AA, 38th, Jakarta. 

Dari retret akhir tahun 2013, ada satu pengalaman yang paling menonjol. Siang hari tanggal 31 Desember  2013 setelah eating meditation, saya meditasi di ruang meditasi. Saya hanya diam. Di tengah meditasi, timbul rasa kelelahan batin yang selama ini belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya merasa sangat capai dan kesal. Batin saya berteriak, “Saya capai… capai… capai…” Saya sadari dalam-dalam dan melihatnya tanpa berusaha menghentikannya, sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya; kapan berhentinya saya tidak ingat. 

Ada kesadaran bahwa ternyata selama ini apa yang  saya lakukan untuk keluarga saya lebih banyak bukan berdasarkan cinta, melainkan karena kelekatan, takut kehilangan dan kekuatiran–yang semuanya adalah ego. Mana mungkin ada cinta yang sesungguhnya bila terdapat ego? 

Sepulang dari retreat, seolah-olah mata saya ada layarnya. Layar itu dibanjiri oleh kotoran-kotoran batin. Pada awalnya sempat saya tolak, tetapi kemudian saya sadari penolakan itu dan membiarkannya terlihat. Saya lihat semuanya apa adanya dan membiarkannya berhenti dengan sendirinya. 

Oh ya, saya menerima dua kertas kecil berisi kalimat bijaksana pada awal dan akhir retret. Memang pas isinya buat saya, tetapi saya tidak perlu berusaha untuk menjadi apa yang tertulis di situ. Bagi saya cukup sadar dari saat ke saat; sadar ketika saya tidak sadar; menyadari dalam-dalam gerak batin saya tanpa daya upaya; melihatnya apa adanya, tanpa berusaha menghentikannya, menyadari sampai berhenti dengan sendirinya. Saya biarkan bunga itu mekar dan dalam pemekaran terdapat pengakhiran.