Kelahiran manusia adalah peristiwa kelahiran sebuah jiwa partikular menjadi individu dalam materi darah dan daging. Setiap manusia adalah pertama-tama dan pada hakekatnya adalah sebuah jiwa dan tanpa jiwa tubuh ini tidak ada. Maka kelahiran manusia pertama-tama adalah kelahiran sebuah jiwa partikular dengan tubuh fisik tertentu.

Namun “Inkarnasi” Kristus lebih dari sekedar peristiwa kelahiran sebuah jiwa partikular atau kelahiran seorang individu Jesus dengan tubuh dan jiwa partikular. “Inkarnasi” adalah peristiwa kelahiran “Kristus” sebagai HAKIKAT JIWA MANUSIA UNIVERSAL yang menjelma sepenuhnya dalam diri Jesus—atau peristiwa kelahiran Jesus sebagai penjelmaan sempurna dari “Kristus”.

Dalam inkarnasi, Allah menciptakan bagi DiriNya sendiri hakikat manusia yang utuh yang secara abadi bersatu dengan DiriNya, dan hanya kesatuan abadi antara yang ilahi dan manusiawi inilah disebut “Kristus yang sesungguhnya” (The Real Christ).


Seperti halnya setiap jiwa individu punya peran di dunia, Kristus yang berinkarnasi di tengah dunia juga memiliki peran yang unik, yaitu menjadi jembatan agar manusia bisa bersatu kembali dengan Allahnya. Peran ini tidak bisa diambil oleh orang lain satupun atau oleh jiwa-jiwa manusia partikular.

Bagi orang Kristiani, “Kristus” adalah satu-satunya penerang dalam pencarian spiritual yang lebih dalam. Pernahkah Anda bertanya seperti berikut: mengapa aku dilahirkan, apa tujuan aku hidup, apa yang akan terjadi setelah kematian, apakah jiwa ini abadi, apakah ada jiwa yang ber-reinkarnasi, seperti apakah api penyucian, neraka dan surga? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak akan pernah mendapatkan jawaban final yang memuaskan. Setiap jawaban akan membawa orang pada pertanyaan berikutnya dan pertanyaan yang satu akan berganti dengan pertanyaan yang lain. Pertanyaan intelektual seperti itu tidak akan pernah memuaskan dahaga jiwa.

Apa yang sesungguhnya dicari manusia bukanlah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan intelektual seperti di atas, melainkan suatu pengalaman aktual tentang Realita Kebenaran melampaui segala konsep, segala yang terkondisi atau segala yang kita kenal dengan pikiran kita, yang pada akhirnya ITU-lah yang membebaskan dan memberikan kepenuhan hidup. Kebenaran seperti itu tidak bisa didapat dari apa kata orang lain, atau dari apa yang ditulis orang lain, tidak cukup hanya dipercaya atau diyakini sebagai benar, tetapi musti diketahui langsung dari tangan pertama dan dialami atau dihidupi secara aktual.

Allah mengetahui jauh lebih dalam dari pada manusia mengetahui dirinya sendiri dan memiliki caraNya sendiri dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan abadi manusia. Bagaimana Allah menolong memberi pencerahan agar manusia bisa memahami misteri terdalam kehidupan? Misteri terdalam kehidupan manusia adalah hidup abadi di dalam dan bersama Allah. Bagaimana itu menjadi mungkin bagi manusia? Bagaimana Allah menjadikan itu suatu realita? Pada dirinya, tidak ada sesuatu yang ada memiliki hidup dari dirinya sendiri; begitu pula dengan kehidupan kekal. Karena hanya Allah saja yang “abadi”, hanya kehidupan Allah saja sebagai “hidup abadi”, maka supaya manusia memiliki hidup abadi, Allah musti menyatukan manusia secara abadi kepada DiriNya. Jadi, hakikat yang sesungguhnya dari “kehidupan abadi” manusia adalah kesatuan dalam dan dengan Allah. Tidak ada hidup abadi “yang lain” di luar itu.

Allah memiliki cara universal untuk mencerahkan setiap pribadi manusia. CaraNya bukan melalui kata-kata, tulisan, atau pengalaman orang-orang tercerahkan, melainkan dengan menampilkan HAKIKAT JIWA MANUSIA UNIVERSAL yang diciptakan dari hakikatNya sendiri. HAKIKAT JIWA MANUSIA UNIVERSAL itu dalam tradisi Kristiani disebut “Kristus”. Kristus adalah HAKIKAT JIWA MANUSIA UNIVERSAL bagi setiap orang, tidak peduli mereka pemeluk agama Kristen atau bukan.

Pewahyuan ini unik, karena yang diwahyukan pertama-tama bukan wajah Allah, tetapi wajah MANUSIA YANG SESUNGGUHNYA. Pewahyuan ini menjawab pertanyaan “apa” sesungguhnya manusia itu, bukan “siapa” manusia itu. Itu menerangi pertanyaan Zen, “Apa hakikat manusia, hakikat yang tak-berhakikat?”

Anda bisa menjawab pertanyaan, “Siapa orang yang menyusun tulisan ini?” Dia adalah seorang Imam Jesuit, masih Katolik, laki-laki tulen, umur 40-an tahun, suka berenang, suka menyepi di tengah hutan, namun masih suka makan enak, dan seterusnya. Ia memiliki kelemahan dan kelebihan yang unik sebagai pribadi yang bernama “JS”. “Apa” hakikat terdalam dari orang ini? Ia pertama-tama adalah JIWA MURNI TAK-TERKONDISI.

Anda bisa mengajukan pertanyaan yang sama tentang orang yang diperingati kelahirannya pada hari Natal. Siapa dia? Dia dinamai Jesus; hidupnya singkat hanya 33 tahun, mati disalib, tetapi kemudian dibangkitkan dan naik ke surga. Apa hakikat dia yang sesungguhnya? Dia adalah JIWA MURNI TAK-TERKONDISI yang disebut “Kristus”.

Siapa orang yang berbicara di depan ini dan siapa yang diperingati kelahirannya 2014 tahun yang lalu adalah dua individu yang berbeda. Tetapi keduanya pada hakikatnya tidaklah berbeda. Mereka adalah seperti kita semua; kita adalah JIWA MURNI TAK-TERKONDISI.

Jadi “Inkarnasi” bukanlah pewahyuan “seorang” individu manusia, melainkan pewahyuan HAKIKAT JIWA MANUSIA UNIVERSAL. Jiwa Manusia Universal itulah hakikat sesungguhnya dari kesatuan abadi manusia dengan Allah.

Untuk mencapai kesatuan abadi dengan Allah di dalam diriNya, manusia harus melepaskan jiwanya. Jiwa manusia yang kita kenal seluruhnya adalah jiwa yang terbatas dan terkondisi. Jiwa yang terbatas dan terkondisi inilah yang mewujud dalam “kepribadian” atau “individualitas” tertentu. Untuk mendekati Yang Tak-Terkondisi, segala yang terkondisi musti dilepaskan. Bagaimana mungkin terjadi kesatuan antara manusia yang jiwanya terbatas dan terkondisi dengan Allah sebagai Yang Tak-Terbatas dan Yang Tak-Terkondisi di dalam diriNya apabila manusia tidak menanggalkan jiwanya?

Kristus yang sesungguhnya bukanlah seseorang, bukan individu, bukan seorang pribadi partikular seperti yang kita kenal dengan persepsi pikiran kita. Ia tidak berada jauh di luar Anda, tetapi begitu dekat dengan “apa” sesungguhnya Anda ketika Anda dibebaskan seluruhnya dari keterkondisian atau ketidakmurnian jiwa. DIA itulah satu-satunya yang ada, apabila semua kelekatan pada apa yang Anda pikirkan tentang “siapa” Anda berakhir.

Apa tandanya apabila kita makin mendekati esensi kita sebagai “Jiwa Manusia Universal” yang adalah “Kristus” yang sesungguhnya? Semakin kita melekat pada sesuatu, semakin jauh kita dari Kristus; semakin kita bebas kelekatan, semakin dekat kita dengan Kristus.

Bebas kelekatan membuat batin atau jiwa kita murni dan kemurnian menjadi sumber dari kualitas-kualitas spiritual, seperti Keindahan dan Kedamaian, Cinta dan Kebahagiaan, Stabilitas dan Kekuatan, Kebijaksanaan dan Kecerdasan.

Kristus adalah “manifestasi absolut” dari kekuatan-kekuatan spiritual, sedangkan kita manusia hanya bisa menjadi “manifestasi kontingen” dari kekuatan-kekuatan spiritual. Kristus tidak bisa “mengalami” Kemurnian, Kedamaian dan Kesatuan dengan Allah Bapa. Dia adalah “perwujudan absolut” atau “manifestasi absolut” dari Kemurnian, Kedamaian dan Kesatuan itu; sementara kita hanya bisa mengalami Kemurnian, Kedamaian dan Kesatuan itu. Apabila kita ditransformasikan “sepenuhnya” menjadi “Kristus”, barulah kita menjadi “penjelmaan sepenuhnya” dari Kemurnian, Kedamaian dan Kesatuan itu.

Suasana malam Natal biasanya terasa berbeda dari malam-malam biasa. Mengapa? Bukan pertama-tama karena malam itu adalah Malam Natal, tetapi terutama karena kita dipertemukan dengan banyak jiwa yang relatif lebih murni, bersih, damai, bebas, dan spiritual dari pada hari-hari biasanya. Dan terutama lagi kita berjumpa dengan HAKIKAT JIWA MANUSIA UNIVERSAL yang disebut “Kristus”. Perjumpaan dengan jiwa-jiwa yang murni bisa menyirami benih-benih Kemurnian di dalam diri kita sendiri, membangkitkan cita rasa keindahan dan kedamaian, serta menumbuhkan benih-benih spiritual yang lain.

Jiwa murni seperti inilah yang menyimpan energi spiritual tak-terbatas dan energi-energi spiritual ini otomatis bervibrasi keluar menggetarkan sesama jiwa dan segala makhluk.

Bisakah kita mempertahankan kesucian jiwa kita setiap hari, setiap saat, dan mengalami keindahan dan damai, cinta dan belas kasih, kekuatan dan kepenuhan hidup dari dalam, serta persaudaraan dan kesatuan dengan segala sesuatu?

Saya ingin menutup tulisan ini dengan menampilkan sebuah cerita yang saya adaptasi dari buku Burung Berkicau (Anthony de Mello, Cipta Loka Caraka, 2009, hal. 179-180).

Tadi malam saya bermimpi diajak jalan-jalan oleh malaikat, menembus waktu ke belakang dan berhenti di abad 10 SM atau sekitar 3.000 tahun yang lalu. Ke tempat apa saya dibawa? Saya diajak masuk ke pasar agama. Bukan pasar dagang, tapi pasar agama. Saat itu saya mendengar pidato seorang imam agung agama kuno. Kami diberitahu bahwa nabi “JS” –tentu bukan si penulis ini–adalah almasih yang dilahirkan pada abad ke 21 SM atau 5.000 tahun lalu di Tanah Suci India.

Malam itu saya langsung menghadap Tuhan. Saya mengajukan protes. “Tuhan, Engkau sungguh-sungguh melakukan diskriminasi. Mengapa abad ke 21 SM itu abad mulia penuh berkah dan mengapa India menjadi tanah suci? Mengapa Engkau membuat diskriminasi terhadap abad lain dan negeri lain? Apa kesalahan abadku? Dan apa kesalahan negeriku?”

Tuhan menjawab begini. “Hari raya itu suci, karena menunjukkan bahwa semua hari sepanjang tahun itu suci. Dan tanah itu dikatakan suci karena menunjukkan bahwa semua tanah sudah disucikan. Demikian pula “Kristus” dilahirkan untuk menunjukkan bahwa semua orang tanpa terkecuali adalah putera-puteri Allah yang berjiwa murni.”* (JS)