Ada banyak tantangan dalam membangun kehidupan keluarga pada jaman sekarang. Ketika hal-hal fisik–uang, kekuasaan, dan harta benda—serta kenikmatan psikologis–kepastian dari doktrin-doktrin intelektual dan dogma-dogma agama, kenikmatan dari kelekatan pada relasi-relasi dan kenyamanan oleh benda-benda teknologi–menjadi yang utama, praktik spiritual yang tidak sekedar menenangkan tetapi membebaskan makin tidak mendapat tempat.

Mungkinkah membangun sebuah keluarga sebagai sebuah “Sangha” atau komunitas spiritual? Sebuah keluarga disebut sebagai “Sangha” kalau setiap anggotanya melakukan praktik spiritual yang membebaskan. Praktik spiritual yang dimaksud bukan pertama-tama praktik agama, melainkan suatu praktik pengolahan hidup pribadi dan bersama agar suami dan isteri serta anak-anak “bangun” secara spiritual.

Suami-isteri bukan hanya dipanggil untuk menjadi teman hidup, tetapi sebagai teman spiritual satu dengan yang lain. Orangtua bukan hanya bertanggungjawab untuk menghidupi anak-anak dan keluarga, tetapi juga sebagai sahabat spiritual bagi anak-anaknya. Bisakah relasi-relasi dalam keluarga–relasi antar suami-isteri, orang tua anak—dan relasi-relasi yang lebih luas, menjadi relasi-relasi spiritual?

Sebuah relasi disebut spiritual apabila memenuhi sekurang-kurangnya tiga aspek ini:

1) Relasi menjadi sarana kita mengenal diri kita. Mengenal diri hanya bisa dilakukan dalam interaksi dalam relasi-relasi. Orang lain berfungsi sebagai cermin yang menolong kita mengenal siapa diri kita dan sebaliknya kita berfungsi sebagai cermin agar orang lain mengenal siapa dirinya. Kalau cermin batin kita kotor, orang lain tidak akan bisa melihat dirinya dengan jernih; sebaliknya apabila cermin batin kita bersih, orang lain akan bisa mengenal dirinya dengan jernih.

Setiap moment adalah moment yang pertama dan terakhir. Setiap moment adalah moment yang selalu baru dan segar. Kita tidak melihat fakta ini apabila kita membawa-bawa memori masa lampau ke masa kini dan meracuni setiap perjumpaan kita di masa sekarang. Itulah yang justru seringkali terjadi. Karenanya kita banyak menderita dalam semua relasi. Namun demikian, setiap kali fakta-fakta tersebut disadari, kita dibebaskan dari penjara memori. Bebasnya batin dari penjara memori membuat kita menemukan kebaruan dan kesegaran dalam setiap perjumpaan.

Di tingkat permukaan, ada banyak perbedaan—suku, ras, keyakinan, agama, konsep, ideology, pemikiran. Sadar bahwa kita masing-masing berbeda, maka dibutuhkan Penerimaan, Pemahaman dan Rasa Hormat. Di tingkat yang paling dalam, sesungguhnya kita tidak berbeda. Kita semua Kesadaran Murni. Kita adalah Jiwa-Jiwa Murni, Damai, Baik, Penuh Kasih dan Kuat. Dengan belajar mengenal diri dan melampaui keterkondisian diri dalam segala hal, maka kita menyentuh hakekat diri yang tak-berhakekat. Relasi suami-isteri atau orang-tua dananak sebagai teman spiritual seperti ini akan membawa pencerahan, pembebasan dan peneguhan satu dengan yang lain.

2) Setiap relasi mendekatkan kita dengan Allah yang Tak-Terbatas (the Supreme, the Unlimited). Allah adalah Samudera Kebaikan, Kebenaran, Kasih Sayang dan Kekuatan Tak-Terbatas; Allah adalah Samudera Kemurnian, Kedamaian, dan Kebahagiaan Tak-Terbatas.

Kalau kita ingin mengetahui secara actual apa yang Tak-Terbatas, kita perlu menanggalkan apa yang serba terbatas—pemikiran, konsep, ide-ide, keyakinan. Konsep-konsep tentang Allah di benak kita adalah hambatan terbesar bagi kita untuk berjumpa dengan Allah yang sesungguhnya. Maka benarlah pepatah Zen, “Apabila Anda ingin mengetahui Kebenaran, tanggalkan opini Anda.” (If you want to know the Truth, drop your opinion.” )

Allah yang Tak-Terbatas melampaui semua dogma adalah Fondasi Keberadaan kita (Groundless Ground of Being) dan Fondasi Keberadaan kita dalam relasi-relasi (Groundless Ground of Inter-Being). Dengan praktik menyadari dan mengenal diri, maka kita akan mengenal secara actual siapa Allah yang Tak-Terbatas. Dan apabila kita terhubung secara actual dengan Allah yang Tak-Terbatas, kekuatan-kekuatan spiritual akan mengalir secara alamiah dan mudah dalam diri kita.

3) Setiap perjumpaan dalam relasi menjadi kesempatan kita membagikan kekuatan-kekuatan spiritual yang kita miliki. Spiritualitas dari berbagai tradisi mengajarkan agar kita memberi dan jangan pernah mengambil. Kalau kita merasa kurang secara spiritual di dalam jiwa kita, maka kita akan mempergunakan orang lain atau objek-objek lain hanya sebagai alat untuk mengisi kekosongan jiwa. Kalau kita mengalami kepenuhan secara spiritual, maka kita tidak akan menuntut orang lain orang lain melakukan apa yang kita inginkan demi kebahagiaan kita. Sebaliknya, kita akan terdorong untuk terus memberikan atau membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain. Lebih tepat dikatakan bahwa Kekuatan-kekuatan spiritual itu akan bervibrasi keluar secara alamiah melalui diri kita, melalui tindakan pikiran, tindakan kata-kata dan tindakan tubuh kita.

Sesungguhnya kita hanyalah instrument bagi bagi Kekuatan Kehidupan di Dalam (the Power of Life Within) atau yang Mahatinggi (the Supreme), yang Tak-Terbatas (the Unlimited) untuk mewujud ke luar di tengah dunia. Bisakah kita menjadi Instrument Tak-Terbatas bagi Kekuatan Spiritual atau Allah yang Tak Terbatas untuk bermanifest?

Instrument Tak-Terbatas ini beroperasi dalam tindakan memberi atau berbagi tanpa mengharapkan imbalan apapun demi kebahagiaan dari si pemberi. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima. Sedikit kita memberi, sedikit kita menerima. Yang kita berikan pertama-tama adalah Kekuatan-Kekuatan Spiritual, bukan benda-benda. Apakah Kekuatan-Kekuatan Spiritual itu hendak dimediasikan lewat benda-benda, itu soal yang lain.

Sikap kita terhadap orang lain dan benda-benda menunjukkan tingkatan spiritual kita. Bagaimana membedakan orang spiritual dan orang biasa?
Orang biasa mengatakan, “Mine is mine; yours is yours.”
Orang jahat mengatakan, “Mine is mine; yours is mine.”
Orang baik berkata, “Mine is mine as well as yours.”
Orang Spiritual berkata, “Nothing is mine; everything is God’s.”

Kita semua sesungguhnya bukanlah pemilik dari apa saja yang secara hukum dunia menjadi milik kita. Pasangan hidup, anak-anak, keluarga–segala ciptaan termasuk benda-benda– sesungguhnya dipertemukan dengan kita untuk menolong kita mengejar tujuan spiritual kita dan kita bersama-sama saling belajar untuk saling mencerahkan, menguatkan dan mebebaskan.

Mari kita melanjutkan praktik hidup spiritual kita agar semakin banyak orang bangun, tercerahkan, dan bahagia, mulai dari keluarga kita.* (js)