Category: Testimonial


Testimoni retret meditasi di Bali 28 Maret-4 April 2014
LGA, 40 tahun, Jakarta.

Pada malam hari Nyepi, dengan beberapa lampu lilin sangat minim, suasana terasa sangat hening dan damai. Entah mengapa, dalam meditasi duduk, tiba-tiba tak terasa air mata mengalir dengan sendirinya dan semakin lama semakin deras. Mau tidak mau, daripada mengganggu suasana keheningan di sekitar itu, tangis harus ditahan dengan sekuat tenaga, dan tangis terpaksa dilakukan dengan “style” tertentu. Belum lagi ditambah kedua kaki yang kram dan saraf kejepit yang kambuh, luar biasa sakitnya. Walaupun begitu, batin tetap hening dan bahkan sangat dingin di dalamnya.

Dalam keheningan itu timbul pemahaman bahwa saraf kejepit di sekitar pinggang lumbar L4 dan L5, terjadi bukan hanya karena jatuh terguling dari tangga, tetapi pada waktu masa kecil, dipukul oleh ibuku. Sungguh sangat mengagetkan, rekaman peristiwa di masa lalu itu datang, sangat detil. Aku hanya menyadari dan melihat peristiwa itu datang, sambil melihat keadaan batin. Batin sama sekali tidak terguncang, bahkan menerima keadaan itu, karena ibu melakukan hal itu sesuai dengan keterkondisiannya. Ibu juga mengalami penderitaan yang sangat berat pada waktu itu. Akibat ketidaksadaran, maka terjadilah peristiwa pemukulan. Jatuh terguling dari tangga pada waktu usia 20 tahun, hanya menjadi pemicu selanjutnya, karena bibit saraf kejepit sebenarnya sudah ada karena peristiwa sebelumnya. Setelah mengetahui peristiwa tersebut, pinggang terasa longgar, tidak sakit, kaki pun begitu, kram menghilang dan kaki menjadi ringan. Horeeeeee…

Walking meditation dilakukan, dengan menemukan “saya adalah langkah”, dan tidak ada beda, menjadi langkah itu sendiri. Alam begitu menakjubkan, bersatu dengan diri, tidak ada keterpisahan satu dengan yang lain. Setelah itu, semakin larut malam, dengan meditasi yang dilakukan bergantian, baik sitting, standing dan walking, batin pun semakin ditarik masuk ke dalam tempat maha luas, tidak dapat bergerak dan sangat dingin–tidak cukup kata untuk mengungkapkannya kecuali mengalami–sampai kembali ke kamar untuk tidur.

Keesokan harinya sesuai dengan jadwal bel dibunyikan pukul 03.30 pagi sebagai tanda untuk bersiap memasuki meditasi subuh. Suara bel bangun pada waktu subuh itu, terdengar sangat berbeda sekali. Suaranya sangat jelas, nyaring dan indah, sampai menggetarkan dalam diri sedemikian hebatnya sekaligus mencekam. Di wastafel saat mencuci muka, air pun juga terasa sangat berbeda, memberikan efek kesegaran luar biasa ke seluruh tubuh. Meditasi subuh diawali dengan meditasi di Dhamma Hall dan tetap berjalan dengan suasana batin yang masih mencekam. Kemudian dilanjutkan dengan meditasi outdoor.

Meditasi outdoor awalnya berjalan dengan sangat baik, hembusan angin, udara sekitar, pemandangan Danau Batur, menjadi harmoni yang indah sekali. Suara burung dan suara jangkrik, terdengar menjadi simfoni yang indah sekali, seperti simfoni klasik Beethoven. Waooowwwwwww…. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, air mata tiba-tiba keluar dengan deras sekali. Tidak bisa ditahan. Waduhh bagaimana ini dalam hati. Dengan berusaha memakai tangis dengan “style”, seperti malam hari kemarin, kok tidak bisa. Malah semakin jadi, makin deras air mata yang keluar, bahkan sudah sampai sesenggukkan. Akhirnya diputuskan keluar dari barisan outdoor, menuju tempat outdoor lain, pendopo. Di pendopo, sitting meditation dilakukan dengan air mata keluar sangat sangat deras, tangis pun pecah tersedu-sedu tidak dapat dihentikan.

Dalam sitting meditation tersebut, kembali datang satu rangkaian peristiwa detil. Pada akhir April 2014 nanti, aku akan secara resmi diangkat menjadi salah seorang petinggi, memegang bagian yang sangat krusial di dalam perusahaan. Perusahaan tempat bekerja adalah salah satu perusahaan besar di Indonesia dengan jumlah karyawan sekitar 5000 orang. Yang mengherankan adalah peristiwa ini akan menjadi peristiwa sejarah di perusahaan ini. Karena mengangkat seseorang menjadi petinggi, orang lokal (Indonesia) dalam usia sangat muda dan memegang bagian krusial pula, serta lamanya waktu bekerja di perusahaan ini yang hanya baru 11 tahun 9 bulan pada bulan April nanti, menjabat dari posisi staff, sampai mencapai posisi petinggi. Pengangkatan ini sendiri harus disetujui oleh Overseas Head Quarter, yang nota bene, sangat sulit untuk meloloskan wanita dalam jajaran petinggi.

Dengan posisi sekarang saja, selama 4 tahun ini dalam usia cukup muda, tugas-tugas yang dilakukan saja sudah seperti roller coaster. Bahkan atasanku yang pada akhir April nanti, diangkat menjadi akan menjadi Vice President Director, mengatakan, “Justru peristiwa ini akan menjadi inspirasi banyak orang, bahwa usia muda dan waktu bekerja yang belum lama, bisa menjabat “high posisition”, sepanjang kamu berprestasi. Tidak melihat soal senioritas lagi. ” Sempat bertanya kepada atasan, “Apakah tidak salah untuk mempercayai saya saat ini, karena saya akan menjadi ‘anak bawang’?” Saya akan mengalami itu lagi, karena dari awal diterima sebagai seorang staff, sampai menjabat setiap posisi, saya selalu menjadi “anak bawang” dalam usia, dan dipaksa untuk “stretch diri”, menjadi orang yang “tua” dalam berpikir dalam usia muda.

Saya sempat menolak. Tetapi atasan mengatakan lain. Beliau mengatakan, “Dengan kemampuan kamu, di usia kamu saat ini, ditambah dengan para petinggi yang lain, perusahaan ini akan semakin kuat dan maju. Justru dengan usia kamu yang muda kamu itu, timbul ide-ide baru yang akan perusahaan butuhkan. Saya sangat yakin dengan kemampuan kamu, bahkan Overseas Head Quarter sendiri pun mengatakan kamu memang pantas untuk itu. Tidak ada keraguan mereka. Justru sebenarnya, hampir saja terjadi penjegalan oleh salah seorang petinggilokal kita sendiri”.

Dalam hati, pada saat itu saya berkata “Kenapa tidak jadi saja penjegalan itu ?” Apalagi setelah tahu bahwa orang yang mencoba menghalangi itu adalah orang dengan jabatan tertinggi untuk orang lokal. Lalu kata atasanku, “Bila kamu tidak menerima ini, malah akan menimbulkan masalah baru, bahwa kita orang lokal ternyata tidak mampu. Dan artinya hilang kesempatan orang lokal untuk membawa kemajuan di perusahaan ini. Dengan menjadi petinggi, berarti kita bisa membuat kebijakan yang lebih baik, dan juga memberikan kesejahteraan lebih baik bagi karyawan”. Kemudian saya bertanya lagi kepada atasan saya, “Berarti 7 bulan ini pekerjaan seperti roller coster itu, saya sedang masuk dalam penilaian Bapak?”

Atasan saya cuma tersenyum, dan mengatakan “Sebenarnya saya sudah lama menunggu datangnya kesempatan ini. Makanya kamu lihat, semua keputusan operasional saya berikan kepada kamu. Tidak pernah sedikitpun saya campur tangan. Saya hanya memberikan guidance ke kamu, apa yang menjadi kebijakan harus dijalankan. Kalaupun 7 bulan terakhir ini, saya push kamu terus menerus, tidak lain tidak bukan saya mempersiapkan kamu untuk “final touch”. Saya justru melihat kamu sangat mampu. Walaupun kamu saya berikan “stressing” luar biasa, kamu tetap tenang dan mampu menyelesaikan tugas-tugas kamu dan hasilnya pun sangat bagus. Jadi saya melihat, tidak salah posisi itu diberikan kepada kamu”. Begitu pengakuan atasanku.

Sungguh sangat mengejutkan dan menyebabkan syok berat bagiku, karena tidak sedikitpun terpikir untuk hal ini, yang pada akhirnya mau tidak mau harus diambil dengan hati yang sangat berat.

Walaupun menerima, pikiran terus menerus berkecamuk. Silih berganti pikiran datang, antara lain, usia muda diangkat dengan posisi petinggi ini, baru akan pensiun paling sedikitnya 21 tahun lagi berarti orang-orang yang berada di bawah pun yang usianya terdekat atau yang lebih muda pun pada waktu nanti sudah pensiun semua dan selesai, hanya tinggal saya di angkatan yang sama masuk yang akan tersisa. Belum lagi harus menjalani “office politics” yang luar biasa. Lalu datang pikiran lain, pasti akan kembali menjadi “utom” alias “ujung tombak penggerak” dalam skala yang lebih besar, dan sebagainya.

Berputar-putar sampai rasanya penuh. Proses penyadaran sempat “stuck and freeze” beberapa lama, karena pikiran yang luar biasa hebatnya menghantam. Sungguh sebenarnya ini pikiran yang sia-sia, tetapi pada saat itu, tidak seperti biasanya, keheningan sangat menjauh. Kotoran batin seperti tidak habisnya keluar ke permukaan, seperti lem satu dengan yang lain, tidak ada tempat untuk keheningan untuk menyelesaikannya. Jadi, hanya bisa menyadari, dan melihat kotoran batin keluar berwarna hitam pekat ke atas. Walaupun begitu, tidak berlari, tetapi justru menjalani, dan melihat pikiran itu datang dan pergi, seperti macetnya jalan raya di Jakarta. Hehehe…

Tetapi ternyata penolakan sebenarnya bukan karena pikiran di atas. Akar penyebab pikiran itu ternyata, bahwa tidak siap dijadikan “Inspirasi” atau “Role Model” atau menjadi “Light” bagi banyak orang kembali. Ada masa-masa dulu harus menjadi “kebanggaan atau contoh atau tumpuan harapan” banyak orang, baik itu di keluarga ayah atau ibu atau pun pihak lain, karena posisi dilahirkan sebagai anak sulung, cucu sulung dari pihak ibu, dan cucu sulung dari anak laki-laki paling besar dari pihak ayah. Dikaruniai kecerdasan yang sangat baik, prestasi akademis yang cemerlang, kecantikan fisik, anak yang paling tidak bermasalah dalam keluarga, latar belakang keluarga yang bagus dan sangat dihormati, bahkan diberikan pasangan yang dengan kriteria bagus sekali, baik secara individu pasangan hidup itu sendiri dan latar belakang keluarganya yang juga sangat dihormati, sungguh diliputi rahmat luar biasa bila orang melihat ini. Perfect.

Tetapi justru pada saat itu, dengan rahmat yang luar biasa tersebut, menjadi seseorang yang luar biasa tinggi hati, amat sangat kepala batu, sangat egois, sangat dingin, serta seorang yang luar biasa ambisiusnya, apalagi setelah menikah. Ego diri yang makin memuncak, cara berpikir pun sangat menggunakan logika, tidak menggunakan perasaan, serta memiliki standar penilaian diri yang sangat tinggi pula, tetapi di dalam batin there is no happiness, no freedom, no enlightenment. Akibatnya, relasi dengan pasangan hidup, anak, orang tua, mertua, adik dan teman sangat tidak baik. Semua hal diatas mulai mengalami perubahan, pada saat dibimbing oleh seorang pastur yang luar biasa dan suster sewaktu akan menjadi katolik tahun 2008 dan puncaknya mengalami transformasi batin total setelah mengikuti retret MTO 2011.

Dalam seluruh aspek kehidupan, “ITU” selalu berada di depan dalam beberapa tahun terakhir ini. Hidup menjadi sangat ringan walaupun masalah tetap ada. Masalah bukan menjadi masalah lagi, justru dengan kesadaran, dapat selesai seketika. Sehingga hidup jadi benar-benar “hidup”. Segala sesuatu yang baik muncul secara otomatis–sebut saja misalnya, welas asih, bela rasa, empati–tanpa harus dibuat-buat. Relasi dengan setiap orang pulih, baik dengan pasangan, anak, orang tua, mertua, adik, teman, dan orang lain, bahkan menjadi sangat baik. Menjadi pribadi yang sangat terbuka dan periang, serta mudah sekali tersenyum dan tertawa.

Dapat menerima orang lain apa adanya sesuai dengan keterkondisian, serta tidak memaksa orang lain untuk mengikuti kehendak diri ini. Semuanya datang dengan sendirinya. Bahkan diiringi juga dari sisi materi, yaitu karir di pekerjaan yang semakin bagus dan cemerlang, walaupun tanpa ambisi untuk mengejar, diikuti pula usaha dan pekerjaan yang dijalankan suami meningkat dengan pasti. Seluruh segi kehidupan disembuhkan secara total.
Pada waktu sitting meditation outdoor, rasa penolakan itu pecah, mengalami ledakan waktu, dengan tangis yang tidak dapat ditahan. Membuat segala sesuatu jelas terlihat. Ternyata penyebabnya, ketakutan kembali menjadi seperti “si aku” yang dulu.

Setelah itu seketika muncul secara bergantian ayat dari alkitab, 1 Tim 4 : 12 “Jangan seorangpun mengganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. Serta ayat dari Injil Yohanes 15 : 16 “Bukan kamu yang memilih Aku , tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu diberikan-Nya kepadamu”. Kedua ayat yang muncul ini, semakin menyayat hati. Karena tangis tetap tak berhenti, tubuh menjadi lemas sekali.

“Sumber Kehidupan” sendirilah yang menetapkannya. “Dia” mempunyai hak privilese. Sumber kehidupan menggunakan seluruh hidup dari diri ini, termasuk tubuh dan panca indra ini, untuk dibongkar terlebih dahulu, diperbaiki, digunakan dan dibagikan untuk kita menghadirkan kebaikkan, menjadi kasih, terang dan damai. Kita hanya meminjamnya. Bahkan “Sumber Kehidupan” itulah yang membuat interkoneksi dengan siapa kita akan dipertemukan, peristiwa yang muncul, kesemuanya “ITU” yang memilih. Sekali “Sumber Kehidupan” itu menyentuh diri ini, kita tidak akan bisa kemana-mana. Karena itulah “Dia”, “Tuhan” atau apapun namanya yang selama ini kita cari.

Setelah selesai meditasi pagi itu hingga makan pagi, air mata tetap turun; hanya intensitasnya berkurang. Sampai tiba waktu konsultasi pribadi dengan romo, ternyata tangis tetap turun, padahal sebenarnya sudah ditahan habis-habisan. Tangis dengan “style” sedikit. Ternyata ketahuan deh, bisa “menangis” di depan romo pula, malu-maluin saja. Hahaha…, kena deh, padahal sebelum retret dimulai selalu dipenuhi dengan tawa dan kegembiraan.

Meditasi jam 10.00 pagi pun masih diikuti sebelum meninggalkan retret pada jam 13.00. Meditasi pagi itu dirasakan dengan keheningan yang luar biasa. Tidak ada keterikatan dengan melihat orang-orang di sekitar. Semuanya menjadi apa adanya. Hanya diam. Sampai selesai makan siang dan naik mobil untuk menuju bandara, saya mengira tangis itu sudah selesai, tetapi ternyata tidak. Selama di mobil berhening, tiba-tiba tangis meledak lagi. Beruntung tidak tersedu-sedu. Jadi bisa dilakukan dengan gaya “flu”. Dan ternyata tangis itu pun masih berlanjut di pesawat, merembes terus tak henti, hanya kali ini gayanya memenjamkan mata seolah-olah tidur, sampai akhirnya benar-benar tertidur. Walaupun tangis terus-menerus, di batin ini tidak ada rasa sakit, bahagia, atau apa pun. Hanya tangis, diri ini adalah tangis.

Akhirnya terbangun karena mendengar pengumuman, pesawat akan mendarat. Bangun tidur terasa ringan sekali. Tidak ada ikatan emosional apapun. Bahkan sampai dijemput di bandara oleh suami, tidak ada perasaan dekat secara emosional. Datar saja. Sepanjang perjalanan pulang saling bercerita, tetapi suami melihat saya berbeda. Dia mengatakan, “Kehangatan luar biasa saya rasakan dari kamu. Saya melihat kamu diubah begitu luar biasa setiap saatnya.” Jadi “GR” kita!

Keesokan harinya, bangun di pagi hari sampai kembali masuk kantor pun tetap sama. Batin dan langkah terasa ringan. Rutinitas berjalan biasa, meeting, berbincang dengan rekan-rekan kerja, berbelanja kebutuhan rumah, berinteraksi dengan suami dan anak, serta berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja di rumah. Sama seperti kemarin, tetap tidak ada ikatan emosional dengan siapapun dan apapun. Walaupun begitu, dapat tertawa dengan lepas bebas, tidak ada beban batin sama sekali. Hanya menerima apa adanya yang harus dijalankan.

Retret MTO di Bali ini adalah seperti hadiah kejutan bagiku, untuk persiapan diri melakukan tugas dan kisah baru yang akan dijalankan. Mengingat sebenarnya untuk memperoleh ijin cuti pada saat itu cukup sulit. Begitu pula dengan Retret MTO Lebaran 2013 yang diikuti kemarin, ternyata juga, menjadi tempat persiapan diri menjalani kehidupan 7 bulan “roller coaster”. Tidak ada satu pun yang mengetahui jalan kehidupan itu. “Sumber Kehidupan” yang menentukan segala sesuatunya. Interkoneksi itu diberikan dan disediakan dengan sendirinya, dimana pikiran tidak akan mampu menjangkaunya untuk menjawab pertanyaan “Mengapa?”

Sampai saat menuliskan catatan kecil ini, air mata tetap menetes dengan sendirinya. Dan meditasi malam yang baru saja dilakukan di rumah pun, masih tetap ditemani air mata yang tak berhenti dan masih terus ditarik ke kedalaman yang maha luas. Matinya diri ini masih terus berlangsung. Oalah… Tapi ya sudah, biarkan saja. Ini berarti proses healing masih terus berjalan. Proses itu yang menyembuhkan.

Catatan kecil ini juga dibuat untuk menjelaskan cerita untuk konsultasi yang terpenggal tersebut, karena kalau bercerita penuh pasti akan lama dan tangis akan semakin panjang. Selain itu, memang harus segera dituliskan sebelum hilang semua pengalaman ini.

To Romo Sudrijanta, I thank you a bunch for being a friend in my spiritual journey. Especially, I thank you for letting me cry before you in the consultation room. And lastly, thank to the Source of Life who has chosen us and has been working within and through us for the goodness and the liberation for all beings. Indeed, how lucky I am. Ting… ting… ting… (the sound of mindfulness bell).

Pray and Love
LGA

Kesadaran sebagai Guru

Testimoni LGA, 40 th. 

Setelah saya mengenal dan mempraktekkan MTO, barulah saya memahami bahwa dari masa-masa dulu pun “Kesadaranitu sudah membimbing, mengarahkan dan bekerja, walaupun pada waktu itu kotoran-kotoran batin masih begitu tebal menutupi mata. Peristiwa yang satu berganti dengan peristiwa yang lain, tanpa diatur dan tanpa diharapkan. Ternyata “Kesadaran” bertindak seperti “guru” yang memberikan pelajaran secara bertahap dalam sekolah kehidupan. Segala sesuatu telah disediakan pada saatnya dan bahkan dapat dikatakan bahwa “mujizat terjadi setiap hari”. Banyak peristiwa yang terjadi seringkali membuat saya terheran-heran; orang-orang yang ditemui dalam perjalanan juga antik dan ajaib. 

Dulu “Kesadaran” bekerja setelah selesainya peristiwa-peristiwa, hingga ada saat-saat si “Logika” menjadi diam. Tetapi sekarang “Itu” bekerja dari saat ke saat di manapun saya berada, tanpa diminta atau dipaksa; bahkan selama waktu bekerja dengan intensitas yang sangat tinggi sekalipun dan bertemu dengan orang-orang yang belum tentu paham tentang “Kesadaran”. “Itu” bekerja dengan kecerdasannya sendiri, juga saat pikiran dibutuhkan untuk menghadapi masalah-masalah praktis. “Itu” memberikan kemampuan berinteraksi luar biasa dengan orang lain—kata-kata tidak cukup mendeskripsikan realita tak-terbatas ini–sehingga “segala sesuatu yang baik”–misalnya kerendahan hati, welas asih, empati, bela rasa, dan lain sebagainya–hadir begitu saja dan berjalan dengan sendirinya. 

Saya melihat kilas balik peristiwa-peristiwa di masa lalu dan menemukan jangkar penghubung dari setiap peristiwa tersebut. Jangkar tersebut berasal dari beberapa ayat di Injil. 

  • “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. (Lukas 1:38)
  • “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Mateus 6:33-34)
  • “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4)

Sejak kecil saya sudah terkesan dengan ayat-ayat di atas. Bahkan waktu saya masih gemar melakukan doa-doa ritual, ayat-ayat di atas seperti lonceng berdentang di hati; kemudian ada sesuatu yang datang melingkupi, entah berasal dari mana, menarik ke dalam dan sangat menghanyutkan. Secara otomatis ayat-ayat tersebut sering muncul bergantian dan memberikan kekuatan di kala saya sedang dalam masa sulit ataupun masa bahagia. 

Ayat-ayat Injil di atas awalnya adalah “petunjuk kebenaran” dan kini saya melihat “Kebenaran” itu sendiri dan “Itu” harus ditemukan sendiri dari saat ke saat. 

Siapa berani mencoba dan tertarik menemukan sendiri “Kebenaran”-nya?

Insight tentang Ego dan Cinta

AA, 38th, Jakarta. 

Dari retret akhir tahun 2013, ada satu pengalaman yang paling menonjol. Siang hari tanggal 31 Desember  2013 setelah eating meditation, saya meditasi di ruang meditasi. Saya hanya diam. Di tengah meditasi, timbul rasa kelelahan batin yang selama ini belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya merasa sangat capai dan kesal. Batin saya berteriak, “Saya capai… capai… capai…” Saya sadari dalam-dalam dan melihatnya tanpa berusaha menghentikannya, sampai akhirnya berhenti dengan sendirinya; kapan berhentinya saya tidak ingat. 

Ada kesadaran bahwa ternyata selama ini apa yang  saya lakukan untuk keluarga saya lebih banyak bukan berdasarkan cinta, melainkan karena kelekatan, takut kehilangan dan kekuatiran–yang semuanya adalah ego. Mana mungkin ada cinta yang sesungguhnya bila terdapat ego? 

Sepulang dari retreat, seolah-olah mata saya ada layarnya. Layar itu dibanjiri oleh kotoran-kotoran batin. Pada awalnya sempat saya tolak, tetapi kemudian saya sadari penolakan itu dan membiarkannya terlihat. Saya lihat semuanya apa adanya dan membiarkannya berhenti dengan sendirinya. 

Oh ya, saya menerima dua kertas kecil berisi kalimat bijaksana pada awal dan akhir retret. Memang pas isinya buat saya, tetapi saya tidak perlu berusaha untuk menjadi apa yang tertulis di situ. Bagi saya cukup sadar dari saat ke saat; sadar ketika saya tidak sadar; menyadari dalam-dalam gerak batin saya tanpa daya upaya; melihatnya apa adanya, tanpa berusaha menghentikannya, menyadari sampai berhenti dengan sendirinya. Saya biarkan bunga itu mekar dan dalam pemekaran terdapat pengakhiran.

HL, 37 tahun, Jakarta

Kisahnya bermula dari cerita teman baikku yang ikut MTO bulan Agustus 2013. Dia masih ingin ikut lagi di tahun 2014. Saya menjadi penasaran apa yang telah dia temukan di sana. Jadi saya memutuskan untuk ikut MTO di liburan akhir tahun 2013 ini. Semula saya ragu untuk menghabiskan penghujung tahun di tempat meditasi yang nota bene gak boleh ngobrol. Bukankah seharusnya year end itu identik dengan party? Tapi saya sangat bersyukur akhirnya memutuskan ikut MTO. Penghujung tahun 2013 yang lalu merupakan moment terindah yang pernah saya alami. Terima kasih Romo J

Saya termasuk orang yang tidurnya sangat pulas dan tidak bisa bangun tanpa weker. Jadi yang paling saya takutkan adalah suara bel dari panitia tidak sanggup membangunkan saya. Apalagi saya mendapat kamar yang di belakangnya terdapat air terjun buatan yang suaranya bergemuruh karena debit airnya lagi besar. Ditambah teman sekamar saya batal sehingga saya hanya sendirian. Apa yang saya takutkan menjadi kenyataan. Hari pertama saya terlambat bangun, benar-benar tidak mendengar suara bel. Mungkin terlambat 2 jam karena pagi sudah terang. Hari kedua, saya tidur tanpa menutup pintu kamar dengan harapan suara bel terdengar. Meskipun takut tidur tanpa menutup pintu kamar, ternyata saya lebih takut tidak mendengar suara bel. Suara air terjun pun membuat saya susah tidur. Akhirnya pada hari ketiga saya meminta bantuan panitia untuk mematikan air terjun di malam hari. Karena debit air yang besar, maka airnya hanya bisa dikecilin. Pada hari kelima, saya sudah tidak tahan karena susah tidur walau air sudah dikecilin, maka saya minta pindah kamar. Untunglah panitia bisa mengusahakannya sehingga saya bisa tidur nyenyak.

Waktu Romo meminta kami memeriksa batin, saya merasa hatiku berat sekali. Namun tidak ada satu pun kejadian menyakitkan yang muncul. Akhirnya saya menghadirkan kejadian yang menyakitkan yang pernah saya alami dan memandangnya dengan harapan dia lenyap; namun semua itu terasa palsu. Menurut Romo, landasan saya belum kuat. Ibarat mau maju berperang tapi senjata belum cukup. Berpegang pada nasihat Romo, maka pada meditasi berikutnya, saya tidak lagi sengaja menghadirkan pengalaman apa pun. Saya melihat batin saya, melihat hati saya yang masih terasa berat itu apa adanya. Sesaat kemudian, saya berhasil menyelami hati saya. Saya seperti melayang di angkasa. Semakin saya menyelami hatiku, semakin saya masuk ke dalamnya dan tidak ada dasarnya. Hati ini damai sekali dan itu berlangsung cukup lama. Akhirnya saya mencari Romo karena heran dengan kejadian ini. Bukankah seharusnya rasa sakit yang muncul dari hati yang berat ini, kok malah saya menemukan peace di situ. Romo menjelaskan bahwa rasa sakit itu ditransformasikan menjadi rasa damai.

Pada meditasi berikutnya, saya sudah bisa bermeditasi dengan hati yang plong. Namun ternyata muncul semua kejadian yang tidak menyenangkan dari saya kecil sampai sekarang secara acak. Semuanya muncul dan tenggelam. Saya seperti menonton film. Setelah semua peristiwa itu muncul, mereka satu persatu naik ke satu perahu yang sama dan berlayar pergi hingga lenyap dari pandangan saya. Saat semua peristiwa itu muncul, sebenarnya saya sudah siap menghadapi rasa sakit yang amat sangat. Namun yang terjadi adalah perasaan ini biasa-biasa saja dengan rasa sakit yang tidak seberapa. Selain itu, tidak ada rasa sakit apa pun di tubuh saya. Malah saya merasa sangat damai dan bebas dari semua itu. Setelah selesai meditasi, kata pertama yang terucap dari bibir ini adalah “God has mercy” (Tuhan berbelas kasih).

Pada malam puncak yang jatuh pas malam tahun baru, saya merasakan kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Tuhan. Saya sampai berkata dalam hati, “Tuhan…, bawalah jiwaku bertemu dengan-Mu”. Namun saya teringat nasihat Romo bahwa jika kita menggenggam tujuan, maka itu menjadi halangan. Jadi saya buang jauh-jauh keinginan itu. Waktu Romo mengatakan “I am light. God is the Supreme Light” (Aku adalah terang. Tuhan adalah Terang dari segala terang). Tiba-tiba saya melihat Terang yang sangat besar dan banyak sekali terang-terang kecil mengelilinginya. Saya spontan berkata dalam hati, “Saya bertemu Tuhan!”. Saya melihat terang-terang kecil itu sebagai kami yang hadir di meditasi ini. Hati saya sangat damai. Saya mendapat insight bahwa saya berasal dari Sang Terang. Maka saya adalah terang. Karena esensi Sang Terang adalah terang maka esensi saya adalah terang dan saya harus hidup dalam terang. Esensi Sang Terang adalah keindahan; maka esensi saya adalah keindahan. Kejadian ini berlangsung cukup lama.

Esok paginya setelah misa penutup, para peserta memberikan testimoni. Salah satu peserta mengatakan bahwa dia bertemu Sang Terang dan Terang itu mengatakan kepada dia tentang kami satu persatu. Setelah itu, teman tersebut menghampiri saya dan bertanya siapa namaku. Temanku ini bercerita bahwa pada malam dia bertemu Sang Terang, dia melihat ada dua peserta yang bersinar terang dan salah satunya adalah saya. I am so blessed (Saya sangat terberkati).

MTO ini benar-benar telah mengubah pandangan saya tentang hidup dan Tuhan. Terima kasih Romo atas bimbingannya. Gbu

Perjalanan ke Titik Nol

C3y, 40 tahun, Jakarta

Semuanya diawali dari kekacauan rumah tanggaku. Masalah rumah tanggaku mengantar aku ke titik 0. Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Batinku labil dan kacau, sampai Tuhan mendengar doaku. Timbullah pencerahan dan kekuatan baru. Pencerahan tersebut aku temukan di sebuah retret yang diadakan oleh salah satu gereja kristen. Di tengah kekacauan rumah tanggaku yang masih berlanjut, aku menemukan kekuatan baru, ketenangan dan kedamaian luar biasa. Aku bisa menghadapi masalahku dengan ikhlas. Sampai kurang lebih setahun ketenangan tersebut aku rasakan. Sayang kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Batinku kembali drop sampai akhirnya rumah tanggaku tidak bisa diselamatkan.

Dari sinilah pencarian spiritualku mulai berjalan. Kerinduan dan kehausan untuk kembali ke moment di mana aku sempat merasa damai dan tenang di tengah masalah-masalah beratku, terus berlangsung selama bertahun-tahun. Dari gereja yang satu ke gereja yang lainnya aku masuki, sampai akhirnya aku memilih satu gereja untuk belajar berkomitment dengan harapan aku bisa kembali dijamah dan kembali ke titik tersebut.

Hasil dari usahaku tersebut sia-sia. Betapa sulitnya untuk kembali ke moment tersebut. Pencarian tersebut terus berlangsung sampai aku menemukan nama Reza Gunawan, salah seorang meditator. Dari beliau saya tahu mengenai meditasi. Pencarianku terus berlanjut sampai aku ketemu dengan Romo Hudoyo. Sempat bicara dengan beliau dan beliau menyarankan aku untuk ikut dengan Romo sudri. Romo Hudoyo memberi kata kunci untuk aku cari di internet, Gereja Santa Anna.

Retret meditasi pertama aku ikuti selama 10 hari 3 tahun lalu pada libur Idul Fitri 2010. Benang merah aku temukan dari ketiga meditator handal tersebut. Aku sadar keinginan-keinginan untuk kembali ke titik dimana aku merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa itu adalah pelarian dari kekacauan rumah tanggaku, kekacauan kondisi keuanganku, pekerjaanku, hubunganku dengan kedua orang tuaku beserta adik-adikku. Semua itu merupakan kotoran-kotoran batin yang harus aku lepaskan.

Pada retret kali ini, aku seperti menemukan rumah. Aku seperti baru melakukan perjalanan jauh dengan membawa rasa capek dan penat. Ketika pulang kerumah disambut dan diterima dengan senyuman hangat. Lega sekali. Kembali aku sadari bahwa rasa lega itu juga sudah merupakan kotoran batin. Pelan tapi pasti aku belajar untuk tetap sadar. Ini adalah awal aku mulai memahami pentingnya kesadaran.

Langkah kesadaran sudah mulai terayun. Aku merasakan ini adalah jalan yang benar untuk aku lalui. Perjalanan untuk kembali ke titik 0 terus berlanjut. Yang berbeda sekarang adalah perjalanan ini aku lakukan dengan kesadaran penuh.

Terima kasih untuk semua orang yang hadir dan pernah hadir dalam hidupku, yang membentuk aku seperti sekarang ini, karena dengan cara seperti ini lah aku berada ditempat aku berada sekarang, ditempat dimana aku berlatih berjalan dengan kesadaran. From Hero to Zero…

Breathe & Smile

– C3y-

Meditasi dan Keheningan Batin

TAA, 61 tahun, Pengajar Meditasi Kesehatan, Jakarta.

Romo, saya mau menceritakan pengalaman saya setelah mengikuti retret. Saya sangat berterimakasih bahwa saya bisa mengenal romo, belajar meditasi tanpa objek, dan terlebih belajar dari pandangan-pandangan romo yang sesuai dengan jiwa saya.

Saya sudah bertemu satu kali untuk konsultasi pribadi pada waktu retret dan saya juga sudah menuliskan maksud dan tujuan saya untuk bisa mengikuti retret.

Saya mendapat buku Meditasi sebagai Pembebasan Diri dari seorang teman ketika suami saya meninggal. Buku inilah yang menggerakkan saya untuk mengikuti retret meditasi. Ketika saya mulai membaca buku ini, ada antusiasme yang sangat kuat dalam batin saya. Rasanya buku tersebut ingin saya baca terus sampai habis, walaupun ada rasa kantuk dan lelah karena malam sudah begitu larut.

Pada mulanya, saya agak sulit mengikutinya, karena baru pertama kali ikut retret semacam ini. Biasanya saya melakukan meditasi untuk tujuan kesehatan dan saya awam sekali dengan praktik meditasi dengan waktu yang panjang.

Setelah berjalan dua hari, saya mulai bisa masuk. Ada gejolak yang kuat dalam batin saya. Banyak kata-kata yang romo utarakan membuat batin saya ikut bergetar.

Saya mencapai keheningan yang luar biasa dan kedamaian yang dalam. Rasanya menjadi ringan dan seolah olah melayang layang di udara, di antara semak-semak, gunung, hutan dan lembah, yang pemandangannya terhampar di depan mata setiap pagi saat eating meditation.

Masih terasa intensitas keheningan batin ini hingga 3 – 4 hari setelah retret selesai.

Setelah kembali ke rumah, saya mulai membuka dan membaca buku karangan romo. Juga membaca kiriman 17 praktik kesadaran, yang tidak semua bisa saya serap isinya selama retret karena pendengaran saya kurang bagus.

Apa yang romo ajarkan sungguh sangat berguna bagi sesama manusia, terlebih mereka yang mengalami sakit yang berat, luka batin, dan penderitaan karena macam-macam pikiran.

Pengetahuan yang saya dapatkan ini, semaksimal mungkin akan saya teruskan untuk menolong mereka yang dikirim oleh alam kepada saya.

Melalui tulisan ini saya juga mau mengucapkan terimakasih banyak kepada panitia, yang telah bekerja menyiapkan semuanya sehingga saya bisa mengikuti retret ini dengan nyaman.

Seperti yang Romo katakan, tidak ada yang kebetulan. Semua kejadian seoalah sudah ada yang mengaturnya sehingga saya mengenal kelompok ini.

Saya menyediakan diri untuk membantu sebisanya untuk mempersiapkan retret berikutnya. Saya yakin, meditasi kesadaran dapat memberikan manfaat yang besar bagi generasi muda di bawah saya.

breathe and smile,

-TAA-

POV, 35 tahun, Akuntan, Surabaya.
Terima kasih atas bimbingan retret 7 hari (3-10 agustus) yang lalu. Terima kasih dan salam untuk panitia yang telah mengorganisir retret dari awal hingga akhir. Terima kasih saya diijinkan untuk mengikuti retret hanya hingga tanggal 8, dan saya sangat menghargai kesempatan yang diberikan kepada saya.

Awalnya sebelum mendaftar retret MTO, saya memang sedang mencari retret yang lebih fokus ke pribadi. Dalam bentuk apa atau untuk mencari apa saya tidak punya gambaran pasti, tapi hati saya cuman mengarah untuk memilih retret yang beda dari retret yang pernah saya ikuti. Karena MTO dipimpin seorang Romo, maka saya merasa lebih aman secara spiritual dan berharap sekali untuk diijinkan ikut dengan keterbatasan schedule yang ada. Saya juga mencoba untuk mendaftar retret di Girisonta, tapi ternyata sudah full hingga Desember. Saya ikut retret MTO pun tanpa pengharapan akan hasil, tapi entah kenapa hati saya mantap and was looking forward to it.

Ketika tiba di tempat retret, saya merasa bersyukur sekali, karena perjalanan dari Surabaya hingga Puncak berjalan dengan sangat lancar tanpa acara delay atau macet seperti yang dikhawatirkan; malahan saya dapat teman perjalanan dari Ngawi sesama peserta retret. Tempat retret pun memiliki view yang sangat indah, pertama kali dalam seumur hidup saya ke puncak, and it was worth it. Teman sekamar saya baik. Dan peraturan retret untuk tidak berkomunikasi selama retret sangat membantu keseluruhan proses meditasi.
Selama retret, karena baru pertama kali ikut MTO, saya masih dalam tahap pemahaman intelektual dan seringkali ini membingungkan. Ketika seharusnya tidak boleh menggunakan pikiran, saya malah asyik berpikir untuk memahami prosesnya. Ketika saya mengira saya hampir sampai di titik yang dituju, saya malah kembali ke garis awal. Akhirnya saya berhenti mencoba, dan membiarkan pikiran menari-nari, dan saya hanya menonton.

 

Pemahaman akan apa yang terjadi selama retret, malah saya rasakan setelah saya berinteraksi lagi dengan realitas setelah retret. Entah darimana datangnya, saya menyadari bahwa ada emosi yang sangat besar dalam diri. Semula saya kira saya sudah mengontrolnya selama ini, tapi sekarang saya sadar ternyata emosi itu tidak terkontrol. Ketika muncul bahkan saya merasa itu hal yang wajar dan saya berhak marah.

Setelah retret, saya bahkan bisa menyadari gerak emosi itu ketika akan datang, saat memuncak dan merasakannya memudar dengan sendirinya. Padahal secara fisik, saya sedang berinteraksi dengan orang lain; bicara tapi intonasi nada saya tidak meninggi, di mana biasanya suara saya pasti sudah marah di oktavo tertinggi. Yang saya heran nih, ketika belajar dan berlatih selama retret saya tidak bisa melakukannya, tetapi justru di kehidupan sehari-hari secara otomatis kesadaran bekerja, terjadi begitu saja tanpa upaya untuk melakukannya.

Saya juga menyadari kalau saya mempunyai rasa takut. Takut untuk merasakan rasa perasaan yang ada. Mungkin ini jawaban kenapa saya tau kalau ada rasa dari kejadian masa lalu, tapi saya tidak bisa merasakan rasa-rasa itu. Untuk saat ini, saya masih tidak berani mengutak-atik rasa takut ini. Bisa dibilang karena kelekatan akan kenyamanan daripada harus merasakan lagi rasa-rasa itu, atau karena saya memilih untuk terus maju dengan keterkondisian batin seperti itu. Saya tidak merasakan kedamaian atau kenyamanan dengan hal yang saya sadari di atas ketika terjadi, tetapi saya juga tidak merasakan kelelahan atau kejenuhan batin seperti sebelumnya. Pikiran juga seakan menemukan tempatnya tersendiri, dan saya bisa hanya diam secara sadar tanpa berpikir dan menyadari kalau saya sedang melakukan itu di tengah keramaian orang, meskipun timing-nya hanya dalam hitungan menit.

Demikian pengalaman saya dengan MTO sebelum dan sesudahnya. Saya dalam tahap belajar dan mencari. Saya tahu kemana tujuan saya harus tiba dan saya ada di jalur yang tepat untuk sampai. Terima kasih Romo.

Best regards,
-POV-

ISD, 42 tahun, Tangerang

Saya mau sharing sedikit tentang pengalaman saya mengikuti  retret MTO.

Selama retret saya tidak pernah bertanya dan tidak pernah konseling dengan romo. Tujuan saya ikut retret adalah untuk belajar melepas “ego” atau “keakuan”. Saya mau belajar untuk melepas segala pikiran yang ada dan saya tidak mau sibuk berpikir untuk bertanya ini dan itu. Romo tiap kali mengatakan untuk melupakan apa yang romo ajarkan saat itu dan saya lupakan saat itu pula. Alhasil saya tidak mengingat lagi apa yang romo ajarkan.  Bahkan saya juga banyak yang lupa tentang hal-hal lainnya.

Jadi seperti orang “oon”, karena banyak yang lupa.  Hehehe… Ketika retret saya cukup mengerti apa yang romo ajarkan. Saya sangat menikmati prakteknya, terutama ketika “walking meditation”.

Pada hari Jumat pagi ketika retret, saya mengalami kesembuhan pada kedua paha bagian atas. Sudah 4 tahun paha saya nyeri kalau sedikit ditekan; kemungkinan peredaran darah yang tidak lancar. Setelah sarapan hari Jumat pagi itu, karena kedinginan, saya berjemur di taman dengan menghadap ke Matahari. Tidak lama kemudian saya merasakan sensasi seperti kesemutan di paha saya, seperti semut berkeliaran. Hanya pada bagian yang terasa sakit saja saya merasakan itu. Saya merasakan hangat pada bagian itu dan lama-kelamaan saya merasakan panas dari sinar matahari yang cukup terik.

Saya mencoba untuk bertahan sampai ke titik puncak, seperti yang romo ajarkan. Dan rasa panas itu semakin lama semakin panas dan panas sekali. Rasanya saya ingin menyerah, tapi saya tetap berusaha bertahan, hingga keluar keringat dingin. Karena rasa panas yang luar biasa itu, panasnya jadi terasa dingin. Saya bertahan pada titik itu hingga beberapa saat, dan akhirnya saya merasa tidak kuat lagi. Anehnya, yang terasa panas itu hanya pada bagian yang terasa sakit saja.

Satu jam kemudian ketika saya mandi, saya melihat kedua paha saya di bagian itu berwarna merah sekali dan cukup lebar. Warna merah itu baru hilang setelah beberapa jam. Ketika saya menaiki tangga, kaki saya terasa ringan dan paha saya sudah tidak terasa nyeri ketika ditekan. Saya tahu bahwa saya telah sembuh dari rasa sakit itu. Lalu saya sengaja pijit-pijit dan memang sudah tidak terasa nyeri lagi. Saya merasakan manfaat dari praktik kesadaran ini. Trimakasih banyak saya ucapkan.

Saya juga mohon maaf, karena ketika hari Jumat itu saya ikut terlibat dalam obrolan. Sore harinya ketika meditasi, saya merasakan ada sesuatu yang kurang enak di hati saya. Terasa seperti ada yang berkurang.

Sehari sebelum hari terakhir pada acara dialog, ada kata-kata romo yang sangat menyentuh saya. “Mendekati hari terakhir, biasanya ada godaan untuk ngobrol atau lengah. Kalau kita tidak menjaga keheningan sampai akhir, maka kita telah merusak apa yang kita bangun sejak awal retret dan kesadaran kita tidak menjadi matang. Itu seperti menanak nasi. Untuk menanak nasi, dibutuhkan panas yang konstan sampai titik klimaks. Kalau belum klimaks dan kita turunkan panasnya, maka nasi tidak tanak atau tidak matang.”

Pada Jumat malam semangat saya berkurang. Ketika saya mendengar apa yang romo katakan  itu, saya sangat menyesal. Pada hari Sabtu itu saya rasanya bête. Pokoknya saya menyesal sekali karena saya ikut mengobrol di hari  Jumat. Seketika itu saya berniat untuk ikut retret lagi. Kalau bisa panitia atau pesertanya tidak ada satupun yang saya kenal. Kalau boleh, saya mau minta jadwal retret romo di sisa akhir tahun ini.

Sekian sharing dari saya.

Salam,

-ISD-

Pemahaman Non-Dualistik

SIG, 40 tahun, Dosen, Jakarta

Sebenarnya dalam 7 hari Retret (3 – 10 Agustus 2013) saya tidak mengalami sensasi yang menggairahkan. Yang saya rasakan justru sebaliknya, sering muncul sensasi kesemutan dan kedinginan hingga rasa jenuh atau bosan. Namun dengan praktik penyadaran,  semuanya dapat dikurangi hingga akhirnya tak mengusik pikiran lagi.

Ada beberapa moment yang menurut saya patut dicermati dalam melihat realitas, baik itu bersifat dualitas ataupun non-dualitas. Semua pemahaman ini muncul saat saya melakukan walking meditation.  Pemahaman dualistik yang sempat masuk melintas ke dalam pikiran menunjukkan bahwa semua realitas obyek yang ditangkap oleh otak adalah masa lalu, termasuk pikiran itu sendiri. Hanya kesadaran setiap saat adalah realitas yang selalu baru.

Pemahaman non-dualistik tentu saja tidak dapat dipaparkan dengan kata-kata, namun bercirikan penegasian dari pemahaman realitas itu sendiri. Pemahaman non-dualistik ini pernah muncul dalam mimpi, tiga hari sebelum mengikuti retret. Lalu dalam walking meditation pemahaman tersebut muncul kembali dan makin nyata. Saya melihat bahwa setelah menyadari pemahaman non-dualistik tentang realitas, maka pikiran rasional yang bekerja berdasarkan dualitas yang masih mencari apa itu Realitas (non-dualitas) dengan sendirinya mereda dan akhirnya pikiran tidak berusaha mencari-cari lagi.

Terima Kasih Romo Sudrijanta. Tetaplah berkarya dalam Kesadaran Murni.

Semoga Semua Mahkluk Berbahagia

Jakarta, 14 Agustus 2013

-SIG-

LK, 53 tahun, Bekasi

Rasanya saya perlu mengungkapkan pengalaman berikut ini. Dengan mengikuti retret meditasi di Puncak, saya seperti di bawa pada suatu situasi yang menakjubkan! It’s like destiny, Romo! Saya bertemu dengan orang-orang yang baru saya kenal, tapi seolah-olah saya sudah mengenal mereka; rasanya familiar sekali. Saya bisa bertemu sesama alumni Sanur (Santa Ursula), Ibu AG, MH, MS. Amazing ! Saya bisa ketemu teman-teman sekamar yang luar biasa, AB dan JT. Kami bisa berbagi, tertawa dan menangis haru, padahal kami baru kenal. Ajaib! Kami seperti one big happy family di akhir retret dan rasanya pas sekali waktu Romo mengatakan, “We are inter-connected, inter-related , inter-woven with all beings.”

Saya merasakannya setiap meditasi di pagi buta, dengan bunyi jangkrik, kodok, burung-burung yang bersahutan, gonggongan anjing, di tengah hutan pinus dan pegunungan. Rasanya bisa menyatu dengan alam. Rasanya nyaman dan damai, bisa diterima sebagai bagian dari alam.

Saya jadi teringat tetralogi Eragon. Saat Eragon dalam pelatihan meditasi, dia harus menyatu dengan alam semesta, harus bisa merasakan benak sarang semut dan penghuninya, binatang-binatang kecil lainnya dan semua yang ada di dekat tempatnya bermeditasi. Mungkin begitu rasanya ya Romo mengalami “Manunggaling Kawula-Gusti” ?

Dengan Pak SP yang seringkali mengganggu dengan perkataan-perkataan dan komentar-komentarnya yang kadang lucu, kadang terasa masih penasaran dan gemes dengan jawaban-jawaban Romo, saya bisa merasakan empati. Betapa frustasinya beliau karena masih begitu banyak yang belum dimengerti, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabannya. Rasa penasaran dan keingintahuannya tercermin pada wajahnya, sampai pada beberapa kali kesempatan meditasi, beliau sudah tidak ada mood untuk mengikutinya.

Bisa bertemu dengan Pak EK, yang ternyata teman lama Djohan, yang sudah belajar meditasi kemana-mana dan baru pertama kali ikut retret meditasi seperti ini di Indonesia. Sungguh, suatu yang aneh!

Bisa bertemu MX, yang ternyata adik angkatan anak saya dan calon menantu saya di fakultas yang sama. Bisa ketemu Mas TK, yang saya kira seorang frater atau romo muda dan  ternyata bukan.

Bisa kenal dengan WJ, WP, FS, TM, AT, PN, dan lain-lain. Sungguh suatu keajaiban! Kebetulan? Rasanya bukan, seperti ada suatu desain agung yang mempertemukan kami semua sebagai satu keluarga baru.

Keterhubungan itu juga saya rasakan sesudah pulang retret. Saya mengajak anjing saya jalan-jalan. Biasanya saya agak tegang. Ada rasa khawatir kalau anjing saya Mochi bertemu kucing, karena pasti mau berkelahi. Biasanya saya agak cemas, karena takut Mochi dicakar dan digigit kucing-kucing liar. Mochi anjing terrier, suka berburu apa saja, dari lalat, cicak, kecoak sampai tikus. Anjing pecicilan!

Tapi sesudah retret meditasi, mungkin karena keadaan batin saya lebih tenang, Mochi juga lebih tenang. Waktu ketemu kucing, saya cuma bilang, “Mochi, No!” Dia nurut dan berjalan tenang. Biasanya kalau lihat kucing, dia langsung kalap dan menggonggong seru dan ingin berkelahi. Aneh kan Romo? Cesar Millan benar dalam hal ini ketika dia mengatakan, “Jika suasana hati pemilik anjing tenang, anjingnya akan tenang; jika tegang, anjingnya juga akan gelisah.” Secara psikologis di antara kami ada inter-koneksitas ya Romo?

Terima kasih romo atas bimbingannya selama retret ini. Romo sudah sangat sabar dan baik hati dengan kami semua.

Breathe and smile.

-LK-