Latest Entries »

Kebenaran melampaui Doktrin

Hari ini tepat 6 bulan sejak pertama saya sakit (27 November 2011 -  27 Mei 2012). Selama setengah tahun saya banyak melewati waktu di padang gurun keheningan. Sebagian besar yang saya alami telah saya sharing-kan dengan Romo saat kita bertemu 11 April 2012 lalu.

Hari ini saya membaca posting Romo tentang “Pengetahuan Intelektual dan Pengetahuan Mistikal”. Apakah seseorang baru dapat mencapai pengetahuan mistikal jika ia sampai pada pemahaman bahwa Allah tidak bisa dikenal? 

Pengalaman saya menunjukkan yang sebaliknya. Selama lebih dari 30 tahun menjadi orang Katolik, saya akui iman saya sebatas pengalaman intelektual. Allah adalah sesuatu yang tak dikenal secara pribadi, hanya sebatas bacaan dalam Kitab Suci. Namun, setelah lebih banyak tinggal dalam keheningan dan mengalami penggodokan selama 6 bulan terakhir, saya dapat memahami Allah secara berbeda. Ia memang tidak bisa dikenal secara langsung, karena Ia adalah Roh. Namun, dalam pribadi Kristus bukankah kita dapat melihat gambaran nyata Allah? Saya kini dapat memahami Kitab Suci bukan sebatas doktrin atau pengetahuan tangan kedua, melainkan sesuatu yang memiliki energi Ilahi melampaui akal budi.

Saya kira Romo pun telah mengalami yang sama, saat Romo menulis renungan-renungan Romo yang dimuat dalam buku Revolusi Batin adalah Revolusi Sosial. Di situ Romo mengulas dengan jelas pribadi Yesus dalam kaitan dengan ketiadaan diri dan kesatuan dengan Yang Ilahi. Romo banyak mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Saya pernah mengatakan dalam salah satu e-mail kepada Romo, bagi saya buku Revolusi Batin adalah masterpiece. Dan saya merindukan tulisan-tulisan Romo yang menggugah seperti itu.

 Terima kasih atas doa dan perhatian Romo. Secara fisik, kesehatan saya pulih. Menu makan sudah agak bervariasi dan makan cukup banyak dan serta tidak lagi bergadang di atas pukul 00.*

CS

Apa perbedaan pengetahuan intelektual dan pengetahuan mystical tentang Allah atau kebenaran?

Ada dua cara mengetahui, yaitu mengetahui dari “tangan pertama” dan mengetahui dari “tangan kedua”. Mengetahui dari dari tangan kedua menghasilkan pengetahuan intelektual,  sedangkan mengetahui dari dari tangan pertama menghasilkan pengetahuan mystikal.

Pengetahuan dari tangan kedua adalah pengetahuan yang berasal dari buku-buku atau apa kata orang lain. Pengetahuan tentang kebenaran atau Tuhan, kita dapatkan dengan mendengarkan kata-kata ahli kitab suci, teolog, guru spiritual, pemimpin agama, atau dengan membaca kitab-kitab suci atau buku-buku spiritual.

Pengetahuan dari tangan pertama adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman langsung atau pengalaman aktuil tentang kebenaran atau Tuhan. Pengalaman aktuil ini muncul dari kesadaran non-dualistik, bukan melalui proses-proses intelektuil atau proses-proses mental.

Pengetahuan dari tangan pertama disebut dengan pengetahuan mystikal, sedangkan pengetahuan intelektual atau pengetahuan spiritual atau pengetahuan agama termasuk bagian pengetahuan dari tangan kedua.

Bagaimana masing-masing jenis cara mengetahui ini bekerja?

Pengetahuan dari tangan kedua bekerja dengan kesadaran dualistic sedangkan pengetahuan dari tangan pertama bekerja dengan kesadaran non-dualistik.

Dalam kesadaran dualistic, ada pemisahan subjek-objek, si pengamat dan yang diamati, si pengenal dan yang dikenal. Misalnya, Anda mengenal Allah lewat kitab suci. Allah sebagaimana dikatakan kitab suci adalah “yang dikenal” dan Anda sebagai orang yang membaca dan memahami kitab suci adalah “si pengenal”nya.

Pengetahuan mystikal terjadi ketika tidak ada lagi kesadaran dualistic subjek-objek. Allah tidak bisa dipahami sebagai objek (yang dikenal) dari subjek (si pengenal). Agar Allah yang pada hakekatnya “tak-bisa dikenal” bisa dialami secara aktuil, maka “si pengenal” harus berakhir. Ketika si pengenal runtuh, yang dikenal juga tidak ada lagi. Ketika si pengenal dan yang dikenal keduanya runtuh, maka hanya ada mengetahui atau mengalami secara aktuil di luar batas-batas intelektual.*

Retret akhir pekan 11-13 Mei 2012 diikuti 48 orang. Berikut salah satu testimoni mereka.

ML, 54 tahun, Food Consultant.

Sore ini “kelegaan” yang terasa sejak awal meditasi hari Sabtu pagi masih terasa. Saya merasa bersyukur sekali bisa mendapatkanya. Saya tidak tahu entah sampai kapan hal ini tetap bisa berlangsung. Mudah-mudahan permanen ya. Apakah dengan berlatih meditasi terus, hal ini akan langgeng? Saat ini saya menyadarinya tanpa usaha mempertahankan ataupun melenyapkannya.

Selain itu, harmonisasi dengan alam dan makhluk hidup lainnya juga sering saya alami saat meditasi, entah terhadap lingkungan yang terasa panas atau dingin maupun berbicara dengan makhluk hidup lainya, bahkan dengan nyamuk sekalipun. Saya heran. Ketika nyamuk datang danmenempel di tubuh saya saat saya sedang bekerja di suatu tempat ataupun mau tidur, saya sadari kehadirannya dan saya bilang, “Nyamuk, jangan gigit saya”. Setelah saya amati, nyamuknya terbang lagi.

Begitu juga yang terjadi saat kumbang menempel di lengan saya saat sitting meditation Sabtu pagi. Ketika saya mengamati kumbang-kumbang yang mengisap madu, satu dua ekor hinggap di lengan saya. Secara refleks saya mengusirnya dengan tangan satunya. Lalu saya sadar dan saya biarkan kumbang-kumbang lainnya menempel di lengan saya mungkin ada sekitar 7-8 ekor. Saya bisa saja pindah tempat tapi saya masih ingin meditasi di tempat tersebut. Lalu saya bilang, “Hai kumbang, saya merasa terganggu. Pergilah. Di lengan saya tidak ada madu.” Lalu kumbang-kumbang tersebut terbang satu persatu dan setelah itu tidak ada lagi yang menempel di lengan saya. Saya tetap duduk di sana dan mengamati kumbang-kumbang tersebut mengisap madu dari benang sari sambil melaksanakan tugasnya melakukan proses penyerbukan.

Saya juga teringat beberapa saat setelah itu mengenai sambutan mendiang Menkes Ibu Endang S. Dalam bukunya “Berdamai dengan Kanker”, sepertinya kita semua bisa berdamai dengan semua makhluk hidup. Alangkah indahnya.

Begitu saja sharing saya. Terimakasih selalu menjadi pembimbing, pendamping dan teman seperjalanan dalam proses olah batin saya. Salam hening and big hug.*

Praktik Meditasi Saat Sakit

AB, 47 tahun.

Tadinya aku pikir kesadaran meditatif telah meresap dalam diriku walaupun aku amat sangat jarang mengambil waktu khusus untuk diam. Ternyata aku belum apa-apa, masih sangat dangkal, dan tipis pengalaman. Aku bahagia ketika aku bisa memperoleh segala hal yang dapat kunikmati. Mungkin itu yang disebut sensasi. Rasa syukur, bahagia, dan kepuasan sesungguhnya semu. Semua perasaan itu hanya aku rasakan ketika aku dalam kondisi baik-baik saja. Ketika aku dikondisikan pada posisi terbawah, sulit bagiku untuk tidak terlarut dalam kondisi tersebut.

 

Dalam lima hari liburan penjelajahanku di tanah orang, sekian detik atau sekian menit dalam perjalanan aku bisa mencuri waktu untuk berdiam diri. Seperti biasa duduk diam bukan berarti seluruhnya kosong tapi pikiran timbul tenggelam. Kadang aku terseret jauh kemudian hening, kadang timbul sejenak dan tersadar lagi.

 

Itulah yang aku alami dan mungkin membuat aku bisa menikmati perjalanan itu sekalipun udara panas dan fasilitas yang tersedia sederhana saja. Banyak hal indah yang aku rasakan. Persaudaraan dan pelayanan yang bagiku tampak tulus, karya-karya dari para pelayan Tuhan yang sungguh-sungguh sangat membangun, hingga alam raya ciptaan Tuhan yang demikian indah di tanah air itu. Mungkinkah kepekaan akan keindahan dan kebaikan dari suatu keadaan dan peristiwa itu timbul dari kebiasaan menyadari diri, atau sekedar sensasi, atau bisa juga sudah ada dalam pribadi-pribadi tertentu sejak dilahirkan?

 

Hanya selang lima hari kemudian, euphoria keindahan berubah dalam bentuk musibah. Aku terjatuh di tangga dan kakiku patah. Ternyata hidup dengan rasa sakit tidak mudah kujalani. Menyadari penderitaan sebagai penderitaan apa adanya amat sulit karena ada keinginan yang sangat kuat untuk segera mengakhiri penderitaan.

 

Aku dilanda ketakutan kalau-kalau tidak bisa berjalan lagi. Aku resah karena sebagian anggota tubuh tidak dapat digerakkan. Aku ingin sekali tidur dengan cepat tapi justru keinginan itu sangat menyiksa. Aku tahu kalau aku terseret dalam pikiran-pikiran dan emosi akan menambah sulit keadaan, maka aku mencoba menghilangkan perasaan itu. Namun usaha itu justru membuat aku semakin tidak nyaman karena bukan saja fisik tidak mendukung tapi pikiran dan perasaanpun ikut bergumul.

 

Seketika aku sadar batinku kacau. Pikiran dan ego tidak pernah diam.  Aku dipenuhi ketakutan, kekuatiran, keinginan, kekecewaan.

 

Deritaku tidaklah berarti bila dibanding orang-orang lain yang lebih parah yang tidak tertangani bahkan terabaikan. Mereka tidak pernah meditasi, tidak mengerti arti keheningan, namun mungkin mereka mampu melewati semua derita mereka dalam diam.

 

Akankah diriku sungguh-sungguh hening dan batinku benar-benar diam?

Ada Ego, Ada Pergumulan

CW, 58 tahun, Psikolog Senior.

Sulit untuk mulai menulis dari mana. Sepulang retret meditasi 1 Januari 2012, saya dipenuhi semangat untuk menuliskan pengalaman semasa retret. Namun semangat itu amat simpang siur. Ada semangat ingin berbagi. Lalu ada perasaan bahwa semua itu hanyalah ego yang ingin memperkuat diri. Ada keraguan apakah memang pantas. Semua konflik batin ini menutup realisasi keinginan menulis.

Lalu saya membaca buku Titik Hening – Meditasi Tanpa Objek. Di situ saya menemukan semua pergolakan, keraguan, dan jawaban atas beberapa kebingungan. Juga menemukan sharing yang serupa dengan pengalaman pribadi saya.

Selanjutnya terlarut dalam kehidupan yang harus dihadapi dari hari kehari.

Yang saya temukan kemudian adalah saya jatuh berulang-ulang dalam depresi. Saya pernah sharing lewat sms kepada Romo pada saat puncak depressi sekitar dua bulan yang lalu. Rasanya semua cara dan jawaban sudah ada. Tidak banyak yang perlu dipersoalkan kalau kita mau diam dan menyadari pikiran dan perasaan yang bersumber pada si aku. Persoalannya adalah bagaimana membuat itu terkait dengan kehidupan yang aktuil saat ini dan menjadi jujur dengan semua pergumulan batin yang ada.

Saat ini saya mengalami periode yang menyakitkan melihat segala sesuatu yang selama ini diupayakan sungguh hanya berpusat pada ego. Betapa menyakitkan melihat semua kelekatan dan kesakitan yang diakibatkannya. Betapa memalukan melihat gerakan-gerakan si ego yang manipulatif, mencoba tawar-menawar apakah betul semua itu harus dilepaskan.

Sms Romo yang mengatakan “keep experiencing without the experiencer” (alamilah tanpa si pengalam) sungguh menantang. Pergumulan terus berlangsung karena si ego mau terus “ngganduli”. Betapa susahnya proses de-flatting (menggembosi) the ego…

Terimakasih Romo. Salam hangat.

CW

Cinta dan Kelekatan

Cinta adalah seperti bunga. Ketika mekar, ia menebarkan keindahan di mana-mana. Cinta membuat segala sesuatu indah, suci, penuh gairah, penuh vitalitas kehidupan. Akan tetapi keindahan dan gairah cinta seringkali lenyap begitu saja ketika kenikmatan atau kepuasan psikologis mengisi kekosongan atau kesepian batin dan kita melekatinya.

Bunga cinta selalu mekar, tidak pernah layu. Hanya batin yang terbelit kelekatan tidak mampu melihat keindahan bunga cinta yang tak pernah layu.

Cinta dan kelekatan merupakan dua hal yang tidak bisa dipadukan. Kelekatan adalah musuh cinta. Semakin dalam kita melekat, semakin dangkal kita mencinta. Ketakutan mudah menyusup ke dalam relasi-relasi kita dan kita lalu mudah terjebak konflik, terluka, sedih dan menderita. Kualitas hubungan semakin lama lalu semakin merosot.

Seandainya Anda dan saya menjalin persahabatan yang sangat dekat, lalu tiba-tiba saya pergi meninggalkan Anda dan Anda menangis, siapa yang bersalah, saya atau Anda? Anda menangis karena saya meninggalkan Anda atau karena Anda melekat pada diri saya?

Begitu orang yang kita cintai meninggalkan kita, batin kita tergoncang. Kita menyadari ada sesuatu yang terenggut dan hilang dari dalam diri kita dan kita bisa dibuat lumpuh karenanya. Batin dan tubuh kita mengenali sesuatu itu sebagai yang bermakna, tetapi kini tidak bisa kembali seperti dulu.

Perginya sahabat atau orang yang kita cintai seringkali membuat kita menderita. Penyebabnya pertama-tama bukan karena ia pergi, hubungan terputus dan tak bisa dipulihkan, tetapi karena kita melekat padanya. Kalau problem kelekatan itu kita selesaikan selagi kita bersahabat dekat dengannya, apakah kepergiannya membuat kita menderita?

Bisakah kita saling mencinta tanpa kelekatan? Bisakah kita hidup bersama dengan orang yang kita cintai, menikmati persahabatan, saling menolong, berbagi suka dan duka, setia dalam untung dan malang, setia dalam sehat dan sakit dan tetap tidak lekat satu dengan yang lain? Masalah dengan persahabatan pertama-tama bukanlah kenikmatannya di dalam persahabatan itu, melainkan kelekatan yang tumbuh dari persahabatan itu.

Kapan dan mengapa kelekatan muncul dalam proses-proses relasi kita? Kebutuhan fisiologis, misalnya kebutuhan akan hadirnya sahabat sebagai penolong, merupakan hal yang normal. Tetapi keinginan psikologis, misalnya keinginan untuk mendapatkan kepuasan permanen dalam persahabatan, menciptakan ketakutan dan problem-problem psikologis lainnya.

Persahabatan yang dibebani oleh kelekatan justru mempertebal ketakutan akan kekosongan atau kesepian pribadi. Ketakutan ini membuat orang ingin terus mengejar dan mempertahankan kepastian permanen atau kepuasan permanen dari sebuah persahabatan. Munculnya keinginan akan kepuasan permanen inilah awal dari gerak kelekatan. Ketika kelekatan terus bergulir, maka ketakutan dan penderitaan mendapatkan energinya untuk terus bergerak.

Apa yang Anda lakukan ketika ketakutan dan penderitaan datang terus-menerus seperti teror? Anda berjuang untuk tidak-melekat? Anda melawan dengan melakuan kebalikannya, agere contra? Anda memiliki persepsi intelektual bahwa kelekatan menciptakan penderitaan. Anda tahu bahwa Anda melekat dan Anda tidak mau lagi menderita. Anda takut terlibat dalam persahabatan yang ditunggangi kelekatan karena menciptakan penderitaan. Lalu Anda berjuang mengalahkan kelekatan dengan mengikuti persepsi pikiran Anda. Lihatlah, melawan kelekatan dengan berjuang untuk tidak-melekat merupakan gerak kelekatan yang tidak berbeda.

Ketika kelekatan sudah begitu mendalam dan ketakutan serta kesesakan datang terus-menerus seperti teror, tidak ada sesuatupun yang perlu Anda lakukan. Anda juga tidak perlu pergi ke manapun untuk menghentikan teror tersebut. Yang perlu Anda lakukan adalah membiarkan batin berhenti berlari, berhenti berpikir, berhenti menganalisa, berhenti menilai, berhenti mengadili, berhenti menyalahkan, dan kembali sadar. Perlu sadar setiap kali teror datang, tidak peduli ia datang 1 detik, 1 menit, 1 jam, berhari-hari atau berminggu-minggu. Di sini diperlukan kesabaran dan intensitas untuk tinggal bersama dengan ketakutan dan kesesakan itu tanpa perlawanan sedikitpun.

Melihat langsung kenyataan bahwa kelekatan membawa penderitaan, melihat langsung tanpa intervensi persepsi pikiran, adalah akhir dari semua problem keletakan. Ketika kelekatan berakhir, mungkin bunga cinta yang tak pernah layu terlahir. Persahabatan atau hubungan-hubungan yang tidak lagi ditunggangi kelekatan bukankah lalu menjadi jernih, suci, indah, dan penuh vitalitas? Bisakah cinta seperti ini mekar setiap hari dan kita hidup dengan cinta yang berlimpah-limpah?*

Endurement and Beyond

Mei 2012 akan genap satu tahun mengikuti bimbingan Meditasi tanpa Objek. Pada mulanya penuh tanda Tanya. Lambat laun mulai terpahami apa yang dimaksud dengan Meditasi tanpa Objek. Kalau masih ada yang belum begitu jelas, buku-buku Meditasi sebagai pembebasan diri (Kanisius 2011), Revolusi Batin (Kanisius 2009), dan Titik Hening  (Kanisius 2012) dapat membantu menuju pemahaman. 

Sudah dua kali saya mengikuti retret meditasi dengan suasana silentium, tapi belum berani ikut walking meditation menuju air terjun Cibeureum. Saya masih enggan karena berangkat jam 03.00 pagi, selain tidak mengerti apa manfaatnya pergi ke air terjun.

 Tiap kali diajak, saya selalu menolak. Tapi kali ini jadi ikut juga, dengan harap-harap cemas.

Berangkat dari gereja Santa jam 21.30, tiba jam 23.00 di Cibulan dengan iring-iringan dua mobil. Lalu istirahat sebentar untuk kemudian berangkat pada jam 03.30 menuju air terjun.

Persiapan dari rumah berupa tongkat bambu, batere dan air minum. Lalu pakaian yang cocok dengan udara dingin.

 Kami berdelapan orang mulai naik. Lingkungan sekeliling masih gelap gulita. Tapi semuanya baik-baik saja. Saya mulai walking meditation. Langkah-langkah pertama langsung menelusuri undakan batu-batu kali. Permukaannya tidak rata; ada yang besar sekali ada juga yang kecil.

 Kami berjalan berdua-berdua karena jalannya sempit. Tongkat bambu dan senter batere merupakan teman sejati. Memang beda, bangun melek mata pada jam 03.30 atau berada di jalanan berbatu kali pada jam 03.30. Tidak ada bayangan berapa lama harus naik atau turun. Muncul pikiran, kapan bisa sampai di air terjun? Just keep going. Setelah setengah jam naik terus, napas mulai pendek. Lalu teringat ajaran yoga. Kalau mulai tersengal-sengal, stop sebentar, tarik napas dalam-dalam (inhale) beberapa kali. Lalu berjalan naik lagi. Lagi-lagi anak tangga. Undakan-undakan ada yang tinggi, ada juga yang rendah. Selama setengah jam berikut badan mulai gemetar. Terasa lelah sekali dan tidak tahu sudah sampai di mana. Tetesan keringat sudah deras sekali, masuk mata masuk telinga.

 Tidak ada tanda penunjuk jalan, tidak ada marka-marka lain sebagai indikasi posisi.  Romo Sudri terus mendampingi sampai saya berujar, “Please Romo, silahkan jalan terus, saya akan menyusul. Saya tidak mau jadi hambatan. Pasti tidak kesasar karena tidak ada jalan lain menuju air terjun. So don’t worry.”

 Tapi Romo Sudri bagai batu karang, tidak bergeming, kokoh, disamping terus.  Kalau berhenti untuk istirahat, kuatir tidak naik lagi. Jadi saya tidak mau duduk.  Carry on or Give up?  Romo Sudri mengatakan, “Ya tidak dapat apa-apa kalau berhenti atau balik.” Jadi jalan terus. Naik lagi. Lagi-lagi tangga batu tidak beraturan.  “Dengarkan suara gemericik air”, kata Romo. Saya sudah mendengar dari tadi suara air, tetapi tetap saja belum kelihatan air terjunnya.

 Sepertinya ada pertempuran mental dalam diri setiap kali langkah kaki menjangkau undakan-undakan. Bagaimana mau give up karena Romo Sudri tetap disamping. Tiap sel dalam tubuh sudah mengeluarkan tetesan keringat. Pada akhirnya pertempuran batin mereda, pikiran mereda. Hanya ada satu langkah disusul langkah berikut. Melangkah begitu saja, wherever it may go. Dan pada saat itu gunung sudah nampak, begitu juga air terjun.  Saya sampai.

 In gratitude Romo Sudri, for your patience, your guidance, and for not giving up on me.

 LP, 68 tahun.

Kesadaran Meditatif

Tulisan berikut ini merupakan copy paste dari Kata Pengantar buku TITIK HENING, MEDITASI TANPA OBJEK (Penerbit Kanisius, 2012).

Dari segi metodologi,  secara garis besar meditasi terbagi menjadi dua kelompok, yaitu meditasi dengan objek dan meditasi tanpa objek.

 

Meditasi dengan objek selalu memiliki tujuan tertentu dan mempunyai teknik atau metode untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan meditasi objek bisa banyak ragamnya. Misalnya, meditasi untuk mencapai ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, keheningan, kekosongan. Ada meditasi untuk mendapatkan pengampunan, pembebasan, cinta, welas asih, kemurahan hati, atau keutamaan-keutamaan lain. Ada meditasi untuk penyembuhan diri atau untuk menyembuhkan orang lain.

 

Ada meditasi dengan objek untuk mengembangkan daya kontak batin (telepati) agar mampu membaca pikiran atau keadaan mental orang lain, untuk mengembangkan daya terawang jauh (clairvoyance) agar mampu mengetahui objek atau kejadian dari jarak jauh, untuk mengembangkan tenaga dalam (psikokinesis) agar bisa mempengaruhi pikiran, perasaan, atau kehendak pada benda atau orang lain tanpa medium atau sarana yang dikenal. Ada meditasi untuk mengetahui peristiwa yang akan terjadi (prekognisi) atau peristiwa yang telah terjadi (retrokognisi) tanpa proses yang dikenal akal maupun indra. Ada meditasi untuk melihat kehidupan diri pada masa lampau (regresi hypnosis) atau untuk melihat kehidupan diri di masa yang akan datang (progresi hypnosis). Ada meditasi untuk merasakan pengalaman di luar tubuh (ngraga sukma).

 

Ada meditasi dengan objek untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan alam roh atau makhluk halus. Meditasi untuk mencapai kesatuan dengan alam semesta atau bersatu dengan Tuhan termasuk dalam kelompok ini.

 

Karena tujuan meditasi objek beragam, maka teknik atau metode yang dikembangkan juga banyak macamnya. Ada meditasi yang berfokus pada nafas atau sensasi tubuh. Ada meditasi dengan menggunakan bantuan music atau lagu. Ada meditasi dengan mendaraskan atau mengulang-ulang mantra atau kata-kata suci. Ada meditasi yang menggunakan daya-daya jiwa seperti pikiran, ingatan, kehendak. Ada meditasi yang menggunakan daya penalaran. Ada meditasi yang menggunakan daya-daya imaginasi atau visualisasi.

 

Berbeda dari meditasi dengan objek, meditasi tanpa objek tidak memiliki tujuan apapun selain sadar dari saat ke saat dalam waktu yang lama. Karena tidak memiliki tujuan apapun selain berada dalam keadaan-sadar dalam waktu yang lama, maka tidak ada pula teknik atau metode untuk mencapai tujuan tersebut.

 

Kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek tidak bisa sengaja dilatihkan, tidak bisa dicapai dengan daya upaya atau dengan kekuatan kehendak, bukan hasil dari teknik atau metode tertentu. Kesadaran meditatif ini datang dengan sendirinya ketika orang sadar bahwa tidak sadar. Kesadaran meditatif ini muncul tanpa disengaja, tidak bisa diduga, tidak bisa diantisipasi, tidak bisa diharapkan, bukan hasil dari keinginan, kehendak atau daya upaya. Ia datang seperti pencuri di malam hari ketika seluruh gerak batin berhenti dan diam.

 

Kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek berbeda dari kesadaran meditatif dengan objek. Kesadaran meditatif dalam meditasi dengan objek masih bekerja dalam lingkup pikiran/ego/diri yang halus. Sebaliknya, kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek bekerja di luar pikiran/ego/diri.

 

Kesadaran meditatif dalam meditasi dengan objek masih dipengaruhi oleh doktrin, kepercayaan, atau konsep-konsep teologis, filosofis atau metafisik yang dibatinkan dalam diri si pemeditasi. Sementara kesadaran meditatif dalam meditasi tanpa objek bebas dari doktrin, bebas dari kepercayaan, bebas dari konsep-konsep.

 

Kebenaran yang ditangkap oleh kesadaran meditasi dengan objek adalah kebenaran yang terbatasi atau terkondisi oleh kepercayaan atau pengetahuan. Oleh karena itu, ada banyak kebenaran menurut doktrin yang berbeda-beda dan ada banyak jalan untuk mencapainya. Dalam kesadaran meditasi tanpa objek, kebenaran doktrinal bukanlah kebenaran sejati. Untuk mencapati kebenaran sejati, tidak ada jalan. Kalaupun ada, jalan itu tidak lain adalah kesadaran meditatif yang melampaui kesadaran pikiran.

Kehadiran seorang guru dalam meditasi dengan objek dibutuhkan, karena tanpa kehadiran seorang guru pemeditasi bisa mengalami gangguan mental tertentu.

Dalam meditasi tanpa objek, kehadiran seorang guru tidak dibutuhkan. Meditasi tanpa objek juga tidak membawa resiko atau bahaya apapun.

 

Ego/diri dalam kesadaran meditasi dengan objek dimengerti sebagai suatu entitas ontologis yang dipercaya bisa berevolusi dari ego/diri yang rendah menuju ego/diri yang tinggi, dari ego/diri yang palsu menuju ego/diri yang sejati. Dalam meditasi tanpa objek ego/diri merupakan entitas ilusif yang diciptakan pikiran. Ego/diri tidak bisa menjadi baik atau tidak bisa mencapai kebaikan yang sesungguhnya. Kebaikan yang sesungguhnya terlahir ketika ego/diri diruntuhkan seluruhnya.

 

Perubahan batin dalam meditasi dengan objek merupakan suatu hasil dari proses pengolahan diri atau pergulatan batin yang panjang dalam waktu. Perubahan batin dalam meditasi tanpa objek terjadi seketika, di luar waktu, tanpa pergulatan atau konflik.

 

Pengalaman dalam meditasi dengan objek menjadi sangat penting. Lewat pengalaman, orang belajar untuk meningkatkan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan. Semakin memiliki banyak pengalaman, orang tumbuh dalam kearifan. Dalam meditasi tanpa objek, kearifan terlahir bukan sebagai akumulasi pengalaman. Kearifan yang sesungguhnya terlahir ketika seluruh pengalaman runtuh atau keterkondisian batin oleh pengalaman berakhir secara total.

 

Dalam meditasi dengan objek, mengumpulkan dan memiliki pengalaman merupakan hal yang amat penting; sementara dalam meditasi tanpa objek, tidak ada yang lebih penting daripada kemampuan melihat dalam kejernihan batin. Untuk melihat dalam kejernihan, pengalaman, pengetahuan, kepercayaan yang seringkali menjadi latar penyaring dalam melihat justru menjadi perintang utama.  Terang atau kejernihan dalam melihat segala sesuatu membuat batin terbebaskan dari apa saja yang dilihat. Batin yang bebas dari keterkondisian adalah batin yang hening, murni, suci, religius dan batin yang hening, mungkin mampu melihat Kebenaran Sejati.

 

Buku ini merupakan kumpulan dialog dan testimoni tentang Meditasi Tanpa Objek. Buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi kumpulan dialog dengan peserta retret. Sebagian besar dari bagian pertama buku ini merupakan transkripsi dialog selama Retret Meditasi 10 hari yang diadakan pada 27 Agustus s.d 6 September 2011. Sebagian kecil yang lain merupakan dialog dengan peserta retret sebelum dan setelah Retret Meditasi tersebut. Bagian kedua berisi kumpulan testimoni dari para peserta retret yang pernah mengikuti Retret Meditasi Tanpa Objek.

 

Semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja untuk memperkaya pengolahan batin melalui Meditasi Tanpa Objek.

 

Jakarta, 1 Januari 2012

J. Sudrijanta, S.J.

Meskipun kita dididik sejak kecil untuk mengalahkan kejahatan dan memupuk kebaikan, batin kita tidak sungguh-sungguh bebas dari kejahatan dan tidak sungguh-sungguh mekar dalam kebaikan. Pergulatan untuk mengalahkan kejahatan dan memupuk kebaikan terus akan berlangsung sampai tua dan belum akan berakhir sebelum timbul kesadaran baru bahwa pergulatan ini sama sekali sia-sia.

Mengapa batin tetap gampang jatuh dalam kejahatan meskipun kita sudah berjuang untuk menghindari atau mengalahkan? Mengapa batin tidak mekar dalam kebaikan meskipun kita sudah berjuang dalam waktu yang lama? Mengapa pergulatan ini tidak menghasilkan perubahan yang mendasar?

Apa yang jahat dan apa yang tampak baik—tapi tidak sungguh baik—belum akan runtuh selama ego masih bercokol. Ada ego yang berjuang untuk mengubah diri-aktual menjadi diri-ideal, ada ego yang ingin menghindari atau mengalahkan kejahatan, ada ego yang bergulat untuk memupuk kebaikan.  Kebaikan yang sesungguhnya hanya terjadi kalau ego diruntuhkan, sebab ego adalah akar segala kejahatan.

Tanpa batin yang diam, kebaikan yang sesungguhnya tidak akan mekar dan kejahatan terus tumbuh seperti pohon berduri. Sebaliknya, batin yang diam memungkinkan energy kejahatan terpatahkan dan kebaikan yang sesungguhnya menjadi mekar. Kapankah batin harus sungguh-sungguh diam?

Ketika muncul dorongan atau tekanan dalam batin,

Berupa nafsu keinginan untuk dipuaskan,

Janganlah bertindak apa-apa.

Diam, janganlah bicara,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

 

Ketika muncul dorongan atau tekanan dalam batin,

Berupa api kebencian untuk dilampiaskan,

Janganlah bertindak apa-apa.

Diam, janganlah bicara,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

 

Ketika muncul dorongan untuk mencari pujian,

Atau keinginan untuk mencela, merendahkan atau merugikan orang lain

Atau keinginan untuk menggunakan kata-kata kasar, mencari-cari perkara untuk berkelahi,

Diam, janganlah bicara,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

 

Ketika batin menjadi kacau atau liar karena kepentingan diri,

Atau dipenuhi kesombongan dan keangkuhan,

Atau dipenuhi rasa rendah diri, cemburu, dan iri hati,

Ketika ada keinginan untuk mengorek-orek kesalahan orang lain yang tersembunyi,

Atau keinginan untuk mengungkit pertikaian lama atau berkata dusta,

Pada saat itu, haruslah diam,

Seperti sebatang pohon di tengah hutan.

Lihatlah sebatang pohon di tengah hutan. Ia tetap diam tak bergeming meski diterpa angin sepoi-sepoi di malam hari atau di pagi dini hari. Ia tetap diam tak bergeming meski digoncang angin badai berhari-hari. Ia tetap diam tak bergeming meski diguyur hujan atau dibakar panas setiap hari. Batin yang diam seperti sebatang pohon di tengah hutan adalah batin yang tidak terprovokasi oleh nafsu keinginan, kebencian, dan kepentingan diri.

Sekurang-kurangnya ada lima moment krusial yang membutuhkan perhatian penuh kesadaran.

Pertama, saat awal terjadi goncangan batin oleh nafsu keinginan atau kebencian, suka atau tidak suka. Lihatlah apa yang terjadi dengan batin ketika muncul nafsu keinginan atau kebencian? Bukankah batin tergoncang? Apakah muncul dorongan atau tekanan untuk melakukan sesuatu? Saat terasa ada goncangan oleh cinta atau benci, saat itu tepat untuk berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan. Jangan mengobarkan rasa suka atau tidak suka dengan pemikiran-pemikiran. Kalau batin diam, energy yang bergerak ini akan lewat tanpa menciptakan gangguan.

Kedua, saat pemikiran sudah berjalan tapi belum mencapai momentumnya yang membuat emosi menyala atau meledak. Dengan menyadari gerak pikiran, bukankah pikiran berhenti? Pikiran yang terhenti menimbulkan jeda sebelum pikiran yang lain muncul. Jeda pikiran ini memecah kekuatan emosi yang nyaris terbangkitkan. Tidak ada emosi yang bergerak sendiri tanpa pengaruh pikiran. Dengan menyadari pikiran dan membuatnya berhenti secara alamiah, gerak emosi dengan sendirinya juga berhenti.

Ketiga, saat pikiran bergerak dan mulai memenjara batin. Kalau pikiran yang bergerak tidak disadari, maka pikiran memberikan pasokan energy bagi emosi dan kekuatan emosi menjadi meningkat, menyala atau meledak. Biarkan saja emosi mekar. Pada saat yang sama, cobalah menyadari  pikiran-pikiran halus yang sudah bergerak dan yang memberi pasokan energy pada emosi. Sadari dalam-dalam keterbelengguan batin oleh pikiran dan emosi hingga kekuatan pikiran dan emosi memudar dengan sendirinya. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari pikiran dan emosi dan membiarkan kekuatan pikiran dan emosi melemah dan berhenti secara alamiah.

Keempat, saat sudah muncul niat atau kehendak untuk berbicara atau bertindak. Sebelum berbicara atau bertindak, sadarilah niat atau kehendak. Janganlah berbicara atau bertindak sebelum niat atau kehendak tertangkap kesadaran. Dengan menyadari niat atau kehendak dan membiarkannya berhenti, ledakan pembicaraan atau tindakan jahat karena pasokan energy pikiran dan emosi bisa dihindari atau berkurang intensitasnya. Ketika tidak lagi ada niat atau kehendak, ketika tidak ada lagi pikiran atau emosi yang membelenggu, Anda bebas berbicara dengan batin yang diam.

Kelima, saat tindakan jahat sedang berlangsung dan Anda tersadar bahwa tindakan tersebut membuat orang lain dan diri Anda sama-sama menderita. Rasakan kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, pembuangan energy, dan keletihan.  Menyadari dan memahami seluruh gerak kekacauan ini memungkinkan tindakan jahat seketika berhenti.

Latihan berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan bukanlah latihan mengendalikan diri, bukan menekan atau membuang kekuatan-kekuatan negative dalam diri, melainkan latihan memberi perhatian penuh kesadaran pada apa saja yang Anda alami. Batin yang berhenti bergerak, betapapun hanya sejenak, membuat pasokan energy yang mengobarkan api kejahatan juga berhenti.

Kebaikan yang sesungguhnya terjadi ketika kejahatan seluruhnya berhenti. Kebaikan sebagai lawan dari kejahatan masih tetap mengandung sisi lawannya. Oleh karena itu, kebaikan sebagai lawan dari kejahatan juga musti seluruhnya berhenti.

Selama ego masih bercokol, maka kejahatan masih tetap ada. Ketika ego runtuh, maka kejahatan lenyap. Ketika kejahatan seluruhnya lenyap dari batin kita, maka kebaikan yang sesungguhnya terlahir. Kebaikan yang masih digerakkan oleh ego bukanlah kebaikan. Kebaikan yang masih memperkuat kepentingan diri bukanlah kebaikan.

Inti perkaranya bukanlah bagaimana caranya kita bertindak baik, tetapi bisakah ada kesadaran-diri dari saat ke saat dan membiarkan kesadaran itu bertindak. Tidak adanya jeda antara kesadaran dan tindakan, menutup masuknya ego sebagai akar kekuatan kejahatan. Dengan demikian dalam setiap tindakan—melihat, mendengar, berbicara, bekerja, dst– terdapat kemungkinan mekarnya kebaikan ketika ego dilepaskan.

Tanpa kesadaran-diri, ego bisa menyusup dalam tindakan jahat atau tindakan baik. Oleh karena itu dalam setiap tindakan, kita bisa bertanya, apakah tindakan tertentu berjalan sebagai moment penguatan diri atau moment pelepasan diri. Kejahatan diperkuat ketika tindakan menjadi moment penguatan diri. Sebaliknya, kebaikan diperkuat ketika tindakan menjadi moment pelepasan diri.*

Dibuka retret meditasi 3 hari:

Jumat, 11 Mei 2012 jam 18.00 s/d Minggu, 13 Mei 2012 jam 20.00

Lokasi :

Villa Puspanita

Jl. Raya Sukabumi No. 1, Bitungsari – Ciawi

Telp. (0251) 8243929

 

Deskripsi Singkat Lokasi :

Villa Puspanita  berada sekitar 2.5 KM dari tol Ciawi arah Sukabumi di sebelah kanan jalan. Villa ini seluas sekitar 7 hektar. Udara sejuk dan banyak tanaman.

Dari pintu tol Ciawi ke arah Sukabumi, di sepanjang kiri jalan melewati Pasar Ciawi, pom bensin, Baso Tukul, dan Alfamart. Di sepanjang kanan jalan melewati Perumahan Rancamaya, Showroom HINO, dan lapak buah. Papan nama PUSPANITA ada di sebelah kanan jalan dari arah Ciawi.

Pendaftaran:

Pendaftaran langsung ke panitia Astrid astrie_arif@yahoo.com HP 0816756958 atau Kristianto Andi Ridwan HP 08170102769.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,733 other followers