Category: Testimonial


Praktik Menyadari Penderitaan

WPH, 34 tahun, PNS, Ngawi

Dahulu ketika kehidupan saya berjalan dengan “baik”, saya tidak pernah tertarik dengan segala hal berbau spiritual. Kehidupan rohani saya hanya sebatas ke gereja pada hari minggu, tetapi kemudian saya mengalami titik balik kehidupan saya. Permasalahan datang bertubi-tubi menghantam perkawinan saya hingga hancur, terpisah dengan anak-anak dan membuat saya terpuruk jatuh. Hal itu membuat saya seperti mempunyai dua kehidupan yang terpisah Di depan banyak orang saya menampilkan seorang perempuan yang tegar, mandiri, kuat dan penuh tawa, tetapi saat sendirian saya tidak bisa lepas dari air mata dan meratapi kehidupan saya yang menyedihkan. Jiwa saya serasa mati.

Sejak saat itu saya mulai tertarik mendalami dunia spiritual meski awalnya hanya untuk penghiburan atas derita saya. Saya mulai dengan membaca buku rohani, misa harian, sampai retret pribadi di pertapaan Gedono. Semua itu memang memberikan kekuatan dan banyak penghiburan, tetapi tidak memberikan sesuatu yang melepaskan saya dari penderitaan saya. Kemudian saya bertemu dengan seorang teman yang menawarkan untuk mengikuti retret meditasi sehingga saya banyak membaca buku meditasi dan browsing di internet untuk mencari segala hal berkaitan dengan meditasi dan menemukan webiste www.meditativestate.wordpress.com. Akhirnya saya mendaftar untuk mengikuti retret meditasi ini.

Retret meditasi di Villa Tjokro ini adalah retret meditasi dibawah bimbingan Romo Sudrijanta yang kedua yang saya ikuti. Yang pertama retret di muntilan tgl 26-28 Juli 2013. Selama mengikuti kedua retret ini terbuka mata saya, bahwa segala cara saya mengenyahkan penderitaan saya selama ini salah. Penderitaan dalam bentuk ketakutan akan masa depan, kemarahan dan kesedihan ternyata berasal dari pikiran saya. Semua itu tidak akan hilang selama saya tidak melepaskannya. Ternyata yang saya lakukan selama ini hanya menyembunyikan dan mengubur penderitaan saya dalam-dalam. Saya baru tahu bahwa penderitaan tersebut harus diterima, dipeluk dan diamati secara sadar sampai menghilang dengan sendirinya.

Selama tiga hari pertama retret di Villa Tjokro saya masih belum paham apa yang harus saya lakukan pada saat meditasi duduk, meditasi berdiri dan meditasi berjalan. Saya hanya mencoba duduk diam dan menjalankan instruksi Romo Sudrijanta, sampai-sampai saya hapal semua “petunjuk manual” kalimat-kalimat Romo Sudrijanta selama meditasi. Pikiran saya sibuk mengingat instruksi dan bukan melakukan praktik meditasi. Selama tiga hari itu saya menangis. Setiap sesi meditasi saya teringat dengan semua peristiwa yang telah lewat. Romo mengajarkan untuk menyadari dan mengamati perasaan tersebut, membiarkannya mekar sampai puncak. Tetapi saya lebih banyak terbawa permainan pikiran saya sendiri. Pikiran yang datang selalu ditanggapi “si aku” dengan pikiran baru dan seterusnya, seperti ada beberapa orang yang sedang berdialog di kepala saya, sampai saya merasa sakit kepala hebat. Bagian belakang kepala terasa ditusuk dan nyeri pada ulu hati sehingga saya tidak tahan untuk terlalu lama sitting meditation. Saya tahu kemudian setelah konsultasi dengan Romo Sudri bahwa itu adalah akibat pecahan pikiran yang menguras energy dan menyebabkan ketegangan fisik.

Pada hari keempat saya mulai tenang dan dapat duduk diam, rileks, menyadari dan mengamati pikiran tanpa daya upaya, sampai saya lupa waktu. Hari itu tidak banyak “rapat” di kepala saya. Pada sesi meditasi malam Romo Sudri membimbing ke meditasi yang dalam dengan menggunakan suara bel. Tiba-tiba saya menemukan suatu perasaan aneh yang tidak saya pahami. Apakah masih ada si aku atau tidak, saya tidak tahu. Yang saya rasakan hanya kegelapan yang tenang, damai, terasa nyaman dan bahagia meski hanya beberapa saat, karena saat saya berusaha untuk lebih lama berada dalam keadaan tersebut perasaan tersebut makin memudar. Hal tersebut berlanjut hingga sesi meditasi pagi. Pada kedua Ibu Jari tangan yang bertaut, saya merasakan kehangatan yang menjalar naik dari tangan, lengan hingga membungkus seluruh tubuh saya. Untuk beberapa saat tidak ada rasa dingin yang biasanya mengganggu saya. Tetapi saat saya berusaha tinggal lebih lama dalam keadaan tersebut, rasa hangat itu mulai memudar.

Setelah pengalaman tersebut, pada setiap meditasi terdapat daya upaya untuk mencari dan menemukan perasaan yang sama, meski saya sadar semakin berdaya-upaya saya semakin menjauh. Tetapi memang sulit menghindar dari keinginan untuk mendapatkan “hasil” yang sempat membuat saya kembali putus asa.

Muncul pertanyaan, “Apakah benar, saat orang lain menyakiti saya dengan kemarahannya berarti dia juga orang sakit yang tidak lepas dari penderitaan dan menularkan penderitaan tersebut kepada orang lain? Dengan demikian apakah seharusnya saya merasa kasihan terhadap orang tersebut daripada merasa sakit hati atas perbuatannya?” Saya tergerak untuk menolongnya agar menyadari kesakitannya dan bukan menghindarinya. Mungkin ini aneh ya. Soalnya, melepaskan rasa sakit luka batin saya saja saya belum dapat dan sekarang mau menolong orang lain. Tetapi paling tidak perasaan itu sedikit meringankan sakit saya.

Dua hari terakhir retret, saya baru merasa sangat nyaman dan menikmati keheningan dalam diam. Perlahan baru memahami bagaimana diam mengamati pikiran, bukan sekedar mengulang perkataan Romo Sudri sebagai hapalan, meski masih sulit meruntuhkan ego.

Terakhir, saya sungguh berterimakasih atas kesempatan mengenal Romo Sudrijanta serta kesempatan praktik kesadaran meditasi tanpa obyek ini. Semoga pada akhirnya, saya dapat menyembuhkan “penyakit” saya. Terimakasih juga atas kiriman 17 komitmen praktek kesadaran yang menurut saya sangat luar biasa dan menginspirasi. Semoga saya dapat terus mempraktekkannya dalam kehidupan saya sehari-hari.

Tinggg…

Salam Damai

-WPH-

LK, 53 tahun, Bekasi

Saya terbangun dan membaca berita sms, bahwa Romo Alfons Sebatu meninggal dunia kemarin sore jam 17.30. Sungguh berita yang sangat mengejutkan! Seminggu sebelum retret bersama Romo, saya mengikuti seminar beliau di aula gereja Kota Wisata, Cibubur.

Seharusnya seminggu sebelumnya, saya mengikuti seminarnya di keuskupan Bogor tentang penyembuhan luka batin; sayangnya saya tidak bisa hadir karena sakit. Ada rasa kehilangan dan sedih, saya masih ingin mengikuti seminar-seminar beliau. Tapi kehidupan adalah fana, begitu cepat berlalu. . . . Saya seperti diingatkan Romo dalam walking meditation: “Nafas pertama adalah nafas terakhir”, “langkah pertama adalah langkah terakhir. . . . ” Jadi saya memaksakan diri untuk menulis email ini. Siapa tahu kapan nafas kehidupan ini berakhir, saya akan mempunyai hutang email kepada Romo kalau saya mendadak meninggal sebelum sempat mengirim email ini. Kata Djohan Suami saya, “Life is too short. . . “ (Hidup begitu pendek) untuk menyelesaikan semua yang harus dikerjakan dan tak akan ada habisnya dalam satu kehidupan ini.

Apa yang saya alami selama seminggu retret meditasi sangat mengesankan dan kaya dengan pengalaman baru, sehingga sulit untuk menceritakannya secara rinci. Memori memang semakin memudar dengan berjalannya waktu. Romo benar.

Malam pertama, saya masih merasa berat menjalani retret ini. Seperti yang saya jelaskan kepada Romo, saya galau dan cemas mengikuti retret ini, takut tidak tahan harus bermeditasi seharian selama 7 hari, apalagi kondisi saya sedang tidak fit. Rasanya pas kalau Djohan bilang, saya nekad. Saat terakhir, saya masih menyesali mengapa tidak ikut yang 3 hari saja seperti Stevanus Gunawan. Apalagi Poppy Melati, teman SMA saya bilang, “Kok rajin amat sih ikut retretnya Romo Sudri, kan dia antik orangnya. ” Saya tidak risau tentang Romo, tetapi saya takut dengan kemampuan saya apa bisa tahan mengikuti retret? Tiga hari ikut Vipassana dr. Hudoyo rasanya sudah berat banget. Tapi saya yakin retret ini bagus.

Saya mendengar pertama kali tentang Romo tahun 2008, waktu Romo masih di St Anna, Duren Sawit, dari rekan sekantor. Dia termasuk umat yang anti dengan meditasi yang Romo ajarkan. Waktu itu saya berpikir, saya ingin kenal dengan Romo yang wawasannya luas dan lintas agama ini.

Selang beberapa tahun kemudian, lupa kapannya, Stevanus Gunawan cerita tentang pengalamannya ikut meditasi dengan Romo. “Menyenangkan dan bagus”, komentarnya. Dia malah mengirimi saya VCD-VCD kotbah Romo di St Anna. Saya baru mengenal Romo dari jauh.

Terakhir Susy sharing mengenai pengalamannya mengikuti retret Romo di Kintamani, Bali. Menurut pengakuannya, dia mengalami penyembuhan luka batin semasa kecil dan sewaktu di SMA dan bisa memaafkan suaminya dengan tulus. Rasanya saya terdorong untuk ikut, tapi saya takut tidak tahan retret 7 hari. Maunya ikut yang 3 hari, tapi ternyata belum ada saat itu. Saya kan bukan praktisi meditasi, gila apa ikut retret 7 hari! Guru taichi saya yang selalu support saya secara mental menyemangati, “Kamu pasti bisa!” Kakak ipar saya ikut mendukung supaya ikut retret ini; dia umat di paroki Romo. Dia bilang , “Ikut aja, Romonya bagus !”

Beruntung ada teman lingkungan, Ibu Cypriana, yang secara ajaib juga ikut; jadilah saya punya teman retret. Tetap hari-hari terakhir akan berangkat makin stress, apalagi membaca Tata Tertibnya, total silence selama seminggu, makan cuma 2 kali sehari. Terpikir, “Nanti kalau maagnya kambuh bagaimana ya? Masa sakit waktu retret? Kalau dalam keheningan meditasi, perut keroncongan, bukannya bikin ketawa?” Saat-saat terakhir akan pergi, rasanya kacau dan terburu-buru; akibatnya vertigo dan insomnia saya makin parah. Baru pagi keberangkatan, saya beresin koper dalam keadaan sakit kepala parah. Tidak tahu apa yang harus dibawa; saya mengikuti naluri saja. Jadi bisa dibayangkan, seperti apa kondisi saya waktu malam pertama.

Hari Kedua

Dalam walking meditation di taman, untuk pertama kalinya saya merasakan kehadiran “Yang Maha Kuasa” di alam sekitar. Ini yang selalu dirasakan suami saya setiap berjalan pagi; yang tidak pernah saya rasakan, saya sadari saat itu. Mengapa saya tidak bisa merasakannya? Karena pikiran dan ego menguasai diri saya selalu. Saya ingat Djohan selalu mengatakan, “Keluar dari lingkup diri, jangan selalu berpikir dalam penjara ego, tapi keluar!” Saya sampai terharu mengalami kesadaran untuk pertama kalinya. Selama ini saya sudah bersikap egois dan sibuk dengan pikiran-pikiran liar saya sendiri. Saya paksa diri saya untuk bicara dengan Romo dan menjelaskan situasi saya; rasanya lebih melegakan.

Hari Ketiga

Setelah konsultasi dengan Romo lagi pada pagi harinya, siangnya saya merasa vertigo saya makin memburuk. Saya sampai menulis ke Wilian untuk minta apakah saya bisa pindah ke kamar bawah , karena kalau turun tangga, kepala saya kliyengan. Rupanya Mona, panitia, bilang tidak bisa. Tidak apa-apa juga sih, karena saya juga malas menata koper lagi untuk terus pindah ke bawah; kepala saya tambah sakit jika melihat ke bawah.

Seperti dalam setiap sesi meditasi, pada meditasi malam saya selalu ketiduran. Tapi kali ini saya terbangun dan kaget luar biasa, karena tubuh saya lumpuh, dada dan isi tubuh saya seperti terbagi dalam kotak-kotak hitam besar. Sakitnya luar biasa! Saking sakit dan kagetnya, spontan di dalam hati saya menjerit, “Romo! Romo. . . . ” Saya sadar, Romo ada di sebelah saya, tapi saya serasa lumpuh tidak bisa bergerak; hanya rasa sakit hebat yang mendera. Kemudian saya ingat Romo bilang, “Kalau merasakan sakit, sadari, amati dan rasakan sampai titik puncak; nanti akan mereda dan akhirnya hilang.” Jadi saya duduk diam, mengamati, menyadari, merasakan sakitnya memuncak, kemudian sedikit demi sedikit mereda. Yang terlihat pada penglihatan saya, kotak-kotak hitam itu perlahan-lahan luluh sebagian-sebagian ke bawah, sampai akhirnya luluh semua, meninggalkan dada dan perut saya serasa kosong yang melegakan. Saya merasa Romo telah membantu saya entah bagaimana. Dalam hati saya mengucap syukur dan terima kasih kepada Romo atas bantuannya.

Hari Keempat

Pada sesi meditasi malam, tiba-tiba saya merasa sakit kepala luar biasa terutama pada sisi kiri,, lengan kiri sampai dada dan perut sakit luar biasa; tidak bisa dilukiskan sakitnya. Karena kemarin sudah mengalami hal yang mirip, saya cuma bisa diam pasrah, merasakan, menyadari rasa sakitnya yang pelan dan pasti memuncak. Dalam penglihatan saya, sakitnya kelihatan seperti gumpalan hitam yang menempel di kepala, lengan, dada dan perut. Kemudian seperti kemarin pelan-pelan gumpalan hitam itu luluh keluar. Dalam prosesnya badan saya seperti ditekan paksa ke bawah, sampai saya terbungkuk dengan sendirinya, tidak kuasa melawan kekuatan besar yg mendorong tubuh saya ke depan. Rasanya seperti ada yang mengatakan, “Be humble !” (Jadilah rendah hati!) Ego harus dikeluarkan atau dilepaskan. Selama proses pelepasan gumpalan-gumpalan hitam, saya merasakan seolah di alam yang gelap ini penuh dengan getaran dan suara gaduh seperti bunyi ribuan jangkrik. Apa ini yg suka disebut Djohan, suara alam? Tubuh saya masih membungkuk, waktu Romo memberi tanda meditasi selesai dan mengatakan sesuatu tentang penderitaan. Jasinta waktu itu heran, “Kok saya meditasi sampai membungkuk?” Sesudah Romo selesai mengatakan sesuatu, tubuh saya pelan-pelan baru bisa saya tegakkan. Rasanya lega tapi sekaligus melelahkan sekali; rasanya semua energi saya terkuras keluar. Saya sampai harus duduk di kursi dan kemudian ke toilet untuk cuci muka. Sesudahnya walking meditation berjalan lama sekali. Saking tubuh terasa lelah dan tenaga terkuras, rasanya jadi lapar sekali dan sakit maag saya kambuh. Di akhir sesi, saya yakin Romo kembali sudah membantu saya mengalami pelepasan luka batin. Terima kasih sekali lagi Romo!

Hari Kelima

Pada sesi meditasi siang, bahu saya sakit seperti orang yang sedang memanggul beban berat, lengan kanan sakit dan sisi kanan tubuh saya seperti dicambuk dengan kilatan-kilatan listrik. Saya pikir, apalagi sih yang mau dilepaskan? Sepertinya kemarin semuanya sudah keluar. Jangan-jangan sakitnya Ibu Cypri yang duduk di sebelah saya pindah ke tempat saya? Kepala saya mulai sakit lagi, makin memuncak; semakin diamati dan disadari, sakitnya memuncak tapi tidak mereda. Akhirnya saya tidak tahan. Saya tidak tahu, mengapa ini terjadi.

Selama sesi meditasi malam, saya hanya duduk di kursi pinggir, meditasi, tertidur, bangun, meditasi dan tertidur lagi. Badan rasanya tidak karuan, demam dan sakit kepala sampai meditasi malam berakhir. Malamnya sewaktu tidur, saya terbangun dengan menggigil kedinginan. Biasanya ini terjadi setiap saya sedang haid; jadi bukan hal yang aneh. Kemudian saya merasakan ada hawa hangat; jadi saya bisa tertidur kembali.

Hari Keenam

Pada sesi pagi hari saya merasa seperti terbang melayang di angkasa dan melihat bumi di bawah, kadang berupa pepohonan yang rimbun yang maha luas, perlahan-lahan saya bisa turun dan saya melihat semakin dekat dengan bumi/dataran. Rasanya seperti nonton film 3 D di theater Imax. Walau saya seolah-olah jatuh dari langit pelan-pelan, saya tidak takut; hanya rasanya agak gamang seperti vertigo ringan. Kadang berupa daratan merah luas sekali, tapi lebih seringnya seperti pepohonan pekat di hutan yang maha luas.

Pada sesi malam saya mengalami masuk ke dalam tunnel yang gelap seperti masuk ke dalam lorong kegelapan yang tak ada habis-habisnya. Saya tidak takut. Saya berjalan terus mengikuti terowongan gelap sampai terlihat ada satu titik terang. Saya ikuti terus dan akhirnya malah sampai di kegelapan total.

Hari Ketujuh

Pada sesi meditasi terakhir pagi, seperti kemarin-kemarin saya mula-mula seperti melayang di udara dan melihat dataran pepohonan luas di bawah. Tiba-tiba saya seperti berjalan di jalan yang gelap gulita, seperti waktu masuk tunnel. Bedanya ini bukan terowongan, tapi jalan luas yang gelap hitam. Tidak seperti ketika masuk tunnel, kali ini ada rasa takut. Saya melihat ada orang-orang lewat beriringan melewati saya. Rasanya saya tidak mengenal mereka, tapi saya ketakutan. Tiba-tiba timbul pikiran, jangan-jangan saya dibawa melihat dunia orang mati, kok perasaan saya takut? Kemudian lewat sesosok tubuh. Saya yakin ini bukan tubuh orang hidup, tapi arwah. Ketakutan saya menjadi-jadi. Saya dengan sadar seolah menarik tangan Romo yang duduk di sebelah saya seraya berkata dalam hati, “Romo, temani saya, saya takut!” Dalam bayangan, seolah saya memegang tangan Romo dan berjalan terus entah kemana, jalannya gelap menurun. Tiba-tiba seolah dari perut dan dada muncul cairan hitam pekat, naik ke atas kepala dan tumpah keluar, sampai saya tertunduk. Semua cairan hitam pekat akhirnya keluar dari kepala saya. Sesaat kemudian Romo mengakhiri sesi meditasi dan mulai mempersiapkan misa penutupan yang berjalan khidmat dan indah. Terima kasih Romo, saya bisa mengalami misanya yang indah dan unik!

Saya tidak tahu persis apa yang terjadi, apa saya dilepaskan. Apakah itu ketakutan yang sering mendera saya setiap kali mengalami depresi? Semoga !

Dalam meditasi saya juga mendapat penglihatan ada semacam getaran energi yang kuat berbentuk segi empat yang mengalir berputar mengelilingi tempat kita melakukan meditasi, energinya konstan dan stabil bergerak mengelilingi  dalam ruangan.

Setelah Retret

Sampai sekarang, sakit kepala dan vertigo masih saya rasakan, tapi tidak seperti dulu. Saya tidak terlalu merisaukannya sekarang. Merasa tidak nyaman, pastilah! Anehnya, saya tidak terlalu menderita lagi, cuma berusaha menyadari terus adanya sakit dan itu tidaklah terlalu mengganggu lagi.

Rasanya saya sedikit lebih sabar sekarang, tidak terlalu tergesa-gesa dan lebih bisa menahan diri dalam mendengarkan orang lain berbicara untuk tidak berkomentar yang tidak perlu.

Relasi dengan Djohan lebih baik. Saya rasa Djohan bahagia melihat perubahan dalam sikap saya sesudah retret ini. Mungkin masih suka egois dan kekanak-kanakan, tapi pastinya ada perubahan positif. Dia senang sekarang saya mengerti tentang keluar dari lingkup diri, keluar dari perangkap pikiran-pikiran tentang diri/ego.

Penutup

Demikian yang saya alami selama retret ini. Terima kasih Romo sudah dengan baik hati dan sabar menemani perjalanan rohani saya dan membantu saya melaluinya. Tidak ada kata yang bisa mengungkapkan rasa syukur saya. Romo seperti seorang guru spiritual yang membimbing muridnya menjalani pelepasan menuju ke pencerahan. Saya merasa seperti anak kecil yang belajar mengenali kesadaran dan Romo adalah gurunya dengan kematangan spiritualnya. Dari segi usia, Romo seperti seorang adik yang baik hati yang tidak pernah saya punya, yang akan saya kasihi sepenuh hati dan secara spiritual Romo adalah seorang guru yang saya hormati.

Terima kasih untuk semuanya. Romo sudah membuat saya menangis terharu dan tertawa terbahak-bahak silih berganti selama dan sesudah retret. Ini semua menjadi bekal untuk melanjutkan kehidupan dengan dijiwai kesadaran.

Peluk hangat dari jauh,

-LK-

MH, 40 tahun, Bekasi

Ini kali pertama saya ikut retret Meditasi Tanpa Objek. Saya tertarik ikut retret meditasi ini untuk mengetahui lebih jauh tentang “kesadaran”: apa artinya, apa manfaatnya, bagaimana mencapainya, dan bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Apa hasilnya setelah retret 7 hari? Ada hasilnya dan sangat bermanfaat. Saya dapat  ilmu praktis kehidupan.

Ilmu ini seperti trik-trik atau cara-cara praktis dalam menghadapi segala macam gelombang kehidupan kita. Apa pun itu. Terutama sangat bermanfaat saat kita menghadapi hal yg “tidak enak” dalam diri kita, misalnya marah, benci, kecewa, merasa dikhianati, dan lain-lain. Bila hal-hal tersebut disadari, semua itu lenyap dengan sendirinya dan bantin kita menjadi bebas, bebas dari penderitaan.

Saya sudah menerapkannya dan akan semakin sering saya terapkan. Saya ingin menjadi manusia dengan batin yang bebas, baik dalam hidup pribadi maupun dalam hubungan dengan sesama dan semua makhluk. Di mana ada kebebasan batin, di sana ada kasih sayang dan welas asih.

Terimakasih banyak Romo Sudri telah berbagi ilmu. Ilmu ini sangat praktis bisa diterapkan dalam kehidupan nyata.

Maturnuwun sanget, Romo.

Terus lah berkarya mewartakan kebaikan.
AMDG.

Salam hormat selalu,
-MH-

Keheningan yang menyembuhkan

FYWS Wiraswasta di Surabaya – Umur 47 tahun

Saya telah mengikuti retret yang diadakan oleh Rm Sudrijanta SJ beberapa kali. Retret ini banyak membantu kehidupan saya. Dengan keheningan, saya terbantu menjalani hidup lebih selaras, antara jiwa/batin/pikiran dan tubuh. Yang dulunya berjalan sendiri-sendiri, kini terasa mulai utuh. Dalam keheningan, banyak topeng kepura-puraan terbuka. Keheningan menjadi bagian yang tak terpisah dari kehidupan saya sehari hari, setelah mengalami hal-hal luar biasa dalam retret. Namun tidak ada yang lebih penting selain SADAR dari waktu ke waktu, dengan menerima segala sesuatunya apa adanya.

Dalam retret tahun 2012 di GSV Prigen, Jawa Timur, pernah saya sharingkan dengan romo, tentang kehidupan saya yang mulai berubah meskipun perlahan. Pengalaman tersebut antara lain berkaitan dengan mama saya yang sakit keras. Ia menderita kanker stadium lanjut. Saya merasa datar-datar saja dalam menyikapi hal tersebut, tidak ada rasa terluka atau duka. Keluarga saya menilai bahwa saya kurang peduli dan kurang sayang terhadap mama saya.

Saya sangat dekat dengan mama saya dan beliau sangat mengasihi saya. Tetapi selama mendampingi mama saya tersebut, batin ini tidak tergoncang sedikitpun. Saya merasakan kehadiran beliau dalam setiap kehidupan saya ini.

Beberapa hari setelah retret berakhir, mama saya meninggal dunia. Peristiwa inipun tidak meninggalkan duka sama sekali. Saya sadar bahwa semuanya akan berlalu. Kitapun akan mengalaminya. Saya merasa bahwa dalam kehidupan saya beliau hadir dan menjadi satu kesatuan dalam kehidupan saya. Perpindahan atau transformasi ke tempat yang lain tidak meninggalkan duka sama sekali sampai saat ini.

Pada Februari 2013, saya mengikuti retret yang diadakan Romo Sudrijanta di Bintang Kejora, Pacet, Jawa Timur. Sewaktu meditasi duduk, saya merasakan sakit pada kaki saya. Saya sadari saja apa yang terasa dari saat ke saat, tidak menolak ataupun menerima rasa sakit tersebut. Dalam kesadaran saya tersebut, kesakitan tersebut memuncak dan akhirnya lenyap. Muncullah hal yang lain, yaitu perasaan marah yang tidak jelas asalnya. Saya tetap sadari apa yang terjadi. Kemarahan tersebut juga memuncak dan lenyap. Lalu muncul rasa lain, yaitu rasa tak berharga atau suatu rasa yang sulit dirumuskan. Ketika terus disadari rasa tersebut memuncak dan lenyap. Dari sini saya melihat saya rendah diri di waktu saya kecil. Karena hidup dalam kekurangan secara ekonomi, timbullah rasa rendah diri yang sangat hebat. Semuanya tetap saya sadari dan lenyap; dan saya merasakan kelegaan yang luar biasa.

Pengalaman di atas menunjukkan bahwa tanpa saya sadari, saya masih sering terpenjara oleh masa lalu meskipun saya hidup di masa sekarang. Tetapi keheningan dalam meditasi akan meneranginya dan membebaskan dari belenggu masa lalu.

Dalam walking meditation,gerak langkah menjadi lebih lambat. Biasanya dalam kehidupan sehari-hari kita hampir selalu bergerak serba cepat. Dalam walking meditation, gerak pikiran dan perasaan yang disadari menjadi melambat dan berhenti, seperti pengalaman saya dengan rasa marah. Ketika muncul rasa marah, saya sadari saja sampai kemarahan memuncak dan lenyap dengan sendirinya. Ketika lenyap, terasa muncul penyatuan pikiran dan tubuh. Jalan menjadi lebih ringan, alam semesta terasa menyatu; serasa rumput, dedaunan, awan dan segalanya berkata-kata dan tak terkatakan.

Keheningan mendatangkan manfaat yang luar biasa. Kehidupan ini baik adanya. Terimakasih atas semesta yang menyatukan semuanya melalui rekan, keluarga dan pembimbing retret saya, Rm Sudrijanta SJ. Atas segala kepedulian akan makhluk hidup yang menderita dan semua akan saya kembalikan kepada semesta dalam karya saya. Semoga pengalaman ini dapat bermanfaat juga bagi pemeditasi yang lain.

Salam hening.

Surabaya, Medio Maret 2013

Testimoni Retret Meditasi 7 hari, 25 Desember – 1 Januari 2013.

MRG, 44 tahun, Pengajar sebuah Perguruan Tinggi.

Saya mengenal meditasi tanpa objek ini sekitar 1.5 tahun lalu di Gereja Santa, Kebayoran Baru. Dalam satu tahun terakhir saya tidak pernah mengikuti meditasi di gereja, tetapi dalam waktu yang tidak menentu tetap melakukan meditasi singkat di rumah. Bagi saya, meditasi ini mempunyai manfaat praktis dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika ada persoalan yang tiba-tiba datang. Saat itu saya mencoba sadar dengan hening, untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif. Alasan utama saya mengikuti retret ini adalah  agar di masa depan saya dapat mengolah kehidupan batin saya menjadi lebih berkualitas dengan mencoba menyingkirkan kotoran-kotoran batin, seperti prasangka, kemarahan, kebencian.

Saya ingin mengisi testimoni ini dengan men-sharing-kan perjalanan saya melihat batin selama retret 7 hari.

Pada hari pertama retret meditasi, batin saya bergolak. Saat itu tiba-tiba muncul peristiwa 2 tahun lalu, di mana ada permasalahan dengan seorang sahabat. Tetapi pergolakan ini tidak lama, karena memang kami sudah “berdamai”. Kemudian muncul kejadian 5 tahun lalu, yaitu berpulangnya mama yang ternyata masih meninggalkan kesedihan mendalam. Saya tidak siap dengan pergerakan batin ini, karena selama ini saya berkeyakinan bahwa saya sudah “berdamai” dengan peristiwa itu. Selain itu, hari pertama retret merupakan saat-saat penyesuaian di mana saya merasa seperti dicemplungkan ke dalam alam keheningan yang serba baru. Ketidaksiapan itu saya wujudkan dengan melarikan diri dari meditasi, yaitu mencari kesibukan lain yang tidak berhubungan dengan meditasi. Bahkan terlintas untuk kabur dari lokasi. Untunglah dompet sudah diamankan oleh panitia.

Pada hari kedua saya mencoba berdamai dengan peristiwa hari pertama. Saking khusyuknya, saya tidak mendengar bel makan siang yang dibunyikan, padahal saya meditasi pada jarak sekitar 15 meter dari lokasi makan. Pada saat dialog dengan Pembimbing pada sore hari, saya disadarkan untuk tidak melarikan diri dari fakta-fakta yang muncul. Sebaliknya, justru saat itulah saat yang paling baik untuk melihat pergerakan batin. Harapan saya untuk menata kehidupan batin di masa yang akan datang buyar, karena yang muncul adalah masa lalu. Tetapi menurut Pembimbing, inilah saat yang baik untuk meletakkan fondasi yang kuat untuk pengolahan hidup batin.

Pada hari ketiga, saya tetap mencoba rileks dan tetap fokus pada pergerakan batin.

Pada hari keempat saat istirahat siang,  perut saya mules. Sore harinya saya menyadari ada bentol-bentol di badan saya. Saya menemui Panitia dengan mengatakan, “Saya keracunan makanan”. Panitia langsung menanggapi dengan membantu membelikan obat penawar racun. Meditasi malam saya jalani dengan pergulatan menahan rasa gatal.

Pada hari kelima, sekitar setengah jam sebelum bel bangun tidur dibunyikan, saya terbangun tetapi dalam keadaan kurang prima. Pandangan mata putih semuanya, lutut tidak kuat untuk berdiri dan kepala pusing. Saat itu saya berpikir bahwa saya sakit. Saya mencoba kembali tidur, tetapi tidak berhasil. Saya ingat pesan Pembimbing, “Kalau tidak bisa tidur malam hari jangan dipaksakan tidur, tetapi silahkan terus bermeditasi.” Saya mencoba menjalankan saran Romo Pembimbing. Tiba-tiba seperti ada bom meledak di batin saya. Muncul suatu peristiwa 37 atau 38 tahun lalu. Saat itu saya berusia 7 atau 6 tahun. Ketika itu saya dituduh melakukan sesuatu oleh teman yang lebih muda usianya dari saya. Yang menyulitkan keadaan saya saat itu adalah ibu dari teman itu mengadu pada orang tua saya dan akibatnya saya dihukum oleh orang tua saya. Saya membela diri sekuat tenaga, tetapi tidak ada yang mau percaya. Beberapa jam setelah saya dihukum, ada seorang ibu lain yang memberi kesaksian pada orang tua saya, bahwa saya tidak melakukan hal yang dituduhkan itu. Selama saya tumbuh menjadi dewasa, saya tidak pernah ingat lagi peristiwa itu. Tetapi saat moment itu meledak, rasa sakit itu muncul. Saat itu saya tahu batin saya masih terluka. Dugaan saya, rasa mules dan gatal-gatal yang saya alami pada sore sebelumnya hanyalah dampak dari fenomena batin seperti ini.

Hari keenam dan ketujuh saya terus bertahan untuk melihat batin, memberi perhatian penuh pada rasa sakit yang muncul. Sekarang saya mengikuti saran Pembimbing untuk fokus pada batin yang sakit. Saya butuh dua hari untuk fokus pada luka yang ada. Yang saya rasakan adalah luka tersebut seperti bisul di dalam dada yang menusuk-nusuk. Setiap kali diberi perhatian penuh, si bisul ini pelan-pelan mengecil dari arah samping sampai akhirnya berkurang pelan-pelan.

Akhirnya, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada Rm. Sudrijanta, S.J. atas pencerahannya. Saya mendukung kebijakan mengumpulkan semua barang yang dianggap dapat menganggu keheningan. Saya senang bisa menyelesaikan retret 7 hari ini dengan meletakkan fondasi yang lebih baik pada perjalanan batin saya. Walaupun ketika muncul hal-hal yang tak terduga, saya terkaget-kaget. Saya kemudian sadar bahwa semua itu adalah proses yang harus saya jalani.

Keajaiban lain adalah ternyata saya bisa makan 2 kali sehari. Biasanya saya makan minimal 3 kali sehari. Tetapi selesai retret kok tidak jadi kurus ya? Terima kasih juga untuk Panitia yang telah bersusah payah mensukseskan retret ini.*

Berhenti Berlari

MK, 23 tahun, Programmer 

Fenomena Fisik dan Batin

Sudah beberapa bulan terakhir saya menghindar untuk bermeditasi secara rutin. Ada ketakutan bahwa saya mungkin akan menjadi seseorang yang tidak normal akibat meditasi. Banyak sekali fenomena fisik yang saya alami semenjak awal praktik meditasi kesadaran pada agustus 2011 lalu. Tetapi pikiran akan menjadi seseorang yang tidak saya kenal, di luar kewajaran orang normal biasa dan tidak bisa kembali lagi menjadi normal dan biasa, itu semua sangat mengganggu saya. Berkali-kali saya katakan kepada rekan saya, bahwa saya galau, tidak nyaman.

Pada awalnya saya tidak sadar bahwa sebenarnya ketakutan saya terutama disebabkan oleh fenomena batin. Pada awalnya saya mengganggap yang saya takutkan adalah fenomena-fenomena fisik yang sangat tidak nyaman dan cenderung menyebabkan rasa sakit.
Beberapa fenomena yang sangat jelas tertangkap antara lain tersengat listrik di banyak tempat, seperti di pegangan pintu, air, dinding, meja, dan kereta belanja. Yang paling sering adalah kereta belanja. Bayangkan jika Anda tersengat listrik secara tidak sengaja, muncul rasa kaget dan rasa sedikit kebas pada bagian tubuh yang tersengat. Itu berlangsung kira-kira dua bulan dengan frekuensi hampir setiap hari di banyak kesempatan. Itu menyebabkan saya menjadi “parno” ketika akan menyentuh apapun sepanjang waktu tersebut.
Setelah berlalunya masa-masa sengatan listrik di tempat-tempat yang seharusnya tidak ada aliran listrik, tubuh saya mulai mengeluarkan getaran. Pertama-tama aliran terasa mulai dari tangan. Getaran terutama muncul saat sedang bermeditasi, baik meditasi duduk maupun meditasi jalan. Lama kelamaan getaran tersebut semakin kuat. Lebih terasa lagi ketika sedang akan tidur atau sedang dalam keadaan santai. Getaran ini menyebabkan susah tidur karena tubuh merasa terganggu dengan getaran-getaran tersebut. Pada puncaknya saya tidak bisa tidur selama beberapa hari karena getaran tersebut sangat terasa. Aliran darah, detak jantung, ritme organ-organ tubuh yang bekerja, bernapas, mengalir, semuanya sangat jelas tertangkap indera. Semua proses tubuh dari atas kepala sampai ujung kaki dapat saya rasakan secara detail dan akan lebih terasa jika saya sengaja meletakkan tangan saya di atas anggota tubuh tersebut untuk merasakan aliran yang terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu tersebut.
 
Sejak kejadian tidak bisa tidur selama beberapa hari tersebut, saya mulai sengaja banyak mengurangi praktik meditasi meskipun memiliki waktu untuk bermeditasi. Adanya kegiatan yang menarik saya selama beberapa bulan menjadi alasan untuk secara sengaja tidak melakukan meditasi selama beberapa bulan. Tetapi pelarian ini juga tidak menghentikan proses perubahan yang sedang berjalan. Pada satu moment, ketika saya terhenti selama beberapa hari dari kegiatan saya yang menarik tersebut, pada saat itu getaran tubuh muncul dengan sendirinya meskipun saya tidak melakukan meditasi. Suatu saat datang dengan sendirinya suatu pemikiran tentang apa yang harus saya ambil berkaitan dengan masalah saya. Tapi meskipun munculnya pemikiran tersebut tanpa disertai keraguan, saya belum mau mengambil keputusan karena saya kemudian berasumsi lagi bahwa itu adalah gerak pikiran saja–sebuah ilusi saja. Tapi karena begitu terasa meyakinkan, akhirnya saya bercerita kepada seorang rekan. Dari pembicaraan dengan rekan tersebut, saya putuskan untuk mengikuti saja pemikiran yang muncul tersebut. Dan memang pada akhirnya keputusan tersebut benar, dan tidak membawa penyesalan sama sekali. Meskipun merasakan kegalauan dan ketidaknyamanan pada beberapa minggu awal akibat terputusnya siklus kemelekatan saya pada kegiatan menarik tersebut.

Setelah berpindah dari titik tersebut, saya mulai meditasi lagi sekali-sekali. Tidak ada lagi hal-hal aneh selama waktu tersebut. Saya lewatkan hari dengan cukup menyenangkan melakukan hal-hal yang saya suka. Rasanya hidup kembali seperti biasa tanpa fenomena aneh-aneh. Dan tentu saja dengan hidup yang jauh lebih menyenangkan setelah masalah batin yang tertimbun tahunan lalu terselesaikan. Tapi memang sepertinya proses yang sudah mulai tidak berhenti dan tidak bisa dihentikan dan tetap berlangsung meskipun tidak disadari dan tidak diikuti dengan meditasi rutin. Semakin sering saya melakukan meditasi, semakin kuat dan sering pula fenomena-fenomena tersebut muncul. Dan itu menakutkan.

Antara 1-2 bulan sebelum retret 25-28 Oktober ini, saya kembali mengalami fenomena fisik aneh. Saya menjadi paka akan panas tubuh orang. Tubuh saya dengan pintarnya menerima pancaran panas dari tubuh orang-orang di dekat saya. Sensasi itu sama sekali tidak menyenangkan, bahkan cenderung menyakitkan meskipun sama sekali tidak membuat luka fisik. Dari situ saya menghentikan sama sekali meditasi saya yang memang sudah jarang saya lakukan. Tapi tetap, tubuh masih peka terhadap energi dari luar. Terbukti pada waktu sebulan terakhir sebelum retret, saat saya sedang mengobrol dan bercanda dengan teman tentang hantu, iblis, setan, kepala saya langsung kliyengan dan langsung terasa berat. Terasa lebih ringan jika keluar dari ruangan dan kembali normal dengan cepat jika saya sama sekali pergi dari sekitar lokasi tersebut. Itu terjadi dua kali di tempat yang berbeda, tapi dengan topik pembicaraan yang sama.

Bagi saya fenomena-fenomena fisik yang saya alami tersebut cukup menakutkan karena memang tidak biasa atau di luar kewajaran orang-orang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Semua yang terjadi baru saya kenali setelah memulai meditasi kesadaran. Ketika saya ceritakan beberapa fenomena fisik tersebut ke teman-teman muda dimana meditasi adalah tradisi dalam agamanya, dengan harapan mencari kesamaan, ternyata bagi mereka pengalaman saya tersebut dianggap tidak lumrah. Meskipun sudah sering bermeditasi secara rutin dan cukup lama, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun melakukan meditasi, mereka tidak pernah mengalami hal-hal aneh seperti itu.  Terlebih ketika saya bagikan beberapa cerita tentang “rasa tahu” yang begitu saja, malah dianggap bahwa hal-hal tersebut adalah hasil dari ciptaan pikiran atau ilusi saya saja, bahwa saya hanya merasa seolah-olah tahu saja. Dari sini saya merasa jadi aneh dan perasaan takut saya terhadap proses dan fenomena yang saya alami menjadi makin besar, terutama rasa takut yang tertangkap melalui fenomena fisik.

Pada akhirnya saya paham. Dalam retret dikatakan bahwa tidak diperlukan otoritas apapun untuk mencari pembenaran. Pada akhirnya saya menangkap bahwa yang saya takutkan sesungguhnya bukanlah fenomena fisik itu sendiri, tetapi apa yang dihadapi batin. Saya takut terhadap fenomena fisik karena fenomena fisik tersebut itulah yang pertama-tama paling tertangkap oleh indra. Tetapi ketakutan yang sebenarnya adalah apa yang dihadapi oleh batin itu sendiri, bahwa saya sama sekali tidak mengetahui ke mana saya akan dibawa dalam perjalanan meditasi.
Lalu mengapa saya tetap tertarik dan mau untuk ikut retret meditasi?
Alasan utamanya adalah karena pengalaman transformasi batin yang sudah saya rasakan sendiri. Begitu banyak terjadi perubahan dalam cara pandang atau persepsi dan beban luka dan kekhawatiran yang teramat besar bagi saya telah berakhir. Banyak hal yang dulu saya anggap sangat penting, kini menjadi tidak penting lagi. Hal tersebut pada akhirnya memunculkan sebuah ritme kehidupan baru tersendiri yang jauh lebih menyenangkan.
Saya memang menghindari melakukan praktik meditasi sendiri di kamar karena saya tidak mau fenomena-fenomena aneh yang saya alami makin menguat. Saya merasa takut akan hal-hal yang mungkin bisa terjadi tanpa saya sadari, tanpa saya tahu akan berkembang ke arah mana, akan menjadi apa dan seterusnya. Saya tahu bahwa meditasi bisa memperkuat itu. Tapi saya tetap berusaha mendaftar untuk retret meditasi dengan pengandaian bahwa jika meditasi tersebut dilakukan di retret saja secara intensif, maka apa yang mungkin muncul—fenomena-fenomena aneh—barangkali akan muncul selama di retret saja dan tidak akan mengganggu kehidupan sehari-hari setelah retret berakhir. Ternyata itu pemikiran yang bodoh.

Tangisan Pecah

Pada hari pertama, malam pertama, saya tidak mengalami apa-apa. Hanya tidak bisa tidur. Hari kedua malam kedua masih meditasi secara biasa, saya bisa tidur dengan nyenyak, tapi pada saat istirahat siang pada hari ketiga saya terbangun dengan mimpi buruk. Malam ketiga, saat mendekat ke teman sekamar sewaktu diminta dibuatkan makanan karena fenomena tubuh yang sedang dialami olehnya, energi yang dihasilkan dari tubuh teman tersebut membuat saya kliyengan tiba-tiba. Dari situ tubuh mulai bergetar pelan. Dan saya tidak bisa tidur selama malam ketiga tersebut. Dari situ mulai muncul rasa galau. Pada hari keempat, setelah sesi meditasi pagi, saya tidur, tapi tidak bisa benar-benar tidur. Tubuh tidur tapi ada bagian yang masih terbangun. Saat sesi diskusi selesai, perasaan galau itu semakin kuat.

Puncaknya setelah makan siang, tangisan pecah tanpa bisa saya tahan, tanpa saya tahu penyebabnya apa. Hanya kesedihan mendalam saja dimana jantung rasanya teriris-iris sehingga mau ditahan bagaimanapun tangis itu tetap pecah. Dan tangis waktu itu adalah salah satu jenis tangis dengan kesedihan yang paling dalam bagi saya. Sampai sekarang pun saya tidak tahu apa penyebab tangisan itu. Hanya muncul dan pecah begitu saja. Sehabis tangis-menangis, saya mencari pastor untuk dialog pribadi. Karena saat itu jam istirahat, pintu dan jendelanya tertutup, saya sampaikan ke panitia untuk meneruskan permintaan sesi dialog pribadi ke pastor saat pastor sudah bisa ditemui. Setelah itu saya mencoba tidur siang, tetapi tapi tidak bisa tidur. Badan mulai terasa demam dan kepala sakit, tapi sakit tersebut anehnya sakit yang tidak benar-benar sakit juga. Jadi memang fisik terasa sakit, demam, tapi antara nyata dan tidak, antara ada dan tidak ada. Itu sakit metafisik menurut kata rekan kamar.

Dari dialog dengan pastor, dan sempat dialog sebentar dengan rekan kamar, keduanya mengatakan hal yang maksudnya persis sama, bahwa kepedihan harus dihadapi agar saya bisa melangkah maju. Jika tidak dihadapi, saya akan terus berputar-putar saja di situ dengan mencari pelarian ke hal-hal yang saya suka. Memang tidak mengenakkan, tapi harus disadari dan dihadapi saja fakta itu.

Dari sesi dialog dengan pastor pula, saya dikuatkan untuk mau dan berani melangkah dan berjalan ke jalan yang saya merasa takut untuk menghadapinya. Meskipun setelah dialog saya masih tetap berkeluh kesah bahwa apa yang saya alami sangat tidak menyenangkan, bahwa saya galau, tapi satu yang saya sudah tahu pasti, saya harus memutuskan sendiri untuk mau menghadapi hal tersebut atau tidak. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya untuk saya.

Empat Janji Agung

Kemudian yang lebih menguatkan lagi, lebih tepatnya menakjubkan, saya seperti terkena “jebakan betmen” dengan Empat Janji Agung yang harus diucapkan oleh semua peserta. Saya sudah langsung was-was sewaktu diminta untuk mengucapkan. Saat mendengar isinya, saya terperangah, lemes, sebel dan sekaligus takjub. Dalam keadaan batin saya seperti saat itu, Empat Janji Agung tersebut sangat luar biasa pengaruhnya bagi saya. Bagi saya itu terasa seperti janji seumur hidup dengan tanggung jawab yang besar, tidak peduli bagaimana berat rintangannya, saya harus menjalaninya.
Salah satu janji yang paling berpengaruh dan menjawab untuk kondisi saya pada saat itu adalah janji untuk menghadapi ketakutan saya tersebut, bahwa saya tidak boleh lari dari ketakutan saya (saya jedukin kepala).

Isi janji lainnya yang jauh lebih dalam adalah menghargai seluruh kehidupan.Saya belum sepenuhnya paham secara mendalam. Tapi saya jelas sekali bahwa Empat Janji Agung tersebut luar biasa menggetarkan saya pribadi.

Pada akhirnya, saya sudah tidak bisa lari. Empat Janji Agung tersebut terasa seperti komitment yang sangat mengikat. Maksudnya, dalam keadaan batin yang terjaga seperti itu, bagi saya isinya menjadi sangat terasa kekuatan magis dan mengikat. Sama seperti komitment untuk menghadapi ketakutan dan berjalan terus di dalam ketakuan tersebut apapun yang terjadi. Tidak ada pilihan lain selain menjalani. Meski demikian, dari dalam batin saya sendiri, juga muncul kerelaan untuk mau melaksanakan janji yang sangat luar biasa berat tersebut.

Tidak Lari

Sejak pulang retret tiga hari lalu sampai pada hari saya menulis testimoni ini, ketika tidur saya mengalami mimpi yang penuh kengerian. Bukan mimpi tentang hantu atau setan (karena memang sepertinya saya tidak punya rasa takut dengan hal tersebut), tapi mimpi peristiwa yang bukan peristiwa yang pernah terjadi pada hidup saya. Saya tahu peristiwa itu juga tidak akan terjadi di kehidupan nyata. Yang mau saya tekankan adalah bahwa peristiwa pada mimpi tersebut membawa kengerian dan memiliki sensasi ngilu yang menyakitkan saat mimpi itu sedang terjadi. Meskipun sama sekali tidak menyenangkan, tapi tidak apa-apa. Saya anggap saja itu sebagai proses pembersihan yang dilakukan sendiri oleh tubuh atau batin saya. Meskipun saya masih belum bisa mengerti sepenuhnya apa yang ingin disampaikan oleh mimpi-mimpi aneh dan mengerikan tersebut.

Saya memutuskan untuk menghadapinya saja, tidak lari darinya. Karena selain dari Empat Janji Agung yang membuat saya tidak boleh lari, saya dengan sendirinya memahami pula bahwa jika saya tidak menghadapinya saat ini, saya mungkin akan menghadapinya lagi di waktu mendatang. Jadi tidak ada gunanya untuk berlari. Meskipun saya tahu dengan mengambil keputusan tersebut, maka saya harus menghadapi ketakutan-ketakutan saya atau mungkin kengerian yang tidak jelas seperti yang terjadi dalam mimpi saya. Untuk membantu proses yang tidak menyenangkan tersebut tetap berjalan dengan lancar, saya mulai lagi melakukan meditasi rutin ketika saya punya waktu untuk melakukannya.

Terima kasih untuk Pastor Sudri atas bimbingan, kesabaran, penjelasan, dan waktu selama retret.*

Pemekaran Batin

MR, 40 th, karyawati sebuah bank. 

Mengikuti retret meditasi kembali buat saya sangat menyenangkan. Retret  empat hari, 25-28 Oktober 2012 ini adalah yang kedua kalinya saya ikuti. Liburan yang asyik dengan belajar menyelami diri ini lagi dan lagi.

Saya teringat kata-kata Romo Pembimbing, “Apa yang kita lakukan sangatlah sederhana. Sadar dari saat ke saat dalam waktu yang lama. Itu saja.” Meskipun sederhana, kata Romo, “Praktik kesadaran tidaklah mudah, namun juga tidaklah sulit”. Duduk diam dan menyadari gerak pikiran, sampai berhenti dengan sendirinya. Hemmm, selalu menarik untuk dicoba dan dicoba lagi.

Retret  ini dibuka dan ditutup dengan Ekaristi. Perayaan Ekaristi dengan suasana meditatif, sangatlah indah. Empat janji agung yang selalu kami ucapkan bersama di saat penutupan retret, mengingatkan kami untuk selalu menghargai kehidupan ini.

Saya tertarik sekali dengan tantangan Romo, “Bisakan melihat dalam kejernihan, mendengar dalam kejernihan, bertindak dalam kejernihan…?” Inspiratif sekali. Biasanya saya melihat atau mendengar dengan pikiran yang begitu gaduh. Pikiran menilai suka atau tidak suka. Pikiran melebeli. Jarang saya bisa melihat atau mendengar dalam kejernihan. Dengan meditasi, saya belajar untuk melihat ‘apa adanya’, yang berarti melihat dalam kejernihan.

Menyelami batin ini memang tidak mudah. Duduk diam pun tidak mudah. Ada gangguan saat kaki terasa sakit. Pikiran berkecamuk. Muncul keinginan untuk mengubah posisi kaki atau untuk tetap bertahan. Pikiran datang dan pergi silih berganti.

Dialog pribadi atau bersama juga sangat memperkaya. Pertanyaan atau pengalaman dari teman-teman lain dan tanggapan Romo mempertajam bagaimana praktik kesadaran bisa dijalankan. 

Saya terkesan dengan ulasan Romo tentang pemekaran batin. “Batin ini seperti bunga. Biarkan bunga ini mekar dan layu dengan sendirinya. Dalam pemekaran batin, terjadi pengakhiran. Semuanya berlangsung secara alamiah.” Pada saat meditasi, hal-hal tidak terduga yang tidak saya perkirakan muncul begitu saja. Saat muncul ingatan akan hal-hal yang tidak saya sukai, ada kecenderungan untuk menghentikan. Dengan menghentikannya, justru saya tidak membiarkan batin mekar. Pikiran itu seperti pisau yang memotong bakal bunga yang mau mekar. Padahal dengan membiarkan mekar, gerak batin berhenti dengan sendirinya. Dengan membiarkan mekar, ingatan atau pikiran apapun tidak lagi menjadi gangguan.

Diam itu mengasyikkan. Tetapi belajar diam memang tidak mudah. Maka dukungan dari teman-teman peserta retret lain sangat membantu. Tidak berbicara satu dengan yang lain sudah menjadi bantuan yang berarti. Sebaliknya, peserta yang melanggar aturan keheningan dengan berbicara menjadi gangguan bagi yang lain.
Terima kasih banyak secara khusus  kepada Romo Sudri, yang sudah berbaik hati dengan menyediakan waktu secara total di setiap kesempatan retret meditasi. Juga atas kesabarannya dalam menjawab setiap pertanyaan yang muncul. Terima kasih juga buat teman-teman peserta retret atas kebersamaannya.*

Ketakutan Eksistensial

Testimoni seorang yogi, 22 tahun, yang sangat menarik.

Oleh: Lista Surian

Menanggapi postingan Bpk Hudoyo tentang ketakutan dalam meditasi (https://www.facebook.com/notes/hudoyo-hupudio/mengalami-ketakutan-dalam-meditasi/10151042278696640), tulisan berikut ini disusun dengan mengambil potongan-potongan dalam jurnal saya, tentang bagaimana saya sampai pada titik ini.

1

Sejak masih kecil sampai tamat sekolah, sesekali aku mengalami ketakutan akan eksistensi diri—hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapapun karena kukira itu semua hanyalah sia-sia belaka. Jarang-jarang terjadi, tetapi jika momen itu muncul, aku benar-benar tertinggal sendirian, sekalipun dalam kesehariannya aku berkecukupan, memiliki ibu yang sangat baik, memiliki penghidupan dan fasilitas yang memadai dan juga memiliki sahabat-sahabat akrab. Sekalipun aku memiliki kenyamanan ini semua, namun tetap, di setiap momen ‘itu’ datang, aku harus menghadapi semuanya sendirian. Gersang, hampa, gila, sulit menerima, dan ngeri yang luar biasa tak tertahankan terhadap eksistensi diri sendiri. Bersamaan, jantungku berdegup amat kencang seolah mau copot, ketakutan yang amat hebat, sulit sekali dibendung. Kengerian ini mudah muncul ketika sedang mandi keramas, sabunan.

Biasanya kalau sudah itu yang terjadi, aku menenangkan diri dengan buru-buru mengucap omanipe’mihom berulang-ulang–yang ketika kanak-kanak, demikian aku diajari mama kalau terjadi apa-apa. Ketika agak besar tidak lagi mengucap omanipe’mihom, cara yang kulakukan adalah semacam mengambil suatu topik yang bisa dijadikan bahan pemikiran untuk “mati-matian” keluar dari keadaan itu.

Setiap itu muncul, pada titik yang paling amat tak tertahankan, aku segera membuat gerak untuk menghentikanya, segera melupakannya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Dengan begini akhirnya aku sanggup menormalkan keadaan kembali. Mengapa? Karena kemunculannya itu sangat menyesakkan, tak tertanggungkan, sehingga pilihan yang terbaik yang kutahu adalah membuangnya jauh-jauh. Sejauh mungkin. Dan kembali hidup seperti biasa lagi, menjalani hari-hari seperti biasa.

2

Memasuki usia remaja, aku mulai menghadapi masalah demi masalah dari berbagai aspek, masalah keluarga, masalah pribadi, dan sebagainya. Pelarian akhirnya jatuh pada menulis curhatan yang cenderung bernuansa suram, mendengar musik, dll.

Pada suatu titik, aku memutuskan untuk mengubah hidupku agar menjadi lebih cerah, optimistik, dan bergairah. Jadilah aku mulai membaca buku-buku motivasi, pengembangan diri, dan senang dengan kata-kata mutiara yang memberi efek positif. Aku tidak lagi sepesimis dan sesuram dulu. Bersamaan dengan ini, aku belajar Theravada sekaligus menjadi umat yang fanatik Theravada. Sementara itu, jarang-jarang sekali aku masih bisa mengalami ketakutan eksistensial. Namun tetap, setiap itu muncul pada titik tak tertahankan, buru-buru aku segera membuat gerak, susah payah keluar dari keadaan mencekam itu, dengan debaran jantung yang perlahan-lahan kembali menormal, melupakannya, dan kembali menjalani hari-hari seperti biasa lagi.

Pernah, untuk pertama kalinya, aku coba menceritakan pengalaman itu kepada seorang teman Buddhis yang senang berdiskusi, tetapi ia menanggapiku dengan memberi baris-demi-baris kalimat semacam nasehat yang malah tidak nyambung. Sedari itu aku sempat sesaat menyesal telah melakukan kesia-siaan, karena sebelum kuceritakan padanya aku sudah merasakan tampaknya luar biasa sulit untuk mengkomunikasikan-keluar tentang momen kemunculan ‘itu’.

Pernah juga, suatu hari aku coba-coba bertanya kepada saudaraku, apakah ia pernah mengalami ketakutan semacam itu (ketakutan eksistensial) yang kadang-kadang kualami secara tiba-tiba. “Enggak,” ia menjawab ringan, tidak menghiraukan lebih jauh dan melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Kukira, kemunculan ketakutan yang mencekam itu memang sesuatu yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Apa boleh buat, sementara aku lupakan saja dan kembali tenggelam dengan kesibukan sehari-hari, sebagaimana tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat semakin banyak bersamaan dengan semakin bertambahnya usia.

Setamat sekolah, aku mulai membaca buku-buku meditasi dari penutur yang berbeda-beda. Pernah juga mengikuti retret meditasi Mahasi selama 10 hari. Selanjutnya, aku sempat bekerja di suatu perusahaan, dan pada saat bekerja di situlah, aku mengalami konflik yang bisa dibilang konflik terhebat yang pernah kualami. Masalah kesehatan fisik dan masalah batin terjadi berbarengan, gaya hidupku berantakan, konflik-konflik dari berbagai aspek menghiasi hari-hariku, sementara aku bahkan belum “selesai” dengan diriku sendiri. Konflik batin tidak benar-benar hilang ketika sebelumnya tampak seolah aku sudah berubah menjadi orang yang positif dan optimistik. Konflik batin itu masih bercokol kuat, hanya sempat ditekan/disembunyikan/ dimanipulasikan saja. Terbukti aku kembali tak berdaya ketika konflik-konflik lainnya datang bertubi-tubi, penuh dengan stress. Masalah-masalah fisik dan batin ini terakumulasi hari demi hari sampai aku mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Selanjutnya, aku mengalami depresi selama beberapa bulan.

Sejalan dengan semua ini, aku sudah mulai ‘friend’ dengan Bpk Hudoyo Hupudio dalam jejaring Facebook. Perlahan-lahan, aku mengikuti wallposts-nya serta menyimak diskusi dari komentar-komentar yang mengikutinya. Ulasan-ulasan yang disajikan beliau telah ‘menampar’ aku secara tidak langsung, membuatku bertanya kembali atas segala motif fondasi yang selama ini kubangun: agamaku, doktrin-dontrin intelektual, pengalaman-pengalamanku, relasi dengan orang-orang, dsb. Fanatismeku akan Buddhisme meluntur karena mengalami banyak sekali kebenaran-kebenaran–berkaitan dengan apa yang kualami, tidak sekedar teori–yang beliau paparkan dalam diskusinya di Facebook.

Sementara aku masih menjalani kesibukan sehari-hari, masih bekerja (telah bekerja di lain tempat), pada suatu kesempatan, aku mengikuti retret meditasi MMD bimbingan beliau selama satu minggu di Mendut untuk pertama kalinya. Kemudian, ada satu masa di mana aku memiliki banyak waktu luang tersisa di rumah, aku mulai sering mempraktikkan apa yang diajarkan dalam MMD, menyadari batin baik saat duduk diam, berjalan, maupun melakukan pekerjaan rumah yang tidak banyak membutuhkan kerja pikiran. Berikutnya retret meditasi serupa kuikuti lagi dengan bimbingan Romo Sudrijanta Johanes.

Aku mendapati praktik MMD ini adalah ajaran yang menurutku murni, di luar teori-teori yang bekerja dalam lingkup pikiran, di luar manipulasi psikologis, di luar teknik-teknik, dan implikasinya bagi perkembangan batinku sangat besar. MMD tidak menambahkan satu pun sesuatu padaku. Maksudnya, di sini tidak ada ‘tools’ atau apapun sebutannya yang dapat memperkuat ego. Sebaliknya, ego disadari sampai diam dengan sendirinya dan dari situ datanglah pemahaman yang benar secara alamiah.

Aku mengalami perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari/duniawi pada berbagai aspek. Perubahan ini bukan berasal dari daya upaya untuk berubah, namun transformasi ini datang dari insight-insight di luar dugaan yang memungkinkan aku dapat “melihat” sesuatu semakin jelas. Idealisme-idealisme yang tidak perlu yang pada dasarnya hanya untuk membawa kepuasan psikologis semakin banyak berkurang. Konflik-konflik yang muncul dalam kehidupan sehari-hari dapat dipahami dan diatasi lebih mudah.

3

Lebih jauh lagi, pengalaman meditasi ini mengantarkanku pada temuan yang pada awalnya cukup mengejutkan. Aku kembali berhadapan dengan sesuatu yang sudah hampir kulupakan karena itu sangat tak tertanggungkan, yakni, ketakutan eksistensial yang sebelumnya kualami sesekali sejak kecil.

Di samping ketakutan eksistensial, momen menyesakkan yang tidak terlalu mencekam juga sempat sering kualami, yang sementara kunamakan ‘kesedihan eksistensial’. Kesedihan eksistensial biasanya terhadap situasi dunia, prihatin, dalam kaitannya terutama dengan keberadaanku dan keberadaan sesama. Dari penglihatan ini, hidup, tidak bisa tidak, itu meaningless dan bohong hebat. Semuanya, baik yang mampu kulihat, kudengar, kurasa, kupikir, dlsb, semuanya, tidak ada satupun yang dapat dianggap nyata, tidak sekecil apapun yang bisa dijadikan pegangan. Kesedihan eksistensial tampak lebih cair, tidak begitu menyesakkan dibanding ketakutan eksistensial.

Pertemuan kembali dengan momen-momen menyesakkan yang semakin sering ‘menampakkan kehadirannya’ sempat mendatangkan pertanyaan : “Akankah aku meneruskan ‘perjalanan’ ini, atau tinggalkan saja sehingga kembali hidup ‘seperti biasa’?”

Awalnya, padaku sempat menyusul pertanyaan, bila kuteruskan mungkinkah aku akan semakin menjadi “gila” di tengah masyarakat/dunia? Namun, kalaupun aku mengikuti “arus dunia”–dengan berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa, kembali tenggelam dalam keseharian tanpa menghiraukan pengalaman ‘itu’ yang sebelumnya telah berkali-kali dialami– kalaupun demikian, bagaimanapun, jauh di dalam batin ini, ketakutan dan kesedihan eksistensial yang sangat mendasar itu ada. Meski kemunculannya tak bisa diduga, urusan satu ini tidak bisa dibohongi. Itu ada.

Itu pun sudah ada sebelum aku mendapat pengkondisian duniawi lebih jauh (ketika masih kanak-kanak), pun ketika belum mengenal MMD. Sejak dulu, aku selalu merasa yakin bahwa ketakutan eksistensial yang kualami sama sekali tidak relevan dengan segala penemuan pengetahuan yang dituang dalam buku-buku secanggih apapun hasil-karya itu. Bisa saja aku membaca buku sebanyak-banyaknya untuk mengoptimalkan pemahaman(intelektual)-ku, memaksimalkan kapasitas berpikir, aktualisasi bakat-bakat, dan sebagainya. Namun, sejak dulu aku pun melihat bahwa membaca banyak buku atau membaca sedikit buku keduanya sama saja, sama-sama kecil–tidak signifikan, tidak ada artinya–jika dipandang dari penglihatan bekas pengalaman ketakutan eksistensial.

Pada saat itu aku pun meragukan kecanggihan ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan jika buku-buku dapat membebaskan seseorang dari penderitaan secara total; serta merasakan semacam adanya ketidakadilan.

Mengapa telah berabad-abad peradaban manusia berkembang kian maju dan maju, namun tetap banyak manusia yang menderita, saling membunuh, perang, dan sebagainya?

Apakah kebenaran hanya milik orang-orang tertentu? Bagaimana dengan orang-orang yang tidak punya akses memadai terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan? Apakah itu akan jadi kutukan bagi mereka untuk selamanya menderita tak terbebaskan?

Belakangan aku mendapati bahwa tidak pas juga kalau dikatakan bahwa kebenaran milik semua orang, karena kebenaran bukan milik siapa-siapa. Ia dapat menghampiri siapapun kapanpun ketika itu terjadi di luar pikiran dan keterbatasannya.

Sebenarnya bisa saja aku terus tenggelam menjalani hidup seperti biasa seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun, semakin sering kini aku mengalami itu*, secara alamiah semakin aku tidak mau lagi berbohong terhadap diri sendiri hanya agar dapat menikmati hidangan kehidupan** yang juga bohong/fana. 

[*itu: (ketakutan eksistensial, kesedihan eksistensial, penglihatan di luar kesadaran sehari-hari, kadang-kadang terjadi kekosongan tiba-tiba yang di situ tidak ada apapun sama sekali, dan berbagai pengalaman lainnya dengan intensitas yang berbeda-beda)

**hidangan kehidupan = pengalaman inderawi]

Terlebih ketika mendapati sejumlah kemiripan pada pengalamanku dengan pengalaman awal Bernadette akan ketakutan eksistensial yang sangat mencekam itu setelah membaca buku ‘The Experience of No Self’ yang ditulis Bernadette Roberts (diterjemahkan oleh Pak Hudoyo). Mengetahui ternyata ada orang lain di luar sana yang juga mengalami keadaan yang mirip, yang awalnya kukira rasa tak tertanggungkan dan segala kesia-siaan ini hanya kualami seorang saja, sedikit banyak telah membantuku ‘melangkah’ di awal-awal ‘perjalanan’ ini.

Jadi, dengan begini jelas sudah pertanyaan ‘akankah aku meneruskannya atau tidak’ terjawab. Aku meneruskannya.

Dalam suatu retret MMD berikutnya, salah seorang yogi sempat mengajukan pertanyaan : “Cerita-cerita dari para pejalan spiritual (salah satunya seperti Bernadette Roberts) membuat saya terheran. Mengapa mereka memilih jalan yang justru menyakitkan seperti itu? Mengapa, kalau sudah tahu itu menyakitkan, mereka tetap meneruskannya?”

Dari pertanyaan ini, sekaligus aku dapat bercermin. Pelan-pelan aku mendapatkan jawaban dan menjelaskannya sejauh apa yang kualami. Bahwa pertanyaan itu janggal, ada yang tidak pas di sana. Tidak tepat jika dikatakan bahwa mereka bisa memilih (mau jalan yang seperti apa). Karena ini bukan soal pilihan. Melainkan fakta kehidupan. Fakta yang adalah penderitaan. Fakta yang kita selalu lari darinya.

Demikian sharingnya, semoga bermanfaat.

 

September 2012

======

CATATAN:

Lista Surian, 22 tahun, seorang praktisi meditasi kesadaran, beberapa kali mengikuti retret MMD seminggu dan retret bersama Romo Johanes Sudrijanta, SJ.

Tulisan ini diambil dari https://www.facebook.com/#!/notes/hudoyo-hupudio/ketakutan-eksistensial-oleh-lista-surian/10151052102481640?notif_t=note_tag

Keheningan Meditatif

VH, 43 tahun, Karyawati, Tangerang. 

Retret 10 hari kali ini adalah retret yang kedua kalinya. Retret 10 hari pertama kali saya ikuti tahun lalu. Saya merasa membutuhkan retret ini karena dalam kesibukan saya praktik meditasi tidak berjalan dengan baik. Kalau sedang capek sekali, saya langsung istirahat tanpa melakukan meditasi, padahal praktik meditasi sebaiknya dilakukan secara rutin.

Pada waktu retret pertama kali, saya banyak meraba-raba apa yang diajarkan Romo. Selama retret kali ini saya lebih santai hari demi hari. Tetapi ada perbedaan pada apa yang saya dapat pada retret tahun lalu dan retret kali ini. 

Pada waktu retret pertama, banyak objek yang datang silih berganti. Di antara objek-objek tersebut, ada satu objek yang membawa saya pada pengalaman runtuhnya kemelekatan saya. Saya merasakan hal yang berbeda kali ini. 

Sebelum berangkat retret, saya bercerita pada salah satu sahabat saya. Saya katakan bahwa saya sekarang merasa ada yang berubah dalam diri saya. Saya menyadari bahwa sekarang ini saya bisa berhubungan dengan baik dengan orang-orang yang sudah menyakiti saya tanpa rasa sebel, marah dan lain-lain. Bahkan saya bisa bercanda dengan mereka. Hal itu tidak pernah saya lakukan selama ini. Selama ini, kalau saya tidak suka dengan teman atau siapapun yang menurut saya suka menyakiti dan tidak menyenangkan diajak berteman, saya cenderung menjauh. Bahkan kalau bisa tidak perlu mengajak bicara kalau tidak sungguh perlu. 

Hal ini saya rasakan sebelum saya berangkat retret, tetapi saya masih belum tahu apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Apakah karena saya setia mengikuti Misa harian, atau karena meditasi atau sebab lain. Saya masih bertanya-tanya.

Selama dua hari pertama, banyak kotoran batin atau objek yang datang silih berganti pada saat meditasi. Objek ini saya sadari dan semuanya berlalu. Mulai hari ke 3, saya merasakan kekosongan dan keheningan yang dalam. Pada saat dialog saya sampaikan pada Romo pembimbing. Romo menganjurkan saya untuk melihat apakah ada pusat psikologis dalam kekosongan tersebut. Karena saya kurang enak badan pada hari ke 4, jadi saya mulai mengikuti anjuran Romo pada hari ke 5. 

Pada saat kekosongan datang, saya tidak menemukan apa-apa. Saya merasakan hilangnya perasaan, baik marah, sedih, senang, bahkan rasa takut yang selama ini ada di pikiran saya. Biasanya rasa takut ini mengikuti saya. Ketakutan terutama akan anak saya yang besar yang kadang kejang saat kelelahan, terlalu banyak main game yang menimbulkan cahaya yang berlebihan pada matanya dan sebab-sebab yang lain yang kadang tidak saya ketahui. 

Pada saat keheningan datang, saya juga merasa seperti ditarik oleh suatu kekuatan atau energy yang besar. Sebelumnya saya seperti berada pada lingkaran yang kecil, lalu ditarik masuk ke lingkaran yang lebih besar. Dalam kekuatan atau energi ini, ada kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. 

Saya merasakan semuanya kosong. Hilang entah kemana perasaan-perasaan ini. Saya sempat bingung bagaimana mungkin seseorang tidak ada perasaannya, padahal selama ini perasaan adalah ekspresi diri terhadap orang lain. Saat itulah saya menyadari  bagaimana saya bisa berteman dengan orang yang saya tidak suka. Hilangnya rasa benci dan marah membuat saya bisa melakukan hal itu.

Pada sesi dialog, saya ceritakan pengalaman tersebut kepada Romo pembimbing. Beliau mengatakan bahwa berhentinya perasaan membawa kepada tindakan benar (true action). Jadi cinta saya terhadap anak bukan lagi sebatas perasaaan, tetapi lebih sebagai tindakan mencintai itu sendiri. Menurut Romo, energy yang saya rasakan itu bukanlah energy yang baru, tetapi sebenarnya sudah ada. Karena energi terpecah-pecah, maka vitalitas energi yang tak terpecah ini jarang kita alami. Setelah pembuangan energi yang terpecah-pecah ini berhenti, energy ini menyatu dan terasa besar kekuatannya. 

Setelah retret selesai dan pulang sampai di rumah, saya mendapat cerita bahwa mobil kami ditabrak dari belakang saat menghindari motor di depan yang tabrakan. Mobil itu baru datang seminggu. Anehnya saya tidak marah mendengar cerita itu. Saya hanya berpikir syukur bahwa keluarga saya tidak ada yang cedera. Biasanya saya mengomel kalau tahu mobil baru ditabrak begitu. 

Pada tanggal 1 September lalu, saya mengajak teman-teman lingkungan ke Bandung. Kami ber 50 orang termasuk anak-anak pergi ke Gereja Pandu tempat adanya Adorasi abadi. Saya menyempatkan diri untuk bermeditasi di ruang adorasi. Terasa ada keheningan yang luar biasa. Juga lingkungan yang tenang ikut mendukung keheningan. Itu membuat saya rasanya tidak ingin berhenti meditasi. Saya merasakan ketika objek-objek yang datang tidak ditanggapi dan kita pasif terhadapnya, maka ada ketenangan dan kedamaian. 

Sampai hari ini saya masih merasakan keheningan. Juga tiadanya rasa-perasaan. Saya juga tidak tahu sampai kapan situasi ini akan bertahan. Ditengah-tengah keramaian mal pun, saya sekarang merasakan batin saya tetap hening. Sepertinya yang ada di luar saya adalah dunia yang lain yang tidak mengganggu saya. 

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Romo Sudri karena sudah mengijinkan saya mengikuti retret ini kembali. Terima kasih juga buat Mbak Fetria yang memberikan tumpangan lagi kepada saya, juga kepada teman-teman retretan yang turut mendukung keheningan selama retret.*

Menyadari Batin yang Semrawut

IK, 39th, karyawan, Jakarta.

Mendengar saya berencana ikut retret 10 hari selama libur lebaran tahun 2012, boss dan orang-orang terdekat saya berkomentar begini. “Are you crazy or what?” “Yakin loe sanggup gak ngomong, gak ketawa selama 10 hari?” “Are you trying to become a saint?” Itulah reaksi mereka. 

Sebagai kaum urban ibukota, biasanya libur lebaran adalah saat yang paling saya tunggu untuk segera ngacir dari Jakarta dan berpetualang bersama teman-teman sesama kaki panjang. Perlu kebulatan hati untuk merelakan kesempatan jalan-jalan di waktu libur panjang seperti ini. But I did, and I do not regret any second of it.

Meninggalkan Jakarta pada tanggal 15 Agustus pukul 21.20 wib bersama 3 teman sesama peserta retret, kami tiba di wisma cibulan sekitar pukul 23.00 malam lewat, dan menggangu istirahat romo dan panitia yang menyambut kami. Terima kasih Romo Sudri dan Astrid yang bangun untuk menyambut kami.

Hari pertama kami bangun jam 3 pagi untuk mendaki ke air terjun Cibeureum di taman Cibodas. Saya menikmati pendakian ini yang masih dalam toleransi kemampuan fisik saya yang jarang berolah raga. Secara batin? Sliwar-sliwer gak karuan. Saya mencoba untuk hening, tapi rasanya pikiran masih fokus untuk bermain senter dan mencari tempat yang pas untuk menapakkan kaki, disamping berbagai pikiran yang rajin mampir.

Sampai di air terjun, duingiiiiiinn…! Saya yang alergi dingin, gak kuat rasanya untuk duduk diam. Mencoba untuk melihat kondisi batin, tapi tak kunjung sadar, tetap kedinginan. Mencoba sok pasrah, juga tetap dingin. Saya sadar bahwa saya belum sadar.

Kembali ke wisma, ngobrol dalam perjalanan, beristirahat, dan pukul 17.00 semua alat komunikasi, jam tangan dan dompet dititipkan ke panitia, sebelum retret dibuka dengan misa. So I told myself, “This is it; welcome to the silent world for the next 10 days.” Jeng jeng!

Sesi meditasi bersama dilakukan setiap pagi dan sore, dengan diselingi penjelasan dari romo setiap pukul 6 sore. Juga ada 3 kali dialog kelompok.

Sesi “pelajaran” dan dialog membuat saya lebih paham secara teknis, dan berharap pemahaman ini akan membantu saya untuk bisa lebih sadar (aware) dan masuk dalam keheningan. Ternyata keinginan untuk sadar dan terbebas dari “kesemrawutan” batin juga merupakan satu kotoran batin yang menambah kesemrawutan batin itu sendiri.

Backsound lagu yang selalu mengiang dalam batin–dari lagu-lagu ordinarium komplit SATB, mazmur, lagu jingle iklan i*d*café cappuccino (mungkin karena selama retret setiap hari saya minum yah…) sampai salatuloh salamuloh yang berkumandang dari masjid-masjid di sekitar wisma–ikut meramaikan suasana batin saya. Mencoba untuk mengamati dan menghentikan berbagai pikiran yang tampak saling berebut untuk antri muncul di pikiran saya, tanpa hasil.

Sekali lagi saya menyadari bahwa keinginan saya untuk segera bisa sadar, sangat kuat. Ketika saya mencoba untuk menyadari itu pun, saya sadar bahwa pikiran sadar (conscious) saya masih bekerja, secara otomatis, menganalisa semua kotoran batin yang muncul. Dalam hati masih terdengar suara, “Ayo… sadar dong… sadar… sadaaaaar….” Artinya, 100% saya belum sadar.

Sesuai saran romo, saya mencoba menyadari hal-hal yang kasar dulu, seperti ketegangan fisik. Yang ini berhasil, terutama ketika diingatkan romo melalui bimbingannya selama meditasi bersama.

Sekembalinya ke aktivitas sehari-hari, saya mencoba rutin melakukan meditasi, ketika bangun tidur dan sebelum tidur, walau hanya sekitar 15 menit. Meski masih banyak melantur, sekarang relatif lebih cepat sadar kalau sedang melantur, untuk kemudian berlanjut ke lanturan yang lain, dan yang lain. Sepulangnya dari retret pula saya baru menyadari, kalau tubuh seringkali tegang dengan sendirinya, baik ketika dalam keadaan beraktivitas maupun ketika tidur. Satu hal yang pasti saya sadari adalah, batin saya semrawut, dan perlu diolah.

Terima kasih banyak Romo Pembimbing, atas kesempatan mengikuti retret meditasi 10 hari, untuk kesabarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang saya yakin banyak berulang dari retretan-retretan sebelumnya. Meskipun saya sudah membaca 3 buku romo yang sudah terbit, masih banyak pertanyaan yang timbul dari batin yang terkondisi ini.

Terima kasih juga buat panitia dan teman-teman sesama retretan yang telah berjalan bersama-sama dalam keheningan selama 10 hari.*