Oleh J. Sudrijanta

Praktik Kesadaran adalah inti dari semua praktik meditasi. Namun tidak semua meditasi membawa kepada pembebasan sekaligus kepenuhan hidup. Untuk menemukan suatu Praktik Kesadaran yang secara efektif membawa kepada pembebasan sekaligus kepenuhan hidup, dibutuhkan pengertian langsung dari tangan pertama tentang berbagai aspek atau dimensi Kesadaran (Awareness).

Berikut adalah paparan tentang beberapa aspek Kesadaran yang perlu dialami sendiri secara actual. Aspek-aspek yang dimaksud adalah Relax Awareness (Kesadaran Relaks), Choiceless Awareness (Kesadaran Tanpa-Memilih), Intuitive Awareness (Kesadaran Intuitif), Discerning Awareness (Kesadaran Disernmen), Unbounded Awareness (Kesadaran yang Tak-Terikat), dan Immanent-and-Transcendent Awareness (Kesadaran Imanen sekaligus Transenden).

Istilah-istilah tersebut berbeda satu dengan yang lain, namun maknanya saling tumpang tindih, saling berkaitan, dan sesungguhnya menunjuk pada hakikat Kesadaran yang tidak berbeda. Untuk mengungkap kekayaan yang bisa ditimba dari praktik Kesadaran, konsep-konsep tersebut kiranya bisa menjadi petunjuk untuk melakukan eksplorasi lebih dalam.

Relax Awareness (Kesadaran Relaks)

“One day, as your confidence in awareness grows,
Mind will appear as witless as a child
And awareness as wise as venerable old sage.
Awareness will not run after mind, but eclipse it;
In a relaxed, serene state, rest at ease.” –Dilgo Khyentse Rinpoche

Meditasi tidak akan bisa berjalan apabila tubuh dan batin kita terlalu tegang. Maka relaksasi menjadi penting. Namun keadaan relaks bukanlah pertama-tama berasal dari kondisi tubuh atau mental. Kita tetap bisa relaks meskipun tubuh sedang sakit atau tidak sehat. Begitu pula kita tetap bisa relaks meskipun pikiran atau emosi sedang kacau. Jadi relaks tidak muncul pertama-tama dari kondisi tubuh atau mental, tetapi dari kesadaran.

Ada banyak cara relaksasi. Misalnya dengan yoga, senam, olah raga dan rekreasi, selain meditasi. Bedanya, dalam meditasi, relaksasi bisa dicapai pada tingkatan yang sangat dalam. Sedangkan relaksasi dengan cara-cara yang lain lebih bersifat kurang dalam.

Dalam praktik meditasi, kita bisa berlatih relaksasi dengan menyadari secara langsung ketegangan dalam tubuh dan batin. Semakin banyak ketegangan kita temukan, semakin banyak kesempatan kita menjadi relaks.

Dalam latihan, kita bisa menjadikan kesadaran-relaks (relax-awareness) sebagai jangkar. Rasakan relaksasi itu dari saat ke saat. Rasakan. Bukan berjuang untuk relaks. Cukup rasakan. Rasakan secara langsung suasana relaks di balik setiap ketegangan.

Nafas adalah factor jasmani yang penting. Menyadari nafas, dengan cara yang tepat, menjadi alat bantu yang efektif agar kita menjadi lebih relaks. Dengan bantuan penyadaran pada nafas, pada saat yang sama kita menyadari ketegangan-ketegangan dalam tubuh dan batin. Semakin banyak ketegangan halus kita temukan, semakin dalam relaksasi kita rasakan.

Kondisi relaks ini akan membuat pengenalan dan keyakinan kita pada Kesadaran menguat. Setelah ketegangan yang diciptakan pikiran semakin mereda, Kesadaran makin menguat, seperti bulan yang timbul di langit dan menerangi kegelapan malam. Begitu pula dengan menguatnya Kesadaran, tubuh dan batin menjadi lebih relaks. Akhirnya orang menjadi lebih sadar dan waspada, namun bebas dari ketegangan.


Choiceless Awareness (Kesadaran Tanpa-Memilih)

“To be choicelessly aware implies [a state where] there is no decision, no will, no choice.” –Jiddu Krishnamurti

Setelah tubuh dan batin kita menjadi lebih relaks seiring dengan bangkitnya Relax-Awareness, keadaan “Sadar Tanpa-memilih” (Choiceless Awareness) akan bisa didekati dengan lebih mudah. Kesadaran Tanpa Memilih adalah istilah lain dari persepsi tanpa-berpusat-pada-diri atau “mengamati tanpa si pengamat” (J. Krishnamurti 1895-1986)

Dalam praktik meditasi, Kesadaran Tanpa-Memilih adalah suatu perhatian tanpa terfokus atau terkonsentrasi pada objek utama. Konsentrasi terfokus masih bekerja secara dualistic, ada “subjek” yang mengamati dan “objek” yang diamati. Dalam Kesadaran Tanpa-Memilih tidak ada lagi dualitas antara si pemerhati dan apa yang diperhatikan, karena si pemerhati tidaklah berbeda dari apa yang harus diperhatikan.

Kesadaran Tanpa-Memililih adalah persepsi tentang fenomena di luar (eksternal) maupun di dalam (internal) batin tanpa melibatkan kehendak dan upaya untuk memilih atau memutuskan. Kita tidak memilih untuk suka atau tidak suka, melekat atau membenci.

Seseorang yang mempersepsikan sesuatu dengan amat jelas, jernih, gamblang, tanpa distorsi akan bertindak secara langsung, seketika, dan alamiah dari Kesadaran ini. Persepsi yang terdistorsi melibatkan proses-proses memilih dan memutuskan, sedangkan persepsi tanpa distorsi tidak membutuhkan proses memilih dan memutuskan. Melihat—dalam kejernihan, tanpa distorsi—adalah bertindak seketika. Kualitas batin dan tindakan yang demikian adalah bebas dari konflik.

Distorsi datang dari semua pengalaman, pengetahuan, dan dorongan-dorongan kompulsif dalam diri kita. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir selalu kita melihat dari latar belakang ini. Kita melihat dengan sudut pandang tertentu. Kita melihat dengan reaksi-reaksi tertentu. Kita memilih selalu menurut keterkondisian kita. Melihat tanpa memilih artinya melihat tanpa keterkondisian, tanpa latar belakang, tanpa reaksi-reaksi, tanpa sudut pandang.

Kita musti menyadari keterkondisian ini. Apabila terdapat perhatian total terhadap fakta, maka latar belakang yang menghalangi pemahaman kita tentang fakta terhapuskan.

Tidak ada teknik, metode atau cara untuk membangkitkan Kesadaran Tanpa-Memilih. Semua Teknik atau metode menyiratkan suatu konflik. Agar muncul Kesadaran Tanpa-Memilih, semua upaya untuk memilih musti berhenti. Berhentinya daya upaya untuk memilih juga bukan berasal dari suatu keputusan, melainkan hasil dari penyelidikan dengan perhatian total. Apabila terdapat perhatian total terhadap fakta, maka keterkondisian tidak ada.

Intuitive Awareness (Kesadaran Intuitif)

“Intuitive insight can be gained only by means of a true inner realization.” –Buddhadasa Bhikku

“Sensitivity in its highest form is intelligence.” –Jiddu Krishnamurti

Kesadaran Tanpa-Memilih membuka pemahaman penuh tentang suatu realita kompleks dari suatu fenomena—atau cukup dikatakan “mengetahui halnya sebagaimana adanya”.

Kesadaran Intuitive (Intuitive Awareness) berbeda dari Kesadaran Analitik (Analytical Consciousness). Kesadaran Analitik adalah kesadaran pikiran. Ia bekerja dengan menggunakan konsep-konsep, menganalisa, menalar, membandingkan, menilai, dan menyimpulkan. Kesadaran Intuitif adalah kesadaran tanpa melibatkan proses-proses berpikir. Ia mengetahui langsung halnya seperti apa adanya, tanpa melalui proses-proses penalaran. Itu adalah suatu kecerdasan lain melampaui intelek.

Tahu (intelektual) berbeda dari Sadar (intuitif). Barangkali Orang tahu saat ia marah, namun belum tentu ia Sadar. Saat marah meledak, apakah orang Sadar? Orang tidak Sadar akan ketegangan pada tubuhnya sendiri. Tidak Sadar akan rasa perasaan lain di balik rasa marah. Tidak Sadar akan motif-motif tersembunyi. Tidak sadar akan delusi atau keyakinan-keyakinan keliru. Apabila orang Sadar akan semua itu ketika kemarahan muncul, Kesadaran Intuitif sudah bekerja. Itu seperti melihat sekuntum bunga secara berbeda.

Anda bisa melihat sekuntum bunga secara lebih dekat dengan perhatian total, tanpa memikirkannya. Sekuntum bunga yang dilihat dengan cara demikian akan menunjukkan dirinya secara lebih kaya. Kita bisa mencium kompleks aromanya, menangkap paduan warna-warninya, sulur-sulurnya, lapisan-lapisan pembentuknya, keterhubungan bagian-bagiannya satu dengan yang lain.

Dengan melihat dari Kesadaran Intuitif kemarahan sebagai kemarahan, kita mengetahui secara menyeluruh proses-proses batin yang membangkitkan rasa marah. Pada moment timbulnya pemahaman intuitif tersebut, seketika kita dibebaskan dari kemarahan yang kita sadari. Energi kemarahan hilang dengan cepat seperti sebuah balon yang tertusuk peniti, kempes dengan cepat. Kita tidak perlu berjuang untuk menjadi sabar atau tidak marah lagi. Karena kemarahan itu sudah sirna begitu saja tanpa daya upaya untuk melenyapkannya.

Kesadaran Intuitif tidak ada hubungannya dengan kemampuan meramal peristiwa yang bakal terjadi, melihat melampaui indera (extra sensoric perception), kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan clairvoyance. Kemampuan-kemampuan seperti itu semua tidak menunjukkan kualitas batin seseorang.

Istilah lain yang masih dekat dengan Kesadaran Intuitif adalah Kepekaan (sensitivity). Yang dimaksud di sini tentu bukanlah peka karena mudah tersinggung, tetapi Peka menangkap halnya dalam totalitasnya.


Discerning Awareness (Kesadaran Disernmen)

“If anyone has any truth-discerning awareness, they will be able to see for themselves without having to believe me, and that seeing will more and more open the way for further study towards the ultimate truth.” –Buddhadasa Bhikkhu

“You shall know the truth and the truth shall make you free.” (Jesus Christ according to John 8: 32)

Kesadaran Disernment (Discerning Awareness) berbeda dari Kesadaran Diskriminatif (Discriminative Consciousness). Kesadaran diskriminatif bekerja dengan cara memilah-milah menurut apa yang benar dan yang salah sesuai norma, aturan atau doktrin tertentu. Sedangkan Kesadaran Disernmen bekerja dengan melihat halnya seperti apa adanya atau mengetahui kebenarannya secara langsung.

Misalnya, tentang kebenaran spiritual bahwa segala fenomena pada hakikatnya “tidak kekal, tidak memuaskan, dan tidak memiliki inti-diri”. Apabila seseorang melihat dan memahami hakikat segala fenomena seperti tersebut di atas, bukan sekedar sebagai doktrin di kepala, maka ia terbebas dari dukkha setiap kali merealisasikannya. Orang tersebut, kita katakan, melihat dari Kesadaran Disernmen.

Kesadaran Disernmen membuat seseorang melihat dengan pandangan cerah. Pencerahan adalah melihat seperti apa adanya, melihat hakikatnya, melihat langsung kebenarannya. Penglihatan seseorang dengan pandangan cerah tidak terjebak oleh apa yang tampak. Mereka mampu melihat melampaui apa yang tampak.

Persepsi pikiran kita mengatakan bahwa tubuh kita adalah sebuah benda padat. Namun para ahli fisika menemukan bahwa apa yang disebut benda padat tersebut 99,999% adalah “kekosongan”. Jadi tubuh kita pada dasarnya adalah sebuah kekosongan, yang berada di planet bumi yang adalah kekosongan, di tengah alam semesta yang juga adalah kekosongan. Kekosongan di sini berarti tidak memiliki “inti-diri” atau “tanpa-diri”.

Kekosongan juga berarti “tak-terpisahkan”. Kita bisa melihat realita tak-terpisahkan, misalnya, dalam hubungan antara kita dan dunia. “Kita adalah dunia”. Dunia yang kita tinggali ini adalah ekstensi eksistensi dan relasi-relasi kita satu dengan yang lain. Kita seringkali mengeluhkan kemacetan saat kita berada di tengah jalan, seolah problem ada di luar diri kita. Padahal kita adalah bagian dari kemacetan itu. “Lalu lintas itu adalah kita.”

Realisasi kekosongan atas segala fenomena ini membuat kita bebas dari cengkeraman pada apa yang tampak. Kita hanya bisa melihat dengan pandangan cerah apabila kita lepas bebas terhadap segala hal. Begitu pula pandangan cerah yang muncul dari Kesadaran Disernmen ini membuat identifikasi kita pada dunia bentuk dirontokkan dan menjadikan kita makin lepas bebas.

Batin yang lepas bebas adalah prasyarat mutlak agar orang bisa menghidupi Kesadaran Disernmen dan Kesadaran Disernmen akan menuntun orang kepada Kesadaran yang membebaskan. Yang dibutuhkan di sini bukan analisa, juga bukan percaya, melainkan penyelidikan dengan batin yang bebas untuk menemukan Kebenarannya sendiri dari tangan pertama.

Mengetahui kebenaran di sini berarti merealisasikan kebenaran secara langsung. Dengan cara inilah kita menghidupi kebenaran yang kita temukan dari tangan pertama. Kebenaran dari tangan pertama inilah yang membebaskan kita, bukan daya upaya kita untuk bebas.

Unbounded Awareness (Kesadaran yang Tak-Terikat)

“Unbounded Awareness sponataneoulsly comprehends harmony in all various aspects of living.” –Maharishi

“You are Unbounded Awareness—Bliss, Supreme Bliss—in which the universe appears like the mirage of a snake in a rope. Be happy.” –Asthavakra Gita

Kesadaran yang Tak-Terikat (Unbounded Awareness) adalah satu-satunya factor yang bisa membebaskan manusia dari cengkeraman oleh segala hal yang disadarinya. Sedangkan kesadaran pikiran (consciousness) bersifat terikat oleh segala hal yang disadarinya.

Kesadaran adalah prinsip kesatuan dari semua aspek kehidupan dan menciptakan keselarasan dari semua aspek tersebut. Pikiran bekerja dengan cara memisahkan antara imanent dan transendent, tubuh dan batin, nilai dan kebutuhan. Kesadaran bekerja mengatasi semua pemisahan dan menyatukan atau menyelaraskan.

Pikiran adalah pecahan. Kita tidak bisa membuat utuh apa yang terpecah dengan instrument yang terpecah. Keutuhan dan keselarasan tubuh-batin hanya bisa dibangun melalui Kesadaran.

Begitu pula apa yang tampak terpisah atau terkotak-kotak di dunia wujud, sesungguhnya adalah realita yang tak-terpisahkan satu dengan yang lain. Hanya Kesadaran Tak-Terikat yang mampu menangkap kebenaran ini.

Kesadaran Tak-Terikat memiliki dimensi trans-personal yang mengatasi segala identitas dan identifikasi baik secara psikologis, social, politik, ekonomi, etnis, budaya dan religi. Di tataran luar kita memiliki begitu banyak perbedaan; di tataran terdalam, kita sesungguhnya tidak berbeda. Realisasi Kesadaran Tak-Terikat ini karenanya menembus sekat-sekat pemisah.

Kesadaran itu sendiri adalah esensi dari keilahian sekaligus hakikat universal dari setiap makhluk, satu dan tak-terpisahkan. Itu menjadi prinsip kesatuan antara alam bentuk dan tak-berbentuk. Itu adalah fondasi dari jalinan keterhubungan dari segala yang ada.

Mereka yang mempraktikkan kesadaran bukan hanya bekerja bagi kesejahteraan dan pencerahan mereka sendiri, tetapi juga bagi dunia. Mereka memiliki kemampuan untuk merespons setiap tantangan dari kedalaman dan memberi kontribusi sesuai kapasitas mereka.

Dunia yang sakit ini tidak bisa disembuhkan melalui politik atau psikologi identitas. Dibutuhkan pendekatan yang lebih dalam dengan menyentuh dimensi terdalam keberadaan setiap orang dan segala makhluk, yaitu Kesadaran Universal.

Tidak ada upaya yang lebih efektif untuk mengubah diri sendiri dan dunia apabila tidak bersentuhan langsung dengan aspek Kesadaran. Karena Kesadaran adalah fondasi bagi “surga yang baru dan bumi yang baru”.

Immanent and Transcendent Awareness (Kesadaran Imanen dan Transenden)

“As the might air which pervades everything, ever abides in space, know that in the same way all beings abide in Me.”—The Bhagavad Gita

“Things that have fallen to the level of [being seen as] objects of cognition… are [in reality] essentially awareness.” –Utpaladeva

Kesadaran adalah elemen dasariah dari segala yang ada, meresapi sekaligus mengatasinya secara sempurna. Ia bersifat immanent sekaligus transenden.

Tanpa Kesadaran, tidak ada sesuatu yang bisa ada. Dalam segala fenomena, Kesadaran itu ada. Di dalam tubuh, perasaan, pikiran manusia. Di dalam tetumbuhan atau hewan. Di dalam bakteri atau makhluk hidup paling kecil. Di dalam atom, sub-atom, gelombang, air, api, udara, tanah. Pendeknya, tidak ada alam semesta dan segala isinya tanpa adanya Kesadaran. Jadi Kesadaran adalah sumber dari segala yang ada dan meresapi segala yang ada.

Karena Kesadaran ada di mana-mana, meresapi dunia wujud, dan pada hakikatnya tidak berbeda, maka kita selalu terhubung dan saling mempengaruhi pada berbagai tingkatan sampai pada tingkatan yang dalam. Pada lingkup dunia wujud kita dan sesama manusia serta segala makhluk memiliki berbagai tingkatan perbedaan. Namun kita pada hakikatnya tidak berbeda melampaui dunia wujud.

Hanya ketika kita secara eksperiensial kehilangan Kesadaran, maka kita melekati tubuh, perasaan, pikiran dan dunia wujud. Kita hidup dalam keterkondisian secara psikologis, social, budaya, dan religi. Keletakan yang paling dalam adalah kelekatan pada ego atau keakuan kita. Itulah sumber penyakit spiritual umat manusia dan dunia. Namun praktik kesadaran bukan sekedar untuk mentransendensikan keterkondisian kita, tetapi juga membuat kita secara penuh mampu merasakan keterkondisian kita.

Emosi yang membelenggu adalah contoh dari keterkondisian. Dengan sepenuhnya sadar, kita bisa merasakan emosi apapun tanpa kehilangan jangkar Kesadaran, tanpa mengidentikan diri kita dengan emosi yang kita sadari. Kesadaran bukan hanya kebebasan dari emosi yang tadinya mencengkeram kita atau kita cengkeram. Kesadaran juga adalah kebebasan untuk—kebebasan untuk merasakan emosi bahkan secara lebih penuh tanpa terserap ke dalam emosi. Kita tidak bisa melakukan praktik kebebasan untuk merasakan tanpa Kesadaran Murni akan emosi kita yang pada hakikatnya berbeda dari rasa-perasaan emosi tersebut.

Apabila kita “hidup, bergerak dan ada” berakar dari Kesadaran, maka kita bisa hidup dan berfungsi kembali dengan tubuh, perasaan dan pikiran dan berhubungan dengan dunia wujud dengan kedalaman, kebebasan dan kepenuhan.

Tidak ada pengalaman manusia yang lebih dalam daripada perjumpaan dengan sesuatu yang melampaui keterbatasan dirinya, yaitu Sesuatu Yang Lain. Dalam Bahasa agama theistik, Sesuatu Yang Lain itu disebut dengan nama “Allah”.

Allah adalah Sesuatu Yang Lain yang hanya bisa didekati secara paling baik melalui Kesadaran. Allah bukanlah sosok, diri, atau jiwa yang memiliki Kesadaran, tetapi Ia adalah Kesadaran itu sendiri. Tentu saja Allah tidak sama tetapi juga sekaligus tidak berbeda dari “Kesadaran” itu sendiri. Seperti halnya kekuatan Allah hadir dalam segala, begitu pula Kesadaran ada dalam segala. Untuk menemukan Allah dalam segala, kita perlu menemukan Kesadaran dalam segala. Kita bisa menyebutNya dengan banyak nama seperti “Kesadaran Agung”, “Kesadaran Ilahi”, “Sesuatu Yang Tak-Diketahui”, “Sesuatu yang Transenden sekaligus Imanen”.

Praktik Kesadaran pada akhirnya bukan hanya membawa kita terhubung kembali secara alamiah dengan Sesuatu Yang Lain yang mengatasi segala yang ada (transenden), tetapi juga suatu praktik merealisasikan kepenuhan manifestasi Kesadaran Agung ini melalui tubuh, perasaan dan pikiran kita (imanen). Kita berlatih untuk hadir dan berfungsi di dunia untuk memastikan bahwa Ia bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita dan melalui diri kita. Itu adalah separuh dari akhir perjalanan pertama namun bukan akhir realisasi.

Akhir dari paruh perjalanan kedua adalah kesatuan dengan Sesuatu Yang Lain ini dalam diriNya secara total dalam keabadian atau berakhirnya secara total dan permanen segala keterkondisian. Secara lebih sederhana bisa dikatakan bahwa akhir realisasi adalah kehidupan tanpa keterkondisian atau “kehidupan tanpa ego/keakuan” (Bernadette Roberts). Itulah akhir realisasi.

Baik akhir paruh perjalanan pertama maupun kedua hanya bisa dicapai melalui praksis Kesadaran Saat Ini.*