NN, 34th, Palembang, peserta retret meditasi 2010. 

Sekarang saya baru mengerti mengapa kalau dulu saya sms atau email ke Romo meminta tolong karena saya tidak bisa berhenti menangis, Romo malah menyarankan saya untuk terus-menerus menangis tanpa memaksa diri untuk diam. Sekian lama saya tidak mengerti mengapa Romo menyarankan saya untuk melakukan hal itu. Menurut saya, terus-menerus mengikuti keinginan untuk menangis sama saja bunuh diri kehabisan energy. Kalau saya sudah menangis, terutama pada masa-masa dalam pergumulan dengan Mama, itu bisa menghabiskan waktu berhari-hari. 

Malam ini saya jatuh ke dalam lobang hitam tak berdasar yang kerap saya jumpai dulu, lobang hitam yang rasanya selalu membuat tidak ingin hidup. Tapi di sela-sela tangisan yang saya turuti itu ternyata saya sempat berjumpa dengan detik-detik di mana rasa sedih yang membuat saya menangis itu kehilangan sengatnya. Memang berlangsung sangat cepat, tapi juga terasa sangat gamblang. Itu muncul begitu saja tanpa terduga. 

Yang jelas malam ini saya melihat bahwa lobang hitam itu tidak lebih dari ciptaan pikiran. Saat pikiran terdiam, saat itu juga ia bukan apa-apa. Ia tak punya sengat untuk membuat saya merasa bahwa mati adalah solusi terbaik. Ia juga tak punya sengat lagi untuk membuat saya merasa sedih, tak berguna dan menangis tanpa terkendali. 

Catatan JS:

Kesedihan atau lobang hitam itu adalah bentuk formasi mental dan formasi mental apapun adalah manifestasi dari pikiran. Tapi untuk menangkap pikiran yang halus ini tidak semudah merasakan kesedihan atau lobang hitam (formasi mental) itu. Maka merasakan kembali sampai tuntas lobang hitam itu akan menolong menangkap si penciptanya. Itu seperti menangkap ekor ular (formasi mental) untuk menundukkan kepalanya (pikiran).