“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yohanes 4:13-14)

Pernahkah Anda minum tetapi rasanya tetap saja haus? Kalau Anda tidak pernah mengalami, Anda cukup sehat. Tapi kalau Anda pernah mengalami, itu menunjukkan ada sesuatu yang perlu dilihat: entah Anda salah minum atau ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuh Anda.

Ada seorang anak muda 30-an tahun. Dia heran mengapa ia tetap haus meskipun sudah banyak minum. Lalu ia datang kepada seorang konsultan gizi dan kesehatan. Setelah dicek, ia diberitahu bahwa sel-sel tubuhnya kering, beringsut dan tampak tua seperti berusia di atas 65 tahun. Anak muda itu tambah heran mengapa bisa begitu. “Apa yang Anda minum?”, tanya si ahli gizi. Jawab anak muda itu, “Saya biasa minum Sprite, Fanta, Coca-Cola.” Jawab si ahli gizi, “Itulah sebabnya. Anda minum racun, bukan minum air. Setiap gelas Coca-Cola yang Anda minum justru menghabisi satu gelas air dalam tubuh Anda.” Anak muda ini menjadi sadar bahwa selama bertahun-tahun ia sudah salah minum. Kebiasaan salah minum itu membuat sel-sel tubuhnya lebih tua 35 tahun dari umurnya sekarang.

Salah minum bisa membahayakan tubuh fisik kita. Begitu pula dengan tubuh spiritual kita. “Minum air dari sumur tetangga” dalam spiritualitas termasuk salah minum. Spiritualitas mengajarkan, “Minumlah air dari sumur Anda sendiri, bukan dari sumur tetangga.” Artinya, temukan kekuatan spiritual dari dalam, bukan dari luar.

“Minum air dari sumur sendiri” memiliki tiga komponen pengertian.

Pertama, “air sumur” itu bisa Anda ganti dengan Kebahagiaan, Kedamaian, Kekuatan, Kestabilan, atau apapun yang eksistensial yang Anda rindukan. “Minum air dari sumur sendiri” berarti menemukan sesuatu yang secara eksistensial berarti buat Anda.

Kedua, “air sumur” Anda yang sesungguhnya sudah ada “di dalam”, bukan “di luar”. “Air sumur” Anda tidak datang dari “luar”—orang, sesuatu, tempat, situasi atau kondisi tertentu. Kalau Anda mencari “keluar”, Anda tidak akan pernah mendapat. Maka jangan mencari “di luar”, tetapi carilah “di dalam”; atau lebih tepat realisasikan “di dalam”.

Ketiga, tidak ada orang lain yang bisa memberi “air sumur” itu kepada Anda; Anda sendirilah yang musti menimbanya. Anda tidak bisa mendapatkan dari otoritas manapun. Anda tidak bisa membeli atau mencurinya dari manapun. Apa saja yang bisa Anda beli atau curi tidak akan berarti, cepat atau lambat. Anda sendiri harus bekerja untuk menimbanya sendiri. “Air sumur di dalam” ini akan memancar dengan sendirinya, gratis, tapi Anda musti bekerja untuk menemukannya sendiri.

Kalau semuanya baik-baik saja, barangkali mudah menemukan kebahagiaan atau sesuatu yang bermakna secara eksistensial. Tetapi kalau sedang ada masalah dengan pasangan, ada masalah dalam hubungan dengan anak-anak, ada masalah dengan keuangan, ada masalah dengan pekerjaan di kantor, apakah Anda tetap bisa bahagia?

Bagaimana “menimba air dari sumur Anda sendiri” ketika Anda punya masalah dalam relasi? Relasi di sini bisa berarti relasi antara anak dan orang tua, relasi suami dan isteri, relasi buruh dan majikan, relasi guru dan murid, relasi, dokter dan pasien, relasi antar rekan kerja, relasi antar sahabat, relasi antar warga masyarakat dan seterusnya.

Ambillah kasus ini sebagai contoh. Seorang isteri sudah tidak tahan hidup bersama suaminya setelah 15 tahun pernikahan. Ia merasa tidak bahagia karena suaminya kasar, sering marah dan suka main perempuan. Ia sekarang ingin bercerai untuk bisa menikah lagi dengan seorang laki-laki lain yang juga sudah bercerai dengan isterinya. Ia merasa punya hak untuk hidup bahagia dengan dengan laki-laki lain. Tetapi ia ragu-ragu kalau keputusannya salah, terutama mengingat dampaknya bagi 2 anaknya yang masih kecil umur 12 dan 10 tahun. Sementara itu suaminya tetap ingin mempertahan keutuhan perkawinan.

Semua orang dalam keluarga tersebut merindukan Kebahagiaan. Kalau Anda adalah si isteri, si suami atau si anak tersebut, apa yang Anda lakukan untuk bisa “minum air dari sumur Anda sendiri”?

Andaikan saja Anda adalah si isteri tersebut, apakah Anda akan bahagia hidup bersama dengan pasangan lain? Selama Anda tidak bahagia dengan diri Anda sendiri sekarang, berapa kali pun Anda menikah Anda tetap tidak akan bahagia. Mengapa demikian?

Kalau Anda jadi meninggalkan keluarga Anda untuk menikah dengan pasangan lain, Anda akan meninggalkan luka dalam diri anak Anda yang masih kecil. Anak-anak ini akan melihat orang tuanya yang seharusnya bisa dipercaya ternyata tidak bisa diandalkan. Tidak mudah untuk menyembuhkan luka anak-anak ini, untuk bisa memiliki kekuatan dan kepercayaan diri dan bisa percaya pada orang lain di masa depan. Bagaimana jiwa ibunya bisa bahagia kalau anaknya terus-menerus membawa luka dalam dirinya? Luka anak-anaknya akan bervibrasi dan mempengaruhi jiwa ibunya.

Begitu pula dengan calon suami Anda yang baru. Ia juga membawa luka dalam dirinya dan luka keluarga yang ditinggalkan mempengaruhi keadaan jiwanya.

Dua pribadi ini membawa beban luka yang amat besar yang dibawa dari masing-masing keluarganya. Cinta mengandaikan kekuatan untuk memberi; itulah yang membuat cinta membahagiakan. Tetapi bagaimana mungkin dua pribadi ini bisa saling memberikan dirinya kalau jiwanya lemah dan terluka?

Lalu apa yang musti Anda lakukan?

Pertama-tama Anda musti menyembuhkan diri sendiri. Selama Anda terluka dan terus menyimpan luka, maka Anda menyakiti diri sendiri dan orang lain. Kalaupun Anda pada akhirnya harus memutuskan untuk berpisah dan membangun keluarga baru, bisakah meninggalkan luka yang lama dan tidak membawa-bawanya lagi. Kalau tidak, Anda bisa memutuskan tali pernikahan yang sudah berjalan hanya 15 tahun; tetapi selama 30 atau 50 tahun sisa hidup berikutnya, Anda menyakiti diri Anda sendiri.

Pasangan Anda juga perlu melakukan rekonsiliasi. Kalau ia menghendaki keluarganya utuh kembali atau relasi dipulihkan, maka ia musti pertama-mata melakukan rekonsiliasi terhadap dirinya sendiri. Semua konflik inter-personal terjadi karena terdapat konflik personal dalam diri pribadi. Hanya ketika sudah terjadi rekonsiliasi dengan diri sendiri, maka rekonsiliasi inter-personal akan mengikuti.

Kedua, Anda perlu belajar untuk menerima pasangan apa adanya. Menerima apa adanya berarti, “Aku tidak memaksa orang lain melakukan apa yang aku inginkan.” Seringkali kita mengatakan, “Saya menerima kamu kalau kamu melakukan ini dan itu—sesuai keinginanku. Kalau tidak, maaf, aku tidak bisa menerima kamu.” Itu bukan “penerimaan spiritual”. Menerima orang lain apa adanya adalah tindakan penerimaan spiritual.

Mengapa perlu menerima apa adanya? Karena, apa yang dipikirkan dan dilakukan orang lain adalah benar menurut keterkondisiannya. Apakah kata-kata kasar suami kepada isterinya adalah perbuatan yang benar? Ya, perbuatan itu benar menurut keterkondisiannya. Apakah tindakan kekerasan kepada pasangannya, seperti memukul atau menampar, adalah tindakan yang benar? Ya, itu benar menurut keterkondian suami tersebut. Apakah perbuatan suka main perempuan adalah juga perbuatan yang benar? Ya, perbuatan itu benar menurut keterkondisiannya.

Anda barangkali mengatakan seperti ini, “Saya tidak mendapatkan penerimaan, penghargaan dan cinta dari suami. Maka wajar saya lebih tertarik dengan orang lain yang bisa menerima, menghargai dan mencintai saya. Apakah perbuatan saya salah?” Anda tidak keliru; Anda benar seratus persen menurut keterkondisian Anda.

Menerima orang lain apa adanya bukan berarti setuju denga apa yang dipikirkan atau dilakukan orang tersebut. Maka Anda bisa mengatakan, “Aku tidak setuju pada apa yang kamu lakukan. Tetapi aku sepenuhnya menerima kamu seperti apa adanya diri kamu.” Itulah yang disebut penerimaan spiritual.

Kalau masing-masing pasangan bisa belajar bersikap sampai pada tahap ini, maka proses penyembuhan diri atau rekonsiliasi pribadi akan berjalan lebih mantap, karena penerimaan orang lain akan menstimulasi penyembuhan atau rekonsiliasi pribadi.

Ketiga, kembangkanlah pemahaman yang benar tentang halnya seperti apa adanya. Konflik terjadi karena dua pihak yang telibat konflik merasa diri bukan hanya sama-sama benar, tetapi merasa dirinya paling benar dan memandang yang lain salah. Pihak yang satu melihat hanya dari sudut pandangnya sendiri; sementara pihak lain memandang dari sudut pandang yang lain. Lalu konflik terjadi. Kalau Anda belajar meninggalkan sudut pandang Anda sendiri dan melihat dari sudut pandang pihak lain, maka dialog yang terbuka bisa dilakukan. Lebih jauh, Anda berdua belajar bersama-sama untuk menemukan pemahaman yang lebih luas, pemahaman yang melampaui perspektif masing-masing. Itulah yang dimaksudkan “memahami halnya sebagaimana apa adanya”.

Keempat, penerimaan dan pemahaman sebagaimana apa adanya akan menumbuhkan welas asih. Welas asih bukanlah kasihan, tapi bisa memahami penderitaan dan pergulatan pasangan, sementara Anda tidak terseret olehnya.

Welas asih akan membantu pasangan untuk memiliki kekuatan dari dalam dirinya sehingga mampu mengatasi kelemahannya. Orang yang lemah atau tidak memiliki kekuatan spiritual sulit untuk berubah. Ia tidak bisa berubah hanya karena Anda menuntut untuk berubah.

Ambilah polpen di depan Anda dan angkatlah beberapa kali ke atas. Apakah polpen tersebut terasa ringan? Mengapa Anda bisa mengangkatnya berkali-kali? Anda bisa mengangkatnya karena tangan Anda lebih kuat dari berat jenis polpen yang Anda angkat. Coba kalau tangan Anda terkena stroke dan tidak bisa Anda gerakkan sama sekali. Apakah benda ringan seperti polpen bisa Anda angkat dengan tangan Anda? Jadi Anda bisa menggerakkan sesuatu karena tangan Anda kuat. Begitu pula dengan kelemahan pasangan Anda. Ia tidak berubah karena tidak memiliki kekuatan dari dalam. Maka apa yang perlu Anda lakukan? Anda perlu untuk memberi dukungan yang terbaik, energy positif, penerimaan, pemahaman dan welas asih.

Kelima, temukanlah kestabilan batin setiap kali batin Anda bergolak. Batin yang stabil adalah batin yang tidak terganggu atau tidak tergoncang oleh apapun juga. Stabilitas ini memungkinkan Anda secara optimal menggunakan kekuatan untuk “menanggung beban batin dan menyelesaikannya” (the power to bear internally) dan untuk “menghadapi dan mengatasi tantangan di luar” (the power to face externally).
Seringkali orang berlaku sebaliknya. Terhadap tindakan kekerasan di luar, kita hanya diam atau menerimanya sebagai nasib; terhadap beban di dalam batin, kita tidak tahan menanggungnya.

Kalau Anda menjadi target kekerasan dalam keluarga, Anda musti tahu bagaimana melindungi diri sendiri; kalau perlu panggil polisi. Setiap bentuk kekerasan tidak pernah boleh ditoleransi. Tetapi lakukan semua itu dengan kestabilan batin. Kalau Anda menemukan kestabilan batin, maka Anda bisa mengatasi segala persoalan dengan damai.

Jadi segala kekuatan spiritual yang kita butuhkan sudah ada di dalam diri kita: Kekuatan Penyembuhan (the Power of Healing), Kekuatan Penerimaan (the Power of Acceptance), Kekuatan Pemahaman (the Power of Understanding), Kekuatan Welas Asih (the Power of Compassion), dan Kekuatan Kestabilan Batin (the Power of Stability). Itu semua hanya perlu ditemukan atau direalisasikan sendiri.

Sementara Anda duduk sekarang, “Anda tidak memiliki timba dan sumurnya sangat dalam, bagaimana Anda bisa menimba air dari sumur Anda sendiri”?* (js)