Category: Dialogue


“Meditasi dengan sikap Sadar-Responsif menembus seluruh memori, apa yang saya pikirkan selama ini dibawah sadar dan apa yang hendak dilakukan. Rasa penderitaan justru benar-benar terjadi pada sesi ini. Beberapa hari saya lakukan meditasi Sadar-Responsif sekitar 2-3 jam sekali. Bonusnya: saya cepat sekali membaca buku yang selama ini sulit saya baca (misalnya, buku Habermas ttg diskursus hukum).”

Salam Meditasi

Perkenalkan nama saya ASP, tinggal di Depok pinggiran perbatasan dengan Pamulang Tangerang Selatan. Aktif dalam pengetahuan Berdesa, baik menulis buku atau fasilitasi pelatihan BUM Desa di beberapa Desa dan perusahaan penyelenggara CSR dengan Desa.

Metode Meditasi Rumah Keheningan senyatanya ringkas dan mudah dilakukan pada semesta-fisik. Saya mengalami Kecanduan Berpikir yang parah. Ketika situasi menjelang pandemi saya berkeliling di sebagian desa di Jatim dan Jateng. Kepanikan melanda di Desa. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk mengatasinya saya melakukan olah napas sebisanya tapi tetap tidak tahu arahnya kemana.

Tanpa sengaja saya melihat status WA dari Rurit (teman saya kuliah di FH Unair Surabaya). Ia ekspos tentang tempat yang nyaman untuk menulis dan penulisan status tentang beberapa hal berkaitan dengan meditasi.

Singkat cerita, bergabunglah saya dengan grup meditasi Rumah Keheningan.

Episode 1 dan Interstisi 1. Saya hanya melakukan meditasi dengan olah napas dari hidung. Karena memang tidak ada arahan melakukan olah napas yang rumit. Napas dan napas saja. Berulang kali saya membaca tulisan filsafat Romo Sudri pada episode 1. Beliau mengutip Teilhard de Chardin. Pembalikan status atas Diri: manusia spiritual yang berpengalaman sebagai manusia. Pada episode pertama ini saya menghabiskan waktu dengan membaca tulisan Romo Sudri di blog atau websitenya.

Episode kedua. Meditasi dengan sikap Sadar-Responsif menembus seluruh memori, apa yang saya pikirkan selama ini dibawah sadar dan apa yang hendak dilakukan. Rasa penderitaan justru benar-benar terjadi pada sesi ini. Beberapa hari saya lakukan meditasi Sadar-Responsif sekitar 2-3 jam sekali. Bonusnya: saya cepat sekali membaca buku yang selama ini sulit saya baca (misalnya, buku Habermas ttg diskursus hukum). Dan mulailah pula saya secara otomatis belajar menyimak dan menerjemah suara pengantar meditasi Deepak Chopra 21 Days of Abundance. Uniknya, seluruh pengalaman olah napas seperti meditasi tasawuf-jawa (kejawen), pawukon (ilmu menghitung hari) dan kerisologi keluar begitu saja. Saya sampai takjub tapi tetap penasaran mau kemana arah meditasi ini.

Episode 3, Interstisi 2. Jeda-Keheningan membuat saya mulai mengenal Kesadaran-Mur ni. Pada waktu mengalami Jeda-Keheningan entah kenapa muncul suara tunggal. Misalnya, “sebut nama A”, “ia akan kontak penulisan buku”, “orang itu akan transfer membeli buku”, “ia sakit tapi tidak kena santet”, “dua orang yang bermusuhan itu akan akur”, “almarhum orang tua menunggu do’amu”, “batinkan supaya orang itu mendapatkan pekerjaan”, “lihat tanaman yang berhubungan dengan tombak pusakamu”, dan lainnya. Saya lupa apalagi suara semacam itu pada waktu menahan napas. Hadir sendiri. Tapi uniknya, saya tidak merasa kaget seperti halnya kalau saya melakukan meditasi kejawen (sedulur papat kalima pancer dlm Serat Wirid Hidayat Jati dll).

Sound Healing dan Root Chakra sungguh awalnya saya tidak bisa memahami. Tapi saya meditasi dengan menghadirkan Musik kedalam Diri. Bukan menghadirkan Aku kedalam Musik karena Saya pasti kaget mendengar suara belnya ditengah konsentrasi. “Teng…!!!” 😃😃 Maaf Romo, suara belnya sudah pas, hanya saja saya kaget. Maklum, beda tatkala mendengar suara drum Metallica.

Episode 4 ENERGI KESADARA dan Interstisi 3 JALAN PENCERAHAN paling berat. Olah napas paling panjang. Bisa 1 jam hanya pemanasan. Setelah itu saya bisa tahan 1 jam melakukan meditasi dengan napas lancar. Dan saya menziarahi diri sendiri dengan mengukur berapa skor mental? Awalnya saya cecap rasa dan menilai diri sebagai pemarah. Lalu mulai menapak jalur menuju skor afirmasi (cq David R Hawkins).

Kemudian Saya lanjutkan dengan SOUND HEALING dan ROOT CHAKRA.

Suatu malam saya meditasi dengan suara musik itu, metode ini akan menghasilkan bonus berupa gerak-tubuh-otomatis. Kedua tangan, tubuh dan kepala meliuk-liuk tanpa kendali, dan…. saya menyentuh bagian tubuh. Sakit. Tapi setelah itu beberapa penyakit nyeri pada punggung, kepala dan lainnya, reda. Belakangan saya memaknai musik Root Chakra itu dan meditasinya bisa membuka chakra dasar sampai dengan chakra mahkota tanpa bersusah payah mempelajari Yoga. Entah benar atau tidak mengenai hal ini tapi bisa saja diperkaya dengan belajar chakra.

Iseng saya coba melihat orang lain dari jarak jauh. Maklum, selama ini cuma di rumah aja. Saya bayangkan sosok orang itu hadir dlm pikiran seperti menghadirkan musik SOUND HEALING dan Root Chakra dalam diri. Terlihat samar orang itu mengalami hal kurang lebih sama dengan saya. Dan ia kaget kok saya tahu? Saya juga kaget karena tebakan saya kebetulan tepat. Nah setelah dua hari kemudian ia mulai reda rasa nyerinya setelah saya asal sampaikan melalui chatting (WA): “pejam mata, biarkan tubuh gerak sendiri”. Saya berhenti mengisahkan disini tentang hal ini karena saya khawatir lulus meditasi Rumah Keheningan membuat saya dikira Dukun baru era pandemi covid-19.

Episode 5 semakin memudahkan banyak ide baru dan dorongan suara dari dalam untuk melakukan sesuatu. Entah memberi kopi pada tetangga dll. Dharma kecil-kecilan.

Interstisi 4 memudahkan penyatuan dengan semesta. Bukan semesta-fisik. Dunia wangsit semakin banyak hadir. Tapi kadang saya juga tidak mendengar suara dari dalam. Tubuh saya meliuk-liuk lagi. Tanda tubuh sedang tidak sehat. Terutama, bagian leher dan kepala. Pemikiran menarik pada Interstisi 4 adalah menguatkan pemahaman saya tentang keris. Penyatuan meteorit, unsur besi, baja, tanaman dedaunan hijau lebar (syarat punya pusaka tombak), dan unsur-unsur dalam tubuh. Dengan cara ini, keris dan tombak bukanlah benda klenik tapi benda yang saya refleksikan.

Episode 6 Meditasi Berjalan Kaki. Telapak kaki dan kepala memaknai bhumi dan langit. Rasional setelah olah nafas sambil jalan kaki. Untuk menghindari tetangga menyangka saya sedang gila atau kerasukan jin, maka saya pura-pura jalan kaki di lapangan, melihat rumput, sambil menunggu buka puasa. Dan malam hari setelah suara tarawih mulai surut, saya jalan kaki merasakan getaran bhumi dan langit. Berakhir dengan diam. Meditasi duduk. “LANGIT DAN BHUMI BERNAPAS UNTUK-KU, begitupula sebaliknya”. Ah…ini kan manunggaling kawula-gusti yang terjelaskan dengan mudah. 👍 Kesadaran murni utk mengenali potensi tanpa batas.

Episode 6 dan 7 menurut saya fokus pada penggalian kemampuan diri. Kemampuan tanpa batas, tatkala terhubung dengan semesta, dan terus menerus diuji di Realitas-Dinamis. Pemahaman New-Normal ini penting untuk selalu mendengar dan melakukan sesuatu secara baru.

Episode 6 dan 7 tak akan maujud apabila saya tidak melakukan meditasi sebagaimana pada episode 1-5.

Begitulah meditasi ini saya jalani dengan berbagai kesan.

Terima kasih

ASP

On Knowledge, Being and Consciousness (Tentang Pengetahuan, Mengada dan Kesadaran)

  • Q. I cannot have any experience of how beingness came into being because I have no knowledge of what existed before being.
  • M. This knowledge is very simple and, at the same time, very profound. Who will know all this process, the appearance of the knowingness, and finally its disappearance? The one who understands this reaches the state of Sat-Guru, but an ordinary person cannot understand this. Sat-Guru is not the child of human parents. To know these secrets, to understand these secrets, you surrender to that very principle “I Am,” and that consciousness alone will lead you to this. Presently, stabilize in the consciousness. If you don’t do that, your very concepts will be very dangerous to you – they will throttle you to death. The knowledge you are is the source of all energy, the source of all Gods, of all types of knowledge. Having heard these talks, you need not come again, you have only to abide in that conscioussness you are, that very dynamic principle because of which everything is. Stabilize yourself therein. Confirm your stability there. You are only that. This is the simplest method: you know you are, just be there.

 

  • T. Saya tidak mempunyai pengalaman bagaimana mengada menjadi ada karena saya tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang lebih dulu ada sebelum mengada.
  • M. Pengetahuan ini sangat sederhana dan sekaligus sangat mendasar. Siapa yang mengetahui semua proses ini, kemunculannya rasa tahu dan akhirnya kelenyapannya? Seseorang yang memahami ini mencapai tahapan Sat-Guru, tetapi orang biasa tidak bisa memahami ini. Sat-Guru bukanlah anak dari orang tua manusiawi. Untuk mengetahui rahasia ini, untuk memahami rahasia ini, Anda musti berserah pada prinsip utama “Aku” (I Am), dan bahwa kesadaran (consciousness) itu sendiri akan membawa Anda ke sini. Sekarang, tinggallah dalam kesadaran. Apabila Anda tidak melakukannya, konsep-konsep Anda akan sangat membahayakan diri Anda—mereka akan menggiring Anda menuju kematian. Pengetahuan sebagai Anda adalah sumber semua energy, sumber konsep Tuhan-tuhan, sumber semua jenis pengetahuan. Setelah mendengar semua pembicaraan ini, Anda tidak perlu datang lagi; Anda hanya perlu menceburkan diri pada kesadaran siapa Anda, kesadaran sebagai prinsip dinamis karena semua adalah kesadaran. Stabilkan diri Anda di sana. Pastikan kestabilan Anda di sana. Anda hanyalah itu. Ini adalah metode paling sederhana: Anda tahu siapa Anda, beradalah di sana.

(Prior to Consciousness – Talks with Sri Nisargadatta Maharaj Edited by Jean Dun, Hal. 75-76)

Belajar dari tradisi lain, termasuk dari tradisi Buddha, dan mengajarkannya kepada umat Katolik bisa menjadi batu sandungan bagi sebagian orang, baik awam maupun klerus. Namun bagi sebagian yang lain, cara ini justru memperkaya penghayatan religius dan spiritual, memperkaya dialog teologis agama-agama, memperkaya gerakan bersama untuk penegakan keadilan dan merawat Ibu Bumi.
Berikut dialog Pastor St. Ferry Sutrisna Widjaja (Eco Camp Bandung) dan Romo J Sudrijanta (Eco Intercultural Camp Megamendung) tentang pentingnya dialog inter-religius.
===
Salam hormat. Pagi ini saya terbangun dgn gelisah.
Tahun 2015 saya jumpa Mohammad Zaim seorang Muslim asal Jatim yang belajar agama Buddha selama lebih dari 5 tahun di Biara Plum Village di Perancis yang dipimpin Master Zen Thich Nhat Hahn antara lain karena seorang gurunya di pesantren mengatakan kalau Zaim ingin menjadin Islam yang sejati belajarlah Buddhisme.
Sejak tahun 2015 tsb saya juga belajar Buddhisme dan sering kontak dengan para biksu dari berbagai tradisi dan bbrp kali ikut retret Buddha. Saya sempat juga ikut ziarah ke Bhutan dengan rombongan yang setengahnya Katolik dan setengahnya Buddhist ditemani biksu dan rinpoche dari Bhutan. Saya mengalami diperkaya oleh  tradisi Buddha dan mengalami menjadi lebih memahami agama dan iman Katolik yang saya yakini.
Saya menemukan bahwa Paul F. Knitter seorang awam teolog Katolik yang dihargai bahkan berani menerbitkan buku berjudul “Without Buddha I could not be a Christian”.
Saya sangat sadar bahwa pengalaman saya ini belum tentu bisa diterima di kalangan Katolik. Ada banyak yang mengatakan untuk semakin menjadi Katolik tidak perlu belajar dari tradisi lain. Cukuplah belajar dari tradisi alkitab dan Yesus Kristus. Ada yang mengatakan bahwa seorang imam Katolik dilarang untuk mengajak umat Katolik untuk mempelajari tradisi agama lain sebagai salah satu cara untuk memperkaya penghayatan iman Katolik.
Ada juga yang mendukung saya untuk belajar dari tradisi agama lain bukan hanya Buddha tapi juga Islam, Hindu, Tao, Konghucu karena menjadi Katolik dipanggil untuk menjadi inter-religious. Ada juga yang mengatakan kita bahkan dipanggil untuk berani memasuki dialog teologis dengan tradisi agama lain untuk saling memperkaya.
Saya sampai sekarang masih meyakini iman Katolik namun saya mengalami bahwa keyakinan iman pribadi dan praktek keagamaan saya diperkaya oleh berbagai tradisi khususnya dari tradisi Buddha.
Semoga pengalaman iman pribadi ini tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain melainkan memperkaya kehidupan antar umat beriman dan beragama di bumi yang satu ini.
Inilah yang saya yakini juga dari kesadaran ekologis untuk merawat rumah kita bersama.
Pastor Ferry
===

Pastor Ferry yang baik,

Maaf baru bisa punya kesempatan longgar untuk membalas WA.

Pastor menulis, “Saya sampai sekarang masih meyakini iman Katolik namun saya mengalami bahwa keyakinan iman pribadi dan praktek keagamaan saya diperkaya oleh berbagai tradisi khususnya dari tradisi Buddha.”

Pengalaman Pastor sejalan dengan dekrit 4 Kongregasi Jenderal (KJ) Serikat Yesus ke-32 (tahun 1974/1975) dan diperkuat lagi dalam dekrit 5 Kongregasi Jenderal Serikat Yesus ke 34 (tahun 1995). Pesannya adalah “menjadi seorang religious dewasa ini haruslah menjadi inter-religious”.

Tentang dialog dengan Budhisme, KJ ke 34 menulis begini:

“15. Buddhism, in its many forms, is a major religion influencing the lives of millions of people around the world. The Four Noble Truths and the Eight-Fold Path of the Buddha propose a view of this world based on its essential inadequacy and a way of life which, through the practise of ethical discipline, wisdom and meditation, leads to a state of inner liberation and spiritual enlightenment. Buddhism calls its followers to a selfless universal compassion for all living creatures; it has a special appeal for contemporary men and women seeking a true, personal spiritual experience. Dialogue with Buddhists enables Christians to join hands with them to face the basic frustration so many feel today and address together problems of justice, development and peace; in addition it invites Christians to rediscover the contemplative riches within their own tradition.” https://www.scu.edu/ic/programs/ignatian-tradition-offerings/stories/decree-5-gc-34-interreligious-engagement.html

Dengan belajar tradisi lain, kita akan diperkaya untuk memahami lebih mendalam tradisi kita sendiri. Dengan cara demikian, kita juga akan memperkaya tradisi lain.

Belajar dari tradisi lain dan kembali lagi ke tradisi di mana kita berasal adalah cara menjalani olah rohani yang jelas tidak bertentangan dengan ajaran Katolik, tetapi justru sangat Katolik. Santo Ignatius menulis dalam prinsip “Asas dan Dasar” dalam Latihan Rohani (nomor 23), agar kita menggunakan segala sarana dan memilih mana yang lebih (magis) membawa kepada kemuliaan Tuhan.

Menjadi inter-religious pada jaman ini adalah sarana dan jalan magis untuk kemuliaan Tuhan. Begitulah dalam bahasa para pengikut Ignatius.

Mereka yang tidak paham, juga dari kelompok para Jesuit sekalipun, tentu karena tidak mengerti inti kekayaan mistikal Ignatian, yang berarti juga tidak mengerti kekayaan tradisi gereja Katolik, selain karena malas dalam pencarian dan serba dangkal dalam hidup dan pemahaman.

Saya juga pernah menulis soal dialog inter-religious dengan judul “Beyond Religion. Kalau-kalau berminat, silahkan buka di link ini. https://meditativestate.wordpress.com/2016/12/13/beyond-religion/

Salam hangat.

Peace n Joy

J. Sudrijanta

“Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW.”

Apakah bisa dijelaskan gambaran identitas asali kita dalam terang ajaran Buddha, Katolik/Kristen dan Islam?

Sidharta Gautama hidup pada abad 5 sebelum masehi, Yesus hidup pada abad 1 masehi, dan Muhammad hidup pada abad 6 dan 7 masehi. Ketiganya adalah orang yang berbeda yang hidup pada tempat dan jaman yang berbeda. Tetapi Buddha, Kristus dan Nur Muhammad hidup melampaui ruang dan waktu. Ketiganya menunjuk pada identitas asali yang tidak berbeda, meskipun tidak sama menurut doktrin agama para penganutnya.

Menurut Buddhisme, semua orang bahkan semua makhluk memiliki Hakikat Buddha. Buddha adalah makhluk yang tercerahkan dan Hakikat Buddha adalah benih kesadaran atau benih pencerahan. Thrangu Rinpoche (2007, Buddha Nature and Buddhahood: the Mahayana and Tantra Yana) melihat kesatuan antara kearifan (wisdom) dan kekosongan (emptiness) sebagai Hakikat Buddha. “Kesatuan antara kearifan dan kekosongan adalah esensi dari ke-Buddha-an atau Hakikat Buddha (Sansekerta: Tathagata-garbha), di situlah terdapat benih atau potensi ke-Buddha-an. Benih ini ada dalam setiap makhluk dan karena itulah setiap makhluk memiliki potensi mencapai ke-Buddha-an.”

Yesus pernah membuka identitas asalinya sebagai indetitas dirinya yang sesungguhnya ketika Ia mengatakan, “Before Abraham was, I am.” (Yohanes 8:58) Bagaimana Ia bisa mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada? Pernyataan berikut ini tidaklah berbeda, “Sebelum dunia ini ada, Aku sudah ada. Setelah alam semesta ini lenyap, Aku tetap ada.” Yesus hendak menyampaikan kebenaran tentang identitasNya yang sesungguhnya, yang juga adalah identitas semua orang, “I am who I am” (“Aku adalah aku”.)

Identitas asali Yesus sebagai Kristus Tuhan, tidak berbeda dari identitas Yahweh dalam Perjanjian Lama. Allah berfirman kepada Musa: “AKU ADALAH AKU“ (“I am who I am”.) Lagi FirmanNya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”(Keluaran 3: 14)

“Aku adalah aku” menunjukkan identitas asali Yesus. Ia pertama-tama bukanlah “Anak Manusia”, laki-laki”, “anak maria dan Yosef”, “seorang Yahudi”, melainkan pertama-tama ia adalah “Anak Allah”, “kepenuhan kasih Allah”, “kesadaran ilahi yang menyelamatkan”, “kesatuan hakikat keallahan dan hakikat kemanusiaan”.

Dalam Islam, Nur Muhammad ada sebelum segala sesuatu yang lain yang tercipta ada. Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad, adalah pangkal atau asal dari ciptaan. Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Ana min nurullaahi, wa khala kuluhum min nuuri”—“Aku berasal dari cahaya Allah dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.” Nur Muhammad di sini menunjuk pada cahaya kesadaran ilahiah di balik setiap wujud di alam semesta ini.

Jadi Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW. Buddha menunjuk pada kesadaran yang tercerahkan, sama seperti Kristus menunjuk pada kesadaran ilahi yang menyelamatkan dan Nur Mohamad menunjuk pada kesadaran Allah yang meresapi setiap wujud dalam bentuk manusia dan seluruh isi alam semesta.

Apabila kita melekatkan diri pada dunia wujud dan lupa akan identitas asali kita, kita mengira, “Aku adalah ini atau itu.” Itulah yang disebut dengan “identitas bentuk”. Padahal, sesungguhnya “Aku adalah aku.” Titik. “Aku adalah aku” pada hakikatnya tidak berbeda dari “kesadaran”, “keheningan” atau “kekosongan.” Itulah yang disebut “identitas asali melampaui bentuk”.

Darimanakah timbul “identitas bentuk” itu? “Identitas bentuk” lahir dari kesadaran dualistik. Kesadaran dualistic selalu melekat pada objek dan terkungkung oleh subjek (ego, self), suatu kesadaran yang terkondisi. Kesadaran yang terkondisi selalu membawa ego atau keakuan dan melekat pada dunia wujud; kesadaran bebas keterkondisain atau kesadaran yang tercerahkan bebas dari ego atau keakuan dan melampampaui dunia wujud. “Aku adalah Aku.” Titik. Tidak ada atribut dari dunia wujud yang ditempelkan padanya sebagai penopang “eksistensinya”.

Jadi, sesungguhnya kita semua tidak berbeda. Kita adalah makhluk spiritual yang punya pengalaman sebagai manusia; bukan sebaliknya. Kita pertama-tama adalah ‘kesadaran’ (awareness) yang memiliki tubuh dan batin, bukan sebaliknya. Kita semua adalah “roh” atau “kesadaran” yang bertubuh, bukan sebaliknya. Itulah “Hakikat Buddha”, “Hakikat Kristus”, atau “Hakikat Nur Muhammad SAW”. Dalam dunia bentuk, kita memiliki begitu banyak perbedaan; dalam dunia tanpa-bentuk, kita sesungguhnya tidak berbeda. Identitas tanpa-bentuk itulah identitas asali kita. Dan “kesadaran” adalah vibrasi paling dekat dengan ketiganya.*

TENTANG NUR MUHAMMAD SAW
(Tanggapan Mas Abi Bhadra Maulana)

Penjelasan Nur Muhammad Romo benar-benar bening.

Bahwasanya Tuhan menyerukan di Surat Al Ahzab, “Innallah wa malaaikatahu yusholuna alaa nabi, yaa ayuhaladziina aamanu sholualaihi wasalimu tasliima” (“Sesungguhnya Allah dan para malaikat mnyampaikan sholawat kepada nabi, maka dari itu wahai orang-orang yang beriman, sampakainlah sholawat dan salam keselamatan padanya.”

Ayat itu umumnya hanya dilihat sebagai perintah ber-sholawat dan kemudian menjadi ritual umat islam mendendangkan sholawat. Dalam konteks fiqh ayat ini unik, karena Tuhan menyatakan sendiri bahwa Dia dan para malaikat sudah melakukan sholawat kepada nabi, lalu Tuhan kemudian memerintahkan orang-orang beriman (bukan hanya orang-orang muslim) utk bersholawat.

Tapi dalam alam hakekat ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang Muhammad sebagai makhluk genologi tetapi sebagai nur, cahaya, kesadaran. Karenanya dalam adab sholat wajib ada sholawat. Doa dikatakan tidak menembus langit tanpa sholawat. Mengapa? Karena nabi Muhammad yang di sholawati bukan seseorang atau entitas yang berbangsa Quraisy keturunan Abdul Mutholib, melainkan yang meresap pada semesta. Dalam bahasa Bernadette Roberts, ada sesuatu ‘Yang Tak-Tersebutkan’ atau ‘Yang Tak-Diketahui’ yang mengisi segala yang ada dan ruang di antara segala yang ada, yang dari sanalah segala sesuatu berasal, hidup, bergerak, dan kembali. Inilah Nur Muhammad yang meresap dan melingkupi segala yang ada. Sholawat adalah afirmasi seorang Muslim dalam olah spiritual dan asah kesadaran, Nur Muhammad.*

Tips berikut ini saya praktikkan bagi diri sendiri. Apabila Anda merasa cocok, silahkan mengambil dan mempraktikkannya.

1. Pada saat Anda merasakan ketidaknyamanan (atau kenyamanan sebagai bentuk lain dari ketidaknyamanan), fisik dan/atau psikologis, sadari bukan hanya rasa ketidaknyamanan tetapi terlebih sadari “keakuan” Anda yang mengatakan “Aku tidak nyaman; ketidaknyamanan itu adalah milikku.” Janganlah pikiran menciptakan “si aku”.
2. Janganlah bertanya mengapa Anda merasakan ketidaknyamanan itu untuk mencari sebab-sebabnya, tetapi sadarilah ketidaknyamanan itu dengan perhatian tak terbagi dan pahamilah bagaimana proses ketidaknyamanan itu bisa terjadi pada batin Anda.
3. Jadilah Kesadaran Murni itu sendiri dan kemudian biarkan Kesadaran Murni merasakan ketidaknyamanan yang bukan lagi menjadi “milik keakuan” Anda.
4. Sadariah bahwa kondisi fisik atau psikologis Anda hanyalah salah satu dari banyak lapisan yang membentuk siapa Anda, tetapi itu semua bukanlah Hakikat Anda. “Hakikat Anda yang tak-berhakikat” tidak lain adalah Kesadaran Murni itu sendiri.
5. Rasakan bahwa Kesadaran Murni adalah seperti ruang yang mahaluas, tanpa bentuk, tanpa inti. Kesadaran Murni ini bukan berasal dari apa saja yang bisa Anda kenali dengan pikiran.
6. Janganlah sekali-sekali berpikir, berbicara atau bertindak dengan tubuh Anda di luar Kesadaran Murni. Apabila pikiran, kata dan tindakan Anda terpisah dari Kesadaran Murni, rasakan ketidaknyamanan pada tubuh dan batin Anda. Jadilah kembali Kesadaran Murni yang merasakan ketidaknyamanan Anda.
7. Dari ruang Kesadaran Murni yang mahaluas, biarkan pikiran, kata-kata dan tubuh Anda bekerja semata-mata sebagai alat ataupun ekspresi dari Kecerdasan Ilahi yang timbul dari dalam.
8. Janganlah coba-coba untuk menyembuhkan atau mengubah keadaan batin Anda, tetapi cukup bertahanlah untuk tinggal bersama ketidaknyamanan Anda dalam Kesadaran Murni, tanpa menambah atau mengurangi.
9. Biarkan kondisi fisik dan mental Anda yang Anda sadari dengan perhatian total tak-terbagi mengubah Anda—membuat Anda keluar dari identifikasi dengan tubuh fisik dan mental–hingga energi ketidaknyamanan sepenuhnya mekar dan layu.
10. Ambillah waktu yang cukup untuk hadir sepenuhnya pada bentuk-bentuk ketidaknyamanan Anda–betapapun kuat atau lemah, kasar atau halus. Perhatikan di tingkatan mana Anda hadir—di tingkatan kesadaran pikiran atau Kesadaran Murni.
11. Tunggulah hingga Kesadaran Murni terbangkitkan secara alamiah di balik rasa ketidaknyamanan dan rasakan bahwa Kesadaran Murni atas ketidaknyamanan adalah Kebebasan dari rasa ketidaknyamanan.
12. Lakukan praktik Kesadaran Murni ini terus-menerus hingga setiap beban ketidaknyamanan fisik dan/atau psikologis dapat ditanggung dengan relative ringan atau Anda dibebaskan sama sekali dari belenggu ketidaknyamanan.

Let us be grounded in the Land of Freedom in every single moment!
Breathe n Smile!

js

Berikut adalah dialog antara DS dan JS.
===
DS: Romo Sudri yang baik, Selamat Paskah Romo.
JS: Selamat Paskah juga Pak Djohan.
DS: Semalam saya mengikuti Misa malam Paskah di gereja Santa dan mendengarkan homili perihal kematian dan kebangkitan dari romo.

Romo mengajak umat untuk mampu melepaskan ke-4 pokok belenggu diri seperti yang romo gambarkan telah terjadi pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, namun hingga akhir homili saya terus menunggu penjelasan romo perihal relasinya dengan ajaran utama Yesus: Cinta Kasih.

JS: Pak DS, Anda persis tidak menangkap intinya. Saya berbicara tentang “Kristus”, bukan “Jesus”. Yang saya tekankan dalam homily malam Paskah adalah kematian dan kebangkitan “Kristus”, bukan kematian dan kebangkitan “Jesus”. “Kristus” yang dimaksud di sini adalah “hakikat jiwa universal yang bersatu dengan Allah.” “Kristus” inilah yang mati dan dibangkitkan. Pada moment Inkarnasi, Kristus telah melakukan pelepasan atau pengosongan diri. “KesetaraanNya dengan Allah” atau “kesatuanNya dengan Allah Bapa di dalam diri Allah Bapa” ditanggalkan. Pada moment kematianNya, pelepasan itu terjadi lagi. Bedanya, pada moment kematian, yang dilepaskan adalah “KesatuanNya dengan Allah di dalam keakuannya sebagai manusia”.

Cinta Kasih dan keagungan hidupNya memukau banyak orang. Dari mana Cinta Kasih dan keagungan hidupNya itu bersumber? Apa kuncinya? Kuncinya adalah Kenosis atau pengosongan–diri sempurna dan relasi yang dalam dengan Allah BapaNya dalam keheningan doa. Tetapi orang sering kali hanya terpukau pada ajaran Cinta Kasih tanpa praktik pengosongan-diri dan praktik keheningan. Sikap ini adalah seperti orang yang tidak bijaksana yang menanam pohon dan segera ingin mendapatkan buahnya tanpa bersusah payah untuk merawat dan memupuknya. Maka menekankan aspek “pelepasan” menjadi penting di sini.

Kenosis atau pengosongan-diri sempurna pada moment Inkarnasi dan KematianNya ini sulit dipahami semua orang, termasuk mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus. KematianNya masih menjadi tragedy sampai sekarang karena tidak banyak dipahami orang, termasuk mereka yang merasa sudah mengenal Jesus Kristus.

DS: Bila “pelepasan belenggu” begitu penting, apa peran Cinta Kasih dalam proses pelepasan belenggu? Bahkan apakah pelepasan belenggu (diri sendiri) begitu penting sehingga mampu menisbikan Cinta Kasih?

JS: Dari pengalaman Anda sendiri, apakah ada Cinta Kasih bila tidak terdapat pelepasan kelekatan dan ego/keakuan?
Kristus berbeda dengan Anda dan saya. Kita memiliki potensi jatuh ke dalam dosa karena memiliki ego, sementara Kristus bebas dari ego sehingga bebas dari dosa. Tetapi Jesus Kristus masih memiliki keakuan (self) sebagai manusia selama Ia hidup di tengah dunia. Barangkali dimensi “self” dan “no-self” mewarnai hidupNya secara bergantian. Pada akhirnya hidupNya, keakuanNya itu dilepaskan secara permanen dan final di tiang Salib. Pengosongan diri Kristus secara total—-pada moment Inkarnasi, dalam hidup sehari-hari, dan pada moment kematian–adalah wujud Cinta KasihNya kepada Allah Bapa dan umat manusia. Tidak ada dualitas atau jarak antara pengosongan-diri dengan Cinta Kasih. Pengosongan-diri itu adalah Cinta Kasih; tidak ada Cinta Kasih tanpa pengosongan diri. Anda tidak bisa mengambil yang satu dan membuang yang lain.

DS: Saya merasa bahwa Yesus dalam Paskah jauh lebih besar dari itu. Bila Yesus fokus pada pelepasan belenggu diri maka Yesus hanya sederajat dengan Buddha, dimana dirinya (Sidharta, anak raja dengan kehidupan istimewa) yang amat terganggu (shock) dengan peristiwa-peristiwa kesengsaraan yang dilihatnya. Sebegitu terganggunya sehingga sebelum kesengsaraan itu (= pokok permasalahan) dikenalinya dengan benar, dibuatnya pernyataan bahwa kodrat hidup adalah kesengsaraan (dukka). Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan (diri sendiri) untuk melepaskan diri (sendiri) dari kesengsaraan. Siapapun yang sependapat dengan Buddha silahkan mengikuti latihan-latihan atau jalan-nya untuk lepas dari dukka.

Yesus juga amat terganggu dengan kesengsaraan namun hidup keseharian Yesus yang lebih dekat dengan kesengsaraan (cuma sebagai anak tukang kayu) mampu mengenali kesengsaraan dengan kedalaman dan perspektif yang luas sehingga Yesus tidak membuahkan solusi bagi diri-Nya sendiri namun solusi atau ajaran yang berbeda, dengan lingkup yang amat luas: CINTA KASIH . Sebuah kebenaran sejati.

Saya segera merasakan Yesus yang lebih besar dan lebih agung daripada Budha yang lebih egoistik. Apakah saya keliru?

JS: Pandangan Anda tentang Yesus dan Budha tentu saja benar 100% menurut keterkondisian Anda. Saya bisa memahami pandangan Anda.

Pemahaman orang tentang ajaran Yesus atau Budha—dan ajaran-ajaran lain–sangat dipengaruhi oleh tebal tipisnya kelekatan dan ego/keakuannya. Orang gampang mengunggulkan atau merendahkan suatu ajaran, menolak atau mengikutinya, seringkali tergantung pada kadar kelekatan dan ego/keakuannya itu sendiri.
Pandangan Anda umum ditemukan di kalangan Kristen dan Katolik. Tetapi pandangan Anda tentang Yesus dan Budha berbeda dengan pandangan saya.

Saya lebih tertarik mengenal Kristus bukan sebagai sosok pribadi yang hidup selama 33 tahun, tetapi Kristus yang melampaui sejarah, Kristus sebagai “hakikat jiwa universal” setiap manusia apapun agamanya. Terhadap Sang Budha, saya tidak tidak tertarik untuk mengenal Sang Budha sebatas sebagai seorang manusia, tetapi terlebih tertarik untuk mengenal dan menghargai “hakikat kebudhaan” dalam segala makhluk, seperti halnya saya tertarik untuk menemukan “hakikat kekristusan” dalam setiap orang.

Saya menemukan bahwa ajaran Cinta Kasih bukanlah ajaran khas agama Katolik atau Kristen, begitu pula ajaran Pengosongan-Diri atau Pelepasan-Diri bukanlah ajaran khas agama Budha. Pengosongan-Diri dan Cinta Kasih ada dalam setiap tradisi agama.

DS: Saya rasa dengan Cinta Kasih maka ke-4 belenggu itu menjadi nisbi dan sama sekali bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan, karena hanya melahirkan kerumitan yang membuat umat kebanyakan cuma terdiam tidak mengerti.

JS: Anda memiliki asumsi bahwa dengan mengembangkan Cinta Kasih, maka keempat belenggu–kelekatan pada body, mind and soul, termasuk kelekatan pada tuhan dalam ego/keakuan—bersifat nisbi.

Pernyataan Anda memiliki persoalan “metodologis”: bagaimana ada Cinta Kasih apabila terdapat kelekatan dan ego/keakuan? Bila ada ajaran yang mengatakan bahwa ada Cinta Kasih tanpa harus melepaskan kelekatan dan ego/keakuan, itu bukan ajaran Kristiani, juga tidak ada dalam ajaran spiritual dari semua tradisi religius yang lain.

Bagaimana kita, Anda dan saya sebagai orang biasa yang memiliki banyak kelekatan ini, bisa hidup dengan Cinta Kasih apabila kita memandang belenggu kelekatan itu bukan sebagai masalah? Pandangan Anda justru bertentangan dengan ajaran Kristus sendiri, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 17:33) “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anaknya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu.” (Lukas 14:26)

Anda menarik kesimpulan bahwa belenggu kelekatan tersebut bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan. Anda mengungkapkan alasannya, yaitu karena upaya untuk membersihkan diri dari kelekatan dan ego/keakuan hanya akan menambah kerumitan dan tidak bisa dimengerti.

Apabila Anda memandang “jalan pelepasan” terlalu rumit dan tidak bisa dimengerti, barangkali jalan pelepasan itu memang bukan jalan Anda sekarang. Tetapi apabila Anda mengambil kesimpulan bahwa “jalan pelepasan” itu adalah “jalan Budha” dan bukan “jalan Kristus”, pandangan Anda salah besar.

Kelekatan dan ego/keakuan adalah musuh terbesar Cinta Kasih. Cinta ada apabila kelekatan dan ego/keakuan tidak ada. Keduanya tidak bisa berjalan beriringan. Apabila orang-orang Kristiani merasa lebih unggul dari pengikut agama lain karena memiliki Cinta Kasih tetapi tidak melepaskan kelekatan dan ego/keakuannya, maka itu hanyalah omong kosong belaka.

Biarkan yang siap untuk mengerti akan mengerti dan yang tidak mau mengerti tetap tidak mengerti.

Peace n Blessings…

Romo, saat ini saya masih misa setiap minggu dan ikut membantu lingkungan /paroki. Tapi sesungguhnya sudah beberapa lama saya berpikir untuk tidak beragama saja. Saya menghargai ajaran kebajikan, kebijaksanaan dan kasih dari semua agama. Namun aturan-aturan keagamaan menurut pemikiran saya justru menjebak orang merasa diri sudah suci atau sebaliknya merasa dosa hanya karena tidak mengikuti aturan yang berlaku dalam agama yang dianutnya.

Hampir dua tahun ini saya tidak masuk kamar pengakuan. Hati kecil bergumul, antara kata-kata pastor yang mengingatkan untuk tidak menerima komuni kalau tidak bertobat dan kesadaran bahwa bukan pengakuan yang bisa membuat saya menghindari dosa.
Saya sering bersyukur dalam hati, bahwa saya pernah belajar memahami apa itu kesadaran (awareness). Dalam kehidupan sehari-hari dimanapun, dalam kondisi apapun, kekuatan kesadaran bisa mengendalikan tindakan dan pikiran-pikiran jahat yang bisa kapan saja muncul.

Kesadaran segera meredam emosi yang suka meledak bila keadaaan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Bahkan kekuatan kesadaran itu juga yang membuat saya bisa belajar mengurangi rasa sakit di beberapa bagian tubuh yang dipicu kondisi stress.

Belajar melepas kotoran-kotoran batin dan segala keinginan juga sangat membantu saya lebih tenang sehingga tidak salah-salah mengambil keputusan.

Pandangan seperti ini membuat saya merasa bukan agama yang menjadikan seseorang hidup lebih baik, melainkan hidup berkesadaran. Hidup berkesadaran adalah spiritualitas murni. Hidup berkesadaran inilah yang membawa kepada hidup tanpa-diri (no-ego/no-self) dan hidup tanpa-diri itulah yang menghasilkan tindakan-tindakan kebajikan. (NN)
===

Halo NN,
Terimakasih sudah berbagi pengalaman.

Apa yang Anda rasakan tidak keliru: bukan agama yang mengubah orang, tetapi hidup berkesadaran. Apabila agama ingin memberi kontribusi pada perubahan manusia secara mendasar, maka aspek kesadaran harus lebih dikembangkan. Sekarang ini yang dikembangkan masih kuat pada aspek ritual, intelektual dan institusional. Maka orang-orang beragama butuh lebih banyak pencerahan. Bisa jadi bukan orang yang tidak beragama yang lebih membutuhkan pencerahan, tetapi orang-orang yang beragama. Kehadiran kita di tengah komunitas beragama diharapkan memberi warna yang berbeda.

Love n Light,
js

Berikut adalah Berkah Kedamaian dan Cinta yang Agung dan Suci dari Bhante Sri Pannyavaro Mahathera bagi semua orang yang merayakan Natal 2014:

Romo Sudrijanta, perkenankan saya mengucapaan Selamat Natal 2014. Kelahiran Tuhan Yesus selalu mengingatkan saya akan spirit altruistik Bodhisattva untuk menolong semua yang menderita. Semoga semua kehidupan hidup dalam kedamaian. Saya Pannyavaro, Mendut.

Bhante Pannyavaro, terimakasih atas ucapan selamat dan berkah kedamaian yang Bhante Pannyavaro pancarkan kepada saya dan kepada segala makhluk. Saya melihat spirit altruistik Bodhisattva dalam diri Kristus timbul dari kontemplasi mendalam betapa manusia dan segala makhluk hidup terpenjara oleh Dosa, Dukkha dan Maya. Seperti halnya semua makhluk pada hakikatnya “Buddha”, dengan “Inkarnasi Kristus” saya diingatkan bahwa semua orang pada hakikatnya “Kristus”. Semoga semua manusia dan segala makhluk menjadi penjelmaan dari Kedamaian dan Cinta yang Agung dan Suci seperti Kristus atau Sang Buddha. Namaste! Sudrijanta, Jakarta.

Yth. Romo Sudri,

Saya sempat merasa ada kemajuan dengan tiap hari bermeditasi dan rutin berdoa termasuk doa rosario, doa mohon Roh Kudus. Ada pengamatan tentang gerak pikiran dan kemunculan emosi saya. Saya merasa lebih ringan dan punya harapan. Namun, dalam periode ini, ada juga efek samping yang saya rasakan, kemunculan mimpi-mimpi yang begitu kuat dan masih ada residu emosinya bahkan setelah saya bangun tidur. Ini saya alami juga waktu retret meditasi dengan Romo. Saya bertanya-tanya apakah saya telah melakukannya dengan cara yang tepat atau saya hanya menekan bawah sadar saya. Namun saya tetap berusaha menekuni olah kesadaran dan doa karena saya merasa dalam aktivitas sehari-hari saya bisa tenang.

Namun kemudian muncul pemicu kekhawatiran saya. Dalam upaya memantau proses SK saya, saya mendapati ketidakpastian yang mengkhawatirkan karena lambatnya dan ketidakpastian kinerja birokrasi pemerintah mengenai SK (saya sudah 6 bulan menunggu kabar SK sebagai dasar panggilan kerja secara resmi dan dari monitoring saya jika situasi tetap begini ada kemungkinan 18 bulan lagi seluruh proses baru selesai). Ada gerak pikiran dan emosi kekhawatiran yang kuat tentang bagaimana saya bertahan hidup di Jakarta dengan ketidakpastian ini, apa lagi yang bisa kamu lakukan, ayolah ini soal bertahan hidup. Sementara itu saya sudah berusaha mencari temporary job dan belum berhasil.

Saya masih melakukan meditasi dan doa tapi saya menemukan kehampaan yang menyesakkan. Berbeda dari kondisi saya dua tahun lalu, saat ini saya sama sekali tidak punya satupun hal-hal yang saya butuhkan untuk status hidup mapan dan mandiri: tidak ada kepastian status pekerjaan, beasiswa, penghasilan yang bisa dibanggakan, rumah yang layak, pasangan hidup, komunitas tempat bertumbuh, dll. Emosi mulai muncul tak terkendali. Lalu saya mengalami stagnasi. Saya merasa dalam kondisi tidak ingin melakukan apapun karena mempunyai harapan artinya berisiko kecewa secara mendalam.

Pada satu titik, saya menyadari mungkin inilah mekanisme bertahan diri (self-defence mechanism) yang begitu kuat untuk melindungi saya dari perasaan terluka/kekecewaan/kepahitan/ketakutan. Saya punya kecenderungan menarik diri jika saya merasa secara psikologis saya tidak aman dalam situasi tertentu. Misalnya acara reuni atau seminar yang dihadiri orang-orang yang punya segala simbol kesuksesan. Saya peka terhadap apa yang orang katakan dan apa yang orang tidak katakan dengan bahasa tubuhnya. Saya peka terhadap penolakan dan kegagalan. Saya seperti tanaman putri malu yang sangat sensitif terhadap rangsang dari luar. Pemicu masih punya pengaruh meskipun saya bermeditasi dan berdoa. Saya kira inilah penghalang dalam diri saya yang belum tuntas tertembus.

Mohon kiranya Romo dapat membantu saya.

Salam,
NS
—–

Dear NS,

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Pertama, sikap meditasi. Setiap kali cobalah mengecek apakah sikap Anda dalam meditasi sudah benar. Sikap meditasi yang benar seharusnya bebas dari “kebencian, keinginan dan ego”. Apabila ketiga hal tersebut muncul dalam meditasi, silahkan setiap kali disadari dan biarkan lenyap secara alamiah.

Kedua, tentang mekanisme pertahanan diri. Apa dari hidup Anda yang perlu untuk dilindungi kalau bukan tubuh fisik Anda dan hal-hal fisik lain untuk menopang kelangsungan hidup Anda seperti kepastian pekerjaan, pendapatan, rumah yang layak, dst? Tetapi seringkali kita bukannya mau melindungi tubuh dan hal-hal fisik lain yang kita butuhkan untuk menopang hidup, melainkan mau melindungi rasa nyaman psikologis atau kenikmatan psikologis yang melekat pada hal-hal fisik. Kenikmatan psikologis dijadikan hal yang lebih utama daripada kebutuhan fisik. Maka sering-seringlah berlatih untuk melampaui tubuh fisik dan hal-hal fisik lainnya. Tahapan kesadaran yang melampaui tubuh dan hal-hal fisik akan membebaskan Anda dari perasaan terluka, kekecewaan, kepahitan, ketakutan dan berbagai bentuk kepedihan.

Ketiga, lakukan pelayanan kepada sesama dan segala makhluk. Kecenderungan Anda untuk hanya memikirkan kepentingan Anda bukan hanya makin membuat Anda hidup dalam cangkang ego yang sempit dan membuat makin terasing dari dunia, tetapi juga membatasi kekuatan-kekuatan kehidupan yang mau mendatangkan kebaikan bagi Anda. Maka berlatihlah untuk setiap kali memberi atau berbagi kebaikan kepada sesama dan segala makhluk, melalui pikiran, kata-kata, sikap dan tindakan. Apabila Anda memberi berkah, maka berkah Anda otomatis bertambah. Anda hanya akan menerima sejauh mana Anda memberi.

Peace and Blessings,
js

NN, 34th, Palembang, peserta retret meditasi 2010. 

Sekarang saya baru mengerti mengapa kalau dulu saya sms atau email ke Romo meminta tolong karena saya tidak bisa berhenti menangis, Romo malah menyarankan saya untuk terus-menerus menangis tanpa memaksa diri untuk diam. Sekian lama saya tidak mengerti mengapa Romo menyarankan saya untuk melakukan hal itu. Menurut saya, terus-menerus mengikuti keinginan untuk menangis sama saja bunuh diri kehabisan energy. Kalau saya sudah menangis, terutama pada masa-masa dalam pergumulan dengan Mama, itu bisa menghabiskan waktu berhari-hari. 

Malam ini saya jatuh ke dalam lobang hitam tak berdasar yang kerap saya jumpai dulu, lobang hitam yang rasanya selalu membuat tidak ingin hidup. Tapi di sela-sela tangisan yang saya turuti itu ternyata saya sempat berjumpa dengan detik-detik di mana rasa sedih yang membuat saya menangis itu kehilangan sengatnya. Memang berlangsung sangat cepat, tapi juga terasa sangat gamblang. Itu muncul begitu saja tanpa terduga. 

Yang jelas malam ini saya melihat bahwa lobang hitam itu tidak lebih dari ciptaan pikiran. Saat pikiran terdiam, saat itu juga ia bukan apa-apa. Ia tak punya sengat untuk membuat saya merasa bahwa mati adalah solusi terbaik. Ia juga tak punya sengat lagi untuk membuat saya merasa sedih, tak berguna dan menangis tanpa terkendali. 

Catatan JS:

Kesedihan atau lobang hitam itu adalah bentuk formasi mental dan formasi mental apapun adalah manifestasi dari pikiran. Tapi untuk menangkap pikiran yang halus ini tidak semudah merasakan kesedihan atau lobang hitam (formasi mental) itu. Maka merasakan kembali sampai tuntas lobang hitam itu akan menolong menangkap si penciptanya. Itu seperti menangkap ekor ular (formasi mental) untuk menundukkan kepalanya (pikiran).