin parah kalau sudah menyangkut konflik identitas, termasuk identitas agama, tetapi konflik identitas itulah akar dari semua konflik dan peperangan.

Identitas agama masih menjadi hal penting bagi kebanyakan orang yang berdiam di bumi ini. Untuk mengkahiri konflik dan peperangan berbasis agama, alih-alih membuang agama, kita perlu mencerahkan para pemeluk agama.

Identitas mana yang lebih utama, Anda sebagai seorang penganut agama atau Anda sebagai manusia? Apabila Anda bertanya pada tetangga di sebelah Anda yang beragama Islam: Mana yang lebih penting, Islam lebih dahulu baru manusia atau manusia lebih dahulu baru Islam? Apabila ia menjawab, “keislaman” lebih penting daripada “kemanusiaan”, itu berhaya. Orang seperti itu tidak akan peduli pada Anda kecuali Anda menjadi Islam. Sama halnya apabila Anda seorang Katolik lebih mengutamakan identitas kekatolikan lebih daripada kemanusiaan. Anda akan peduli pada orang lain pertama-tama karena mereka seagama, bukan karena mereka manusia.

Kita pertama-tama adalah seorang manusia. Kita tidak berbeda. Barulah kita menjadi penganut suatu agama atau tidak beragama. Seorang penganut agama yang tercerahkan adalah orang yang menyadari bahwa dirinya pertama-tama adalah manusia dan kemudian memiliki pengalaman beragama.

Kita membutuhkan pencerahan bukan hanya sebagai penganut suatu agama, tetapi juga dan terutama sebagai manusia. Lebih jauh orang perlu merealisasikan kebenaran bahwa ia bukanlah pertama-tama manusia yang memiliki pengalaman spiritual, tetapi ia adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia. Jadi kita pertama-tama adalah makhluk spiritual, yang menjadi manusia, dan kemudian memiliki pengalaman beragama. Kita bukanlah pertama-tama orang beragama, yang kemudian memiliki pengalaman manusia dan pengalaman spiritual.

Selama identitas agama—dan identitas-identitas bentukan lain–menjadi begitu penting mengatasi identitas asali, tak terelakkan konflik dan peperangan sengit akan terus terjadi. Dunia yang lebih damai dan adil sangat bergantung pada manusia-manusia yang tercerahkan—atau sekurang-kurangnya manusia-manusia yang sudah berada pada jalan pencerahan.

Oleh karena itu, menjadi amat penting dan mendesak untuk melakukan praktik spiritual bukan hanya demi pencerahan dan pembebasan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama dan semua makhluk kehidupan.*

“Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW.”

Apakah bisa dijelaskan gambaran identitas asali kita dalam terang ajaran Buddha, Katolik/Kristen dan Islam?

Sidharta Gautama hidup 5 abad sebelum masehi, Yesus hidup pada abad 1 masehi, dan Muhammad hidup pada abad 6 dan 7 masehi. Ketiganya adalah orang yang berbeda yang hidup pada tempat dan jaman yang berbeda. Tetapi Buddha, Kristus dan Nur Muhammad hidup melampaui ruang dan waktu. Ketiganya menunjuk pada identitas asali yang tidak berbeda.

Menurut Buddhisme, semua orang bahkan semua makhluk yang bernyawa memiliki Hakikat Buddha. Buddha adalah makhluk yang tercerahkan dan Hakikat Buddha adalah benih kesadaran atau benih pencerahan. Thrangu Rinpoche (2007, Buddha Nature and Buddhahood: the Mahayana and Tantra Yana) melihat kesatuan antara kearifan (wisdom) dan kekosongan (emptiness) sebagai Hakikat Buddha. “Kesatuan antara kearifan dan kekosongan adalah esensi dari ke-Buddha-an atau Hakikat Buddha (Sansekerta: Tathagata-garbha), di situlah terdapat benih atau potensi ke-Buddha-an. Benih ini ada dalam setiap makhluk dan karena itulah setiap makhluk memiliki potensi mencapai ke-Buddha-an.”

Yesus pernah membuka identitas asalinya sebagai indetitas dirinya yang sesungguhnya ketika Ia mengatakan, “Before Abraham was, I am.” (Yohanes 8:58) Bagaimana Ia bisa mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada? Pernyataan berikut ini tidaklah berbeda, “Sebelum dunia ini ada, Aku sudah ada. Setelah alam semesta ini lenyap, Aku tetap ada.” Yesus hendak menyampaikan kebenaran tentang identitasNya yang sesungguhnya, yang juga adalah identitas semua orang, “I am who I am” (“Aku adalah aku”.)

Identitas asali Yesus sebagai Kristus Tuhan, tidak berbeda dari identitas Yahweh dalam Perjanjian Lama. Allah berfirman kepada Musa: “AKU ADALAH AKU“ (“I am who I am”.) Lagi FirmanNya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”(Keluaran 3: 14)

“Aku adalah aku” menunjukkan identitas asali Yesus. Ia pertama-tama bukanlah “Anak Manusia”, laki-laki”, “anak maria dan Yosef”, “seorang Yahudi”, melainkan pertama-tama ia adalah “Anak Allah”, “kepenuhan kasih Allah”, “kesadaran ilahi yang menyelamatkan”, “kesatuan hakikat keallahan dan hakikat kemanusiaan”.

Dalam Islam, Nur Muhammad tecipta sebelum segala sesuatu yang lain ada. Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad, adalah pangkal atau asal dari ciptaan. Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Ana min nurullaahi, wa khala kuluhum min nuuri”—“Aku berasal dari cahaya Allah dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.” Nur Muhammad di sini menunjuk pada cahaya kesadaran ilahiah di balik setiap wujud di alam semesta ini.

Jadi Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW. Buddha menunjuk pada kesadaran yang tercerahkan, sama seperti Kristus menunjuk pada kesadaran ilahi yang menyelamatkan dan Nur Mohamad menunjuk pada kesadaran Allah yang meresapi setiap wujud dalam bentuk manusia dan seluruh isi alam semesta.

Apabila kita melekatkan diri pada dunia wujud dan lupa akan identitas asali kita, kita mengira, “Aku adalah ini atau itu.” Itulah yang disebut dengan “identitas bentuk”. Padahal, sesungguhnya “Aku adalah aku.” Titik. “Aku adalah aku” pada hakikatnya tidak berbeda dari “kesadaran”, “keheningan” atau “kekosongan.” Itulah yang disebut “identitas asali melampaui bentuk”.

Darimanakah timbul “identitas bentuk” itu? “Identitas bentuk” lahir dari kesadaran dualistik. Kesadaran dualistic selalu melekat pada objek dan terkungkung oleh subjek (ego, self), suatu kesadaran yang terkondisi. Kesadaran yang terkondisi selalu membawa ego atau keakuan dan melekat pada dunia wujud; kesadaran bebas keterkondisain atau kesadaran yang tercerahkan bebas dari ego atau keakuan dan melampampaui dunia wujud. “Aku adalah Aku.” Titik. Tidak ada atribut dari dunia wujud yang ditempelkan padanya sebagai penopang “eksistensinya”.

Jadi, sesungguhnya kita semua tidak berbeda. Kita pertama-tama adalah ‘kesadaran’ (awareness) yang memiliki tubuh dan batin, bukan sebaliknya. Kita semua adalah “roh” atau “kesadaran” yang bertubuh, bukan sebaliknya. Itulah “Hakikat Buddha”, “Hakikat Kristus”, atau “Hakikat Nur Muhammad SAW”. Dalam dunia bentuk, kita memiliki begitu banyak perbedaan; dalam dunia tanpa-bentuk, kita sesungguhnya tidak berbeda. Identitas tanpa-bentuk itulah identitas asali kita. Dan “kesadaran” adalah vibrasi paling dekat dengan ketiganya.*

TENTANG NUR MUHAMMAD SAW
(Tanggapan Mas Abi Bhadra Maulana)

Penjelasan Nur Muhammad Romo benar-benar bening.

Bahwasanya Tuhan menyerukan di Surat Al Ahzab, “Innallah wa malaaikatahu yusholuna alaa nabi, yaa ayuhaladziina aamanu sholualaihi wasalimu tasliima” (“Sesungguhnya Allah dan para malaikat mnyampaikan sholawat kepada nabi, maka dari itu wahai orang-orang yang beriman, sampakainlah sholawat dan salam keselamatan padanya.”

Ayat itu umumnya hanya dilihat sebagai perintah ber-sholawat dan kemudian menjadi ritual umat islam mendendangkan sholawat. Dalam konteks fiqh ayat ini unik, karena Tuhan menyatakan sendiri bahwa Dia dan para malaikat sudah melakukan sholawat kepada nabi, lalu Tuhan kemudian memerintahkan orang-orang beriman (bukan hanya orang-orang muslim) utk bersholawat.

Tapi dalam alam hakekat ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang Muhammad sebagai makhluk genologi tetapi sebagai nur, cahaya, kesadaran. Karenanya dalam adab sholat wajib ada sholawat. Doa dikatakan tidak menembus langit tanpa sholawat. Mengapa? Karena nabi Muhammad yang di sholawati bukan seseorang atau entitas yang berbangsa Quraisy keturunan Abdul Mutholib, melainkan yang meresap pada semesta. Dalam bahasa Bernadette Roberts, ada sesuatu ‘Yang Tak-Tersebutkan’ atau ‘Yang Tak-Diketahui’ yang mengisi segala yang ada dan ruang di antara segala yang ada, yang dari sanalah segala sesuatu berasal, hidup, bergerak, dan kembali. Inilah Nur Muhammad yang meresap dan melingkupi segala yang ada. Sholawat adalah afirmasi seorang Muslim dalam olah spiritual dan asah kesadaran, Nur Muhammad.*

Beyond Religion

By J. Sudrijanta

“Tidak ada manusia yang tercerahkan sebelum mampu menjalani kehidupan melampaui agama.”

Agama dalam kenyataan seringkali menjadi candu atau sumber eksploitasi, konflik, kebencian, dan kekerasan. Namun bukan karena agamanya orang berbuat jahat, intoleran atau suka kekerasan, melainkan karena cara pandang yang yang dangkal dalam melihat kehidupan dan ajaran agamanya, termasuk cara berpikir sempit dalam melihat perbedaan.

Marilah kita melihat berbagai model berpikir dalam menghadapi perbedaan agama dan mengevaluasi pendekatan mana yang paling memungkinkan untuk dikembangkan guna memutus rantai kekerasan atas nama agama dan untuk mengembangkan kerjasama yang lebih luas demi membangun dunia kearah yang lebih baik.

1.Model Eksklusif. Setiap sudut pandang bersifat unik dan saling mengekslusi satu dengan yang lain. Anda tidak bisa mencampur-adukkan yang satu dengan yang lain, seperti mencampur beberapa unsur makanan menjadi satu mangkuk sup. Tentu saja ada kemiripan, tetapi tidak ada kesamaan. Konsep dari system kepercayaan yang satu tidak sama dengan yang lain. “Keselamatan” di Kristen tidak ada dalam Buddha, begitu pula “pencerahan” di Buddha tidak ada dalam Kristen. Paham “Allah” dalam Kristen bukanlah “Allah” menurut Islam.

Ujaran-ujaran khas model ekslusif adalah seperti berikut. “Agamaku adalah satu-satunya yang benar, agama lain keliru, tidak sempurna, atau tidak lengkap.” “Tidak ada keselamatan di luar Gereja.” “Tidak ada pencerahan di luar Buddha.” “Islam adalah jaminan masuk surga.”

Model ini paling efektif memecah-belah manusia dalam sekat-sekat agama, mengobarkan kebencian dan permusuhan, melanggengkan konflik dan peperangan. Model ini telah menorehkan catatan berdarah dalam sejarah kebiadaban bangsa-bangsa.

2.Model Inklusif. Di sini pandangan agama lain ditafsirkan dalam terminology agamanya sendiri dan divalidasikan. Bagi orang-orang Kristiani, Kristus adalah pewahyuan unik, kepenuhan Allah; tokoh-tokoh dan agama-agama lain adalah manifestasi Kristus yang tersembunyi, tidak langsung dan implicit. Misalnya, orang-orang Kristiani mengatakan bahwa dalam Buddhisme terdapat “Roh Kudus” atau “Kristus,” tetapi dalam bentuk implicit atau tidak langsung. Umat Buddha akan mengatakan Jesus adalah seorang Bodhisattva, atau Jesus bukan Tuhan tetapi hanyalah seorang nabi menurut Islam. Guru Zen Hakuin menyatakan bahwa semua makhluk memiliki “hakikat-Buddha”. Kemudian orang di luar tradisi Zen mencoba menterjemahkan konsep “hakikat –Buddha” dalam terminology religius mereka sendiri, yang belum tentu persis dimaksudkan oleh Hakuin.

Di satu pihak posisi ini bisa didukung karena tidak mengobarkan permusuhan kepada pemeluk agama lain. Tetapi model ini masih menyisakan masalah superioritas dan inferioritas: “agamaku lebih superior dibanding agama lain.” Sikap ini masih bisa memprovokasi ketidakpuasan, kalau bukan permusuhan.

3.Model Pluralistik. Menurut teori ini, setiap agama dipandang sama dan valid, tidak ada yang lebih benar atau kurang benar. Setiap agama berbeda dan tidak bisa diperbandingkan. Dalam bentuk ekstrem, setiap agama memiliki jalan yang berbeda, tujuan akhir yang berbeda, bentuk keselamatan atau pembebasan yang berbeda, memiliki pandangan tentang sesama dan alam semesta yang berbeda. Terdapat banyak kebenaran yang berbeda-beda dan etika yang berbeda. Pandangan ini merelatifir semua agama. Para penganut agama didorong untuk hidup bersama dan saling bertoleransi. “Timur adalah Timur, Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bisa bertemu.” Anda menghidupi agama Anda, dan saya menghidupi agama saya. Apabila kita bisa bertemu, itu baik; apabila tidak, tidak apa-apa. Setiap orang menutup diri dalam rumah dan tempatnya sendiri.

Pada jaman modern dengan begitu banyak tantangan berupa konflik dan kekerasan, pemiskinan dan ketidakadilan, serta kerusakan lingkungan, model ini tidak cukup menjadi fondasi yang kuat bagi sebuah solusi bersama. Kita musti belajar untuk lebih terbuka, belajar berdialog, saling mendengarkan dan saling menghormati. Kita perlu keluar dari relasi superior-inferior. Kalau tidak, kita akan menjadi korban seperti yang diilustrasikan oleh Plautus dalam Asinaria (195 SM): “lupus est homo homini.” Manusia adalah serigala bagi sesamanya, setiap orang menjadi serigala bagi dirinya sendiri, dan si jahat yang akan pegang kendali.

4.Posisi dua-kaki (dual-belonging). Kini banyak orang hidup dalam dua tradisi atau lebih pada saat yang bersamaan. Mereka adalah Kristiani-Buddhist, Hindu-Kristiani, Yahudi-Buddhist, Islam-Buddhist, Islam-Kristen dst. Hidup dalam satu tradisi secara eksklusif membuat orang merasa sesak dan terbatas. John Dunne (1970) menggunakan istilah, “Passing over and coming back” (“Menyeberang dan kembali lagi”). Menyeberang ke tradisi atau agama lain dan kemudian kembali lagi. Model menyeberang dan kembali lagi ini adalah visi yang membebaskan dan memperluas cakrawala. Orang tidak lagi terjebak pada kungkungan tradisi dan agamanya sendiri. Model ini disebut dengan istilah lain seperti “integral terbuka” (open integral) atau “inter-religious.” “Menjadi religious dewasa ini musti menjadi inter-religious” (Kongregasi Jenderal Serikat Jesus ke-32 tahun 1974/75).

Ada banyak bahaya dalam model menyeberang dan kembali lagi. Jalan ini bisa membuat orang jatuh dalam sinkretisme, menghapus batas-batas agamanya atau agama lain, pengabaian (indifference), pengenalan secara dangkal, kurang komitment pada komunitas imannya, atau bahkan pengkhianatan pada komunitas dan agamanya, dan seterusnya. Jalan ini selalu menciptakan ketakutan bagi pemegang otoritas agama.

Di pihak lain, model inter-religius ini bisa menjadi berkah baik bagi individu itu sendiri maupun bagi komunitasnya. Banyak orang punya pengalaman yang serupa. Mereka berbagi rahasia, “Tanpa Buddha, saya tidak bisa menjadi seorang Kristen.” Atau sebaliknya, “Tanpa Kristus, saya tidak bisa menjadi Buddha.”

Dalam model dual-belonging, pemahaman kita tentang isi Kitab Suci, tradisi maupun ritual agama diperkaya. Pemahaman, penerimaan, rasa hormat dan toleransi tumbuh berkembang. Dengan “menyeberang” ke agama atau tradisi lain, orang mendapat pemahaman yang lebih dalam dan kebenaran yang lebih jelas tentang kekayaan dalam tradisi dimana orang tersebut berasal. Dengan demikian tradisi atau agama lain justru menolong orang untuk “kembali” dan “lebih berakar” pada tradisi atau agama darimana ia berasal.

Di satu pihak, Anda diperkaya dan dipihak lain Anda juga memperkaya. Anda membawa berkah bagi kedua tradisi. Apabila semua agama institusional terbuka dan saling dapat menerima, pengalaman “menyeberang dan kembali” ini akan menjadi berkah baginya.

Model dual- belonging ini tidak bisa dicapai mayoritas orang-orang beragama. Hanya sebagian orang saja yang bisa sungguh “menyeberang dan kembali lagi.” Apabila lebih banyak orang berani melakukannya, wajah peradaban manusia tentu akan jauh berbeda.

5.Model antara melampaui dogma (in between way). Model ini dekat dengan dual belonging, namun berbeda. Supaya lebih jelas, saya akan kemukakan pengalaman saya. Saya adalah seorang pastor Katolik sekaligus pengajar Meditasi (Post-) Vipassana. Ketika saya merayakan Ekaristi atau memberi pelayanan sakramen, saya sungguh seorang (Imam) Katolik. Ketika saya melakukan praktik kesadaran (Post-) Vipassana, maka saya adalah seorang praktisi (Post-) Vipassana. Ketika saya mengajarkan ajaran-ajaran Katolik, saya sungguh sebagai pengajar Katolik, sekalipun sudah diperkaya oleh pengalaman (Post-) Vipassana; dan ketika saya mengajar praktik kesadaran (Post-) Vipassana, saya sungguh seorang (Post-) Vipassana, sekalipun sudah diperkaya oleh kekayaan spiritualitas Katolik. Namun bagi saya, (Post-) Vipassana adalah (Post-)Vipassana dan Katolik adalah Katolik. Tidak ada campur aduk.

Siapa saja bisa berdiri di tengah di antara dua tradisi atau dua agama. Berada di tengah adalah berada pada realitas serba “tidak tahu.” Ini adalah seperti “Awan Ketidaktahuan” (Cloud of Unknowing) menurut seorang mistik Kristen abad 14, atau “keheningan tanpa-diri” menurut Bernadette Roberts, atau “Kekosongan” (emptiness, sunyata) dalam Zen atau Vipassana.

Dalam Sutra Hati (the Heart Sutra) kita menemukan ungkapan ini, “Emptiness is form, form is emptiness”. Kekosongan adalah kekosongan dan bentuk adalah bentuk. Itu barulah separuh kebenaran. Separuh kebenaran yang lain adalah kekosongan adalah bentuk, bentuk adalah kekosongan.” Ketika orang berdiam “di antara” (in-between), yang adalah “Kekosongan”, orang berada pada dasaran yang tidak memiliki dasaran lagi sebagai fondasi dari segala yang ada (groundless ground of being).

Dengan berdiri “di antara” (in-between) konsep, ide, symbol-simbol, tradisi, agama, maka suatu cakrawala luas terbuka. Di sinilah orang melampaui konsep, dogma, atau bentuk. Tetapi orang tidak akan dapat bertahan dalam realitas ini terus-menerus. Orang musti memasuki bentuk dan kembali ke tradisi atau agama di mana mereka berasal. Tetapi sekarang berbeda. Mereka bukan sekedar “penganut suatu agama” tetapi “penghayat kebenaran.” Mereka adalah pertama-tama manusia, manusia yang tercerahkan, manusia yang melampaui agama. Baju mereka bisa jadi tetap Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha atau yang lain. Tetapi agama mereka sesungguhnya adalah kedamaian, kasih, keadilan. Bagi mereka, “tidak ada agama di atas kebenaran.”

Kedalaman pandangan kita terhadap ajaran agama lain sangat bergantung pada tingkat kedalaman pemahaman kita terhadap ajaran agama kita sendiri. Begitu pula sebaliknya. Kedalaman pandangan kita terhadap ajaran agama kita sendiri sangat bergantung pada tingkat kedalaman pemahaman kita terhadap ajaran agama lain. Dan kedalaman pandangan kita terhadap baik ajaran agama kita sendiri maupun agama lain bergantung pada kedalaman pemahaman kita tentang diri kita sendiri.

Kita membutuhkan suatu pendekatan yang bukan hanya membuat kita bisa menghormati perbedaan, tetapi dapat menemukan nilai-nilai luhur dan merayakan keberagaman yang akan memperkaya hidup bersama. “Model Eksklusif” paling berseberangan dengan tujuan kita. “Model Inklusif” dan “Model Pluralis” tidaklah buruk, tetapi tidak mencukupi. “Model dua-kaki” dan “Model Antara” adalah dua pendekatan yang paling baik menjawab kebutuhan kita.*

Keheningan dan Praktik Spiritual

By J. Sudrijanta
“Diamlah dan ketahuilah, Akulah Allah.” (Mazmur 46:11)

Semua agama kuno dan ajaran para mistik dari berbagai tradisi religius sangat menekankan pentingnya aspek keheningan batin (inner silence) bagi hidup dan praktik spiritual.

Keheningan menjadi instrument kunci apabila manusia ingin menemukan penyembuhan batin, transformasi diri, pemurnian jiwa, pembebasan, perjumpaan dengan Tuhan yang sesungguhnya, dan menjadikan manusia menjalani hidup secara dalam, damai, penuh vitalitas, dari saat ke saat sepanjang waktu.

“Keheningan batin” (inner silence) itu sendiri memiliki dua dimensi lain yang saling berkaitan dan tak terpisahkan, yaitu “batin yang diam” (inner stillness) dan “batin yang mahaluas” (inner spaciousness). Memahami ketiganya akan menolong kita dalam latihan.

Batin yang Diam (Inner Stillness)

Batin yang diam adalah batin yang tidak berlari. Orang yang ingin menimba kedalaman hidup dan menjadikan seluruh aktivitas dan kesibukan sehari-hari menjadi sebuah praktik spiritual, mustilah pertama-tama punya kemauan untuk berhenti berlari dan diam. Kita mudah berlari untuk menghindari sesuatu yang kita tidak suka melalui gerak tangan, kaki dan tubuh kita. Pekerjaan dan kesibukan apapun bisa menjadi bentuk pelarian.

Duduk diam, tanpa bergerak, tanpa bereaksi, akan membantu Anda menangkap banyak hal yang belum Anda ketahui secara dalam tentang tubuh dan batin Anda. Di antaranya, cepat atau lambat Anda akan bertemu dengan banyak hal yang tidak Anda sukai: rasa pegal, rasa sakit, kesepian, kecemasan, kegelisahan, ketakutan, rasa bosan, rasa tidak enak, berbagai bentuk kesakitan dan penderitaan. Biasanya kita berlari menghindar. Sekarang kita diam, berhenti berlari; diam, tidak bereaksi.

Dengan diam–tidak bergerak, tidak bereaksi–kita sedang membangun kontak langsung dengan kesakitan dan penderitaan kita. Bila terdapat perhatian total tak terbagi, meskipun hanya berlangsung singkat, maka tidak ada reaksi-reaksi. Apabila terdapat reaksi-reaksi, cobalah disadari, juga tanpa reaksi. Itulah yang disebut dengan batin yang diam. Rasakan dan sadari titik diamnya batin, sementara tubuh betul-betul diam. Tinggallah di situ selama Anda bisa. Itulah rumah Anda.

Jadikan kesakitan dan penderitaan Anda sebagai jalan pembebasan. Setiap kali Anda menemukan batin yang diam, kesakitan dan penderitaan yang Anda rasakan mereda atau lenyap begitu saja. Ini hal yang sangat sederhana tetapi luar biasa. Cobalah dan buktikan sendiri.

Dalam perjalanan latihan, Anda akan berjumpa dengan pengalaman seperti ini. Kesakitan dan penderitaan bisa terasa semakin hebat dan Anda kehilangan titik diam. Mengapa begitu? Batin Anda hanya bisa berlari ketika pikiran sudah menciptakan identifikasi diri dengan sesuatu dalam sebuah relasi pada moment itu. Itulah moment kemunculan ego. Tidak ada pelarian diri tanpa ego. Lihatlah munculnya identifikasi diri dan realisasikan kebenaran ini. “Tubuh ini bukanlah milikku. Pikiran dan perasaan ini bukanlah milikku. Tidak ada si aku di dalam tubuh, pikiran dan perasaan ini. Tidak ada si aku di luar tubuh, pikiran dan perasaan ini. Tubuh hanyalah tubuh. Pikiran hanyalah pikiran. Perasaan hanyalah perasaan.” Apabila Anda mampu melihat secara langsung bahwa Anda bukanlah kesakitan dan penderitaan, Anda bebas.

Ketika terdapat perhatian tak terbagi terhadap kesakitan dan penderitaan tanpa reaksi, maka ego (identifikasi diri) lenyap. Ketika ego lenyap, Anda menemukan batin yang diam. Ketika Anda merasakan titik diamnya batin, Anda sudah menemukan jalan yang benar. Jalan yang benar menuju pembebasan haruslah mulai dari titik diam dan berakhir pada titik diam.

Sekarang bagaimana menemukan titik diam dalam gerak atau kesibukan harian? Pada prinsipnya, apa yang kita lakukan saat duduk diam, kita lakukan pula saat berdiri, berjalan, berbicara, bekerja atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Diam adalah diam dan gerak adalah gerak. Tetapi sekarang kita berlatih untuk menemukan diam dalam gerak dan gerak dalam diam. Lihatlah bumi ini. Apakah bumi ini diam atau bergerak? Bumi terus bergerak mengitari matahari, bukan? Ya, ia terus bergerak, tetapi bergerak secara sempurna dan diam secara sempurna. Apabila bumi terus bergerak tanpa diam, seperti ketika Anda merasakan goncangan gempa bumi, maka akan menjadi kacau-balau. Apabila bumi ini tidak pernah bergerak dan hanya diam, maka tidak akan ada kehidupan. Bumi bisa menjadi topangan kehidupan begitu banyak makhluk, karena ia sepenuhnya diam sekaligus bergerak.

Diam dan bergerak adalah dua dimensi yang membentuk integrasi dalam kehidupan kita. Kita perlu belajar untuk diam dalam gerak dan gerak dalam diam. Kita perlu belajar menemukan titik diam dalam berbicara, bertindak dan bekerja dalam segala hal. Apabila kita berbicara tanpa diam, maka kata-kata kita hanya menjadi ekspresi kegaduhan. Maka diam dan berbicaralah juga dalam diam. Apabila kita bertindak atau bekerja tanpa diam, maka segala kesibukan kita hanya menjadi pelarian. Maka diam dan bertindaklah juga dalam diam.

Banyak hal dalam hidup ini sulit kita pahami kecuali apabila kita diam. Banyak misteri kehidupan ini hanya bisa dimengerti juga apabila kita diam. Hidup yang adalah relasi-relasi akan berjalan pada kedalaman dan ketertibannya apabila kita bisa diam.

Keheningan Batin (Inner Silence)

Keheningan batin pada dasarnya memiliki dua pengertian. Yang pertama adalah berhentinya pikiran dan yang kedua adalah batin yang tidak terganggu meskipun pikiran terus bergerak. Untuk bisa mengalami keheningan dalam pengertian pertama (berhentinya pikiran), kita perlu belajar menemukan keheningan dalam pengertian yang kedua, yaitu batin yang tidak terganggu oleh pikiran.

Setelah berkanjang dalam diam, kita akan mampu menangkap suara keheningan di balik suara-suara kegaduhan di kepala kita. Suara kegaduhan atau kebisingan itu mewujud dalam pikiran, kata-kata, atau perbincangan dengan diri sendiri. Itu adalah suara kesakitan dan penderitaan. Ia masih akan bersuara apabila belum cukup mendapat sentuhan perhatian penuh kesadaran secara tepat pada titiknya.

Bagaimana bisa menyentuhnya secara tepat? Yang terpenting bukan suara kegaduhannya, tetapi suara keheningan di baliknya. Suara keheningan selalu ada di sana apabila kita tidak bereaksi, tidak menolak, tidak menekan, tidak membuang, tidak mengeluh, tidak menilai, tidak menyalahkan atau membenarkan. Dengarkan suara keheningan di dalam, dan seketika suara kegaduhan lenyap. Itu adalah resep sederhana dan luar biasa.

Tentu saja sesaat kemudian suara gaduh itu akan datang lagi apabila Anda kehilangan keheningan di dalam. Suara gaduh di dalam batin hanya muncul pada moment ketika kita kehilangan keheningan. Maka bertahanlah di dalam keheningan dan temukanlah dari saat ke saat. Suara keheningan selalu ada di sana, sedangkan suara gaduh datang dan pergi, muncul dan lenyap.

Siapa Anda yang sesungguhnya tak terpisahkan dari keheningan itu sendiri. Apabila Anda terpisah dari keheningan, Anda terpisah dari siapa Anda yang sesungguhnya. Dengan merasakan getaran keheningan, Anda sedang berkontak langsung dengan siapa Anda yang sesungguhnya.

Suara alam semesta di sekitar kita bisa membantu kita untuk merasakan getaran keheningan di dalam batin. Kita bisa mendengarkan dengan perhatian penuh kesadaran suara gemericiknya air yang mengalir, suara burung yang bernyanyi, suara angin yang menerpa pepohonan. Bahkan suara yang memekakkan telinga pun bisa kita ambil sebagai alat bantu untuk menemukan getaran keheningan batin, seperti suara deru mobil, suara lonceng gereja, suara adzan di mesjid, bahkan suara cacian dan celaan tetangga kita.

Di tengah kesibukan, kita perlu setiap kali mundur untuk menemukan titik diam, titik keheningan batin. Itulah rumah kita. Itulah siapa kita yang sesungguhnya. Sejauh apapun kita berjalan keluar, kita musti setiap kali kembali ke rumah. Kita musti menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Kemahaluasan Batin (Inner Spaciousness)

Batin yang mahaluas adalah batin yang lapang, jernih, terang-benderang, tidak memiliki pusat, tidak memiliki pinggiran, tak terbatas, tak tertambat pada apapun. Di dalam batin yang diam dan hening, keakuan masih bisa bercokol; tetapi di dalam kemahaluasan batin ini, keakuan tak lagi bisa bertahan.

Ego adalah pecahan batin yang kita jadikan pusat kendali, yang sesungguhnya tidak berbeda dari pikiran. Sedangkan keakuan adalah rasa diri yang mengiringi setiap pengalaman, yang sesungguhnya tidak berbeda dari perasaan atau pikiran halus bahwa ada suatu entitas yang terpisah dari pengalaman.

Akar dari seluruh persoalan batin adalah karena pikiran membentuk poros ego dan keakuan. Sesungguhnya yang ada hanyalah pikiran yang terkondisi. Entitas keakuan di luar pikiran adalah ilusi. Meyakini ilusi sebagai kebenaran adalah esensi dari batin yang terkondisi.

Seluruh gerak dan kegiatan pikiran kita adalah seperti air sungai yang sudah terpolusi mulai dari dekat sumbernya. Orang di bawah tidak tahu. Apapun yang mereka upayakan untuk membersihkan sungai hanya menambah polusi, karena memori dan pikiran tidak dibebaskan dari poros ilusi ego dan keakuan.

Dalam perjalanan latihan, kita akan melihat bahwa seluruh gerak dan kegiatan batin akhirnya mendapatkan tempat berlabuh dalam diam dan heningnya batin. Sedangkan diam dan heningnya batin mendapatkan tempat istirahat terakhir dalam kemahaluasan batin. Itulah sumber dari segala sumber yang ada. Anda bisa menyebutnya “open awareness” (rigpa), “choiceless awareness,” “kekosongan,” “suwung,” “sunyata,” “inti Ketuhanan” (the Godhead), atau lebih baik tidak perlu memberinya nama. Yang penting Anda mengalaminya secara actual.

INI adalah neumena di balik segala fenomena. INI adalah dimensi yang tak-berbentuk yang tak-terpisahkan dari segala bentuk.

INI adalah landasan bagi kesatuan diam di dalam gerak dan gerak di dalam diam. INI adalah landasan dari keheningan dan landasan bagi ekspresi dari keheningan.

INI meresapi segala yang ada, melingkupinya dengan sempurna, dan mengisi ruang di antara segala yang ada. INI adalah fondasi dari segala yang ada dan dari keterhubungan dari segala yang ada.

INI membuat segala hal menjadi jernih, transparan, apa adanya. INI membuat batin mampu menembus segala tembok pemahaman yang sempit, terbatas dan terkondisi.

Setiap kali kita merasakan getaran kemahaluasan batin ini, kita bukan hanya bisa mengalami damai, sukacita dan kepenuhan batin dari dalam, tetapi terlebih pembebasan yang tiada tara.

Manfaat dari berlatih setiap hari tak terhitung banyaknya. Kita hanya perlu belajar berhenti berlari, mendengarkan suara keheningan batin, dan merealisasikan hakikat batin yang mahaluas ini. Lakukan latihan ini secara intensif dan kontinyu, maka Anda akan melihat tidak ada lagi kesakitan dan penderitaan yang tidak bermakna: segala hal baik adanya dan berguna bagi pembebasan kita.*

By J. Sudrijanta

Setiap orang pernah merasakan saat-saat terberat dalam hidup. Ada saat-saat jatuh, kehilangan nama baik, dianggap rendah, mendapat penolakan, tidak dimengerti, dikhianati, putus cinta, gagal, kehilangan orang yang dicintai, menderita sakit, dst. Anda bisa membuat daftar lebih panjang tentang beban-beban hidup Anda.

Apa yang sesungguhnya membuat hidup terasa berat? Bukankah adanya rasa diri itulah yang membuat hidup terasa berat? Rasa diri sebagai entitas yang permanen dan abadi itulah esensi dari ego dan keakuan. Ego dan kekauan itulah bebannya, bukan hal-hal apapun yang datang dari luar. Semua yang lain hanya tambahan. Apabila tidak ada rasa diri—tidak ada ego, tidak ada keakuan–dalam hubungan dengan apapun, maka tidak akan ada saat-saat yang terlalu berat.

Dalam meditasi, pengalaman tanpa-diri—tanpa ego dan tanpa keakuan–adalah pengalaman puncak pembebasan atau puncak pengalaman mistikal. Beban yang barangkali kita panggul bertahun-tahun lamanya lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya “eksistensi diri”. Lalu kita hadir pada moment kekinian dari kedalaman batin dengan membawa dimensi kemahaluasan, keindahan, keheningan, atau kesadaran.

Barangkali pengalaman tanpa-diri ini hanya berlangsung sebentar dan memberi kita kilasan rasa pembebasan yang tiada tara atau kilasan pengalaman mistikal yang menggetarkan. Kemudian beban hidup akan terasa kembali begitu ego dan keakuan muncul. Tetapi setiap kali ego dan keakuan dikenali kemuncullannya dan lenyap, pembebasan dan kelegaan seketika bisa kita rasakan.

Tulisan ini tidak akan menjelaskan seperti apakah pengalaman puncak pembebasan ataupun puncak pengalaman mistikal itu. Melainkan akan menerangi pertanyaan bagaimana ilusi adanya eksistensi diri sebagai ego dan keakuan bisa ditanggalkan.

Untuk mengalami tanpa-diri, orang musti mengenal diri. Dalam kesadaran meditasi, Anda tidak bisa mengatakan bahwa di sini tidak ada diri, tanpa mengenal atau melihat dengan jelas ilusi “eksistensi diri”. Dengan kata lain, diri tidak bisa dinegasikan tanpa melihat kemunculannya. Ilusi hanya bisa dinegasi apabila kita bisa melihat dengan jelas keberadaannya.

Persoalannya, meskipun kita sudah merasa berbeban berat, bukannya kita tidak mau meletakkan beban-beban yang kita bawa, kita seringkali tidak melihat pokok bebannya. Kita berpikir bebannya berasal dari luar, bukan di dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi, meskipun kita melihat beban itu ada dalam diri sendiri, kita tidak melihat dengan jelas bahwa ilusi “eksistensi diri” adalah beban pokoknya. Oleh karena itu, melihat bagaimana ilusi ini muncul, bergerak dan ada, akan membantu kita dalam berlatih.

Tidak henti-hentinya kita mengafirmasi atau memperkuat “eksistensi diri”—“aku,” “diriku,” “milikku”– dengan segala cara. Pada dasarnya itulah yang mewarnai hidup kebanyakan orang di dunia. Sekalipun “eksistensi diri” ini kita pertahankan atau kita lindungi terhadap segala ancaman, kita masih saja tetap merasa tidak aman. Kita punya anggapan bahwa diri adalah suatu entitas solid yang eksis dari dirinya sendiri. Apabila kita melihat dengan jernih fakta bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu atau seseorang yang memiliki “inti-diri” yang demikian, maka kita tidak akan merasa terlalu sering menderita.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga cara utama bagaimana ilusi bekerja menciptakan “inti-diri.” Ia eksis melalui identifikasi, posesi, dan proses menjadi.

1) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “identifikasi diri”.

Kita mengidentifikasikan diri dengan sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” atau “diriku.”

Banyak hal bisa kita jadikan objek identifikasi diri. Berikut adalah contohnya. Aku seorang lelaki, seorang perempuan, atau trans-gender; aku seorang kaya, seorang miskin, seorang dari keluarga terpandang atau keluarga jelata; aku adalah seorang suami, seorang isteri, seorang anak; aku seorang pengusaha, seorang karyawan, seorang akademisi, seorang pelajar; aku seorang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau tak-beragama; aku seorang yang malang dan tidak bahagia, atau seorang yang bernasib baik dan bahagia.

Kita sering menggunakan kata ganti “aku” dalam berkomunikasi dan kita meyakini adanya “si aku” sebagai entitas solid dan itulah siapa kita. Ketika sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” terancam bahaya, maka kita mudah gelisah, cemas, khawatir, takut, panic, menderita.

Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bersifat pemanen; segala hal berubah. Maka menjadikan sesuatu atau seseorang yang terus berubah sebagai penopang eksistensi “si aku,” membuat “si aku” merasa terus-menerus terancam. Apabila anak-anak sudah pergi, “si aku” tidak lagi bisa menikmati peran sebagai ibu atau ayah mereka. Apabila kehilangan pekerjaan dengan pendapatan yang baik, “si aku” tidak bisa menikmati kenyamanan hidup seperti sekarang. Apabila kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang dipegang teguh dilepaskan, “si aku” kehilangan penopang rasa kepastian.

Mengapa saat duduk meditasi, rasa sakit yang timbul dalam tubuh fisik atau batin gampang membuat kita menderita? Proses identifikasi “Tubuh ini adalah aku; aku adalah batin ini” sudah berlangsung. Mengapa pikiran terus berlari dan kita bisa dibuat lelah? Proses identifikasi terus berjalan. Identifikasi menjadi taruhan hidup dan matinya ego. Ke mana pikiran pergi, identifikasi mengikuti. Ia menjadikan objek-objek yang ditemui sebagai objek identifikasi. Itulah mengapa sulit pikiran berhenti. Karena tanpa pikiran terkondisi, tidak ada identifikasi.

2) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “posesi”.

Identifikasi membawa kepada rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai “milikku.” “Aku eksis kalau memiliki; aku tidak eksis apabila tidak memiliki.”

Terus-menerus kita membawa dalam diri tubuh dan batin. Kita beranggapan bahwa tubuh dan batin ini adalah “milikku”: tubuhku, pikiranku, perasaanku, persepsiku, formasi mentalku, kesadaranku. Karena kemelekatan, “keakuan” muncul dan ketika keakuan muncul, persoalan timbul. Apabila tidak ada “keakuan,” akankah timbul persoalan? Apapun keadaan tubuh dan batin ini tidak pernah menciptakan problem, selama tidak timbul rasa diri sebagai “aku,” “diriku,” “milikku”.

Rasa cemas, gelisah atau khawatir adalah hal-hal biasa yang kita alami baik dalam kesadaran sehari-hari ataupun saat meditasi. Tidak mungkin timbul rasa cemas apabila tidak terdapat kemelekatan terhadap sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”. Kita ingin melindungi “eksistensi diri” dari segala kemungkinan yang mengancam atau melakukan perlawanan terhadap apapun yang membahayakan “eksistensi diri”. Upaya untuk melindungi “eksistensi diri” atau melawan bahaya yang mengancam “eksistensi diri” digerakkan oleh energy yang diciptakan oleh ilusi “eksistensi diri”.

3)Kita memperkuat eksistensi diri dengan “proses menjadi”

Ego memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri, memperkuat dan memperluas diri. Kita merasa kurang eksis atau tidak eksis apabila belum menjadi sesuatu atau seseorang yang kita idealkan. Kita didorong untuk lebih eksis, memiliki hal-hal yang lebih memuaskan dan bersifat tetap. Perjuangan ke luar untuk lebih sukses, lebih berkuasa, atau lebih bahagia telah menjadi cara penopang eksistensi ego yang dominant. Baik kegagalan ataupun keberhasilan akan mudah menjebak kita dalam memperkuat kembali proses identifikasi dan posesi terhadap segala hal dari dunia ini.

Pergulatan kita dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sesuatu atau seseorang sering terbawa dalam meditasi. Pencerahan, pembebasan atau puncak pengalaman mistikal tidak bisa menjadi objek yang bisa kita kejar. Sebaliknya, itu semua akan datang kepada kita sebagai berkah apabila kita sudah banyak melepas. Tetapi tidak ada sesuatu yang lebih sulit dilepaskan kecuali kemelekatan pada konsep adanya “eksistensi diri”.

Tiga struktur penopang “eksistensi diri” inilah yang menciptakan dan memperkuat identitas diri dengan dunia wujud dan melupakan dimensi tak-berwujud. Untuk melihat dengan jelas secara actual manifestasi dari tiga struktur penopang “eksistensi diri” ini, mutlak dibutuhkan kebebasan. Batin musti betul-betul bebas dari keinginan, kebencian, harapan, prasangka. Tidak boleh ada sesuatu yang ditekan, dilawan atau dilindungi; juga tidak boleh ada sesuatu yang menekan, melawan atau melindungi. Lihatlah tanpa ada entitas diri yang melihat!

Tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan untuk menyadarkan siapa Anda yang sesungguhnya. Tulisan seperti ini hanya berfungsi untuk menolong Anda melihat apa yang memisahkan Anda dari siapa Anda yang sesungguhnya yang sudah Anda ketahui dari kedalaman keheningan tanpa-diri.

Anda yang sesungguhnya bukanlah apa yang Anda pikirkan tentang siapa Anda, bukan apa yang Anda miliki, bukan apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda capai. Anda yang sesungguhnya melampaui itu semua, melampaui wujud.

Dengan cara inilah kita setiap kali meletakkan beban-beban yang kita bawa. Semakin sering kita melepaskan beban, semakin bebas dan lega langkah kita. Lalu kita bisa menjalani kehidupan setiap hari secara otentik dan mantap dari kedalaman keberadaan kita yang melampaui wujud.*