Category: Dialogue


Saya mengalami problem psikosomatis. Sering panic, merasa cemas, sedih, takut; semuanya bercampur aduk. Akibatnya, saya terkena asam lambung dan gejala serangan jantung. Saya coba berbagai macam teknik menenangkan diri tapi masih belum kelihatan hasilnya. Saya juga bermeditasi tapi perasaan itu malah semakin besar; semakin diamati semakin sesak. Bagaimana membedakan “mengamati batin” dan “terseret batin yang kacau”. Apa yang musti saya lakukan? Mohon saran. Terima kasih atas bantuan Romo. (NN) 

Ketidakseimbangan batin, kepedihan atau penderitaan tidak diciptakan oleh kondisi badan, seseorang, sesuatu, atau situasi-situasi di luar; “aku adalah pencipta penderitaanku”. “Aku” adalah pikiran delusive, si ego, si diri ilusif. Kondisi pekerjaan, perlakuan orang lain, situasi-situasi di luar atau rasa sakit fisik hanyalah stimuli, tetapi bukan pencipta penderitaanku. “Aku” sendirilah penciptanya. “Aku” sendirilah yang membiarkan diri ini menderita yang dipicu oleh kondisi badan atau factor-faktor di luar itu. 

Ketika timbul kecemasan, belief system sudah bekerja, yaitu “Aku tidak bahagia bila seseorang, sesuatu, situasi di luar, atau kondisi badan ini berjalan tidak sesuai dengan keinginanku; Aku akan bahagia kalau dan hanya kalau seseorang, sesuatu atau situasi di luar atau kondisi badan ini berjalan sesuai keinginanku.” Itu adalah belief system yang keliru. 

Kita perlu belajar untuk merealisasikan bahwa ketika pikiran delusive berakhir saat disadari, Anda adalah Stabilitas, Kedamaian, dan Kebahagiaan. Itu semua sudah ada di dalam sebagai benih dalam kesadaran terpendam. Jadi Kestabilan tidak tergantung pada kondisi tubuh atau situasi-situasi di luar. Kestabilan itu sendiri perlu ditemukan atau direalisasikan dari saat ke saat, justru ketika moment-moment ketidakstablian batin datang.

Stabilitas, Kedamaian dan Kebahagiaan itu ada dan hanya ada di Saat Sekarang, bukan suatu saat nanti kalau situasi berubah. Semua pikiran delusive menjauhkan kita dari Saat Sekarang, sibuk dengan masa lampau dan masa depan. Pikiran sibuk mempersoalkan hal yang sudah terjadi, “Mengapa ini atau itu terjadi”; “Mengapa ini atau itu terjadi dengan cara seperti demikian.” Pikiran sibuk dengan masa depan imaginer yang belum terjadi, “Bagaimana kalau ini atau itu terjadi? Bagaimana kalau ini atau itu tidak terjadi?” Pikiran-pikiran yang sia-sia, tidak bermanfaat dan negative ini menciptakan kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan. 

Energi negative tidak bisa menyeret batin kalau tidak ada reaksi. Jadi kembali lihatlah reaksi-reaksi dalam batin dan biarkan reaksi-reaksi itu berhenti secara alamiah. Sadari kekacaun batin setiap kali muncul tanpa reaksi; kalau ada reaksi-reaksi, sadari reaksi-reaksi itu juga tanpa reaksi. Menyadari reaksi di sini jauh lebih penting daripada menyadari kekacauan batin itu sendiri. Kalau setiap reaksi yang disadari berhenti, kekacauan itu luruh atau lenyap dengan sendirinya.

Kalau energy negative itu sangat kuat menyeret pikiran Anda, coba masukilah Saat Sekarang dengan pertolongan nafas Anda. Beradalah sepenuhnya bersama nafas Anda, maka Anda akan keluar dari jebakan pikiran dan masuk ke Saat Sekarang. Banyak moment bisa menolong Anda masuk ke Saat Sekarang, misalnya setiap langkah saat Anda berjalan, setiap tegukan air saat Anda minum, setiap dering bunyi telpon, dst. Anda bisa berhenti dari kegiatan Anda selama 2-5 menit setiap 30 menit atau 60 menit  hanya menyadari apa yang terjadi dengan tubuh dan batin. Sadari energy-energi negative; tangkaplah pikiran-pikiran delusive dan belief system keliru yang sangat halus; dan biarkan Stability, Peace, Happiness mekar menguat.

Situasi atau kondisi terus berubah-ubah, tetapi Stable Mind tidak bisa digoncang oleh perubahan situasi apapun yang terjadi. (js)

Hasrat Seks, Masturbasi, dan Meditasi

Sudah dua tahun sejak intensif melakukan meditasi, saya sudah tidak melakukan masturbasi lagi; dan semalam ternyata saya kebobolan lagi. Hasrat masturbasi begitu menguat disertai rasa penasaran seperti apa rasanya melakukan hubungan seks. Awalnya paling-paling saya sebatas “meraba” saja seputar payudara dan puting susu. Lalu timbul keinginan “memainkan klitoris” dengan jari. Itu terjadi begitu cepat. Kacau sekali rasanya. Masak saya kembali seperti dulu lagi? Bagaimana ya cara mengatasinya?

Terdapat beberapa pandangan yang keliru tentang hasrat seks yang perlu dijernihkan.

Pertama, hasrat seks muncul dari siklus hormonal sehingga timbul hasrat seks yang berulang-ulang. Pandangan tersebut tidak sesuai dengan fakta korelasi antara batin dan tubuh, pikiran dan dorongan seks. Kalau Anda sama sekali tidak berpikir seputar seks, maka hasrat atau dorongan seks juga tidak muncul. Pikiran seputar seks itulah yang pertama-tama mengaktivasi indung telur untuk memproduksi hormon estrogen dan progesteron untuk perempuan dan mengaktivasi testis untuk memproduksi hormon testosteron bagi laki-laki. Pikiran itulah yang pertama-tama membangkitkan gairah seks; bukan sebaliknya. Jadi, hasrat seks bukanlah gejala hormonal semata dan bukan bersifat mandiri atau bukannya tidak dipengaruhi pikiran.

Kedua, “kebobolan” terjadi karena begitu menguatnya hasrat seks sehingga sulit untuk dihentikan. Pandangan itu lagi-lagi meyakini bahwa hasrat seks timbul secara independence dari pikiran. Tingkat kekuatan hasrat seks bukan disebabkan pertama-tama oleh tingkat kekuatan hormonal, tetapi oleh intensitas pikiran. Intensitas pikiran itulah yang pertama-tama memperkuat hasrat seks dan sebaliknya intensitas hasrat seks memperkuat intensitas pikiran. Keduanya muncul hampir bersamaan dan saling mempengaruhi.

Ketiga, tekanan dari energy seksual hanya bisa diselesaikan lewat pemuasan seksual atau sublimasi. Pemuasan kebutuhan seks melalui masturbasi atau hubungan seksual dalam kenyataan tidak mengakhiri tekanan dari energy seksual, tetapi justru akan memperkuat nafsu-nafsu seksual. Dalam beberapa menit, energy seksual memang segera lenyap setelah masturbasi atau hubungan seksual dilakukan. Tetapi pada kesempatan lain berikutnya, dorongan seksual tersebut akan justru semakin meningkat. Maka kalau Anda dulu sudah terbiasa dalam waktu yang lama berulang-ulang melakukan masturbasi, energy seksual Anda sekarang menjadi kuat. Dan kalau Anda sekarang memulai masturbasi lagi, tindakan Anda akan memperkuat lagi nafsu-nafsu seks Anda yang akan bermanifest lebih kuat di masa depan.

Cara sublimasi atau pengalihan energy seks dengan menyalurkannya dalam kegiatan olah raga seperti renang, atau dengan bekerja lebih giat, atau dengan melakukan pelayanan yang bermanfaat bagi orang lain adalah baik. Sublimasi seksual bisa membantu menguras energy seksual, tetapi tanpa menyadari pikiran-pikiran seksual bisa jadi cara sublimasi hanya mengganti objek-objek seksual dengan objek-objek lain yang mendatangkan kenikmatan atau pemuasan diri. Selain itu, cara sublimasi tidak serta-merta menyelesaikan problem-problem kejiwaan yang seringkali justru tertutupi oleh hasrat-hasrat seksual, seperti problem kesepian, keterasingan, dan kekosongan.

Terhadap dorongan-dorongan seks dan keinginan masturbasi, sekurang-kurangnya enam moment krusial perlu dicermati.

Pertama, saat awal terjadi goncangan batin oleh nafsu seksual. Lihatlah apa yang terjadi dengan batin ketika muncul nafsu seksual? Bukankah batin tergoncang? Apakah muncul dorongan atau tekanan untuk melakukan sesuatu? Saat terasa ada goncangan oleh nafsu seksual, saat itu tepat untuk berdiam seperti sebatang pohon di tengah hutan. Jangan mengobarkan rasa suka atau tidak suka dengan pemikiran-pemikiran. Kalau batin diam, energy seks yang bergerak ini akan lewat tanpa menciptakan gangguan.

Kedua, saat pemikiran sudah berjalan tapi belum mencapai momentumnya yang membuat gairah seks menyala atau meledak. Dengan menyadari gerak pikiran, bukankah pikiran berhenti? Pikiran yang terhenti menimbulkan jeda sebelum pikiran yang lain muncul. Jeda pikiran ini memecah kekuatan energy seks yang nyaris terbangkitkan. Tidak ada gairah seks yang bergerak sendiri tanpa pengaruh pikiran. Dengan menyadari pikiran dan membiarkannya berhenti secara alamiah, gerak nafsu seks dengan sendirinya juga berhenti.

Ketiga, saat pikiran bergerak dan mulai memenjara batin dengan pikiran, gambaran, dan imaginasi seksual dan mengobarkan hasrat seks. Kalau pikiran yang bergerak tidak disadari, maka pikiran memberikan pasokan energy bagi dorongan seks dan kekuatan seks menjadi meningkat, menyala atau meledak. Biarkan saja energy seks mekar, tanpa reaksi-reaksi batin. Pada saat yang sama, cobalah menyadari  pikiran-pikiran halus yang sudah bergerak dan yang memberi pasokan energy pada dorongan seks. Sadari dalam-dalam keterbelengguan batin oleh pikiran dan dorongan seks hingga kekuatan pikiran dan dorongan seks memudar dengan sendirinya. Tidak ada kata terlambat untuk menyadari pikiran dan dorongan seks dan membiarkan kekuatan pikiran dan dorongan seks melemah dan berhenti secara alamiah.

Keempat, saat sudah muncul keinginan, niat atau kehendak untuk melakukan tindakan seksual, seperti “meraba” seputar payudara dan puting susu atau “memainkan klitoris” dengan jari. Sebelum jari-jari dan tangan Anda bergerak, sadarilah keinginan, niat atau kehendak. Janganlah berbuat sebelum keinginan, niat atau kehendak tertangkap kesadaran. Dengan menyadari keinginan, niat atau kehendak dan membiarkannya berhenti, tindakan masturbasi atau perbuatan hubungan seksual bisa dihindari atau berkurang intensitasnya.

Kelima, saat tindakan masturbasi sedang berlangsung dan Anda tersadar bahwa tindakan tersebut membuat diri Anda makin menderita. Rasakan kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, kesepian, pembuangan energy, dan keletihan.  Menyadari dan memahami seluruh gerak kekacauan ini memungkinkan tindakan seksual tersebut seketika berhenti.

Keenam, cermatilah munculnya “ego” atau “keakuan” dalam setiap moment pada kelima moment di atas. Adakah si aku yang terpisah dari dorongan seks; “Nafsu seksual-ku (objek kepemilikan) sedang meningkat dan menggoncang batin.” Adakah si aku yang terpisah dari pikiran; “Aku (si pemikir) berpikir-pikir tentang seks.” Adakah si aku yang terpisah dari kenikmatan seks yang dikobarkan oleh imaginasi-imaginasi seks; “Aku (si penikmat) menikmati kenikmatan seks.” Adakah si aku yang terpisah dari keinginan dan kehendak untuk melakuan perbuatan seksual; “Aku (si pendamba) mengingini dan menghendaki pemuasan seks.” Adakah si aku yang terpisah dari perbuatan seks; “Aku (pelaku) melakukan perbuatan seks.” Lihatlah bahwa si aku/ego tak terpisah dari kegalauan batin, kekacauan, konflik, pergulatan, kesepian, pembuangan energy, keletihan, dan penderitaan; “Si aku/ego tak terpisah dari penderitaan; penderitaan itulah si aku/ego”.

Kalau pada moment pertama Anda kelolosan, Anda masih memiliki kesempatan pada moment kedua. Begitu seterusnya sampai moment kelima. Kalau aspek keenam, yaitu timbulnya “keakuan”, tidak tertangkap dalam setiap praktik penyadaran, maka Anda akan masih menghadapi pergulatan yang keras. Selain itu, akan lebih mudah belajar membiarkan api nafsu seks berhakhir ketika dayanya masih kecil daripada ketika apinya sudah membesar.

Kalau Anda seringkali melakukan masturbasi pada saat-saat tertentu, misalnya saat menjelang tidur, saat-saat tersebut adalah saat yang paling baik untuk meditasi secara intensif sampai Anda jatuh tertidur.

Tentang Jenis-jenis Pikiran

Apakah ada beberapa criteria jenis-jenis pikiran yang sungguh diperlukan dan jenis-jenis pikiran yang tidak sungguh diperlukan untuk hidup? 

Ada enam jenis pikiran:

  1. Pikiran yang normal: Pikiran yang kita pakai untuk berhubungan dengan dunia melalui keenam indera, baik dunia fisik maupun dunia mental, adalah pikiran yang normal. Misalnya, ketika indra penglihatan berkontak dengan suatu objek yang berbentuk, pikiran menamai atau melabeli untuk mengidentifikasi objeknya, “Ini pohon; itu batu.” Ketika timbul fenomena dalam dunia batin, pikiran mengenalinya sebagai ingatan, pikiran, perasaan, dan reaksi-reaksi mental.
  2. Pikiran yang bermanfaat: Pikiran yang bermanfaat bekerja dalam dua area. Pertama, pikiran yang kita pakai untuk menghadapi dan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan praktis kehidupan. Misalnya, Anda menguasai ilmu atau keahlian tertentu sehingga Anda bisa mendapatkan penghidupan dari ilmu atau keahlian tersebut. Kedua, pikiran yang kita pakai untuk memperkuat atau memperkaya praktik kesadaran. Misalnya, membaca buku-buku spiritual atau buku-buku meditasi dan mengambil pokok-pokok yang bermanfaat untuk memperkaya praktik kesadaran.
  3. Pikiran yang tercerahkan: Pikiran yang tercerahkan adalah pikiran yang sudah dipengaruhi atau diilhami oleh pemahaman langsung akan “Apa Adanya” atau “Kecerdasan melampaui intelek” atau “Sesuatu Yang Lain” di luar waktu sebagai buah dari praktik kesadaran. Pikiran yang tercerahkan akan tampak dalam kata-kata yang diucapkan atau dituliskan. Setelah meditasi, orang memahami secara langsung kebenaran dari kata-kata ini, misalnya, “Si pemikir tidak berbeda dari pikiran”; “Kelekatan adalah musuh terbesar Cinta”; “Kemurnian hati adalah sumber kebahagiaan.”
  4. Pikiran yang sia-sia: Pikiran yang sia-sia bekerja dalam beberapa area. Pertama, pikiran mau mencapai pemahaman akan sesuatu di luar pikiran, misalnya, pikiran mau mengerti Tuhan, Kebenaran, Realita di luar waktu, Surga, Nirvana, Persepsi Murni, dst. Kedua, pikiran bergulat untuk menghentikan pikiran. Ketiga, pikiran berlari ke masa lalu atau ke masa depan sehingga menjauhkan kita dari Saat Kini.
  5. Pikiran negative: Pikiran negatif adalah pikiran-pikiran yang dipengaruhi oleh tujuh jenis kotoran batin: nafsu keinginan, kebencian, ketakutan dan kecemasan, keragu-raguan, kemalasan, kelekatan, dan ego. Semua kotoran batin tersebut diciptakan oleh pikiran dan ketika kotoran-kotoran batin bermanifest pikiran semakin diperkuat oleh kotoran-kotoran batin. Ketika pikiran menciptakan nafsu keinginan, maka pikiran penuh dengan nafsu keinginan. Ketika pikiran menciptakan kecemasan, maka pikiran penuh dengan kecemasan. Begitu pula halnya dengan kotoran-kotoran batin yang lain. Ketika pikiran menciptakan kotoran-kotoran batin, pikiran yang sama ditunggangi dan diperkuat oleh kotoran-kotoran batin yang diciptakan sendiri.
  6. Pikiran positif: Pikiran positif adalah proses-proses mental untuk memperkuat atau memperluas pikiran atau ego/diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Proses-proses mental ini bekerja melalui berbagai cara, misalnya, melalui teknik sugesti, afirmasi dan visualisasi. Contoh teknik sugesti: Ketika Anda merasa kurang percaya diri, Anda berdiri di depan cermin dan mengatakan, “Aku percaya diri.” Contoh teknik afirmasi: Ketika kita merasa lemah atau tidak berdaya dalam menghadapi suatu tantangan, misalnya, kita lalu memotivasi diri dengan mengatakan, “Aku kuat. Aku bisa. Aku pasti sukses. Ayo terus maju!” Contoh teknik visualisasi: Ketika grogi menghadapi atasan yang akan memanggil Anda, pikiran memvisualisasikan Anda berdiri dengan penuh keyakinan di depan atasan dengan wajah yang cerah dan penuh senyum.

Untuk bisa hidup dengan damai dan untuk mencapai perubahan hidup batin yang radikal, tiga jenis pikiran yang terakhir dari enam jenis pikiran tersebut—pikiran yang sia-sia, pikiran negative, dan pikiran positif—tidak kita butuhkan; sedangkan tiga jenis pikiran yang pertama—pikiran normal, pikiran yang bermanfaat, dan pikiran yang tercerahkan—kita butuhkan. 

Bisakah berlatih membiarkan pikiran berhenti ketika tidak sungguh dibutuhkan dan menggunakan pikiran secara optimal ketika sungguh dibutuhkan?

Introspeksi Diri dan Meditasi

Sampai saat ini saya biasa melakukan introspeksi diri dulu sebelum meditasi. Jadi saya me-review apa yang telah saya lakukan. Jika ada yang salah, saya menyesali itu dan akan memperbaiki diri. Setelah itu, baru saya meditasi. Bagaimana pandangan Romo? 

Kebiasaan introspeksi, menyesali, dan memperbaiki diri itu adalah baik. Hanya saja pola tersebut memiliki keterbatasan dan tidak mendatangkan perubahan mendasar. Mengapa? Karena kegiatan introspeksi adalah kegiatan pikiran dan pikiran adalah pecahan energy. Sama halnya dengan rasa sesal dan daya upaya untuk memperbaiki diri. Itu semua adalah pecahan energy yang bekerja masih dalam lingkup “diri”. 

Apa asumsi di balik proses pengolahan diri tersebut? Ada “diri yang keliru”; ada “diri yang menyesal”; ada “diri yang berupaya memperbaiki diri”. Pola tersebut hanya berputar pada lingkup “diri”: dari “diri yang keliru” ke “diri yang sejati”. 

Selain itu, proses mengubah apa faktanya menjadi apa yang seharusnya menjadikan apa yang seharusnya masih memiliki ciri lawannya. Misalnya, kita ingin mengubah kemarahan menjadi kesabaran atau ketakutan menjadi keberanian. Lihatlah bahwa dalam kesabaran masih terdapat benih kemarahan dan dalam keberanian masih terdapat benih ketakutan. Di dalam apa saja yang berlawanan masih mengandung sisi lawannya. Demikianlah daya upaya untuk mengubah diri menjadi lebih baik di masa depan tidak mendatangkan wajah kebaikan yang fundamental karena wajah keburukan masih tetap ada di dalamnya. 

Kebanyakan dari kita sesungguhnya tidak “melihat” kemarahan atau ketakutan sebagai “apa adanya”. Kita hampir selalu melihat kemarahan atau ketakutan dengan keinginan untuk mengubah, membuang, membenarkan atau menyalahkan, dst. Dengan demikian kita tidak sungguh “melihat”. 

Bila kita “melihat fakta diri sebagaimana adanya”—kemarahan, ketakutan, termasuk pula kebiasaan introspeksi, rasa sesal, daya upaya untuk mengubah diri—maka tindakan “melihat” itu sendiri membawa perubahan mendasar pada apa yang dilihat. Bila terdapat intensitas dalam melihat, maka tidak terdapat “diri” yang melihat dan perubahan sudah terjadi seketika dalam moment melihat itu sendiri. 

Bila sudah terdapat perubahan seketika pada moment “melihat”, maka tidak dibutuhkan lagi proses introspeksi, rasa sesal dan daya upaya untuk memperbaiki diri di masa depan. Kalaupun seluruh proses tersebut masih dilakukan sebelum meditasi, maka seluruh proses mental tersebut dipotong pada moment “melihat” pada Saat Kini dalam meditasi. Kalau kemampuan “melihat” itu tidak ada, tentu saja Anda akan terus bergulat untuk mengubah diri dengan cara konvensional—dan membenarkan cara tersebut sebagai satu-satunya cara untuk berubah—meskipun Anda mendapati bahwa diri Anda tidak sungguh-sungguh berubah. 

Setiap kali meditasi, Anda bisa memeriksa, “Apa yang terjadi dengan diri Anda sekarang?” atau “Apa yang penting sekarang untuk disadari?” Tanpa membuang energy terlalu banyak melalui proses introspeksi dan daya upaya untuk mengubah diri, Anda bisa langsung mengakhiri setiap formasi dan proses-proses mental dengan “melihat halnya sebagaimana adanya”. Dan lihatlah, perubahan itu terjadi tanpa daya upaya di masa depan, tetapi sudah terjadi pada moment Saat Kini, seketika.

Tentang Pelita Kesadaran

Pagi ini, ketika saya membuka pintu teras, saya merasakan angin sejuk yang menerpa kulit saya. Saya melihat langit yang mendung berwarna peach karena semburat sinar matahari yang tertutup awan putih tebal. Ujung daun-daun bergerak terkena hembusan angin. Saya merasa berbeda pagi ini, dan senang dengan sambutan pagi ini. 

Saya pun melangkahkan kaki keluar pintu, dan meluangkan 1 menit memejamkan mata dan masuk ke keheningan. Hanya semenit. Kemudian saya masuk kedalam kamar kembali. Masih terpesona kesan di teras, saya pun melanjutkan masuk ke dalam keheningan di kamar, bukan dengan posisi meditasi, hanya duduk bersandar dan mata terpejam. Tiba-tiba saya ingat kata-kata pak Hudoyo ketika retret MMD. “Dengan meditasi, hal yang paling akhir adalah untuk menjadi pelita bagi orang disekitar kita.” 

Pada moment itu, sampai dengan tadi pagi, saya memahami bahwa kita adalah pembawa pelita bagi orang di sekitar kita. Tapi entah bagaimana, pemahaman itu dalam diri saya bergeser menjadi, pelita itu adalah kita sendiri, dimana saya atau kita–hanya menunjuk ke pengertian subyek, bukan si aku–seandainya adalah sebuah pelita, saya adalah sinar yang ada di bagian tengah yang paling terang kemudian cahayanya barulah berpendar di sekelilingnya. Saya menjadi tersadar kalau selama ini saya merasa diri buta dan berada dalam kegelapan, dan berusaha mencari cahaya untuk menerangi. Ternyata kita dari awal mula adalah sinar terang di tengah pelita dan memperterang kegelapan dalam hidup ini. Hanya saja kita tidak sadar, termasuk saya. 

Pemahaman ini kemudian membawa saya flashback ke beberapa kejadian akhir-akhir ini, dimana saya bertemu banyak orang yang baru saya kenal. Dalam setiap pertemuan, saya merasa diperlakukan dengan baik, diperhatikan, dibantu bahkan sebelum saya meminta bantuan. Saya sampai terheran heran, karena nothing has never ever been going this well previously. Saat itu focus saya adalah bagaimana orang lain memperlakukan saya dengan baiknya, tapi saya lupa satu hal. Hal itu akhirnya saya sadari saat ini. Saya lupa menyadari bahwa orang-orang tersebut adalah pelita hidup entah mereka sadari atau tidak; tapi cahaya mereka telah menerangi saya dengan perbuatan dan kata-kata mereka ke saya. Saya seperti terhempas angin, o wow, betapa sederhana cara kerja pelita itu, tapi efeknya tidak pernah kita sadari, kecuali kita sadar. Di titik ini, saya merasa ada yang kurang atau kurang tepat dalam pemahaman ini. Mungkin Romo Sudri dapat membantu saya untuk dapat memberi penjelasan lebih lanjut?

PS

Dear PS,

Anda adalah Pelita atau Terang bagi diri Anda sendiri dan dunia. “You are a Light to yourself and the world.” Jangan katakan, “I have a Light”; tetapi katakan, “I am a Light.” Terang itulah Anda. Terang itulah “JIWA” Anda yang sesungguhnya. Yang saya maksudkan “Jiwa” di sini adalah “KESADARAN MURNI” (Awareness), bukan “pikiran” atau “kesadaran yang terkondisi”. Maka Anda yang sesungguhnya adalah “a Conscience Light” atau “a Light of Awareness” (Pelita Kesadaran). 

Pelita Kesadaran ini bekerja lewat pintu persepsi yang menghasilkan tindakan yang benar. Kalau Pelita Kesadaran ini tidak ada, maka terdapat kegelapan dalam persepsi dan tindakan kita seringkali keliru. Kalau Pelita Kesadaran ini ada, maka persepsi kita terang, jernih, utuh dan tindakan kita bebas kesalahan. 

Kegelapan jiwa kita tidak bisa dihalau oleh Pelita orang lain. Kita sendirilah Pelita atau Terangnya yang bisa menghalau kegelapan jiwa kita sendiri. Tetapi Pelita orang lain bisa menolong kita untuk menyadarkan kembali bahwa Jiwa kita yang sesungguhnya adalah Pelita atau Terang Kesadaran itu. Begitu pula kita bisa menolong orang lain untuk menyadari esensi Jiwanya sendiri sebagai Pelita Kesadaran dengan membiarkan Pelita Kesadaran ini bernyala dan menerangi perbuatan kita. 

Pelita atau Terang itu sesunggunya bukan milik kita, bukan milik orang lain. Terang adalah Terang; bukan milikku, bukan milikmu. Maka Terang itu bisa terkoneksi satu dengan yang lain dalam hubungan-hubungan kita satu dengan yang lain, karena pada hakekatnya Terang itu tidak berbeda. Jadi Terang orang lain bisa membangkitkan Terang Jiwa kita sendiri; begitu pula sebaliknya. Tetapi Terang orang lain tidak serta-merta membebaskan kegelapan jiwa kita kalau Terang itu tidak ada dalam diri kita sendiri. Anda adalah Terang bagi Anda sendiri. Ketika Terang itu terbit, kegelapan jiwa ditransformasikan. Orang lain tidak bisa melakukannya untuk Anda, meskipun bisa menstimulir terbitnya Terang itu dalam diri Anda.

JS

Pertanyaan MM:

Bisa minta advice-nya romo?

Saat ini sy dlm kondisi “tdk mengerti” thd tubuh sy. Setiap kali meditasi ada yang mengerang dan mengejang di perut.

Jawaban JS:

Dear MM,

Dalam keheningan meditasi, hal-hal yang tidak tampak di permukaan menjadi tampak, seperti apa yang Anda alami, suara mengerang dan perut mengejang.

Ada dua penjelasan mengapa muncul fenomena seperti yang Anda alami.

Pertama, suara mengerang dan perut mengejang bisa terjadi sebagai manifestasi dari penderitaan di alam bawah sadar yang terkubur dalam-dalam. Fenomena batin tersebut sudah ada, tapi tidak terlihat dalam kesadaran sehari-hari. Hanya dalam keheningan meditasi, fenomena itu tampak.

Anda sudah tahu bagaimana menghadapi fenomena yang pertama ini. Merasakan dengan seluruh jiwa raga tanpa ada diri yang merasa atau menyadari secara total perasaan itu tanpa diri yang menyadari. Anda musti siap untuk menanggungnya, berapa pun lamanya fenomena tersebut berlangsung.

Kemungkinan kedua, fenomena itu bukan berasal dari alam bawah sadar, tetapi dari makhluk (makhluk) dari alam lain yang terkoneksi dengan tubuh. Mengapa terjadi inter-koneksi? Dalam kebanyakan kasus, koneksi dengan makhluk dari alam lain terjadi karena kondisi batin seseorang. Batin yang bersih hampir tidak mungkin terkoneksi dengan makhluk dari alam lain. Kalaupun terkoneksi dengan tubuhnya, batin tidak terganggu sama sekali.

Kalau Anda merasa terganggu, lebih penting menyadari batin Anda, bukan objek rasa sakit atau objek suara yang terdengar. Kalau Anda merasa tidak terganggu, seiring dengan bersihnya kotoran-kotoran batin, maka fenomena tersebut akan lenyap dengan sendirinya.

Memang ada teknik-teknik untuk penyembuhan sakit-penyakit non-medis. Sakit-penyakit ini bisa disebakan oleh interkoneksi tubuh dengan makhluk-makhluk dari alam lain, guna-guna, santhet, dst. Yang begini ini saya tidak menguasai. Kalau Anda mau coba-coba, silahkan.

Jadi saya menyarankan agar Anda memakai fenomena tubuh, suara-suara, rasa perut yang mengejang dan rasa hati Anda untuk memacu Anda dalam praktik penyadaran akan fenomena batin dan membiarkan gerak batin Anda berhenti.

js

Dialog Ylt dan JS tentang penderitaan, hidup perkawinan, hubungan khusus pria dan wanita, dan pembebasan:

Apa kabar Romo? Saya peserta MTO di Bali pada Maret 2013 lalu. Maaf Romo, ada yang ingin saya tanyakan; semoga tak mengganggu waktu Romo.

Begini Romo, saya sudah tak ada lagi keraguan dan merasakan bahwa hidup itu adalah penderitaan dan menyadari pentingnya membebaskan diri dari penderitaan itu. Saya meyakini ini setelah dalam retreat seminggu bersama Romo diajak untuk menyelemi rasa sakit. Dari meditasi dua hari terakhir saya mengalami perjalanan ke alam bawah sadar, melihat proses masa lampau saya yang saya kenal dari masa dewasa hingga masa kecil, hingga ke masa-masa yang tak saya kenali.

Pengalaman-pengalaman masa lalu yang tak saya kenali itu sungguh menyedihkan dan penuh penderitaan. Saya masuk ke dalam masa silam menjadi korban persembahan, tubuh saya ditombak berkali-kali oleh sekelompok orang yang mengelilingi dengan kostum berjubah, setelah itu saya masuk ke masa di mana saya mati bersama tumpukan mayat korban perang, lalu saya menjadi sesuatu yang tak berbentuk, tak memiliki tubuh, hanya melayang-layang di antara stupa. Setelah itu saya masuk ke alam seperti masa janin dan ini juga menyakitkan. Kemudian saya masuk ke dalam kehidupan seseorang. Di sini saya melihat kebahagiaan, menjalani kehidupan berpasangan dengan seseorang sampai tua. Di situ kami biasa menghabiskan waktu minum teh bersama dan melihat bintang-bintang yang bertaburan di kala malam. Itu bayangan yang sungguh indah, Romo.

Pengalaman masuk ke alam tak dikenal itu membuat saya paham perkataan para tokoh spiritual bahwa penderitaan itu terjadi beribu-ribu tahun. Sebelumnya saya skeptis dengan teori reinkarnasi, seperti halnya konsep surga dan neraka setelah kita mati.

Pemahaman sejak retreat itu mengubah keseharian saya. Saya menjadi lebih peka terhadap perasaan-perasaan, pikiran-pikiran yang timbul dan sensasi-sensasi yang hadir. Saya mengikuti anjuran Romo, “sadar setiap kali tidak sadar.”

Di antara berbagai keseharian ini, hal yang menjadi perhatian adalah kelekatan dalam hubungan dengan lawan jenis yang saya sukai. Sekarang saya berumur 33 tahun. Beberapa tahun lalu pernah ada rencana menikah dengan mantan pacar saya, tapi batal karena ada keraguan yang besar dari saya untuk menjalani pernikahan bersamanya. Selama ini saya belum pernah mengkaji soal pernikahan secara mendalam.

Sejak retreat itu, dalam hubungan saya dengan lawan jenis yang saya sukai, saya melihat begitu banyak motif, ketergantungan emosi dan sensasi-sensasi ketika berhubungan dengannya. Meski saya berniat menjalani hubungan tanpa ekspektasi apapun, tetap saja saya masih larut dalam berbagai macam pikiran dan perasaan. Dan saya tahu, cinta bukanlah emosi-emosi dan sensasi-sensasi.

Bila saya sadari, berbagai sensasi dan motif itu bisa hilang. Namun sesaat kemudian muncul kembali dan terus berulang. Bahkan terkadang emosi berlanjut dan saya terlambat menyadarinya. Ada sensasi-sensasi yang membuat nyaman dan senang, ada yang membuat menangis dan menderita. Saat saya sadari, saya kembali tenang dan di situ saya bisa benar-benar berhubungan tanpa ekspektasi.

Yang menjadi pertanyaan, apakah hubungan khusus dengan lawan jenis akan terus seperti ini? Atau bisakah ada hubungan yang berbeda yang tak terikat emosi-emosi dan sensasi bila kesadaran makin tumbuh? Perlukah sedari awal kita memilih: untuk menikah atau tidak, atau membiarkan segalanya mengalir saja? Apakah bisa hidup dalam pernikahan tanpa keterikatan dengan pasangan atau anak? Apakah bisa menjalani pembebasan dalam hubungan yang terikat dalam pernikahan?

Saya berupaya memahami konflik-konflik ini dalam meditasi, namun belum ada insight yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Saya hanya mendapat pemahaman lebih mendalam saja, bahwa dalam hubungan lawan jenis ini terdapat begitu banyak penderitaan. Adakah anjuran yang bisa Romo berikan agar saya memahami konflik ini?

Terimakasih Romo telah membaca curhatan saya ini. Semoga Semesta selalu melindungi dan memberkahi Romo. Amin

Salam,

Ylt

====

Ylt,

“Apakah hubungan khusus dengan lawan jenis akan terus seperti ini? Atau bisakah ada hubungan yang berbeda yang tak terikat emosi-emosi dan sensasi bila kesadaran makin tumbuh?”

Hampir dalam setiap relasi, timbul sensasi dan emosi, termasuk dalam relasi khusus dengan lawan jenis. Persoalannya bukan bisakah kita hidup tanpa sensasi dan emosi, tetapi bisakah kita menyadari dalam-dalam kelekatan-kelekatan kita pada sensasi dan emosi, tanpa keinginan bahkan untuk bebas dari sensasi dan emosi, karena keinginan untuk bebas darinya adalah bentuk kelekatan yang lain.

“Perlukah sedari awal kita memilih: untuk menikah atau tidak, atau membiarkan segalanya mengalir saja?”

Menikah atau tidak menikah adalah pilihan seperti halnya kita memilih untuk bekerja mandiri atau bekerja sebagai karyawan. Bedanya, pilihan menikah atau tidak menikah merupakan pilihan hidup yang lebih fundamental dibanding memilih pekerjaan.

Apakah kecenderungan untuk “membiarkan segalanya mengalir” tidak lain merupakan ekspresi dari ketidakberdayaan menentukan “pilihan arah” atau merupakan suatu “sikap batin” yang terbuka terhadap semua kemungkinan?

Apakah pilihan-pilihan kita lebih ditentukan oleh kelekatan kita (nafsu, kesenangan, ketakutan, dst) atau oleh sikap lepas bebas? Adalah sangat penting untuk mengolah batin hingga kita mencapai sikap lepas bebas. Dalam keadaan lepas bebas, tentukan “pilihan arah” (menikah atau tidak menikah) dan laksanakan pilihan tersebut apapun bayarannya.

“Apakah bisa hidup dalam pernikahan tanpa keterikatan dengan pasangan atau anak? Apakah bisa menjalani pembebasan dalam hubungan yang terikat dalam pernikahan?

Bisa atau tidaknya tergantung dari orang yang menjalani. Faktanya, kebanyakan orang hidup dalam berbagai bentuk kelekatan, entah menikah atau tidak menikah. Sulit atau mudahnya pembebasan diri tidak ditentukan oleh bentuk hidup menikah atau tidak menikah, tetapi pada kualitas batinnya. Kalau sepasang suami isteri punya perhatian dan komitment yang sama sebagai teman spiritual untuk mengalami pembebasan diri bersama-sama, barangkali perkawinan mereka menjadi sangat berarti sebagai rumah pembebasan. Sebaliknya, kalau suami isteri hidup dalam dua dunia yang sama sekali berbeda dan tidak bisa saling memahami, misalnya yang satu sangat menyukai seks dan materi sementara yang lain menyukai meditasi, maka hidup perkawinan mereka bisa sangat menyesakkan seperti hidup di penjara.

js

LIB, 51 th,  pemeditasi baru.

Romo Sudri yth, 

Setelah sesi bimbingan yang  Romo berikan kemarin, saya mulai mencoba mempraktikkannya pagi ini. Dan saya mengalami, “jauh lebih mudah” untuk masuk ke level seperti kemarin. Biasanya, seperti saya bercerita ke  Romo, pikiran saya selalu mengembara kemana-mana sehingga sulit sekali bagi saya untuk konsentrasi dan bisa “masuk” saat meditasi. Ini pertama kalinya saya merasakan bisa masuk sendiri dan saya merasa lebih bisa mengendalikan sejauh mana saya masuk, karena saya harus segera bangun dan beraktivitas. 

Sebenarnya hal utama yang amat mengganggu saya adalah sering terombang-ambing oleh perasaan senang atau sedih dan sebagainya. Hal itu menjadi amat mengganggu ketika terkait perasaan dengan orang lain. Hal itu kemudian memengaruhi saya secara cukup dalam sehingga seringkali menyeret saya berbuat hal-hal negatif dan tidak perlu, yaitu ngobrol tanpa kesimpulan, alias “ngrumpi” hanya untuk “memuaskan” perasaan yang teraduk-aduk.  

Saya ingin  Romo tahu bahwa “sepanjang hidup” saya—maksud saya adalah sejak mahasiswa ketika saya masih dalam kondisi “marah” kepada ayah saya karena menyerahkan saya diadopsi tanpa sepengetahuan saya– saya mulai sering mempertanyakan eksistensi diri saya. Hampir setiap saat saya mempertanyakan hal itu terus menerus: “Mengapa saya selalu terombang-ambing oleh perasaan?”, “Mengapa saya merasa banyak orang tidak suka pada saya?” Saya tergolong orang yang “brisik” dan sering membuat suasana penuh tawa, padahal jauh di dalam, saya sering merasa sepi sendirian. 

Pertanyaan akan diri itu menjadi lebih parah dan lebih tak terarah ketika saya mulai bekerja. Saya menjadi pribadi–yang baru sekarang saya tahu–tidak matang walau saya sering membantu teman-teman lain mencari jalan keluar saat mereka terkena masalah. Saya sempat merasa saya bisa menjadi “konsultan”, padahal sebenarnya saya lebih parah. Hehe… lucu juga. 

Saya ingin melaporkan tahapannya. 

Setelah bimbingan kemarin, saya terus mencoba untuk bisa masuk ke lapisan kesadaran dengan berbagai cara. Saya terus mencoba sampai saya tidur sekitar jam 00.30.

Saat bangun,  saya tiba-tiba tersadar bahwa masalah utama saya adalah terlalu mudah diombang-ambingkan perasaan, sampai sedemikian parah sehingga muncul banyak masalah, seperti masalah dalam pergaulan di kantor. Mungkin seperti  Romo katakan kemarin “gesture” 

saya menyiratkan bahwa saya “sakit”, yang pasti terbaca oleh orang lain. Saya menyimpulkan bahwa saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri. Masalah tersebut sudah saya ketahui sejak lama, namun saya tidak pernah sampai pada jalan keluar setidaknya untuk mengurangi dampak yang seringkali negatif terhadap diri saya sendiri.  

Saya lalu mencoba berkonsentrasi pada fisik saya dan secara samar saya mulai “masuk”. Entah dari mana datangnya, yang muncul adalah “saya merasa amat kehilangan Bude saya”–Bude yang membesarkan saya. Kesadaran ini sungguh tidak saya duga. Benar-benar baru “terpikir” atau “terasakan”. Ini pertamakalinya saya menyadari bahwa saya merasakan kehilangan yang amat besar karena Bude saya meninggal. Pada saat-saat terakhir Beliau, saya mengantarnya seorang diri karena hanya saya yang menunggui beliau. Mungkin ini kebenaran yang selama ini tertutupi oleh sosok ibu kandung-yang sebenarnya “tidak saya kenal” karena saya nyaris hanya punya satu buah bayangan tentang ibu saya. 

Saya baru ingat, penyebabnya kemungkinan besar adalah “saya tidak pernah menangis” saat Bude saya meninggal.  Sama sekali tidak pernah. Saat-saat terakhir beliau saya antar dengan amat rasional, karena beliau sudah sakit parah, dan setelahnya pun saya tidak menangis karena ditinggalkan beliau. Padahal saya berinteraksi amat dekat dan berkomunikasi dengan amat intens dengan Bude, tentang banyak hal sepanjang masa pertumbuhan saya dari kecil hingga lulus SMA. Bude meninggal saat saya lulus perguruan tinggi tapi belum wisuda.

Penemuan baru dalam meditasi pagi tadi membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa, dan saya bisa rileks. Selanjutnya saya tidak tahu lagi harus mencari apa….???

Baik  Romo, sekian dulu sharing saya. Saya berterima kasih telah diberi bimbingan kemarin. Kalau  Romo tidak terlalu sibuk saya akan sangat berterima kasih jika  Romo bersedia memberikan bimbingan lagi, juga kalau  Romo berkenan mengirimkan energinya. Suwun sebelumnya. Selamat menikmati sisa hari Minggu.

Maaf  Romo, panjang sekali dan terdengar cengeng-sungguh saya tidak mau cengeng. Saya hanya berpikir mungkin ini perlu untuk proses penemuan diri saya kembali. Matur nuwun  Romo.

Minggu, 28 April 2013

Salam, 
LIB 

 =====

Dear LIB, 

Anda mengatakan, “Penemuan baru dalam meditasi pagi tadi membuat saya merasakan kelegaan yang luar biasa, dan saya bisa rileks. Selanjutnya saya tidak tahu lagi harus mencari apa….???”

Dalam meditasi, janganlah mencari apapun. Tugas kita dalam meditasi “hanya” mengembangkan kesadaran terhadap sensasi fisik dan rasa-perasaan, pikiran dan si aku, tubuh dan batin. Jangan menambah atau mengurangi, ingin mengubah atau mengendalikan.  Biarkan apa saja, objek-objek di luar maupun di dalam batin, muncul dan lenyap seperti “apa adanya”. 

Kalau kita memiliki sikap yang benar dalam meditasi, maka meditasi kita akan berjalan baik. Sedikitnya terdapat lima sikap yang penting diperhatikan: “relaks tapi serius”, “sadar tanpa memilih-millih objek-objek yang diamati”, “mengamati tanpa si pengamat”, “tidak terdapat rasa tidak suka yang menggerakan resistensi atau pengalihan dari fakta yang dihadapi”, dan “tidak terdapat kemelekatan pada objek atau pengalaman yang menyenangkan selama meditasi”. Periksalah setiap kali apakah sikap Anda sudah benar. 

Kalau meditasi Anda berjalan dengan baik, apa saja yang Anda kenal yang Anda sadari dengan sikap yang benar– sensasi fisik dan rasa-perasaan, pikiran dan si aku, tubuh dan batin—akan menjadi pintu yang membawa Anda kepada realitas yang lain. Dengan demikian, kita perlu belajar untuk setiap kali menembus, melampaui, mentransendir apa saja yang kita kenal. Jalan penembusan itu tidak bisa dicapai dengan konsentrasi, melainkan “kesadaran”.

Dalam perjalanan meditasi, Anda bisa menemukan perasaan kelegaan yang luar biasa seperti yang baru saja Anda alami.Tubuh dan batin Anda mengenalnya dan menjadi relaks dan damai.

Rasa kelegaan ini bisa datang tanpa insight atau pemahaman baru. Kelegaan itu datang tanpa bisa dijelaskan mengapa bisa terjadi demikian. Bisa juga muncul disertai insight atau pemahaman baru tentang suatu hal yang khusus atau umum. 

Anda bisa merasakan sesuatu jauh lebih dalam daripada apa yang Anda ketahui sebelumnya, seperti Anda merasakan kehilangan yang besar karena kehilangan Bude Anda yang meninggal. Anda bisa menemukan dengan jelas masalah utama dari berbagai masalah kejiwaan yang mengganggu Anda pada saat ini. 

Intinya, setiap kali meditasi Anda akan dibawa pada sesuatu yang selalu baru, dengan cara tertentu yang sebenarnya Anda tidak tahu. 

Anda bisa melakukannya sendiri sekarang tanpa kehadiran saya. Silahkan melanjutkan meditasi Anda.  

Breathe and smile…

 js

Pertanyaan AW:

Sudah seminggu ini, saya membaca kembali buku tulisan Anthony de Mello yang berjudul Awareness. Pola berpikirnya mirip seperti tulisan-tulisan Rm Sudri, yakni menyadari gerak ego dalam diri yang selalu bereaksi secara terprogram atas berbagai peristiwa yang terjadi di dalam hidup. Dengan mengamati dan menyadari ego, maka ego itu akan menghilang, dan kita akan mencapai state of awareness. 

Kemarin siang, saya mencoba meditasi sejenak untuk mengamati gerak ego dalam diri saya. Saya sampai pada satu titik, ketika semuanya menghilang, dan tak menjadi berarti lagi. Nothingness. Seolah apa yang saya geluti dan hidupi selama ini tidak ada artinya, karena itu hanya buatan-buatan manusia dan masyarakat yang begitu rapuh.  

Namun, situasi ini tak berjalan lama, hanya kira-kira satu jam. Setelah itu, saya kembali harus bergulat dengan kesibukan sehari-hari yang menuntut banyak tenaga, bahkan emosi. Emosi-emosi negatif pun kembali bermunculan. Rasa takut, cemas, kesal akibat penolakan, serta kemarahan pun kembali berdatangan. Saya mencoba mengamati gerak ego saya yang dilanda oleh berbagai emosi negatif ini. Memang, saya lebih tenang, dan tidak lagi emosional, seperti biasanya.  

Pertanyaan saya adalah, apakah state of awareness, di mana kebebasan diri muncul, ini adalah sesuatu yang sementara? Ataukah ada cara lain, sehingga kita bisa mempertahankan state of awareness ini lebih lama, bahkan menjadi bagian dari karakter diri kita?

 

Jawaban JS: 

Keadaan sadar (state of awareness) hanya terjadi ketika ego/pikiran berhenti. Ketika ego atau si pemikir yang tidak berbeda dengan pikiran psikologis bergerak, kesadaran tidak ada. Keduanya saling menegasi, tidak kompatibel satu dengan yang lain. Tetapi kesadaran (awareness) bisa berjalan bersama dengan pikiran, sejauh pikiran tersebut hanya sebagai referensi praktis, bukan sebagai pusat psikologis. Kesadaran yang bekerja dengan pusat psikologis ini disebut sebagai kesadaran dualistic (consciousness). 

Kebebasan ini hanya terlahir ketika ego/diri/pikiran berakhir. Kebebasan di sini bukan versi kebebasan konseptual atau filosofis. Bukan kebebasan dari (freedom from) atau kebebasan untuk (freedom for).  Bisa kita menyebutnya sebagai kebebasan dari segala keterkondisian. Maka tidak ada kebebasan dalam ego/diri. Dengan demikian tidak ada pikiran bebas, kehendak bebas, atau keinginan bebas. Tidak pernah ego/diri mencapai kebebasan selama ego/diri masih ada. 

Selama ego/diri berhenti satu detik atau satu jam, maka kebebasan terlahir satu detik atau satu jam. Praktik kesadaran akan membuat intensitas dan frekuensi berhentinya ego/diri/pikiran yang tidak sungguh dibutuhkan semakin lama. Kapan ego/diri/pikiran berhenti secara permanen? Kita tidak tahu. Yang saya tahu, satu-satunya yang mampu meruntuhkan ego/diri/pikiran adalah kesadaran. Tidak ada cara lain. 

Ketika ego/diri/pikiran berakhir, kebebasan terlahir. Ketika ego/diri/pikiran muncul kembali, ia ingin menikmati moment kebebasan yang telah lewat, atau ingin menikmati lebih lama, ingin membuatnya permanen, ingin menjadikan bagian dari karakter diri. Bukankah itu semua adalah gerak ego/diri/pikiran yang mau memperkuat dirinya? Bukankah ego/diri/pikiran yang mengejar kebebasan adalah suatu gerak kontradiktif pada dirinya? Dalam kebebasan, tidak ada diri; juga tidak ada kualitas-kualitas diri. 

Kebebasan musti menjadi langkah pertama sekaligus langkah terakhir. Saat kesadaran terlahir, itulah langkah pertama sekaligus terakhir. Kalau kebebasan ditempatkan sebagai langkah terakhir–sebagai thelos, utopia, tujuan—dan ego/diri/pikiran bergulat untuk mencapainya, maka kebebasan yang sesungguhnya tidak akan pernah didapat. Jadi bisakah kita hidup dalam kebebasan dari saat ke saat. Artinya sama, bisakah kesadaran bekerja dari saat ke saat?*

Tentang Kesepian, Seks, dan Masturbasi

Saya sudah 30-an tahun melakukan masturbasi. Saya berpikir, daripada saya mengganggu orang lain, lebih baik saya selesaikan sendiri. Apalagi saya tidak menikah. Tapi tetap saja ada rasa bersalah atau rasa tidak damai. Apa yang sebaiknya saya lakukan? 

Dari mana munculnya rasa salah? Apakah karena Anda melanggar aturan moral atau agama bahwa masturbasi itu tidak bermoral atau dosa? Kalau pun Anda bisa mengendalikan diri dan tidak masturbasi karena takut melanggar dosa atau moral, bukankah Anda merasa tertekan karena tidak bisa melampiaskan hasrat seksual Anda? 

Ada sebagian orang mengatakan, “Masturbasi adalah hal yang alamiah dan menyehatkan. Orang perlu belajar untuk melakukannya dan tidak perlu merasa bersalah.” 

Saya mempertanyakan kebenarannya. 

Kalau masturbasi itu pada dirinya sehat bagi keutuhan pribadi, maka tidak akan ada orang yang merasa tidak pas atau tidak damai dengan melakukan masturbasi atau tidak akan ada orang yang merasa perlu bersalah. Kenyataannya, orang tetap didera rasa salah atau rasa tidak damai, entah mereka orang beragama atau tidak beragama. 

Mengapa setelah 30-an tahun masturbasi, tetap saja merasa bersalah atau tidak damai? Perasaan bersalah atau tidak damai bisa saja muncul bukan sekedar karena melanggar aturan agama atau moral, tetapi menunjukkan fakta kejiwaan bahwa masturbasi pada dasarnya tidak alamiah dan tidak sehat. Tidak alamiah, karena merusak atau memecah keutuhan pribadi. Tidak sehat, karena kenikmatan masturbasi memperkuat dorongan untuk melekat pada kenikmatan dan kelekatan pada kenikmatan adalah penderitaan. 

Berbeda dengan kenikmatan dari hubungan seks pasangan  (sexual intercourse) yang saling mencintai. Kenikmatan dari hubungan seks di sini terkait dengan orang lain. Kenikmatannya bukan pertama-tama karena hasrat seks terpuaskan, tetapi terlebih karena pemuasan dialami bersama-sama dengan pasangannya yang dicintainya. 

Kalau hubungan seks dilakukan dengan egois, atau semata-mata demi kepuasan seks, maka derajat kenikmatan hubungan seks tidak berbeda dari masturbasi. Kenikmatan hubungan seks menjadi berbeda kalau ada cinta dan cinta yang sesungguhnya hanya ada kalau ego tidak ada. 

Kalau ego masih ada, cinta tidak ada, dan kenikmatan akan terus menjadi objek obsesi. Mengapa? Bukankah karena kesepian-kesepiaan membuat batin mencari kenikmatan? Bukankah kesepian-kesepian itu tetap ada, atau bahkan lebih dalam lagi, ketika pemuasan seks sudah berakhir? Kesepian menggerakkan keinginan untuk masturbasi dan masturbasi menciptakan kesepian yang lebih dalam lagi. 

Jadi apa yang perlu dilakukan ketika hasrat seks lagi muncul dan ada hasrat kuat untuk masturbasi? Sadari saja. Buanglah aturan boleh atau tidak boleh, dosa atau tidak dosa, dan kembangkan kesadaran. Sadari imaginasi-imaginasi seksual yang menggairahkan. Sadari korelasinya dengan tubuh dan organ genital. Sadari kesepian-kesepian dan pelarian untuk mencari kenikmatan. 

Kalau Anda memiliki cinta (yang sesungguhnya) lakukan apa saja yang Anda kehendaki dan Anda barangkali akan menemukan keindahan yang jauh melampaui keindahan dari sekedar kenikmatan seks.*