“Meditasi dengan sikap Sadar-Responsif menembus seluruh memori, apa yang saya pikirkan selama ini dibawah sadar dan apa yang hendak dilakukan. Rasa penderitaan justru benar-benar terjadi pada sesi ini. Beberapa hari saya lakukan meditasi Sadar-Responsif sekitar 2-3 jam sekali. Bonusnya: saya cepat sekali membaca buku yang selama ini sulit saya baca (misalnya, buku Habermas ttg diskursus hukum).”

Salam Meditasi

Perkenalkan nama saya ASP, tinggal di Depok pinggiran perbatasan dengan Pamulang Tangerang Selatan. Aktif dalam pengetahuan Berdesa, baik menulis buku atau fasilitasi pelatihan BUM Desa di beberapa Desa dan perusahaan penyelenggara CSR dengan Desa.

Metode Meditasi Rumah Keheningan senyatanya ringkas dan mudah dilakukan pada semesta-fisik. Saya mengalami Kecanduan Berpikir yang parah. Ketika situasi menjelang pandemi saya berkeliling di sebagian desa di Jatim dan Jateng. Kepanikan melanda di Desa. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk mengatasinya saya melakukan olah napas sebisanya tapi tetap tidak tahu arahnya kemana.

Tanpa sengaja saya melihat status WA dari Rurit (teman saya kuliah di FH Unair Surabaya). Ia ekspos tentang tempat yang nyaman untuk menulis dan penulisan status tentang beberapa hal berkaitan dengan meditasi.

Singkat cerita, bergabunglah saya dengan grup meditasi Rumah Keheningan.

Episode 1 dan Interstisi 1. Saya hanya melakukan meditasi dengan olah napas dari hidung. Karena memang tidak ada arahan melakukan olah napas yang rumit. Napas dan napas saja. Berulang kali saya membaca tulisan filsafat Romo Sudri pada episode 1. Beliau mengutip Teilhard de Chardin. Pembalikan status atas Diri: manusia spiritual yang berpengalaman sebagai manusia. Pada episode pertama ini saya menghabiskan waktu dengan membaca tulisan Romo Sudri di blog atau websitenya.

Episode kedua. Meditasi dengan sikap Sadar-Responsif menembus seluruh memori, apa yang saya pikirkan selama ini dibawah sadar dan apa yang hendak dilakukan. Rasa penderitaan justru benar-benar terjadi pada sesi ini. Beberapa hari saya lakukan meditasi Sadar-Responsif sekitar 2-3 jam sekali. Bonusnya: saya cepat sekali membaca buku yang selama ini sulit saya baca (misalnya, buku Habermas ttg diskursus hukum). Dan mulailah pula saya secara otomatis belajar menyimak dan menerjemah suara pengantar meditasi Deepak Chopra 21 Days of Abundance. Uniknya, seluruh pengalaman olah napas seperti meditasi tasawuf-jawa (kejawen), pawukon (ilmu menghitung hari) dan kerisologi keluar begitu saja. Saya sampai takjub tapi tetap penasaran mau kemana arah meditasi ini.

Episode 3, Interstisi 2. Jeda-Keheningan membuat saya mulai mengenal Kesadaran-Mur ni. Pada waktu mengalami Jeda-Keheningan entah kenapa muncul suara tunggal. Misalnya, “sebut nama A”, “ia akan kontak penulisan buku”, “orang itu akan transfer membeli buku”, “ia sakit tapi tidak kena santet”, “dua orang yang bermusuhan itu akan akur”, “almarhum orang tua menunggu do’amu”, “batinkan supaya orang itu mendapatkan pekerjaan”, “lihat tanaman yang berhubungan dengan tombak pusakamu”, dan lainnya. Saya lupa apalagi suara semacam itu pada waktu menahan napas. Hadir sendiri. Tapi uniknya, saya tidak merasa kaget seperti halnya kalau saya melakukan meditasi kejawen (sedulur papat kalima pancer dlm Serat Wirid Hidayat Jati dll).

Sound Healing dan Root Chakra sungguh awalnya saya tidak bisa memahami. Tapi saya meditasi dengan menghadirkan Musik kedalam Diri. Bukan menghadirkan Aku kedalam Musik karena Saya pasti kaget mendengar suara belnya ditengah konsentrasi. “Teng…!!!” 😃😃 Maaf Romo, suara belnya sudah pas, hanya saja saya kaget. Maklum, beda tatkala mendengar suara drum Metallica.

Episode 4 ENERGI KESADARA dan Interstisi 3 JALAN PENCERAHAN paling berat. Olah napas paling panjang. Bisa 1 jam hanya pemanasan. Setelah itu saya bisa tahan 1 jam melakukan meditasi dengan napas lancar. Dan saya menziarahi diri sendiri dengan mengukur berapa skor mental? Awalnya saya cecap rasa dan menilai diri sebagai pemarah. Lalu mulai menapak jalur menuju skor afirmasi (cq David R Hawkins).

Kemudian Saya lanjutkan dengan SOUND HEALING dan ROOT CHAKRA.

Suatu malam saya meditasi dengan suara musik itu, metode ini akan menghasilkan bonus berupa gerak-tubuh-otomatis. Kedua tangan, tubuh dan kepala meliuk-liuk tanpa kendali, dan…. saya menyentuh bagian tubuh. Sakit. Tapi setelah itu beberapa penyakit nyeri pada punggung, kepala dan lainnya, reda. Belakangan saya memaknai musik Root Chakra itu dan meditasinya bisa membuka chakra dasar sampai dengan chakra mahkota tanpa bersusah payah mempelajari Yoga. Entah benar atau tidak mengenai hal ini tapi bisa saja diperkaya dengan belajar chakra.

Iseng saya coba melihat orang lain dari jarak jauh. Maklum, selama ini cuma di rumah aja. Saya bayangkan sosok orang itu hadir dlm pikiran seperti menghadirkan musik SOUND HEALING dan Root Chakra dalam diri. Terlihat samar orang itu mengalami hal kurang lebih sama dengan saya. Dan ia kaget kok saya tahu? Saya juga kaget karena tebakan saya kebetulan tepat. Nah setelah dua hari kemudian ia mulai reda rasa nyerinya setelah saya asal sampaikan melalui chatting (WA): “pejam mata, biarkan tubuh gerak sendiri”. Saya berhenti mengisahkan disini tentang hal ini karena saya khawatir lulus meditasi Rumah Keheningan membuat saya dikira Dukun baru era pandemi covid-19.

Episode 5 semakin memudahkan banyak ide baru dan dorongan suara dari dalam untuk melakukan sesuatu. Entah memberi kopi pada tetangga dll. Dharma kecil-kecilan.

Interstisi 4 memudahkan penyatuan dengan semesta. Bukan semesta-fisik. Dunia wangsit semakin banyak hadir. Tapi kadang saya juga tidak mendengar suara dari dalam. Tubuh saya meliuk-liuk lagi. Tanda tubuh sedang tidak sehat. Terutama, bagian leher dan kepala. Pemikiran menarik pada Interstisi 4 adalah menguatkan pemahaman saya tentang keris. Penyatuan meteorit, unsur besi, baja, tanaman dedaunan hijau lebar (syarat punya pusaka tombak), dan unsur-unsur dalam tubuh. Dengan cara ini, keris dan tombak bukanlah benda klenik tapi benda yang saya refleksikan.

Episode 6 Meditasi Berjalan Kaki. Telapak kaki dan kepala memaknai bhumi dan langit. Rasional setelah olah nafas sambil jalan kaki. Untuk menghindari tetangga menyangka saya sedang gila atau kerasukan jin, maka saya pura-pura jalan kaki di lapangan, melihat rumput, sambil menunggu buka puasa. Dan malam hari setelah suara tarawih mulai surut, saya jalan kaki merasakan getaran bhumi dan langit. Berakhir dengan diam. Meditasi duduk. “LANGIT DAN BHUMI BERNAPAS UNTUK-KU, begitupula sebaliknya”. Ah…ini kan manunggaling kawula-gusti yang terjelaskan dengan mudah. 👍 Kesadaran murni utk mengenali potensi tanpa batas.

Episode 6 dan 7 menurut saya fokus pada penggalian kemampuan diri. Kemampuan tanpa batas, tatkala terhubung dengan semesta, dan terus menerus diuji di Realitas-Dinamis. Pemahaman New-Normal ini penting untuk selalu mendengar dan melakukan sesuatu secara baru.

Episode 6 dan 7 tak akan maujud apabila saya tidak melakukan meditasi sebagaimana pada episode 1-5.

Begitulah meditasi ini saya jalani dengan berbagai kesan.

Terima kasih

ASP