Latest Entries »

“Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW.”

Apakah bisa dijelaskan gambaran identitas asali kita dalam terang ajaran Buddha, Katolik/Kristen dan Islam?

Sidharta Gautama hidup pada abad 5 sebelum masehi, Yesus hidup pada abad 1 masehi, dan Muhammad hidup pada abad 6 dan 7 masehi. Ketiganya adalah orang yang berbeda yang hidup pada tempat dan jaman yang berbeda. Tetapi Buddha, Kristus dan Nur Muhammad hidup melampaui ruang dan waktu. Ketiganya menunjuk pada identitas asali yang tidak berbeda, meskipun tidak sama menurut doktrin agama para penganutnya.

Menurut Buddhisme, semua orang bahkan semua makhluk memiliki Hakikat Buddha. Buddha adalah makhluk yang tercerahkan dan Hakikat Buddha adalah benih kesadaran atau benih pencerahan. Thrangu Rinpoche (2007, Buddha Nature and Buddhahood: the Mahayana and Tantra Yana) melihat kesatuan antara kearifan (wisdom) dan kekosongan (emptiness) sebagai Hakikat Buddha. “Kesatuan antara kearifan dan kekosongan adalah esensi dari ke-Buddha-an atau Hakikat Buddha (Sansekerta: Tathagata-garbha), di situlah terdapat benih atau potensi ke-Buddha-an. Benih ini ada dalam setiap makhluk dan karena itulah setiap makhluk memiliki potensi mencapai ke-Buddha-an.”

Yesus pernah membuka identitas asalinya sebagai indetitas dirinya yang sesungguhnya ketika Ia mengatakan, “Before Abraham was, I am.” (Yohanes 8:58) Bagaimana Ia bisa mengatakan bahwa sebelum Abraham ada, Ia sudah ada? Pernyataan berikut ini tidaklah berbeda, “Sebelum dunia ini ada, Aku sudah ada. Setelah alam semesta ini lenyap, Aku tetap ada.” Yesus hendak menyampaikan kebenaran tentang identitasNya yang sesungguhnya, yang juga adalah identitas semua orang, “I am who I am” (“Aku adalah aku”.)

Identitas asali Yesus sebagai Kristus Tuhan, tidak berbeda dari identitas Yahweh dalam Perjanjian Lama. Allah berfirman kepada Musa: “AKU ADALAH AKU“ (“I am who I am”.) Lagi FirmanNya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”(Keluaran 3: 14)

“Aku adalah aku” menunjukkan identitas asali Yesus. Ia pertama-tama bukanlah “Anak Manusia”, laki-laki”, “anak maria dan Yosef”, “seorang Yahudi”, melainkan pertama-tama ia adalah “Anak Allah”, “kepenuhan kasih Allah”, “kesadaran ilahi yang menyelamatkan”, “kesatuan hakikat keallahan dan hakikat kemanusiaan”.

Dalam Islam, Nur Muhammad ada sebelum segala sesuatu yang lain yang tercipta ada. Nur Muhammad atau Hakikat Muhammad, adalah pangkal atau asal dari ciptaan. Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Ana min nurullaahi, wa khala kuluhum min nuuri”—“Aku berasal dari cahaya Allah dan seluruh dunia berasal dari cahayaku.” Nur Muhammad di sini menunjuk pada cahaya kesadaran ilahiah di balik setiap wujud di alam semesta ini.

Jadi Buddha bukanlah Sidharta Gautama, sama halnya dengan Kristus bukanlah Yesus dan Nur Muhammad SAW bukanlah Muhammad SAW. Buddha menunjuk pada kesadaran yang tercerahkan, sama seperti Kristus menunjuk pada kesadaran ilahi yang menyelamatkan dan Nur Mohamad menunjuk pada kesadaran Allah yang meresapi setiap wujud dalam bentuk manusia dan seluruh isi alam semesta.

Apabila kita melekatkan diri pada dunia wujud dan lupa akan identitas asali kita, kita mengira, “Aku adalah ini atau itu.” Itulah yang disebut dengan “identitas bentuk”. Padahal, sesungguhnya “Aku adalah aku.” Titik. “Aku adalah aku” pada hakikatnya tidak berbeda dari “kesadaran”, “keheningan” atau “kekosongan.” Itulah yang disebut “identitas asali melampaui bentuk”.

Darimanakah timbul “identitas bentuk” itu? “Identitas bentuk” lahir dari kesadaran dualistik. Kesadaran dualistic selalu melekat pada objek dan terkungkung oleh subjek (ego, self), suatu kesadaran yang terkondisi. Kesadaran yang terkondisi selalu membawa ego atau keakuan dan melekat pada dunia wujud; kesadaran bebas keterkondisain atau kesadaran yang tercerahkan bebas dari ego atau keakuan dan melampampaui dunia wujud. “Aku adalah Aku.” Titik. Tidak ada atribut dari dunia wujud yang ditempelkan padanya sebagai penopang “eksistensinya”.

Jadi, sesungguhnya kita semua tidak berbeda. Kita adalah makhluk spiritual yang punya pengalaman sebagai manusia; bukan sebaliknya. Kita pertama-tama adalah ‘kesadaran’ (awareness) yang memiliki tubuh dan batin, bukan sebaliknya. Kita semua adalah “roh” atau “kesadaran” yang bertubuh, bukan sebaliknya. Itulah “Hakikat Buddha”, “Hakikat Kristus”, atau “Hakikat Nur Muhammad SAW”. Dalam dunia bentuk, kita memiliki begitu banyak perbedaan; dalam dunia tanpa-bentuk, kita sesungguhnya tidak berbeda. Identitas tanpa-bentuk itulah identitas asali kita. Dan “kesadaran” adalah vibrasi paling dekat dengan ketiganya.*

TENTANG NUR MUHAMMAD SAW
(Tanggapan Mas Abi Bhadra Maulana)

Penjelasan Nur Muhammad Romo benar-benar bening.

Bahwasanya Tuhan menyerukan di Surat Al Ahzab, “Innallah wa malaaikatahu yusholuna alaa nabi, yaa ayuhaladziina aamanu sholualaihi wasalimu tasliima” (“Sesungguhnya Allah dan para malaikat mnyampaikan sholawat kepada nabi, maka dari itu wahai orang-orang yang beriman, sampakainlah sholawat dan salam keselamatan padanya.”

Ayat itu umumnya hanya dilihat sebagai perintah ber-sholawat dan kemudian menjadi ritual umat islam mendendangkan sholawat. Dalam konteks fiqh ayat ini unik, karena Tuhan menyatakan sendiri bahwa Dia dan para malaikat sudah melakukan sholawat kepada nabi, lalu Tuhan kemudian memerintahkan orang-orang beriman (bukan hanya orang-orang muslim) utk bersholawat.

Tapi dalam alam hakekat ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang Muhammad sebagai makhluk genologi tetapi sebagai nur, cahaya, kesadaran. Karenanya dalam adab sholat wajib ada sholawat. Doa dikatakan tidak menembus langit tanpa sholawat. Mengapa? Karena nabi Muhammad yang di sholawati bukan seseorang atau entitas yang berbangsa Quraisy keturunan Abdul Mutholib, melainkan yang meresap pada semesta. Dalam bahasa Bernadette Roberts, ada sesuatu ‘Yang Tak-Tersebutkan’ atau ‘Yang Tak-Diketahui’ yang mengisi segala yang ada dan ruang di antara segala yang ada, yang dari sanalah segala sesuatu berasal, hidup, bergerak, dan kembali. Inilah Nur Muhammad yang meresap dan melingkupi segala yang ada. Sholawat adalah afirmasi seorang Muslim dalam olah spiritual dan asah kesadaran, Nur Muhammad.*

Beyond Religion

By J. Sudrijanta

“Tidak ada manusia yang tercerahkan sebelum mampu menjalani kehidupan melampaui agama.”

Agama dalam kenyataan seringkali menjadi candu atau sumber eksploitasi, konflik, kebencian, dan kekerasan. Namun bukan karena agamanya orang berbuat jahat, intoleran atau suka kekerasan, melainkan karena cara pandang yang yang dangkal dalam melihat kehidupan dan ajaran agamanya, termasuk cara berpikir sempit dalam melihat perbedaan.

Marilah kita melihat berbagai model berpikir dalam menghadapi perbedaan agama dan mengevaluasi pendekatan mana yang paling memungkinkan untuk dikembangkan guna memutus rantai kekerasan atas nama agama dan untuk mengembangkan kerjasama yang lebih luas demi membangun dunia kearah yang lebih baik.

1.Model Eksklusif. Setiap sudut pandang bersifat unik dan saling mengekslusi satu dengan yang lain. Anda tidak bisa mencampur-adukkan yang satu dengan yang lain, seperti mencampur beberapa unsur makanan menjadi satu mangkuk sup. Tentu saja ada kemiripan, tetapi tidak ada kesamaan. Konsep dari system kepercayaan yang satu tidak sama dengan yang lain. “Keselamatan” di Kristen tidak ada dalam Buddha, begitu pula “pencerahan” di Buddha tidak ada dalam Kristen. Paham “Allah” dalam Kristen bukanlah “Allah” menurut Islam.

Ujaran-ujaran khas model ekslusif adalah seperti berikut. “Agamaku adalah satu-satunya yang benar, agama lain keliru, tidak sempurna, atau tidak lengkap.” “Tidak ada keselamatan di luar Gereja.” “Tidak ada pencerahan di luar Buddha.” “Islam adalah jaminan masuk surga.”

Model ini paling efektif memecah-belah manusia dalam sekat-sekat agama, mengobarkan kebencian dan permusuhan, melanggengkan konflik dan peperangan. Model ini telah menorehkan catatan berdarah dalam sejarah kebiadaban bangsa-bangsa.

2.Model Inklusif. Di sini pandangan agama lain ditafsirkan dalam terminology agamanya sendiri dan divalidasikan. Bagi orang-orang Kristiani, Kristus adalah pewahyuan unik, kepenuhan Allah; tokoh-tokoh dan agama-agama lain adalah manifestasi Kristus yang tersembunyi, tidak langsung dan implicit. Misalnya, orang-orang Kristiani mengatakan bahwa dalam Buddhisme terdapat “Roh Kudus” atau “Kristus,” tetapi dalam bentuk implicit atau tidak langsung. Umat Buddha akan mengatakan Jesus adalah seorang Bodhisattva, atau Jesus bukan Tuhan tetapi hanyalah seorang nabi menurut Islam. Guru Zen Hakuin menyatakan bahwa semua makhluk memiliki “hakikat-Buddha”. Kemudian orang di luar tradisi Zen mencoba menterjemahkan konsep “hakikat –Buddha” dalam terminology religius mereka sendiri, yang belum tentu persis dimaksudkan oleh Hakuin.

Di satu pihak posisi ini bisa didukung karena tidak mengobarkan permusuhan kepada pemeluk agama lain. Tetapi model ini masih menyisakan masalah superioritas dan inferioritas: “agamaku lebih superior dibanding agama lain.” Sikap ini masih bisa memprovokasi ketidakpuasan, kalau bukan permusuhan.

3.Model Pluralistik. Menurut teori ini, setiap agama dipandang sama dan valid, tidak ada yang lebih benar atau kurang benar. Setiap agama berbeda dan tidak bisa diperbandingkan. Dalam bentuk ekstrem, setiap agama memiliki jalan yang berbeda, tujuan akhir yang berbeda, bentuk keselamatan atau pembebasan yang berbeda, memiliki pandangan tentang sesama dan alam semesta yang berbeda. Terdapat banyak kebenaran yang berbeda-beda dan etika yang berbeda. Pandangan ini merelatifir semua agama. Para penganut agama didorong untuk hidup bersama dan saling bertoleransi. “Timur adalah Timur, Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bisa bertemu.” Anda menghidupi agama Anda, dan saya menghidupi agama saya. Apabila kita bisa bertemu, itu baik; apabila tidak, tidak apa-apa. Setiap orang menutup diri dalam rumah dan tempatnya sendiri.

Pada jaman modern dengan begitu banyak tantangan berupa konflik dan kekerasan, pemiskinan dan ketidakadilan, serta kerusakan lingkungan, model ini tidak cukup menjadi fondasi yang kuat bagi sebuah solusi bersama. Kita musti belajar untuk lebih terbuka, belajar berdialog, saling mendengarkan dan saling menghormati. Kita perlu keluar dari relasi superior-inferior. Kalau tidak, kita akan menjadi korban seperti yang diilustrasikan oleh Plautus dalam Asinaria (195 SM): “lupus est homo homini.” Manusia adalah serigala bagi sesamanya, setiap orang menjadi serigala bagi dirinya sendiri, dan si jahat yang akan pegang kendali.

4.Posisi dua-kaki (dual-belonging). Kini banyak orang hidup dalam dua tradisi atau lebih pada saat yang bersamaan. Mereka adalah Kristiani-Buddhist, Hindu-Kristiani, Yahudi-Buddhist, Islam-Buddhist, Islam-Kristen dst. Hidup dalam satu tradisi secara eksklusif membuat orang merasa sesak dan terbatas. John Dunne (1970) menggunakan istilah, “Passing over and coming back” (“Menyeberang dan kembali lagi”). Menyeberang ke tradisi atau agama lain dan kemudian kembali lagi. Model menyeberang dan kembali lagi ini adalah visi yang membebaskan dan memperluas cakrawala. Orang tidak lagi terjebak pada kungkungan tradisi dan agamanya sendiri. Model ini disebut dengan istilah lain seperti “integral terbuka” (open integral) atau “inter-religious.” “Menjadi religious dewasa ini musti menjadi inter-religious” (Kongregasi Jenderal Serikat Jesus ke-32 tahun 1974/75).

Ada banyak bahaya dalam model menyeberang dan kembali lagi. Jalan ini bisa membuat orang jatuh dalam sinkretisme, menghapus batas-batas agamanya atau agama lain, pengabaian (indifference), pengenalan secara dangkal, kurang komitment pada komunitas imannya, atau bahkan pengkhianatan pada komunitas dan agamanya, dan seterusnya. Jalan ini selalu menciptakan ketakutan bagi pemegang otoritas agama.

Di pihak lain, model inter-religius ini bisa menjadi berkah baik bagi individu itu sendiri maupun bagi komunitasnya. Banyak orang punya pengalaman yang serupa. Mereka berbagi rahasia, “Tanpa Buddha, saya tidak bisa menjadi seorang Kristen.” Atau sebaliknya, “Tanpa Kristus, saya tidak bisa menjadi Buddha.”

Dalam model dual-belonging, pemahaman kita tentang isi Kitab Suci, tradisi maupun ritual agama diperkaya. Pemahaman, penerimaan, rasa hormat dan toleransi tumbuh berkembang. Dengan “menyeberang” ke agama atau tradisi lain, orang mendapat pemahaman yang lebih dalam dan kebenaran yang lebih jelas tentang kekayaan dalam tradisi dimana orang tersebut berasal. Dengan demikian tradisi atau agama lain justru menolong orang untuk “kembali” dan “lebih berakar” pada tradisi atau agama darimana ia berasal.

Di satu pihak, Anda diperkaya dan dipihak lain Anda juga memperkaya. Anda membawa berkah bagi kedua tradisi. Apabila semua agama institusional terbuka dan saling dapat menerima, pengalaman “menyeberang dan kembali” ini akan menjadi berkah baginya.

Model dual- belonging ini tidak bisa dicapai mayoritas orang-orang beragama. Hanya sebagian orang saja yang bisa sungguh “menyeberang dan kembali lagi.” Apabila lebih banyak orang berani melakukannya, wajah peradaban manusia tentu akan jauh berbeda.

5.Model antara melampaui dogma (in between way). Model ini dekat dengan dual belonging, namun berbeda. Supaya lebih jelas, saya akan kemukakan pengalaman saya. Saya adalah seorang pastor Katolik sekaligus pengajar Meditasi (Post-) Vipassana. Ketika saya merayakan Ekaristi atau memberi pelayanan sakramen, saya sungguh seorang (Imam) Katolik. Ketika saya melakukan praktik kesadaran (Post-) Vipassana, maka saya adalah seorang praktisi (Post-) Vipassana. Ketika saya mengajarkan ajaran-ajaran Katolik, saya sungguh sebagai pengajar Katolik, sekalipun sudah diperkaya oleh pengalaman (Post-) Vipassana; dan ketika saya mengajar praktik kesadaran (Post-) Vipassana, saya sungguh seorang (Post-) Vipassana, sekalipun sudah diperkaya oleh kekayaan spiritualitas Katolik. Namun bagi saya, (Post-) Vipassana adalah (Post-)Vipassana dan Katolik adalah Katolik. Tidak ada campur aduk.

Siapa saja bisa berdiri di tengah di antara dua tradisi atau dua agama. Berada di tengah adalah berada pada realitas serba “tidak tahu.” Ini adalah seperti “Awan Ketidaktahuan” (Cloud of Unknowing) menurut seorang mistik Kristen abad 14, atau “keheningan tanpa-diri” menurut Bernadette Roberts, atau “Kekosongan” (emptiness, sunyata) dalam Zen atau Vipassana.

Dalam Sutra Hati (the Heart Sutra) kita menemukan ungkapan ini, “Emptiness is form, form is emptiness”. Kekosongan adalah kekosongan dan bentuk adalah bentuk. Itu barulah separuh kebenaran. Separuh kebenaran yang lain adalah kekosongan adalah bentuk, bentuk adalah kekosongan.” Ketika orang berdiam “di antara” (in-between), yang adalah “Kekosongan”, orang berada pada dasaran yang tidak memiliki dasaran lagi sebagai fondasi dari segala yang ada (groundless ground of being).

Dengan berdiri “di antara” (in-between) konsep, ide, symbol-simbol, tradisi, agama, maka suatu cakrawala luas terbuka. Di sinilah orang melampaui konsep, dogma, atau bentuk. Tetapi orang tidak akan dapat bertahan dalam realitas ini terus-menerus. Orang musti memasuki bentuk dan kembali ke tradisi atau agama di mana mereka berasal. Tetapi sekarang berbeda. Mereka bukan sekedar “penganut suatu agama” tetapi “penghayat kebenaran.” Mereka adalah pertama-tama manusia, manusia yang tercerahkan, manusia yang melampaui agama. Baju mereka bisa jadi tetap Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha atau yang lain. Tetapi agama mereka sesungguhnya adalah kedamaian, kasih, keadilan. Bagi mereka, “tidak ada agama di atas kebenaran.”

Kedalaman pandangan kita terhadap ajaran agama lain sangat bergantung pada tingkat kedalaman pemahaman kita terhadap ajaran agama kita sendiri. Begitu pula sebaliknya. Kedalaman pandangan kita terhadap ajaran agama kita sendiri sangat bergantung pada tingkat kedalaman pemahaman kita terhadap ajaran agama lain. Dan kedalaman pandangan kita terhadap baik ajaran agama kita sendiri maupun agama lain bergantung pada kedalaman pemahaman kita tentang diri kita sendiri.

Kita membutuhkan suatu pendekatan yang bukan hanya membuat kita bisa menghormati perbedaan, tetapi dapat menemukan nilai-nilai luhur dan merayakan keberagaman yang akan memperkaya hidup bersama. “Model Eksklusif” paling berseberangan dengan tujuan kita. “Model Inklusif” dan “Model Pluralis” tidaklah buruk, tetapi tidak mencukupi. “Model dua-kaki” dan “Model Antara” adalah dua pendekatan yang paling baik menjawab kebutuhan kita.*

Jadwal Retret Meditasi 2017

Tanggal 24-28 Maret (Jumat – Selasa, 28 Maret: Hari Raya Nyepi): Puncak. (DIBATALKAN)
Tanggal 28 April – 1 Mei (Jumat – Senin, 1 Mei: Hari Buruh): Surabaya.
Tanggal 31 Mei – 4 Juni (Rabu – Minggu, 1 Juni: Hari Lahir Pancasila): Via Renata, Puncak.

Tanggal 23 Juni – 2 Juli (Kamis – Minggu, 23-28 Juni: Cuti Bersama Idul Fitri): Puncak.
Tanggal 31 Agustus – 3 September (Kamis – Minggu, 1 September: Idul Adha): Baturaden, Purwokerto.
Tanggal 30 November – 3 Desember (Kamis – Minggu, 1 Desember: Maulud Nabi): Puncak. (DIBATALKAN)
Tanggal 25 Desember – 1 Januari 2018 (Senin – Senin, Libur Natal dan Akhir Tahun): Puncak. (DIBATALKAN)

Pendaftaran melalui email meditasitanpaobjek@gmail.com.

Keheningan dan Praktik Spiritual

By J. Sudrijanta
“Diamlah dan ketahuilah, Akulah Allah.” (Mazmur 46:11)

Semua agama kuno dan ajaran para mistik dari berbagai tradisi religius sangat menekankan pentingnya aspek keheningan batin (inner silence) bagi hidup dan praktik spiritual.

Keheningan menjadi instrument kunci apabila manusia ingin menemukan penyembuhan batin, transformasi diri, pemurnian jiwa, pembebasan, perjumpaan dengan Tuhan yang sesungguhnya, dan menjadikan manusia menjalani hidup secara dalam, damai, penuh vitalitas, dari saat ke saat sepanjang waktu.

“Keheningan batin” (inner silence) itu sendiri memiliki dua dimensi lain yang saling berkaitan dan tak terpisahkan, yaitu “batin yang diam” (inner stillness) dan “batin yang mahaluas” (inner spaciousness). Memahami ketiganya akan menolong kita dalam latihan.

Batin yang Diam (Inner Stillness)

Batin yang diam adalah batin yang tidak berlari. Orang yang ingin menimba kedalaman hidup dan menjadikan seluruh aktivitas dan kesibukan sehari-hari menjadi sebuah praktik spiritual, mustilah pertama-tama punya kemauan untuk berhenti berlari dan diam. Kita mudah berlari untuk menghindari sesuatu yang kita tidak suka melalui gerak tangan, kaki dan tubuh kita. Pekerjaan dan kesibukan apapun bisa menjadi bentuk pelarian.

Duduk diam, tanpa bergerak, tanpa bereaksi, akan membantu Anda menangkap banyak hal yang belum Anda ketahui secara dalam tentang tubuh dan batin Anda. Di antaranya, cepat atau lambat Anda akan bertemu dengan banyak hal yang tidak Anda sukai: rasa pegal, rasa sakit, kesepian, kecemasan, kegelisahan, ketakutan, rasa bosan, rasa tidak enak, berbagai bentuk kesakitan dan penderitaan. Biasanya kita berlari menghindar. Sekarang kita diam, berhenti berlari; diam, tidak bereaksi.

Dengan diam–tidak bergerak, tidak bereaksi–kita sedang membangun kontak langsung dengan kesakitan dan penderitaan kita. Bila terdapat perhatian total tak terbagi, meskipun hanya berlangsung singkat, maka tidak ada reaksi-reaksi. Apabila terdapat reaksi-reaksi, cobalah disadari, juga tanpa reaksi. Itulah yang disebut dengan batin yang diam. Rasakan dan sadari titik diamnya batin, sementara tubuh betul-betul diam. Tinggallah di situ selama Anda bisa. Itulah rumah Anda.

Jadikan kesakitan dan penderitaan Anda sebagai jalan pembebasan. Setiap kali Anda menemukan batin yang diam, kesakitan dan penderitaan yang Anda rasakan mereda atau lenyap begitu saja. Ini hal yang sangat sederhana tetapi luar biasa. Cobalah dan buktikan sendiri.

Dalam perjalanan latihan, Anda akan berjumpa dengan pengalaman seperti ini. Kesakitan dan penderitaan bisa terasa semakin hebat dan Anda kehilangan titik diam. Mengapa begitu? Batin Anda hanya bisa berlari ketika pikiran sudah menciptakan identifikasi diri dengan sesuatu dalam sebuah relasi pada moment itu. Itulah moment kemunculan ego. Tidak ada pelarian diri tanpa ego. Lihatlah munculnya identifikasi diri dan realisasikan kebenaran ini. “Tubuh ini bukanlah milikku. Pikiran dan perasaan ini bukanlah milikku. Tidak ada si aku di dalam tubuh, pikiran dan perasaan ini. Tidak ada si aku di luar tubuh, pikiran dan perasaan ini. Tubuh hanyalah tubuh. Pikiran hanyalah pikiran. Perasaan hanyalah perasaan.” Apabila Anda mampu melihat secara langsung bahwa Anda bukanlah kesakitan dan penderitaan, Anda bebas.

Ketika terdapat perhatian tak terbagi terhadap kesakitan dan penderitaan tanpa reaksi, maka ego (identifikasi diri) lenyap. Ketika ego lenyap, Anda menemukan batin yang diam. Ketika Anda merasakan titik diamnya batin, Anda sudah menemukan jalan yang benar. Jalan yang benar menuju pembebasan haruslah mulai dari titik diam dan berakhir pada titik diam.

Sekarang bagaimana menemukan titik diam dalam gerak atau kesibukan harian? Pada prinsipnya, apa yang kita lakukan saat duduk diam, kita lakukan pula saat berdiri, berjalan, berbicara, bekerja atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Diam adalah diam dan gerak adalah gerak. Tetapi sekarang kita berlatih untuk menemukan diam dalam gerak dan gerak dalam diam. Lihatlah bumi ini. Apakah bumi ini diam atau bergerak? Bumi terus bergerak mengitari matahari, bukan? Ya, ia terus bergerak, tetapi bergerak secara sempurna dan diam secara sempurna. Apabila bumi terus bergerak tanpa diam, seperti ketika Anda merasakan goncangan gempa bumi, maka akan menjadi kacau-balau. Apabila bumi ini tidak pernah bergerak dan hanya diam, maka tidak akan ada kehidupan. Bumi bisa menjadi topangan kehidupan begitu banyak makhluk, karena ia sepenuhnya diam sekaligus bergerak.

Diam dan bergerak adalah dua dimensi yang membentuk integrasi dalam kehidupan kita. Kita perlu belajar untuk diam dalam gerak dan gerak dalam diam. Kita perlu belajar menemukan titik diam dalam berbicara, bertindak dan bekerja dalam segala hal. Apabila kita berbicara tanpa diam, maka kata-kata kita hanya menjadi ekspresi kegaduhan. Maka diam dan berbicaralah juga dalam diam. Apabila kita bertindak atau bekerja tanpa diam, maka segala kesibukan kita hanya menjadi pelarian. Maka diam dan bertindaklah juga dalam diam.

Banyak hal dalam hidup ini sulit kita pahami kecuali apabila kita diam. Banyak misteri kehidupan ini hanya bisa dimengerti juga apabila kita diam. Hidup yang adalah relasi-relasi akan berjalan pada kedalaman dan ketertibannya apabila kita bisa diam.

Keheningan Batin (Inner Silence)

Keheningan batin pada dasarnya memiliki dua pengertian. Yang pertama adalah berhentinya pikiran dan yang kedua adalah batin yang tidak terganggu meskipun pikiran terus bergerak. Untuk bisa mengalami keheningan dalam pengertian pertama (berhentinya pikiran), kita perlu belajar menemukan keheningan dalam pengertian yang kedua, yaitu batin yang tidak terganggu oleh pikiran.

Setelah berkanjang dalam diam, kita akan mampu menangkap suara keheningan di balik suara-suara kegaduhan di kepala kita. Suara kegaduhan atau kebisingan itu mewujud dalam pikiran, kata-kata, atau perbincangan dengan diri sendiri. Itu adalah suara kesakitan dan penderitaan. Ia masih akan bersuara apabila belum cukup mendapat sentuhan perhatian penuh kesadaran secara tepat pada titiknya.

Bagaimana bisa menyentuhnya secara tepat? Yang terpenting bukan suara kegaduhannya, tetapi suara keheningan di baliknya. Suara keheningan selalu ada di sana apabila kita tidak bereaksi, tidak menolak, tidak menekan, tidak membuang, tidak mengeluh, tidak menilai, tidak menyalahkan atau membenarkan. Dengarkan suara keheningan di dalam, dan seketika suara kegaduhan lenyap. Itu adalah resep sederhana dan luar biasa.

Tentu saja sesaat kemudian suara gaduh itu akan datang lagi apabila Anda kehilangan keheningan di dalam. Suara gaduh di dalam batin hanya muncul pada moment ketika kita kehilangan keheningan. Maka bertahanlah di dalam keheningan dan temukanlah dari saat ke saat. Suara keheningan selalu ada di sana, sedangkan suara gaduh datang dan pergi, muncul dan lenyap.

Siapa Anda yang sesungguhnya tak terpisahkan dari keheningan itu sendiri. Apabila Anda terpisah dari keheningan, Anda terpisah dari siapa Anda yang sesungguhnya. Dengan merasakan getaran keheningan, Anda sedang berkontak langsung dengan siapa Anda yang sesungguhnya.

Suara alam semesta di sekitar kita bisa membantu kita untuk merasakan getaran keheningan di dalam batin. Kita bisa mendengarkan dengan perhatian penuh kesadaran suara gemericiknya air yang mengalir, suara burung yang bernyanyi, suara angin yang menerpa pepohonan. Bahkan suara yang memekakkan telinga pun bisa kita ambil sebagai alat bantu untuk menemukan getaran keheningan batin, seperti suara deru mobil, suara lonceng gereja, suara adzan di mesjid, bahkan suara cacian dan celaan tetangga kita.

Di tengah kesibukan, kita perlu setiap kali mundur untuk menemukan titik diam, titik keheningan batin. Itulah rumah kita. Itulah siapa kita yang sesungguhnya. Sejauh apapun kita berjalan keluar, kita musti setiap kali kembali ke rumah. Kita musti menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Kemahaluasan Batin (Inner Spaciousness)

Batin yang mahaluas adalah batin yang lapang, jernih, terang-benderang, tidak memiliki pusat, tidak memiliki pinggiran, tak terbatas, tak tertambat pada apapun. Di dalam batin yang diam dan hening, keakuan masih bisa bercokol; tetapi di dalam kemahaluasan batin ini, keakuan tak lagi bisa bertahan.

Ego adalah pecahan batin yang kita jadikan pusat kendali, yang sesungguhnya tidak berbeda dari pikiran. Sedangkan keakuan adalah rasa diri yang mengiringi setiap pengalaman, yang sesungguhnya tidak berbeda dari perasaan atau pikiran halus bahwa ada suatu entitas yang terpisah dari pengalaman.

Akar dari seluruh persoalan batin adalah karena pikiran membentuk poros ego dan keakuan. Sesungguhnya yang ada hanyalah pikiran yang terkondisi. Entitas keakuan di luar pikiran adalah ilusi. Meyakini ilusi sebagai kebenaran adalah esensi dari batin yang terkondisi.

Seluruh gerak dan kegiatan pikiran kita adalah seperti air sungai yang sudah terpolusi mulai dari dekat sumbernya. Orang di bawah tidak tahu. Apapun yang mereka upayakan untuk membersihkan sungai hanya menambah polusi, karena memori dan pikiran tidak dibebaskan dari poros ilusi ego dan keakuan.

Dalam perjalanan latihan, kita akan melihat bahwa seluruh gerak dan kegiatan batin akhirnya mendapatkan tempat berlabuh dalam diam dan heningnya batin. Sedangkan diam dan heningnya batin mendapatkan tempat istirahat terakhir dalam kemahaluasan batin. Itulah sumber dari segala sumber yang ada. Anda bisa menyebutnya “open awareness” (rigpa), “choiceless awareness,” “kekosongan,” “suwung,” “sunyata,” “inti Ketuhanan” (the Godhead), atau lebih baik tidak perlu memberinya nama. Yang penting Anda mengalaminya secara actual.

INI adalah neumena di balik segala fenomena. INI adalah dimensi yang tak-berbentuk yang tak-terpisahkan dari segala bentuk.

INI adalah landasan bagi kesatuan diam di dalam gerak dan gerak di dalam diam. INI adalah landasan dari keheningan dan landasan bagi ekspresi dari keheningan.

INI meresapi segala yang ada, melingkupinya dengan sempurna, dan mengisi ruang di antara segala yang ada. INI adalah fondasi dari segala yang ada dan dari keterhubungan dari segala yang ada.

INI membuat segala hal menjadi jernih, transparan, apa adanya. INI membuat batin mampu menembus segala tembok pemahaman yang sempit, terbatas dan terkondisi.

Setiap kali kita merasakan getaran kemahaluasan batin ini, kita bukan hanya bisa mengalami damai, sukacita dan kepenuhan batin dari dalam, tetapi terlebih pembebasan yang tiada tara.

Manfaat dari berlatih setiap hari tak terhitung banyaknya. Kita hanya perlu belajar berhenti berlari, mendengarkan suara keheningan batin, dan merealisasikan hakikat batin yang mahaluas ini. Lakukan latihan ini secara intensif dan kontinyu, maka Anda akan melihat tidak ada lagi kesakitan dan penderitaan yang tidak bermakna: segala hal baik adanya dan berguna bagi pembebasan kita.*

Diberitahukan bahwa Latihan Meditasi bersama Saptu 10 dan 24 September 2016 di Blok Q Kebayoran Baru ditiadakan, mengingat ada kegiatan retret di Jogjakarta dan Puncak Jawa Barat

Terimakasih.
Admin

“Every breath we take, every step we make, can be filled with peace, joy, and serenity. We need only to be awake, alive in the present moment.” – Thich Nhat Hanh

Sangha terkasih,
Ini adalah sebuah ajakan untuk berkumpul dan berlatih bersama komunitas lintas agama Sea Plum Sangha dan komunitas Meditasi Tanpa Objek dalam acara Half Day of Mindfulness. Latihan bersama ini akan difasilitasi oleh Romo Sudrijanta Johanes dari Gereja Santa Perawan Maria Ratu dan Brother Bao Tang (Brother Harta), murid dari Thich Nhat Hanh yang telah menetap di Plum Village Perancis sejak 2009.

Hari / Tanggal
Sabtu / 24 September 2016

Lokasi
Eco-Spiritual Camp, Megamendung
https://goo.gl/maps/mHt2n2ybGZQ2
Keterangan menuju lokasi: Sekitar 20 meter setelah Cimori River Side dari arah Jakarta menuju Puncak terdapat jalan ke kiri ke arah desa Megamendung. Ikutilah jalan tersebut. Sekitar 50 m dari pintu masuk Matahari sisi Utara, terdapat Jl. Pesantren. Ikuti jalan tersebut sampai ketemu Jl. Paseban. Pada jalan masuk di lokasi meditasi akan diberi tanda dan penunjuk arah. Lokasi meditasi berjarak 3 km dari Cimori River Side dan bisa ditempuh dengan kendaraan sekitar 15-20 menit.

Acara
06.00 Tiba
06.15 Introduction
06.30 Breakfast
07.00 Sitting Meditation & Walking Meditation
08.15 Touching The Earth
08.45 Stick Exercise
09.15 5MT Recitation & Dharma Sharing
10.45 Total Relaxation
11.45 Mindful Lunch
12.30 Selesai (acara bebas: melanjutkan meditasi, ke air terjun, menunggu sunset, dll.)

Kontribusi (untuk operasional & vegetarian meals)
Rp 75.000,- per orang (mohon tambahkan angka 9 di total digit akhir, contoh untuk 2 orang: Rp 150.009,-)
transfer ke BCA Wolter Mongonsidi 524-034-555-4 a/n Y Sudriyanto dan Monalisa Octavia.Yang ingin berdana bisa transfer lebih.

Perlu dibawa
– Yoga mat (bagi yang ada)
– Botol minum pribadi

RSVP (sebelum Selasa, 20 September)
Liang 0818-151-304 (WA) atau email ke meditasitanpaobjek@gmail.com dengan melampirkan data singkat:
1. Nama:
2. Alamat:
3. Email:
4. Telp/Hp:

Breathe & Smile

Total Surrender

By MAS, F-42 tahun, Human Resource Development di sebuah perusahaan

Retret kali ini adalah retret MTO yang ketiga kalinya yang pernah saya ikuti. Saya selalu mengikuti Retret MTO setiap tahun sejak 2014. Retret tahunan menjadi kesempatan untuk berhenti sesaat dari kegiatan rutin keseharian dan secara khusus melakukan perjalanan spiritual, perjalanan batiniah “ke dalam.”

Silentium

Di dalam retret MTO, suasana silentium (keheningan) perlu dijaga oleh seluruh peserta. Silentium merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya diam atau hening. Selama retret berlangsung, seluruh peserta tidak diperkenankan berbicara satu sama lain. Proses ini tidaklah mudah untuk kebanyakan peserta. Saya sangat bisa memahaminya. Bayangkan, sebagian besar peserta adalah warga kota Jakarta. Dalam keseharian mereka jarang menemukan situasi dimana mereka berdiam diri. Untuk bisa bertahan hidup, maka warga Jakarta harus berjuang untuk memenangkan persaingan dengan menyampaikan pemikiran, memperdebatkan gagasan, mengungkapkan keinginan. Maka saat para peserta dimasukkan ke dalam situasi dimana harus diam, tidak boleh berbicara satu sama lain, tenang dan sepi, justru timbul keresahan. Saya yakin banyak pertanyaan muncul: “kalau saya butuh sesuatu, bagaimana?”; “kalau saya tidak memahami penjelasan Romo tentang konsep yang dijelaskan, saya harus bertanya kepada siapa, sementara saya malu kalau harus langsung bertanya kepada Romo?”; “kalau saya sakit, bagaimana?”; “kalau saya papasan dengan sesama peserta, masa saya tidak menyapanya, nanti saya di cap sombong” dan beribu pertanyaan lainnya. Belum lagi kekhawatiran bertemu dengan diri sendiri, yaitu pikiran-pikiran kita sendiri yang dapat dengan bebas dan liar bermunculan tanpa bisa dibendung, yang selama ini selalu kita simpan paling dalam ataupun kita sangkal keberadaannya, yang tanpa disadari menjadi pendorong untuk berlari dari suasana hening.

Pada saat awal saya mengikuti meditasi, hal-hal tersebut pun saya alami. Maka hanya dengan alasan kepatuhan terhadap aturan saja, saya menjalani silentium. Saya komit untuk tidak berbicara.

Dalam silentium, hal pertama yang saya hadapi adalah diri saya sendiri. Saya langsung berhadapan dengan pikiran saya yang tidak berhenti bermunculan, pikiran yang begitu sibuk dan tidak pernah berhenti. Meskipun bising, selama ini kesibukan dan hingar-bingar denyut kota Jakarta menjadi tempat saya bersembunyi dari kesibukan pikiran saya sendiri. Saat bertemu dengan pikiran-pikiran itu, seolah olah saya harus berhadapan dengan diri sendiri. Maka dalam keheningan saya menghadapinya, menerimanya, memeluknya, dan berdamai dengannya, kemudian ketenangan tidak lagi hanya di ranah fisik; tidak berbicara, tidak menimbulkan kegaduhan, tetapi juga meresap jauh hingga menyentuh batin.

Lebih jauh lagi, dengan silentium saya bisa secara jernih melihat pikiran apa yang muncul dan perasaan apa yang mengikutinya, menyadarinya dari saat ke saat. Maka buat saya silentium adalah alat yang bisa mempertajam kepekaan saya untuk “melihat ke dalam” dan untuk terus berada pada saat ini. Maka silentium bukan lagi sebagai peraturan, tetapi menjadi alat dan kebutuhan dalam perjalanan spiritual saya, dalam proses untuk “melihat ke dalam”.

Peace Walk
Di retret kali ini, di salah satu pagi di hari-hari awal masa retret, dimana hari masih gelap dan udara pagi masih terasa dingin, saya menggunakan kaos kaki untuk memberikan kehangatan dan rasa nyaman selama meditasi pagi. Seperti biasa, kami memasuki ruang meditasi, dan langsung bermeditasi dalam suasana hening berbalut Selimut Dhamma (the Seal of Dhamma) yang melindungi dari udara pagi yang dingin. Saya bermeditasi dalam hening. Menyadari pikiran yang muncul dari waktu ke waktu.

Saya merasa bahwa saya sudah cukup lama bermeditasi, dan terdengarlah “tiiiiiiiinnggggggggg…” Bel Romo bergema sebagai tanda meditasi berhenti. “Asiikk meditasinya selesai. Artinya, saya bisa meluruskan kaki saya yang sudah mulai mati rasa…”

Romo berkata “mari kita melakukan peace walk.” Saya langsung berpikir “aahh enak juga nih peace walk. Mungkin seperti walking meditation. Lumayan bakal mengurangi pegalnya kaki”.

Kemudian Romo mengatakan bahwa kita perlu mencopot kaos kaki dan kita akan berjalan di atas rerumputan di halaman wisma tanpa menggunakan alas kaki. “Waduhh harus buka kaos kaki ya.. dingin dong..” Otomatis meluncur pemikiran seperti itu. Namun, saya pun langsung mencopot kaos kaki, dan menanggalkan kenyamanan saya. Si pikiran muncul “Apa lagi sih ini….. hmmm jalan di atas rumput; nanti kalau ada semut gimana; saya alergi dengan gigitan serangga; pasti kaki saya bisa bengkak; dan kalau saya menginjak cacing bagaimana”.

Dalam sepersekian detik, pikiran itu muncul dengan cepatnya. Bayangkan, sebagai warga Jakarta, yang sudah tidak mudah menemukan rumput, pasti sudah sangat lama sekali tidak pernah berjalan di atasnya. Namun saya tidak berdaya untuk menolak. Saya harus melakukannya. Saya berjalan mengikuti semua peserta yang langsung berjalan di belakang Romo.

Saat saya akan membuat langkah pertama meninggalkan ruang meditasi dan harus melangkah ke arah halaman, ada suara di benak pikiran “Inilah saatnya…good bye kehangatan, keamanan dan kenyamanan…. Hmm saya harus pilih jalan yang enak ahh..” Demikian si pikiran muncul dan sayapun memilih untuk menginjak bebatuan jalan setapak. Saya berpikir
“Hmm.. masih ok lah kalau bebatuan ini, asal jangan kena rumput nih, agak basah karena embun pagi, pasti dingin…”.

Saya melanjutkan berjalan dari satu batu ke batu berikutnya tanpa menyinggung rumput yang tumbuh diantaranya. Namun hal itu tidak bisa saya pertahankan lebih lama, saya sudah sampai di ujung bebatuan dimana saya tidak memiliki pilihan apapun kecuali menginjak rumput pagi yang basah.

Si pikiran langsung muncul lagi “Oh no… harus menginjak rumput ini… basah…lembek…ihh jijik… tapi aduh kayaknya saya ga bisa berbuat apa-apa, saya nggak bisa dong bilang ke Romo bahwa saya jijik.”

Akhirnya saya melangkah di atas rumput. Saya menjadi ragu. Muncul rasa keengganan yang luar biasa di dalam hati. Saya bisa merasakan adanya helai rumput-rumput yang saya injak, masih basah, dan juga tanah yang lembek. Si pikiran muncul lagi, “Sesuai dugaan… basah dan lembek…. Semoga nggak ada serangga yang gigit… tapi pasti banyak cacing… nah rumah cacing yang tanahnya menggunung, pasti tanah itu jadi lembek banget karena embun pagi ini, wah kalau keinjak, iihhh… pasti ga enak banget kena telapak kaki, semoga saya ga menginjak rumah cacing.”

Tiba-tiba Romo berkata “Sadari setiap langkah tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka…” Entah mengapa, perkataan Romo tersebut rasanya seperti ditujukan kepada saya, untuk menjawab suara-suara yang sibuk di kepala saya. Kalimat itu saya ulangi beberapa kali dalam hati, saya pahami dan resapi. “Menyadari tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka …” Kemudian secara langsung kalimat tersebut benar-benar melemahkan bahkan menghentikan kesibukan pikiran saya dan berubah menjadi sumber energi untuk saya bisa melangkah. Setelah itu setiap langkah menjadi lebih mantap dan lebih ringan. Saya menyadari setiap langkah, saat kaki kanan terangkat dan mendarat dengan bagian tumit terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan seluruh telapak kaki kanan saya yang menapak kuat di atas rumput pagi, lalu di susul oleh kaki kiri yang terangkat dan melangkah ke depan, tumit kiri mendarat di atas rumput basah, diikuti oleh seluruh telapak kaki kiri. Saya sadari pula bahwa bentuk rumput dan tanahnya, masih sama. Ada bagian yang helai rumputnya cukup renggang sehingga lebih terasa tanahnya, dan ada bagian yang rumputnya sangat lebat sehingga tidak terasa tanahnya. Semua saya jalani, tanpa memilih bagian tanah mana yang akan saya injak, tanpa juga memunculkan rasa suka dan tidak suka. Saya terus melangkah, hingga kegiatan itu selesai.

Pengalaman sederhana di pagi itu, memberikan insight buat saya bahwa betapa cepatnya pikiran dan ego muncul bahkan lebih cepat dari pada kecepatan cahaya. Pikiran dan ego selalu mencari kenyamanan dan berlindung di baliknya. Pikiran dan ego terus merayu saya untuk mengikutinya. Ia hadir dalam bentuk yang sangat halus, sampai bentuk yang sangat nyata, jelas dan terdengar keras. Proses yang saya alami pun tidak mudah. Kemunculan pikiran itupun berjalan dengan sangat cepat, sekaligus sangat halus. Ia tidak cukup terdengar namun ia ada. Ia membesar dan menguat apabila saya terbawa oleh kehadirannya dan langsung mengikutinya. Titik balik buat saya adalah saat saya memutuskan untuk menembus rasa aman atau nyaman, menjalani apa yang harus saya jalani, tanpa berpikir. Saat dijalani, ternyata saya baik-baik saja; segala kekhawatiran saya tidak terwujud.

Seperti halnya air sungai yang mengalir, saya menjalani setiap latihan tanpa membawa banyak kekhawatiran. Meskipun air sungai akan bertemu batu yang menghadangnya ataupun harus terjun karena perbedaan ketinggian dasar sungai, ia terus mengalir. Tanpa berpikir, hanya menjalani saja.

Manusia dan alam
Pada hari kelima di sore hari, kami melakukan meditasi di tengah halaman rumput, di bagian depan wisma. Suasananya sangat menyenangkan dan sangat kondusif untuk bermeditasi.

Saya dapat dengan jelas merasakan angin yang berhembus. Sentuhan angin membawa kesejukan yang menerpa wajah, tangan dan sekujur tubuh. Saya letakkan tangan saya di atas lutut kaki yang bersila setengah lotus, dengan telapak tangan menghadap ke atas sehingga rasanya saya bisa menyerap seluruh kesejukan angin dan udara dengan seluruh permukaan kulit, khususnya melalui telapak tangan. Kesejukan dan kesegaran angin yang bertiup lembut memberikan kesegaran buat jiwa dan raga, yang terus menembus masuk, menyusup ke seluruh sel di dalam tubuh. Kesegaran angin pun membuat saya sadar akan saat ini (here and now).

Suara burung riang gembira berkicau menemani kami bermeditasi. Suaranya yang beragam menunjukkan jenis burung yang beragam Ada yang suaranya keras dan ada yang nyaring. Ada yang suaranya dekat dan ada yang jauh. Ada yang panjang bunyinya dan ada yang pendek-pendek. Ada yang sering terdengar dan ada yang jarang. Saya merasakan bahwa kicauan mereka begitu ringan, tanpa beban, tanpa khawatir, tanpa berpikir, hanya berkicau. Suasana itu memberikan kegembiraan sekaligus ketenangan. Itu menyadarkan saya untuk tidak bersibuk diri dengan pikiran dan menghadirkan saya di momen ini, saat ini dan disini.

Air yang mengalir di sungai pun terdengar dengan jelas. Bunyinya konstan dan terus berlangsung yang menunjukkan bahwa air terus mengalir, walaupun saya yakin di dalam sungai itu terdapat banyak bebatuan. Namun kelenturan air dapat melewatinya dengan baik dan tidak menjadikannya hambatan. Air akan mencari celah yang bisa dilaluinya. Setiap air baru yang bertemu dengan batuan tersebut, tetap menunjukan kelenturan yang sama. Betul, setiap air yang bertemu dengan batuan tersebut adalah air yang baru. Demikian juga dengan momen yang sedang kita hadapi, adalah momen yang baru. Moment ini adalah awal sekaligus akhir; hanya ada satu momen ini, yaitu pada saat ini. Kelenturan air yang dibawa oleh suara gemericiknya, dan kesadaran akan momen yang selalu baru, meresap masuk ke dalam batin, membuat saya dapat secara lentur menyadari kehadiran si pikiran dan tidak terjebak untuk larut di dalamnya, sehingga memudahkan saya di dalam meditasi.

Keberadaan saya di tengah alam, sangat membantu dan mempermudah saya untuk masuk lebih dalam. Saya sungguh hadir pada saat ini disini sepenuhnya. Menyadari setiap pikiran yang hadir dan iapun segera lenyap begitu saja.

Manusia memang sangat dekat dengan alam, karena sesungguhnya manusia memiliki sifat sifat yang sama dengan alam. Ia tidak bisa ada dari dirinya sendiri. Ia membutuhkan berbagai elemen yang membuatnya menjadi ada. “Being is always inter-being,” begitu kata Romo.

Meditasi dan Perjumpaan dengan Tuhan
Meditasi adalah suatu perjalanan ke dalam, perjalanan untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sadar akan segala sesuatu, termasuk menyadari setiap pikiran yang tidak berhenti berdatangan, itulah inti meditasi. Seorang biksu pernah berkata bahwa pikiran ini seperti jumping monkey. Ia dapat datang seenaknya dan dapat melompat dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Ia bisa loncat ke masa lalu, ke momen beberapa menit yang lalu hingga kebeberapa tahun yang lalu. Ia bisa loncat pula ke masa depan, ke bayangan momen beberapa menit atau beberapa tahun yang akan datang. Pikiran adalah seperti seekor kera yang suka melompat-lompat, menciptakan konsep di kepala kita, yang kita proyeksikan berdasarkan pengalaman masa lalu, kemudian memunculkan interpretasi yang bebas dan liar.

Ego tidak lain adalah pikiran, pikiran yang menjadi pusat atau sumber “eksistensi”. Ego adalah pikiran yang mementingkan dirinya, yang menyerap diri kita ke dalam pikiran itu sendiri. Jika kita tidak awas, si jumping monkey lah yang menguasai kita. Oleh karena itu, penyadaran akan kehadiran si pikiran menjadi sangat penting. Prosesnya terus berlangsung tanpa henti.

Selain pikiran, di dalam meditasi segala sesuatu menjadi sangat relatif. Kadang waktu terasa sangat lama atau berjalan sangat lambat. Kadang ia terasa berlalu terlalu cepat, sehingga rasanya kekurangan waktu. Begitu juga dengan fenomena fisik. Kadang kaki dengan posisi bersila ini terasa sangat sakit, hingga menusuk hingga ke tulang terdalam dari sekujur kaki. Ujung jempol kadang mati rasa sampai persendian kaki. Rasanya seperti mau menjerit karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Juga dengan punggung baik punggung bagian bawah, tengah hingga bagian atas. Di lain waktu, kaki dalam posisi bersila terkadang tidak terasa keberadaannya; rasanya ringan. Punggung pun dapat tetap tegak tanpa ada rasa sakit hingga meditasi berakhir. Maka semua fenemona fisik pun bersifat relative.

Ketika kita dibebaskan dari jebakan Jumping monkey, absoluditas waktu dan rasa sakit, kita berjumpa dengan suatu pengalaman yang lain. Pada saat saya bisa secara jelas menyadari setiap pikiran yang datang, maka jumping monkey pun langsung lenyap begitu saja. Kesadaran inilah yang perlu saya hadirkan terus, dari momen ke momen. Hingga akhirnya saya menemukan ruang batiniah yang sangat luas, tidak terbatas dan tidak terdapat apa-apa di sana, kosong, tanpa bentuk apapun. Awalnya saya menemukannya secara samar-samar atau terasa kecil. Kemudian saat saya masuki lebih dalam, ruangan itu menjadi semakin besar, luas dan tidak terbatas, dan semakin jelas bahwa di dalam nya tidak terdapat apapun. Pada saat ruangan tersebut tersadari, sekonyong-konyong saya disergap oleh perasaan ketenangan dan keheningan yang mendalam, sekaligus memberikan luapan rasa kepenuhan yang tidak terbendung, kekayaan yang sempurna, kehangatan yang romantis, sekaligus rasa kesatuan yang tak terpisahkan, dan kebahagiaan yang tiada terkira. Luapan suka cita termanifestasi dalam cucuran air mata dan senyum bahagia terulas di bibir. Inilah yang saya sebut sebagai The Ultimate Happiness (Kebahagiaan Tak-Terbatas). Pada saat bersamaan muncullah pemahaman bahwa inilah rasanya saat kita bertemu dengan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kasih, Yang Maha Penyayang. Cinta yang sangat mendalam atau Tuhan dalam bahasa umum. Ia adalah Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan. Kita manusia adalah juga Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan, sama seperti Dia.

Surrender (keikhlasan atau penyerahan diri)
Di hari kelima dalam retret MTO kali ini, setelah meditasi di taman, ketika sore berganti malam, kami melakukan peace walk lagi ke arah jalan raya. Karena ini adalah peace walk yang kesekian dan saya sudah mulai terbiasa dengan nya, maka saya pun langsung mempersiapkan diri untuk berjalan di dalam barisan yang berjalan mengikuti di belakang Romo.

Di dalam barisan, saya berjalan dalam diam, sama seperti yang lainnya. Kami melangkah dalam kegelapan malam. Saya bisa merasakan jalan yang saya injak. Berawal dari bagian halaman wisma, dimana saya bisa merasakan rumput di bawah kaki saya, sejuk helai rerumputan jelas terasa, dan juga tanah kering yang mulai terasa lembab seiring dengan malam yang mulai turun. Kemudian perjalanan diteruskan dengan menginjak bebatuan jalanan setapak. Terasa jelas keras dan tidak ratanya permukaan bebatuan. Hingga bebatuan jalan setapak itu habis. Ketika harus menginjak jalan yang terbuat dari beton, yaitu jalanan di dalam wisma yang sudah mengarah ke jalan raya. Ada bagian yang betonnya halus, ada yang mulai terurai karena erosi air. Bagian beton yang terurai hanya tertinggal kerikil-kerikil tajam dan pasir, sehingga menimbulkan rasa sakit yang menyengat di kaki. Setelah melewati jalan beton itu, sampailah kami di jalanan aspal, jalan raya yang dilewati oleh mobil, motor dan kendaraan lainnya.

Saat saya melangkahkan kaki di atas aspal, terasa permukaan aspal yang tidak rata. Terdapat kerikil-kerikil kecil dan tajam, yang kalau di injak juga menimpulkan rasa sakit. Ada juga kerikil besar yang juga memberikan rasa sakit yang berbeda dengan kerikil kecil. Ditambah lagi jalan raya tersebut tidak dilengkapi dengan lampu jalan, sehingga jalanan menjadi sangat gelap. Saya terus berjalan. Mengikuti Romo yang berjalan paling depan, menghadapi gelapnya malam. Sesekali terdapat motor atau mobil yang lewat dan lampunya memberikan cahaya sehingga saya bisa melihat jalanan yang akan saya injak di depan saya. Saya bisa menghindari kerikil ataupun benda lain yang berbahaya. Namun setelah itu saya akan masuk lagi ke dalam kegelapan malam, dan terus melangkah.

Kemudian “Ttiiiiiinnngggg…” bel Romo bergema. Kami berhenti dan berdiri menghadap ke arah kota yang terletak di bagian bawah, jauh di depan kami. Terlihat kota yang penuh gemerlap lampu dan kembang api yang meledak di udara. Hari itu adalah Hari Lebaran sehingga penduduk kota merayakan kemenangan dengan menyalakan kembang api. Tampak indah dari kejauhan. Dalam keheningan malam itu, kami berhenti berjalan dan menatap pemandangan itu. Hening. Setiap peserta mengalami prosesnya masing-masing. Begitu juga dengan saya.

Saya berpikir, bahwa kami ini benar-benar melakukan apa yang diminta Romo untuk kami lakukan. Romo minta kami berjalan, kami berjalan. Romo minta kami berhenti, kami berhenti. Tidak ada seorangpun yang mengeluh dan protes akan keputusan dan kegiatan yang harus kami lakukan. Walaupun sesungguhnya Romo mengajak kami berjalan di jalan raya yang gelap. Bisa saja ada motor atau mobil ngebut yang tidak melihat keberadaan kami dan menabrak kami yang sedang berjalan. Ataupun bisa saja kami menginjak pecahan kaca yang berserakan di jalan raya. Namun semuanya itu tidak menjadi hambatan. Semua peserta tanpa terkecuali, melakukannya, juga saya.

“Tttiiiiiinnnnggg….” bel Romo bergema kembali dan Romo lanjut berjalan. Pada kesempatan itu, saya kebetulan tepat berada di belakang Romo. Saya berjalan mengikuti Romo. Saya melihat setiap langkah yang Romo lakukan dan saya pun mengikutinya. Langkah-langkah mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun. Lalu sekonyong-konyong saya tersergap oleh pemahaman akan kata SURENDER. Itulah yang kami lakukan dalam peace walk. Itu lah yang saya lakukan dan alami juga. Saya totally surrender (berserah total). Saya tidak tahu apakah saya akan menginjak pecahan kaca. Saya juga tidak tahu apakah saya akan menginjak jalan halus yang nyaman. Saya hanya berserah diri dan mengikuti semua kegiatannya dengan sepenuh hati. Pemahaman itu sekaligus memberikan rasa kepenuhan yang meluap keluar. Hingga saya pun tidak bisa membendung air mata yang bercucuran. Setiap langkah yang saya lakukan di gerakkan oleh sikap batin yang totally surrender.

Saat saya menginjak kerikil kecil yang memberikan rasa sakit minta ampun, saya tidak mengeluh sedikit pun dan saya pun tidak membiarkan kerikil itu terus melekat di telapak kaki saya atau saya tidak melekati penderitaan itu. Saya hanya melangkah. Tidak selamanya saya bertemu kerikil atau aspal yang tajam. Ternyata di langkah berikutnya, saya bertemu dengan aspal yang halus tanpa adanya kerikil, belum lagi ada cahaya lampu motor yang lewat, sehingga saya bisa melihat dengan jelas. Saya pun tetap melangkah. Jalanan yang halus tidak bisa membuat saya berhenti dan menikmati kenyamanan yang diberikan. Kenyamanan itu pun saya tinggalkan dan terus melangkah. Sekali lagi saya pun tidak melekati kenyamanan itu. Saya tidak tahu bagaimana kondisi jalanan di depan. Saya hanya terus melangkah. Secara sadar saya semakin paham dan yakin bahwa segala sesuatu dapat terus berjalan karena digerakan oleh sikap batin yang totally surender. Keharuan dan kepenuhan yang meluap-luap terus menemani langkah-langkah saya.

Saya teringat akan keseharian saya, dimana seringkali saya merasa bahwa segala yang saya peroleh adalah hasil dari usaha dan kerja keras saya. Tampaknya semua berada di dalam kontrol dan genggaman saya. Itu adalah bentuk kesombongan yang terus memperkuat ego dan memenjarakan kebebasan saya. Kini saya sadar bahwa hanya dengan totally surender semuanya akan baik-baik saja. Kesombongan tidak akan membawa saya kepada kebahagiaan. Kesombongan hanya memperkuat ego yang memenjarakan saya dalam penderitaan. Sebaliknya sikap batin yang totally surrender akan membawa saya kepada kebahagiaan.

Rasanya buat saya peace walk malam itu adalah kompilasi atau puncak pemahaman selama retret. Pada saat kita memberikan diri kita secara penuh dan digerakkan oleh sikap batin yang totally surrender, maka tidak ada lagi kekhawatiran, tidak ada lagi kemelekatan; yang ada hanyalah Kepenuhan, Kebahagiaan, dan Kebebasan. Semoga keikhlasan atau penyerahan diri secara total menjadi sikap keseharian saya.*

By J. Sudrijanta

Setiap orang pernah merasakan saat-saat terberat dalam hidup. Ada saat-saat jatuh, kehilangan nama baik, dianggap rendah, mendapat penolakan, tidak dimengerti, dikhianati, putus cinta, gagal, kehilangan orang yang dicintai, menderita sakit, dst. Anda bisa membuat daftar lebih panjang tentang beban-beban hidup Anda.

Apa yang sesungguhnya membuat hidup terasa berat? Bukankah adanya rasa diri itulah yang membuat hidup terasa berat? Rasa diri sebagai entitas yang permanen dan abadi itulah esensi dari ego dan keakuan. Ego dan kekauan itulah bebannya, bukan hal-hal apapun yang datang dari luar. Semua yang lain hanya tambahan. Apabila tidak ada rasa diri—tidak ada ego, tidak ada keakuan–dalam hubungan dengan apapun, maka tidak akan ada saat-saat yang terlalu berat.

Dalam meditasi, pengalaman tanpa-diri—tanpa ego dan tanpa keakuan–adalah pengalaman puncak pembebasan atau puncak pengalaman mistikal. Beban yang barangkali kita panggul bertahun-tahun lamanya lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya “eksistensi diri”. Lalu kita hadir pada moment kekinian dari kedalaman batin dengan membawa dimensi kemahaluasan, keindahan, keheningan, atau kesadaran.

Barangkali pengalaman tanpa-diri ini hanya berlangsung sebentar dan memberi kita kilasan rasa pembebasan yang tiada tara atau kilasan pengalaman mistikal yang menggetarkan. Kemudian beban hidup akan terasa kembali begitu ego dan keakuan muncul. Tetapi setiap kali ego dan keakuan dikenali kemuncullannya dan lenyap, pembebasan dan kelegaan seketika bisa kita rasakan.

Tulisan ini tidak akan menjelaskan seperti apakah pengalaman puncak pembebasan ataupun puncak pengalaman mistikal itu. Melainkan akan menerangi pertanyaan bagaimana ilusi adanya eksistensi diri sebagai ego dan keakuan bisa ditanggalkan.

Untuk mengalami tanpa-diri, orang musti mengenal diri. Dalam kesadaran meditasi, Anda tidak bisa mengatakan bahwa di sini tidak ada diri, tanpa mengenal atau melihat dengan jelas ilusi “eksistensi diri”. Dengan kata lain, diri tidak bisa dinegasikan tanpa melihat kemunculannya. Ilusi hanya bisa dinegasi apabila kita bisa melihat dengan jelas keberadaannya.

Persoalannya, meskipun kita sudah merasa berbeban berat, bukannya kita tidak mau meletakkan beban-beban yang kita bawa, kita seringkali tidak melihat pokok bebannya. Kita berpikir bebannya berasal dari luar, bukan di dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi, meskipun kita melihat beban itu ada dalam diri sendiri, kita tidak melihat dengan jelas bahwa ilusi “eksistensi diri” adalah beban pokoknya. Oleh karena itu, melihat bagaimana ilusi ini muncul, bergerak dan ada, akan membantu kita dalam berlatih.

Tidak henti-hentinya kita mengafirmasi atau memperkuat “eksistensi diri”—“aku,” “diriku,” “milikku”– dengan segala cara. Pada dasarnya itulah yang mewarnai hidup kebanyakan orang di dunia. Sekalipun “eksistensi diri” ini kita pertahankan atau kita lindungi terhadap segala ancaman, kita masih saja tetap merasa tidak aman. Kita punya anggapan bahwa diri adalah suatu entitas solid yang eksis dari dirinya sendiri. Apabila kita melihat dengan jernih fakta bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu atau seseorang yang memiliki “inti-diri” yang demikian, maka kita tidak akan merasa terlalu sering menderita.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga cara utama bagaimana ilusi bekerja menciptakan “inti-diri.” Ia eksis melalui identifikasi, posesi, dan proses menjadi.

1) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “identifikasi diri”.

Kita mengidentifikasikan diri dengan sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” atau “diriku.”

Banyak hal bisa kita jadikan objek identifikasi diri. Berikut adalah contohnya. Aku seorang lelaki, seorang perempuan, atau trans-gender; aku seorang kaya, seorang miskin, seorang dari keluarga terpandang atau keluarga jelata; aku adalah seorang suami, seorang isteri, seorang anak; aku seorang pengusaha, seorang karyawan, seorang akademisi, seorang pelajar; aku seorang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau tak-beragama; aku seorang yang malang dan tidak bahagia, atau seorang yang bernasib baik dan bahagia.

Kita sering menggunakan kata ganti “aku” dalam berkomunikasi dan kita meyakini adanya “si aku” sebagai entitas solid dan itulah siapa kita. Ketika sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” terancam bahaya, maka kita mudah gelisah, cemas, khawatir, takut, panic, menderita.

Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bersifat pemanen; segala hal berubah. Maka menjadikan sesuatu atau seseorang yang terus berubah sebagai penopang eksistensi “si aku,” membuat “si aku” merasa terus-menerus terancam. Apabila anak-anak sudah pergi, “si aku” tidak lagi bisa menikmati peran sebagai ibu atau ayah mereka. Apabila kehilangan pekerjaan dengan pendapatan yang baik, “si aku” tidak bisa menikmati kenyamanan hidup seperti sekarang. Apabila kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang dipegang teguh dilepaskan, “si aku” kehilangan penopang rasa kepastian.

Mengapa saat duduk meditasi, rasa sakit yang timbul dalam tubuh fisik atau batin gampang membuat kita menderita? Proses identifikasi “Tubuh ini adalah aku; aku adalah batin ini” sudah berlangsung. Mengapa pikiran terus berlari dan kita bisa dibuat lelah? Proses identifikasi terus berjalan. Identifikasi menjadi taruhan hidup dan matinya ego. Ke mana pikiran pergi, identifikasi mengikuti. Ia menjadikan objek-objek yang ditemui sebagai objek identifikasi. Itulah mengapa sulit pikiran berhenti. Karena tanpa pikiran terkondisi, tidak ada identifikasi.

2) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “posesi”.

Identifikasi membawa kepada rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai “milikku.” “Aku eksis kalau memiliki; aku tidak eksis apabila tidak memiliki.”

Terus-menerus kita membawa dalam diri tubuh dan batin. Kita beranggapan bahwa tubuh dan batin ini adalah “milikku”: tubuhku, pikiranku, perasaanku, persepsiku, formasi mentalku, kesadaranku. Karena kemelekatan, “keakuan” muncul dan ketika keakuan muncul, persoalan timbul. Apabila tidak ada “keakuan,” akankah timbul persoalan? Apapun keadaan tubuh dan batin ini tidak pernah menciptakan problem, selama tidak timbul rasa diri sebagai “aku,” “diriku,” “milikku”.

Rasa cemas, gelisah atau khawatir adalah hal-hal biasa yang kita alami baik dalam kesadaran sehari-hari ataupun saat meditasi. Tidak mungkin timbul rasa cemas apabila tidak terdapat kemelekatan terhadap sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”. Kita ingin melindungi “eksistensi diri” dari segala kemungkinan yang mengancam atau melakukan perlawanan terhadap apapun yang membahayakan “eksistensi diri”. Upaya untuk melindungi “eksistensi diri” atau melawan bahaya yang mengancam “eksistensi diri” digerakkan oleh energy yang diciptakan oleh ilusi “eksistensi diri”.

3)Kita memperkuat eksistensi diri dengan “proses menjadi”

Ego memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri, memperkuat dan memperluas diri. Kita merasa kurang eksis atau tidak eksis apabila belum menjadi sesuatu atau seseorang yang kita idealkan. Kita didorong untuk lebih eksis, memiliki hal-hal yang lebih memuaskan dan bersifat tetap. Perjuangan ke luar untuk lebih sukses, lebih berkuasa, atau lebih bahagia telah menjadi cara penopang eksistensi ego yang dominant. Baik kegagalan ataupun keberhasilan akan mudah menjebak kita dalam memperkuat kembali proses identifikasi dan posesi terhadap segala hal dari dunia ini.

Pergulatan kita dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sesuatu atau seseorang sering terbawa dalam meditasi. Pencerahan, pembebasan atau puncak pengalaman mistikal tidak bisa menjadi objek yang bisa kita kejar. Sebaliknya, itu semua akan datang kepada kita sebagai berkah apabila kita sudah banyak melepas. Tetapi tidak ada sesuatu yang lebih sulit dilepaskan kecuali kemelekatan pada konsep adanya “eksistensi diri”.

Tiga struktur penopang “eksistensi diri” inilah yang menciptakan dan memperkuat identitas diri dengan dunia wujud dan melupakan dimensi tak-berwujud. Untuk melihat dengan jelas secara actual manifestasi dari tiga struktur penopang “eksistensi diri” ini, mutlak dibutuhkan kebebasan. Batin musti betul-betul bebas dari keinginan, kebencian, harapan, prasangka. Tidak boleh ada sesuatu yang ditekan, dilawan atau dilindungi; juga tidak boleh ada sesuatu yang menekan, melawan atau melindungi. Lihatlah tanpa ada entitas diri yang melihat!

Tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan untuk menyadarkan siapa Anda yang sesungguhnya. Tulisan seperti ini hanya berfungsi untuk menolong Anda melihat apa yang memisahkan Anda dari siapa Anda yang sesungguhnya yang sudah Anda ketahui dari kedalaman keheningan tanpa-diri.

Anda yang sesungguhnya bukanlah apa yang Anda pikirkan tentang siapa Anda, bukan apa yang Anda miliki, bukan apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda capai. Anda yang sesungguhnya melampaui itu semua, melampaui wujud.

Dengan cara inilah kita setiap kali meletakkan beban-beban yang kita bawa. Semakin sering kita melepaskan beban, semakin bebas dan lega langkah kita. Lalu kita bisa menjalani kehidupan setiap hari secara otentik dan mantap dari kedalaman keberadaan kita yang melampaui wujud.*

Bebas Kekhawatiran

By ACD, 46 th, karyawan swasta

Senang sekali diijinkan mengikuti retreat Lebaran 2016. Ini adalah pengalaman saya yang kedua mengikuti retreat meditasi yang panjang. Saya pernah mendaftarkan juga mengikuti retreat panjang pada saat lebaran tahun lalu, namun saya batalkan sendiri karena belum bisa melepaskan kekuatiran tentang kondisi pekerjaan. Namun timbul penyesalan karena kekuatiran itu sendiri, karena selama libur lebaran tersebut sayapun tidak melakukan apa-apa terkait dengan pekerjaan yang saya kuatirkan.

Kekuatiran muncul berkaitan dengan target yang harus dicapai dalam pekerjaan. Dengan membawa kekuatiran itupun saya niatkan dan mantapkan untuk mengikuti retreat kali ini.

Pada hari pertama saya merasa lucu saja melihat rekan-rekan lainnya hanya berdiam diri, tidak bertegor sapa walau duduk semeja makan dan bertatap muka. Bukannya kali pertama saya menyaksikan situasi seperti ini dalam retret, tapi serasa kali ini lebih lucu saja menyaksikannya sehingga membuat saya sering mendedangkan lagu dangdut dalam hati, sambil sedikit usil sampai akhir retreat tersebut.

Anehnya dengan keusilan tersebut, saya merasakan keheningan yang lebih jauh dalam ruang keheningan yang sangat luas. Apakah itu ekspresi dari bathin itu sendiri?

Sungguh saya sangat menikmati retreat kali ini yang disajikan dengan metode lain oleh Romo pembimbing. Kali ini banyak dipakai metode diskusi kelompok kecil dengan topik bahasan beragam. Diskusi memperkaya pemahaman akan makna kesadaran murni dan membantu kami tidak terjebak dalam teori belaka.

Kekuatiran yang saya bawa rasanya hilang dengan sendirinya. Saya menyadari bahwa masalah pasti selalu ada kapanpun. Bagaimana kita menyikapi dan menyadarinya dalam setiap laku dan langkah, itulah yang terpenting. Dengan menyadari setiap laku dan langkah, kita sadar akan “diri” kita yang sebenarnya.

Tidak terasa retret 9 hari berjalan cepat dan ditutup dengan Misa singkat. Setelah itu kami bisa berbicara lepas. Anehnya saya tidak menemukan kelucuan lagi di hati ini walau sudah berbicara lepas.

Saya menyetir mobil pulang ke Jakarta dengan rasa ringan. Tidak ada sesuatu yang terasa mengganggu dalam batin ini, meskipun timbul bintik-bintik luka kecil di tubuh yang terasa perih saat berkeringat atau saat terkena air ketika mandi. Barangkali efek detoksifikasi masih berjalan.

Akhirnya saya kembali lagi beraktivitas seperti biasa di dalam keluarga, pekerjaan dan terlibat dalam hubungan-hubungan inter-personal. Saya membiarkan kesadaran bekerja dalam setiap hubungan tersebut.

Saya membawa kesadaran baru bahwa kekwatiran itu bukanlah diri saya. Saya yang sesungguhnya adalah Kesadaran. Tugas saya adalah menjalankan tanggung jawab di dunia ini dengan penuh Kesadaran. Jalani dan jalani saja untuk kebaikan sesama dan alam semesta ini. Apapun yang terjadi, jalani saja. “Just Do it.”

Terimakasih
Salam
ACD

By AF, 50 tahun, karyawan sebuah Bank.

Terima kasih atas pengalaman dan bimbingan selama retret meditasi lebaran ini. Rasanya sulit untuk menuangkannya, karena setiap peristiwa sarat makna.

Saya senantiasa merindukan dapat ikut retret meditasi setiap tahun. Bagi saya, mengambil waktu khusus untuk mundur dari hidup keseharian, diam bermeditasi, sudah menjadi kebutuhan. Saya sempat mengalami keraguan sebelum mendaftar retret 9 hari ini. Ini tahun ke-7 saya rutin ikut retret meditasi dan sudah pernah 4 kali ikut yang 10 hari. Sejak ibu meninggal bulan Oktober 2015, saya memilih untuk pulang ke Semarang setiap weekend atau libur panjang. Ada ikatan batin untuk lebih memperhatikan keluarga terutama sejak kami menjadi yatim-piatu, dan sekaligus ingin menjenguk kakak yang harus hemodialisa seminggu 2 kali, serta beberapa kalidirawat di RS/ ICU. Masih terbayang amanat terakhir ibu,agar kami hidup rukun, saling memberi-menerima dan mencintai. Kondisi fisik saya beberapa bulan terakhir hampir selalu pulang di atas jam 9-10 malam bahkan nyaris tengah malam atau dini hari baru tiba di rumah. Lengkaplah kelelahan saya. Syukur kepada Allah karena pada saatnya, saya dapat mengikuti retret meditasi lebaran 2016.

Selama retret meditasi, saya sering mengalami pergulatan menghadapi berbagai obyek bebas-liar yang selalu muncul melalui pikiran. Penjelasan Romo mengenai “I”, “me”, “mine”, “self” dan “no self”, pada awal retret, sangat membantu saya untuk menemukan kedamaian sekalipun kecamuk obyek bebas-liar masuk-keluar. Obyek masuk dalam wujud apa saja: masa lalu, memori, angan-angan, kondisi, ingatan yang menyakitkan, peristiwa, kegalauan untuk mengubah posisi tubuh, atau reaksi terhadap serangga. Obyek bisa berupa fisik maupun non-fisik dari dalam atau luar diri. Setiap bergumul dengan obyek, pikiran tercurah pada daya upaya, ketidakjelasan, dan ketidakbermaknaan.

Dengan menetapkan hati penuh kesadaran pada saat mengambil sikap siap akan memulai meditasi, bahwa ini adalah Meditasi, tidak ada aku (ego/ diriku) yang bermeditasi. Tidak ada artinya semua penderitaan atau rasa sakit timbul-lenyap tanpa ada si aku. Dengan cara ini, saya merasa sangat mudah untuk masuk ke dalam suasana hening. Setiap obyek yang tiba-tiba masuk saya ikuti, dan begitu kesadaran muncul, tanpa ampun pikiran terhenti; kemudian mantap masuk kembali bergumul dalam keheningan, menembus dalam. Penderitaan yang muncul tidak mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak runtuh oleh penderitaan. Tidak menetapkan target apapun saat meditasi, selain hanya ingin “diam” masuk dalam keheningan. Ini justru membuat saya memperoleh kekuatan untuk bertahan lama dalam keheningan. Saat diri sadar ada penderitaan, tertekan, sakit luar biasa, kesadaran murni muncul dan dengan cerdasnya melenyapkan seluruh penderitaan, mengubah menjadi kekuatan.

Pada hari kedua, ingatan pada kalimat “Diam dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:11), muncul saat meditasi di halaman depan, menguatkan saya untuk masuk lebih dalam, merasakan ketenangan, kedamaian, suka cita, dan penerimaan apa adanya. Menanggalkan “keakuan”, meniatkan diri untuk tekun, sabar, dan “diam” (tidak sibuk dengan pikiran) membiarkan Kesadaran mentransformasi penderitaan. Puji Tuhan, saat mengkonsultasikan kepada Romo, saya mendapat pencerahan bahwa penderitaan hanya merupakan percik-percik kehidupan. Menolong penderitaan orang lain baru dapat dilakukan secara efektif jika kondisi batin bebas (murni).

Dalam kesempatan lain, terumuskan, saat diri pernah meraih keberhasilan, secara normal diri mudah untuk ingin kembali berada pada posisi yang sama. Ibarat permainan jungkat-jungkit, betapa senang saat saya berada di posisi atas. Diri pun ternyata suka dan cenderung mencari rasa aman, pujian, penghargaan, pengakuan. Bagai sekeping mata uang, inipun terjadi saat berkanjang dalam meditasi selanjutnya, di ruangan, di dekat sungai, pendopo, di area atas, saat subuh, pagi, siang, atau malam. Membiarkan diri larut dalam melakukan hal yang disukai ataupun posisi sama yang pernah diraih, jika disadari, hanya mengakibatkan batin terkondisi dengan kemelekatan. Semakin kuat melekat, yang ada hanya ketidakbermaknaan, karena Ego memegang kendali.

Ego adalah pikiran yang terus bergerak, berlari, memenuhi dan mencoba menguasai diri karena dorongan agar puas di posisi atas. Betapa senang jika dapat menguasai, mendapat pujian, dilindungi, jauh dari kesulitan, atau bentuk-bentuk lain sejenis. Sejak lahir hingga dewasa, mungkin hampir setiap anak masuk dalam mekanisme diprogram harus ini dan itu, “ditepuktangani”, diinginkan orang tua menjadi seperti maunya, tanpa menyadari bahwa ada batin dalam setiap diri sang bocah (manusia) yang perlu didengar, diajak berkomunikasi dalam “diam.”

Hanya dengan Kesadaran Murni, memahami semua obyek, Kenikmatan ataupun Penderitaan, bertahan dan memberi perhatian penuh ke dalam akar Penderitaan, tidak jemu terus-menerus berada dalam “diam”, maka kita dimampukan untuk mengalami kelegaan, kedamaian, penyembuhan atau pemurnian batin.

Berbagai moment kedamaian saya alami saat peace walk dan jeda standing meditation, berjalan tanpa alas kaki di atas rerumputan, jalanan, dan segala obyek, dalam kegelapan, menyadarkan saya bahwa Allah begitu memberikan kasih yang besar kepada saya, dan betapa bumi, langit, dan semesta memiliki enerji luar biasa yang dapat memberi dan menguatkan kesadaran saat kita mau “diam”, hadir melalui meditasi.

Puncak ekstase meditasi yang saya rasakan adalah saat meditasi malam di pinggir sungai, dalam deburan suara air, gemerisik angin, gesekan dedaunan, berbagai bunyi hewan dan unggas yang saling memadu bersahutan. Sangat indah. Saat penderitaan terasa menghampiri dan mendesak, saya menarik dan menghembuskan nafas panjang beberapa kali. Sempat terasa tubuh saya terangkat, begitu ringan. Sungguh kedamaian yang teramat dalam.

Melalui alam semesta saya banyak dicerahkan. Memahami suara air yang mengalir tiada henti, dahan pohon yang tenang tegak berdiri, sapaan angin malam penuh kelembutan, malam yang tidak selamanya kelam, langit berhiaskan bulan dan bintang. Semua bergerak tenang-damai, memberikan enerji bagi saya untuk lebih dalam bersyukur. Tak terasa menitikkan air mata rasa syukur saat menatap langit dan terlintas senandung “Betapa Mulia Nama Tuhan…”

Meditasi mencerahkan saya, mengingatkan saya sebagai mahluk ciptaanNya, untuk senantiasa “diam” hadir bersamaNya. Tanpa sibuk berdaya upaya, tanpa target, diam bersama nafas. Saya percaya bahwa Roh yang telah diberikan Allah kepada tiap manusia, dan hanya hadir total melalui diam, pasrah, berserah, sadar penuh, tekun-sabar dalam penderitaan, maka batin bening murni bebas tak terkondisi akan terpelihara abadi.

Pencerahan retret saya rasakan sudah muncul sejak kehadiran, saat secara acak saya mengambil dhamma-sheet berisi “Praktek Kesadaran keempat: Menyadari Penderitaan”. Saya tergetar karena sangat pas dengan kondisi saya yang sedang memikirkan bagaimana cara menolong penderitaan orang lain. Saya belajar melihat lebih dalam makna penderitaan, belajar menerima, memeluk, mendengarkan dengan segenap enerji kesadaran, tidak menutupinya dengan berbagai kesenangan, melainkan terus berlatih dengan tekun, bertahan bersama penderitaan dan siap bertahan di dalamnya selama apapun jika kondisi menuntut demikian. Hanya dengan cara memahami akar penderitaan, barulah dapat terjadi transformasi Penderitaan. Selajutnya barulah saya dapat menolong orang lain, lewat perjumpaan dengan tiap pribadi secara langsung maupun tidak langsung.

Secara umum saya memperoleh Pencerahan sejak awal hingga akhir retret. Saya pulang dengan mantap, dan setidaknya lebih tahu dibanding sebelumnya, apa yang harus lebih dulu saya lakukan terhadap diri saya sebelum menolong penderitaan orang lain.*