WPH, 34 tahun, PNS, Ngawi

Dahulu ketika kehidupan saya berjalan dengan “baik”, saya tidak pernah tertarik dengan segala hal berbau spiritual. Kehidupan rohani saya hanya sebatas ke gereja pada hari minggu, tetapi kemudian saya mengalami titik balik kehidupan saya. Permasalahan datang bertubi-tubi menghantam perkawinan saya hingga hancur, terpisah dengan anak-anak dan membuat saya terpuruk jatuh. Hal itu membuat saya seperti mempunyai dua kehidupan yang terpisah Di depan banyak orang saya menampilkan seorang perempuan yang tegar, mandiri, kuat dan penuh tawa, tetapi saat sendirian saya tidak bisa lepas dari air mata dan meratapi kehidupan saya yang menyedihkan. Jiwa saya serasa mati.

Sejak saat itu saya mulai tertarik mendalami dunia spiritual meski awalnya hanya untuk penghiburan atas derita saya. Saya mulai dengan membaca buku rohani, misa harian, sampai retret pribadi di pertapaan Gedono. Semua itu memang memberikan kekuatan dan banyak penghiburan, tetapi tidak memberikan sesuatu yang melepaskan saya dari penderitaan saya. Kemudian saya bertemu dengan seorang teman yang menawarkan untuk mengikuti retret meditasi sehingga saya banyak membaca buku meditasi dan browsing di internet untuk mencari segala hal berkaitan dengan meditasi dan menemukan webiste www.meditativestate.wordpress.com. Akhirnya saya mendaftar untuk mengikuti retret meditasi ini.

Retret meditasi di Villa Tjokro ini adalah retret meditasi dibawah bimbingan Romo Sudrijanta yang kedua yang saya ikuti. Yang pertama retret di muntilan tgl 26-28 Juli 2013. Selama mengikuti kedua retret ini terbuka mata saya, bahwa segala cara saya mengenyahkan penderitaan saya selama ini salah. Penderitaan dalam bentuk ketakutan akan masa depan, kemarahan dan kesedihan ternyata berasal dari pikiran saya. Semua itu tidak akan hilang selama saya tidak melepaskannya. Ternyata yang saya lakukan selama ini hanya menyembunyikan dan mengubur penderitaan saya dalam-dalam. Saya baru tahu bahwa penderitaan tersebut harus diterima, dipeluk dan diamati secara sadar sampai menghilang dengan sendirinya.

Selama tiga hari pertama retret di Villa Tjokro saya masih belum paham apa yang harus saya lakukan pada saat meditasi duduk, meditasi berdiri dan meditasi berjalan. Saya hanya mencoba duduk diam dan menjalankan instruksi Romo Sudrijanta, sampai-sampai saya hapal semua “petunjuk manual” kalimat-kalimat Romo Sudrijanta selama meditasi. Pikiran saya sibuk mengingat instruksi dan bukan melakukan praktik meditasi. Selama tiga hari itu saya menangis. Setiap sesi meditasi saya teringat dengan semua peristiwa yang telah lewat. Romo mengajarkan untuk menyadari dan mengamati perasaan tersebut, membiarkannya mekar sampai puncak. Tetapi saya lebih banyak terbawa permainan pikiran saya sendiri. Pikiran yang datang selalu ditanggapi “si aku” dengan pikiran baru dan seterusnya, seperti ada beberapa orang yang sedang berdialog di kepala saya, sampai saya merasa sakit kepala hebat. Bagian belakang kepala terasa ditusuk dan nyeri pada ulu hati sehingga saya tidak tahan untuk terlalu lama sitting meditation. Saya tahu kemudian setelah konsultasi dengan Romo Sudri bahwa itu adalah akibat pecahan pikiran yang menguras energy dan menyebabkan ketegangan fisik.

Pada hari keempat saya mulai tenang dan dapat duduk diam, rileks, menyadari dan mengamati pikiran tanpa daya upaya, sampai saya lupa waktu. Hari itu tidak banyak “rapat” di kepala saya. Pada sesi meditasi malam Romo Sudri membimbing ke meditasi yang dalam dengan menggunakan suara bel. Tiba-tiba saya menemukan suatu perasaan aneh yang tidak saya pahami. Apakah masih ada si aku atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya rasakan hanya kegelapan yang tenang, damai, terasa nyaman dan bahagia meski hanya beberapa saat, karena saat saya berusaha untuk lebih lama berada dalam keadaan tersebut perasaan tersebut makin memudar. Hal tersebut berlanjut hingga sesi meditasi pagi. Pada kedua Ibu Jari tangan yang bertaut, saya merasakan kehangatan yang menjalar naik dari tangan, lengan hingga membungkus seluruh tubuh saya. Untuk beberapa saat tidak ada rasa dingin yang biasanya mengganggu saya. Tetapi saat saya berusaha tinggal lebih lama dalam keadaan tersebut, rasa hangat itu mulai memudar.

Setelah pengalaman tersebut, pada setiap meditasi terdapat daya upaya untuk mencari dan menemukan perasaan yang sama, meski saya sadar semakin berdaya-upaya saya semakin menjauh. Tetapi memang sulit menghindar dari keinginan untuk mendapatkan “hasil” yang sempat membuat saya kembali putus asa.

Muncul pertanyaan, “Apakah benar, saat orang lain menyakiti saya dengan kemarahannya berarti dia juga orang sakit yang tidak lepas dari penderitaan dan menularkan penderitaan tersebut kepada orang lain? Dengan demikian apakah seharusnya saya merasa kasihan terhadap orang tersebut daripada merasa sakit hati atas perbuatannya?” Saya tergerak untuk menolongnya agar menyadari kesakitannya dan bukan menghindarinya. Mungkin ini aneh ya. Soalnya, melepaskan rasa sakit luka batin saya saja saya belum dapat dan sekarang mau menolong orang lain. Tetapi paling tidak perasaan itu sedikit meringankan sakit saya.

Dua hari terakhir retret, saya baru merasa sangat nyaman dan menikmati keheningan dalam diam. Perlahan baru memahami bagaimana diam mengamati pikiran, bukan sekedar mengulang perkataan Romo Sudri sebagai hapalan, meski masih sulit meruntuhkan ego.

Terakhir, saya sungguh berterimakasih atas kesempatan mengenal Romo Sudrijanta serta kesempatan praktik kesadaran meditasi tanpa obyek ini. Semoga pada akhirnya, saya dapat menyembuhkan “penyakit” saya. Terimakasih juga atas kiriman 17 komitmen praktek kesadaran yang menurut saya sangat luar biasa dan menginspirasi. Semoga saya dapat terus mempraktekkannya dalam kehidupan saya sehari-hari.

Tinggg…

Salam Damai

-WPH-