Latest Entries »

Diberitahukan bahwa Latihan Meditasi bersama Saptu 10 dan 24 September 2016 di Blok Q Kebayoran Baru ditiadakan, mengingat ada kegiatan retret di Jogjakarta dan Puncak Jawa Barat

Terimakasih.
Admin

“Every breath we take, every step we make, can be filled with peace, joy, and serenity. We need only to be awake, alive in the present moment.” – Thich Nhat Hanh

Sangha terkasih,
Ini adalah sebuah ajakan untuk berkumpul dan berlatih bersama komunitas lintas agama Sea Plum Sangha dan komunitas Meditasi Tanpa Objek dalam acara Half Day of Mindfulness. Latihan bersama ini akan difasilitasi oleh Romo Sudrijanta Johanes dari Gereja Santa Perawan Maria Ratu dan Brother Bao Tang (Brother Harta), murid dari Thich Nhat Hanh yang telah menetap di Plum Village Perancis sejak 2009.

Hari / Tanggal
Sabtu / 24 September 2016

Lokasi
Eco-Spiritual Camp, Megamendung
https://goo.gl/maps/mHt2n2ybGZQ2
Keterangan menuju lokasi: Sekitar 20 meter setelah Cimori River Side dari arah Jakarta menuju Puncak terdapat jalan ke kiri ke arah desa Megamendung. Ikutilah jalan tersebut. Sekitar 50 m dari pintu masuk Matahari sisi Utara, terdapat Jl. Pesantren. Ikuti jalan tersebut sampai ketemu Jl. Paseban. Pada jalan masuk di lokasi meditasi akan diberi tanda dan penunjuk arah. Lokasi meditasi berjarak 3 km dari Cimori River Side dan bisa ditempuh dengan kendaraan sekitar 15-20 menit.

Acara
06.00 Tiba
06.15 Introduction
06.30 Breakfast
07.00 Sitting Meditation & Walking Meditation
08.15 Touching The Earth
08.45 Stick Exercise
09.15 5MT Recitation & Dharma Sharing
10.45 Total Relaxation
11.45 Mindful Lunch
12.30 Selesai (acara bebas: melanjutkan meditasi, ke air terjun, menunggu sunset, dll.)

Kontribusi (untuk operasional & vegetarian meals)
Rp 75.000,- per orang (mohon tambahkan angka 9 di total digit akhir, contoh untuk 2 orang: Rp 150.009,-)
transfer ke BCA Wolter Mongonsidi 524-034-555-4 a/n Y Sudriyanto dan Monalisa Octavia.Yang ingin berdana bisa transfer lebih.

Perlu dibawa
– Yoga mat (bagi yang ada)
– Botol minum pribadi

RSVP (sebelum Selasa, 20 September)
Liang 0818-151-304 (WA) atau email ke meditasitanpaobjek@gmail.com dengan melampirkan data singkat:
1. Nama:
2. Alamat:
3. Email:
4. Telp/Hp:

Breathe & Smile

Total Surrender

By MAS, F-42 tahun, Human Resource Development di sebuah perusahaan

Retret kali ini adalah retret MTO yang ketiga kalinya yang pernah saya ikuti. Saya selalu mengikuti Retret MTO setiap tahun sejak 2014. Retret tahunan menjadi kesempatan untuk berhenti sesaat dari kegiatan rutin keseharian dan secara khusus melakukan perjalanan spiritual, perjalanan batiniah “ke dalam.”

Silentium

Di dalam retret MTO, suasana silentium (keheningan) perlu dijaga oleh seluruh peserta. Silentium merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya diam atau hening. Selama retret berlangsung, seluruh peserta tidak diperkenankan berbicara satu sama lain. Proses ini tidaklah mudah untuk kebanyakan peserta. Saya sangat bisa memahaminya. Bayangkan, sebagian besar peserta adalah warga kota Jakarta. Dalam keseharian mereka jarang menemukan situasi dimana mereka berdiam diri. Untuk bisa bertahan hidup, maka warga Jakarta harus berjuang untuk memenangkan persaingan dengan menyampaikan pemikiran, memperdebatkan gagasan, mengungkapkan keinginan. Maka saat para peserta dimasukkan ke dalam situasi dimana harus diam, tidak boleh berbicara satu sama lain, tenang dan sepi, justru timbul keresahan. Saya yakin banyak pertanyaan muncul: “kalau saya butuh sesuatu, bagaimana?”; “kalau saya tidak memahami penjelasan Romo tentang konsep yang dijelaskan, saya harus bertanya kepada siapa, sementara saya malu kalau harus langsung bertanya kepada Romo?”; “kalau saya sakit, bagaimana?”; “kalau saya papasan dengan sesama peserta, masa saya tidak menyapanya, nanti saya di cap sombong” dan beribu pertanyaan lainnya. Belum lagi kekhawatiran bertemu dengan diri sendiri, yaitu pikiran-pikiran kita sendiri yang dapat dengan bebas dan liar bermunculan tanpa bisa dibendung, yang selama ini selalu kita simpan paling dalam ataupun kita sangkal keberadaannya, yang tanpa disadari menjadi pendorong untuk berlari dari suasana hening.

Pada saat awal saya mengikuti meditasi, hal-hal tersebut pun saya alami. Maka hanya dengan alasan kepatuhan terhadap aturan saja, saya menjalani silentium. Saya komit untuk tidak berbicara.

Dalam silentium, hal pertama yang saya hadapi adalah diri saya sendiri. Saya langsung berhadapan dengan pikiran saya yang tidak berhenti bermunculan, pikiran yang begitu sibuk dan tidak pernah berhenti. Meskipun bising, selama ini kesibukan dan hingar-bingar denyut kota Jakarta menjadi tempat saya bersembunyi dari kesibukan pikiran saya sendiri. Saat bertemu dengan pikiran-pikiran itu, seolah olah saya harus berhadapan dengan diri sendiri. Maka dalam keheningan saya menghadapinya, menerimanya, memeluknya, dan berdamai dengannya, kemudian ketenangan tidak lagi hanya di ranah fisik; tidak berbicara, tidak menimbulkan kegaduhan, tetapi juga meresap jauh hingga menyentuh batin.

Lebih jauh lagi, dengan silentium saya bisa secara jernih melihat pikiran apa yang muncul dan perasaan apa yang mengikutinya, menyadarinya dari saat ke saat. Maka buat saya silentium adalah alat yang bisa mempertajam kepekaan saya untuk “melihat ke dalam” dan untuk terus berada pada saat ini. Maka silentium bukan lagi sebagai peraturan, tetapi menjadi alat dan kebutuhan dalam perjalanan spiritual saya, dalam proses untuk “melihat ke dalam”.

Peace Walk
Di retret kali ini, di salah satu pagi di hari-hari awal masa retret, dimana hari masih gelap dan udara pagi masih terasa dingin, saya menggunakan kaos kaki untuk memberikan kehangatan dan rasa nyaman selama meditasi pagi. Seperti biasa, kami memasuki ruang meditasi, dan langsung bermeditasi dalam suasana hening berbalut Selimut Dhamma (the Seal of Dhamma) yang melindungi dari udara pagi yang dingin. Saya bermeditasi dalam hening. Menyadari pikiran yang muncul dari waktu ke waktu.

Saya merasa bahwa saya sudah cukup lama bermeditasi, dan terdengarlah “tiiiiiiiinnggggggggg…” Bel Romo bergema sebagai tanda meditasi berhenti. “Asiikk meditasinya selesai. Artinya, saya bisa meluruskan kaki saya yang sudah mulai mati rasa…”

Romo berkata “mari kita melakukan peace walk.” Saya langsung berpikir “aahh enak juga nih peace walk. Mungkin seperti walking meditation. Lumayan bakal mengurangi pegalnya kaki”.

Kemudian Romo mengatakan bahwa kita perlu mencopot kaos kaki dan kita akan berjalan di atas rerumputan di halaman wisma tanpa menggunakan alas kaki. “Waduhh harus buka kaos kaki ya.. dingin dong..” Otomatis meluncur pemikiran seperti itu. Namun, saya pun langsung mencopot kaos kaki, dan menanggalkan kenyamanan saya. Si pikiran muncul “Apa lagi sih ini….. hmmm jalan di atas rumput; nanti kalau ada semut gimana; saya alergi dengan gigitan serangga; pasti kaki saya bisa bengkak; dan kalau saya menginjak cacing bagaimana”.

Dalam sepersekian detik, pikiran itu muncul dengan cepatnya. Bayangkan, sebagai warga Jakarta, yang sudah tidak mudah menemukan rumput, pasti sudah sangat lama sekali tidak pernah berjalan di atasnya. Namun saya tidak berdaya untuk menolak. Saya harus melakukannya. Saya berjalan mengikuti semua peserta yang langsung berjalan di belakang Romo.

Saat saya akan membuat langkah pertama meninggalkan ruang meditasi dan harus melangkah ke arah halaman, ada suara di benak pikiran “Inilah saatnya…good bye kehangatan, keamanan dan kenyamanan…. Hmm saya harus pilih jalan yang enak ahh..” Demikian si pikiran muncul dan sayapun memilih untuk menginjak bebatuan jalan setapak. Saya berpikir
“Hmm.. masih ok lah kalau bebatuan ini, asal jangan kena rumput nih, agak basah karena embun pagi, pasti dingin…”.

Saya melanjutkan berjalan dari satu batu ke batu berikutnya tanpa menyinggung rumput yang tumbuh diantaranya. Namun hal itu tidak bisa saya pertahankan lebih lama, saya sudah sampai di ujung bebatuan dimana saya tidak memiliki pilihan apapun kecuali menginjak rumput pagi yang basah.

Si pikiran langsung muncul lagi “Oh no… harus menginjak rumput ini… basah…lembek…ihh jijik… tapi aduh kayaknya saya ga bisa berbuat apa-apa, saya nggak bisa dong bilang ke Romo bahwa saya jijik.”

Akhirnya saya melangkah di atas rumput. Saya menjadi ragu. Muncul rasa keengganan yang luar biasa di dalam hati. Saya bisa merasakan adanya helai rumput-rumput yang saya injak, masih basah, dan juga tanah yang lembek. Si pikiran muncul lagi, “Sesuai dugaan… basah dan lembek…. Semoga nggak ada serangga yang gigit… tapi pasti banyak cacing… nah rumah cacing yang tanahnya menggunung, pasti tanah itu jadi lembek banget karena embun pagi ini, wah kalau keinjak, iihhh… pasti ga enak banget kena telapak kaki, semoga saya ga menginjak rumah cacing.”

Tiba-tiba Romo berkata “Sadari setiap langkah tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka…” Entah mengapa, perkataan Romo tersebut rasanya seperti ditujukan kepada saya, untuk menjawab suara-suara yang sibuk di kepala saya. Kalimat itu saya ulangi beberapa kali dalam hati, saya pahami dan resapi. “Menyadari tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka …” Kemudian secara langsung kalimat tersebut benar-benar melemahkan bahkan menghentikan kesibukan pikiran saya dan berubah menjadi sumber energi untuk saya bisa melangkah. Setelah itu setiap langkah menjadi lebih mantap dan lebih ringan. Saya menyadari setiap langkah, saat kaki kanan terangkat dan mendarat dengan bagian tumit terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan seluruh telapak kaki kanan saya yang menapak kuat di atas rumput pagi, lalu di susul oleh kaki kiri yang terangkat dan melangkah ke depan, tumit kiri mendarat di atas rumput basah, diikuti oleh seluruh telapak kaki kiri. Saya sadari pula bahwa bentuk rumput dan tanahnya, masih sama. Ada bagian yang helai rumputnya cukup renggang sehingga lebih terasa tanahnya, dan ada bagian yang rumputnya sangat lebat sehingga tidak terasa tanahnya. Semua saya jalani, tanpa memilih bagian tanah mana yang akan saya injak, tanpa juga memunculkan rasa suka dan tidak suka. Saya terus melangkah, hingga kegiatan itu selesai.

Pengalaman sederhana di pagi itu, memberikan insight buat saya bahwa betapa cepatnya pikiran dan ego muncul bahkan lebih cepat dari pada kecepatan cahaya. Pikiran dan ego selalu mencari kenyamanan dan berlindung di baliknya. Pikiran dan ego terus merayu saya untuk mengikutinya. Ia hadir dalam bentuk yang sangat halus, sampai bentuk yang sangat nyata, jelas dan terdengar keras. Proses yang saya alami pun tidak mudah. Kemunculan pikiran itupun berjalan dengan sangat cepat, sekaligus sangat halus. Ia tidak cukup terdengar namun ia ada. Ia membesar dan menguat apabila saya terbawa oleh kehadirannya dan langsung mengikutinya. Titik balik buat saya adalah saat saya memutuskan untuk menembus rasa aman atau nyaman, menjalani apa yang harus saya jalani, tanpa berpikir. Saat dijalani, ternyata saya baik-baik saja; segala kekhawatiran saya tidak terwujud.

Seperti halnya air sungai yang mengalir, saya menjalani setiap latihan tanpa membawa banyak kekhawatiran. Meskipun air sungai akan bertemu batu yang menghadangnya ataupun harus terjun karena perbedaan ketinggian dasar sungai, ia terus mengalir. Tanpa berpikir, hanya menjalani saja.

Manusia dan alam
Pada hari kelima di sore hari, kami melakukan meditasi di tengah halaman rumput, di bagian depan wisma. Suasananya sangat menyenangkan dan sangat kondusif untuk bermeditasi.

Saya dapat dengan jelas merasakan angin yang berhembus. Sentuhan angin membawa kesejukan yang menerpa wajah, tangan dan sekujur tubuh. Saya letakkan tangan saya di atas lutut kaki yang bersila setengah lotus, dengan telapak tangan menghadap ke atas sehingga rasanya saya bisa menyerap seluruh kesejukan angin dan udara dengan seluruh permukaan kulit, khususnya melalui telapak tangan. Kesejukan dan kesegaran angin yang bertiup lembut memberikan kesegaran buat jiwa dan raga, yang terus menembus masuk, menyusup ke seluruh sel di dalam tubuh. Kesegaran angin pun membuat saya sadar akan saat ini (here and now).

Suara burung riang gembira berkicau menemani kami bermeditasi. Suaranya yang beragam menunjukkan jenis burung yang beragam Ada yang suaranya keras dan ada yang nyaring. Ada yang suaranya dekat dan ada yang jauh. Ada yang panjang bunyinya dan ada yang pendek-pendek. Ada yang sering terdengar dan ada yang jarang. Saya merasakan bahwa kicauan mereka begitu ringan, tanpa beban, tanpa khawatir, tanpa berpikir, hanya berkicau. Suasana itu memberikan kegembiraan sekaligus ketenangan. Itu menyadarkan saya untuk tidak bersibuk diri dengan pikiran dan menghadirkan saya di momen ini, saat ini dan disini.

Air yang mengalir di sungai pun terdengar dengan jelas. Bunyinya konstan dan terus berlangsung yang menunjukkan bahwa air terus mengalir, walaupun saya yakin di dalam sungai itu terdapat banyak bebatuan. Namun kelenturan air dapat melewatinya dengan baik dan tidak menjadikannya hambatan. Air akan mencari celah yang bisa dilaluinya. Setiap air baru yang bertemu dengan batuan tersebut, tetap menunjukan kelenturan yang sama. Betul, setiap air yang bertemu dengan batuan tersebut adalah air yang baru. Demikian juga dengan momen yang sedang kita hadapi, adalah momen yang baru. Moment ini adalah awal sekaligus akhir; hanya ada satu momen ini, yaitu pada saat ini. Kelenturan air yang dibawa oleh suara gemericiknya, dan kesadaran akan momen yang selalu baru, meresap masuk ke dalam batin, membuat saya dapat secara lentur menyadari kehadiran si pikiran dan tidak terjebak untuk larut di dalamnya, sehingga memudahkan saya di dalam meditasi.

Keberadaan saya di tengah alam, sangat membantu dan mempermudah saya untuk masuk lebih dalam. Saya sungguh hadir pada saat ini disini sepenuhnya. Menyadari setiap pikiran yang hadir dan iapun segera lenyap begitu saja.

Manusia memang sangat dekat dengan alam, karena sesungguhnya manusia memiliki sifat sifat yang sama dengan alam. Ia tidak bisa ada dari dirinya sendiri. Ia membutuhkan berbagai elemen yang membuatnya menjadi ada. “Being is always inter-being,” begitu kata Romo.

Meditasi dan Perjumpaan dengan Tuhan
Meditasi adalah suatu perjalanan ke dalam, perjalanan untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sadar akan segala sesuatu, termasuk menyadari setiap pikiran yang tidak berhenti berdatangan, itulah inti meditasi. Seorang biksu pernah berkata bahwa pikiran ini seperti jumping monkey. Ia dapat datang seenaknya dan dapat melompat dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Ia bisa loncat ke masa lalu, ke momen beberapa menit yang lalu hingga kebeberapa tahun yang lalu. Ia bisa loncat pula ke masa depan, ke bayangan momen beberapa menit atau beberapa tahun yang akan datang. Pikiran adalah seperti seekor kera yang suka melompat-lompat, menciptakan konsep di kepala kita, yang kita proyeksikan berdasarkan pengalaman masa lalu, kemudian memunculkan interpretasi yang bebas dan liar.

Ego tidak lain adalah pikiran, pikiran yang menjadi pusat atau sumber “eksistensi”. Ego adalah pikiran yang mementingkan dirinya, yang menyerap diri kita ke dalam pikiran itu sendiri. Jika kita tidak awas, si jumping monkey lah yang menguasai kita. Oleh karena itu, penyadaran akan kehadiran si pikiran menjadi sangat penting. Prosesnya terus berlangsung tanpa henti.

Selain pikiran, di dalam meditasi segala sesuatu menjadi sangat relatif. Kadang waktu terasa sangat lama atau berjalan sangat lambat. Kadang ia terasa berlalu terlalu cepat, sehingga rasanya kekurangan waktu. Begitu juga dengan fenomena fisik. Kadang kaki dengan posisi bersila ini terasa sangat sakit, hingga menusuk hingga ke tulang terdalam dari sekujur kaki. Ujung jempol kadang mati rasa sampai persendian kaki. Rasanya seperti mau menjerit karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Juga dengan punggung baik punggung bagian bawah, tengah hingga bagian atas. Di lain waktu, kaki dalam posisi bersila terkadang tidak terasa keberadaannya; rasanya ringan. Punggung pun dapat tetap tegak tanpa ada rasa sakit hingga meditasi berakhir. Maka semua fenemona fisik pun bersifat relative.

Ketika kita dibebaskan dari jebakan Jumping monkey, absoluditas waktu dan rasa sakit, kita berjumpa dengan suatu pengalaman yang lain. Pada saat saya bisa secara jelas menyadari setiap pikiran yang datang, maka jumping monkey pun langsung lenyap begitu saja. Kesadaran inilah yang perlu saya hadirkan terus, dari momen ke momen. Hingga akhirnya saya menemukan ruang batiniah yang sangat luas, tidak terbatas dan tidak terdapat apa-apa di sana, kosong, tanpa bentuk apapun. Awalnya saya menemukannya secara samar-samar atau terasa kecil. Kemudian saat saya masuki lebih dalam, ruangan itu menjadi semakin besar, luas dan tidak terbatas, dan semakin jelas bahwa di dalam nya tidak terdapat apapun. Pada saat ruangan tersebut tersadari, sekonyong-konyong saya disergap oleh perasaan ketenangan dan keheningan yang mendalam, sekaligus memberikan luapan rasa kepenuhan yang tidak terbendung, kekayaan yang sempurna, kehangatan yang romantis, sekaligus rasa kesatuan yang tak terpisahkan, dan kebahagiaan yang tiada terkira. Luapan suka cita termanifestasi dalam cucuran air mata dan senyum bahagia terulas di bibir. Inilah yang saya sebut sebagai The Ultimate Happiness (Kebahagiaan Tak-Terbatas). Pada saat bersamaan muncullah pemahaman bahwa inilah rasanya saat kita bertemu dengan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kasih, Yang Maha Penyayang. Cinta yang sangat mendalam atau Tuhan dalam bahasa umum. Ia adalah Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan. Kita manusia adalah juga Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan, sama seperti Dia.

Surrender (keikhlasan atau penyerahan diri)
Di hari kelima dalam retret MTO kali ini, setelah meditasi di taman, ketika sore berganti malam, kami melakukan peace walk lagi ke arah jalan raya. Karena ini adalah peace walk yang kesekian dan saya sudah mulai terbiasa dengan nya, maka saya pun langsung mempersiapkan diri untuk berjalan di dalam barisan yang berjalan mengikuti di belakang Romo.

Di dalam barisan, saya berjalan dalam diam, sama seperti yang lainnya. Kami melangkah dalam kegelapan malam. Saya bisa merasakan jalan yang saya injak. Berawal dari bagian halaman wisma, dimana saya bisa merasakan rumput di bawah kaki saya, sejuk helai rerumputan jelas terasa, dan juga tanah kering yang mulai terasa lembab seiring dengan malam yang mulai turun. Kemudian perjalanan diteruskan dengan menginjak bebatuan jalanan setapak. Terasa jelas keras dan tidak ratanya permukaan bebatuan. Hingga bebatuan jalan setapak itu habis. Ketika harus menginjak jalan yang terbuat dari beton, yaitu jalanan di dalam wisma yang sudah mengarah ke jalan raya. Ada bagian yang betonnya halus, ada yang mulai terurai karena erosi air. Bagian beton yang terurai hanya tertinggal kerikil-kerikil tajam dan pasir, sehingga menimbulkan rasa sakit yang menyengat di kaki. Setelah melewati jalan beton itu, sampailah kami di jalanan aspal, jalan raya yang dilewati oleh mobil, motor dan kendaraan lainnya.

Saat saya melangkahkan kaki di atas aspal, terasa permukaan aspal yang tidak rata. Terdapat kerikil-kerikil kecil dan tajam, yang kalau di injak juga menimpulkan rasa sakit. Ada juga kerikil besar yang juga memberikan rasa sakit yang berbeda dengan kerikil kecil. Ditambah lagi jalan raya tersebut tidak dilengkapi dengan lampu jalan, sehingga jalanan menjadi sangat gelap. Saya terus berjalan. Mengikuti Romo yang berjalan paling depan, menghadapi gelapnya malam. Sesekali terdapat motor atau mobil yang lewat dan lampunya memberikan cahaya sehingga saya bisa melihat jalanan yang akan saya injak di depan saya. Saya bisa menghindari kerikil ataupun benda lain yang berbahaya. Namun setelah itu saya akan masuk lagi ke dalam kegelapan malam, dan terus melangkah.

Kemudian “Ttiiiiiinnngggg…” bel Romo bergema. Kami berhenti dan berdiri menghadap ke arah kota yang terletak di bagian bawah, jauh di depan kami. Terlihat kota yang penuh gemerlap lampu dan kembang api yang meledak di udara. Hari itu adalah Hari Lebaran sehingga penduduk kota merayakan kemenangan dengan menyalakan kembang api. Tampak indah dari kejauhan. Dalam keheningan malam itu, kami berhenti berjalan dan menatap pemandangan itu. Hening. Setiap peserta mengalami prosesnya masing-masing. Begitu juga dengan saya.

Saya berpikir, bahwa kami ini benar-benar melakukan apa yang diminta Romo untuk kami lakukan. Romo minta kami berjalan, kami berjalan. Romo minta kami berhenti, kami berhenti. Tidak ada seorangpun yang mengeluh dan protes akan keputusan dan kegiatan yang harus kami lakukan. Walaupun sesungguhnya Romo mengajak kami berjalan di jalan raya yang gelap. Bisa saja ada motor atau mobil ngebut yang tidak melihat keberadaan kami dan menabrak kami yang sedang berjalan. Ataupun bisa saja kami menginjak pecahan kaca yang berserakan di jalan raya. Namun semuanya itu tidak menjadi hambatan. Semua peserta tanpa terkecuali, melakukannya, juga saya.

“Tttiiiiiinnnnggg….” bel Romo bergema kembali dan Romo lanjut berjalan. Pada kesempatan itu, saya kebetulan tepat berada di belakang Romo. Saya berjalan mengikuti Romo. Saya melihat setiap langkah yang Romo lakukan dan saya pun mengikutinya. Langkah-langkah mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun. Lalu sekonyong-konyong saya tersergap oleh pemahaman akan kata SURENDER. Itulah yang kami lakukan dalam peace walk. Itu lah yang saya lakukan dan alami juga. Saya totally surrender (berserah total). Saya tidak tahu apakah saya akan menginjak pecahan kaca. Saya juga tidak tahu apakah saya akan menginjak jalan halus yang nyaman. Saya hanya berserah diri dan mengikuti semua kegiatannya dengan sepenuh hati. Pemahaman itu sekaligus memberikan rasa kepenuhan yang meluap keluar. Hingga saya pun tidak bisa membendung air mata yang bercucuran. Setiap langkah yang saya lakukan di gerakkan oleh sikap batin yang totally surrender.

Saat saya menginjak kerikil kecil yang memberikan rasa sakit minta ampun, saya tidak mengeluh sedikit pun dan saya pun tidak membiarkan kerikil itu terus melekat di telapak kaki saya atau saya tidak melekati penderitaan itu. Saya hanya melangkah. Tidak selamanya saya bertemu kerikil atau aspal yang tajam. Ternyata di langkah berikutnya, saya bertemu dengan aspal yang halus tanpa adanya kerikil, belum lagi ada cahaya lampu motor yang lewat, sehingga saya bisa melihat dengan jelas. Saya pun tetap melangkah. Jalanan yang halus tidak bisa membuat saya berhenti dan menikmati kenyamanan yang diberikan. Kenyamanan itu pun saya tinggalkan dan terus melangkah. Sekali lagi saya pun tidak melekati kenyamanan itu. Saya tidak tahu bagaimana kondisi jalanan di depan. Saya hanya terus melangkah. Secara sadar saya semakin paham dan yakin bahwa segala sesuatu dapat terus berjalan karena digerakan oleh sikap batin yang totally surender. Keharuan dan kepenuhan yang meluap-luap terus menemani langkah-langkah saya.

Saya teringat akan keseharian saya, dimana seringkali saya merasa bahwa segala yang saya peroleh adalah hasil dari usaha dan kerja keras saya. Tampaknya semua berada di dalam kontrol dan genggaman saya. Itu adalah bentuk kesombongan yang terus memperkuat ego dan memenjarakan kebebasan saya. Kini saya sadar bahwa hanya dengan totally surender semuanya akan baik-baik saja. Kesombongan tidak akan membawa saya kepada kebahagiaan. Kesombongan hanya memperkuat ego yang memenjarakan saya dalam penderitaan. Sebaliknya sikap batin yang totally surrender akan membawa saya kepada kebahagiaan.

Rasanya buat saya peace walk malam itu adalah kompilasi atau puncak pemahaman selama retret. Pada saat kita memberikan diri kita secara penuh dan digerakkan oleh sikap batin yang totally surrender, maka tidak ada lagi kekhawatiran, tidak ada lagi kemelekatan; yang ada hanyalah Kepenuhan, Kebahagiaan, dan Kebebasan. Semoga keikhlasan atau penyerahan diri secara total menjadi sikap keseharian saya.*

By J. Sudrijanta

Setiap orang pernah merasakan saat-saat terberat dalam hidup. Ada saat-saat jatuh, kehilangan nama baik, dianggap rendah, mendapat penolakan, tidak dimengerti, dikhianati, putus cinta, gagal, kehilangan orang yang dicintai, menderita sakit, dst. Anda bisa membuat daftar lebih panjang tentang beban-beban hidup Anda.

Apa yang sesungguhnya membuat hidup terasa berat? Bukankah adanya rasa diri itulah yang membuat hidup terasa berat? Rasa diri sebagai entitas yang permanen dan abadi itulah esensi dari ego dan keakuan. Ego dan kekauan itulah bebannya, bukan hal-hal apapun yang datang dari luar. Semua yang lain hanya tambahan. Apabila tidak ada rasa diri—tidak ada ego, tidak ada keakuan–dalam hubungan dengan apapun, maka tidak akan ada saat-saat yang terlalu berat.

Dalam meditasi, pengalaman tanpa-diri—tanpa ego dan tanpa keakuan–adalah pengalaman puncak pembebasan atau puncak pengalaman mistikal. Beban yang barangkali kita panggul bertahun-tahun lamanya lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya “eksistensi diri”. Lalu kita hadir pada moment kekinian dari kedalaman batin dengan membawa dimensi kemahaluasan, keindahan, keheningan, atau kesadaran.

Barangkali pengalaman tanpa-diri ini hanya berlangsung sebentar dan memberi kita kilasan rasa pembebasan yang tiada tara atau kilasan pengalaman mistikal yang menggetarkan. Kemudian beban hidup akan terasa kembali begitu ego dan keakuan muncul. Tetapi setiap kali ego dan keakuan dikenali kemuncullannya dan lenyap, pembebasan dan kelegaan seketika bisa kita rasakan.

Tulisan ini tidak akan menjelaskan seperti apakah pengalaman puncak pembebasan ataupun puncak pengalaman mistikal itu. Melainkan akan menerangi pertanyaan bagaimana ilusi adanya eksistensi diri sebagai ego dan keakuan bisa ditanggalkan.

Untuk mengalami tanpa-diri, orang musti mengenal diri. Dalam kesadaran meditasi, Anda tidak bisa mengatakan bahwa di sini tidak ada diri, tanpa mengenal atau melihat dengan jelas ilusi “eksistensi diri”. Dengan kata lain, diri tidak bisa dinegasikan tanpa melihat kemunculannya. Ilusi hanya bisa dinegasi apabila kita bisa melihat dengan jelas keberadaannya.

Persoalannya, meskipun kita sudah merasa berbeban berat, bukannya kita tidak mau meletakkan beban-beban yang kita bawa, kita seringkali tidak melihat pokok bebannya. Kita berpikir bebannya berasal dari luar, bukan di dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi, meskipun kita melihat beban itu ada dalam diri sendiri, kita tidak melihat dengan jelas bahwa ilusi “eksistensi diri” adalah beban pokoknya. Oleh karena itu, melihat bagaimana ilusi ini muncul, bergerak dan ada, akan membantu kita dalam berlatih.

Tidak henti-hentinya kita mengafirmasi atau memperkuat “eksistensi diri”—“aku,” “diriku,” “milikku”– dengan segala cara. Pada dasarnya itulah yang mewarnai hidup kebanyakan orang di dunia. Sekalipun “eksistensi diri” ini kita pertahankan atau kita lindungi terhadap segala ancaman, kita masih saja tetap merasa tidak aman. Kita punya anggapan bahwa diri adalah suatu entitas solid yang eksis dari dirinya sendiri. Apabila kita melihat dengan jernih fakta bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu atau seseorang yang memiliki “inti-diri” yang demikian, maka kita tidak akan merasa terlalu sering menderita.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga cara utama bagaimana ilusi bekerja menciptakan “inti-diri.” Ia eksis melalui identifikasi, posesi, dan proses menjadi.

1) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “identifikasi diri”.

Kita mengidentifikasikan diri dengan sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” atau “diriku.”

Banyak hal bisa kita jadikan objek identifikasi diri. Berikut adalah contohnya. Aku seorang lelaki, seorang perempuan, atau trans-gender; aku seorang kaya, seorang miskin, seorang dari keluarga terpandang atau keluarga jelata; aku adalah seorang suami, seorang isteri, seorang anak; aku seorang pengusaha, seorang karyawan, seorang akademisi, seorang pelajar; aku seorang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau tak-beragama; aku seorang yang malang dan tidak bahagia, atau seorang yang bernasib baik dan bahagia.

Kita sering menggunakan kata ganti “aku” dalam berkomunikasi dan kita meyakini adanya “si aku” sebagai entitas solid dan itulah siapa kita. Ketika sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” terancam bahaya, maka kita mudah gelisah, cemas, khawatir, takut, panic, menderita.

Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bersifat pemanen; segala hal berubah. Maka menjadikan sesuatu atau seseorang yang terus berubah sebagai penopang eksistensi “si aku,” membuat “si aku” merasa terus-menerus terancam. Apabila anak-anak sudah pergi, “si aku” tidak lagi bisa menikmati peran sebagai ibu atau ayah mereka. Apabila kehilangan pekerjaan dengan pendapatan yang baik, “si aku” tidak bisa menikmati kenyamanan hidup seperti sekarang. Apabila kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang dipegang teguh dilepaskan, “si aku” kehilangan penopang rasa kepastian.

Mengapa saat duduk meditasi, rasa sakit yang timbul dalam tubuh fisik atau batin gampang membuat kita menderita? Proses identifikasi “Tubuh ini adalah aku; aku adalah batin ini” sudah berlangsung. Mengapa pikiran terus berlari dan kita bisa dibuat lelah? Proses identifikasi terus berjalan. Identifikasi menjadi taruhan hidup dan matinya ego. Ke mana pikiran pergi, identifikasi mengikuti. Ia menjadikan objek-objek yang ditemui sebagai objek identifikasi. Itulah mengapa sulit pikiran berhenti. Karena tanpa pikiran terkondisi, tidak ada identifikasi.

2) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “posesi”.

Identifikasi membawa kepada rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai “milikku.” “Aku eksis kalau memiliki; aku tidak eksis apabila tidak memiliki.”

Terus-menerus kita membawa dalam diri tubuh dan batin. Kita beranggapan bahwa tubuh dan batin ini adalah “milikku”: tubuhku, pikiranku, perasaanku, persepsiku, formasi mentalku, kesadaranku. Karena kemelekatan, “keakuan” muncul dan ketika keakuan muncul, persoalan timbul. Apabila tidak ada “keakuan,” akankah timbul persoalan? Apapun keadaan tubuh dan batin ini tidak pernah menciptakan problem, selama tidak timbul rasa diri sebagai “aku,” “diriku,” “milikku”.

Rasa cemas, gelisah atau khawatir adalah hal-hal biasa yang kita alami baik dalam kesadaran sehari-hari ataupun saat meditasi. Tidak mungkin timbul rasa cemas apabila tidak terdapat kemelekatan terhadap sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”. Kita ingin melindungi “eksistensi diri” dari segala kemungkinan yang mengancam atau melakukan perlawanan terhadap apapun yang membahayakan “eksistensi diri”. Upaya untuk melindungi “eksistensi diri” atau melawan bahaya yang mengancam “eksistensi diri” digerakkan oleh energy yang diciptakan oleh ilusi “eksistensi diri”.

3)Kita memperkuat eksistensi diri dengan “proses menjadi”

Ego memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri, memperkuat dan memperluas diri. Kita merasa kurang eksis atau tidak eksis apabila belum menjadi sesuatu atau seseorang yang kita idealkan. Kita didorong untuk lebih eksis, memiliki hal-hal yang lebih memuaskan dan bersifat tetap. Perjuangan ke luar untuk lebih sukses, lebih berkuasa, atau lebih bahagia telah menjadi cara penopang eksistensi ego yang dominant. Baik kegagalan ataupun keberhasilan akan mudah menjebak kita dalam memperkuat kembali proses identifikasi dan posesi terhadap segala hal dari dunia ini.

Pergulatan kita dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sesuatu atau seseorang sering terbawa dalam meditasi. Pencerahan, pembebasan atau puncak pengalaman mistikal tidak bisa menjadi objek yang bisa kita kejar. Sebaliknya, itu semua akan datang kepada kita sebagai berkah apabila kita sudah banyak melepas. Tetapi tidak ada sesuatu yang lebih sulit dilepaskan kecuali kemelekatan pada konsep adanya “eksistensi diri”.

Tiga struktur penopang “eksistensi diri” inilah yang menciptakan dan memperkuat identitas diri dengan dunia wujud dan melupakan dimensi tak-berwujud. Untuk melihat dengan jelas secara actual manifestasi dari tiga struktur penopang “eksistensi diri” ini, mutlak dibutuhkan kebebasan. Batin musti betul-betul bebas dari keinginan, kebencian, harapan, prasangka. Tidak boleh ada sesuatu yang ditekan, dilawan atau dilindungi; juga tidak boleh ada sesuatu yang menekan, melawan atau melindungi. Lihatlah tanpa ada entitas diri yang melihat!

Tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan untuk menyadarkan siapa Anda yang sesungguhnya. Tulisan seperti ini hanya berfungsi untuk menolong Anda melihat apa yang memisahkan Anda dari siapa Anda yang sesungguhnya yang sudah Anda ketahui dari kedalaman keheningan tanpa-diri.

Anda yang sesungguhnya bukanlah apa yang Anda pikirkan tentang siapa Anda, bukan apa yang Anda miliki, bukan apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda capai. Anda yang sesungguhnya melampaui itu semua, melampaui wujud.

Dengan cara inilah kita setiap kali meletakkan beban-beban yang kita bawa. Semakin sering kita melepaskan beban, semakin bebas dan lega langkah kita. Lalu kita bisa menjalani kehidupan setiap hari secara otentik dan mantap dari kedalaman keberadaan kita yang melampaui wujud.*

Bebas Kekhawatiran

By ACD, 46 th, karyawan swasta

Senang sekali diijinkan mengikuti retreat Lebaran 2016. Ini adalah pengalaman saya yang kedua mengikuti retreat meditasi yang panjang. Saya pernah mendaftarkan juga mengikuti retreat panjang pada saat lebaran tahun lalu, namun saya batalkan sendiri karena belum bisa melepaskan kekuatiran tentang kondisi pekerjaan. Namun timbul penyesalan karena kekuatiran itu sendiri, karena selama libur lebaran tersebut sayapun tidak melakukan apa-apa terkait dengan pekerjaan yang saya kuatirkan.

Kekuatiran muncul berkaitan dengan target yang harus dicapai dalam pekerjaan. Dengan membawa kekuatiran itupun saya niatkan dan mantapkan untuk mengikuti retreat kali ini.

Pada hari pertama saya merasa lucu saja melihat rekan-rekan lainnya hanya berdiam diri, tidak bertegor sapa walau duduk semeja makan dan bertatap muka. Bukannya kali pertama saya menyaksikan situasi seperti ini dalam retret, tapi serasa kali ini lebih lucu saja menyaksikannya sehingga membuat saya sering mendedangkan lagu dangdut dalam hati, sambil sedikit usil sampai akhir retreat tersebut.

Anehnya dengan keusilan tersebut, saya merasakan keheningan yang lebih jauh dalam ruang keheningan yang sangat luas. Apakah itu ekspresi dari bathin itu sendiri?

Sungguh saya sangat menikmati retreat kali ini yang disajikan dengan metode lain oleh Romo pembimbing. Kali ini banyak dipakai metode diskusi kelompok kecil dengan topik bahasan beragam. Diskusi memperkaya pemahaman akan makna kesadaran murni dan membantu kami tidak terjebak dalam teori belaka.

Kekuatiran yang saya bawa rasanya hilang dengan sendirinya. Saya menyadari bahwa masalah pasti selalu ada kapanpun. Bagaimana kita menyikapi dan menyadarinya dalam setiap laku dan langkah, itulah yang terpenting. Dengan menyadari setiap laku dan langkah, kita sadar akan “diri” kita yang sebenarnya.

Tidak terasa retret 9 hari berjalan cepat dan ditutup dengan Misa singkat. Setelah itu kami bisa berbicara lepas. Anehnya saya tidak menemukan kelucuan lagi di hati ini walau sudah berbicara lepas.

Saya menyetir mobil pulang ke Jakarta dengan rasa ringan. Tidak ada sesuatu yang terasa mengganggu dalam batin ini, meskipun timbul bintik-bintik luka kecil di tubuh yang terasa perih saat berkeringat atau saat terkena air ketika mandi. Barangkali efek detoksifikasi masih berjalan.

Akhirnya saya kembali lagi beraktivitas seperti biasa di dalam keluarga, pekerjaan dan terlibat dalam hubungan-hubungan inter-personal. Saya membiarkan kesadaran bekerja dalam setiap hubungan tersebut.

Saya membawa kesadaran baru bahwa kekwatiran itu bukanlah diri saya. Saya yang sesungguhnya adalah Kesadaran. Tugas saya adalah menjalankan tanggung jawab di dunia ini dengan penuh Kesadaran. Jalani dan jalani saja untuk kebaikan sesama dan alam semesta ini. Apapun yang terjadi, jalani saja. “Just Do it.”

Terimakasih
Salam
ACD

By AF, 50 tahun, karyawan sebuah Bank.

Terima kasih atas pengalaman dan bimbingan selama retret meditasi lebaran ini. Rasanya sulit untuk menuangkannya, karena setiap peristiwa sarat makna.

Saya senantiasa merindukan dapat ikut retret meditasi setiap tahun. Bagi saya, mengambil waktu khusus untuk mundur dari hidup keseharian, diam bermeditasi, sudah menjadi kebutuhan. Saya sempat mengalami keraguan sebelum mendaftar retret 9 hari ini. Ini tahun ke-7 saya rutin ikut retret meditasi dan sudah pernah 4 kali ikut yang 10 hari. Sejak ibu meninggal bulan Oktober 2015, saya memilih untuk pulang ke Semarang setiap weekend atau libur panjang. Ada ikatan batin untuk lebih memperhatikan keluarga terutama sejak kami menjadi yatim-piatu, dan sekaligus ingin menjenguk kakak yang harus hemodialisa seminggu 2 kali, serta beberapa kalidirawat di RS/ ICU. Masih terbayang amanat terakhir ibu,agar kami hidup rukun, saling memberi-menerima dan mencintai. Kondisi fisik saya beberapa bulan terakhir hampir selalu pulang di atas jam 9-10 malam bahkan nyaris tengah malam atau dini hari baru tiba di rumah. Lengkaplah kelelahan saya. Syukur kepada Allah karena pada saatnya, saya dapat mengikuti retret meditasi lebaran 2016.

Selama retret meditasi, saya sering mengalami pergulatan menghadapi berbagai obyek bebas-liar yang selalu muncul melalui pikiran. Penjelasan Romo mengenai “I”, “me”, “mine”, “self” dan “no self”, pada awal retret, sangat membantu saya untuk menemukan kedamaian sekalipun kecamuk obyek bebas-liar masuk-keluar. Obyek masuk dalam wujud apa saja: masa lalu, memori, angan-angan, kondisi, ingatan yang menyakitkan, peristiwa, kegalauan untuk mengubah posisi tubuh, atau reaksi terhadap serangga. Obyek bisa berupa fisik maupun non-fisik dari dalam atau luar diri. Setiap bergumul dengan obyek, pikiran tercurah pada daya upaya, ketidakjelasan, dan ketidakbermaknaan.

Dengan menetapkan hati penuh kesadaran pada saat mengambil sikap siap akan memulai meditasi, bahwa ini adalah Meditasi, tidak ada aku (ego/ diriku) yang bermeditasi. Tidak ada artinya semua penderitaan atau rasa sakit timbul-lenyap tanpa ada si aku. Dengan cara ini, saya merasa sangat mudah untuk masuk ke dalam suasana hening. Setiap obyek yang tiba-tiba masuk saya ikuti, dan begitu kesadaran muncul, tanpa ampun pikiran terhenti; kemudian mantap masuk kembali bergumul dalam keheningan, menembus dalam. Penderitaan yang muncul tidak mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak runtuh oleh penderitaan. Tidak menetapkan target apapun saat meditasi, selain hanya ingin “diam” masuk dalam keheningan. Ini justru membuat saya memperoleh kekuatan untuk bertahan lama dalam keheningan. Saat diri sadar ada penderitaan, tertekan, sakit luar biasa, kesadaran murni muncul dan dengan cerdasnya melenyapkan seluruh penderitaan, mengubah menjadi kekuatan.

Pada hari kedua, ingatan pada kalimat “Diam dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:11), muncul saat meditasi di halaman depan, menguatkan saya untuk masuk lebih dalam, merasakan ketenangan, kedamaian, suka cita, dan penerimaan apa adanya. Menanggalkan “keakuan”, meniatkan diri untuk tekun, sabar, dan “diam” (tidak sibuk dengan pikiran) membiarkan Kesadaran mentransformasi penderitaan. Puji Tuhan, saat mengkonsultasikan kepada Romo, saya mendapat pencerahan bahwa penderitaan hanya merupakan percik-percik kehidupan. Menolong penderitaan orang lain baru dapat dilakukan secara efektif jika kondisi batin bebas (murni).

Dalam kesempatan lain, terumuskan, saat diri pernah meraih keberhasilan, secara normal diri mudah untuk ingin kembali berada pada posisi yang sama. Ibarat permainan jungkat-jungkit, betapa senang saat saya berada di posisi atas. Diri pun ternyata suka dan cenderung mencari rasa aman, pujian, penghargaan, pengakuan. Bagai sekeping mata uang, inipun terjadi saat berkanjang dalam meditasi selanjutnya, di ruangan, di dekat sungai, pendopo, di area atas, saat subuh, pagi, siang, atau malam. Membiarkan diri larut dalam melakukan hal yang disukai ataupun posisi sama yang pernah diraih, jika disadari, hanya mengakibatkan batin terkondisi dengan kemelekatan. Semakin kuat melekat, yang ada hanya ketidakbermaknaan, karena Ego memegang kendali.

Ego adalah pikiran yang terus bergerak, berlari, memenuhi dan mencoba menguasai diri karena dorongan agar puas di posisi atas. Betapa senang jika dapat menguasai, mendapat pujian, dilindungi, jauh dari kesulitan, atau bentuk-bentuk lain sejenis. Sejak lahir hingga dewasa, mungkin hampir setiap anak masuk dalam mekanisme diprogram harus ini dan itu, “ditepuktangani”, diinginkan orang tua menjadi seperti maunya, tanpa menyadari bahwa ada batin dalam setiap diri sang bocah (manusia) yang perlu didengar, diajak berkomunikasi dalam “diam.”

Hanya dengan Kesadaran Murni, memahami semua obyek, Kenikmatan ataupun Penderitaan, bertahan dan memberi perhatian penuh ke dalam akar Penderitaan, tidak jemu terus-menerus berada dalam “diam”, maka kita dimampukan untuk mengalami kelegaan, kedamaian, penyembuhan atau pemurnian batin.

Berbagai moment kedamaian saya alami saat peace walk dan jeda standing meditation, berjalan tanpa alas kaki di atas rerumputan, jalanan, dan segala obyek, dalam kegelapan, menyadarkan saya bahwa Allah begitu memberikan kasih yang besar kepada saya, dan betapa bumi, langit, dan semesta memiliki enerji luar biasa yang dapat memberi dan menguatkan kesadaran saat kita mau “diam”, hadir melalui meditasi.

Puncak ekstase meditasi yang saya rasakan adalah saat meditasi malam di pinggir sungai, dalam deburan suara air, gemerisik angin, gesekan dedaunan, berbagai bunyi hewan dan unggas yang saling memadu bersahutan. Sangat indah. Saat penderitaan terasa menghampiri dan mendesak, saya menarik dan menghembuskan nafas panjang beberapa kali. Sempat terasa tubuh saya terangkat, begitu ringan. Sungguh kedamaian yang teramat dalam.

Melalui alam semesta saya banyak dicerahkan. Memahami suara air yang mengalir tiada henti, dahan pohon yang tenang tegak berdiri, sapaan angin malam penuh kelembutan, malam yang tidak selamanya kelam, langit berhiaskan bulan dan bintang. Semua bergerak tenang-damai, memberikan enerji bagi saya untuk lebih dalam bersyukur. Tak terasa menitikkan air mata rasa syukur saat menatap langit dan terlintas senandung “Betapa Mulia Nama Tuhan…”

Meditasi mencerahkan saya, mengingatkan saya sebagai mahluk ciptaanNya, untuk senantiasa “diam” hadir bersamaNya. Tanpa sibuk berdaya upaya, tanpa target, diam bersama nafas. Saya percaya bahwa Roh yang telah diberikan Allah kepada tiap manusia, dan hanya hadir total melalui diam, pasrah, berserah, sadar penuh, tekun-sabar dalam penderitaan, maka batin bening murni bebas tak terkondisi akan terpelihara abadi.

Pencerahan retret saya rasakan sudah muncul sejak kehadiran, saat secara acak saya mengambil dhamma-sheet berisi “Praktek Kesadaran keempat: Menyadari Penderitaan”. Saya tergetar karena sangat pas dengan kondisi saya yang sedang memikirkan bagaimana cara menolong penderitaan orang lain. Saya belajar melihat lebih dalam makna penderitaan, belajar menerima, memeluk, mendengarkan dengan segenap enerji kesadaran, tidak menutupinya dengan berbagai kesenangan, melainkan terus berlatih dengan tekun, bertahan bersama penderitaan dan siap bertahan di dalamnya selama apapun jika kondisi menuntut demikian. Hanya dengan cara memahami akar penderitaan, barulah dapat terjadi transformasi Penderitaan. Selajutnya barulah saya dapat menolong orang lain, lewat perjumpaan dengan tiap pribadi secara langsung maupun tidak langsung.

Secara umum saya memperoleh Pencerahan sejak awal hingga akhir retret. Saya pulang dengan mantap, dan setidaknya lebih tahu dibanding sebelumnya, apa yang harus lebih dulu saya lakukan terhadap diri saya sebelum menolong penderitaan orang lain.*

By Angela Asriarti, 36 tahun, Management Keuangan.

Penulis Testimoni ini pernah belajar hidup kontemplatif di Biara Trapistin Gedono selama 6 tahun dan kini sedang menyiapkan diri untuk belajar hal yang sama di Biara OCD Lembang. Tulisan berikut adalah Testimoni pengalaman Retret MTO 2-10 Juli 2016. (Admin)

Sebelum mencoba menggambarkan dan merefleksikan perjalanan rohani ini, pertama-tama saya sungguh ingin mengungkapkan ucapan terima kasih untuk Romo pembimbing, panitia, dan rekan-rekan seperjalanan dalam retret kali ini. Saya merasa bahwa ucapan ini tidak sebanding dengan pengalaman berharga nan indah yang sudah diberi begitu saja selama 9 hari. Sembilan hari yang setara dengan sembilan masa tak terukur yang sungguh bermakna dalam, sebagai buah dari totalitas ketulusan kasih Romo Sudri bagi kami, masing-masing maupun bersama.

Setelah sekian waktu lamanya dalam masa transisi hidup saya, saya mulai perlahan menjauh dari perjalanan interior. Momen ini telah memperbaharui kembali janji yang telah saya ucapkan untuk senantiasa belajar menerima undangan cuma-cuma dari Yang Ilahi, bergerak dan bertindak dari kedalaman ruang batin penuh kesadaran.

Ada intuisi bahwa perlu membiarkan diri ini kembali bertolak ke dalam ruang batin yang seringkali saya hindari. Namun saya ingat, saat Romo mengirim pesan bahwa saya diperbolehkan untuk menjadi peserta, seketika itu pula muncullah keraguan besar pada keinginan sendiri. Apakah saya akan dapat bertahan selama sembilan hari? Ataukah ingatan-ingatan yang membuat batin ini sedemikian keruh justru akan membawa diri saya semakin jauh berlari menghindari kenyataan? Apakah mungkin bagi saya untuk diijinkan pulang lebih awal sehingga tidak perlu sampai di akhir hari ke sembilan? Pertanyaan terakhir dijawab langsung oleh Romo. Beliau memastikan, saya harus mengikuti sampai selesai. Pertanyaan lainnya baru akan terjawab di saat-saat terakhir retret.

Saya menerima anugerah perjumpaan kembali dengan rekan-rekan yang telah sekitar 6 tahun tidak bertemu, sejak retret bersama di Wisma Cibulan. Juga beberapa rekan lainnya yang baru pertama kalinya hadir. Namun nampaknya kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadikan suasana berkanjang dalam kehangatan kasih kekeluargaan.

Hari pertama, saya sempat mengagumi lokasi retret yang penuh dengan berkah kesegaran. Sungai kecil yang mengalir, pepohonan, serta kontur tanah yang naik dan turun. Bagi saya, ideal bagi orang-orang yang rindu menimba kearifan serta kekuatan alam sebagai daya hidup yang tak kunjung habis ditimba, meski manusia menjadi alpa untuk mengembalikan kebaikannya. Namun meski dengan itu semua, kekalutan pikiran dan batin ini, hampir tak tertahankan. Bahkan Misa pembukaan, tidak membawa pengaruh yang cukup berarti. Saya menjadi amat lelah. Syukurlah, Romo memberi waktu istirahat malam lebih awal daripada yang telah disepakati bersama.

Hari berikutnya, saya mulai sedikit demi sedikit dapat mengikuti tata tertib dengan perhatian yang lebih intens. Mulai dari pola makan vegetarian serta proses detoksifikasi tubuh melalui air minum yang disediakan serta dipersiapkan khusus oleh Romo. Bahkan sekali waktu saya sempat melihat Romo sendirilah yang mengangkat galon-galon air itu. Akh, ketika melihat hal itu batin saya bergeming dan bertanya, untuk apakah Romo bersusah payah seperti itu? Sebenarnya untuk siapakah semua itu Romo lakukan? Dan sesungguhnya siapakah saya ini? Betapa itu semua pun pada akhirnya hanya dapat terjawab dalam keheningan batin dan bukan melalui gerak pikiran yang dilekati oleh ego.

Saat-saat kebersamaan kami diwarnai dengan uraian-uraian Romo tentang perjalanan yang sedang ditempuh hingga ke akhir perjalanan nanti. Tentang bagaimana setiap kali kami dapat terus belajar menerima kesempatan untuk berlatih menyadari gerak batin yang penuh dengan keterkondisian dari ego yang masih bercokol. Romo menunjukkan pada kami cara yang efektif dan efisien untuk mengakhiri penderitaan akibat kelekatan-kelekatan dari segala bentuk objek. Bahkan juga bagaimana senantiasa belajar melihat dalam kejernihan tanpa intervensi ego atau keakuan. Tetapi perlu dinyatakan sekali lagi kesepahaman kami bahwa ternyata jalan kesadaran yang ditawarkan ini tidak selalu manis berbunga-bunga. Ini menyakitkan.

Saya mengalami keindahan tersendiri ketika setiap sore, kami berbagi pengalaman-pengalaman riil dalam meditasi 24 jam minus tidur yang sedang dijalani bersama. Betapa nyatanya bahwa di antara kami, tidak ada perbedaan yang berarti. Bahwa masing-masing dari setiap pribadi, pada akhirnya akan harus berjalan semakin dalam ke ruang interior batin dan menemukan sendiri siapa dirinya sesungguhnya, yang bukan hasil identifikasi dari pikiran. Ini adalah kesempatan saling memperkaya melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam meditasi yang dibagikan.

Secara pribadi, saya sangat tersentuh ketika kami berjalan beriringan melakukan peace walk ke jalan raya dalam kegelapan pagi maupun sore hari. Ada dimensi yang melampaui bahasa manusia. Keheningan mendalam di balik lalu lalang kendaraan, suasana riuh perkotaan di kejauhan, dan terutama di tengah-tengah suara alam. Menapak dengan bertelanjang kaki seolah-olah mengundang kesadaran terdalam untuk merangkul setiap jiwa yang berada dalam kegelapan, di setiap langkah kami.

Retret kali ini juga seakan-akan mengantar saya pada kesadaran fisik. Betapa tubuh saya pun dapat perlahan menjadi aus di beberapa tempat, khususnya bagian kaki kanan. Menerima keadaan fisik yang sudah tidak seperti dulu. Berkali-kali berdiri di tempat dan mengubah posisi duduk. Tapi sudah kepalang tanggung, saya tidak bisa terus berlari setiap kali merasa kurang nyaman. Sekali waktu, akhirnya saya memutuskan untuk bertahan selama mungkin dalam pada posisi yang sama sampai sungguh-sungguh terasa tak tertahankan sakitnya. Tidak frustasi ketika dirasa perlu mengubah dan belajar peka pada suara arahan Romo untuk membiarkan diri terarah lebih dalam pada kesadaran di luar tingkat kesadaran fisik semata. Berlatih untuk menjadikan segala objek pikiran termasuk sensasi tubuh sebagai batu loncatan untuk menemukan ruang kesadaran yang melampaui objek dan subjek.

Hal serupa juga menjadi pengalaman tersendiri bagi kami ketika Romo menyentuh titik terdalam dari jiwa kami masing-masing. Momen meditasi bersama di taman yang berlimpah kesegaran, bagi saya, adalah saat penting dalam kesadaran untuk bertemu dengan ego yang masih tersembunyi, meskipun pikiran mampu meyakinkan saya bahwa semua sudah terselesaikan. Romo juga mengatakan pada kami, hal-hal sama yang seringkali muncul itupun dapat menjadi bantuan untuk mengenali siapakah saya yang sesungguhnya. Ahh…! Menggambarkan secara rinci mengenai pengalaman itu, rasanya tidak mungkin. Yang bisa saya ingat adalah pada awalnya memang sangat tidak menyenangkan dan cenderung menyesakkan dada. Namun di ujung kesadaran, hanya ada kekosongan. Tak ada apapun yang dapat dikatakan sebagai derita tak tertanggungkan. Semua adalah ilusi.

Sore hari yang terakhir penuh kehangatan dan menyejukkan jiwa. Saya memeluk satu demi satu rekan-rekan seperjalanan dan diundang oleh Romo untuk saling membagikan Terang Kesadaran yang telah dianugerahkan pada kami masing-masing. Kami melakukan peace walk terakhir sembari membawa misi perjalanan rohani di kehidupan berikutnya. Kedamaian sejati yang tidak dapat diberikan oleh dunia dan terpatri rapi di sudut ruang hati, itulah sekurang-kurangnya bagi saya. Bekal berlimpah untuk terus berjalan ke dalam dan setia pada “Empat Janji Agung” yang sudah saya ucapkan dalam Misa penutupan. Misa paling indah yang pernah saya alami serta sungguh menggetarkan jiwa. Kemahakuasaan Kasih Sejati yang tidak akan lenyap meski langit dan bumi berlalu.

O Yang Tak Terselami, bantulah kami senantiasa untuk setia berkanjang di kedalaman ruang kesadaran dan menemukan KerajaanMu yang abadi, bersama setiap jiwa yang Kau pertemukan dalam hidup kami. Amin.

Terima Kasih
dan Penuh Cinta,
Asri

By J. Sudrijanta

Hampir setiap saat layar batin kita tidak pernah sepi. Batin kita pepat dengan arus pikiran, persepsi terkondisi, perasaan, ingatan, fantasi, keinginan, dan bentukan-bentukan mental. Pikiran kita terus-menerus bergerak, tidak pernah diam. Dari manakah arus batin ini berasal dan apa yang membuatnya terus-menerus eksis?

Terdapat empat hal yang saling berhubungan erat: layar batin, kesadaran terpendam, eksistensi, dan kemelekatan. Apa saja yang muncul pada layar batin berasal dari kesadaran terpendam; apa saja yang muncul dari kesadaran terpendam menciptakan eksistensi kita; dan proses eksistensi terus berlangsung karena terdapat factor kemelekatan. Seperti bensin berfungsi menciptakan dan mempertahankan nyala api, begitu pula kemelekatan menciptakan dan menopang seluruh eksistensi kita. Tidak ada eksistensi tanpa kemelekatan. Itulah sebabnya eksistensi kita adalah penderitaan; hidup adalah penderitaan. Begitulah temuan Buddha.

Kemelekatan adalah keadaan mental seseorang yang meyakini bahwa seolah-olah ia hanya bisa bahagia apabila bergantung pada sesuatu atau seseorang sebagai “aku” atau “milikku”. Kenyataannya, kemelekatan membuat orang justru tidak bahagia. Ketakutan, kecemasan, kegalauan, kebencian, ketidakpuasan dan berbagai bentuk kesakitan mengiringi batin yang melekat.

Menurut Sutta Pitaka, sekurang-kurangnya terdapat empat jenis kemelekatan (upādanā) terkait dengan objeknya. Pertama, kemelekatan pada objek-objek inderawi (kamupadana). Objek-objek indera meliputi segala objek yang memiliki bentuk dan warna, suara, rasa pencecapan, bebauan, sentuhan. Objek-objek tersebut bisa hadir dihadapan kita dahulu, sekarang atau di masa datang, baik secara fisik maupun gambaran mental atau imaginasi.

Kedua, kemelekatan pada opini atau sudut pandang (ditthu-padana). Contoh kemelekatan pada opini atau sudut pandang adalah pikiran, perasaan, cita-cita, harapan, kebiasaan, keyakinan, kepercayaan.

Ketiga, kemelekatan pada ritual upacara (silabbatupadana) atau hal-hal yang dianggap spiritual. Contoh objek kemelekatan ini adalah ritual agama, cara doa atau devosi, kitab suci, nilai-nilai dan dogma agama, guru spiritual, tempat-tempat ibadah, benda-benda suci, dewa-dewi, tuhan-tuhan sebagai konsep, dst.

Keempat, kemelekatan pada keakuan (attavadupadana). Manifestasi keakuan ini berupa identifikasi dengan sesuatu atau seseorang sebagai “aku” dan rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”. Dalam semua bentuk kemelekatan terdapat kemelekatan pada keakuan ini.

Meskipun kemelekatan memiliki objek yang beragam hingga pada tingkatan yang sangat halus, apa yang membuat batin melekat pada suatu objek bukan berasal dari kualitas objeknya, melainkan dari batin kita sendiri. Batin inilah yang menciptakan kemelekatan pada suatu objek, bukan sebaliknya. Fakta inilah yang jarang dilihat oleh kebanyakan orang yang tidak berlatih.

Proses munculnya kemelekatan adalah sebagai berikut. Kita semua memiliki “kesan atau ingatan yang tertanam pada kesadaran terpendam”. Kesan atau ingatan terpendam ini disebut dengan istilah lain seperti “cetakan karma masa lampau” (past karmic imprint) atau “sanskara” (sanskars). Seperti halnya gen atau DNA mampu menyimpan informasi biologis, “cetakan karma masa lalu” adalah seperti “gen/DNA psikologis” yang menyimpan segala informasi dalam kesadaran terpendam. “Gen/DNA psikologis” ini mempengaruhi sikap, pikiran, kata-kata dan tindakan kita setiap kali kita berkontak dengan suatu objek. Melihat langsung bagaimana factor ini berperan dalam menciptakan fenomena kemelekatan akan menolong dalam berlatih.

Ketika terjadi kontak dengan suatu objek, misalnya tubuh fisik orang lain, cepat sekali timbul impresi atau gambaran mental pada layar batin. Gambaran mental tersebut sesungguhnya muncul dari dua periode waktu yang berbeda, yaitu masa lampau dan masa sekarang. Gambaran mental masa lampau itulah yang disebut “cetakan karma masa lampau”. Kemudian “cetakan karma masa lampau” ini diproyeksikan pada suatu objek yang menghasilkan gambaran mental saat sekarang sebagai sesuatu yang menarik.

Anda barangkali pernah suatu saat melihat seseorang yang kemudian menjadi pasangan Anda dan mengatakan, “Ia memiliki paras cantik”. Anda tidak mungkin bisa mengenali kecantikan wajahnya, apabila Anda tidak memiliki “cetakan karma”, “sanskara”, atau “gambaran mental cantik” yang sudah tertanam pada kesadaran terpendam sebelum kontak terjadi. Konsepsi Anda sekarang hanyalah proyeksi mental dari “kesan” atau “cetakan karma” yang sudah ada pada diri Anda.

Kemudian barulah batin menginterpretasikan objek yang hadir menurut “cetakan karma masa lampau.” Pikiran berkata, “Wajahnya cantik; ia pantas untuk dilekati. Dengan melekat, aku akan bahagia.” “Wajah cantik” yang dimaksud sesungguhnya bukalah objek real, tetapi gambaran mental.

Ketika terjadi kontak antara laki-laki dan perempuan, misalnya, pihak laki-laki memiliki gambaran mental yang diproyeksikan pada tubuh perempuan; dan pihak perempuan memiliki gambaran mental yang diproyeksikan pada tubuh laki-laki. Perjumpaan laki-laki dan perempuan tersebut menghasilkan impresi yang kemudian diinterpretasikan menurut “cetakan karma masa lampau”. Lalu muncullah interpretasi, “Tubuh perempuan/laki-laki itu indah.” Laki-laki melihat keindahan tubuh perempuan dan perempuan melihat keindahan tubuh laki-laki. Setelah proyeksi dan interpretasi, maka timbullah kemelekatan pada tubuh. Anda tidak akan menemukan fenomena kemelekatan apabila tidak ada proses proyeksi dan interpretasi.

Dengan melihat proses batin seperti ini, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang layak untuk dilekati dari sisi objek, karena apa yang dilekati bukan objeknya itu sendiri, tetapi gambaran mental yang diproyeksikan pada objek. Jadi sesungguhnya orang hanya melekati gambarannya sendiri tentang sesuatu atau seseorang, bukan sesuatu atau seseorang pada dirinya sendiri. Kemelekatan bukan datang dari objek tetapi hasil buatan Anda sendiri—hasil konsepsi, interpretasi, dan proyeksi batin Anda sendiri.

Anda barangkali pernah berelasi dengan seseorang bertahun-tahun lamanya tanpa kemelekatan sama sekali. Kemudian tiba-tiba suatu hari pandangan Anda tentang orang tersebut berubah. Anda melihat wajahnya menjadi lebih cantik dan kepribadiannya mempesona, kemudian timbulah kemelekatan ketika Anda sudah mulai menemukan kenikmatan dalam berelasi dengannya. Ketika kemelekatan sudah timbul, muncul pula rasa ketagihan untuk setiap kali ada bersamanya.

Pandangan Anda tentang wajah cantik yang Anda lekati datang dari konsep yang Anda ciptakan sekarang, yang dipengaruhi oleh “cetakan karma masa lampau”. Itu seperti sebuah gambar gerak di layar dari sebuah film pada mesin proyektor dan apa yang diproyeksikan menjadi objek kemelekatan. Wajah cantik dari seseorang yang Anda lihat dan lekati adalah perpaduan antara “konsepsi” sekarang dan “proyeksi” dari “cetakan karma masa lalu.”

Apa yang terlihat, terdengar, tercium, tercecap, dan tersentuh adalah apa yang dilabeli oleh batin. Anda tidak melihat sesuatu yang tidak datang atau tidak bergantung pada batin. Tidak ada sesuatu yang bisa eksis di luar label pikiran. Batin yang terdelusi tidak bisa melihat fakta ini dan beranggapan apa yang dilihatnya sungguh nyata, eksis dari dirinya sendiri dan bukan semata-mata label pikiran.

Dengan memahami proses-proses batin yang terdelusi—kontak, konsepsi, proyeksi, interpretasi—membuat kita mengerti bahwa adalah tidak masuk akal mengumbar kemelekatan. Latihan-latihan kita musti sampai pada pemahaman bahwa “tidak ada yang pantas untuk dilekati dan tidak ada yang pantas melekati.”

Saat kemelekatan timbul, pertama, kita bisa berlatih untuk melihat “konsepsi” batin kita, “Ini hanyalah pandangan saya sendiri, konsepsi saya sendiri. Apa yang tampak hanyalah dampak dari apa yang dilabeli oleh pikiran.”

Kedua, lihatlah proses “proyeksi” dari batin. Suatu gambaran mental yang sudah tertanam di benak kita diproyeksikan pada objek yang kita lekati, “Tidak ada sesuatu dari sisi objek—ini hanyalah penampakan dari cetakan karma masa lampau saya. Objek yang saya lekati atau saya benci adalah sebuah tampilan yang diciptakan oleh batin saya sendiri.” Anda melihat sekarang bahwa apa yang tampaknya semata-mata berasal dari luar, dari sisi objek, tidaklah nyata sama sekali. Itu adalah delusi.

Dengan melihat secara langsung “konsepsi” dan “proyeksi” dibalik fenomena kemelekatan, maka kita sedang berlatih membersihkan batin dari cetakan karma masa lampau, dari akar-akar kotoran batin, dari delusi.*

Anda Bisa Mengubah Dunia

Oleh J. Sudrijanta

Pernahkah Anda dengan serius mengajukan pertanyaan seperti ini, “Bagaimana caranya mengubah dunia?” Atau dengan memakai bahasa Injil, “Bagaimana terlibat dalam menciptakan Surga Baru dan Bumi Baru?” Apabila belum pernah diganggu oleh pertanyaan seperti itu, marilah kita bertanya bersama-sama, “Bagaimana kita bisa mengubah dunia?”

Surga bukanlah suatu lokasi tetapi merujuk pada alam kesadaran manusia. Sedangkan bumi adalah ekspresi atau manifestasi dari kesadaran yang tak-berbentuk dari dalam. “Surga baru” adalah suatu keadaan kesadaran manusia yang sudah tercerahkan atau terilahikan dan “dunia baru” adalah manifestasinya di alam fisik.

Pada tingkatan bentuk, terdapat perbedaan antara Anda dan saya, kita dan dunia; tetapi pada tingkatan kesadaran tanpa-bentuk, sesungguhnya tidak ada perbedaan mendasar antara kita dan dunia. Kita adalah dunia. Anda dan saya adalah alam semesta.

Kesadaran Anda dan saya membentuk kesadaran kolektif dan kesadaran manusia kolektif itulah yang menciptakan wajah dunia. Oleh karena itu, Kita bisa mengubah dunia bukan pertama-tama melalui apa yang kita lakukan (what we do) atau apa yang kita miliki (what we have), melainkan melalui kualitas kesadaran dan kehidupan kita (what we are). Apabila kesadaran kita berubah, maka cara pandang terhadap harta milik dan cara kita bertindak akan berubah dan cara pandang terhadap dunia menjadi berbeda.

Kualitas kesadaran dan kehidupan manusia—dan pengaruhnya bagi keadaan alam semesta–sangat ditentukan oleh keutuhan dan integrasi empat dimensi yang menjadi unsur pokok pembentuknya: (1) dimensi psycho-physic, (2) dimensi kognitif-rasional, (3) dimensi psycho-sosial, dan (4) dimensi afektif-spiritual.

Bukan hal baru apabila orang mengatakan bahwa institusi-institusi pendidikan masih terlalu menekankan aspek kognitif-rasional dan kurang memperhatikan sisi afektif spiritual. Akibatnya, terjadi penyimpangan dalam perilaku individu dan selanjutnya mudah menyebabkan konflik dan kerusakan dalam hubungan-hubungan. Keburukan ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi dan menyusup di semua bidang kehidupan: kehidupan pribadi, hubungan-hubungan personal, kehidupan dalam rumah tangga, hidup dalam komunitas warga, hidup bernegara, hubungan dengan alam semesta dan dunia.

Ketimpangan dalam keempat dimensi ini mengakibatkan perilaku ‘narsis’. Perilaku ‘narsistik’ ditandai dengan kecenderungan untuk mencari kepuasan dengan mementingkan diri sendiri, menonjolkan diri, pamer dan berharap orang lain memberi pengakuan atau pujian. Perkembangan teknologi membuat ‘penyakit narsis’ ini mudah menyebar bak virus di alam semesta.

Kita tahu banyak orang suka ‘narsis’ termasuk sebagian pejabat atau tokoh public. Perilaku mereka terasa menyebalkan. Tetapi barangkali kita sendiri pada tingkatan tertentu juga terjangkit oleh ‘penyakit narsis’ dan tidak sadar kita sendiri juga menyebalkan.

Bila seseorang memiliki hidup ‘afeksi spiritual’ kokoh atau mantab, maka pencapaian ‘fisik-material’ dan ‘talent professionalnya’ tidak akan pernah menjadi ‘narcis.’ Dimensi ‘psycho-social’ dalam hidup pertemanan, hidup berkeluarga, atau hidup bermasyarakat menjadi menyenangkan dan bermutu. Hubungan-hubungan yang menyenangan dan bermutu selanjutnya akan memperkokoh ‘afeksi spiritual’ dan ‘afeksi spiritual yang kokoh akan memantabkan ekspresi ‘talent professional’ dan pencapaian-pencapaian ‘fisik-material’. Keempatnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Kematangan afeksi spiritual biasanya termanifestasi dalam sikap bermurah hati, mau memperhatikan, bisa mendengarkan, suka memuji, mampu menghargai, bisa menanggung beban orang lain, mau mengaku salah, lebih peka pada penderitaan segala makhluk, tidak ingin menjadi pusat perhatian. Singkatnya, tidak lagi ‘narsis’.

‘Afeksi spiritual’ pada dasarnya merupakan buah pengolahan batin dalam mentransformasikan ‘needs’ (kebutuhan psikologis yang berpusat pada ego dan keakuan di balik pikiran, sikap, kata-kata dan tindakan) menjadi ‘values’ (nilai-nilai luhur kehidupan). Misalnya, kemampuan rohani afektif untuk memperhatikan orang lain merupakan buah dari transformasi ‘kebutuhan ingin diperhatikan.’ Kemampuan rohani afektif untuk mempercayai teman, merupakan buah dari transformasi ‘kebutuhan ingin dipercaya.’ ‘Keindahan berbagi’ (waktu, tenaga, ilmu, energi, dst) merupakan buah dari transformasi ‘kebutuhan ingin memiliki’.

Transformasi ini tidak mungkin tanpa praktik “melihat diri sendiri seperti apa adanya”. Lihatlah dengan batin yang hening apa yang sesungguhnya menjadi ‘kebutuhan’ Anda di balik nafsu kemarahan atau nafsu keinginan Anda, dan lihatlah apa yang terjadi. Bukankah melihat ‘apa adanya’ adalah ‘transformasi seketika’ dan nilai-nilai luhur kehidupan mekar dengan sendirinya dari kedalaman batin Anda?

Praktik ‘melihat’ dan ‘mentransformasikan’ bukanlah dua langkah yang berbeda dan terpisah. ‘Melihat apa adanya’ selalu mendatangkan ‘transformasi seketika’. Apabila transformasi yang terjadi tidak seketika–membutuhkan waktu atau berlangsung secara bertahap–maka perubahan tersebut sekedar akibat dari penyesuaian dengan ‘apa yang seharusnya’ tetapi bukan buah dari ‘melihat apa adanya.’

Anda tidak mungkin bisa berbagi dengan tulus, pun kalau itu sudah menjadi nilai bagi Anda, tanpa sepenuhnya sadar kelekatan-kelekatan Anda pada lapisan yang dalam. Anda tidak mungkin gampang memuji atau menghargai kebaikan orang lain, tanpa sepenuhnya sadar pada moment ketika terdapat kebutuhan yang dalam untuk dipuji atau dihargai. Anda tidak mungkin mekar dalam kasih sayang, tanpa melihat dari saat ke saat kebutuhan yang dalam untuk diterima, dimengerti dan dicintai. Anda tidak mungkin menegasikan ego atau keakuan Anda dan sepenuhnya bertindak demi kebaikan orang lain, tanpa melihat secara actual ego atau keakuan pada moment kemunculannya.

Apabila Anda prihatin pada situasi keluarga Anda dan mengharapkan ada sesuatu yang berubah tetapi belum berubah, Anda perlu melihat ke dalam. Jangan-jangan Anda sendiri belum cukup berubah.
Apabila Anda prihatin pada situasi masyarakat Anda dan mengharapkan ada sesuatu yang berubah tetapi belum berubah, Anda perlu melihat ke dalam. Jangan-jangan Anda sendiri belum cukup berubah.
Apabila Anda prihatin pada situasi bangsa Anda dan mengharapkan ada sesuatu yang berubah tetapi belum berubah, Anda perlu melihat ke dalam. Jangan-jangan Anda sendiri belum cukup berubah.

Praktik ‘melihat apa adanya’ membangkitkan nilai-nilai luhur kehidupan dari dalam. Tidak dibutuhkan pergulatan panjang untuk merealisasikan nilai-nilai luhur melampaui nilai-nilai moralitas atau religiositas yang tadinya kita pelajari dari luar dan kita batinkan. Melalui praktik ini, kita mendapati diri kita berubah secara alamiah; hati kita menjadi lebih damai dan bahagia; dan kita tergerak dari dalam untuk lebih memperhatikan kesejahteraan sesama dan segala makhluk. Hidup seperti ini terasa lebih indah.

Halnya sudah sangat jelas, tidak diperlukan penjelasan panjang-lebar. Shantideva, seorang Guru India abad 8 mengatakan begini: “Orang-orang yang tidak matang bekerja demi kepentingan diri mereka sendiri, sedangkan para Buddha (orang-orang yang kesadarannya sudah tercerahkan atau terilahikan—penulis) bekerja demi kebaikan orang lain dan segala makhluk. Lihatlah perbedaan di antara keduanya.”

Proses transformasi diri, dari ‘needs’ menjadi ‘virtues’, dari orientasi berpusat pada “diri sendiri” menjadi terarah keluar pada “orang lain dan segala makhluk”, membawa keindahan dan kedamaian bagi semua penghuni alam semesta. ‘Melihat wajah kita seperti apa adanya’, dengan segala ‘kebutuhan ego dan keakuan’ yang sudah mengakar dalam, merupakan lompatan untuk mengubah dunia menjadi tempat mengekspresikan nilai-nilai luhur kehidupan.

“Apabila terdapat terang dalam jiwa,
Akan terdapat keindahan dalam diri orang tersebut.
Apabila terdapat keindahan dalam diri orang tersebut,
Akan terdapat keselarasan dalam rumah tangga.
Apabila terdapat keselarasan dalam rumah tangga,
Akan terdapat keteraturan di seluruh negeri.
Apabila terdapat keteraturan di seluruh negeri,
Akan terdapat damai di seluruh dunia.”
–Pepatah Cina

Bebas Kebencian, Bebas Kemarahan

By J. Sudrijanta

Damai adalah rumah sejati setiap makhluk, termasuk setiap insan manusia. Namun untuk bisa menghirup udara kedamaian secara dalam, kita perlu memahami dan membersihkan benih-benih kebencian yang ada di lapisan dalam. Tanpa pembersihan pada tingkatan yang dalam, damai yang kita rasakan bersifat dangkal dan mudah menguap.

Pernahkah Anda berkonflik atau bermusuhan dengan orang lain? Mengapa Anda memiliki konflik atau permusuhan? Bukankah kebencian dalam diri Andalah yang menciptakan konflik atau permusuhan? Apabila ada kebencian, pastilah ada konflik. Apabila ada kemarahan, pastilah ada permusuhan. Sebaliknya, apabila batin Anda bebas sama sekali dari kebencian, tentu Anda tidak memiliki konflik atau permusuhan, sekalipun ada orang lain yang membenci Anda.

Kebencian atau kemarahan selalu memiliki objek sasaran. Kebencian bisa tertuju pada orang lain atau sesama makhluk hidup; makhluk tidak bernyawa, misalnya kerikil atau batu saat kita tersandung; penderitaan fisik maupun psikologis.

Tetapi kebencian atau kemarahan muncul bukan pertama-tama karena objeknya secara objektif memiliki sifat-sifat buruk, melainkan karena batin sudah memiliki gambaran mental yang buruk yang diciptakannya sendiri yang ditempelkan pada objeknya. Seringkali kualitas-kualitas keburukan dari objeknya dilebih-lebihkan atau diada-adakan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataannya. Ketika kebencian memuncak, bisa jadi terdapat dorongan ingin menghancurkan atau melenyapkan objek tersebut.

Terdapat sembilan situasi yang memunculkan kebencian ini: kebencian terhadap sesuatu atau seseorang yang telah, sedang, atau akan melukai sesuatu atau seseorang sebagai “aku”; terhadap sesuatu atau seseorang yang telah, sedang, atau akan melukai sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”; terhadap sesuatu atau seseorang yang telah, sedang, atau akan membantu “musuhku”.

Musuh yang paling buruk bukan berada di luar, tetapi berada di dalam batin kita sendiri, yaitu saat kita dikuasai oleh kebencian dan kemarahan. Kebencian menghancurkan keseimbangan batin dan batin yang tidak seimbang sulit menemukan damai. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak. Semua hubungan menjadi hambar. Kita menjadi sulit tertawa dan tidak bisa menikmati segala hal. Hal-hal yang indah menjadi buruk, yang cerdas menjadi bodoh. Teman menjadi musuh dan orang yang paling dekat menjadi orang yang paling kita benci.

Anda bisa membuat daftar sendiri tentang keburukan yang diciptakan oleh kebencian dan kemarahan: efeknya terhadap kesehatan fisik, terhadap kesehatan mental, terhadap cara kita memandang dan mempersepsikan segala hal, terhadap hubungan-hubungan personal dan komunal.

Yang jarang dilihat adalah fakta keburukan tersembunyi dari kemarahan. Setiap moment kemarahan memperkuat benih kemarahan dalam batin kita, sehingga kita memiliki potensi yang lebih besar untuk marah di waktu-waktu mendatang. Ketika kemarahan muncul, ia memperlemah atau menghancurkan potensi-potensi positif dan menambah hebat penderitaan kita.
Alasan utama kita perlu bebas dari kemarahan adalah tidak ada kebaikan apapun yang datang dari kebencian dan kebencian yang memuncak dalam kemarahan hanya menciptakan penderitaan yang lebih hebat. Tidak ada dari kita yang mau menderita, tetapi kita terus menciptakan kebencian dan kemarahan yang membuat batin kita makin menderita. Itu dua hal yang saling kontradiktif.

Untuk bisa bebas secara total, kita perlu meneliti dengan hati-hati dan memahami proses-proses yang menciptakan kebencian dan kemarahan.

Pertama, menemukan delusi di balik kebencian dan kemarahan.
Semua fenomena, termasuk fenomena kebencian, memiliki tiga element pembentuk: sebab, kondisi, dan persepsi. Anda sekarang barangkali sedang asyik membaca tulisan ini dan sedang tidak didera oleh kemarahan. Namun demikian, meskipun Anda sekarang sedang tidak marah-marah, benih kebencian itu ada pada kesadaran terpendam. Ketika terdapat situasi yang matang, benih kebencian bisa bermanifest keluar. Misalnya, sementara Anda sekarang duduk dan membaca dengan tenang sekarang, tiba-tiba Anda diberitahu bahwa mobil Anda di parkiran penyok ditabrak orang. Apakah timbul kemarahan? Kebencian atau kemarahan terhadap sesuatu atau seseorang yang mendatangkan hal-hal buruk yang tidak kita ingini sudah ada “benih”-nya pada batin kita. Mobil penyok karena ditabrak orang adalah “kondisi” yang mematangkan kemunculan benih. Mobil itu sebagai “milikku” secara psikologis adalah delusi yang berfungsi sebagai bensin bagi timbulnya kemarahan.

Bila ada sebab tanpa kondisi, kemarahan tidak muncul. Bila ada kondisi tanpa benih, kemarahan juga tidak muncul. Bila ada sebab sekaligus kondisi, tetapi tidak ada delusi, maka kemarahan tidak muncul. Melihat jalinan ketiganya dan terutama meneliti aspek delusi menjadi penting.

Delusi di sini adalah keyakinan, konsep, pandangan, nilai-nilai, asumsi atau persepsi terkondisi yang membenarkan tindakan kebencian dan kemarahan. Ketika kita marah-marah, ada delusi yang mengatakan seperti ini misalnya: “Aku marah, maka aku ada.”; “Aku punya hak untuk marah.”; “Aku benar, orang lain salah.”; “Orang tidak bisa berubah kalau tidak dimarahi.”

Delusi terbesar di balik kebencian dan kemarahan adalah ketidakthauan batin yang melekat pada sesuatu sebagai “aku” dan “milikku”. Tidak ada cara membersihkan diri dari kebencian dan kemarahan secara permanen tanpa realisasi terus-menerus bahwa diri yang ada secara konvensional ini sesungguhnya kosong atau hampa dari “inti-diri”.

Apabila batin mampu melihat secara langsung delusi adanya ego dan keakuan ini sebagai delusi, maka timbullah kearifan (wisdom). Dengan kearifan ini, sebab-sebab terdekat dari kemarahan akan cepat dibersihkan, seperti rasa takut, luka atau kepedihan.

Kedua, praktik sukarela menanggung kesulitan.
Kemarahan selalu lahir dari batin yang tidak bahagia. Apabila kita melampiaskan kemarahan di depan orang, maka kita sedang mengekspose atau mempertontonkan penderitaan kita sendiri. Dengan melampiaskan kemarahan, kita memperkuat benih kemarahan dalam diri orang lain dan tindakan ini justru memperkuat benih kemarahan dalam batin kita sendiri.

Oleh karena itu, ketika terdapat dorongan untuk melampiaskan kebencian atau kemarahan, kita pertama-tama perlu menyadari ketidakbahagiaan kita dan menyelesaikannya. Rasa marah karena kepedihan di hati, rasa takut, cemas, atau gelisah disebabkan oleh tidak adanya pemahaman yang tepat. Apabila kita cepat marah, menyalahkan objek atau situasi di luar sebagai penyebab persoalan kita, maka kepedihan kita akan semakin parah. Situasi akan terus berubah dan persoalan akan terus datang kepada kita, tetapi kita memiliki kemampuan untuk menghentikan luka yang tercipta oleh reaksi penuh kebencian atau kemarahan terhadapnya.

Untuk bisa melakukan ini, kita perlu berlatih tidak menghindari masalah dan mengembangkan rasa terimakasih ketika hal-hal buruk terjadi dengan melihat situasi-situasi ini sebagai kesempatan untuk berlatih. Rasa terimakasih juga bisa kita kembangkan setiap kali kita dipertemukan dengan orang-orang yang sulit. Mereka adalah “guru-guru terbaik” yang menunjukkan sesuatu yang harus kita selesaikan dalam batin kita.

Kita perlu mengembangkan keyakinan bahwa kebencian dan kemarahan, sama sekali tidak berguna. Itu tidak mengurangi penderitaan, tetapi justru menambah masalah. Mengapa benci dan marah terhadap sesuatu apabila persoalannya bisa diselesaikan? Kebencian dan kemarahan hanya menambah kepedihan, seperti menuangkan garam pada luka. Dan mengapa benci dan marah apabila persoalannya tidak bisa diselesaikan? Memperpanjang kepedihan dengan cara demikian merupakan penderitaan yang kita ciptakan sendiri; itu bukan akibat dari persoalan yang Anda hadapi.

Ketiga, praktik welas asih.
Mereka yang marah terhadap kita adalah orang-orang pertama yang menjadi korban dari penderitaannya sendiri. Apabila Anda dicaci maki, entah karena ada alasan atau tanpa alasan, apakah timbul rasa sakit? Kesakitan Anda sesungguhnya bukan apa-apanya dibanding kesakitan yang mendera orang yang mencaci-maki Anda.

Ketika Anda dipertemukan dengan orang-orang yang terluka—seringkali mereka adalah orang-orang yang membenci Anda—respons apa yang muncul? Apakah kebencian dibalas dengan kebencian, kemarahan dibalas dengan kemarahan? Bukankah orang-orang yang menderita lebih membutuhkan pemahaman, penerimaan dan welas asih, bukan menjadi objek kebencian? Kita bisa belajar membangkitkan welas asih. Apabila tidak mampu membangkitkan welas asih, sekurang-kurangnya janganlah kita mengobarkan kemarahan atau balas dendam.

Apabila kita tidak menyelesaikan kebencian dan kemarahan, maka kita sendiri terus-menerus mempertahankan luka itu dalam diri kita. Kita bisa berhenti melukai diri kita sendiri apabila kita berhenti membenci.

Tidak mudah berlatih apabila kita berjumpa dengan situasi yang buruk atau orang-orang yang sulit. Namun perjumpaan seperti itu adalah kesempatan sekaligus batu ujian bukan hanya agar kita mampu menemukan damai yang kokoh, tetapi juga mampu membangkitkan welas asih.

Kebencian tidak bisa dilenyapkan oleh kebencian. Apabila Anda tahu bahwa Anda masih sering dikuasi oleh kebencian, dan Anda sendiri menjadi benci dengan situasi Anda, maka Anda sedang berputar-putar dengan kebencian.

Dibutuhkan kesadaran yang dalam untuk bisa menyentuh kebencian dan kemarahan secara tepat. Dibutuhkan pengamatan yang jernih hingga sampai pada pemahaman cerah bahwa tidak ada sesuatu “yang membenci” dan “yang layak untuk dibenci”. Barulah kemudian damai, kearifan, dan welas asih akan melingkupi hati kita.

Ada kebenaran spiritual di balik kata-kata berikut ini, “Segala sesuatu adalah baik adanya, akan menjadi baik dan pasti akan menjadi baik.” Apabila segala sesuatu baik adanya, bukankah tidak ada tempat bagi kebencian? Itulah dasar spiritual mengapa kita perlu bebas secara total dari kebencian dan kemarahan.*