By J. Sudrijanta, S.J.

 

“If we can really understand the problem, the answer will come out of it, because the answer is not separate from the problem.”—J Krishnamurti

 

Pernahkah Anda tidak bisa tidur karena batin pepat dengan masalah? Pikiran terus berputar tanpa kendali. Kepala pening. Leher ngelu Pundak kaku. Perut mual. Badan meriang. Tubuh lungkrah. Hari-hari penuh dengan tekanan. Jiwa betul-betul lelah.

 

Orang bisa dihantam oleh masalah dan masalah. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun. Tanpa henti. Anda bisa menemukan orang-orang atau masyarakat  seperti ini di manapun. Entah di negara maju atau negara berkembang, di kota atau desa, pusat atau pedalaman, di kalangan orang kaya atau orang miskin.

 

Namun tidak ada yang lebih kompleks dan ruwet dibanding masalah-masalah di daerah-daerah konflik atau perang. Kemiskinan dalam banyak dimensi. Keterbelakangan pendidikan. Buruknya kesehatan. Maraknya kejahatan. Mental korup. Mudah curiga. A lot berubah. Mudah meledak. Budaya kekerasan. Kebencian yang diturunkan dari generasi ke generasi. Semua itu adalah sekedar contoh-contoh masalah pelik di daerah-daerah konflik atau perang di manapun.

 

Apabila Anda hidup di tinggah-tengah situasi seperti itu, hanya ada dua kemungkinan ekstrem. Pertama, Anda akan lebih mudah sakit, stress, dan bisa gila; atau kedua, Anda akan tumbuh lebih berkembang dan menjadi lebih bijaksana.

 

Masalah apapun, termasuk yang paling kompleks dan ruwet, bisa menjadi guru terbaik bagi pencerahan. Semua bergantung sikap kita.

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak ada masalah yang abadi. Ledakan, sekuat apapun, pasti mereda dan berhenti. Ledakan bisa kembali muncul tapi pasti berhenti. Begitu seterusnya. Masalah adalah seperti ledakan. Timbul dan tenggelam. Tidak ada yang abadi. Semua masalah baginya adalah peristiwa biasa. Tidak ada masalah besar atau kecil, berat atau ringan. Segala hal datang dan pergi, muncul dan lenyap. Cara membaca seperti ini membuat jiwa tenang. Tidak mudah bergolak. Stabil. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan maha penting kepada dunia, “Tenanglah. Itu hal yang biasa. Tidak usah terlalu serius.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak ada masalah yang tidak berguna. Tidak ada hal negatif terjadi tanpa hal positif pada saat yang sama. Justru karena ada ledakan masalah, hal-hal baru menjadi terbuka. Seringkali apa yang harus kita fokuskan menjadi lebih jelas. Intensi dan nurani dimurnikan. Nilai-nilai yang kita perjuangkan menjadi terang-benderang. Pemahaman akan halnya semakin diperdalam. Orang menyebutnya, “Blessing in disguise,” sebuah berkat terselubung. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan penting kepada dunia, “Tangkaplah sebanyak mungkin pesan bernilai luhur di balik kritikan pedas, perlakuan kejam atau kemalangan apapun yang menimpa Anda.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak satupun masalah di luar yang bisa menggoncang jiwa, kecuali ia mengijinkannya. Jiwanya tetap tenang, damai, tidak bergolak. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepahitan. Tutur katanya tidak berubah. Tetap lembut. Tidak kehilangan senyum ataupun tawa. Namun bisa tegas dan kehadirannya menggetarkan. Dalam situasi tekanan apapun, termasuk ketika eksistensinya terancam, ia tahu bagaimana menjadi tenang dan tetap tenang. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan penting kepada dunia, “Apa yang di dalam (batin/jiwa) jauh lebih penting daripada apa yang di luar (batin/jiwa). Teguklah damai dan sukacita batiniah, sekalipun dunia terbakar.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, tidak ada satupun masalah yang perlu dipecahkan. Solusi atas pecahan satu masalah akan menimbulkan pecahan masalah yang lain. Pasti! Jawaban atas suatu masalah sudah ada dalam masalahnya. Maka pahami keseluruhan masalahnya! Itulah cara yang lebih tepat daripada mencari penyelesaian masalah. Karena dengan memahami, kita mengatasi. Maka orang yang tercerahkan lebih siap untuk menolong orang lain. Bukan dengan cepat-cepat memberi solusi, tetapi mengajak orang lain agar sama-sama memahami. Orang seperti ini seolah sedang mengirim pesan kepada dunia, “Berhentilah untuk mengubah orang lain. Itu akan membuat Anda stress dan sakit hati. Ubahlah diri Anda sendiri dan cukup berikan cinta dan hati Anda.”

 

Bagi orang yang tercerahkan, pusat perhatiannya bukan masalah tetapi ruang batiniah. Ruang batiniah adalah ruang sebelum muncul segala bentuk sensasi, pikiran, emosi, energi, termasuk setiap masalah. Ruang batiniah adalah kecerdasan/ kesadaran/keheningan/rigpa/ kekosongan/roh/qualia. Bila orang mulai berpikir tanpa berakar pada ruang batiniah ini, seluruh proses pikiran menjadi bersifat reaktif dan superfisial. Segala keputusan beresiko keliru. Daya kreatif tersumbat dan orang tidak akan menemukan solusi terbaik, kata-kata yang tepat, tindakan yang benar. Orang seperti ini seolah sedang mengirimkan pesan penting kepada dunia, “Heninglah dan gunakan otakmu, bukan diperbudak oleh pikiranmu.”

 

Apabila jiwa kita mudah tergetarkan oleh kata-kata orang-orang tercerahkan, kita sendiri tidak jauh dari pencerahan. *