By J. Sudrijanta, SJ

“Apa yang tidak berawal dan tidak berakhir sudah, sedang, dan akan selalu terlahir Saat Ini.”

1

Apa yang ajaib dari kelahiran Kristus? Terinspirasi oleh St Agustinus dan Meister Eckhart, mari kita membuka tabir misteri inkarnasi.

Jesus lahir dari seorang ibu tanpa bapak. Setelah melahirkan, ia tetap perawan. Itu berarti yang dilahirkan tidak tercemar oleh ketidakmurnian.

Kristus lahir dari Bapa tanpa ibu. Siapakah bisa mengerti “Bapa melahirkan tanpa ibu”?

Kristus dan Bapa adalah satu. Kristus hidup dalam keabadian dalam Bapa. Kini Bapa melahirkan Kristus dalam keabadian. Bagi pikiran manusia, kelahiran adalah awal dan kematian adalah akhir. Tetapi kelahiran Kristus dari Bapa tidak berawal dan tidak berakhir. Ia lahir tanpa mengenal waktu. Ia lahir sebagai Yang Abadi dari Yang abadi. Ia dan Bapa sama-sama abadi.

Anda tidak bisa mencari kapan Kristus dilahirkan. Karena Kristus tidak dilahirkan dalam rentang waktu. Kitab suci menyebut, “Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yakni Kristus Tuhan…” “Hari ini” yang dimaksud Kitab Suci adalah “saat ini” sebagai “keabadian”.

Kristus Tuhan sudi menjadi manusia. Apalagi yang Anda harapkan dari Tuhan? Apakah Ia belum cukup direndahkan? Ia yang tadinya Allah kini menjadi manusia.

Ia yang tadinya menciptakan bintang-bintang dan mengisi seluruh jagad raya, tidak mendapat tempat di rumah penginapan.

Lihatlah palungan yang sempit dan menyesakkan itu. Ia yang memberikan kebebasan kepada manusia dan kehidupan bagi segala makhluk, dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan di palungan.

Lihatlah apa yang biasanya ada di kandang. Hewan di kandang menjadi santapan kita. Ia yang dibaringkan di palungan menjadi santapan rohani bagi manusia. Siapakah bisa mengerti?

Lembu, kambing dan domba mengenal pemiliknya. Keledai mengenal palungannya. Kita tidak berbeda dari mereka. Ada percikan ilahi, dorongan roh, yang menggerakkan kita kembali kepada sumber dari segala sumber kehidupan.

Kristus datang dari atas ke bawah agar kita bisa naik dari bawah ke atas. Masih ingatkah keledai yang dibawa kepada Tuhan? Kita adalah keledainya. Biarkan Ia mengendarai kita dan kita akan diringankan. Biarkan ia mengarahkan langkah hidup kita dan kita tidak akan tersesat.

2

Kristus Tuhan dilahirkan sebagai manusia supaya kita menjadi serupa atau sama dengan Kristus. Agar menjadi sama dengan Kristus, kita perlu dilahirkan kembali, dilahirkan kembali sebagai roh. Roh adalah siapa kita yang sesungguhnya.

“Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” (Yoh 3:8)

Kita belum akan sepenuhnya bebas dari penderitaan atau belum hidup dalam kepenuhannya sebelum kita dilahirkan kembali sebagai roh. “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak melihat Kerajaan Allah.” (Yoh 3:3)

Agar bisa dilahirkan dari roh, lepaskan apa saja yang bukan diri Anda. Itu tidak berbeda dengan mengosongkan diri agar Kristus dilahirkan dalam diri kita.

Demikianlah kita berlatih. Tanggalkan segala hal yang bukan diri Anda yang sebenarnya.

Apakah Anda adalah tubuh? Lepaskan. Apakah Anda gagasan, keyakinan, dogma di benak Anda? Lepaskan. Apakah Anda emosi atau perasaan? Lepaskan. Apakah Anda Ego? Lepaskan. Apakah pasangan Anda adalah Anda? Lepaskan. Apakah uang, materi, kekuasaan dan semua Anda miliki adalah anda? Lepaskan. Apakah ingatan, kehendak, harapan, itu semua adalah Anda? Lepaskan.

Lepaskan tubuh, batin, dan jiwa Anda. Lepaskan kelekatan dan kebencian pada segala hal. Lepaskan konsep “aku” dan “milikku”. Lepaskan semua yang anda kenal.

Lalu apa yang tersisa? Satu-satunya yang tinggal adalah “kesadaran murni”, “keilahian”, “Inti Ketuhanan”. Itu adalah nama lain dari “roh”. Roh dilahirkan dalam “suwung”, “kenosis”. Itulah “fondasi Tuhan”, “fondasi keberadaan” kita. The groundless ground of being is the groundless ground of God. Keduanya tidak berbeda.

Lahir dari roh membawa kebebasan yang penuh sukacita.

Lahir dari roh, membuat kita hidup penuh damai, bersaudara, bersatu, harmoni, melampaui sekat-sekat agama, suku, ras, golongan.

Lahir dari roh membuat cinta, welas asih, dan keadilan mekar dalam hidup kita.

Tinggallah “di” situ dan jadilah “itu”. Di situlah tempat “kelahiran kembali”. Kristus dilahirkan pada dasar keberadaan kita, dalam “kenosis”, “suwung”. Itulah “fondasi beberadaan”, “fondasi Tuhan”. Pada saat Kristus dilahirkan, kita pun dilahirkan kembali. Pada saat kita dilahirkan kembali, Kristus dilahirkan dalam diri kita.

Itu hanya terjadi “saat ini”, “seketika”. Amin.*