By J. Sudrijanta

“The Great Way is not difficult for those who have no preferences.When love and hate both absent.

Everything becomes clear and undisguised.

Make the smallest distinction, however, and heaven and earth are set infinitely apart.”

–Sutra On Trust in the Heart-Mind

Melepas selalu berarti melepaskan genggaman atau cengkeraman terhadap sesuatu. Bukan objeknya yang kita lepaskan, melainkan kelekatan kita terhadap objeknya. Apabila kita melepas objeknya sekalipun, tetapi kita masih melekatinya, kita belum sungguh melepas.

Untuk bisa hidup wajar sebagai manusia dan berfungsi di tengah dunia, kita perlu memiliki sesuatu. Kita membutuhkan sandang, pangan, papan, fasilitas kesehatan, pendidikan, sarana komunikasi, alat transportasi, pekerjaan, keluarga, persahabatan, uang, pikiran di kepala dan seribu satu hal baik di luar maupun di dalam diri kita.

Persoalannya adalah begitu kita melekati suatu hal, maka kita menjadi menderita. Tidak ada lagi kebebasan, kedamaian, sukacita. Sebaliknya kita menemukan sebuah kebebasan sekaligus keindahan hidup pada moment kita lepas-bebas. Lepas bebas artinya, mampu menggunakan segala sarana, sama sekali tanpa melekatinya.

Apa yang ada setelah batin seluruhnya berhenti melekat? Batin kembali seperti aslinya, jernih, terang-benderang. Tidak ada dualitas cinta atau benci, suka atau duka. Segala hal terhubung, saling mempengaruhi, menyatu, tak-terpisahkan. Seperti halnya surga dan bumi, menyatu adanya. Begitu kita melekat pada hal kecil sekalipun, kata Sutra “Percaya pada Hati-Budi” (On Trust in the Heart-Mind), “surga dan bumi terbelah tanpa batas.”

Prinsip non-dualitas ini sangat menolong dalam praktik melepas. Pertama-tama, kita bisa belajar melihat kebenaran ini. Di dalam suka ada duka, di dalam penderitaan ada kebahagiaan, di dalam konflik ada damai, di dalam ketidaktahuan ada pencerahan, di dalam kesakitan ada kebebasan. Janganlah kita mengambil yang satu dan membuang yang lain. Terimalah keduanya dengan damai sebagai satu realita.

Dalam latihan, kita hanya perlu mulai dengan menemukan relaksasi tubuh dan batin. Rasakan dan realisasikan relaksasi saat tubuh tidak enak, sakit, tidak nyaman. Rasakan dan realisasikan relaksasi saat batin tegang, didera duka, penderitaan, konflik, ketidaktahuan, kesakitan.

Relaksasi adalah proses alamiah yang membawa kita pada lapisan realita batiniah yang lebih dalam tanpa kita melakukan apapun. Tanpa daya upaya, tanpa konsentrasi, tanpa konflik atau pergulatan.

Relaksasi adalah seperti pintu gerbang yang akan membawa kita pada lapisan realita lain. Setelah satu pintu relaksasi terbuka, kita dibawa kepada lapisan realita yang lebih dalam. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya kita sampai pada penghujung perjalanan, melampaui segala hal di mana tidak ada lagi yang melekati dan yang dilekati. Kita melampaui keterikatan pada lapisan-lapisan tubuh fisik, pikiran, perasaan dan energy.

Melepas, melepas dan melepas adalah cara sederhana namun sangat efektif dalam melakukan perjalanan ke alam batin. Perjalanan ke alam batin adalah perjalanan untuk menemukan atau merealisasikan hakikat kita terdalam dan melampauinya.

Menghadirkan surga di bumi adalah menghadirkan elemen kemahaluasan ruang kesadaran batiniah yang merangkum, melingkupi dan meresapi segala hal yang disadari. Setiap kali kita masuk pada realitas ini, segala kelekatan dan cengkeraman batin bukan hanya terlepas secara alamiah. Lebih jauh, Anda akan menyaksikan kebebasan dan keindahan hidup menjadi kidung dan tarian alam semesta dalam diri Anda.*