Setiap hari kita menghadapi berbagai persoalan atau tantangan baik di keluarga, tempat kerja, organisasi, dan lingkungan tempat kita hidup. Kita hidup di tengah lingkungan yang keras dengan orang-orang yang tidak bebas, penuh konflik, kompetisi, dan aneka bentuk kegilaan. Kita menghadapi masalah-masalah kejiwaan, financial, profesi, hubungan antar pribadi, dan seterusnya.

Ada masalah yang kecil atau besar, ada masalah yang ringan atau berat. Masalah-masalah itu bisa membuat kita pusing kalau kita ingin berbuat sesuatu tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Pengetahuan yang kita kumpulkan selama hidup rasanya selalu tidak mencukupi untuk bisa menjawab setiap tantangan yang datang.

Untuk bisa menjawab masalah atau tantangan dengan benar dibutuhkan wisdom, kearifan, atau kebijaksanaan. Apa yang disebut dengan wisdom? Pada umumnya orang memahami wisdom sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah secara benar sebagai respons dari akumulasi pengalaman atau pengetahuan dari masa lampau. Semakin banyak pengalaman atau pengetahuan, orang dianggap akan menjadi lebih arif. Dengan demikian, semakin bertambah umur, orang dianggap akan menjadi lebih bijaksana.

Kenyataannya, banyak orang yang semakin tua bukannya tambah bijaksana, tetapi justru semakin tidak bijaksana. Kenyataannya, banyak cendekia, ahli di bidang ini atau itu, termasuk ahli di bidang kerohanian, tidak memiliki batin yang muda, baru, segar, tajam, penuh vitalitas. Apakah Anda melihat orang-orang tua atau para cendekia yang batinnya polos, segar, tajam, penuh vitalitas? Kalaupun ada, jumlahnya sedikit. Kebanyakan dari mereka memiliki batin yang kolot, dangkal, lapuk, dijejali oleh sampah ingatan masa lampau.

Batin yang tua bukan hanya milik orang-orang tua, tetapi juga anak-anak muda yang suka mengumpulkan pengetahuan atau pengalaman dan memahami masalah-masalah kehidupan lewat instrument pengalaman atau pengetahuan. Orang gandrung mengumpulkan kata-kata wisdom dan menganggap itu semua sebagai kebenaran. Orang punya minat besar mempelajari buku-buku atau kitab-kitab dan melekatinya. Orang bersemangat mencari guru-guru spiritual dan mengikutinya dengan setia. Lalu mereka menjadikan pengetahuan itu sebagai rumus dalam menghadapi setiap tantangan. Sebelum mereka menginjak usia tua, sebenarnya batin mereka sudah lapuk dimakan waktu.

Orang suka mengulang-ulang kata-kata suci, hafal kata-kata dari kitab suci, atau hafal dogma-dogma kebenaran. Tetapi kata-kata hikmat tidak akan membuat batin tumbuh dalam wisdom. Kata tidak lebih dari buah pikiran sekalipun sudah dibatinkan dan kata tidak bisa menjadi sumber wisdom.

Wisdom tidak ada dalam buku-buku kearifan, kitab-kitab suci, ajaran-ajaran santo-santa atau guru-guru spiritual. Pengetahuan atau pengalaman tidak bisa melahirkan wisdom. Lalu di mana wisdom ditemukan?

Setiap tantangan selalu baru. Meskipun kasusnya memiliki pola yang mirip atau sama, masalahnya itu sendiri selalu baru. Akan tetapi batin yang tua menghadapinya dengan cara yang lama, sehingga setiap tantangan yang selalu baru itu tidak mendapat respons yang baru.

Kalau batin merespons tantangan lewat pengalaman atau pengetahuan, lewat apa yang lama, sesungguhnya batin tidak merespons tantangan melainkan bereaksi terhadap tantangan menurut keterkondisiannya. Reaksi datang dari pikiran, sedangkan respons datang dari pemahaman. Reaksi datang dari batin yang terkondisi, respons datang dari batin yang bebas dari keterkondisian. Reaksi datang dari masa lampau, respons datang pada Saat Sekarang.

Pengertian benar bukanlah kesesuaian dengan rumus atau dogma kebenaran, melainkan pemahaman akan perkaranya secara langsung; itulah yang disebut dengan wisdom. Pengetahuan tentang kebenaran justru menjadi perintang utama bagi bangkitnya wisdom karena pengetahuan—seperti halnya pengalaman, keyakinan, atau kepercayaan–merupakan penghalang bagi pemahaman secara langsung.

Menyadari reaksi-reaksi batin dan memahaminya merupakan awal bangkitnya wisdom. Batin yang menghadapi tantangan tanpa berpaling pada pengetahuan tidak menemukan rasa aman. Akan tetapi batin yang menemukan rasa aman karena berpaling pada pengetahuan telah menutup diri bagi mekarnya wisdom. Justru batin yang tidak aman dalam menghadapi setiap tantangan terbuka terhadap mekarnya wisdom. Ketika reaksi-rekasi berhenti–reaksi aman dan tidak-aman, menolak atau melekat, senang atau tidak senang berhenti–bukankah muncul respons terhadap tantangan yang bukan berasal dari keterkondisian?

Tidak ada buku, sekolah, guru atau orang lain yang bisa mengajar kita tentang wisdom. Wisdom mekar dengan sendirinya kalau kita memahami lika-liku batin dan itu hanya mungkin kalau batin sepenuhnya diam. Batin yang diam bagaikan tanah subur bagi mekarnya wisdom. Bisakah membiarkan wisdom muncul dan bertindak dalam menghadapi setiap tantangan yang datang dari saat ke saat?*