LK, 53 tahun, Bekasi

Rasanya saya perlu mengungkapkan pengalaman berikut ini. Dengan mengikuti retret meditasi di Puncak, saya seperti di bawa pada suatu situasi yang menakjubkan! It’s like destiny, Romo! Saya bertemu dengan orang-orang yang baru saya kenal, tapi seolah-olah saya sudah mengenal mereka; rasanya familiar sekali. Saya bisa bertemu sesama alumni Sanur (Santa Ursula), Ibu AG, MH, MS. Amazing ! Saya bisa ketemu teman-teman sekamar yang luar biasa, AB dan JT. Kami bisa berbagi, tertawa dan menangis haru, padahal kami baru kenal. Ajaib! Kami seperti one big happy family di akhir retret dan rasanya pas sekali waktu Romo mengatakan, “We are inter-connected, inter-related , inter-woven with all beings.”

Saya merasakannya setiap meditasi di pagi buta, dengan bunyi jangkrik, kodok, burung-burung yang bersahutan, gonggongan anjing, di tengah hutan pinus dan pegunungan. Rasanya bisa menyatu dengan alam. Rasanya nyaman dan damai, bisa diterima sebagai bagian dari alam.

Saya jadi teringat tetralogi Eragon. Saat Eragon dalam pelatihan meditasi, dia harus menyatu dengan alam semesta, harus bisa merasakan benak sarang semut dan penghuninya, binatang-binatang kecil lainnya dan semua yang ada di dekat tempatnya bermeditasi. Mungkin begitu rasanya ya Romo mengalami “Manunggaling Kawula-Gusti” ?

Dengan Pak SP yang seringkali mengganggu dengan perkataan-perkataan dan komentar-komentarnya yang kadang lucu, kadang terasa masih penasaran dan gemes dengan jawaban-jawaban Romo, saya bisa merasakan empati. Betapa frustasinya beliau karena masih begitu banyak yang belum dimengerti, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabannya. Rasa penasaran dan keingintahuannya tercermin pada wajahnya, sampai pada beberapa kali kesempatan meditasi, beliau sudah tidak ada mood untuk mengikutinya.

Bisa bertemu dengan Pak EK, yang ternyata teman lama Djohan, yang sudah belajar meditasi kemana-mana dan baru pertama kali ikut retret meditasi seperti ini di Indonesia. Sungguh, suatu yang aneh!

Bisa bertemu MX, yang ternyata adik angkatan anak saya dan calon menantu saya di fakultas yang sama. Bisa ketemu Mas TK, yang saya kira seorang frater atau romo muda dan  ternyata bukan.

Bisa kenal dengan WJ, WP, FS, TM, AT, PN, dan lain-lain. Sungguh suatu keajaiban! Kebetulan? Rasanya bukan, seperti ada suatu desain agung yang mempertemukan kami semua sebagai satu keluarga baru.

Keterhubungan itu juga saya rasakan sesudah pulang retret. Saya mengajak anjing saya jalan-jalan. Biasanya saya agak tegang. Ada rasa khawatir kalau anjing saya Mochi bertemu kucing, karena pasti mau berkelahi. Biasanya saya agak cemas, karena takut Mochi dicakar dan digigit kucing-kucing liar. Mochi anjing terrier, suka berburu apa saja, dari lalat, cicak, kecoak sampai tikus. Anjing pecicilan!

Tapi sesudah retret meditasi, mungkin karena keadaan batin saya lebih tenang, Mochi juga lebih tenang. Waktu ketemu kucing, saya cuma bilang, “Mochi, No!” Dia nurut dan berjalan tenang. Biasanya kalau lihat kucing, dia langsung kalap dan menggonggong seru dan ingin berkelahi. Aneh kan Romo? Cesar Millan benar dalam hal ini ketika dia mengatakan, “Jika suasana hati pemilik anjing tenang, anjingnya akan tenang; jika tegang, anjingnya juga akan gelisah.” Secara psikologis di antara kami ada inter-koneksitas ya Romo?

Terima kasih romo atas bimbingannya selama retret ini. Romo sudah sangat sabar dan baik hati dengan kami semua.

Breathe and smile.

-LK-