Sampai saat ini saya biasa melakukan introspeksi diri dulu sebelum meditasi. Jadi saya me-review apa yang telah saya lakukan. Jika ada yang salah, saya menyesali itu dan akan memperbaiki diri. Setelah itu, baru saya meditasi. Bagaimana pandangan Romo? 

Kebiasaan introspeksi, menyesali, dan memperbaiki diri itu adalah baik. Hanya saja pola tersebut memiliki keterbatasan dan tidak mendatangkan perubahan mendasar. Mengapa? Karena kegiatan introspeksi adalah kegiatan pikiran dan pikiran adalah pecahan energy. Sama halnya dengan rasa sesal dan daya upaya untuk memperbaiki diri. Itu semua adalah pecahan energy yang bekerja masih dalam lingkup “diri”. 

Apa asumsi di balik proses pengolahan diri tersebut? Ada “diri yang keliru”; ada “diri yang menyesal”; ada “diri yang berupaya memperbaiki diri”. Pola tersebut hanya berputar pada lingkup “diri”: dari “diri yang keliru” ke “diri yang sejati”. 

Selain itu, proses mengubah apa faktanya menjadi apa yang seharusnya menjadikan apa yang seharusnya masih memiliki ciri lawannya. Misalnya, kita ingin mengubah kemarahan menjadi kesabaran atau ketakutan menjadi keberanian. Lihatlah bahwa dalam kesabaran masih terdapat benih kemarahan dan dalam keberanian masih terdapat benih ketakutan. Di dalam apa saja yang berlawanan masih mengandung sisi lawannya. Demikianlah daya upaya untuk mengubah diri menjadi lebih baik di masa depan tidak mendatangkan wajah kebaikan yang fundamental karena wajah keburukan masih tetap ada di dalamnya. 

Kebanyakan dari kita sesungguhnya tidak “melihat” kemarahan atau ketakutan sebagai “apa adanya”. Kita hampir selalu melihat kemarahan atau ketakutan dengan keinginan untuk mengubah, membuang, membenarkan atau menyalahkan, dst. Dengan demikian kita tidak sungguh “melihat”. 

Bila kita “melihat fakta diri sebagaimana adanya”—kemarahan, ketakutan, termasuk pula kebiasaan introspeksi, rasa sesal, daya upaya untuk mengubah diri—maka tindakan “melihat” itu sendiri membawa perubahan mendasar pada apa yang dilihat. Bila terdapat intensitas dalam melihat, maka tidak terdapat “diri” yang melihat dan perubahan sudah terjadi seketika dalam moment melihat itu sendiri. 

Bila sudah terdapat perubahan seketika pada moment “melihat”, maka tidak dibutuhkan lagi proses introspeksi, rasa sesal dan daya upaya untuk memperbaiki diri di masa depan. Kalaupun seluruh proses tersebut masih dilakukan sebelum meditasi, maka seluruh proses mental tersebut dipotong pada moment “melihat” pada Saat Kini dalam meditasi. Kalau kemampuan “melihat” itu tidak ada, tentu saja Anda akan terus bergulat untuk mengubah diri dengan cara konvensional—dan membenarkan cara tersebut sebagai satu-satunya cara untuk berubah—meskipun Anda mendapati bahwa diri Anda tidak sungguh-sungguh berubah. 

Setiap kali meditasi, Anda bisa memeriksa, “Apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang?” atau “Apa yang penting sekarang untuk disadari?” Tanpa membuang energy terlalu banyak melalui proses introspeksi dan daya upaya untuk mengubah diri, Anda bisa langsung mengakhiri setiap formasi dan proses-proses mental dengan “melihat halnya sebagaimana adanya”. Dan lihatlah, perubahan itu terjadi tanpa daya upaya di masa depan, tetapi sudah terjadi pada moment Saat Kini, seketika.