Category: Dialogue


“Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW.”

Apakah bisa dijelaskan gambaran identitas asali kita dalam terang ajaran Buddha, Katolik/Kristen dan Islam?

Sidharta Gautama hidup 5 abad sebelum masehi, Yesus hidup pada abad 1 masehi, dan Muhammad hidup pada abad 6 dan 7 masehi. Ketiganya adalah orang yang berbeda yang hidup pada tempat dan jaman yang berbeda. Tetapi Buddha, Kristus dan Nur Muhammad hidup melampaui ruang dan waktu. Ketiganya menunjuk pada identitas asali yang tidak berbeda.

Menurut Buddhisme, semua orang bahkan semua makhluk yang bernyawa memiliki Hakikat Buddha. Buddha adalah makhluk yang tercerahkan dan Hakikat Buddha adalah benih kesadaran atau benih pencerahan. Thrangu Rinpoche (2007, Buddha Nature and Buddhahood: the Mahayana and Tantra Yana) melihat kesatuan antara kearifan (wisdom) dan kekosongan (emptiness) sebagai Hakikat Buddha. “Kesatuan antara kearifan dan kekosongan adalah esensi dari ke-Buddha-an atau Hakikat Buddha (Sansekerta: Tathagata-garbha), di situlah terdapat benih atau potensi ke-Buddha-an. Benih ini ada dalam setiap makhluk dan karena itulah setiap makhluk memiliki potensi mencapai ke-Buddha-an.”

Yesus pernah membuka identitas asalinya sebagai indetitas dirinya yang sesungguhnya ketika Ia mengatakan, “Before Abraham was, I am.” (Yohanes 8:58) Bagaimana Ia bisa mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada? Pernyataan berikut ini tidaklah berbeda, “Sebelum dunia ini ada, Aku sudah ada. Setelah alam semesta ini lenyap, Aku tetap ada.” Yesus hendak menyampaikan kebenaran tentang identitasNya yang sesungguhnya, yang juga adalah identitas semua orang, “I am who I am” (“Aku adalah aku”.)

Identitas asali Yesus sebagai Kristus Tuhan, tidak berbeda dari identitas Yahweh dalam Perjanjian Lama. Allah berfirman kepada Musa: “AKU ADALAH AKU“ (“I am who I am”.) Lagi FirmanNya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”(Keluaran 3: 14)

“Aku adalah aku” menunjukkan identitas asali Yesus. Ia pertama-tama bukanlah “Anak Manusia”, laki-laki”, “anak maria dan Yosef”, “seorang Yahudi”, melainkan pertama-tama ia adalah seorang “Anak Allah”, “kepenuhan kasih Allah”, “kesadaran ilahi yang menyelamatkan”. Singkatnya, “Aku adalah aku” tidak lain adalah “kesadaran” itu sendiri.

Dalam Islam, Nur Muhammad tecipta sebelum segala sesuatu yang lain ada. Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad, adalah pangkal atau asal dari ciptaan. Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Ana min nurullaahi, wa khala kuluhum min nuuri”—“Aku berasal dari cahaya Allah dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.” Nur Muhammad di sini menunjuk pada cahaya kesadaran ilahiah di balik setiap wujud di alam semesta ini.

Jadi Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW. Buddha menunjuk pada kesadaran yang tercerahkan, sama seperti Kristus menunjuk pada kesadaran ilahi yang menyelamatkan dan Nur Mohamad menunjuk pada kesadaran Allah yang meresapi setiap wujud dalam bentuk manusia dan seluruh isi alam semesta.

Apabila kita melekatkan diri pada dunia wujud dan lupa akan identitas asali kita, kita mengira, “Aku adalah ini atau itu.” Itulah yang disebut dengan “identitas bentuk”. Padahal, sesungguhnya “Aku adalah aku.” Titik. Itulah yang disebut “identitas asali melampaui bentuk”.

Darimanakah timbul “identitas bentuk” itu? “Identitas bentuk” lahir dari kesadaran dualistik. Kesadaran dualistic selalu melekat pada objek dan terkungkung oleh subjek (ego, self), suatu kesadaran yang terkondisi. Kesadaran yang terkondisi selalu membawa ego atau keakuan dan melekat pada dunia wujud; kesadaran bebas keterkondisain atau kesadaran yang tercerahkan bebas dari ego atau keakuan dan melampaui dunia wujud. “Aku adalah Aku.” Titik. Tidak ada atribut dari dunia wujud yang ditempelkan padanya sebagai penopang “eksistensinya”.

Jadi, sesungguhnya kita semua tidak berbeda. Kita pertama-tama adalah ‘kesadaran’ (awareness) yang memiliki tubuh dan batin, bukan sebaliknya. Kita semua adalah “roh” atau “kesadaran” yang bertubuh, bukan sebaliknya. Itulah “Hakikat Buddha”, “Hakikat Kristus”, atau “Hakikat Nur Muhammad SAW”. Dalam dunia bentuk, kita memiliki begitu banyak perbedaan; dalam dunia tanpa-bentuk, kita sesungguhnya tidak berbeda. Identitas tanpa-bentuk itulah identitas asali kita.*

TENTANG NUR MUHAMMAD SAW
(Tanggapan Mas Abi Bhadra Maulana)

Penjelasan Nur Muhammad Romo benar-benar bening.

Bahwasanya Tuhan menyerukan di Surat Al Ahzab, “Innallah wa malaaikatahu yusholuna alaa nabi, yaa ayuhaladziina aamanu sholualaihi wasalimu tasliima” (“Sesungguhnya Allah dan para malaikat mnyampaikan sholawat kepada nabi, maka dari itu wahai orang-orang yang beriman, sampakainlah sholawat dan salam keselamatan padanya.”

Ayat itu umumnya hanya dilihat sebagai perintah ber-sholawat dan kemudian menjadi ritual umat islam mendendangkan sholawat. Dalam konteks fiqh ayat ini unik, karena Tuhan menyatakan sendiri bahwa Dia dan para malaikat sudah melakukan sholawat kepada nabi, lalu Tuhan kemudian memerintahkan orang-orang beriman (bukan hanya orang-orang muslim) utk bersholawat.

Tapi dalam alam hakekat ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang Muhammad sebagai makhluk genologi tetapi sebagai nur, cahaya, kesadaran. Karenanya dalam adab sholat wajib ada sholawat. Doa dikatakan tidak menembus langit tanpa sholawat. Mengapa? Karena nabi Muhammad yang di sholawati bukan seseorang atau entitas yang berbangsa Quraisy keturunan Abdul Mutholib, melainkan yang meresap pada semesta. Dalam bahasa Bernadette Roberts, ada sesuatu ‘Yang Tak-Tersebutkan’ atau ‘Yang Tak-Diketahui’ yang mengisi segala yang ada dan ruang di antara segala yang ada, yang dari sanalah segala sesuatu berasal, hidup, bergerak, dan kembali. Inilah Nur Muhammad yang meresap dan melingkupi segala yang ada. Sholawat adalah afirmasi seorang Muslim dalam olah spiritual dan asah kesadaran, Nur Muhammad.*

Tips berikut ini saya praktikkan bagi diri sendiri. Apabila Anda merasa cocok, silahkan mengambil dan mempraktikkannya.

1. Pada saat Anda merasakan ketidaknyamanan (atau kenyamanan sebagai bentuk lain dari ketidaknyamanan), fisik dan/atau psikologis, sadari bukan hanya rasa ketidaknyamanan tetapi terlebih sadari “keakuan” Anda yang mengatakan “Aku tidak nyaman; ketidaknyamanan itu adalah milikku.” Janganlah pikiran menciptakan “si aku”.
2. Janganlah bertanya mengapa Anda merasakan ketidaknyamanan itu untuk mencari sebab-sebabnya, tetapi sadarilah ketidaknyamanan itu dengan perhatian tak terbagi dan pahamilah bagaimana proses ketidaknyamanan itu bisa terjadi pada batin Anda.
3. Jadilah Kesadaran Murni itu sendiri dan kemudian biarkan Kesadaran Murni merasakan ketidaknyamanan yang bukan lagi menjadi “milik keakuan” Anda.
4. Sadariah bahwa kondisi fisik atau psikologis Anda hanyalah salah satu dari banyak lapisan yang membentuk siapa Anda, tetapi itu semua bukanlah Hakikat Anda. “Hakikat Anda yang tak-berhakikat” tidak lain adalah Kesadaran Murni itu sendiri.
5. Rasakan bahwa Kesadaran Murni adalah seperti ruang yang mahaluas, tanpa bentuk, tanpa inti. Kesadaran Murni ini bukan berasal dari apa saja yang bisa Anda kenali dengan pikiran.
6. Janganlah sekali-sekali berpikir, berbicara atau bertindak dengan tubuh Anda di luar Kesadaran Murni. Apabila pikiran, kata dan tindakan Anda terpisah dari Kesadaran Murni, rasakan ketidaknyamanan pada tubuh dan batin Anda. Jadilah kembali Kesadaran Murni yang merasakan ketidaknyamanan Anda.
7. Dari ruang Kesadaran Murni yang mahaluas, biarkan pikiran, kata-kata dan tubuh Anda bekerja semata-mata sebagai alat ataupun ekspresi dari Kecerdasan Ilahi yang timbul dari dalam.
8. Janganlah coba-coba untuk menyembuhkan atau mengubah keadaan batin Anda, tetapi cukup bertahanlah untuk tinggal bersama ketidaknyamanan Anda dalam Kesadaran Murni, tanpa menambah atau mengurangi.
9. Biarkan kondisi fisik dan mental Anda yang Anda sadari dengan perhatian total tak-terbagi mengubah Anda—membuat Anda keluar dari identifikasi dengan tubuh fisik dan mental–hingga energi ketidaknyamanan sepenuhnya mekar dan layu.
10. Ambillah waktu yang cukup untuk hadir sepenuhnya pada bentuk-bentuk ketidaknyamanan Anda–betapapun kuat atau lemah, kasar atau halus. Perhatikan di tingkatan mana Anda hadir—di tingkatan kesadaran pikiran atau Kesadaran Murni.
11. Tunggulah hingga Kesadaran Murni terbangkitkan secara alamiah di balik rasa ketidaknyamanan dan rasakan bahwa Kesadaran Murni atas ketidaknyamanan adalah Kebebasan dari rasa ketidaknyamanan.
12. Lakukan praktik Kesadaran Murni ini terus-menerus hingga setiap beban ketidaknyamanan fisik dan/atau psikologis dapat ditanggung dengan relative ringan atau Anda dibebaskan sama sekali dari belenggu ketidaknyamanan.

Let us be grounded in the Land of Freedom in every single moment!
Breathe n Smile!

js

Berikut adalah dialog antara DS dan JS.
===
DS: Romo Sudri yang baik, Selamat Paskah Romo.
JS: Selamat Paskah juga Pak Djohan.
DS: Semalam saya mengikuti Misa malam Paskah di gereja Santa dan mendengarkan homili perihal kematian dan kebangkitan dari romo.

Romo mengajak umat untuk mampu melepaskan ke-4 pokok belenggu diri seperti yang romo gambarkan telah terjadi pada peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, namun hingga akhir homili saya terus menunggu penjelasan romo perihal relasinya dengan ajaran utama Yesus: Cinta Kasih.

JS: Pak DS, Anda persis tidak menangkap intinya. Saya berbicara tentang “Kristus”, bukan “Jesus”. Yang saya tekankan dalam homily malam Paskah adalah kematian dan kebangkitan “Kristus”, bukan kematian dan kebangkitan “Jesus”. “Kristus” yang dimaksud di sini adalah “hakikat jiwa universal yang bersatu dengan Allah.” “Kristus” inilah yang mati dan dibangkitkan. Pada moment Inkarnasi, Kristus telah melakukan pelepasan atau pengosongan diri. “KesetaraanNya dengan Allah” atau “kesatuanNya dengan Allah Bapa di dalam diri Allah Bapa” ditanggalkan. Pada moment kematianNya, pelepasan itu terjadi lagi. Bedanya, pada moment kematian, yang dilepaskan adalah “KesatuanNya dengan Allah di dalam keakuannya sebagai manusia”.

Cinta Kasih dan keagungan hidupNya memukau banyak orang. Dari mana Cinta Kasih dan keagungan hidupNya itu bersumber? Apa kuncinya? Kuncinya adalah Kenosis atau pengosongan–diri sempurna dan relasi yang dalam dengan Allah BapaNya dalam keheningan doa. Tetapi orang sering kali hanya terpukau pada ajaran Cinta Kasih tanpa praktik pengosongan-diri dan praktik keheningan. Sikap ini adalah seperti orang yang tidak bijaksana yang menanam pohon dan segera ingin mendapatkan buahnya tanpa bersusah payah untuk merawat dan memupuknya. Maka menekankan aspek “pelepasan” menjadi penting di sini.

Kenosis atau pengosongan-diri sempurna pada moment Inkarnasi dan KematianNya ini sulit dipahami semua orang, termasuk mereka yang mengaku sebagai pengikut Kristus. KematianNya masih menjadi tragedy sampai sekarang karena tidak banyak dipahami orang, termasuk mereka yang merasa sudah mengenal Jesus Kristus.

DS: Bila “pelepasan belenggu” begitu penting, apa peran Cinta Kasih dalam proses pelepasan belenggu? Bahkan apakah pelepasan belenggu (diri sendiri) begitu penting sehingga mampu menisbikan Cinta Kasih?

JS: Dari pengalaman Anda sendiri, apakah ada Cinta Kasih bila tidak terdapat pelepasan kelekatan dan ego/keakuan?
Kristus berbeda dengan Anda dan saya. Kita memiliki potensi jatuh ke dalam dosa karena memiliki ego, sementara Kristus bebas dari ego sehingga bebas dari dosa. Tetapi Jesus Kristus masih memiliki keakuan (self) sebagai manusia selama Ia hidup di tengah dunia. Barangkali dimensi “self” dan “no-self” mewarnai hidupNya secara bergantian. Pada akhirnya hidupNya, keakuanNya itu dilepaskan secara permanen dan final di tiang Salib. Pengosongan diri Kristus secara total—-pada moment Inkarnasi, dalam hidup sehari-hari, dan pada moment kematian–adalah wujud Cinta KasihNya kepada Allah Bapa dan umat manusia. Tidak ada dualitas atau jarak antara pengosongan-diri dengan Cinta Kasih. Pengosongan-diri itu adalah Cinta Kasih; tidak ada Cinta Kasih tanpa pengosongan diri. Anda tidak bisa mengambil yang satu dan membuang yang lain.

DS: Saya merasa bahwa Yesus dalam Paskah jauh lebih besar dari itu. Bila Yesus fokus pada pelepasan belenggu diri maka Yesus hanya sederajat dengan Buddha, dimana dirinya (Sidharta, anak raja dengan kehidupan istimewa) yang amat terganggu (shock) dengan peristiwa-peristiwa kesengsaraan yang dilihatnya. Sebegitu terganggunya sehingga sebelum kesengsaraan itu (= pokok permasalahan) dikenalinya dengan benar, dibuatnya pernyataan bahwa kodrat hidup adalah kesengsaraan (dukka). Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan (diri sendiri) untuk melepaskan diri (sendiri) dari kesengsaraan. Siapapun yang sependapat dengan Buddha silahkan mengikuti latihan-latihan atau jalan-nya untuk lepas dari dukka.

Yesus juga amat terganggu dengan kesengsaraan namun hidup keseharian Yesus yang lebih dekat dengan kesengsaraan (cuma sebagai anak tukang kayu) mampu mengenali kesengsaraan dengan kedalaman dan perspektif yang luas sehingga Yesus tidak membuahkan solusi bagi diri-Nya sendiri namun solusi atau ajaran yang berbeda, dengan lingkup yang amat luas: CINTA KASIH . Sebuah kebenaran sejati.

Saya segera merasakan Yesus yang lebih besar dan lebih agung daripada Budha yang lebih egoistik. Apakah saya keliru?

JS: Pandangan Anda tentang Yesus dan Budha tentu saja benar 100% menurut keterkondisian Anda. Saya bisa memahami pandangan Anda.

Pemahaman orang tentang ajaran Yesus atau Budha—dan ajaran-ajaran lain–sangat dipengaruhi oleh tebal tipisnya kelekatan dan ego/keakuannya. Orang gampang mengunggulkan atau merendahkan suatu ajaran, menolak atau mengikutinya, seringkali tergantung pada kadar kelekatan dan ego/keakuannya itu sendiri.
Pandangan Anda umum ditemukan di kalangan Kristen dan Katolik. Tetapi pandangan Anda tentang Yesus dan Budha berbeda dengan pandangan saya.

Saya lebih tertarik mengenal Kristus bukan sebagai sosok pribadi yang hidup selama 33 tahun, tetapi Kristus yang melampaui sejarah, Kristus sebagai “hakikat jiwa universal” setiap manusia apapun agamanya. Terhadap Sang Budha, saya tidak tidak tertarik untuk mengenal Sang Budha sebatas sebagai seorang manusia, tetapi terlebih tertarik untuk mengenal dan menghargai “hakikat kebudhaan” dalam segala makhluk, seperti halnya saya tertarik untuk menemukan “hakikat kekristusan” dalam setiap orang.

Saya menemukan bahwa ajaran Cinta Kasih bukanlah ajaran khas agama Katolik atau Kristen, begitu pula ajaran Pengosongan-Diri atau Pelepasan-Diri bukanlah ajaran khas agama Budha. Pengosongan-Diri dan Cinta Kasih ada dalam setiap tradisi agama.

DS: Saya rasa dengan Cinta Kasih maka ke-4 belenggu itu menjadi nisbi dan sama sekali bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan, karena hanya melahirkan kerumitan yang membuat umat kebanyakan cuma terdiam tidak mengerti.

JS: Anda memiliki asumsi bahwa dengan mengembangkan Cinta Kasih, maka keempat belenggu–kelekatan pada body, mind and soul, termasuk kelekatan pada tuhan dalam ego/keakuan—bersifat nisbi.

Pernyataan Anda memiliki persoalan “metodologis”: bagaimana ada Cinta Kasih apabila terdapat kelekatan dan ego/keakuan? Bila ada ajaran yang mengatakan bahwa ada Cinta Kasih tanpa harus melepaskan kelekatan dan ego/keakuan, itu bukan ajaran Kristiani, juga tidak ada dalam ajaran spiritual dari semua tradisi religius yang lain.

Bagaimana kita, Anda dan saya sebagai orang biasa yang memiliki banyak kelekatan ini, bisa hidup dengan Cinta Kasih apabila kita memandang belenggu kelekatan itu bukan sebagai masalah? Pandangan Anda justru bertentangan dengan ajaran Kristus sendiri, “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.” (Lukas 17:33) “Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anaknya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu.” (Lukas 14:26)

Anda menarik kesimpulan bahwa belenggu kelekatan tersebut bukan masalah dan tak perlu dipermasalahkan. Anda mengungkapkan alasannya, yaitu karena upaya untuk membersihkan diri dari kelekatan dan ego/keakuan hanya akan menambah kerumitan dan tidak bisa dimengerti.

Apabila Anda memandang “jalan pelepasan” terlalu rumit dan tidak bisa dimengerti, barangkali jalan pelepasan itu memang bukan jalan Anda sekarang. Tetapi apabila Anda mengambil kesimpulan bahwa “jalan pelepasan” itu adalah “jalan Budha” dan bukan “jalan Kristus”, pandangan Anda salah besar.

Kelekatan dan ego/keakuan adalah musuh terbesar Cinta Kasih. Cinta ada apabila kelekatan dan ego/keakuan tidak ada. Keduanya tidak bisa berjalan beriringan. Apabila orang-orang Kristiani merasa lebih unggul dari pengikut agama lain karena memiliki Cinta Kasih tetapi tidak melepaskan kelekatan dan ego/keakuannya, maka itu hanyalah omong kosong belaka.

Biarkan yang siap untuk mengerti akan mengerti dan yang tidak mau mengerti tetap tidak mengerti.

Peace n Blessings…

Romo, saat ini saya masih misa setiap minggu dan ikut membantu lingkungan /paroki. Tapi sesungguhnya sudah beberapa lama saya berpikir untuk tidak beragama saja. Saya menghargai ajaran kebajikan, kebijaksanaan dan kasih dari semua agama. Namun aturan-aturan keagamaan menurut pemikiran saya justru menjebak orang merasa diri sudah suci atau sebaliknya merasa dosa hanya karena tidak mengikuti aturan yang berlaku dalam agama yang dianutnya.

Hampir dua tahun ini saya tidak masuk kamar pengakuan. Hati kecil bergumul, antara kata-kata pastor yang mengingatkan untuk tidak menerima komuni kalau tidak bertobat dan kesadaran bahwa bukan pengakuan yang bisa membuat saya menghindari dosa.
Saya sering bersyukur dalam hati, bahwa saya pernah belajar memahami apa itu kesadaran (awareness). Dalam kehidupan sehari-hari dimanapun, dalam kondisi apapun, kekuatan kesadaran bisa mengendalikan tindakan dan pikiran-pikiran jahat yang bisa kapan saja muncul.

Kesadaran segera meredam emosi yang suka meledak bila keadaaan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Bahkan kekuatan kesadaran itu juga yang membuat saya bisa belajar mengurangi rasa sakit di beberapa bagian tubuh yang dipicu kondisi stress.

Belajar melepas kotoran-kotoran batin dan segala keinginan juga sangat membantu saya lebih tenang sehingga tidak salah-salah mengambil keputusan.

Pandangan seperti ini membuat saya merasa bukan agama yang menjadikan seseorang hidup lebih baik, melainkan hidup berkesadaran. Hidup berkesadaran adalah spiritualitas murni. Hidup berkesadaran inilah yang membawa kepada hidup tanpa-diri (no-ego/no-self) dan hidup tanpa-diri itulah yang menghasilkan tindakan-tindakan kebajikan. (NN)
===

Halo NN,
Terimakasih sudah berbagi pengalaman.

Apa yang Anda rasakan tidak keliru: bukan agama yang mengubah orang, tetapi hidup berkesadaran. Apabila agama ingin memberi kontribusi pada perubahan manusia secara mendasar, maka aspek kesadaran harus lebih dikembangkan. Sekarang ini yang dikembangkan masih kuat pada aspek ritual, intelektual dan institusional. Maka orang-orang beragama butuh lebih banyak pencerahan. Bisa jadi bukan orang yang tidak beragama yang lebih membutuhkan pencerahan, tetapi orang-orang yang beragama. Kehadiran kita di tengah komunitas beragama diharapkan memberi warna yang berbeda.

Love n Light,
js

Berikut adalah Berkah Kedamaian dan Cinta yang Agung dan Suci dari Bhante Sri Pannyavaro Mahathera bagi semua orang yang merayakan Natal 2014:

Romo Sudrijanta, perkenankan saya mengucapaan Selamat Natal 2014. Kelahiran Tuhan Yesus selalu mengingatkan saya akan spirit altruistik Bodhisattva untuk menolong semua yang menderita. Semoga semua kehidupan hidup dalam kedamaian. Saya Pannyavaro, Mendut.

Bhante Pannyavaro, terimakasih atas ucapan selamat dan berkah kedamaian yang Bhante Pannyavaro pancarkan kepada saya dan kepada segala makhluk. Saya melihat spirit altruistik Bodhisattva dalam diri Kristus timbul dari kontemplasi mendalam betapa manusia dan segala makhluk hidup terpenjara oleh Dosa, Dukkha dan Maya. Seperti halnya semua makhluk pada hakikatnya “Buddha”, dengan “Inkarnasi Kristus” saya diingatkan bahwa semua orang pada hakikatnya “Kristus”. Semoga semua manusia dan segala makhluk menjadi penjelmaan dari Kedamaian dan Cinta yang Agung dan Suci seperti Kristus atau Sang Buddha. Namaste! Sudrijanta, Jakarta.

Yth. Romo Sudri,

Saya sempat merasa ada kemajuan dengan tiap hari bermeditasi dan rutin berdoa termasuk doa rosario, doa mohon Roh Kudus. Ada pengamatan tentang gerak pikiran dan kemunculan emosi saya. Saya merasa lebih ringan dan punya harapan. Namun, dalam periode ini, ada juga efek samping yang saya rasakan, kemunculan mimpi-mimpi yang begitu kuat dan masih ada residu emosinya bahkan setelah saya bangun tidur. Ini saya alami juga waktu retret meditasi dengan Romo. Saya bertanya-tanya apakah saya telah melakukannya dengan cara yang tepat atau saya hanya menekan bawah sadar saya. Namun saya tetap berusaha menekuni olah kesadaran dan doa karena saya merasa dalam aktivitas sehari-hari saya bisa tenang.

Namun kemudian muncul pemicu kekhawatiran saya. Dalam upaya memantau proses SK saya, saya mendapati ketidakpastian yang mengkhawatirkan karena lambatnya dan ketidakpastian kinerja birokrasi pemerintah mengenai SK (saya sudah 6 bulan menunggu kabar SK sebagai dasar panggilan kerja secara resmi dan dari monitoring saya jika situasi tetap begini ada kemungkinan 18 bulan lagi seluruh proses baru selesai). Ada gerak pikiran dan emosi kekhawatiran yang kuat tentang bagaimana saya bertahan hidup di Jakarta dengan ketidakpastian ini, apa lagi yang bisa kamu lakukan, ayolah ini soal bertahan hidup. Sementara itu saya sudah berusaha mencari temporary job dan belum berhasil.

Saya masih melakukan meditasi dan doa tapi saya menemukan kehampaan yang menyesakkan. Berbeda dari kondisi saya dua tahun lalu, saat ini saya sama sekali tidak punya satupun hal-hal yang saya butuhkan untuk status hidup mapan dan mandiri: tidak ada kepastian status pekerjaan, beasiswa, penghasilan yang bisa dibanggakan, rumah yang layak, pasangan hidup, komunitas tempat bertumbuh, dll. Emosi mulai muncul tak terkendali. Lalu saya mengalami stagnasi. Saya merasa dalam kondisi tidak ingin melakukan apapun karena mempunyai harapan artinya berisiko kecewa secara mendalam.

Pada satu titik, saya menyadari mungkin inilah mekanisme bertahan diri (self-defence mechanism) yang begitu kuat untuk melindungi saya dari perasaan terluka/kekecewaan/kepahitan/ketakutan. Saya punya kecenderungan menarik diri jika saya merasa secara psikologis saya tidak aman dalam situasi tertentu. Misalnya acara reuni atau seminar yang dihadiri orang-orang yang punya segala simbol kesuksesan. Saya peka terhadap apa yang orang katakan dan apa yang orang tidak katakan dengan bahasa tubuhnya. Saya peka terhadap penolakan dan kegagalan. Saya seperti tanaman putri malu yang sangat sensitif terhadap rangsang dari luar. Pemicu masih punya pengaruh meskipun saya bermeditasi dan berdoa. Saya kira inilah penghalang dalam diri saya yang belum tuntas tertembus.

Mohon kiranya Romo dapat membantu saya.

Salam,
NS
—–

Dear NS,

Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Pertama, sikap meditasi. Setiap kali cobalah mengecek apakah sikap Anda dalam meditasi sudah benar. Sikap meditasi yang benar seharusnya bebas dari “kebencian, keinginan dan ego”. Apabila ketiga hal tersebut muncul dalam meditasi, silahkan setiap kali disadari dan biarkan lenyap secara alamiah.

Kedua, tentang mekanisme pertahanan diri. Apa dari hidup Anda yang perlu untuk dilindungi kalau bukan tubuh fisik Anda dan hal-hal fisik lain untuk menopang kelangsungan hidup Anda seperti kepastian pekerjaan, pendapatan, rumah yang layak, dst? Tetapi seringkali kita bukannya mau melindungi tubuh dan hal-hal fisik lain yang kita butuhkan untuk menopang hidup, melainkan mau melindungi rasa nyaman psikologis atau kenikmatan psikologis yang melekat pada hal-hal fisik. Kenikmatan psikologis dijadikan hal yang lebih utama daripada kebutuhan fisik. Maka sering-seringlah berlatih untuk melampaui tubuh fisik dan hal-hal fisik lainnya. Tahapan kesadaran yang melampaui tubuh dan hal-hal fisik akan membebaskan Anda dari perasaan terluka, kekecewaan, kepahitan, ketakutan dan berbagai bentuk kepedihan.

Ketiga, lakukan pelayanan kepada sesama dan segala makhluk. Kecenderungan Anda untuk hanya memikirkan kepentingan Anda bukan hanya makin membuat Anda hidup dalam cangkang ego yang sempit dan membuat makin terasing dari dunia, tetapi juga membatasi kekuatan-kekuatan kehidupan yang mau mendatangkan kebaikan bagi Anda. Maka berlatihlah untuk setiap kali memberi atau berbagi kebaikan kepada sesama dan segala makhluk, melalui pikiran, kata-kata, sikap dan tindakan. Apabila Anda memberi berkah, maka berkah Anda otomatis bertambah. Anda hanya akan menerima sejauh mana Anda memberi.

Peace and Blessings,
js

NN, 34th, Palembang, peserta retret meditasi 2010. 

Sekarang saya baru mengerti mengapa kalau dulu saya sms atau email ke Romo meminta tolong karena saya tidak bisa berhenti menangis, Romo malah menyarankan saya untuk terus-menerus menangis tanpa memaksa diri untuk diam. Sekian lama saya tidak mengerti mengapa Romo menyarankan saya untuk melakukan hal itu. Menurut saya, terus-menerus mengikuti keinginan untuk menangis sama saja bunuh diri kehabisan energy. Kalau saya sudah menangis, terutama pada masa-masa dalam pergumulan dengan Mama, itu bisa menghabiskan waktu berhari-hari. 

Malam ini saya jatuh ke dalam lobang hitam tak berdasar yang kerap saya jumpai dulu, lobang hitam yang rasanya selalu membuat tidak ingin hidup. Tapi di sela-sela tangisan yang saya turuti itu ternyata saya sempat berjumpa dengan detik-detik di mana rasa sedih yang membuat saya menangis itu kehilangan sengatnya. Memang berlangsung sangat cepat, tapi juga terasa sangat gamblang. Itu muncul begitu saja tanpa terduga. 

Yang jelas malam ini saya melihat bahwa lobang hitam itu tidak lebih dari ciptaan pikiran. Saat pikiran terdiam, saat itu juga ia bukan apa-apa. Ia tak punya sengat untuk membuat saya merasa bahwa mati adalah solusi terbaik. Ia juga tak punya sengat lagi untuk membuat saya merasa sedih, tak berguna dan menangis tanpa terkendali. 

Catatan JS:

Kesedihan atau lobang hitam itu adalah bentuk formasi mental dan formasi mental apapun adalah manifestasi dari pikiran. Tapi untuk menangkap pikiran yang halus ini tidak semudah merasakan kesedihan atau lobang hitam (formasi mental) itu. Maka merasakan kembali sampai tuntas lobang hitam itu akan menolong menangkap si penciptanya. Itu seperti menangkap ekor ular (formasi mental) untuk menundukkan kepalanya (pikiran).

Saya mengalami problem psikosomatis. Sering panic, merasa cemas, sedih, takut; semuanya bercampur aduk. Akibatnya, saya terkena asam lambung dan gejala serangan jantung. Saya coba berbagai macam teknik menenangkan diri tapi masih belum kelihatan hasilnya. Saya juga bermeditasi tapi perasaan itu malah semakin besar; semakin diamati semakin sesak. Bagaimana membedakan “mengamati batin” dan “terseret batin yang kacau”. Apa yang musti saya lakukan? Mohon saran. Terima kasih atas bantuan Romo. (NN) 

Ketidakseimbangan batin, kepedihan atau penderitaan tidak diciptakan oleh kondisi badan, seseorang, sesuatu, atau situasi-situasi di luar; “aku adalah pencipta penderitaanku”. “Aku” adalah pikiran delusive, si ego, si diri ilusif. Kondisi pekerjaan, perlakuan orang lain, situasi-situasi di luar atau rasa sakit fisik hanyalah stimuli, tetapi bukan pencipta penderitaanku. “Aku” sendirilah penciptanya. “Aku” sendirilah yang membiarkan diri ini menderita yang dipicu oleh kondisi badan atau factor-faktor di luar itu. 

Ketika timbul kecemasan, belief system sudah bekerja, yaitu “Aku tidak bahagia bila seseorang, sesuatu, situasi di luar, atau kondisi badan ini berjalan tidak sesuai dengan keinginanku; Aku akan bahagia kalau dan hanya kalau seseorang, sesuatu atau situasi di luar atau kondisi badan ini berjalan sesuai keinginanku.” Itu adalah belief system yang keliru. 

Kita perlu belajar untuk merealisasikan bahwa ketika pikiran delusive berakhir saat disadari, Anda adalah Stabilitas, Kedamaian, dan Kebahagiaan. Itu semua sudah ada di dalam sebagai benih dalam kesadaran terpendam. Jadi Kestabilan tidak tergantung pada kondisi tubuh atau situasi-situasi di luar. Kestabilan itu sendiri perlu ditemukan atau direalisasikan dari saat ke saat, justru ketika moment-moment ketidakstablian batin datang.

Stabilitas, Kedamaian dan Kebahagiaan itu ada dan hanya ada di Saat Sekarang, bukan suatu saat nanti kalau situasi berubah. Semua pikiran delusive menjauhkan kita dari Saat Sekarang, sibuk dengan masa lampau dan masa depan. Pikiran sibuk mempersoalkan hal yang sudah terjadi, “Mengapa ini atau itu terjadi”; “Mengapa ini atau itu terjadi dengan cara seperti demikian.” Pikiran sibuk dengan masa depan imaginer yang belum terjadi, “Bagaimana kalau ini atau itu terjadi? Bagaimana kalau ini atau itu tidak terjadi?” Pikiran-pikiran yang sia-sia, tidak bermanfaat dan negative ini menciptakan kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan. 

Energi negative tidak bisa menyeret batin kalau tidak ada reaksi. Jadi kembali lihatlah reaksi-reaksi dalam batin dan biarkan reaksi-reaksi itu berhenti secara alamiah. Sadari kekacaun batin setiap kali muncul tanpa reaksi; kalau ada reaksi-reaksi, sadari reaksi-reaksi itu juga tanpa reaksi. Menyadari reaksi di sini jauh lebih penting daripada menyadari kekacauan batin itu sendiri. Kalau setiap reaksi yang disadari berhenti, kekacauan itu luruh atau lenyap dengan sendirinya.

Kalau energy negative itu sangat kuat menyeret pikiran Anda, coba masukilah Saat Sekarang dengan pertolongan nafas Anda. Beradalah sepenuhnya bersama nafas Anda, maka Anda akan keluar dari jebakan pikiran dan masuk ke Saat Sekarang. Banyak moment bisa menolong Anda masuk ke Saat Sekarang, misalnya setiap langkah saat Anda berjalan, setiap tegukan air saat Anda minum, setiap dering bunyi telpon, dst. Anda bisa berhenti dari kegiatan Anda selama 2-5 menit setiap 30 menit atau 60 menit  hanya menyadari apa yang terjadi dengan tubuh dan batin. Sadari energy-energi negative; tangkaplah pikiran-pikiran delusive dan belief system keliru yang sangat halus; dan biarkan Stability, Peace, Happiness mekar menguat.

Situasi atau kondisi terus berubah-ubah, tetapi Stable Mind tidak bisa digoncang oleh perubahan situasi apapun yang terjadi. (js)

Hasrat Seks, Masturbasi, dan Meditasi

Sudah dua tahun sejak intensif melakukan meditasi, saya sudah tidak melakukan masturbasi lagi; dan semalam ternyata saya kebobolan lagi. Hasrat masturbasi begitu menguat disertai rasa penasaran seperti apa rasanya melakukan hubungan seks. Awalnya paling-paling saya sebatas “meraba” saja seputar payudara dan puting susu. Lalu timbul keinginan “memainkan klitoris” dengan jari. Itu terjadi begitu cepat. Kacau sekali rasanya. Masak saya kembali seperti dulu lagi? Bagaimana ya cara mengatasinya?

Terdapat beberapa pandangan yang keliru tentang hasrat seks yang perlu dijernihkan.

Pertama, hasrat seks muncul dari siklus hormonal sehingga timbul hasrat seks yang berulang-ulang. Pandangan tersebut tidak sesuai dengan fakta korelasi antara batin dan tubuh, pikiran dan dorongan seks. Kalau Anda sama sekali tidak berpikir seputar seks, maka hasrat atau dorongan seks juga tidak muncul. Pikiran seputar seks itulah yang pertama-tama mengaktivasi indung telur untuk memproduksi hormon estrogen dan progesteron untuk perempuan dan mengaktivasi testis untuk memproduksi hormon testosteron bagi laki-laki. Pikiran itulah yang pertama-tama membangkitkan gairah seks; bukan sebaliknya. Jadi, hasrat seks bukanlah gejala hormonal semata dan bukan bersifat mandiri atau bukannya tidak dipengaruhi pikiran.

Kedua, “kebobolan” terjadi karena begitu menguatnya hasrat seks sehingga sulit untuk dihentikan. Pandangan itu lagi-lagi meyakini bahwa hasrat seks timbul secara independence dari pikiran. Tingkat kekuatan hasrat seks bukan disebabkan pertama-tama oleh tingkat kekuatan hormonal, tetapi oleh intensitas pikiran. Intensitas pikiran itulah yang pertama-tama memperkuat hasrat seks dan sebaliknya intensitas hasrat seks memperkuat intensitas pikiran. Keduanya muncul hampir bersamaan dan saling mempengaruhi.

Ketiga, tekanan dari energy seksual hanya bisa diselesaikan lewat pemuasan seksual atau sublimasi. Pemuasan kebutuhan seks melalui masturbasi atau hubungan seksual dalam kenyataan tidak mengakhiri tekanan dari energy seksual, tetapi justru akan memperkuat nafsu-nafsu seksual. Dalam beberapa menit, energy seksual memang segera lenyap setelah masturbasi atau hubungan seksual dilakukan. Tetapi pada kesempatan lain berikutnya, dorongan seksual tersebut akan justru semakin meningkat. Maka kalau Anda dulu sudah terbiasa dalam waktu yang lama berulang-ulang melakukan masturbasi, energy seksual Anda sekarang menjadi kuat. Dan kalau Anda sekarang memulai masturbasi lagi, tindakan Anda akan memperkuat lagi nafsu-nafsu seks Anda yang akan bermanifest lebih kuat di masa depan.

Cara sublimasi atau pengalihan energy seks dengan menyalurkannya dalam kegiatan olah raga seperti renang, atau dengan bekerja lebih giat, atau dengan melakukan pelayanan yang bermanfaat bagi orang lain adalah baik. Sublimasi seksual bisa membantu menguras energy seksual, tetapi tanpa menyadari pikiran-pikiran seksual bisa jadi cara sublimasi hanya mengganti objek-objek seksual dengan objek-objek lain yang mendatangkan kenikmatan atau pemuasan diri. Selain itu, cara sublimasi tidak serta-merta menyelesaikan problem-problem kejiwaan yang seringkali justru tertutupi oleh hasrat-hasrat seksual, seperti problem kesepian, keterasingan, dan kekosongan.

Terhadap dorongan-dorongan seks dan keinginan masturbasi, sekurang-kurangnya enam moment krusial perlu dicermati.

Pertama, saat awal terjadi goncangan batin oleh nafsu seksual. Lihatlah apa yang terjadi dengan batin ketika muncul nafsu seksual? Bukankah batin tergoncang? Apakah muncul dorongan atau tekanan untuk melakukan sesuatu? Saat terasa ada goncangan oleh nafsu seksual, saat itu tepat untuk berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan. Jangan mengobarkan rasa suka atau tidak suka dengan pemikiran-pemikiran. Kalau batin diam, energy seks yang bergerak ini akan lewat tanpa menciptakan gangguan.

Kedua, saat pemikiran sudah berjalan tapi belum mencapai momentumnya yang membuat gairah seks menyala atau meledak. Dengan menyadari gerak pikiran, bukankah pikiran berhenti? Pikiran yang terhenti menimbulkan jeda sebelum pikiran yang lain muncul. Jeda pikiran ini memecah kekuatan energy seks yang nyaris terbangkitkan. Tidak ada gairah seks yang bergerak sendiri tanpa pengaruh pikiran. Dengan menyadari pikiran dan membiarkannya berhenti secara alamiah, gerak nafsu seks dengan sendirinya juga berhenti.

Ketiga, saat pikiran bergerak dan mulai memenjara batin dengan pikiran, gambaran, dan imaginasi seksual dan mengobarkan hasrat seks. Kalau pikiran yang bergerak tidak disadari, maka pikiran memberikan pasokan energy bagi dorongan seks dan kekuatan seks menjadi meningkat, menyala atau meledak. Biarkan saja energy seks mekar, tanpa reaksi-reaksi batin. Pada saat yang sama, cobalah menyadari  pikiran-pikiran halus yang sudah bergerak dan yang memberi pasokan energy pada dorongan seks. Sadari dalam-dalam keterbelengguan batin oleh pikiran dan dorongan seks hingga kekuatan pikiran dan dorongan seks memudar dengan sendirinya. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari pikiran dan dorongan seks dan membiarkan kekuatan pikiran dan dorongan seks melemah dan berhenti secara alamiah.

Keempat, saat sudah muncul keinginan, niat atau kehendak untuk melakukan tindakan seksual, seperti “meraba” seputar payudara dan puting susu atau “memainkan klitoris” dengan jari. Sebelum jari-jari dan tangan Anda bergerak, sadarilah keinginan, niat atau kehendak. Janganlah berbuat sebelum keinginan, niat atau kehendak tertangkap kesadaran. Dengan menyadari keinginan, niat atau kehendak dan membiarkannya berhenti, tindakan masturbasi atau perbuatan hubungan seksual bisa dihindari atau berkurang intensitasnya.

Kelima, saat tindakan masturbasi sedang berlangsung dan Anda tersadar bahwa tindakan tersebut membuat diri Anda makin menderita. Rasakan kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, kesepian, pembuangan energy, dan keletihan.  Menyadari dan memahami seluruh gerak kekacauan ini memungkinkan tindakan seksual tersebut seketika berhenti.

Keenam, cermatilah munculnya “ego” atau “keakuan” dalam setiap moment pada kelima moment di atas. Adakah si aku yang terpisah dari dorongan seks; “Nafsu seksual-ku (objek kepemilikan) sedang meningkat dan menggoncang batin.” Adakah si aku yang terpisah dari pikiran; “Aku (si pemikir) berpikir-pikir tentang seks.” Adakah si aku yang terpisah dari kenikmatan seks yang dikobarkan oleh imaginasi-imaginasi seks; “Aku (si penikmat) menikmati kenikmatan seks.” Adakah si aku yang terpisah dari keinginan dan kehendak untuk melakuan perbuatan seksual; “Aku (si pendamba) mengingini dan menghendaki pemuasan seks.” Adakah si aku yang terpisah dari perbuatan seks; “Aku (pelaku) melakukan perbuatan seks.” Lihatlah bahwa si aku/ego tak terpisah dari kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, kesepian, pembuangan energy, keletihan, dan penderitaan; “Si aku/ego tak terpisah dari penderitaan; penderitaan itulah si aku/ego”.

Kalau pada moment pertama Anda kelolosan, Anda masih memiliki kesempatan pada moment kedua. Begitu seterusnya sampai moment kelima. Kalau aspek keenam, yaitu timbulnya “keakuan”, tidak tertangkap dalam setiap praktik penyadaran, maka Anda akan masih menghadapi pergulatan yang keras. Selain itu, akan lebih mudah belajar membiarkan api nafsu seks berhakhir ketika dayanya masih kecil daripada ketika apinya sudah membesar.

Kalau Anda seringkali melakukan masturbasi pada saat-saat tertentu, misalnya saat menjelang tidur, saat-saat tersebut adalah saat yang paling baik untuk meditasi secara intensif sampai Anda jatuh tertidur.

Tentang Jenis-jenis Pikiran

Apakah ada beberapa criteria jenis-jenis pikiran yang sungguh diperlukan dan jenis-jenis pikiran yang tidak sungguh diperlukan untuk hidup? 

Ada enam jenis pikiran:

  1. Pikiran yang normal: Pikiran yang kita pakai untuk berhubungan dengan dunia melalui keenam indera, baik dunia fisik maupun dunia mental, adalah pikiran yang normal. Misalnya, ketika indra penglihatan berkontak dengan suatu objek yang berbentuk, pikiran menamai atau melabeli untuk mengidentifikasi objeknya, “Ini pohon; itu batu.” Ketika timbul fenomena dalam dunia batin, pikiran mengenalinya sebagai ingatan, pikiran, perasaan, dan reaksi-reaksi mental.
  2. Pikiran yang bermanfaat: Pikiran yang bermanfaat bekerja dalam dua area. Pertama, pikiran yang kita pakai untuk menghadapi dan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan praktis kehidupan. Misalnya, Anda menguasai ilmu atau keahlian tertentu sehingga Anda bisa mendapatkan penghidupan dari ilmu atau keahlian tersebut. Kedua, pikiran yang kita pakai untuk memperkuat atau memperkaya praktik kesadaran. Misalnya, membaca buku-buku spiritual atau buku-buku meditasi dan mengambil pokok-pokok yang bermanfaat untuk memperkaya praktik kesadaran.
  3. Pikiran yang tercerahkan: Pikiran yang tercerahkan adalah pikiran yang sudah dipengaruhi atau diilhami oleh pemahaman langsung akan “Apa Adanya” atau “Kecerdasan melampaui intelek” atau “Sesuatu Yang Lain” di luar waktu sebagai buah dari praktik kesadaran. Pikiran yang tercerahkan akan tampak dalam kata-kata yang diucapkan atau dituliskan. Setelah meditasi, orang memahami secara langsung kebenaran dari kata-kata ini, misalnya, “Si pemikir tidak berbeda dari pikiran”; “Kelekatan adalah musuh terbesar Cinta”; “Kemurnian hati adalah sumber kebahagiaan.”
  4. Pikiran yang sia-sia: Pikiran yang sia-sia bekerja dalam beberapa area. Pertama, pikiran mau mencapai pemahaman akan sesuatu di luar pikiran, misalnya, pikiran mau mengerti Tuhan, Kebenaran, Realita di luar waktu, Surga, Nirvana, Persepsi Murni, dst. Kedua, pikiran bergulat untuk menghentikan pikiran. Ketiga, pikiran berlari ke masa lalu atau ke masa depan sehingga menjauhkan kita dari Saat Kini.
  5. Pikiran negative: Pikiran negatif adalah pikiran-pikiran yang dipengaruhi oleh tujuh jenis kotoran batin: nafsu keinginan, kebencian, ketakutan dan kecemasan, keragu-raguan, kemalasan, kelekatan, dan ego. Semua kotoran batin tersebut diciptakan oleh pikiran dan ketika kotoran-kotoran batin bermanifest pikiran semakin diperkuat oleh kotoran-kotoran batin. Ketika pikiran menciptakan nafsu keinginan, maka pikiran penuh dengan nafsu keinginan. Ketika pikiran menciptakan kecemasan, maka pikiran penuh dengan kecemasan. Begitu pula halnya dengan kotoran-kotoran batin yang lain. Ketika pikiran menciptakan kotoran-kotoran batin, pikiran yang sama ditunggangi dan diperkuat oleh kotoran-kotoran batin yang diciptakan sendiri.
  6. Pikiran positif: Pikiran positif adalah proses-proses mental untuk memperkuat atau memperluas pikiran atau ego/diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses-proses mental ini bekerja melalui berbagai cara, misalnya, melalui teknik sugesti, afirmasi dan visualisasi. Contoh teknik sugesti: Ketika Anda merasa kurang percaya diri, Anda berdiri di depan cermin dan mengatakan, “Aku percaya diri.” Contoh teknik afirmasi: Ketika kita merasa lemah atau tidak berdaya dalam menghadapi suatu tantangan, misalnya, kita lalu memotivasi diri dengan mengatakan, “Aku kuat. Aku bisa. Aku pasti sukses. Ayo terus maju!” Contoh teknik visualisasi: Ketika grogi menghadapi atasan yang akan memanggil Anda, pikiran memvisualisasikan Anda berdiri dengan penuh keyakinan di depan atasan dengan wajah yang cerah dan penuh senyum.

Untuk bisa hidup dengan damai dan untuk mencapai perubahan hidup batin yang radikal, tiga jenis pikiran yang terakhir dari enam jenis pikiran tersebut—pikiran yang sia-sia, pikiran negative, dan pikiran positif—tidak kita butuhkan; sedangkan tiga jenis pikiran yang pertama—pikiran normal, pikiran yang bermanfaat, dan pikiran yang tercerahkan—kita butuhkan. 

Bisakah berlatih membiarkan pikiran berhenti ketika tidak sungguh dibutuhkan dan menggunakan pikiran secara optimal ketika sungguh dibutuhkan?