Category: Dialogue


Perhatian terhadap Isteri dan Anak

NN: Mohon maaf Romo. Setelah sekian lama permasalahan ini berjalan, saya masih terganggu dengan hal yang sama. Hubungan kami (dengan isteri dan anak-anak) tidak membaik, bahkan mungkin justru ke arah yang lebih buruk. Saya berusaha mendekat, tapi masih penolakan yang saya terima. Saya berusaha untuk tidak berharap.

JS: Berikan energi yang paling baik, setiap hari, buat isteri dan anak-anak Anda. Jangan lagi meminta imbalan apapun dari mereka. Berikan perhatian yang tulus, meski terus mendapat penolakan. Itulah barangkali caranya untuk membantu menyembuhkan luka dalam diri isteri dan anak-anak. Kalau Anda masih terluka karena setiap kali ditolak, periksa lagi batin Anda. Sadari ego Anda dan lepaskan. Jangan lagi bicara siapa benar dan siapa salah. Tapi belajarlah untuk memberikan perhatian penuh kesadaran kepada mereka, seperti perhatian itu tertuju pada tubuh dan batin Anda.

Menurut Abraham Maslow ada lima tingkat kebutuhan manusia dan pemenuhan kebutuhan sesuai dengan tingkatannya menentukan tingkat kualitas kebahagiaan seseorang. Apakah praktik meditasi bisa membuat orang mencapai kebahagiaan tanpa mengikuti skema lima hirarki kebutuhan ini?

Kebahagiaan yang kita kenal dalam kesadaran sehari-hari pada umumnya terkait dengan banyak prasyarat seperti teori pemenuhan kebutuhan hidup manusia dari Abraham Maslow. Tetapi terpenuhinya prasyarat-prasyarat ini tidak serta merta membuat orang bahagia.  Kebahagiaan yang sesungguhnya tidak berkaitan dengan terpenuhinya prasyarat-prasyarat ini, melainkan pada “disposisi” batin seseorang yang tidak lagi terkondisi.

Mari kita mencermati satu per satu ke lima hirarki kebutuhan manusia ini dan bertanya bagaimana praktik meditasi bisa membantu men-“disposisi” batin, sehingga makin membebaskan batin dari segala keterkondisian, terutama di sini keterkondisian dari kebutuhan untuk pemuasan-pemuasan psikologis.

1.Kebutuhan fisiologis (survival needs): kebutuhan sandang, pangan, papan, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, pemuasan seks, dan lain sebagainya.

Kita bisa membayangkan apa jadinya kalau orang tidak berkecukupan dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, dan seks. Tentu saja ada penderitaannya sendiri ketika kita hidup serba berkekurangan. Tetapi pemenuhan kebutuan sandang, pangan, papan, dan seks, bahkan secara berlebihan, tidak menambah apapun pada kualitas kebahagiaan. Begitu pula, menjalani hidup dengan keterbatasan sandang, pangan, papan, dan hidup tanpa seks yang diterima dengan sukarela, atau bahkan dengan sengaja dipilih sebagai bentuk hidup dalam kemiskinan dan kemurnian, bisa jadi membuat orang kurang menderita dibanding kalau hidup berkecukupan atau bahkan berlebihan.

Adalah sebuah kenyataan bahwa kebanyakan dari kita lebih mementingkan pemuasan kebutuhan psikologis dibandingkan pemenuhan kebutuhan fisiologis atau biologis. Ada kenikmatan dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, papan, dan seks. Tetapi ketika kenikmatan fisiologis telah berkembang menjadi kenikmatan psikologis dan kenikmatan psikologis dijadikan tujuan tindakan, maka itu semua justru menjadi bahaya bagi tercapainya kebahagiaan yang sesungguhnya.

Praktik meditasi memiliki dampak positif di mana orang bisa secara optimal menggunakan daya-daya manusiawinya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, menggunakannya secara efektif dan bijaksana, dan membuat batin bebas dari ilusi kenikmatan psikologis.

2.Kebutuhan keamanan dan keselamatan (safety needs): bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, menikmati stabilitas social, memperoleh proteksi sistemik, dan lain sebagainya.

Tidak adanya keamanan fisik dan social di lingkungan masyarakat atau negara tertentu merupakan salah satu factor yang memicu perpindahan orang dari satu tempat ke tempat lain. Adalah wajar orang ingin hidup di tengah lingkungan yang aman dan stabil. Tetapi kalau orang tidak punya pilihan lain kecuali bertahan dalam lingkungan yang penuh konflik, bisakah mereka menjalani hidup dalam damai? Sebaliknya ketika orang hidup dalam lingkungan yang serba aman dan stabil, apakah otomatis mereka hidup bebas dari konflik?

Praktik meditasi membantu orang menemukan kedamaian yang tidak dikondisikan dari luar, bukan ketika ancaman atau konflik-konflik di luar berhenti, tetapi ketika konflik-konflik dalam batin berakhir. Batin yang damai memberikan kekuatan untuk bertahan dalam situasi-situasi yang biasa sampai yang paling sulit sekalipun.

3.Kebutuhan social terutama cinta dan pertemanan (love and belongings needs): memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, menjadi anggota komunitas sebaya, komunitas agama, etnik, dan lain sebagainya.

Setiap individu tidak bisa hidup sendirian seperti pulau yang terpisah dari pulau yang lain. Kehadiran orang lain atau komunitas dibutuhkan demi survival individu dan kelompoknya. Akan tetapi tanpa kualitas kebebasan dari dalam (inward freedom), keluarga atau komunitas, misalnya, bisa menjadi penjara baru yang justru mengasingkan setiap individu yang tinggal di dalamnya. Orang bisa menjadi sangat tergantung secara psikologis satu dengan yang lain dalam komunitasnya. Dalam ketergantungan psikologis, terdapat ketakutan, kekerasan, eksploitasi, dan lain sebagainya.

Praktik meditasi membantu orang menemukan kebebasan dari dalam dan dalam kebebasan yang sama  belajar menjalani hidup yang adalah relasi satu dengan yang lain. Relasi-relasi, misalnya dalam keluarga atau komunitas, bukan lagi menjadi sarang di mana orang mencari rasa aman, pemuasan diri atau cinta diri, melainkan menjadi ekspresi dari kebebasan dari dalam dan komunitas tidak lagi menjadi penjara baru.

4.Kebutuhan penghargaan (esteem needs): kebutuhan untuk dihargai (respect from others) karena status, ketenaran, reputasi baik, keahlian; dan kebutuhan harga diri (self-esteem) dalam bentuk keyakinan diri, kompetensi diri, independensi, kebebasan.

Rasa hormat atau penghargaan terhadap orang lain merupakan proyeksi dari apa yang kita pandang bernilai dalam diri kita. Kalau kita berambisi menjadi orang sukses, maka kitapun tidak akan malu-malu memberi rasa hormat pada orang-orang yang sukses. Kalau kita berambisi menjadi orang saleh atau suci, maka kita pun suka memberi hormat pada orang-orang yang tampak saleh dan suci di lingkungan kita. Tetapi kita seringkali hanya menghargai diri kita dan orang lain berdasarkan pada apa yang kita lakukan atau apa yang kita miliki. Itu bisa berupa kekuasaan, ilmu pengetahuan, keahlian, uang atau kekayaan, kemolekan tubuh dan seterusnya.

Praktik meditasi membantu kita untuk menghargai atau memberi rasa hormat pada keberadaan kita dan orang lain apa adanya, bukan berdasarkan pada apa yang dilakukan atau dimiliki.

5.Kebutuhan aktualisasi diri (self-actualization needs): bertindak sesuai bakat dan minatnya sebagai ekspresi penuh dan sempurna dari potensi-potensi dalam diri.

Orang-orang yang mampu mengenali bakat-bakatnya dan mengaktualisasikannya sering disebut bukan hanya sebagai orang-orang yang kreatif, tetapi juga orang-orang yang tahu bagaimana menikmati kebahagiaan melalui bakat-bakatnya. Tetapi kreatifitas yang bersumber hanya pada bakat-bakat alamiah bukanlah kreatifitas sejati. Ada kreatifitas yang lain sama sekali ketika orang mampu menyentuh dimensi yang lebih dalam melampaui bakat-bakat alamiahnya yang masih terbatas betapapun mengagumkan. Maka aktualisasi diri belum menjadi manifestasi kepenuhan atau keutuhan dirinya selama segala potensi dan keterbatasan diri belum terlampaui.

Praktik meditasi membantu orang menyadari bakat-bakat alamiah ini, kekuatan sekaligus keterbatasannya, dan melampauinya. Lebih jauh lagi orang belajar bukan hanya bagaimana mengaktualisasi diri melalui bakat-bakatnya, tetapi bagaimana “aktualisasi tanpa-diri” sebagai tindakan yang paling kreatif menjadi mungkin dan proses ini menjadikan keutuhan atau kepenuhan pribadi menjadi lengkap.

Kalau kita hanya makan, tidur, menikmati seks, menjadi bagian dari komunitas tertentu, dan mengaktualisasi bakat-bakat alamiah, sesungguhnya kita tidak jauh berbeda dari hewan. Apa yang membedakan kita dari hewan bukanlah tingkat pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi terutama adalah kemungkinan untuk hidup melampaui segala keterbatasan diri.*

Apa perbedaan pengetahuan intelektual dan pengetahuan mystical tentang Allah atau kebenaran?

Ada dua cara mengetahui, yaitu mengetahui dari “tangan pertama” dan mengetahui dari “tangan kedua”. Mengetahui dari dari tangan kedua menghasilkan pengetahuan intelektual,  sedangkan mengetahui dari dari tangan pertama menghasilkan pengetahuan mystikal.

Pengetahuan dari tangan kedua adalah pengetahuan yang berasal dari buku-buku atau apa kata orang lain. Pengetahuan tentang kebenaran atau Tuhan, kita dapatkan dengan mendengarkan kata-kata ahli kitab suci, teolog, guru spiritual, pemimpin agama, atau dengan membaca kitab-kitab suci atau buku-buku spiritual.

Pengetahuan dari tangan pertama adalah pengetahuan yang berasal dari pengalaman langsung atau pengalaman aktuil tentang kebenaran atau Tuhan. Pengalaman aktuil ini muncul dari kesadaran non-dualistik, bukan melalui proses-proses intelektuil atau proses-proses mental.

Pengetahuan dari tangan pertama disebut dengan pengetahuan mystikal, sedangkan pengetahuan intelektual atau pengetahuan spiritual atau pengetahuan agama termasuk bagian pengetahuan dari tangan kedua.

Bagaimana masing-masing jenis cara mengetahui ini bekerja?

Pengetahuan dari tangan kedua bekerja dengan kesadaran dualistic sedangkan pengetahuan dari tangan pertama bekerja dengan kesadaran non-dualistik.

Dalam kesadaran dualistic, ada pemisahan subjek-objek, si pengamat dan yang diamati, si pengenal dan yang dikenal. Misalnya, Anda mengenal Allah lewat kitab suci. Allah sebagaimana dikatakan kitab suci adalah “yang dikenal” dan Anda sebagai orang yang membaca dan memahami kitab suci adalah “si pengenal”nya.

Pengetahuan mystikal terjadi ketika tidak ada lagi kesadaran dualistic subjek-objek. Allah tidak bisa dipahami sebagai objek (yang dikenal) dari subjek (si pengenal). Agar Allah yang pada hakekatnya “tak-bisa dikenal” bisa dialami secara aktuil, maka “si pengenal” harus berakhir. Ketika si pengenal runtuh, yang dikenal juga tidak ada lagi. Ketika si pengenal dan yang dikenal keduanya runtuh, maka hanya ada mengetahui atau mengalami secara aktuil di luar batas-batas intelektual.*

Mati Selama Tiga Hari

by Sudrijanta Johanes on Thursday, 27 October 2011 at 18:39
 

Berikut adalah dialog NN dan JS tentang kematian dan kehidupan. NN, 47th, pernah mengikuti retret meditasi 10 hari, ibu 2 orang anak, penulis dan editor buku dan majalah.

======

Pernahkah Romo merasakan kematian begitu dekat dan tidak menakutkan lagi? Saya masih merasa aneh dengan apa yang saya alami. Berikut sharing-nya, mungkin Romo bisa memberi pandangan.

 

Minggu malam, 16 Oktober 2011 lalu, saya merasa sangat sedih dan menangis saat menelepon anak-anak. Saya minta maaf kepada mereka karena tidak bisa selalu bersama mereka dan supaya mereka saling menjaga sebagai saudara. Anak-anak bingung. Waktu itu suami sedang ke luar kota. Mereka berusaha menghibur, mengatakan mungkin saya kesepian. Tetapi, sebelumnya saya pernah sendirian di rumah selama sebulan, tak mengalami perasaan seperti ini. Saya katakan kepada mereka, waktu saya sudah dekat. Kalimat ini meluncur begitu saja.

 

Saya merasa hampa. Dalam kelelahan saya tertidur. Keesokan pagi saya bangun, hati terasa ringan. Tak ada ikatan emosional dengan siapa pun. Siang hari saya mengantar ibu berobat ke rumah sakit, tetapi saya tidak merasa dekat dengannya secara emosional. Saya hanya merasa seperti mengantar seseorang yang perlu ditemani ke rumah sakit. Saya tidak merasa punya anak-anak, keluarga, dan teman-teman. Saya sendirian dan bebas. Semua rutinitas berjalan biasa, berbelanja, memasak, rapat di kantor, berbincang dengan rekan-rekan kerja, tetapi tanpa emosi. Datar saja.

 

Ketika suami pulang dan saya ceritakan, ia pun melihat saya yang berbeda.  Saya berusaha membangkitkan berbagai kenangan dan keinginan, tetapi tak ada perasaan apa-apa. Saya mencari-cari, tetapi tidak menemukannya. Pada saat merasa bukan siapa-siapa lagi, membayangkan kematian tidak terasa menakutkan, hanya seperti kelanjutan dari kekosongan total dan terasa ada sosok yang begitu perkasa dan agung menguasai tubuh.

 

Agak aneh rasanya hidup tanpa emosi, tetapi ringan karena tak ada beban batin. Selama tiga hari saya alami hal itu. Sekarang masih on-off, antara ada dan tiada. Ingin mengulang seluruh pengalaman itu, tidak bisa. Lewat pengalaman tersebut saya jadi paham kalimatNya, saat Ia mengatakan: “Siapakah ibuKu? Siapakah saudara-saudaraKu?” Dan beberapa sabdaNya yang lain.

 

Mohon tanggapan Romo: (1) Apakah perkataan saya bahwa waktu saya sudah dekat – mengisyaratkan tak lama lagi saya akan meninggal? Wah, kalau begitu mesti siapkan surat wasiat dan bereskan segala sesuatu nih… (2) Mengapa diri yang sudah hilang bisa muncul kembali?

 

Salam,

NN

======

 

Dear NN

 

Kehidupan sebagai manifestasi dari gerak keinginan dan sarat dengan kelekatan-kelekatan merupakan salah satu objek identifikasi diri yang paling kuat yang mengkondisikan batin sehingga membuat batin takut terhadap kematian. Orang tahu bahwa ia tidak tahu kapan kematian tiba, tetapi ia tahu kematian itu pasti akan datang. Orang takut bukan pertama-tama karena ia tidak tahu kapan kematian itu datang. Orang takut juga bukan terhadap kematian itu sendiri karena ia tidak mengenal apa itu kematian. Orang takut justru karena enggan melepaskan kehidupan yang ia kenal yang dilekati sebagai objek identifikasi diri.

 

Ketika batin melekati kehidupan yang adalah relasi-relasi–relasi dengan anak, dengan suami, dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan alam benda-benda, dengan ide-ide–sebagai objek identifikasi diri, maka orang terus hidup dalam ketakutan, kegelisahan, penderitaan. Bukankah kesedihan dan tangisan Anda yang muncul secara mendadak sebelum, selama, dan setelah menelpon anak-anak merupakan manifestasi dari ledakan kelekatan terhadap kehidupan itu sendiri?

 

Kehidupan yang kita lekati terentang dalam waktu. Tidak ada waktu tanpa keinginan, tanpa kelekatan, tanpa identifikasi diri. Kelekatan adalah akar penderitaan. Maka hampir sepanjang waktu kita hidup dalam penderitaan. Sayangnya, orang tidak menyadarinya atau justru ingin menolak, membuang atau menghindarinya. Tetapi energy penderitaan di alam bawah sadar itu bisa menyeruak dan menerobos control pikiran dalam bentuk mimpi saat kita tidur atau menyeruak dalam bentuk tangisan dan kesedihan tiba-tiba di siang bolong seolah tanpa sebab. Maka tangisan dan kesedihan itu adalah ledakan waktu. Bukankah demikian?

 

Apa sesungguhnya yang dimaksud dengan “waktunya sudah dekat”? Apakah yang dimaksud adalah kematian sebagai pengakhiran total dari kehidupan atau pengakhiran total dari waktu itu sendiri? Apa yang terjadi setelah ledakan waktu itu berakhir? Ketika ledakan waktu berakhir, muncullah secara mendadak “kehidupan di luar waktu”. Anda mengalaminya begitu bangun tidur di pagi hari setelah “ledakan waktu” terjadi pada moment sebelum kelelahan dan tidur sepanjang malam. Ego/diri lenyap. Tidak ada lagi keinginan, kelekatan, identifikasi diri, emosi. Tidak ada lagi ketakutan, kesedihan, tangisan, penderitaan. Yang ada hanya kekosongan total yang tidak bisa dipersepsikan oleh pikiran. Dan dari kekosongan tersebut, lahirlah pengertian apa artinya kematian, apa artinya kehidupan, dan pengertian lebih mendalam makna di balik kata-kata Kitab Suci.

 

Pengalaman tanpa-diri Anda alami selama 3 hari. Ketika pengalaman tanpa-diri berakhir, Anda ingin memasukinya kembali tetapi tidak bisa dan tidak mungkin bisa. Anda bertanya, “Mengapa diri yang sudah hilang bisa muncul kembali?” Lenyapnya diri yang Anda alami tidak atau belum bersifat permanen. Kapan lenyapnya diri secara permanen terjadi? Kita tidak tahu. Tidak satupun orang tahu. Yang kita tahu dari pengalaman tanpa-diri ini adalah bahwa kematian adalah pengakhiran total dari apa saja yang dikenal oleh pikiran dan ketika kehidupan yang kita kenal ini seluruhnya berakhir, secara aktuil muncul kehidupan yang lain yang bukan berasal dari gerak waktu. Selama kehidupan bergerak dalam waktu, yang ada hanyalah kisah kesedihan dan penderitaan. Ketika kehidupan yang adalah gerak waktu berakhir secara total, muncullah kebebasan.

 

Kematian dan kehidupan yang dimengerti dengan persepsi pikiran merupakan dua moment yang terpisah. Ketika ego/diri atau pikiran runtuh seluruhnya, entah sementara atau permanen, kehidupan dan kematian bukanlah dua hal yang terpisah satu dengan yang lain. Maka mari kita meneruskan langkah untuk memasuki kematian-kehidupan sebagai satu gerak kesatuan yang tak terpisahkan.*

JS

Memahami Ego dan Gerak Identifikasi Diri

Bisakah dijelaskan lebih jauh mengapa proses identifikasi diri penting untuk memahami ego? Mengapa proses identifikasi diri itu terjadi dan apa dampaknya secara psikologis bagi orang yang mengalami?

 

Identifikasi diri dan hubungannya dengan ego penting untuk dipahami karena hampir selalu kita berada dalam keadaan mengidentifikasi diri dengan objek. Hidup adalah hubungan dan dalam hampir setiap hubungan ada proses identifikasi diri.

 

Identifikasi diri merupakan proses kejiwaan yang membentuk struktur ego atau diri dan sebaliknya munculnya ego atau diri memperkuat proses identifikasi diri. Objek identifikasi banyak. Tetapi proses identifikasi hanya tunggal, yaitu si aku atau si pemikir yang tidak berbeda dari pikiran melekat pada gambaran tentang objeknya: tubuhku, sifatku, barang berhargaku, rumahku, uangku, keluargaku, partnerku, kesenanganku, kebahagiaanku, kesedihanku, lukaku, penderitaanku, agamaku, kelompokku, kekuasaanku, statusku, ideologiku, ajaranku, doktrinku, Tuhanku.

 

Proses identifikasi selalu membuat konflik dalam batin karena objek yang diidentifikasi bukanlah “apa adanya”, melainkan gambaran yang dipersepsikan oleh pikiran tentang objeknya. Ketika muncul objek sensasi dan pikiran membuat gambaran atau konseptualisasi atas sensasi dan melekati gambaran atas sensasi, maka pikiran tidak menyentuh dan memang tidak bisa menyentuh “apa adanya”. Yang bisa disentuh oleh si aku atau pikiran hanya gambaran tentang objeknya, tetapi bukan objeknya itu sendiri.

 

Meskipun pikiran hanya mampu menyentuh gambaran atas objek dan melekatinya, proses identifikasi diri menciptakan sensasi psikologis tertentu. Orang merasa “Aku ada”, “Aku bahagia”, “Aku lebih kuat”, “Aku lebih bersemangat”, “Aku bergairah”, “Aku lebih percaya diri”. Identifikasi diri ini mempertebal ego. Ego itu sendiri merupakan entitas ilusif. Begitu pula proses identifikasi diri. Itu merupakan proses kejiwaan yang ilusif.

 

Dampak sosiologis dari menguatnya ego oleh identifikasi diri sangat berbahaya. Ego adalah pusat konflik. Ketika ego menguat dalam bentuk ego kelompok, maka potensi konflik dan kerusakan hidup bersama semakin besar. Misalnya, orang mengidentifikasi diri dengan Tuhan atau agama, “Tuhanku” atau “agamaku”. Lalu kelompok laskar Tuhan atau laskar agama tertentu ini tidak takut membunuh atau memusuhi orang-orang yang tidak sepaham dengan Tuhannya atau agamanya yang dipersepsikan sebagai kafir. Sekarang temukan sendiri identifikasi diri Anda terhadap sesuatu yang berdampak merusak dalam relasi-relasi Anda.

 

Mengapa terjadi proses identifikasi diri? Apakah itu terjadi karena adanya rasa takut, tidak percaya diri, merasa lemah, kerdil, tidak berharga, tidak berarti? Batin yang ingin diberi pahala, diakui, dihargai, dihormati, disanjung, dipuji karena apa yang dimilikinya adalah batin yang menderita karena terperangkap pada gambaran yang diciptakannya sendiri. Batin seperti ini tidak merasa bahagia kalau tidak ada pengakuan dari orang lain.

 

Amat sulit untuk meruntuhkan proses identifikasi sebab dalam proses tersebut orang menemukan rasa aman, rasa pasti, rasa kuat, antusiasme, semangat, gairah, spontanitas, inspirasi. Tidak mudah memutus identifikasi diri dengan barang atau orang. Lebih tidak mudah lagi memutus identifikasi diri dengan ide-ide, ajaran kebenaran dan Tuhan-tuhan sebagai konsep. Sebelum ada pengertian bahwa itu semua adalah ilusi, maka proses identifikasi yang adalah esensi dari si aku sulit diruntuhkan. Dan untuk memahami secara aktuil bahwa semua itu sebagai ilusi tidak mungkin tanpa meditasi.

 

Sesungguhnya selama ada si aku atau diri, yang ada hanya penderitaan. Tidak ada Anda di luar penderitaan. Tidak ada si aku di luar penderitaan. Tidak ada si aku di luar rasa kerdil. Tidak ada si aku di luar rasa lemah. Tidak ada si aku di luar rasa takut. Ketika rasa takut dan lain-lain itu dilihat dalam kejernihan sebagai fakta tanpa berlari mengejar apa yang bukan fakta dan batin seketika dibebaskan dari fakta yang dilihatnya, bukankah tidak ada lagi proses identifikasi? Ketika pikiran mengatakan, “Ini penderitaanku”, dan fakta bahwa “Tidak ada Anda di luar penderitaan” dilihat dalam kejernihan, bukankah si aku lenyap dan penderitaan juga lenyap seketika?

 

Cermatilah, sadarilah, tangkaplah, kapan si aku muncul dan mendistorsi fakta “apa adanya”. Bisakah pergerakan awal dari proses identifikasi diri, yaitu ketika pikiran menciptakan gambaran atau konseptualisasi atas objek dan melekatinya, disadari dan dibiarkan runtuh?*

 

(Dialog 2 September 2011 pada kesempatan retret 10 hari).

Bagaimana kita dapat lebih tajam melihat munculnya si aku. Apa ciri kemunculan si aku?

 

Pertama, si aku bisa dikenali dengan mengenali rasa diri. Apakah ada rasa diri dalam meditasi? Ada rasa diri yang menyadari, rasa diri yang berpikir, rasa diri yang merasa, rasa diri yang duduk atau berjalan. Rasa diri ini menjadi pusat hidup, bergerak dan ada.

 

Kedua, si aku bisa dikenali ketika muncul pikiran yang menamai objek, saat muncul dualitas objek – subjek, ketika muncul gerak untuk mengingini atau tidak mengingini, saat muncul daya upaya untuk menolak atau melekati objek.

 

Ketiga, si aku dapat dikenali ketika ada gerak identifikasi diri dengan objek. Identifikasi adalah proses melekati suatu gambaran tentang objek. Si pemikir yang tidak berbeda dari pikiran mengambil alih persepsi sensorik dengan menciptakan gambaran tentang objek dan melekatinya. Yang dilekati bukanlah objeknya, tetapi gambaran tentang objeknya.*

 

(Dialog 2 September 2011 dalam kesempatan retret 10 hari).

Pergulatan para laskar Tuhan

MAX KUSNADI:

 

“Romo apakah bila memiliki ego tetapi tdk melanggar hak-hak orang lain tetap salah ? Apakah bila memiliki ego tetapi menempatkan nya secara hirarki dibawah kehendak Nya juga salah ?

 

Apakah boleh bila kita tetap terikat dengan karya-karya kita di bumi tetapi menyerahkan hasil nya kepada Nya ?

 

Apakah boleh kita berusaha se maximal mungkin di bumi ini tetapi di akhiri dgn : Jadilah Kehendak Mu saja . . . ? Bukankah kita di tempatkan di bumi ini dengan tugas utk bekerja demi kemuliaan Nya ? Mohon pencerahan nya Romo, terima kasih . . .”

 

SUDRIJANTA:

 

Pertama-tama musti dijernihkan dulu dari sudut mana Anda bertanya soal salah dan benar? Apakah Anda bertanya dari teori atau posisi intelektual tertentu? Kalau Anda sudah memiliki posisi intelektual tertentu dan Anda bertanya soal salah dan benar dengan latar belakang posisi tersebut, bukankah sebenarnya Anda sudah memiliki jawabannya?

 

Posisi intelektual ini menentukan jawaban salah dan benar dari suatu perkara. Demikian pula kalau Anda belajar dari orang lain hanya untuk melihat perkara dari posisi intelektual yang berbeda, maka sesungguhnya Anda belum keluar dari problem yang Anda hadapi. Posisi intelektual sebagai latar belakang dalam memahami perkara, itulah masalahnya.

 

Kalau kita memahami perkaranya tanpa posisi intelektual apapun, maka ada kemungkinkan muncul persepsi langsung atas perkaranya. Persepsi langsung (bukan persepsi pikiran) inilah yang membuat kita memahami yang salah sebagai salah dan benar sebagai benar. Salah dan benar di sini tidak diukur oleh kesesuaian atau ketidaksesuaian dengan moral.

 

Kedua, perlu dijernihkan pula apa yang dimaksud dengan ego/diri. Bagi saya ego/diri itu tidak lain adalah pikiran atau keinginan dengan segala manifestasinya. Ada pikiran atau keinginan fisikal dan ada pikiran atau keinginan psikologis. Di satu pihak pikiran fisikal kita butuhkan untuk kelangsungan hidup, sementara di pihak lain pikiran atau keinginan psikologis menciptakan banyak problem psikologis dan spiritual.

 

Misalnya, kalau Anda hidup berkekurangan, Anda bekerja keras didorong oleh keinginan untuk hidup berkecukupan. Itu hal yang wajar. Tetapi kalau Anda bekerja keras agar menjadi kaya raya tanpa batas dan lewat kekayaan Anda mengejar kekuasaan tanpa batas, maka kerja keras Anda sudah ditunggai oleh keinginan psikologis yang akan makin mempertebal ego Anda.

 

Ketiga, kerja keras demi kemuliaan Tuhan merupakan manifestasi dari egoisme yang halus selama pikiran atau keinginan psikologis menjadi penggerak utamanya. Kalau pikiran atau keinginan psikologis dalam diri para laskar Tuhan tidak runtuh, maka para pejuang bagi kemuliaan Tuhan hanya menipu diri mereka sendiri karena mereka sesungguhnya berjuang untuk kepentingan ego halus mereka sendiri dan bukan demi kemuliaan Tuhan.

 

Cermatilah ungkapan berikut ini:

(1) “Aku akan bekerja keras bagi Tuhan” merupakan contoh ungkapan orang yang egonya masih kuat.

(2) “Aku akan bekerja bersama Tuhan” merupakan contoh ungkapan orang yang egonya kurang kuat.

(3) “Bukan lagi aku, tetapi Tuhanlah yang bekerja di dalam ini” merupakan contoh ungkapan orang yang sudah runtuh egonya.

 

Keempat, kehendak Tuhan tidak mungkin ditemukan kalau kehendak ego/diri tidak runtuh. Kalau orang mengaku melaksanakan kehendak Tuhan dan bekerja melulu demi kemuliaan Tuhan, tetapi tidak mau menanggalkan kehendak ego/dirinya (self-will, self-love, self interest), maka ia tidak jujur dengan dirinya sendiri.*