Category: Testimonial


Total Surrender

By MAS, F-42 tahun, Human Resource Development di sebuah perusahaan

Retret kali ini adalah retret MTO yang ketiga kalinya yang pernah saya ikuti. Saya selalu mengikuti Retret MTO setiap tahun sejak 2014. Retret tahunan menjadi kesempatan untuk berhenti sesaat dari kegiatan rutin keseharian dan secara khusus melakukan perjalanan spiritual, perjalanan batiniah “ke dalam.”

Silentium

Di dalam retret MTO, suasana silentium (keheningan) perlu dijaga oleh seluruh peserta. Silentium merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya diam atau hening. Selama retret berlangsung, seluruh peserta tidak diperkenankan berbicara satu sama lain. Proses ini tidaklah mudah untuk kebanyakan peserta. Saya sangat bisa memahaminya. Bayangkan, sebagian besar peserta adalah warga kota Jakarta. Dalam keseharian mereka jarang menemukan situasi dimana mereka berdiam diri. Untuk bisa bertahan hidup, maka warga Jakarta harus berjuang untuk memenangkan persaingan dengan menyampaikan pemikiran, memperdebatkan gagasan, mengungkapkan keinginan. Maka saat para peserta dimasukkan ke dalam situasi dimana harus diam, tidak boleh berbicara satu sama lain, tenang dan sepi, justru timbul keresahan. Saya yakin banyak pertanyaan muncul: “kalau saya butuh sesuatu, bagaimana?”; “kalau saya tidak memahami penjelasan Romo tentang konsep yang dijelaskan, saya harus bertanya kepada siapa, sementara saya malu kalau harus langsung bertanya kepada Romo?”; “kalau saya sakit, bagaimana?”; “kalau saya papasan dengan sesama peserta, masa saya tidak menyapanya, nanti saya di cap sombong” dan beribu pertanyaan lainnya. Belum lagi kekhawatiran bertemu dengan diri sendiri, yaitu pikiran-pikiran kita sendiri yang dapat dengan bebas dan liar bermunculan tanpa bisa dibendung, yang selama ini selalu kita simpan paling dalam ataupun kita sangkal keberadaannya, yang tanpa disadari menjadi pendorong untuk berlari dari suasana hening.

Pada saat awal saya mengikuti meditasi, hal-hal tersebut pun saya alami. Maka hanya dengan alasan kepatuhan terhadap aturan saja, saya menjalani silentium. Saya komit untuk tidak berbicara.

Dalam silentium, hal pertama yang saya hadapi adalah diri saya sendiri. Saya langsung berhadapan dengan pikiran saya yang tidak berhenti bermunculan, pikiran yang begitu sibuk dan tidak pernah berhenti. Meskipun bising, selama ini kesibukan dan hingar-bingar denyut kota Jakarta menjadi tempat saya bersembunyi dari kesibukan pikiran saya sendiri. Saat bertemu dengan pikiran-pikiran itu, seolah olah saya harus berhadapan dengan diri sendiri. Maka dalam keheningan saya menghadapinya, menerimanya, memeluknya, dan berdamai dengannya, kemudian ketenangan tidak lagi hanya di ranah fisik; tidak berbicara, tidak menimbulkan kegaduhan, tetapi juga meresap jauh hingga menyentuh batin.

Lebih jauh lagi, dengan silentium saya bisa secara jernih melihat pikiran apa yang muncul dan perasaan apa yang mengikutinya, menyadarinya dari saat ke saat. Maka buat saya silentium adalah alat yang bisa mempertajam kepekaan saya untuk “melihat ke dalam” dan untuk terus berada pada saat ini. Maka silentium bukan lagi sebagai peraturan, tetapi menjadi alat dan kebutuhan dalam perjalanan spiritual saya, dalam proses untuk “melihat ke dalam”.

Peace Walk
Di retret kali ini, di salah satu pagi di hari-hari awal masa retret, dimana hari masih gelap dan udara pagi masih terasa dingin, saya menggunakan kaos kaki untuk memberikan kehangatan dan rasa nyaman selama meditasi pagi. Seperti biasa, kami memasuki ruang meditasi, dan langsung bermeditasi dalam suasana hening berbalut Selimut Dhamma (the Seal of Dhamma) yang melindungi dari udara pagi yang dingin. Saya bermeditasi dalam hening. Menyadari pikiran yang muncul dari waktu ke waktu.

Saya merasa bahwa saya sudah cukup lama bermeditasi, dan terdengarlah “tiiiiiiiinnggggggggg…” Bel Romo bergema sebagai tanda meditasi berhenti. “Asiikk meditasinya selesai. Artinya, saya bisa meluruskan kaki saya yang sudah mulai mati rasa…”

Romo berkata “mari kita melakukan peace walk.” Saya langsung berpikir “aahh enak juga nih peace walk. Mungkin seperti walking meditation. Lumayan bakal mengurangi pegalnya kaki”.

Kemudian Romo mengatakan bahwa kita perlu mencopot kaos kaki dan kita akan berjalan di atas rerumputan di halaman wisma tanpa menggunakan alas kaki. “Waduhh harus buka kaos kaki ya.. dingin dong..” Otomatis meluncur pemikiran seperti itu. Namun, saya pun langsung mencopot kaos kaki, dan menanggalkan kenyamanan saya. Si pikiran muncul “Apa lagi sih ini….. hmmm jalan di atas rumput; nanti kalau ada semut gimana; saya alergi dengan gigitan serangga; pasti kaki saya bisa bengkak; dan kalau saya menginjak cacing bagaimana”.

Dalam sepersekian detik, pikiran itu muncul dengan cepatnya. Bayangkan, sebagai warga Jakarta, yang sudah tidak mudah menemukan rumput, pasti sudah sangat lama sekali tidak pernah berjalan di atasnya. Namun saya tidak berdaya untuk menolak. Saya harus melakukannya. Saya berjalan mengikuti semua peserta yang langsung berjalan di belakang Romo.

Saat saya akan membuat langkah pertama meninggalkan ruang meditasi dan harus melangkah ke arah halaman, ada suara di benak pikiran “Inilah saatnya…good bye kehangatan, keamanan dan kenyamanan…. Hmm saya harus pilih jalan yang enak ahh..” Demikian si pikiran muncul dan sayapun memilih untuk menginjak bebatuan jalan setapak. Saya berpikir
“Hmm.. masih ok lah kalau bebatuan ini, asal jangan kena rumput nih, agak basah karena embun pagi, pasti dingin…”.

Saya melanjutkan berjalan dari satu batu ke batu berikutnya tanpa menyinggung rumput yang tumbuh diantaranya. Namun hal itu tidak bisa saya pertahankan lebih lama, saya sudah sampai di ujung bebatuan dimana saya tidak memiliki pilihan apapun kecuali menginjak rumput pagi yang basah.

Si pikiran langsung muncul lagi “Oh no… harus menginjak rumput ini… basah…lembek…ihh jijik… tapi aduh kayaknya saya ga bisa berbuat apa-apa, saya nggak bisa dong bilang ke Romo bahwa saya jijik.”

Akhirnya saya melangkah di atas rumput. Saya menjadi ragu. Muncul rasa keengganan yang luar biasa di dalam hati. Saya bisa merasakan adanya helai rumput-rumput yang saya injak, masih basah, dan juga tanah yang lembek. Si pikiran muncul lagi, “Sesuai dugaan… basah dan lembek…. Semoga nggak ada serangga yang gigit… tapi pasti banyak cacing… nah rumah cacing yang tanahnya menggunung, pasti tanah itu jadi lembek banget karena embun pagi ini, wah kalau keinjak, iihhh… pasti ga enak banget kena telapak kaki, semoga saya ga menginjak rumah cacing.”

Tiba-tiba Romo berkata “Sadari setiap langkah tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka…” Entah mengapa, perkataan Romo tersebut rasanya seperti ditujukan kepada saya, untuk menjawab suara-suara yang sibuk di kepala saya. Kalimat itu saya ulangi beberapa kali dalam hati, saya pahami dan resapi. “Menyadari tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka …” Kemudian secara langsung kalimat tersebut benar-benar melemahkan bahkan menghentikan kesibukan pikiran saya dan berubah menjadi sumber energi untuk saya bisa melangkah. Setelah itu setiap langkah menjadi lebih mantap dan lebih ringan. Saya menyadari setiap langkah, saat kaki kanan terangkat dan mendarat dengan bagian tumit terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan seluruh telapak kaki kanan saya yang menapak kuat di atas rumput pagi, lalu di susul oleh kaki kiri yang terangkat dan melangkah ke depan, tumit kiri mendarat di atas rumput basah, diikuti oleh seluruh telapak kaki kiri. Saya sadari pula bahwa bentuk rumput dan tanahnya, masih sama. Ada bagian yang helai rumputnya cukup renggang sehingga lebih terasa tanahnya, dan ada bagian yang rumputnya sangat lebat sehingga tidak terasa tanahnya. Semua saya jalani, tanpa memilih bagian tanah mana yang akan saya injak, tanpa juga memunculkan rasa suka dan tidak suka. Saya terus melangkah, hingga kegiatan itu selesai.

Pengalaman sederhana di pagi itu, memberikan insight buat saya bahwa betapa cepatnya pikiran dan ego muncul bahkan lebih cepat dari pada kecepatan cahaya. Pikiran dan ego selalu mencari kenyamanan dan berlindung di baliknya. Pikiran dan ego terus merayu saya untuk mengikutinya. Ia hadir dalam bentuk yang sangat halus, sampai bentuk yang sangat nyata, jelas dan terdengar keras. Proses yang saya alami pun tidak mudah. Kemunculan pikiran itupun berjalan dengan sangat cepat, sekaligus sangat halus. Ia tidak cukup terdengar namun ia ada. Ia membesar dan menguat apabila saya terbawa oleh kehadirannya dan langsung mengikutinya. Titik balik buat saya adalah saat saya memutuskan untuk menembus rasa aman atau nyaman, menjalani apa yang harus saya jalani, tanpa berpikir. Saat dijalani, ternyata saya baik-baik saja; segala kekhawatiran saya tidak terwujud.

Seperti halnya air sungai yang mengalir, saya menjalani setiap latihan tanpa membawa banyak kekhawatiran. Meskipun air sungai akan bertemu batu yang menghadangnya ataupun harus terjun karena perbedaan ketinggian dasar sungai, ia terus mengalir. Tanpa berpikir, hanya menjalani saja.

Manusia dan alam
Pada hari kelima di sore hari, kami melakukan meditasi di tengah halaman rumput, di bagian depan wisma. Suasananya sangat menyenangkan dan sangat kondusif untuk bermeditasi.

Saya dapat dengan jelas merasakan angin yang berhembus. Sentuhan angin membawa kesejukan yang menerpa wajah, tangan dan sekujur tubuh. Saya letakkan tangan saya di atas lutut kaki yang bersila setengah lotus, dengan telapak tangan menghadap ke atas sehingga rasanya saya bisa menyerap seluruh kesejukan angin dan udara dengan seluruh permukaan kulit, khususnya melalui telapak tangan. Kesejukan dan kesegaran angin yang bertiup lembut memberikan kesegaran buat jiwa dan raga, yang terus menembus masuk, menyusup ke seluruh sel di dalam tubuh. Kesegaran angin pun membuat saya sadar akan saat ini (here and now).

Suara burung riang gembira berkicau menemani kami bermeditasi. Suaranya yang beragam menunjukkan jenis burung yang beragam Ada yang suaranya keras dan ada yang nyaring. Ada yang suaranya dekat dan ada yang jauh. Ada yang panjang bunyinya dan ada yang pendek-pendek. Ada yang sering terdengar dan ada yang jarang. Saya merasakan bahwa kicauan mereka begitu ringan, tanpa beban, tanpa khawatir, tanpa berpikir, hanya berkicau. Suasana itu memberikan kegembiraan sekaligus ketenangan. Itu menyadarkan saya untuk tidak bersibuk diri dengan pikiran dan menghadirkan saya di momen ini, saat ini dan disini.

Air yang mengalir di sungai pun terdengar dengan jelas. Bunyinya konstan dan terus berlangsung yang menunjukkan bahwa air terus mengalir, walaupun saya yakin di dalam sungai itu terdapat banyak bebatuan. Namun kelenturan air dapat melewatinya dengan baik dan tidak menjadikannya hambatan. Air akan mencari celah yang bisa dilaluinya. Setiap air baru yang bertemu dengan batuan tersebut, tetap menunjukan kelenturan yang sama. Betul, setiap air yang bertemu dengan batuan tersebut adalah air yang baru. Demikian juga dengan momen yang sedang kita hadapi, adalah momen yang baru. Moment ini adalah awal sekaligus akhir; hanya ada satu momen ini, yaitu pada saat ini. Kelenturan air yang dibawa oleh suara gemericiknya, dan kesadaran akan momen yang selalu baru, meresap masuk ke dalam batin, membuat saya dapat secara lentur menyadari kehadiran si pikiran dan tidak terjebak untuk larut di dalamnya, sehingga memudahkan saya di dalam meditasi.

Keberadaan saya di tengah alam, sangat membantu dan mempermudah saya untuk masuk lebih dalam. Saya sungguh hadir pada saat ini disini sepenuhnya. Menyadari setiap pikiran yang hadir dan iapun segera lenyap begitu saja.

Manusia memang sangat dekat dengan alam, karena sesungguhnya manusia memiliki sifat sifat yang sama dengan alam. Ia tidak bisa ada dari dirinya sendiri. Ia membutuhkan berbagai elemen yang membuatnya menjadi ada. “Being is always inter-being,” begitu kata Romo.

Meditasi dan Perjumpaan dengan Tuhan
Meditasi adalah suatu perjalanan ke dalam, perjalanan untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sadar akan segala sesuatu, termasuk menyadari setiap pikiran yang tidak berhenti berdatangan, itulah inti meditasi. Seorang biksu pernah berkata bahwa pikiran ini seperti jumping monkey. Ia dapat datang seenaknya dan dapat melompat dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Ia bisa loncat ke masa lalu, ke momen beberapa menit yang lalu hingga kebeberapa tahun yang lalu. Ia bisa loncat pula ke masa depan, ke bayangan momen beberapa menit atau beberapa tahun yang akan datang. Pikiran adalah seperti seekor kera yang suka melompat-lompat, menciptakan konsep di kepala kita, yang kita proyeksikan berdasarkan pengalaman masa lalu, kemudian memunculkan interpretasi yang bebas dan liar.

Ego tidak lain adalah pikiran, pikiran yang menjadi pusat atau sumber “eksistensi”. Ego adalah pikiran yang mementingkan dirinya, yang menyerap diri kita ke dalam pikiran itu sendiri. Jika kita tidak awas, si jumping monkey lah yang menguasai kita. Oleh karena itu, penyadaran akan kehadiran si pikiran menjadi sangat penting. Prosesnya terus berlangsung tanpa henti.

Selain pikiran, di dalam meditasi segala sesuatu menjadi sangat relatif. Kadang waktu terasa sangat lama atau berjalan sangat lambat. Kadang ia terasa berlalu terlalu cepat, sehingga rasanya kekurangan waktu. Begitu juga dengan fenomena fisik. Kadang kaki dengan posisi bersila ini terasa sangat sakit, hingga menusuk hingga ke tulang terdalam dari sekujur kaki. Ujung jempol kadang mati rasa sampai persendian kaki. Rasanya seperti mau menjerit karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Juga dengan punggung baik punggung bagian bawah, tengah hingga bagian atas. Di lain waktu, kaki dalam posisi bersila terkadang tidak terasa keberadaannya; rasanya ringan. Punggung pun dapat tetap tegak tanpa ada rasa sakit hingga meditasi berakhir. Maka semua fenemona fisik pun bersifat relative.

Ketika kita dibebaskan dari jebakan Jumping monkey, absoluditas waktu dan rasa sakit, kita berjumpa dengan suatu pengalaman yang lain. Pada saat saya bisa secara jelas menyadari setiap pikiran yang datang, maka jumping monkey pun langsung lenyap begitu saja. Kesadaran inilah yang perlu saya hadirkan terus, dari momen ke momen. Hingga akhirnya saya menemukan ruang batiniah yang sangat luas, tidak terbatas dan tidak terdapat apa-apa di sana, kosong, tanpa bentuk apapun. Awalnya saya menemukannya secara samar-samar atau terasa kecil. Kemudian saat saya masuki lebih dalam, ruangan itu menjadi semakin besar, luas dan tidak terbatas, dan semakin jelas bahwa di dalam nya tidak terdapat apapun. Pada saat ruangan tersebut tersadari, sekonyong-konyong saya disergap oleh perasaan ketenangan dan keheningan yang mendalam, sekaligus memberikan luapan rasa kepenuhan yang tidak terbendung, kekayaan yang sempurna, kehangatan yang romantis, sekaligus rasa kesatuan yang tak terpisahkan, dan kebahagiaan yang tiada terkira. Luapan suka cita termanifestasi dalam cucuran air mata dan senyum bahagia terulas di bibir. Inilah yang saya sebut sebagai The Ultimate Happiness (Kebahagiaan Tak-Terbatas). Pada saat bersamaan muncullah pemahaman bahwa inilah rasanya saat kita bertemu dengan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kasih, Yang Maha Penyayang. Cinta yang sangat mendalam atau Tuhan dalam bahasa umum. Ia adalah Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan. Kita manusia adalah juga Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan, sama seperti Dia.

Surrender (keikhlasan atau penyerahan diri)
Di hari kelima dalam retret MTO kali ini, setelah meditasi di taman, ketika sore berganti malam, kami melakukan peace walk lagi ke arah jalan raya. Karena ini adalah peace walk yang kesekian dan saya sudah mulai terbiasa dengan nya, maka saya pun langsung mempersiapkan diri untuk berjalan di dalam barisan yang berjalan mengikuti di belakang Romo.

Di dalam barisan, saya berjalan dalam diam, sama seperti yang lainnya. Kami melangkah dalam kegelapan malam. Saya bisa merasakan jalan yang saya injak. Berawal dari bagian halaman wisma, dimana saya bisa merasakan rumput di bawah kaki saya, sejuk helai rerumputan jelas terasa, dan juga tanah kering yang mulai terasa lembab seiring dengan malam yang mulai turun. Kemudian perjalanan diteruskan dengan menginjak bebatuan jalanan setapak. Terasa jelas keras dan tidak ratanya permukaan bebatuan. Hingga bebatuan jalan setapak itu habis. Ketika harus menginjak jalan yang terbuat dari beton, yaitu jalanan di dalam wisma yang sudah mengarah ke jalan raya. Ada bagian yang betonnya halus, ada yang mulai terurai karena erosi air. Bagian beton yang terurai hanya tertinggal kerikil-kerikil tajam dan pasir, sehingga menimbulkan rasa sakit yang menyengat di kaki. Setelah melewati jalan beton itu, sampailah kami di jalanan aspal, jalan raya yang dilewati oleh mobil, motor dan kendaraan lainnya.

Saat saya melangkahkan kaki di atas aspal, terasa permukaan aspal yang tidak rata. Terdapat kerikil-kerikil kecil dan tajam, yang kalau di injak juga menimpulkan rasa sakit. Ada juga kerikil besar yang juga memberikan rasa sakit yang berbeda dengan kerikil kecil. Ditambah lagi jalan raya tersebut tidak dilengkapi dengan lampu jalan, sehingga jalanan menjadi sangat gelap. Saya terus berjalan. Mengikuti Romo yang berjalan paling depan, menghadapi gelapnya malam. Sesekali terdapat motor atau mobil yang lewat dan lampunya memberikan cahaya sehingga saya bisa melihat jalanan yang akan saya injak di depan saya. Saya bisa menghindari kerikil ataupun benda lain yang berbahaya. Namun setelah itu saya akan masuk lagi ke dalam kegelapan malam, dan terus melangkah.

Kemudian “Ttiiiiiinnngggg…” bel Romo bergema. Kami berhenti dan berdiri menghadap ke arah kota yang terletak di bagian bawah, jauh di depan kami. Terlihat kota yang penuh gemerlap lampu dan kembang api yang meledak di udara. Hari itu adalah Hari Lebaran sehingga penduduk kota merayakan kemenangan dengan menyalakan kembang api. Tampak indah dari kejauhan. Dalam keheningan malam itu, kami berhenti berjalan dan menatap pemandangan itu. Hening. Setiap peserta mengalami prosesnya masing-masing. Begitu juga dengan saya.

Saya berpikir, bahwa kami ini benar-benar melakukan apa yang diminta Romo untuk kami lakukan. Romo minta kami berjalan, kami berjalan. Romo minta kami berhenti, kami berhenti. Tidak ada seorangpun yang mengeluh dan protes akan keputusan dan kegiatan yang harus kami lakukan. Walaupun sesungguhnya Romo mengajak kami berjalan di jalan raya yang gelap. Bisa saja ada motor atau mobil ngebut yang tidak melihat keberadaan kami dan menabrak kami yang sedang berjalan. Ataupun bisa saja kami menginjak pecahan kaca yang berserakan di jalan raya. Namun semuanya itu tidak menjadi hambatan. Semua peserta tanpa terkecuali, melakukannya, juga saya.

“Tttiiiiiinnnnggg….” bel Romo bergema kembali dan Romo lanjut berjalan. Pada kesempatan itu, saya kebetulan tepat berada di belakang Romo. Saya berjalan mengikuti Romo. Saya melihat setiap langkah yang Romo lakukan dan saya pun mengikutinya. Langkah-langkah mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun. Lalu sekonyong-konyong saya tersergap oleh pemahaman akan kata SURENDER. Itulah yang kami lakukan dalam peace walk. Itu lah yang saya lakukan dan alami juga. Saya totally surrender (berserah total). Saya tidak tahu apakah saya akan menginjak pecahan kaca. Saya juga tidak tahu apakah saya akan menginjak jalan halus yang nyaman. Saya hanya berserah diri dan mengikuti semua kegiatannya dengan sepenuh hati. Pemahaman itu sekaligus memberikan rasa kepenuhan yang meluap keluar. Hingga saya pun tidak bisa membendung air mata yang bercucuran. Setiap langkah yang saya lakukan di gerakkan oleh sikap batin yang totally surrender.

Saat saya menginjak kerikil kecil yang memberikan rasa sakit minta ampun, saya tidak mengeluh sedikit pun dan saya pun tidak membiarkan kerikil itu terus melekat di telapak kaki saya atau saya tidak melekati penderitaan itu. Saya hanya melangkah. Tidak selamanya saya bertemu kerikil atau aspal yang tajam. Ternyata di langkah berikutnya, saya bertemu dengan aspal yang halus tanpa adanya kerikil, belum lagi ada cahaya lampu motor yang lewat, sehingga saya bisa melihat dengan jelas. Saya pun tetap melangkah. Jalanan yang halus tidak bisa membuat saya berhenti dan menikmati kenyamanan yang diberikan. Kenyamanan itu pun saya tinggalkan dan terus melangkah. Sekali lagi saya pun tidak melekati kenyamanan itu. Saya tidak tahu bagaimana kondisi jalanan di depan. Saya hanya terus melangkah. Secara sadar saya semakin paham dan yakin bahwa segala sesuatu dapat terus berjalan karena digerakan oleh sikap batin yang totally surender. Keharuan dan kepenuhan yang meluap-luap terus menemani langkah-langkah saya.

Saya teringat akan keseharian saya, dimana seringkali saya merasa bahwa segala yang saya peroleh adalah hasil dari usaha dan kerja keras saya. Tampaknya semua berada di dalam kontrol dan genggaman saya. Itu adalah bentuk kesombongan yang terus memperkuat ego dan memenjarakan kebebasan saya. Kini saya sadar bahwa hanya dengan totally surender semuanya akan baik-baik saja. Kesombongan tidak akan membawa saya kepada kebahagiaan. Kesombongan hanya memperkuat ego yang memenjarakan saya dalam penderitaan. Sebaliknya sikap batin yang totally surrender akan membawa saya kepada kebahagiaan.

Rasanya buat saya peace walk malam itu adalah kompilasi atau puncak pemahaman selama retret. Pada saat kita memberikan diri kita secara penuh dan digerakkan oleh sikap batin yang totally surrender, maka tidak ada lagi kekhawatiran, tidak ada lagi kemelekatan; yang ada hanyalah Kepenuhan, Kebahagiaan, dan Kebebasan. Semoga keikhlasan atau penyerahan diri secara total menjadi sikap keseharian saya.*

Bebas Kekhawatiran

By ACD, 46 th, karyawan swasta

Senang sekali diijinkan mengikuti retreat Lebaran 2016. Ini adalah pengalaman saya yang kedua mengikuti retreat meditasi yang panjang. Saya pernah mendaftarkan juga mengikuti retreat panjang pada saat lebaran tahun lalu, namun saya batalkan sendiri karena belum bisa melepaskan kekuatiran tentang kondisi pekerjaan. Namun timbul penyesalan karena kekuatiran itu sendiri, karena selama libur lebaran tersebut sayapun tidak melakukan apa-apa terkait dengan pekerjaan yang saya kuatirkan.

Kekuatiran muncul berkaitan dengan target yang harus dicapai dalam pekerjaan. Dengan membawa kekuatiran itupun saya niatkan dan mantapkan untuk mengikuti retreat kali ini.

Pada hari pertama saya merasa lucu saja melihat rekan-rekan lainnya hanya berdiam diri, tidak bertegor sapa walau duduk semeja makan dan bertatap muka. Bukannya kali pertama saya menyaksikan situasi seperti ini dalam retret, tapi serasa kali ini lebih lucu saja menyaksikannya sehingga membuat saya sering mendedangkan lagu dangdut dalam hati, sambil sedikit usil sampai akhir retreat tersebut.

Anehnya dengan keusilan tersebut, saya merasakan keheningan yang lebih jauh dalam ruang keheningan yang sangat luas. Apakah itu ekspresi dari bathin itu sendiri?

Sungguh saya sangat menikmati retreat kali ini yang disajikan dengan metode lain oleh Romo pembimbing. Kali ini banyak dipakai metode diskusi kelompok kecil dengan topik bahasan beragam. Diskusi memperkaya pemahaman akan makna kesadaran murni dan membantu kami tidak terjebak dalam teori belaka.

Kekuatiran yang saya bawa rasanya hilang dengan sendirinya. Saya menyadari bahwa masalah pasti selalu ada kapanpun. Bagaimana kita menyikapi dan menyadarinya dalam setiap laku dan langkah, itulah yang terpenting. Dengan menyadari setiap laku dan langkah, kita sadar akan “diri” kita yang sebenarnya.

Tidak terasa retret 9 hari berjalan cepat dan ditutup dengan Misa singkat. Setelah itu kami bisa berbicara lepas. Anehnya saya tidak menemukan kelucuan lagi di hati ini walau sudah berbicara lepas.

Saya menyetir mobil pulang ke Jakarta dengan rasa ringan. Tidak ada sesuatu yang terasa mengganggu dalam batin ini, meskipun timbul bintik-bintik luka kecil di tubuh yang terasa perih saat berkeringat atau saat terkena air ketika mandi. Barangkali efek detoksifikasi masih berjalan.

Akhirnya saya kembali lagi beraktivitas seperti biasa di dalam keluarga, pekerjaan dan terlibat dalam hubungan-hubungan inter-personal. Saya membiarkan kesadaran bekerja dalam setiap hubungan tersebut.

Saya membawa kesadaran baru bahwa kekwatiran itu bukanlah diri saya. Saya yang sesungguhnya adalah Kesadaran. Tugas saya adalah menjalankan tanggung jawab di dunia ini dengan penuh Kesadaran. Jalani dan jalani saja untuk kebaikan sesama dan alam semesta ini. Apapun yang terjadi, jalani saja. “Just Do it.”

Terimakasih
Salam
ACD

By AF, 50 tahun, karyawan sebuah Bank.

Terima kasih atas pengalaman dan bimbingan selama retret meditasi lebaran ini. Rasanya sulit untuk menuangkannya, karena setiap peristiwa sarat makna.

Saya senantiasa merindukan dapat ikut retret meditasi setiap tahun. Bagi saya, mengambil waktu khusus untuk mundur dari hidup keseharian, diam bermeditasi, sudah menjadi kebutuhan. Saya sempat mengalami keraguan sebelum mendaftar retret 9 hari ini. Ini tahun ke-7 saya rutin ikut retret meditasi dan sudah pernah 4 kali ikut yang 10 hari. Sejak ibu meninggal bulan Oktober 2015, saya memilih untuk pulang ke Semarang setiap weekend atau libur panjang. Ada ikatan batin untuk lebih memperhatikan keluarga terutama sejak kami menjadi yatim-piatu, dan sekaligus ingin menjenguk kakak yang harus hemodialisa seminggu 2 kali, serta beberapa kalidirawat di RS/ ICU. Masih terbayang amanat terakhir ibu,agar kami hidup rukun, saling memberi-menerima dan mencintai. Kondisi fisik saya beberapa bulan terakhir hampir selalu pulang di atas jam 9-10 malam bahkan nyaris tengah malam atau dini hari baru tiba di rumah. Lengkaplah kelelahan saya. Syukur kepada Allah karena pada saatnya, saya dapat mengikuti retret meditasi lebaran 2016.

Selama retret meditasi, saya sering mengalami pergulatan menghadapi berbagai obyek bebas-liar yang selalu muncul melalui pikiran. Penjelasan Romo mengenai “I”, “me”, “mine”, “self” dan “no self”, pada awal retret, sangat membantu saya untuk menemukan kedamaian sekalipun kecamuk obyek bebas-liar masuk-keluar. Obyek masuk dalam wujud apa saja: masa lalu, memori, angan-angan, kondisi, ingatan yang menyakitkan, peristiwa, kegalauan untuk mengubah posisi tubuh, atau reaksi terhadap serangga. Obyek bisa berupa fisik maupun non-fisik dari dalam atau luar diri. Setiap bergumul dengan obyek, pikiran tercurah pada daya upaya, ketidakjelasan, dan ketidakbermaknaan.

Dengan menetapkan hati penuh kesadaran pada saat mengambil sikap siap akan memulai meditasi, bahwa ini adalah Meditasi, tidak ada aku (ego/ diriku) yang bermeditasi. Tidak ada artinya semua penderitaan atau rasa sakit timbul-lenyap tanpa ada si aku. Dengan cara ini, saya merasa sangat mudah untuk masuk ke dalam suasana hening. Setiap obyek yang tiba-tiba masuk saya ikuti, dan begitu kesadaran muncul, tanpa ampun pikiran terhenti; kemudian mantap masuk kembali bergumul dalam keheningan, menembus dalam. Penderitaan yang muncul tidak mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak runtuh oleh penderitaan. Tidak menetapkan target apapun saat meditasi, selain hanya ingin “diam” masuk dalam keheningan. Ini justru membuat saya memperoleh kekuatan untuk bertahan lama dalam keheningan. Saat diri sadar ada penderitaan, tertekan, sakit luar biasa, kesadaran murni muncul dan dengan cerdasnya melenyapkan seluruh penderitaan, mengubah menjadi kekuatan.

Pada hari kedua, ingatan pada kalimat “Diam dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:11), muncul saat meditasi di halaman depan, menguatkan saya untuk masuk lebih dalam, merasakan ketenangan, kedamaian, suka cita, dan penerimaan apa adanya. Menanggalkan “keakuan”, meniatkan diri untuk tekun, sabar, dan “diam” (tidak sibuk dengan pikiran) membiarkan Kesadaran mentransformasi penderitaan. Puji Tuhan, saat mengkonsultasikan kepada Romo, saya mendapat pencerahan bahwa penderitaan hanya merupakan percik-percik kehidupan. Menolong penderitaan orang lain baru dapat dilakukan secara efektif jika kondisi batin bebas (murni).

Dalam kesempatan lain, terumuskan, saat diri pernah meraih keberhasilan, secara normal diri mudah untuk ingin kembali berada pada posisi yang sama. Ibarat permainan jungkat-jungkit, betapa senang saat saya berada di posisi atas. Diri pun ternyata suka dan cenderung mencari rasa aman, pujian, penghargaan, pengakuan. Bagai sekeping mata uang, inipun terjadi saat berkanjang dalam meditasi selanjutnya, di ruangan, di dekat sungai, pendopo, di area atas, saat subuh, pagi, siang, atau malam. Membiarkan diri larut dalam melakukan hal yang disukai ataupun posisi sama yang pernah diraih, jika disadari, hanya mengakibatkan batin terkondisi dengan kemelekatan. Semakin kuat melekat, yang ada hanya ketidakbermaknaan, karena Ego memegang kendali.

Ego adalah pikiran yang terus bergerak, berlari, memenuhi dan mencoba menguasai diri karena dorongan agar puas di posisi atas. Betapa senang jika dapat menguasai, mendapat pujian, dilindungi, jauh dari kesulitan, atau bentuk-bentuk lain sejenis. Sejak lahir hingga dewasa, mungkin hampir setiap anak masuk dalam mekanisme diprogram harus ini dan itu, “ditepuktangani”, diinginkan orang tua menjadi seperti maunya, tanpa menyadari bahwa ada batin dalam setiap diri sang bocah (manusia) yang perlu didengar, diajak berkomunikasi dalam “diam.”

Hanya dengan Kesadaran Murni, memahami semua obyek, Kenikmatan ataupun Penderitaan, bertahan dan memberi perhatian penuh ke dalam akar Penderitaan, tidak jemu terus-menerus berada dalam “diam”, maka kita dimampukan untuk mengalami kelegaan, kedamaian, penyembuhan atau pemurnian batin.

Berbagai moment kedamaian saya alami saat peace walk dan jeda standing meditation, berjalan tanpa alas kaki di atas rerumputan, jalanan, dan segala obyek, dalam kegelapan, menyadarkan saya bahwa Allah begitu memberikan kasih yang besar kepada saya, dan betapa bumi, langit, dan semesta memiliki enerji luar biasa yang dapat memberi dan menguatkan kesadaran saat kita mau “diam”, hadir melalui meditasi.

Puncak ekstase meditasi yang saya rasakan adalah saat meditasi malam di pinggir sungai, dalam deburan suara air, gemerisik angin, gesekan dedaunan, berbagai bunyi hewan dan unggas yang saling memadu bersahutan. Sangat indah. Saat penderitaan terasa menghampiri dan mendesak, saya menarik dan menghembuskan nafas panjang beberapa kali. Sempat terasa tubuh saya terangkat, begitu ringan. Sungguh kedamaian yang teramat dalam.

Melalui alam semesta saya banyak dicerahkan. Memahami suara air yang mengalir tiada henti, dahan pohon yang tenang tegak berdiri, sapaan angin malam penuh kelembutan, malam yang tidak selamanya kelam, langit berhiaskan bulan dan bintang. Semua bergerak tenang-damai, memberikan enerji bagi saya untuk lebih dalam bersyukur. Tak terasa menitikkan air mata rasa syukur saat menatap langit dan terlintas senandung “Betapa Mulia Nama Tuhan…”

Meditasi mencerahkan saya, mengingatkan saya sebagai mahluk ciptaanNya, untuk senantiasa “diam” hadir bersamaNya. Tanpa sibuk berdaya upaya, tanpa target, diam bersama nafas. Saya percaya bahwa Roh yang telah diberikan Allah kepada tiap manusia, dan hanya hadir total melalui diam, pasrah, berserah, sadar penuh, tekun-sabar dalam penderitaan, maka batin bening murni bebas tak terkondisi akan terpelihara abadi.

Pencerahan retret saya rasakan sudah muncul sejak kehadiran, saat secara acak saya mengambil dhamma-sheet berisi “Praktek Kesadaran keempat: Menyadari Penderitaan”. Saya tergetar karena sangat pas dengan kondisi saya yang sedang memikirkan bagaimana cara menolong penderitaan orang lain. Saya belajar melihat lebih dalam makna penderitaan, belajar menerima, memeluk, mendengarkan dengan segenap enerji kesadaran, tidak menutupinya dengan berbagai kesenangan, melainkan terus berlatih dengan tekun, bertahan bersama penderitaan dan siap bertahan di dalamnya selama apapun jika kondisi menuntut demikian. Hanya dengan cara memahami akar penderitaan, barulah dapat terjadi transformasi Penderitaan. Selajutnya barulah saya dapat menolong orang lain, lewat perjumpaan dengan tiap pribadi secara langsung maupun tidak langsung.

Secara umum saya memperoleh Pencerahan sejak awal hingga akhir retret. Saya pulang dengan mantap, dan setidaknya lebih tahu dibanding sebelumnya, apa yang harus lebih dulu saya lakukan terhadap diri saya sebelum menolong penderitaan orang lain.*

By Angela Asriarti, 36 tahun, Management Keuangan.

Penulis Testimoni ini pernah belajar hidup kontemplatif di Biara Trapistin Gedono selama 6 tahun dan kini sedang menyiapkan diri untuk belajar hal yang sama di Biara OCD Lembang. Tulisan berikut adalah Testimoni pengalaman Retret MTO 2-10 Juli 2016. (Admin)

Sebelum mencoba menggambarkan dan merefleksikan perjalanan rohani ini, pertama-tama saya sungguh ingin mengungkapkan ucapan terima kasih untuk Romo pembimbing, panitia, dan rekan-rekan seperjalanan dalam retret kali ini. Saya merasa bahwa ucapan ini tidak sebanding dengan pengalaman berharga nan indah yang sudah diberi begitu saja selama 9 hari. Sembilan hari yang setara dengan sembilan masa tak terukur yang sungguh bermakna dalam, sebagai buah dari totalitas ketulusan kasih Romo Sudri bagi kami, masing-masing maupun bersama.

Setelah sekian waktu lamanya dalam masa transisi hidup saya, saya mulai perlahan menjauh dari perjalanan interior. Momen ini telah memperbaharui kembali janji yang telah saya ucapkan untuk senantiasa belajar menerima undangan cuma-cuma dari Yang Ilahi, bergerak dan bertindak dari kedalaman ruang batin penuh kesadaran.

Ada intuisi bahwa perlu membiarkan diri ini kembali bertolak ke dalam ruang batin yang seringkali saya hindari. Namun saya ingat, saat Romo mengirim pesan bahwa saya diperbolehkan untuk menjadi peserta, seketika itu pula muncullah keraguan besar pada keinginan sendiri. Apakah saya akan dapat bertahan selama sembilan hari? Ataukah ingatan-ingatan yang membuat batin ini sedemikian keruh justru akan membawa diri saya semakin jauh berlari menghindari kenyataan? Apakah mungkin bagi saya untuk diijinkan pulang lebih awal sehingga tidak perlu sampai di akhir hari ke sembilan? Pertanyaan terakhir dijawab langsung oleh Romo. Beliau memastikan, saya harus mengikuti sampai selesai. Pertanyaan lainnya baru akan terjawab di saat-saat terakhir retret.

Saya menerima anugerah perjumpaan kembali dengan rekan-rekan yang telah sekitar 6 tahun tidak bertemu, sejak retret bersama di Wisma Cibulan. Juga beberapa rekan lainnya yang baru pertama kalinya hadir. Namun nampaknya kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadikan suasana berkanjang dalam kehangatan kasih kekeluargaan.

Hari pertama, saya sempat mengagumi lokasi retret yang penuh dengan berkah kesegaran. Sungai kecil yang mengalir, pepohonan, serta kontur tanah yang naik dan turun. Bagi saya, ideal bagi orang-orang yang rindu menimba kearifan serta kekuatan alam sebagai daya hidup yang tak kunjung habis ditimba, meski manusia menjadi alpa untuk mengembalikan kebaikannya. Namun meski dengan itu semua, kekalutan pikiran dan batin ini, hampir tak tertahankan. Bahkan Misa pembukaan, tidak membawa pengaruh yang cukup berarti. Saya menjadi amat lelah. Syukurlah, Romo memberi waktu istirahat malam lebih awal daripada yang telah disepakati bersama.

Hari berikutnya, saya mulai sedikit demi sedikit dapat mengikuti tata tertib dengan perhatian yang lebih intens. Mulai dari pola makan vegetarian serta proses detoksifikasi tubuh melalui air minum yang disediakan serta dipersiapkan khusus oleh Romo. Bahkan sekali waktu saya sempat melihat Romo sendirilah yang mengangkat galon-galon air itu. Akh, ketika melihat hal itu batin saya bergeming dan bertanya, untuk apakah Romo bersusah payah seperti itu? Sebenarnya untuk siapakah semua itu Romo lakukan? Dan sesungguhnya siapakah saya ini? Betapa itu semua pun pada akhirnya hanya dapat terjawab dalam keheningan batin dan bukan melalui gerak pikiran yang dilekati oleh ego.

Saat-saat kebersamaan kami diwarnai dengan uraian-uraian Romo tentang perjalanan yang sedang ditempuh hingga ke akhir perjalanan nanti. Tentang bagaimana setiap kali kami dapat terus belajar menerima kesempatan untuk berlatih menyadari gerak batin yang penuh dengan keterkondisian dari ego yang masih bercokol. Romo menunjukkan pada kami cara yang efektif dan efisien untuk mengakhiri penderitaan akibat kelekatan-kelekatan dari segala bentuk objek. Bahkan juga bagaimana senantiasa belajar melihat dalam kejernihan tanpa intervensi ego atau keakuan. Tetapi perlu dinyatakan sekali lagi kesepahaman kami bahwa ternyata jalan kesadaran yang ditawarkan ini tidak selalu manis berbunga-bunga. Ini menyakitkan.

Saya mengalami keindahan tersendiri ketika setiap sore, kami berbagi pengalaman-pengalaman riil dalam meditasi 24 jam minus tidur yang sedang dijalani bersama. Betapa nyatanya bahwa di antara kami, tidak ada perbedaan yang berarti. Bahwa masing-masing dari setiap pribadi, pada akhirnya akan harus berjalan semakin dalam ke ruang interior batin dan menemukan sendiri siapa dirinya sesungguhnya, yang bukan hasil identifikasi dari pikiran. Ini adalah kesempatan saling memperkaya melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam meditasi yang dibagikan.

Secara pribadi, saya sangat tersentuh ketika kami berjalan beriringan melakukan peace walk ke jalan raya dalam kegelapan pagi maupun sore hari. Ada dimensi yang melampaui bahasa manusia. Keheningan mendalam di balik lalu lalang kendaraan, suasana riuh perkotaan di kejauhan, dan terutama di tengah-tengah suara alam. Menapak dengan bertelanjang kaki seolah-olah mengundang kesadaran terdalam untuk merangkul setiap jiwa yang berada dalam kegelapan, di setiap langkah kami.

Retret kali ini juga seakan-akan mengantar saya pada kesadaran fisik. Betapa tubuh saya pun dapat perlahan menjadi aus di beberapa tempat, khususnya bagian kaki kanan. Menerima keadaan fisik yang sudah tidak seperti dulu. Berkali-kali berdiri di tempat dan mengubah posisi duduk. Tapi sudah kepalang tanggung, saya tidak bisa terus berlari setiap kali merasa kurang nyaman. Sekali waktu, akhirnya saya memutuskan untuk bertahan selama mungkin dalam pada posisi yang sama sampai sungguh-sungguh terasa tak tertahankan sakitnya. Tidak frustasi ketika dirasa perlu mengubah dan belajar peka pada suara arahan Romo untuk membiarkan diri terarah lebih dalam pada kesadaran di luar tingkat kesadaran fisik semata. Berlatih untuk menjadikan segala objek pikiran termasuk sensasi tubuh sebagai batu loncatan untuk menemukan ruang kesadaran yang melampaui objek dan subjek.

Hal serupa juga menjadi pengalaman tersendiri bagi kami ketika Romo menyentuh titik terdalam dari jiwa kami masing-masing. Momen meditasi bersama di taman yang berlimpah kesegaran, bagi saya, adalah saat penting dalam kesadaran untuk bertemu dengan ego yang masih tersembunyi, meskipun pikiran mampu meyakinkan saya bahwa semua sudah terselesaikan. Romo juga mengatakan pada kami, hal-hal sama yang seringkali muncul itupun dapat menjadi bantuan untuk mengenali siapakah saya yang sesungguhnya. Ahh…! Menggambarkan secara rinci mengenai pengalaman itu, rasanya tidak mungkin. Yang bisa saya ingat adalah pada awalnya memang sangat tidak menyenangkan dan cenderung menyesakkan dada. Namun di ujung kesadaran, hanya ada kekosongan. Tak ada apapun yang dapat dikatakan sebagai derita tak tertanggungkan. Semua adalah ilusi.

Sore hari yang terakhir penuh kehangatan dan menyejukkan jiwa. Saya memeluk satu demi satu rekan-rekan seperjalanan dan diundang oleh Romo untuk saling membagikan Terang Kesadaran yang telah dianugerahkan pada kami masing-masing. Kami melakukan peace walk terakhir sembari membawa misi perjalanan rohani di kehidupan berikutnya. Kedamaian sejati yang tidak dapat diberikan oleh dunia dan terpatri rapi di sudut ruang hati, itulah sekurang-kurangnya bagi saya. Bekal berlimpah untuk terus berjalan ke dalam dan setia pada “Empat Janji Agung” yang sudah saya ucapkan dalam Misa penutupan. Misa paling indah yang pernah saya alami serta sungguh menggetarkan jiwa. Kemahakuasaan Kasih Sejati yang tidak akan lenyap meski langit dan bumi berlalu.

O Yang Tak Terselami, bantulah kami senantiasa untuk setia berkanjang di kedalaman ruang kesadaran dan menemukan KerajaanMu yang abadi, bersama setiap jiwa yang Kau pertemukan dalam hidup kami. Amin.

Terima Kasih
dan Penuh Cinta,
Asri

Bebas Batin Ini Membahagiakan

FYWS, 47 tahun, Wiraswasta, Surabaya

Sudah 5 kali saya mengikuti Retret Meditasi yang dibimbing Romo Sudrijanta. Retret Meditasi pertama kali tahun 2010 dan yang terakhir kali tanggal 1-5 Oktober 2014 di Claket, Pacet, Jawa Timur.

Lewat tulisan ini, saya bermaksud ingin membagikan pengalaman meditasi untuk saling menguatkan satu dengan yang lainnya.

Apa yang saya rasakan 5 tahun lalu sebelum saya mengenal Meditasi Tanpa Objek (MTO)? Saya merasakan keterpisahan antara kehidupan dan pikiran atau batin saya. Saya rindu kedamaian batin. Kedamaian batin tersebut saya cari dengan cara mengolah daya pikir dan menekan batin. Saya tidak berhenti untuk selalu mencari dan mencari, tetapi sulit untuk merasakan kedamaian tersebut.

Untuk bisa mengalami kedamaian, sesungguhnya batin sudah mengirimkan “tanda” untuk diketahui. Melalui Meditasi yang diajarkan Romo, saya melihat lebih jelas mengenai pola pikir dan batin yang terkondisi yang selalu menyuarakan sesuatu. Pikiran dan batin yang terkondisi ini membuat kehidupan yang saya jalani terasa tidak memuaskan. Setelah belajar berbagai metode meditasi dalam kurun waktu yang relative lama, barulah saya menyadari bahwa pokok persoalannya terletak pada kurangnya intensitas dalam menangkap objek yang disadari secara terus-menerus hingga objek tersebut lenyap dengan sendirinya.

Selain Meditasi Kristiani, saya juga mendalami meditasi konsentratif atau Samatha dalam Buddhisme. Pada mulanya, saya merasakan kelelahan, karena saya mengandalkan konsentrasi untuk mengendalikan buah-buah pikiran yang selalu bermunculan dan melompat ke sana ke mari.

Setelah lama saya mengembangkan meditasi konsentratif atau meditasi yang berfokus terhadap suatu objek, mulailah saya berlatih MTO. Pengalaman meditasi fokus sebelumnya sangatlah membantu dalam Meditasi Tanpa Objek. Saya dapat melihat “objek” tanpa terlompati, tidak bereaksi dengan menilai. Saat pengamatan menguat, biasanya saya mengalami kesesakan sebelum “objek” tersebut lenyap. Kesesakan tersebut adalah manifestasi dari keterbatasan pikiran, keterkondisian batin, reaksi suka dan tidak suka.

Terasa makin hari batin makin damai. Di tengah hidup keseharian, terdapat moment-moment damai yang tak terkatakan.

Dahulu saya mengira bahwa di “titik nol”, saya hanya akan bertemu rasa bosan. Tetapi semakin banyak mengalami “titik nol”, terasa justru makin damai karena kita dilepaskan dari keterbatasan pikiran dan keterkondisian batin. Kita menjadi mudah menerima segala sesuatu sebagai baik adanya. Bebas batin ini membahagiakan. Itulah esensi pencerahan.

Salam hening untuk semua makhluk.

Medio Desember 2014

Belajar Keheningan

Testimoni dari Retret 5 hari, 14-18 Mei 2014
BS, 55 tahun, Jakarta

Pada hari pertama dan kedua Retret, saya kesulitan untuk hening. Pada saat meditasi duduk, kaki saya kesemutan dan pikiran masih mendominasi meditasi. Semakin berusaha menghilangkan semakin kesemutannya bertambah dan banyak gambaran yang muncul silih berganti. Meditasi jalan (walking meditation) juga seperti jalan santai, mengikuti peserta yang berjalan di depan saya dan rasanya ingin cepat selesai.

Pada hari ketiga, pagi hari sebelum mulai meditasi, saya coba olah tubuh ringan cara yoga dari ujung kepala sampai ujung kaki sehingga tubuh terasa lebih rileks. Sesuai dengan bimbingan Romo, saya juga praktekkan penyadaran sensasi tubuh dari dahi, kelopak mata, dan syaraf-syaraf lidah. Semua harus rileks dengan sentuhan kesadaran. Kalau dahi berkerut, pikiran bergerak. Senyum dan napas perut perlahan melalui hidung secara teratur membuat tubuh semakin rileks.

Meditasi di dalam ruangan masih belum bisa hening, namun meditasi lebih terasa nyaman. Kaki tidak kesemutan lagi dan meditasi jalan sudah harmonis dengan masuk-keluar napas perut lewat hidung. Meditasi di alam terbuka sangat mendukung karena suasana alam yang segar, pemandangan yang indah, kicauan burung, dan bunyi jengkrik. Semuanya menyatu dan menambah meditasi semakin khusuk. Pada moment itu pula alam bawah sadar saya mengisyaratkan “look at the tip of your nose” (lihat ujung hidungmu). Dengan mata terpejam ringan saya coba ikuti suara hati tersebut dan saya bisa melihat suatu layar terang. Layar tersebut semula kecil dan makin melebar. Saya tersenyum senang. Tanpa sengaja saya coba atur napas perut masuk-keluar perlahan-lahan lewat hidung dan bisa bertahan cukup lama. Saya buka mata, dan coba mengulang proses semula dan bisa merasakan keheningan dan layar terang kembali. Waktu meditasi jalan, tanpa ada halangan saya ulangi proses yang sama dan bisa merasakan keheningan sama seperti waktu meditasi duduk.

Selanjutnya waktu kembali meditasi di dalam ruangan terang dan gelap saya juga bisa merasakan keheningan meskipun gambaran layar terang sedikit berbeda. Saya merasakan getaran vibrasi tubuh dengan telapak tangan menghadap keatas di masing-masing lutut dan jari telunjuk dirapatkan dengan ibu jari bagian yang lembut antara menyentuh dan tidak seperti ada sehelai kertas diantaranya. Getaran vibrasi tubuh dari ujung jari tersebut terasa mengalir ke tubuh dan saya coba menyadari sensasi tubuh tersebut dengan napas perut perlahan keluar-masuk melalui hidung.

Meditasi hening pada hari keempat, baik duduk, berdiri dan berjalan, semakin menakjubkan dan waktu begitu cepat berlalu tanpa terasa. Keheningan yang saya dapatkan bukan cuma di hari ketiga retret, tapi juga didukung oleh latihan yoga dan meditasi dengan objek selama 15 tahun yang sudah rutin saya praktekkan sampai sekarang.

Meditasi hening ini akan saya praktekkan juga dalam keluarga sebelum doa malam bersama dan di lingkungan sebelum doa rosario serta pendalaman iman. Dengan Hening lebih mendekatkan batin kita dengan Tuhan. “Jadilah padaku, menurut kehendakMu”.

Terima kasih kepada Romo J Sudrijanta SJ yang sudah membimbing kami dengan sabar dan telaten, dan juga kepada panitia yang sudah mengemas Retret ini begitu apik dan diluar rutinitas.

Breathe and smile

Testimoni retret Bali 2014, MSW, 39th, Psikolog, Jakarta.

Selama 7 hari mengikuti retret meditasi, yang paling saya temukan adalah bertemu dengan diri saya sendiri, ketakutan saya sendiri, dan ego yang muncul sebagai bentuk reaksi dari objek yang hadir di luar diri saya ataupun pikiran itu sendiri sebagai objek. Beberapa bentuk ego itu sebelumnya sudah saya kenali dengan proses berpikir ataupun analisa saya sendiri. Bedanya sekarang, kesadaran akan ego tsb tidak disertai dengan rasa bersalah, kekecewaan ataupun rasionalisasi alias alasan rasional kemunculannya. Melihat ego itu sebagai sesuatu yang bukan diri saya yang sesungguhnya ataupun identitas yang menempel pada diri saya.

Temuan lain adalah sikap saya dalam menghadapi situasi atau perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan atau pikirkan. Biasanya reaksi yang muncul adalah penilaian kepada orang tsb, yang umumnya menjadi negative ataupun rasa kesal. Namun selama di sana, saya ternyata tidak merasa terganggu dengan situasi –situasi tsb, dan tidak merasakan emosi tertentu, baik positif ataupun negative. Yang ada hanya pemahaman terhadap kondisi orang lain dan itu bukan merupakan hasil dari pemikiran rasional atau pemikiran normative atau pemikiran yang mengharuskan ini atau itu.

Selama retret, saya menemukan ketakutan dan situasi social yang menimbulkan ketidaknyamanan dalam diri saya dan itu muncul dalam sensasi ketidaknyamanan dalam tubuh fisik saya. Saat badan ini tidak nyaman, ada ketegangan dan saya hanya menyadari dan berusaha untuk tidak menggunakan pikiran untuk mengetahui konflik apa yang sebetulnya sedang terjadi dalam diri dan batin saya. Kalau dulu saya mencoba mencari-cari penyebab ketakutan atau situasi tidak nyaman tsb, dan mencari-cari kaitan antara kemungkinan penyebab dengan manifestasi ketegangan secara fisik. Namun kali ini saya hanya berusaha menyadari dan diam saja. Ternyata pada saat tertentu, saat sedang bermeditasi, muncul percakapan spontan dari dalam diri saya, entah suara dari mana, dan disertai dengan emosi yang intens. Percakapan dengan alam serta sesuatu yang di luar saya tsb sifatnya singkat, spontan dan seperti jawaban kemungkinan penyebab rasa tidak nyaman ataupun ketakutan tsb.

Entah mengapa saat itu hanya rasa pembebasan yang muncul, suatu kelegaan seperti pembebasan dari rasa yang selama ini sepertinya tanpa disadari menjadi beban. Beban akan suatu keharusan-keharusan atau normatif. Inilah yang saya rasakan sebagai personal insight. Termasuk menjadi lilin dan cahaya yang bukan lagi menjadi suatu keharusan; esensi diri ini adalah cahaya.

Selama 1-2 minggu setelah saya pulang dari meditasi ini, dalam interaksi dengan orang lain, saya merasa ada suatu rasa ringan dan lepas. Saya menjadi lebih spontan, otentik, dan ringan.
Sebagai tambahan ketika pulang dari retret beberapa orang bertanya mengenai ketepatan atau kebenaran konsep-konsep. Untuk saat ini tidak terlalu menjadi fokus buat saya. Entah mengapa saya tidak lagi gamang mengenai kebenaran suatu konsep. Konsep bukanlah kebenaran mutlak. Pengalaman yang saya alami, itu kebenaran untuk saya sendiri dan sifatnya sepertinya juga akan terus bergerak.

Inilah gambaran singkat mengenai apa saja yang terjadi dalam diri saya. Sekali lagi terima kasih untuk para personel panitia (Mba Dewi dan Mbak Mona, serta Ibu Linda dan Mbak Fetria) serta Romo Sudri yang mendampingi proses ini. Juga terima kasih pada kehadiran dan keberadaan semua peserta yang membantu saya mengalami proses-proses tsb.

MSW

Meditasi Kehidupan

SM, 25 tahun, Graphic Designer, Buddhist, Jakarta.

Tulisan sudah lama saya tulis, namun hanya saya save di komputer lalu lupa setelah sekian lama. Kemarin habis menuliskan kisah jurnal saya yang baru, saya baru ingat pernah menuliskan ini dan belum saya bagikan kepada Romo. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Ini adalah testimonial saya setelah mengikuti Retret Akhir Tahun pada tahun 2012 di Cibulan.

https://www.facebook.com/#!/notes/sherly-maria/sharing-meditasi-kehidupan/10152365126090120
—–
Melalui perjalanan batin yang panjang ini, saya ingin berbagi kisah tentang pentingnya menyadari batin dari saat ke saat. Penutupan tahun 2012 sekaligus awal dari tahun 2013 ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar orang, terutama menyangkut tentang ramalan suku Maya Inca yang kerap menghebohkan dunia.

Pada retret ini saya cukup banyak terbersit tentang kematian. Pikiran saya masih cukup segar teringat kejadian meninggalnya almarhum ayah saya yang baru saja meninggal belum lama ini secara tiba-tiba. Saya masih bisa mengingat keadaan saat itu dengan cukup jelas, perasaan yang menggemparkan keluarga dan teman-teman dekat kami.

Saya masih ingat dengan jelas wajah ayah saya yang berada dalam peti mati, begitu tenang, seperti sedang tidur. Saya masih ingat dengan jelas kehidupan kami sewaktu ayah saya masih hidup. Saya masih ingat dengan jelas saat terakhir sebelum ayah saya meninggal, beliau masih mengantar saya berobat ke rumah sakit dalam keadaan sehat walafiat. Saya mengamati batin saya pada saat itu, dimana semua anggota keluarga kalut, ibu saya tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengurus pemakaman ayah saya karena kondisinya yang berada dalam depresi berat, kakak saya masih berada di luar negeri dan belum pulang, sedangkan adik saya juga tidak mengerti harus berbuat apa. Saya yang pada saat itu tidak tahu menahu tentang mengurus pemakaman, tergerak oleh sesuatu yang saya heran darimana asalnya, mungkin inilah yang seringkali dimaksud oleh Romo mengenai kekuatan tindakan langsung. Sambil menunggu kepulangan kakak saya untuk memberikan keputusan akhir, sayalah yang mengurus pemakaman tersebut. Pada saat itu entah darimana saya memiliki kekuatan lebih, saya dapat mengurus semuanya. Saya terus mengamati batin saya yang tanpa reaksi melihat jasad almarhum ayah saya. Saya lalu duduk di samping ayah saya sendirian, mendaraskan doa untuk beliau.

Kematian yang dialami oleh almarhum ayah saya merupakan kematian fisik. Dalam momen ini, saya cukup menyadari bahwa kematian dapat dialami oleh setiap orang, kapan saja. Kematian ini juga dapat saya artikan, kematian yang sesungguhnya, kematian ‘diri’ sebagai pusat psikologis. Pertanyaan yang selalu diulang-ulang oleh Romo mengenai, “Bisakah penderitaan ini berakhir, sekarang?” merupakan pertanyaan yang perlu dialami langsung oleh setiap orang.

Saya terlahir dalam keluarga Buddhis. Saat kecil, saya suka sekali belajar Buddhis, hingga menghafal semua teori-teori Buddhis dengan begitu mudahnya. Hingga saya semakin beranjak dewasa, saya mulai menyadari, bahwa semua teori-teori yang saya pelajari dari sejak kecil itu hanyalah sekedar teori yang indah, tanpa saya sentuh dalam kehidupan nyata, seperti sebuah buku bagus yang telah saya baca, lalu saya letakkan di rak begitu saja. Saya sadar bahwa Kebenaran yang nyata, bukanlah seperti itu. Saya sadar saat saya kehilangan kendali atas kesadaran saya, dan berbuat 180 derajat terbalik dengan semua teori-teori yang telah tertanam dalam otak saya. Semua yang telah saya pelajari sia-sia belaka tanpa membuahkan hasil. Bertahun-tahun saya bergulat dengan iman saya, mengapa penderitaan ini terus terjadi dalam hidup saya? Apakah yang salah dengan hidup saya sehingga saya harus mengalami penderitaan seperti ini? Bahkan bukan hanya satu dua kali saya berharap agar hidup saya segera berakhir dan melarikan diri dari kenyataan hidup yang pahit.

Saat saya masuk SMA, saya mempelajari teori Katolik, dan saat saya kuliah saya mempelajari Kristen, karena kurikulum agama sekolah pada saat itu. Batin saya cukup terguncang saat menyadari ada realita lain yang ditawarkan tentang keberadaan Tuhan yang menyelamatkan, Tuhan yang begitu baik, dan segala kesaksian-kesaksian yang tengah saya dengar dari teman-teman saya. Tentu saja, semua orang ingin diselamatkan dan dibangunkan dari tidur panjang yang penuh penderitaan.

Namun, saya cukup lama mengamati, realita ini pun tidak ubahnya dengan realita kepercayaan lain. Tidak ada perubahan batin dan berakhirnya penderitaan total bagi saya. Penderitaan itu tetap ada, dan sumber masalahnya sama sekali belum terpecahkan. Melawan pikiran dengan pikiran, melawan perasaan dengan perasaan, melawan belief dengan belief, melawan ego dengan ego yang lain. Semua ini membuat saya lelah dan muak.

Bahkan saya cukup banyak bertemu dengan orang-orang yang cukup keras menyatakan bahwa hanya ajarannyalah yang benar, sedangkan yang lain salah. Hati kecil saya pada saat itu mengatakan bahwa: saya percaya, ada sebuah jalan kebenaran, yang tidak memperdulikan label kepercayaan apapun, yang terus berjalan, dialami oleh setiap orang, dengan akhir yang sama. Saya terus mencari pada saat itu. Saya memilih untuk tidak memihak kepada ajaran siapapun.

Hingga pada suatu saat, ada sebuah kekuatan yang mendorong saya untuk mempelajari meditasi Vipassana, yang pada saat itu saya tidak mengenal Vipassana sama sekali. Saya membaca teori Vipassana tradisional, dan mulai mempraktekkannya sendiri. Selama saya mempraktekkannya, saya merasakan belum ada kebenaran sejati dalam hidup saya. Saya lalu memutuskan untuk mencari metode lain, hingga saya menemukan ulasan yang ditulis oleh Pak Hudoyo Hupudio di Facebook mengenai pemahaman batin lewat Meditasi Mengenal Diri. Saya kerap mengikuti ulasan-ulasan tersebut setiap harinya dan mulai memahami proses batin. Itulah yang membawa saya kepada meditasi secara lebih dalam. Pelan-pelan saya mencoba mempraktekkannya sendiri di rumah dan kemudian memutuskan ikut retret bersama kedua orang tua saya di akhir tahun 2009.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai merasakan efek dari meditasi ini. Saya dapat memahami gerak batin dari saat ke saat tanpa perlu membuat penilaian. Saya mempelajari bahwa pikiran ini selalu mendominasi sebagian besar hidup saya. Saya mempelajari bahwa banyak sekali masalah yang muncul karena ego sebagai pusat diri. Saya melihat bahwa apabila ego ini berhenti dengan sendirinya, maka ada sesuatu yang mentransformasi diri, ada sebuah keindahan lain disana, dimana tidak ada siapapun yang dapat menyentuhnya.

Dalam retret ini, saya mengamati batin saya yang lelah dalam pencarian. Batin yang telah mengalami berbagai persoalan ini hanya membutuhkan waktu untuk beristirahat sejenak, dari kesibukan sehari-hari yang menyita waktu dan energi. Berhari-hari saya cukup banyak bergulat dengan berbagai ledakan emosi, baik datang melalui memori, maupun muncul secara langsung. Proses batin tersebut berjalan begitu alamiah, muncul secara tiba-tiba tanpa bisa saya kendalikan. Kemunculan dan kepergiannya terus datang silih berganti. Ledakan emosi paling besar saya rasakan ketika muncul sebuah perasaan tentang kemarahan. Saya menyadari bahwa saya tengah menyalahkan orang-orang dalam hidup saya atas semua penderitaan yang saya alami. Saat saya tersadar, kemarahan itu pun membawa saya pada memori kemarahan lain. Saya teringat kejadian beberapa hari belakangan ini dimana saya harus menyetir sepulang saya dari kantor sendirian selama 3 jam, pada larut malam, setiap hari dalam keadaan macet, sehingga saya pulang hampir pada jam 12 malam setiap harinya. Kemarahan ini terbawa hingga saya menjadi tidak sabar dalam menghadapi lalu lintas yang begitu padat, dengan segala tingkah pengemudi lain yang menyetir seenaknya. Rasa ini membuat fisik saya lelah, hingga membawa kemarahan-kemarahan lain dalam hidup saya yang muncul begitu mudahnya.

Memori kemarahan ini belum selesai. Memori ini membawa saya kembali teringat tentang perasaan kemarahan yang saya bawa sejak kecil, menghadapi kerasnya sikap orang tua saya yang selalu mendominasi kebebasan saya. Perasaan kemarahan ini lalu membawa saya kepada memori pada saat saya dilahirkan. Saat itu saya merasakan sebuah kesedihan yang sangat dalam. Saya tidak ingin dilahirkan.

Saya terus mengamati perasaan tersebut hingga berakhir. Perasaan yang sangat menyesakkan dada itu kemudian reda dengan sendirinya. Saat itu saya telah memaafkan diri saya sendiri dan orang lain atas kemarahan tersebut, termasuk keadaan yang harus saya hadapi. Inilah kematian bagi saya, dan setiap saat kita bisa mengalaminya. Inilah kematian yang membebaskan.

Berhari-hari saya cukup banyak bergulat dengan berbagai ledakan emosi. Ledakan-ledakan emosi ini kadang muncul secara tiba-tiba, tanpa saya kenali bagaimana bentuknya dan dari mana asal-muasalnya. Saya terus mengamati sensasi tersebut yang semakin lama semakin besar, menyesakkan dada. Ledakan yang kemudian diikuti oleh rasa kepedihan yang dalam ini datang berulang kali. Saya menyadari bahwa tidak ada memori apapun yang menjadi penyebab dari rasa ini. Ini sama sekali bukanlah reaksi. Saat itu saya tengah bermeditasi sambil membuka mata, mengamati gunung dan pohon di hadapan saya.

Selesai saya mengamati rasa itu saya melanjutkan meditasi berjalan. Ada kekuatan yang mendorong saya untuk berhenti. Saat itu pula, ada sesuatu yang datang tanpa saya kenali. Rasa kepedihan yang dalam saya rasakan kembali, berlangsung beberapa saat, kemudian diikuti oleh rasa ketenangan yang begitu dalam. Selama beberapa saat, rasa itu berhenti. Saya melangkahkan kembali kaki saya. Namun, saya merasakan bahwa langkah saya saat itu berbeda. Rasanya seperti tubuh dan otak saya bergerak bersatu tanpa saya kendalikan dengan keinginan saya, ego atau pikiran saya, Selama beberapa detik saya memandang pepohonan dan bunga-bunga di taman dengan begitu jernih. Segala sesuatunya terlihat seperti apa adanya. Sejak saat itu, saya mengamati bahwa batin saya cukup sering mengalami ledakan perasaan sedih yang amat dalam yang bukan berasal dari diri si pusat psikologis ini, muncul secara tiba-tiba. Di sisi lain rasa kepedihan itu, ada kasih lain yang juga begitu dalam, sama sekali berbeda dengan rasa kasih yang biasa saya latih melalui meditasi cinta kasih.

Selepas itu hingga sekarang kesadaran saya berlangsung alamiah dan otomatis, menyatu dalam kehidupan. Terus terang saya tidak punya cukup banyak waktu untuk meditasi duduk karena kesibukan saya sehari-hari. Namun segala hal yang saya alami, reaksi batin dan berbagai pikiran kerap saya sadari, meski tidak seintens ketika saya berada dalam keadaan hening. Saya sadar bahwa duduk diam dalam batin yang hening sangat dibutuhkan, untuk lebih dapat melihat secara lebih jelas dan memperkuat kesadaran kita sehari-hari.

Hormat saya,
SM

Testimoni Retret Bali 2014
AF, 48 tahun, karyawan bank, Jakarta.

Tuhan teramat baik. Dia telah mengatur segalanya, termasuk membuatku tetap bisa ikut retret. Beberapa minggu sebelumnya, kakakku masuk ICU, gagal ginjal kronik. Selama 12 hari aku mendampinginya; konsentrasiku pada dia. Aku sempat ragu, “Tegakah aku meninggalkan dia dan tetap ikut retret?” Semua seperti berjalan begitu saja. Aku tersadar akan kemurahanNya pada Kamis malam itu, saat berada di Bandara Sokarno Hatta untuk menuju Bali, lokasi retret. Semua disiapkanNya bagiku begitu baik.

Hari-hari pertama meditasi diwarnai oleh kelelahan fisik, beragam pikiran, perasaan, dan kenangan, muncul lenyap menjadi obyek. Sekalipun bisa bertahan lama duduk bersila, aku tidak menemukan makna apa-apa. Penjelasan Romo Sudri mengenai “Obyek”, “Reaksi dari batin terkondisi” dan “Kesadaran Murni dari Batin Tak-Terkondisi”, menjadi “gong” yang membuat aku sadar. Tulisan “You are Peace. Find Peace in every step.” pada selembar kartu dari Romo, menguatkan aku, bahwa Damai telah dikaruniakan Allah dalam diriku.

Dengan seluruh kekuatan jiwa dan raga, kujalani meditasiku. Semua peristiwa, suka duka, kelelahan, harapan, kenangan, kusadari saja, muncul dan lenyap sebagai bentuk-bentuk pikiran yang terus bergerak. Dalam kesadaran, aku merasakan damai melampaui segalanya, lewat semua peristiwa, keheningan, pun saat meditasi di teras luar menghadap danau dan gunung. Kala kegelapan subuh bergerak menuju rembang pagi, perlahan wajah dan tubuhku disinari matahari pagi. Tabir subuh perlahan dibuka dan terus bergerak, hingga terasa aku terangkat, bersatu dengan semesta. Hanya Dia yang memampukan segalanya. Kicauan burung bagai konser menambah takjubku, kemeriahan ceriapnya melampaui komposisi lagu-lagu koor sulit yang pernah diajarkan. Begitu hidup, menyapa dari segenap penjuru, sangat merdu dan alami; kicauan yang keras, bertambah keras, tiba-tiba menjadi sangat lembut. Bukan hanya komposisi 8 atau 12 suara, namun tak terbilang lagi berapa jumlahnya. Pepohonan, udara, lembah, dan semuanya adalah bagian yang mengantarku terkoneksi pada Sang Maha Semesta.

Saat berdiam, menyadari “obyek”, “reaksi terkondisi”, “batin tak terkondisi”, kesadaran membuat pikiran berhenti. Kutemukan sesuatu yang luar biasa pada subuh itu. Hanya syukur yang tak terhingga. Ada rasa yang mengalir dari bagian kanan tubuh bawah. Kedamaian ini jauh melampaui semua peristiwa yang kualami. “Ting..”. Bel tanda usai meditasi. Saat katup mata perlahan kubuka, benar-benar sajian ketakjuban. Danau, gunung, terang, hangat, udara, nyanyian burung, dan semua unsur yang melingkupiku.

Meditasi siang, sore hingga malam hari memberikan suka cita luar biasa, terlebih saat mengalami pergantian waktu demi waktu, perubahan irama, ceriap burung menyambut malam. Kedamaian mengalami peralihan terang menuju rembang petang, hingga kegelapan malam. Ada tabir kehangatan, sekalipun gelap. Aku sadar, ada obyek, ada reaksi, namun ada juga sesuatu yang tak-berbentuk yang muncul di antara segala yang berbentuk, sesuatu yang tak-terdefinisi. Dia muncul dan tiba-tiba lenyap. Batin tak-terkondisi, bukan sekedar rasa, muncul seketika dan lenyap.

Saat Hari Raya Nyepi, meditasi malam di luar menyuguhkan ketakjuban tiada tara. Pikiranku menamai pesta pora semesta di malam pati geni, teater maha luas. Taburan bintang di langit, ceracap burung, kecipak ikan. Kesunyian dan keheningan menjadi latar belakang (background) dari dunia suara sebagai latar depan (foreground). Tiada tempat untuk tubuh yang lelah dan pikiran yang mengembara. Serasa semua jiwa bersuka cita. Semua bintang ciptaanNya bernyanyi ria. Serasa semua mahluk di bumi dan di surga memujiNya, beria-ria di malam pati geni.

Ada kehidupan, ada kematian; setiap awal memiliki akhir; ada malam, ada siang; tubuh bisa rapuh atau hancur, namun jiwa atau batin tak-terkondisi tidak (hancur). Batin bebas yang tak terkondisi tetap Hidup. Sesering aku berpikir dan menemukan celah keheningan di antara dua pikiran, sesering itu pulalah aku berkesempatan menemukan ruang batin. Ini yang sering tidak kusadari. Diri hampir selalu dikendalikan pikiran, dan nyaris tidak sadar bahwa pada kesempatan yang sama terdapat ruang batin yang maha luas.

Malam terakhir retret, saat meditasi di luar, secara bergiliran, kami mengambil lilin, dan dalam kondisi apapun diminta untuk menjaga agar cahayanya tetap menyala. Hembusan angin atau apapun dapat memadamkan apinya, namun kami bisa menuju pusat sumber cahaya untuk menyalakannya kembali. Begitulah kehidupan. Kami sendirilah yang harus menjaga agar lilin kami masing-masing tetap bernyala.

Permenungan malam itu memecahkan tangisku karena berbagai peristiwa muncul dan lenyap, juga ingatan berpulangnya teman baik, setahun lalu, tepat di tanggal berakhirnya retret. Kami diberi kesempatan untuk melakukan walking meditation sambil membawa lilin masing-masing. Berjalan perlahan, kehangatan terasa, sekalipun badan ini hancur lelah, letih, pilu. Semakin kusadari, bahwa Kedamaian dan Terang telah ada dalam diri ini. Itulah Kekuatan Batin yang Tak-Terkondisi. Lilin itu bukan hanya menyala untuk diri sendiri, namun juga bagi orang lain. Kami saling bertukar lilin, sambil menatap atau memberi salam kepada sesama retretan, sambil berucap: “Anda adalah Terang bagi diri Anda sendiri dan dunia.”

Berlanjut dengan meditasi di dalam, permenungan bahwa setiap pribadi dikaruniai Keindahan yang unik, berbeda satu dengan lain. Melalui bunga, wujud Keindahan ciptaanNya, yang unik, tidak pernah sama satu sama lain. Kamipun berbagi, bertukar bunga yang kami genggam. Tiada bunga yang hanya digenggam erat seorang diri. Tiap diri memberikan Keindahan bagi yang lain, hingga semuanya menjadi sangat indah dan terang. Malam retret pungkas sudah.

Hari ini, sudah hampir seminggu sejak retret berakhir. Aku kembali pada aktivitas kantor, berbagai kuliah yang sedang kuikuti, bermacam kegiatan, dan rutinitas lain sehari-hari. Dalam gerak pikiran dan kelelahan yang datang dan pergi, aku mencoba hadir sepenuhnya pada saat kini, hadir secara fisik dan dengan kesadaran Batin Tak-Terkondisi. Sesering berpikir atau bertindak, sesering itu pulalah aku memiliki ruang batin. Kedamaian sudah ada dalam diri ini. Cahaya Terang telah terbit dalam diri ini dan diharapkan aku dapat menjaga nyalanya.

Kehidupan di dunia tidak pernah kuketahui kapan berakhir. Menjalani kehidupan dengan mengandalkan pada Sang Empunya Kehidupan, Sang Maha Semesta. Setiap peristiwa, datang dan pergi. Dengan menyadari saja, aku tersenyum menjalaninya, karena Dia telah menganugerahi Damai untuk kehidupan ini. Damai itu sudah ada di dalam diri ini. Sesering apa kutemukan dia? Sejalan dengan pesan yang kuterima dari Romo, “You are Peace. Find Peace in every step.” (Anda adalah Kedamaian. Temukan Kedamaian dalam setiap langkah). Itulah kado terindah retretku kali ini. Terima kasih teramat dalam kepada Romo Sudrijanta, SJ untuk bimbingannya.

AF

Testimoni retret meditasi di Bali 28 Maret-4 April 2014
LGA, 40 tahun, Jakarta.

Pada malam hari Nyepi, dengan beberapa lampu lilin sangat minim, suasana terasa sangat hening dan damai. Entah mengapa, dalam meditasi duduk, tiba-tiba tak terasa air mata mengalir dengan sendirinya dan semakin lama semakin deras. Mau tidak mau, daripada mengganggu suasana keheningan di sekitar itu, tangis harus ditahan dengan sekuat tenaga, dan tangis terpaksa dilakukan dengan “style” tertentu. Belum lagi ditambah kedua kaki yang kram dan saraf kejepit yang kambuh, luar biasa sakitnya. Walaupun begitu, batin tetap hening dan bahkan sangat dingin di dalamnya.

Dalam keheningan itu timbul pemahaman bahwa saraf kejepit di sekitar pinggang lumbar L4 dan L5, terjadi bukan hanya karena jatuh terguling dari tangga, tetapi pada waktu masa kecil, dipukul oleh ibuku. Sungguh sangat mengagetkan, rekaman peristiwa di masa lalu itu datang, sangat detil. Aku hanya menyadari dan melihat peristiwa itu datang, sambil melihat keadaan batin. Batin sama sekali tidak terguncang, bahkan menerima keadaan itu, karena ibu melakukan hal itu sesuai dengan keterkondisiannya. Ibu juga mengalami penderitaan yang sangat berat pada waktu itu. Akibat ketidaksadaran, maka terjadilah peristiwa pemukulan. Jatuh terguling dari tangga pada waktu usia 20 tahun, hanya menjadi pemicu selanjutnya, karena bibit saraf kejepit sebenarnya sudah ada karena peristiwa sebelumnya. Setelah mengetahui peristiwa tersebut, pinggang terasa longgar, tidak sakit, kaki pun begitu, kram menghilang dan kaki menjadi ringan. Horeeeeee…

Walking meditation dilakukan, dengan menemukan “saya adalah langkah”, dan tidak ada beda, menjadi langkah itu sendiri. Alam begitu menakjubkan, bersatu dengan diri, tidak ada keterpisahan satu dengan yang lain. Setelah itu, semakin larut malam, dengan meditasi yang dilakukan bergantian, baik sitting, standing dan walking, batin pun semakin ditarik masuk ke dalam tempat maha luas, tidak dapat bergerak dan sangat dingin–tidak cukup kata untuk mengungkapkannya kecuali mengalami–sampai kembali ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya sesuai dengan jadwal bel dibunyikan pukul 03.30 pagi sebagai tanda untuk bersiap memasuki meditasi subuh. Suara bel bangun pada waktu subuh itu, terdengar sangat berbeda sekali. Suaranya sangat jelas, nyaring dan indah, sampai menggetarkan dalam diri sedemikian hebatnya sekaligus mencekam. Di wastafel saat mencuci muka, air pun juga terasa sangat berbeda, memberikan efek kesegaran luar biasa ke seluruh tubuh. Meditasi subuh diawali dengan meditasi di Dhamma Hall dan tetap berjalan dengan suasana batin yang masih mencekam. Kemudian dilanjutkan dengan meditasi outdoor.

Meditasi outdoor awalnya berjalan dengan sangat baik, hembusan angin, udara sekitar, pemandangan Danau Batur, menjadi harmoni yang indah sekali. Suara burung dan suara jangkrik, terdengar menjadi simfoni yang indah sekali, seperti simfoni klasik Beethoven. Waooowwwwwww…. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, air mata tiba-tiba keluar dengan deras sekali. Tidak bisa ditahan. Waduhh bagaimana ini dalam hati. Dengan berusaha memakai tangis dengan “style”, seperti malam hari kemarin, kok tidak bisa. Malah semakin jadi, makin deras air mata yang keluar, bahkan sudah sampai sesenggukkan. Akhirnya diputuskan keluar dari barisan outdoor, menuju tempat outdoor lain, pendopo. Di pendopo, sitting meditation dilakukan dengan air mata keluar sangat sangat deras, tangis pun pecah tersedu-sedu tidak dapat dihentikan.

Dalam sitting meditation tersebut, kembali datang satu rangkaian peristiwa detil. Pada akhir April 2014 nanti, aku akan secara resmi diangkat menjadi salah seorang petinggi, memegang bagian yang sangat krusial di dalam perusahaan. Perusahaan tempat bekerja adalah salah satu perusahaan besar di Indonesia dengan jumlah karyawan sekitar 5000 orang. Yang mengherankan adalah peristiwa ini akan menjadi peristiwa sejarah di perusahaan ini. Karena mengangkat seseorang menjadi petinggi, orang lokal (Indonesia) dalam usia sangat muda dan memegang bagian krusial pula, serta lamanya waktu bekerja di perusahaan ini yang hanya baru 11 tahun 9 bulan pada bulan April nanti, menjabat dari posisi staff, sampai mencapai posisi petinggi. Pengangkatan ini sendiri harus disetujui oleh Overseas Head Quarter, yang nota bene, sangat sulit untuk meloloskan wanita dalam jajaran petinggi.

Dengan posisi sekarang saja, selama 4 tahun ini dalam usia cukup muda, tugas-tugas yang dilakukan saja sudah seperti roller coaster. Bahkan atasanku yang pada akhir April nanti, diangkat menjadi akan menjadi Vice President Director, mengatakan, “Justru peristiwa ini akan menjadi inspirasi banyak orang, bahwa usia muda dan waktu bekerja yang belum lama, bisa menjabat “high posisition”, sepanjang kamu berprestasi. Tidak melihat soal senioritas lagi. ” Sempat bertanya kepada atasan, “Apakah tidak salah untuk mempercayai saya saat ini, karena saya akan menjadi ‘anak bawang’?” Saya akan mengalami itu lagi, karena dari awal diterima sebagai seorang staff, sampai menjabat setiap posisi, saya selalu menjadi “anak bawang” dalam usia, dan dipaksa untuk “stretch diri”, menjadi orang yang “tua” dalam berpikir dalam usia muda.

Saya sempat menolak. Tetapi atasan mengatakan lain. Beliau mengatakan, “Dengan kemampuan kamu, di usia kamu saat ini, ditambah dengan para petinggi yang lain, perusahaan ini akan semakin kuat dan maju. Justru dengan usia kamu yang muda kamu itu, timbul ide-ide baru yang akan perusahaan butuhkan. Saya sangat yakin dengan kemampuan kamu, bahkan Overseas Head Quarter sendiri pun mengatakan kamu memang pantas untuk itu. Tidak ada keraguan mereka. Justru sebenarnya, hampir saja terjadi penjegalan oleh salah seorang petinggilokal kita sendiri”.

Dalam hati, pada saat itu saya berkata “Kenapa tidak jadi saja penjegalan itu ?” Apalagi setelah tahu bahwa orang yang mencoba menghalangi itu adalah orang dengan jabatan tertinggi untuk orang lokal. Lalu kata atasanku, “Bila kamu tidak menerima ini, malah akan menimbulkan masalah baru, bahwa kita orang lokal ternyata tidak mampu. Dan artinya hilang kesempatan orang lokal untuk membawa kemajuan di perusahaan ini. Dengan menjadi petinggi, berarti kita bisa membuat kebijakan yang lebih baik, dan juga memberikan kesejahteraan lebih baik bagi karyawan”. Kemudian saya bertanya lagi kepada atasan saya, “Berarti 7 bulan ini pekerjaan seperti roller coster itu, saya sedang masuk dalam penilaian Bapak?”

Atasan saya cuma tersenyum, dan mengatakan “Sebenarnya saya sudah lama menunggu datangnya kesempatan ini. Makanya kamu lihat, semua keputusan operasional saya berikan kepada kamu. Tidak pernah sedikitpun saya campur tangan. Saya hanya memberikan guidance ke kamu, apa yang menjadi kebijakan harus dijalankan. Kalaupun 7 bulan terakhir ini, saya push kamu terus menerus, tidak lain tidak bukan saya mempersiapkan kamu untuk “final touch”. Saya justru melihat kamu sangat mampu. Walaupun kamu saya berikan “stressing” luar biasa, kamu tetap tenang dan mampu menyelesaikan tugas-tugas kamu dan hasilnya pun sangat bagus. Jadi saya melihat, tidak salah posisi itu diberikan kepada kamu”. Begitu pengakuan atasanku.

Sungguh sangat mengejutkan dan menyebabkan syok berat bagiku, karena tidak sedikitpun terpikir untuk hal ini, yang pada akhirnya mau tidak mau harus diambil dengan hati yang sangat berat.

Walaupun menerima, pikiran terus menerus berkecamuk. Silih berganti pikiran datang, antara lain, usia muda diangkat dengan posisi petinggi ini, baru akan pensiun paling sedikitnya 21 tahun lagi berarti orang-orang yang berada di bawah pun yang usianya terdekat atau yang lebih muda pun pada waktu nanti sudah pensiun semua dan selesai, hanya tinggal saya di angkatan yang sama masuk yang akan tersisa. Belum lagi harus menjalani “office politics” yang luar biasa. Lalu datang pikiran lain, pasti akan kembali menjadi “utom” alias “ujung tombak penggerak” dalam skala yang lebih besar, dan sebagainya.

Berputar-putar sampai rasanya penuh. Proses penyadaran sempat “stuck and freeze” beberapa lama, karena pikiran yang luar biasa hebatnya menghantam. Sungguh sebenarnya ini pikiran yang sia-sia, tetapi pada saat itu, tidak seperti biasanya, keheningan sangat menjauh. Kotoran batin seperti tidak habisnya keluar ke permukaan, seperti lem satu dengan yang lain, tidak ada tempat untuk keheningan untuk menyelesaikannya. Jadi, hanya bisa menyadari, dan melihat kotoran batin keluar berwarna hitam pekat ke atas. Walaupun begitu, tidak berlari, tetapi justru menjalani, dan melihat pikiran itu datang dan pergi, seperti macetnya jalan raya di Jakarta. Hehehe…

Tetapi ternyata penolakan sebenarnya bukan karena pikiran di atas. Akar penyebab pikiran itu ternyata, bahwa tidak siap dijadikan “Inspirasi” atau “Role Model” atau menjadi “Light” bagi banyak orang kembali. Ada masa-masa dulu harus menjadi “kebanggaan atau contoh atau tumpuan harapan” banyak orang, baik itu di keluarga ayah atau ibu atau pun pihak lain, karena posisi dilahirkan sebagai anak sulung, cucu sulung dari pihak ibu, dan cucu sulung dari anak laki-laki paling besar dari pihak ayah. Dikaruniai kecerdasan yang sangat baik, prestasi akademis yang cemerlang, kecantikan fisik, anak yang paling tidak bermasalah dalam keluarga, latar belakang keluarga yang bagus dan sangat dihormati, bahkan diberikan pasangan yang dengan kriteria bagus sekali, baik secara individu pasangan hidup itu sendiri dan latar belakang keluarganya yang juga sangat dihormati, sungguh diliputi rahmat luar biasa bila orang melihat ini. Perfect.

Tetapi justru pada saat itu, dengan rahmat yang luar biasa tersebut, menjadi seseorang yang luar biasa tinggi hati, amat sangat kepala batu, sangat egois, sangat dingin, serta seorang yang luar biasa ambisiusnya, apalagi setelah menikah. Ego diri yang makin memuncak, cara berpikir pun sangat menggunakan logika, tidak menggunakan perasaan, serta memiliki standar penilaian diri yang sangat tinggi pula, tetapi di dalam batin there is no happiness, no freedom, no enlightenment. Akibatnya, relasi dengan pasangan hidup, anak, orang tua, mertua, adik dan teman sangat tidak baik. Semua hal diatas mulai mengalami perubahan, pada saat dibimbing oleh seorang pastur yang luar biasa dan suster sewaktu akan menjadi katolik tahun 2008 dan puncaknya mengalami transformasi batin total setelah mengikuti retret MTO 2011.

Dalam seluruh aspek kehidupan, “ITU” selalu berada di depan dalam beberapa tahun terakhir ini. Hidup menjadi sangat ringan walaupun masalah tetap ada. Masalah bukan menjadi masalah lagi, justru dengan kesadaran, dapat selesai seketika. Sehingga hidup jadi benar-benar “hidup”. Segala sesuatu yang baik muncul secara otomatis–sebut saja misalnya, welas asih, bela rasa, empati–tanpa harus dibuat-buat. Relasi dengan setiap orang pulih, baik dengan pasangan, anak, orang tua, mertua, adik, teman, dan orang lain, bahkan menjadi sangat baik. Menjadi pribadi yang sangat terbuka dan periang, serta mudah sekali tersenyum dan tertawa.

Dapat menerima orang lain apa adanya sesuai dengan keterkondisian, serta tidak memaksa orang lain untuk mengikuti kehendak diri ini. Semuanya datang dengan sendirinya. Bahkan diiringi juga dari sisi materi, yaitu karir di pekerjaan yang semakin bagus dan cemerlang, walaupun tanpa ambisi untuk mengejar, diikuti pula usaha dan pekerjaan yang dijalankan suami meningkat dengan pasti. Seluruh segi kehidupan disembuhkan secara total.
Pada waktu sitting meditation outdoor, rasa penolakan itu pecah, mengalami ledakan waktu, dengan tangis yang tidak dapat ditahan. Membuat segala sesuatu jelas terlihat. Ternyata penyebabnya, ketakutan kembali menjadi seperti “si aku” yang dulu.

Setelah itu seketika muncul secara bergantian ayat dari alkitab, 1 Tim 4 : 12 “Jangan seorangpun mengganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. Serta ayat dari Injil Yohanes 15 : 16 “Bukan kamu yang memilih Aku , tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan-Nya kepadamu”. Kedua ayat yang muncul ini, semakin menyayat hati. Karena tangis tetap tak berhenti, tubuh menjadi lemas sekali.

“Sumber Kehidupan” sendirilah yang menetapkannya. “Dia” mempunyai hak privilese. Sumber kehidupan menggunakan seluruh hidup dari diri ini, termasuk tubuh dan panca indra ini, untuk dibongkar terlebih dahulu, diperbaiki, digunakan dan dibagikan untuk kita menghadirkan kebaikkan, menjadi kasih, terang dan damai. Kita hanya meminjamnya. Bahkan “Sumber Kehidupan” itulah yang membuat interkoneksi dengan siapa kita akan dipertemukan, peristiwa yang muncul, kesemuanya “ITU” yang memilih. Sekali “Sumber Kehidupan” itu menyentuh diri ini, kita tidak akan bisa kemana-mana. Karena itulah “Dia”, “Tuhan” atau apapun namanya yang selama ini kita cari.

Setelah selesai meditasi pagi itu hingga makan pagi, air mata tetap turun; hanya intensitasnya berkurang. Sampai tiba waktu konsultasi pribadi dengan romo, ternyata tangis tetap turun, padahal sebenarnya sudah ditahan habis-habisan. Tangis dengan “style” sedikit. Ternyata ketahuan deh, bisa “menangis” di depan romo pula, malu-maluin saja. Hahaha…, kena deh, padahal sebelum retret dimulai selalu dipenuhi dengan tawa dan kegembiraan.

Meditasi jam 10.00 pagi pun masih diikuti sebelum meninggalkan retret pada jam 13.00. Meditasi pagi itu dirasakan dengan keheningan yang luar biasa. Tidak ada keterikatan dengan melihat orang-orang di sekitar. Semuanya menjadi apa adanya. Hanya diam. Sampai selesai makan siang dan naik mobil untuk menuju bandara, saya mengira tangis itu sudah selesai, tetapi ternyata tidak. Selama di mobil berhening, tiba-tiba tangis meledak lagi. Beruntung tidak tersedu-sedu. Jadi bisa dilakukan dengan gaya “flu”. Dan ternyata tangis itu pun masih berlanjut di pesawat, merembes terus tak henti, hanya kali ini gayanya memenjamkan mata seolah-olah tidur, sampai akhirnya benar-benar tertidur. Walaupun tangis terus-menerus, di batin ini tidak ada rasa sakit, bahagia, atau apa pun. Hanya tangis, diri ini adalah tangis.

Akhirnya terbangun karena mendengar pengumuman, pesawat akan mendarat. Bangun tidur terasa ringan sekali. Tidak ada ikatan emosional apapun. Bahkan sampai dijemput di bandara oleh suami, tidak ada perasaan dekat secara emosional. Datar saja. Sepanjang perjalanan pulang saling bercerita, tetapi suami melihat saya berbeda. Dia mengatakan, “Kehangatan luar biasa saya rasakan dari kamu. Saya melihat kamu diubah begitu luar biasa setiap saatnya.” Jadi “GR” kita!

Keesokan harinya, bangun di pagi hari sampai kembali masuk kantor pun tetap sama. Batin dan langkah terasa ringan. Rutinitas berjalan biasa, meeting, berbincang dengan rekan-rekan kerja, berbelanja kebutuhan rumah, berinteraksi dengan suami dan anak, serta berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja di rumah. Sama seperti kemarin, tetap tidak ada ikatan emosional dengan siapapun dan apapun. Walaupun begitu, dapat tertawa dengan lepas bebas, tidak ada beban batin sama sekali. Hanya menerima apa adanya yang harus dijalankan.

Retret MTO di Bali ini adalah seperti hadiah kejutan bagiku, untuk persiapan diri melakukan tugas dan kisah baru yang akan dijalankan. Mengingat sebenarnya untuk memperoleh ijin cuti pada saat itu cukup sulit. Begitu pula dengan Retret MTO Lebaran 2013 yang diikuti kemarin, ternyata juga, menjadi tempat persiapan diri menjalani kehidupan 7 bulan “roller coaster”. Tidak ada satu pun yang mengetahui jalan kehidupan itu. “Sumber Kehidupan” yang menentukan segala sesuatunya. Interkoneksi itu diberikan dan disediakan dengan sendirinya, dimana pikiran tidak akan mampu menjangkaunya untuk menjawab pertanyaan “Mengapa?”

Sampai saat menuliskan catatan kecil ini, air mata tetap menetes dengan sendirinya. Dan meditasi malam yang baru saja dilakukan di rumah pun, masih tetap ditemani air mata yang tak berhenti dan masih terus ditarik ke kedalaman yang maha luas. Matinya diri ini masih terus berlangsung. Oalah… Tapi ya sudah, biarkan saja. Ini berarti proses healing masih terus berjalan. Proses itu yang menyembuhkan.

Catatan kecil ini juga dibuat untuk menjelaskan cerita untuk konsultasi yang terpenggal tersebut, karena kalau bercerita penuh pasti akan lama dan tangis akan semakin panjang. Selain itu, memang harus segera dituliskan sebelum hilang semua pengalaman ini.

To Romo Sudrijanta, I thank you a bunch for being a friend in my spiritual journey. Especially, I thank you for letting me cry before you in the consultation room. And lastly, thank to the Source of Life who has chosen us and has been working within and through us for the goodness and the liberation for all beings. Indeed, how lucky I am. Ting… ting… ting… (the sound of mindfulness bell).

Pray and Love
LGA