Kalau ada seseorang datang kepada Anda dan bertanya, “Mengapa orang musti hidup Suci?” jawaban apa yang hendak Anda berikan? Sekurang-kurangnya Anda musti menjelaskan tiga alasan berikut ini.

Pertama, Kesucian adalah esensi dan sifat alamiah dari Jiwa. Setiap Jiwa pada dasarnya Suci. Apabila ada Jiwa yang tidak lagi suci karena kekuatan dosa, maya atau dukkha, ia menjauh dari esensi dan sifat alamiahnya. Namun demikian, ketika tidak lagi Suci, tetap saja ada tarikan dari Jiwa yang sama untuk kembali kepada esensi dan sifat alamiahnya. Sesungguhnya, kita tidak perlu belajar menjadi Suci, karena Kesucian adalah esensi dan sifat alamiah dari Jiwa. Yang kita butuhkan adalah menyadari fakta ketidaksucian dan menanggalkan ketidaksucian itu. Ketika ketidaksucian berakhir, Kesucian terlahir. Sekuat apapun tarikan yang menjauh dari Kesucian tidak akan mengalahkan kekuatan dari tarikan untuk kembali kepada Kesucian. Maka apa yang perlu dilakukan ketika Jiwa tidak Suci? Dengarkan tarikan Jiwa dan kembali, kembali kepada esensi dan sifat alamiahnya.

Kedua, tidak ada Kedamaian, Kebahagiaan dan Kekuatan Spiritual yg muncul dari Jiwa yang tidak Suci. Apabila ada orang yang merasa damai dan bahagia, sementara bergelimang dalam ketidaksucian, maka orang tersebut menipu diri sendiri atau tertipu oleh kegelapan ketidaktahuannya sendiri. Orang yang tidak suci, pastilah jiwanya tidak damai, menderita dan lemah. Sebaliknya, apabila Kesucian Jiwa dijaga atau direalisasikan, maka Damai, Kebahagiaan dan Kekuatan Spiritual akan mudah ditemukan.

Ketiga, Kesucian adalah syarat utama agar Jiwa bisa kembali ke hunian Surga. Hunian Surga adalah tempat hanya bagi Jiwa-Jiwa yang tidak bercacat. Untuk mencapai hunian Surga, Jiwa musti Suci terlebih dahulu. Apabila Jiwa meninggalkan tubuh fisik dalam keadaan cacat, berapa lama waktu dibutuhkan agar bisa masuk ke hunian Surga? Lamanya waktu berbeda-beda menurut kualitas jiwa yang bersangkutan. Menurut kesaksian jiwa-jiwa yang sudah meninggal, ada jiwa-jiwa yang tidak membutuhkan waktu lama, hanya sekian detik atau sekian menit atau sekian hari. Sebagian yang lain harus menunggu sampai ratusan bahkan ribuan tahun untuk sampai ke hunian Surga. Apa artinya? Andai kata kita tidak mencapai Kesucian selama 100 tahun hidup di dunia sekarang ini, bisa jadi kita harus membayar ratusan atau ribuan tahun lagi sebelum kita masuk ke hunian Surga.

Apakah Anda tertarik hidup Suci sekarang, dari saat ke saat, sampai detik kematian Anda tiba? Kalau Anda tidak mau meninggalkan penjara kenikmatan dunia, bisa jadi Anda akan membayar waktu ratusan atau ribuan tahun hidup dalam penderitaan. Barangkali ada dari Anda yang mengatakan, “Saya ingin hidup suci. Tapi karena saya masih muda, saya ingin memuaskan dulu dengan kesenangan dunia dan nanti saya akan hidup Suci setelah pensiun di usia tua.” Lihatlah, siapa bisa memastikan bahwa Anda bisa mencapai usia pensiun. Bisa jadi beberapa minggu ke depan Anda tewas ditabrak oleh kuda gila yang mengamuk. Selain itu, semakin lama Anda menunda, maka karat ketidaksucian itu akan semakin tebal dan makin sulit untuk dibersihkan.

Kalau Anda merasakan tarikan untuk kembali hidup dalam Kesucian, mari kita bertanya, “Adakah metode yang paling cepat membawa kepada Kesucian Jiwa?” Jawabannya ada. Metode ini akan cepat membawa Jiwa kepada wajah aslinya, secepat Anda menarik nafas.

Pertama, sesering mungkin sadari bahwa Anda bukanlah “tubuh”, melainkan “Jiwa”; Anda bukanlah “ego” melainkan “kesadaran murni”; Anda bukanlah batin yang terkondisi sebagai akumulasi “pola-pola pikiran, perasaan dan formasi-formasi mental”, melainkan “batin yang tak-terkondisi”. Sadar Murni atau Sadar Jiwa adalah realisasi diri bahwa Anda adalah Kesucian, Kedamaian, Kebahagiaan dan Kekuatan. Apabila kita lupa bahwa kita adalah Jiwa dan hidup dalam kesadaran yang tidak murni atau terkondisi, maka jiwa kita tidak suci, menderita dan lemah. Sesering apa Anda tidak sadar Jiwa? Sesering itulah Anda memiliki kesempatan untuk kembali sadar Jiwa.

Kristus bukan berasal dari dunia, tetapi berada di tengah dunia untuk membawa misi dari Surga. Kita semua juga bukan berasal dari dunia. Kita adalah Jiwa-Jiwa yang berfungsi dengan tubuh ini di tengah dunia untuk mengemban misi yang sama melalui peran-peran yang berbeda, dan setelah selesai kita musti kembali ke Surga.

Perbedaannya, Jiwa Kristus tidak terkontaminasi oleh kekotoran dunia; sementara jiwa kita terkontaminasi oleh kekotoran dunia. Maka kita perlu kembali kepada Kesucian, agar bisa pulang kembali ke Surga.

Kedua, sesering mungkin buatlah kontak langsung dengan Allah Bapa sebagai yang Tak-Terbatas. Dengan menyadari keterkondisian Anda dan melampauinya, Anda merealisasikan siapa Anda yang sesungguhnya, bahwa Anda adalah Jiwa; kemudian Anda terhubung secara alamiah dan mudah dengan Allah Bapa sebagai yang Tak-Terbatas. Dialah sumber Kesucian, Kedamaian, Kebahagiaan dan Kekuatan. Sesering apa Anda terhubung dengan Allah sebagai yang Tak-Terbatas? Sesering itulah Anda terhubung dengan Sang Sumber Kesucian dan Kesucian Anda sebagai salah satu ciri utama Jiwa akan diperkuat.

Apanya dari diri Anda yang bisa berkontak langsung dengan Allah sebagai yang Tak-Terbatas? Apakah tubuh fisik Anda? Apakah pikiran, perasaan dan kekuatan mental Anda? Tidak. Jiwa atau Kesadaran Murni yang adalah siapa Anda yang sesungguhnya itulah yang bisa berkontak langsung dengan Allah Bapa. Jadi kesadaran tubuh atau kesadaran yang tidak murni musti ditanggalkan agar kita bisa berkontak langsung dengan Allah Bapa.

Bagaimana kita mempertahankan Kesadaran Jiwa dan terhubung dengan Allah Bapa, sementara kita terjun aktif di tengah dunia? Sikap apa yang perlu dikembangkan agar kita bisa hidup dan berkarya di tengah dunia tanpa terkontaminasi oleh kekuatan dunia?

Terhadap kekuatan arus dunia, tiga sikap harus dikembangkan, yaitu sikap ketidak- tertarikan, pelepasan, dan lepas-bebas secara tak terbatas.

Pertama, praktik mengembangkan sikap ketidak-tertarikan secara tak-terbatas (Unlimited Disinterest).Mengapa orang tidak mau meninggalkan arus dunia, bahkan dalam banyak kasus jiwa yang terkondisi, setelah matipun arus dunia tetap dibawa? Orang bertindak demikian karena memiliki keyakinan bahwa kebahagiaan bisa diperoleh dari dunia. Kenyataannya, tidak ada kebahagiaan di dunia. Kalaupun ada, kebahagiaan itu bersifat terbatas, dangkal, semu dan sementara. Dunia ini seperti kuburan. Anda tidak bisa mengharapkan apapun. Apakah Anda tertarik membangun rumah dan tinggal selamanya di atas kuburan? Dengan mengembangkan kesadaran dan pemahaman bahwa kebahagiaan Anda serba terbatas dan Anda tidak akan pernah mendapatkan Kebahagiaan Tak-Terbatas dari kuburan dunia ini, maka ketertarikan Anda pada arus dunia akan berkurang atau berhenti. Sebagai gantinya, akan timbul Ketertarikan Tak-Terbatas pada apa yang Tak-Terbatas.

Sikap ketidak-tertarikan pada dunia juga akan menguat dengan mengembangkan pemahaman bahwa kediaman kita yang sesungguhnya bukanlah kediaman fisik. Rumah kita di dunia ini hanyalah terminal dan hidup kita di dunia ini bukanlah hidup yang terakhir. Kediaman kita yang sesungguhnya adalah Kesucian Tak-Terbatas, Kedamaian Tak-Terbatas, Kebahagiaan Tak-Terbatas.

Semakin besar ketidak-tertarikan kita pada dunia, semakin besar pula ketertarikan kita pada apa yang Baik, Benar, Indah dan Suci yang bukan berasal dari arus dunia. Hanya ketika ketertarikan yang benar tak-terbatas itu menguat, maka Anda merealisasikan diri sebagai Jiwa-Jiwa yang mampu hidup dan berkarya di tengah dunia tanpa terkontaminasi oleh dunia.

Lihatlah apakah Anda memiliki ketertarikan pada sesuatu hal? Apakah ketertarikan Anda hanyalah wujud dari kelekatan atau Ketertarikan Tak-Terbatas yang membawa kepada Kebaikan, Kebenaran, Keindahan dan Kesucian Tak Terbatas?

Kedua, praktik mengembangkan sikap pelepasan secara tak-terbatas (Unlimited Renunciation).Sikap ketidak-tertarikan secara tak-terbatas (Unlimited Disinterest) akan membawa pula pada pelepasan secara tak-terbatas (Unlimited Renunciation). Apa yang perlu dilepaskan? Apa saja yang kita senangi, yang justru menghalangi mekarnya Kebaikan, Kebenaran, Keindahan dan Kesucian; semua itulah yang musti dilepaskan.

Kita seringkali tidak mau melepas sesuatu karena sesuatu itu kita padang sangat berharga, meskipun sesungguhnya tidak berharga. Kita melihat keburukan sebagai kebaikan, kepalsuan sebagai kebenaran, kejelekan sebagai keindahan dan kekotoran sebagai Kesucian.

Dengan memahami sesuatu sebagai apa adanya, melihat kepalsuan sebagai kepalsuan, maka kita akan mudah melepaskan sesuatu. Semakin banyak kita melepas, semakin banyak kita memperoleh. Semakin tak-terbatas kita melepas, semakin tak-terbatas kita memperoleh Kesucian, Kedamaian dan Kebahagiaan Tak-Terbatas.

Lihatlah apakah ada sesuatu yang ingin Anda lepaskan tetapi Anda sulit untuk melakukannya? Periksa adakah keyakinan atau persepsi pikiran yang keliru? Periksalah apakah masih ada keinginan untuk menggenggam sesuatu sementara ada keinginan yang sama untuk melepaskan?

Ketiga, praktik bebas kelekatan secara tak-terbatas (Unlimited Detachment).Kelekatan adalah pengelabuhan-diri. Terdapat anggapan keliru bahwa kita adalah apa yang kita lekati. Kita melekat pada tubuh sendiri, orang lain, uang, benda-benda, harta kekayaan, ide-ide. Kita mengira dengan mencintai otomatis kita melekati. Kelekatan dipandang sebagai sesuatu yang alamiah atau normal. Kenyataannya, semakin dalam kita melekat, kita makin takut dan menderita, meskipun kita menemukan kenikmatan di dalamnya.

Ketakutan itulah pertama-tama yang menggerakkan kita untuk melekat. Kita takut terhadap fakta batin kita sendiri yang kita tolak. Kita takut pada kesepian-kesepian dan kepedihan-kepedihan kita sendiri. Lalu kita lari dengan melekat. Semakian dalam kita melekat, semakin besar ketakutan ditimbulkan; dan sebaliknya semakin besar ketakutan, semakin dalam kita melekat.

Kita musti memahami fakta batin kita—kesepian-kesepian dan kepedihan-kepedihan. Kita memahami hakekat ketakutan sebagai pelarian-pelarian kita dari fakta-fakta batin yang kita tolak. Kita memahami nafsu-nafsu kita untuk mengejar kenikmatan, kenyamanan, kepastian, kepuasan. Kita memahami dorongan untuk menggunakan orang lain atau objek-objek apapun guna memuaskan tuntutan hasrat akan kenikmatan yang terus meningkat. Tidak ada sesuatu yang lebih sakit daripada desakan untuk memuaskan hasrat yang tidak pernah terpuaskan. Apabila kita memahami keseluruhan struktur kelekatan ini, maka kita dibebaskan dari kelekatan seketika. Memahami kelekatan, membuat kita dibebaskan dari kelekatan dan bebas dari kelekatan membuat kita hidup Suci.

Praktik Kesadaran Jiwa atau Kesadaran Murni membuat kita mudah menemukan siapa kita yang sesungguhnya; dan dengan menyadari secara aktuil siapa diri kita, kita mudah terhubung kembali dengan Allah yang Tak-Terbatas. Kemudian kita bisa melanjutkan misi pengudusan di tengah dunia sesuai dengan peran-peran kita.

Sesering apa Anda hidup tidak suci? Sesering itulah Anda hidup suci, apabila Anda mengetahui bagaimana mentransformasikan ketidaksucian menjadi Kesucian, hanya dalam hitungan detik.* (js)