Testimoni retret meditasi di Bali 28 Maret-4 April 2014
LGA, 40 tahun, Jakarta.

Pada malam hari Nyepi, dengan beberapa lampu lilin sangat minim, suasana terasa sangat hening dan damai. Entah mengapa, dalam meditasi duduk, tiba-tiba tak terasa air mata mengalir dengan sendirinya dan semakin lama semakin deras. Mau tidak mau, daripada mengganggu suasana keheningan di sekitar itu, tangis harus ditahan dengan sekuat tenaga, dan tangis terpaksa dilakukan dengan “style” tertentu. Belum lagi ditambah kedua kaki yang kram dan saraf kejepit yang kambuh, luar biasa sakitnya. Walaupun begitu, batin tetap hening dan bahkan sangat dingin di dalamnya.

Dalam keheningan itu timbul pemahaman bahwa saraf kejepit di sekitar pinggang lumbar L4 dan L5, terjadi bukan hanya karena jatuh terguling dari tangga, tetapi pada waktu masa kecil, dipukul oleh ibuku. Sungguh sangat mengagetkan, rekaman peristiwa di masa lalu itu datang, sangat detil. Aku hanya menyadari dan melihat peristiwa itu datang, sambil melihat keadaan batin. Batin sama sekali tidak terguncang, bahkan menerima keadaan itu, karena ibu melakukan hal itu sesuai dengan keterkondisiannya. Ibu juga mengalami penderitaan yang sangat berat pada waktu itu. Akibat ketidaksadaran, maka terjadilah peristiwa pemukulan. Jatuh terguling dari tangga pada waktu usia 20 tahun, hanya menjadi pemicu selanjutnya, karena bibit saraf kejepit sebenarnya sudah ada karena peristiwa sebelumnya. Setelah mengetahui peristiwa tersebut, pinggang terasa longgar, tidak sakit, kaki pun begitu, kram menghilang dan kaki menjadi ringan. Horeeeeee…

Walking meditation dilakukan, dengan menemukan “saya adalah langkah”, dan tidak ada beda, menjadi langkah itu sendiri. Alam begitu menakjubkan, bersatu dengan diri, tidak ada keterpisahan satu dengan yang lain. Setelah itu, semakin larut malam, dengan meditasi yang dilakukan bergantian, baik sitting, standing dan walking, batin pun semakin ditarik masuk ke dalam tempat maha luas, tidak dapat bergerak dan sangat dingin–tidak cukup kata untuk mengungkapkannya kecuali mengalami–sampai kembali ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya sesuai dengan jadwal bel dibunyikan pukul 03.30 pagi sebagai tanda untuk bersiap memasuki meditasi subuh. Suara bel bangun pada waktu subuh itu, terdengar sangat berbeda sekali. Suaranya sangat jelas, nyaring dan indah, sampai menggetarkan dalam diri sedemikian hebatnya sekaligus mencekam. Di wastafel saat mencuci muka, air pun juga terasa sangat berbeda, memberikan efek kesegaran luar biasa ke seluruh tubuh. Meditasi subuh diawali dengan meditasi di Dhamma Hall dan tetap berjalan dengan suasana batin yang masih mencekam. Kemudian dilanjutkan dengan meditasi outdoor.

Meditasi outdoor awalnya berjalan dengan sangat baik, hembusan angin, udara sekitar, pemandangan Danau Batur, menjadi harmoni yang indah sekali. Suara burung dan suara jangkrik, terdengar menjadi simfoni yang indah sekali, seperti simfoni klasik Beethoven. Waooowwwwwww…. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, air mata tiba-tiba keluar dengan deras sekali. Tidak bisa ditahan. Waduhh bagaimana ini dalam hati. Dengan berusaha memakai tangis dengan “style”, seperti malam hari kemarin, kok tidak bisa. Malah semakin jadi, makin deras air mata yang keluar, bahkan sudah sampai sesenggukkan. Akhirnya diputuskan keluar dari barisan outdoor, menuju tempat outdoor lain, pendopo. Di pendopo, sitting meditation dilakukan dengan air mata keluar sangat sangat deras, tangis pun pecah tersedu-sedu tidak dapat dihentikan.

Dalam sitting meditation tersebut, kembali datang satu rangkaian peristiwa detil. Pada akhir April 2014 nanti, aku akan secara resmi diangkat menjadi salah seorang petinggi, memegang bagian yang sangat krusial di dalam perusahaan. Perusahaan tempat bekerja adalah salah satu perusahaan besar di Indonesia dengan jumlah karyawan sekitar 5000 orang. Yang mengherankan adalah peristiwa ini akan menjadi peristiwa sejarah di perusahaan ini. Karena mengangkat seseorang menjadi petinggi, orang lokal (Indonesia) dalam usia sangat muda dan memegang bagian krusial pula, serta lamanya waktu bekerja di perusahaan ini yang hanya baru 11 tahun 9 bulan pada bulan April nanti, menjabat dari posisi staff, sampai mencapai posisi petinggi. Pengangkatan ini sendiri harus disetujui oleh Overseas Head Quarter, yang nota bene, sangat sulit untuk meloloskan wanita dalam jajaran petinggi.

Dengan posisi sekarang saja, selama 4 tahun ini dalam usia cukup muda, tugas-tugas yang dilakukan saja sudah seperti roller coaster. Bahkan atasanku yang pada akhir April nanti, diangkat menjadi akan menjadi Vice President Director, mengatakan, “Justru peristiwa ini akan menjadi inspirasi banyak orang, bahwa usia muda dan waktu bekerja yang belum lama, bisa menjabat “high posisition”, sepanjang kamu berprestasi. Tidak melihat soal senioritas lagi. ” Sempat bertanya kepada atasan, “Apakah tidak salah untuk mempercayai saya saat ini, karena saya akan menjadi ‘anak bawang’?” Saya akan mengalami itu lagi, karena dari awal diterima sebagai seorang staff, sampai menjabat setiap posisi, saya selalu menjadi “anak bawang” dalam usia, dan dipaksa untuk “stretch diri”, menjadi orang yang “tua” dalam berpikir dalam usia muda.

Saya sempat menolak. Tetapi atasan mengatakan lain. Beliau mengatakan, “Dengan kemampuan kamu, di usia kamu saat ini, ditambah dengan para petinggi yang lain, perusahaan ini akan semakin kuat dan maju. Justru dengan usia kamu yang muda kamu itu, timbul ide-ide baru yang akan perusahaan butuhkan. Saya sangat yakin dengan kemampuan kamu, bahkan Overseas Head Quarter sendiri pun mengatakan kamu memang pantas untuk itu. Tidak ada keraguan mereka. Justru sebenarnya, hampir saja terjadi penjegalan oleh salah seorang petinggilokal kita sendiri”.

Dalam hati, pada saat itu saya berkata “Kenapa tidak jadi saja penjegalan itu ?” Apalagi setelah tahu bahwa orang yang mencoba menghalangi itu adalah orang dengan jabatan tertinggi untuk orang lokal. Lalu kata atasanku, “Bila kamu tidak menerima ini, malah akan menimbulkan masalah baru, bahwa kita orang lokal ternyata tidak mampu. Dan artinya hilang kesempatan orang lokal untuk membawa kemajuan di perusahaan ini. Dengan menjadi petinggi, berarti kita bisa membuat kebijakan yang lebih baik, dan juga memberikan kesejahteraan lebih baik bagi karyawan”. Kemudian saya bertanya lagi kepada atasan saya, “Berarti 7 bulan ini pekerjaan seperti roller coster itu, saya sedang masuk dalam penilaian Bapak?”

Atasan saya cuma tersenyum, dan mengatakan “Sebenarnya saya sudah lama menunggu datangnya kesempatan ini. Makanya kamu lihat, semua keputusan operasional saya berikan kepada kamu. Tidak pernah sedikitpun saya campur tangan. Saya hanya memberikan guidance ke kamu, apa yang menjadi kebijakan harus dijalankan. Kalaupun 7 bulan terakhir ini, saya push kamu terus menerus, tidak lain tidak bukan saya mempersiapkan kamu untuk “final touch”. Saya justru melihat kamu sangat mampu. Walaupun kamu saya berikan “stressing” luar biasa, kamu tetap tenang dan mampu menyelesaikan tugas-tugas kamu dan hasilnya pun sangat bagus. Jadi saya melihat, tidak salah posisi itu diberikan kepada kamu”. Begitu pengakuan atasanku.

Sungguh sangat mengejutkan dan menyebabkan syok berat bagiku, karena tidak sedikitpun terpikir untuk hal ini, yang pada akhirnya mau tidak mau harus diambil dengan hati yang sangat berat.

Walaupun menerima, pikiran terus menerus berkecamuk. Silih berganti pikiran datang, antara lain, usia muda diangkat dengan posisi petinggi ini, baru akan pensiun paling sedikitnya 21 tahun lagi berarti orang-orang yang berada di bawah pun yang usianya terdekat atau yang lebih muda pun pada waktu nanti sudah pensiun semua dan selesai, hanya tinggal saya di angkatan yang sama masuk yang akan tersisa. Belum lagi harus menjalani “office politics” yang luar biasa. Lalu datang pikiran lain, pasti akan kembali menjadi “utom” alias “ujung tombak penggerak” dalam skala yang lebih besar, dan sebagainya.

Berputar-putar sampai rasanya penuh. Proses penyadaran sempat “stuck and freeze” beberapa lama, karena pikiran yang luar biasa hebatnya menghantam. Sungguh sebenarnya ini pikiran yang sia-sia, tetapi pada saat itu, tidak seperti biasanya, keheningan sangat menjauh. Kotoran batin seperti tidak habisnya keluar ke permukaan, seperti lem satu dengan yang lain, tidak ada tempat untuk keheningan untuk menyelesaikannya. Jadi, hanya bisa menyadari, dan melihat kotoran batin keluar berwarna hitam pekat ke atas. Walaupun begitu, tidak berlari, tetapi justru menjalani, dan melihat pikiran itu datang dan pergi, seperti macetnya jalan raya di Jakarta. Hehehe…

Tetapi ternyata penolakan sebenarnya bukan karena pikiran di atas. Akar penyebab pikiran itu ternyata, bahwa tidak siap dijadikan “Inspirasi” atau “Role Model” atau menjadi “Light” bagi banyak orang kembali. Ada masa-masa dulu harus menjadi “kebanggaan atau contoh atau tumpuan harapan” banyak orang, baik itu di keluarga ayah atau ibu atau pun pihak lain, karena posisi dilahirkan sebagai anak sulung, cucu sulung dari pihak ibu, dan cucu sulung dari anak laki-laki paling besar dari pihak ayah. Dikaruniai kecerdasan yang sangat baik, prestasi akademis yang cemerlang, kecantikan fisik, anak yang paling tidak bermasalah dalam keluarga, latar belakang keluarga yang bagus dan sangat dihormati, bahkan diberikan pasangan yang dengan kriteria bagus sekali, baik secara individu pasangan hidup itu sendiri dan latar belakang keluarganya yang juga sangat dihormati, sungguh diliputi rahmat luar biasa bila orang melihat ini. Perfect.

Tetapi justru pada saat itu, dengan rahmat yang luar biasa tersebut, menjadi seseorang yang luar biasa tinggi hati, amat sangat kepala batu, sangat egois, sangat dingin, serta seorang yang luar biasa ambisiusnya, apalagi setelah menikah. Ego diri yang makin memuncak, cara berpikir pun sangat menggunakan logika, tidak menggunakan perasaan, serta memiliki standar penilaian diri yang sangat tinggi pula, tetapi di dalam batin there is no happiness, no freedom, no enlightenment. Akibatnya, relasi dengan pasangan hidup, anak, orang tua, mertua, adik dan teman sangat tidak baik. Semua hal diatas mulai mengalami perubahan, pada saat dibimbing oleh seorang pastur yang luar biasa dan suster sewaktu akan menjadi katolik tahun 2008 dan puncaknya mengalami transformasi batin total setelah mengikuti retret MTO 2011.

Dalam seluruh aspek kehidupan, “ITU” selalu berada di depan dalam beberapa tahun terakhir ini. Hidup menjadi sangat ringan walaupun masalah tetap ada. Masalah bukan menjadi masalah lagi, justru dengan kesadaran, dapat selesai seketika. Sehingga hidup jadi benar-benar “hidup”. Segala sesuatu yang baik muncul secara otomatis–sebut saja misalnya, welas asih, bela rasa, empati–tanpa harus dibuat-buat. Relasi dengan setiap orang pulih, baik dengan pasangan, anak, orang tua, mertua, adik, teman, dan orang lain, bahkan menjadi sangat baik. Menjadi pribadi yang sangat terbuka dan periang, serta mudah sekali tersenyum dan tertawa.

Dapat menerima orang lain apa adanya sesuai dengan keterkondisian, serta tidak memaksa orang lain untuk mengikuti kehendak diri ini. Semuanya datang dengan sendirinya. Bahkan diiringi juga dari sisi materi, yaitu karir di pekerjaan yang semakin bagus dan cemerlang, walaupun tanpa ambisi untuk mengejar, diikuti pula usaha dan pekerjaan yang dijalankan suami meningkat dengan pasti. Seluruh segi kehidupan disembuhkan secara total.
Pada waktu sitting meditation outdoor, rasa penolakan itu pecah, mengalami ledakan waktu, dengan tangis yang tidak dapat ditahan. Membuat segala sesuatu jelas terlihat. Ternyata penyebabnya, ketakutan kembali menjadi seperti “si aku” yang dulu.

Setelah itu seketika muncul secara bergantian ayat dari alkitab, 1 Tim 4 : 12 “Jangan seorangpun mengganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. Serta ayat dari Injil Yohanes 15 : 16 “Bukan kamu yang memilih Aku , tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan-Nya kepadamu”. Kedua ayat yang muncul ini, semakin menyayat hati. Karena tangis tetap tak berhenti, tubuh menjadi lemas sekali.

“Sumber Kehidupan” sendirilah yang menetapkannya. “Dia” mempunyai hak privilese. Sumber kehidupan menggunakan seluruh hidup dari diri ini, termasuk tubuh dan panca indra ini, untuk dibongkar terlebih dahulu, diperbaiki, digunakan dan dibagikan untuk kita menghadirkan kebaikkan, menjadi kasih, terang dan damai. Kita hanya meminjamnya. Bahkan “Sumber Kehidupan” itulah yang membuat interkoneksi dengan siapa kita akan dipertemukan, peristiwa yang muncul, kesemuanya “ITU” yang memilih. Sekali “Sumber Kehidupan” itu menyentuh diri ini, kita tidak akan bisa kemana-mana. Karena itulah “Dia”, “Tuhan” atau apapun namanya yang selama ini kita cari.

Setelah selesai meditasi pagi itu hingga makan pagi, air mata tetap turun; hanya intensitasnya berkurang. Sampai tiba waktu konsultasi pribadi dengan romo, ternyata tangis tetap turun, padahal sebenarnya sudah ditahan habis-habisan. Tangis dengan “style” sedikit. Ternyata ketahuan deh, bisa “menangis” di depan romo pula, malu-maluin saja. Hahaha…, kena deh, padahal sebelum retret dimulai selalu dipenuhi dengan tawa dan kegembiraan.

Meditasi jam 10.00 pagi pun masih diikuti sebelum meninggalkan retret pada jam 13.00. Meditasi pagi itu dirasakan dengan keheningan yang luar biasa. Tidak ada keterikatan dengan melihat orang-orang di sekitar. Semuanya menjadi apa adanya. Hanya diam. Sampai selesai makan siang dan naik mobil untuk menuju bandara, saya mengira tangis itu sudah selesai, tetapi ternyata tidak. Selama di mobil berhening, tiba-tiba tangis meledak lagi. Beruntung tidak tersedu-sedu. Jadi bisa dilakukan dengan gaya “flu”. Dan ternyata tangis itu pun masih berlanjut di pesawat, merembes terus tak henti, hanya kali ini gayanya memenjamkan mata seolah-olah tidur, sampai akhirnya benar-benar tertidur. Walaupun tangis terus-menerus, di batin ini tidak ada rasa sakit, bahagia, atau apa pun. Hanya tangis, diri ini adalah tangis.

Akhirnya terbangun karena mendengar pengumuman, pesawat akan mendarat. Bangun tidur terasa ringan sekali. Tidak ada ikatan emosional apapun. Bahkan sampai dijemput di bandara oleh suami, tidak ada perasaan dekat secara emosional. Datar saja. Sepanjang perjalanan pulang saling bercerita, tetapi suami melihat saya berbeda. Dia mengatakan, “Kehangatan luar biasa saya rasakan dari kamu. Saya melihat kamu diubah begitu luar biasa setiap saatnya.” Jadi “GR” kita!

Keesokan harinya, bangun di pagi hari sampai kembali masuk kantor pun tetap sama. Batin dan langkah terasa ringan. Rutinitas berjalan biasa, meeting, berbincang dengan rekan-rekan kerja, berbelanja kebutuhan rumah, berinteraksi dengan suami dan anak, serta berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja di rumah. Sama seperti kemarin, tetap tidak ada ikatan emosional dengan siapapun dan apapun. Walaupun begitu, dapat tertawa dengan lepas bebas, tidak ada beban batin sama sekali. Hanya menerima apa adanya yang harus dijalankan.

Retret MTO di Bali ini adalah seperti hadiah kejutan bagiku, untuk persiapan diri melakukan tugas dan kisah baru yang akan dijalankan. Mengingat sebenarnya untuk memperoleh ijin cuti pada saat itu cukup sulit. Begitu pula dengan Retret MTO Lebaran 2013 yang diikuti kemarin, ternyata juga, menjadi tempat persiapan diri menjalani kehidupan 7 bulan “roller coaster”. Tidak ada satu pun yang mengetahui jalan kehidupan itu. “Sumber Kehidupan” yang menentukan segala sesuatunya. Interkoneksi itu diberikan dan disediakan dengan sendirinya, dimana pikiran tidak akan mampu menjangkaunya untuk menjawab pertanyaan “Mengapa?”

Sampai saat menuliskan catatan kecil ini, air mata tetap menetes dengan sendirinya. Dan meditasi malam yang baru saja dilakukan di rumah pun, masih tetap ditemani air mata yang tak berhenti dan masih terus ditarik ke kedalaman yang maha luas. Matinya diri ini masih terus berlangsung. Oalah… Tapi ya sudah, biarkan saja. Ini berarti proses healing masih terus berjalan. Proses itu yang menyembuhkan.

Catatan kecil ini juga dibuat untuk menjelaskan cerita untuk konsultasi yang terpenggal tersebut, karena kalau bercerita penuh pasti akan lama dan tangis akan semakin panjang. Selain itu, memang harus segera dituliskan sebelum hilang semua pengalaman ini.

To Romo Sudrijanta, I thank you a bunch for being a friend in my spiritual journey. Especially, I thank you for letting me cry before you in the consultation room. And lastly, thank to the Source of Life who has chosen us and has been working within and through us for the goodness and the liberation for all beings. Indeed, how lucky I am. Ting… ting… ting… (the sound of mindfulness bell).

Pray and Love
LGA