Testimoni dari Retret 5 hari, 14-18 Mei 2014
BS, 55 tahun, Jakarta

Pada hari pertama dan kedua Retret, saya kesulitan untuk hening. Pada saat meditasi duduk, kaki saya kesemutan dan pikiran masih mendominasi meditasi. Semakin berusaha menghilangkan semakin kesemutannya bertambah dan banyak gambaran yang muncul silih berganti. Meditasi jalan (walking meditation) juga seperti jalan santai, mengikuti peserta yang berjalan di depan saya dan rasanya ingin cepat selesai.

Pada hari ketiga, pagi hari sebelum mulai meditasi, saya coba olah tubuh ringan cara yoga dari ujung kepala sampai ujung kaki sehingga tubuh terasa lebih rileks. Sesuai dengan bimbingan Romo, saya juga praktekkan penyadaran sensasi tubuh dari dahi, kelopak mata, dan syaraf-syaraf lidah. Semua harus rileks dengan sentuhan kesadaran. Kalau dahi berkerut, pikiran bergerak. Senyum dan napas perut perlahan melalui hidung secara teratur membuat tubuh semakin rileks.

Meditasi di dalam ruangan masih belum bisa hening, namun meditasi lebih terasa nyaman. Kaki tidak kesemutan lagi dan meditasi jalan sudah harmonis dengan masuk-keluar napas perut lewat hidung. Meditasi di alam terbuka sangat mendukung karena suasana alam yang segar, pemandangan yang indah, kicauan burung, dan bunyi jengkrik. Semuanya menyatu dan menambah meditasi semakin khusuk. Pada moment itu pula alam bawah sadar saya mengisyaratkan “look at the tip of your nose” (lihat ujung hidungmu). Dengan mata terpejam ringan saya coba ikuti suara hati tersebut dan saya bisa melihat suatu layar terang. Layar tersebut semula kecil dan makin melebar. Saya tersenyum senang. Tanpa sengaja saya coba atur napas perut masuk-keluar perlahan-lahan lewat hidung dan bisa bertahan cukup lama. Saya buka mata, dan coba mengulang proses semula dan bisa merasakan keheningan dan layar terang kembali. Waktu meditasi jalan, tanpa ada halangan saya ulangi proses yang sama dan bisa merasakan keheningan sama seperti waktu meditasi duduk.

Selanjutnya waktu kembali meditasi di dalam ruangan terang dan gelap saya juga bisa merasakan keheningan meskipun gambaran layar terang sedikit berbeda. Saya merasakan getaran vibrasi tubuh dengan telapak tangan menghadap keatas di masing-masing lutut dan jari telunjuk dirapatkan dengan ibu jari bagian yang lembut antara menyentuh dan tidak seperti ada sehelai kertas diantaranya. Getaran vibrasi tubuh dari ujung jari tersebut terasa mengalir ke tubuh dan saya coba menyadari sensasi tubuh tersebut dengan napas perut perlahan keluar-masuk melalui hidung.

Meditasi hening pada hari keempat, baik duduk, berdiri dan berjalan, semakin menakjubkan dan waktu begitu cepat berlalu tanpa terasa. Keheningan yang saya dapatkan bukan cuma di hari ketiga retret, tapi juga didukung oleh latihan yoga dan meditasi dengan objek selama 15 tahun yang sudah rutin saya praktekkan sampai sekarang.

Meditasi hening ini akan saya praktekkan juga dalam keluarga sebelum doa malam bersama dan di lingkungan sebelum doa rosario serta pendalaman iman. Dengan Hening lebih mendekatkan batin kita dengan Tuhan. “Jadilah padaku, menurut kehendakMu”.

Terima kasih kepada Romo J Sudrijanta SJ yang sudah membimbing kami dengan sabar dan telaten, dan juga kepada panitia yang sudah mengemas Retret ini begitu apik dan diluar rutinitas.

Breathe and smile