By J. Sudrijanta

“Semua konflik dan peperangan berakar pada konflik identitas.”

Ada banyak bentuk konflik dan peperangan. Namun tidak ada konflik dan peperangan yang tidak melibatkan konflik identitas. Lebih jauh lagi, semua konflik di luar–konflik antar individu, antar kelompok, antar agama, atau antar bangsa– berakar pada konflik identitas dalam diri individu itu sendiri dan kelompoknya. Oleh karena itu, penting menerangi pertanyaan tentang identitas kita.

Bagaimana menerangi pertanyaan, “Siapakah aku ini?”

Terdapat dua dimensi yang membentuk identitas kita, yaitu dimensi bentuk dan dimensi tak-berbentuk.

Dalam dunia bentuk, kita memiliki identitas terkait dengan tubuh, agama, suku, ras, golongan, materi, serta bentuk-bentuk pemikiran dan keyakinan. Atribut yang kita bawa mempengaruhi persepsi tentang diri kita, sifat, karakter dan kepribadian kita.

Dalam dunia melampaui bentuk, siapa diri kita melampaui sifat, karakter dan kepribadian. Tidak ada lagi yang disebut individu atau persona; yang ada tinggal ‘kesadaran’ (awareness). ‘Kesadaran’ inilah yang saya maksud sebagai ‘tanpa-diri’ (no-self), ‘roh’ (spirit), atau ‘makhluk spiritual’ (spiritual being). Identitas asali tidak terkait dengan dunia wujud (‘nama-rupa’). Itulah identitas kita yang sesungguhnya.

Jadi, “siapakah aku ini”? Kita pertama-tama bukanlah tubuh (materi) yang berkesadaran, tetapi “makhluk berkesadaran” atau “makhluk roh” yang bermanifestasi dalam tubuh (materi) manusia. Kita bukanlah manusia—dengan tubuh dan pikiran– yang memiliki pengalaman spiritual, tetapi kita pertama-tama adalah “makhluk spiritual” yang memiliki pengalaman sebagai manusia. Itu adalah identitas asali kita.

Apabila Anda lupa identitas asali Anda, lalu mencari identitas siapa diri Anda dalam dunia bentuk dan melekatkan diri pada tubuh dan bentuk-bentuk pemikiran, maka Anda akan hilang ditelan kegelapan penderitaan. Identias asali tidak perlu dicari lagi. Anda sudahlah menjadi diri Anda sendiri; Anda pertama-tama adalah “kesadaran” yang mewujud dalam tubuh dan bentuk-bentuk pemikiran.

Konflik dan perang sepanjang sejarah manusia berlangsung karena banyak factor dan makin diperparah apabila sudah menyangkut konflik identitas, apalagi identitas agama. Bagaimana kita menyikapi hal ini?

Semua konflik dan peperangan bukan makin parah kalau sudah menyangkut konflik identitas, termasuk identitas agama, tetapi konflik identitas itulah akar dari semua konflik dan peperangan.

Identitas agama masih menjadi hal penting bagi kebanyakan orang yang berdiam di bumi ini. Untuk mengkahiri konflik dan peperangan berbasis agama, alih-alih membuang agama, kita perlu mencerahkan para pemeluk agama.

Identitas mana yang lebih utama, Anda sebagai seorang penganut agama atau Anda sebagai manusia? Apabila Anda bertanya pada tetangga di sebelah Anda yang beragama Islam: Mana yang lebih penting, Islam lebih dahulu baru manusia atau manusia lebih dahulu baru Islam? Apabila ia menjawab, “keislaman” lebih penting daripada “kemanusiaan”, itu berhaya. Orang seperti itu tidak akan peduli pada Anda kecuali Anda menjadi Islam. Sama halnya apabila Anda seorang Katolik lebih mengutamakan identitas kekatolikan lebih daripada kemanusiaan. Anda akan peduli pada orang lain pertama-tama karena mereka seagama, bukan karena mereka manusia.

Kita pertama-tama adalah seorang manusia. Kita tidak berbeda. Barulah kita menjadi penganut suatu agama atau tidak beragama. Seorang penganut agama yang tercerahkan adalah orang yang menyadari bahwa dirinya pertama-tama adalah manusia dan kemudian memiliki pengalaman beragama.

Kita membutuhkan pencerahan bukan hanya sebagai penganut suatu agama, tetapi juga dan terutama sebagai manusia. Lebih jauh orang perlu merealisasikan kebenaran bahwa ia bukanlah pertama-tama manusia yang memiliki pengalaman spiritual, tetapi ia adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman sebagai manusia. Jadi kita pertama-tama adalah makhluk spiritual, yang menjadi manusia, dan kemudian memiliki pengalaman beragama. Kita bukanlah pertama-tama orang beragama, yang kemudian memiliki pengalaman manusia dan pengalaman spiritual.

Selama identitas agama—dan identitas-identitas bentukan lain–menjadi begitu penting mengatasi identitas asali, tak terelakkan konflik dan peperangan sengit akan terus terjadi. Dunia yang lebih damai dan adil sangat bergantung pada manusia-manusia yang tercerahkan—atau sekurang-kurangnya manusia-manusia yang sudah berada pada jalan pencerahan.

Oleh karena itu, menjadi amat penting dan mendesak untuk melakukan praktik spiritual bukan hanya demi pencerahan dan pembebasan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama dan semua makhluk kehidupan.*