By J. Sudrijanta

https://anchor.fm/j-sudrijanta/episodes/Episode-ke-1-Komitment-Spiritual-ecs519

“Awakening is the ultimate of religion. Religion is, not really, in believing something outside of your being. It is not in believing or following some authoritative figure, the church, temple, organization or any ideological system of belief. Religion is trusting in what is eternal within you.” –Banai Ray, Awakening Inner Guru

Secara rohani, hanya ada jenis manusia di bawah langit: mereka yang sudah bangun dan mereka yang masih tidur.

Bangun artinya mengalami kebangkitan atau keselamatan menurut tradisi Kristiani. Mengalami pencerahan menurut tradisi Buddhist. Mengalami pembebasan menurut tradisi Hindu. Mencapai Insan Kamil menurut Islam.

Bangun pada intinya berarti hidup dalam kesadaran baru dan tidak lagi menderita.

Tidur adalah kebalikannya: hidup dalam ketidaksadaran dan menderita.

Pada dasarnya hanya ada dua jenis kesadaran yang membentuk semua pengalaman manusia. Itu adalah kesadaran yang menciptakan penderitaan dan kesadaran yang melahirkan keindahan.

Kapan kita mengalami Keindahan hidup? Keindahan hidup kita alami pada moment-moment ketika kita mampu bersikap tenang di tengah kekacauan. Tetap damai di tengah konflik dan permusuhan. Tulus menerima kelemahan dan ketidaksempurnaan. Bisa merasakan sukacita melihat apa yang ada. Menjadi kagum bahwa segalanya akhirnya menjadi baik adanya.

Kebalikan dari Keindahan hidup adalah penderitaan. Anda bisa mengganti penderitaan dengan stress, galau, cemas, kesepian, takut, benci, marah, tidak berharga, putus asa, atau semua yang kita alami sebagai emosi negative.

Dua tipe kesadaran ini tidak mungkin bermanifest dalam waktu yang sama. Apabila kita memilih berjalan kearah selatan, tidak mungkin kita sekaligus berjalan kea rah utara. Demikian pula apabila kita memilih untuk menderita, tidak mungkin pada saat yang sama kita bahagia.

Pada tingkat manakah kita hidup dan berfungsi dalam kehidupan sehari-hari? Pada hari-hari ini, apakah Anda hidup bersumber dari tingkatan kesadaran yang menciptakan penderitaan ataukah kesadaran yang membangkitkan keindahan?

Kesadaran yang menciptakan penderitaan kita sebut “ketidaksadaran”, sedangkan kesadaran yang membangkitkan keindahan kita namakan kesadaran asali atau kesadaran murni.

Ada “ketidaksadaran” terpendam di benak kita yang mengatakan, “Aku adalah tubuh, pikiran, emosi, dan energy. Tubuh, pikiran, emosi, dan energy adalah aku atau milkku.” Tidak. Siapa Anda yang sesungguhnya melampaui tubuh, pikiran, emosi dan energy.

Kita lupa kebenaran spiritual ini, bahwa “Kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia.” Begitulah temuan seorang Jesuit Paleontolog awal abad 20, Pierre Teilhard de Chardin. (Pier Teyard de Shardong).

Kita semua adalah makhluk spiritual yang memiliki tubuh fisik, pikiran, emosi, dan energy. Anda bisa mengganti makhluk spiritual dengan jiwa, spirit atau roh, terang kesadaran atau kesadaran murni.

Lupa akan identitas asali kita adalah bentuk ketidaksadaran dan semua pengalaman penderitaan manusia berakar dari ketidaksadaran ini.

Inilah rahasia dari kekuatan kesadaran. Semakin dalam kita tersambung dengan kesadaran asali, semakin terasa indah hidup kita. Sebaliknya, semakin jauh dari kesadaran asali—yang berarti kita hidup dalam “ketidaksadaran”–semakin kuat sengat penderitaan kita.

Apabila kita hidup dalam keindahan, secara alamiah kita akan hidup lebih sehat; pikiran lebih jernih dan terbuka pada cakrawala lebih luas; emosi lebih terkendali; hati kita menjadi lebih peka; dan vitalitas energy dari dalam membuat hidup kita lebih bergairah.

Hidup dalam keindahan membuat segala sesuatu terhubung, terkoneksi, dan sinkron dengan impian kita. Sinkronisitas adalah keterhubungan peristiwa-peristiwa yang selaras dengan intensi kita. Itu terasa seperti alam semesta sedang membawa berkah kebaikan untuk hidup kita sesuai dengan hasrat terdalam yang kita harapkan.

Hidup dalam keindahan membuat kita lebih kreatif. Kita mengeluarkan energy lebih sedikit tetapi menghasilkan pencapaian jauh lebih banyak. Solusi cerdas atas suatu masalah muncul begitu saja. Hubungan-hubungan lama yang menyakitkan disembuhkan dan hubungan-hubungan baru diperkuat. Orang atau kesempatan datang tepat pada saat kita membutuhkan. Kita menyaksikan banyak orang dan segala makhluk saling berbagi keindahan hidup.

Inti dari keindahan hidup adalah berhentinya mekanisme “ketidaksadaran” dalam diri kita dan lalu kita hidup dari kedalaman, dari kepenuhan. Kepenuhan dan keindahan dari dalam membuncah keluar, membuat orang tergerak untuk memberi dan memberi; tidak ada tempat untuk menuntut bagi kepentingan egois diri sendiri.

Banyak peristiwa terjadi yang membuat kita berdecak kagum. Kedamaian, keheningan, welas asih, sukacita, kemurahan hati, keberanian mengalir terus seperti air sungai. Kita dibuat bangun setiap kali dan melihat realitas kesatuan dan interkoneksi hidup kita dalam segala hal.

Bayangkan apabila lebih banyak orang bangun dan hidup dalam keindahan seperti ini. Mereka akan terkoneksi satu dengan yang lain, membentuk lingkaran-lingkaran kehidupan yang saling tersambung sebagai tubuh social yang kuat dan indah. Solidaritas, kolaborasi, kesatuan, inter-koneksi berfungsi seperti system kekebalan tubuh yang berfungsi menjadi benteng pertahanan social yang kuat dalam menahan goncangan krisis apapun.

Apakah Anda sungguh berminat menemukan keindahan hidup mulai saat ini? Kita akan melangkah bersama dan langkah pertama adalah komitment:

Maukah Anda berhenti memilih penderitaan setiap hari dan membiarkan pohon keindahan mekar dalam diri Anda?

(Bell)