Apakah ada beberapa criteria jenis-jenis pikiran yang sungguh diperlukan dan jenis-jenis pikiran yang tidak sungguh diperlukan untuk hidup? 

Ada enam jenis pikiran:

  1. Pikiran yang normal: Pikiran yang kita pakai untuk berhubungan dengan dunia melalui keenam indera, baik dunia fisik maupun dunia mental, adalah pikiran yang normal. Misalnya, ketika indra penglihatan berkontak dengan suatu objek yang berbentuk, pikiran menamai atau melabeli untuk mengidentifikasi objeknya, “Ini pohon; itu batu.” Ketika timbul fenomena dalam dunia batin, pikiran mengenalinya sebagai ingatan, pikiran, perasaan, dan reaksi-reaksi mental.
  2. Pikiran yang bermanfaat: Pikiran yang bermanfaat bekerja dalam dua area. Pertama, pikiran yang kita pakai untuk menghadapi dan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan praktis kehidupan. Misalnya, Anda menguasai ilmu atau keahlian tertentu sehingga Anda bisa mendapatkan penghidupan dari ilmu atau keahlian tersebut. Kedua, pikiran yang kita pakai untuk memperkuat atau memperkaya praktik kesadaran. Misalnya, membaca buku-buku spiritual atau buku-buku meditasi dan mengambil pokok-pokok yang bermanfaat untuk memperkaya praktik kesadaran.
  3. Pikiran yang tercerahkan: Pikiran yang tercerahkan adalah pikiran yang sudah dipengaruhi atau diilhami oleh pemahaman langsung akan “Apa Adanya” atau “Kecerdasan melampaui intelek” atau “Sesuatu Yang Lain” di luar waktu sebagai buah dari praktik kesadaran. Pikiran yang tercerahkan akan tampak dalam kata-kata yang diucapkan atau dituliskan. Setelah meditasi, orang memahami secara langsung kebenaran dari kata-kata ini, misalnya, “Si pemikir tidak berbeda dari pikiran”; “Kelekatan adalah musuh terbesar Cinta”; “Kemurnian hati adalah sumber kebahagiaan.”
  4. Pikiran yang sia-sia: Pikiran yang sia-sia bekerja dalam beberapa area. Pertama, pikiran mau mencapai pemahaman akan sesuatu di luar pikiran, misalnya, pikiran mau mengerti Tuhan, Kebenaran, Realita di luar waktu, Surga, Nirvana, Persepsi Murni, dst. Kedua, pikiran bergulat untuk menghentikan pikiran. Ketiga, pikiran berlari ke masa lalu atau ke masa depan sehingga menjauhkan kita dari Saat Kini.
  5. Pikiran negative: Pikiran negatif adalah pikiran-pikiran yang dipengaruhi oleh tujuh jenis kotoran batin: nafsu keinginan, kebencian, ketakutan dan kecemasan, keragu-raguan, kemalasan, kelekatan, dan ego. Semua kotoran batin tersebut diciptakan oleh pikiran dan ketika kotoran-kotoran batin bermanifest pikiran semakin diperkuat oleh kotoran-kotoran batin. Ketika pikiran menciptakan nafsu keinginan, maka pikiran penuh dengan nafsu keinginan. Ketika pikiran menciptakan kecemasan, maka pikiran penuh dengan kecemasan. Begitu pula halnya dengan kotoran-kotoran batin yang lain. Ketika pikiran menciptakan kotoran-kotoran batin, pikiran yang sama ditunggangi dan diperkuat oleh kotoran-kotoran batin yang diciptakan sendiri.
  6. Pikiran positif: Pikiran positif adalah proses-proses mental untuk memperkuat atau memperluas pikiran atau ego/diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses-proses mental ini bekerja melalui berbagai cara, misalnya, melalui teknik sugesti, afirmasi dan visualisasi. Contoh teknik sugesti: Ketika Anda merasa kurang percaya diri, Anda berdiri di depan cermin dan mengatakan, “Aku percaya diri.” Contoh teknik afirmasi: Ketika kita merasa lemah atau tidak berdaya dalam menghadapi suatu tantangan, misalnya, kita lalu memotivasi diri dengan mengatakan, “Aku kuat. Aku bisa. Aku pasti sukses. Ayo terus maju!” Contoh teknik visualisasi: Ketika grogi menghadapi atasan yang akan memanggil Anda, pikiran memvisualisasikan Anda berdiri dengan penuh keyakinan di depan atasan dengan wajah yang cerah dan penuh senyum.

Untuk bisa hidup dengan damai dan untuk mencapai perubahan hidup batin yang radikal, tiga jenis pikiran yang terakhir dari enam jenis pikiran tersebut—pikiran yang sia-sia, pikiran negative, dan pikiran positif—tidak kita butuhkan; sedangkan tiga jenis pikiran yang pertama—pikiran normal, pikiran yang bermanfaat, dan pikiran yang tercerahkan—kita butuhkan. 

Bisakah berlatih membiarkan pikiran berhenti ketika tidak sungguh dibutuhkan dan menggunakan pikiran secara optimal ketika sungguh dibutuhkan?