Oleh J. Sudrijanta

Apa hal kunci yang kita butuhkan agar dunia menjadi lebih damai? Ada banyak factor bagi perdamaian di dunia. Tidak ada kedamaian tanpa keadilan; tidak ada keadilan tanpa iman yang membebaskan; tidak ada iman yang membebaskan tanpa keterbukaan untuk dialog agama; dan tidak ada dialog agama tanpa dialog kehidupan.

Keadilan, iman yang membebaskan, keterbukaan untuk dialog agama dan dialog kehidupan adalah factor-faktor yang paling dekat bagi terciptanya perdamaian. Namun itu bukan kuncinya. Kunci utamanya terletak pada kualitas kesadaran manusianya sendiri: dunia ini akan menjadi lebih damai apabila kita, Anda dan saya, hidup damai.

Damai bukanlah tidak adanya konflik atau kekacauan di luar. Damai adalah hati yang tenang, bebas, tidak ada rasa takut, tidak memiliki konflik dan kekacauan batin, meskipun hidup di tengah situasi di luar yang kacau.

Damai adalah juga hati yang tidak galau menghadapi setiap bentuk kekesalan, kecemasan dan penderitaan batin.

Mari kita belajar untuk menemukan kembali kedamaian yang lebih dalam dengan berkaca dari seorang tokoh pengusung kedamaian di awal abad pertama, yaitu Yesus Kristus.

Yesus hidup pada masa di mana dunia sudah bergolak. Ia dilahirkan dalam situasi konflik dan kekerasan. Begitu lahir, Ia diungsikan ke negeri orang karena ancaman pembunuhan. Setelah kembali ke negara asalnya, Ia dibesarkan di bawah regim penjajahan Romawi yang menciptakan banyak kekacauan, dan regim pemimpin agama Yahudi yang suka kekuasaan. Pada puncak kematangan hidupnya, Ia mati sebagai korban kebencian.

Para peneliti kain kafan Yesus dari Turin memberikan testimony. Seorang anak muda 30-an tahun mati dengan luka-luka akibat siksaan yang amat keji, seperti terekam pada bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. Yang paling mencengangkan, menurut mereka, adalah meskipun anak muda ini menanggung penderitaan fisik yang amat berat, wajahnya memancarkan kedamaian yang amat dalam.

Kedamaian Yesus bukanlah milik Yesus sendiri. Kedamaian Yesus adalah Hakikat Kristus, yang adalah hakikat semua jiwa dan segala makhluk. Ini adalah kedamaian alamiah, tak-terbatas, tak-terkondisi, sebagai Hakikat Asali Jiwa kita.

Di tengah dunia yang sarat konflik, kekerasan dan kebencian, kita perlu belajar untuk “menemukan kembali” kedamaian alamiah ini. Bukan mencari kedamaian, tetapi menemukan kembali. Sebab kedamaian alamiah ini tidak pernah hilang dari jiwa kita. Saat kita sakit hati, cemas atau menderita, kedamaian alamiah itu tertutupi namun tetap ada di tempatnya.

Kedamaian alamiah ini seperti sinar matahari. Kadangkala kita tidak melihat sinar matahari karena tertutup oleh awan. Tetapi sesungguhnya matahari tidak pernah berhenti bersinar. Kita bisa melihat awan karena matahari menyinarinya. Jadi kedamaian alamiah selalu ada dalam jiwa kita, hanya seringkali tertutupi oleh awan penderitaan, berbagai bentuk kekesalan, kecemasan, ketakutan, konflik dan kekerasan yang kita ciptakan sendiri.

Kebiasaan kita dalam belajar dan menjalani kehidupan seringkali justru menjauhkan kita dari kedamaian di hati. Aktivitas apapun yang kita lakukan seringkali berujung pada penderitaan apabila kita belum tercerahkan atau tidak damai. Melihat dalam-dalam peta kehidupan kita bahwa aktivitas apapun yang kita lakukan seringkali hanya berujung pada penderitaan, akan membangkitkan motivasi untuk mencari solusi yang mendasar atas semua kesulitan hidup kita.

Seringkali kita hidup hanya mengandalkan pikiran. Pikiran adalah pecahan energy, bukan sumber energy. Pecahan energy andalan kita ini seringkali teracuni oleh tiga penyakit spiritual: nafsu keinginan, kebencian, dan ketidaktahuan. Penderitaan kita memiliki lapisan-lapisan yang dalam dan penderitaan terdalam tidak disebabkan oleh ketiga hal tersebut, melainkan karena kelekatan kita terhadap ketiganya.

Bagaimanakah kita bisa menemukan kedamaian hati di tengah kekacauan di luar ataupun di tengah kekesalan, kecemasan dan penderitaan batin kita?

Kehidupan Yesus mengajarkan kita sebuah jalan pembebasan yang efektif. Gunakan salib untuk bebas dari salib. Gunakan kecemasan untuk bebas dari kecemasan. Gunakan rasa sakit untuk bebas dari rasa sakit.

Pada saat kecil kami anak-anak suka bermain-main di sungai dekat rumah di desa lereng Gunung Merapi. Airnya berlimpah dan jernih. Suatu kali telinga saya kemasukan banyak air. Dengan segala cara saya keluarkan air dari telinga tetapi tidak berhasil. Setelah sampai di rumah, saya bilang kepada ibu saya. Dia menyuruh saya untuk memasukkan air ke telinga yang kemasukan air untuk mengeluarkan airnya. Saya agak heran dengan instruksi tersebut. Tapi saya langsung coba dan berhasil.

Jalan pembebasan dari penderitaan adalah justru dengan memeluk penderitaan. Jalan pembebasan dari rasa sakit di hati adalah justru dengan memeluk rasa sakit di hati. Itu seperti memasukkan air ke telinga yang kemasukan air untuk mengeluarkan airnya.

Dari mana kita bisa mulai? Kita mulai dengan berhenti: berhenti menilai, berhenti menyalahkan, berhenti membenarkan diri; berhenti melarikan diri, berhenti melawan, berhenti menekan. Berhenti adalah kearifan tertinggi. Berhenti membuat kita berhati lapang sehingga bisa menyambut pengalaman sepahit apapun. Gunakan kearifan ini untuk menyentuh setiap kekesalan dan penderitaan kita tepat pada titiknya.

Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr, Nelson Mandela adalah contoh orang-orang yang berhasil melewati tekanan. Masing-masing mengalami penderitaan luar biasa, namun mereka berhasil keluar dari tekanan yang sulit hingga mampu mengubah hidup jutaan orang. Persis seperti Yesus atau guru-guru spiritual besar dalam sejarah.

Apa yang membuat mereka ini berbeda dari kebanyakan orang? Mereka tidak lari seperti kebanyakan orang. Mereka menerjunkan diri sepenuhnya dalam pengalaman terberat, menyelami sedalam mungkin bencana yang menimpa mereka, dan bertahan dalam masa yang sulit.

Mahatma Gandhi dipenjara karena perjuangannya membela kemerdekaan bangsanya dan mengalami penderitaan besar. Namun dengan menjalani masa sulit dengan penuh kesadaran dan menyelaminya dengan banyak melakukan pencarian jiwa, akhirnya ia sadar bahwa “tanpa kekerasan” (ahimsa atau non-violence) adalah satu-satunya jawaban bagi krisis yang dihadapi bangsanya.

Martin Luther King Jr mengalami penderitaan yang tidak kalah berat. Para pengikutnya ingin melakukan kerusuhan dan menggulingkan pemerintah yang mentolerir diskriminasi. Seperti Gandhi, ia juga mencerna pengalaman menyakitkan, masuk ke dalam penderitaan, melakukan pencarian jiwa, lalu muncul dengan kesadaran “pembangkangan sipil” (civil disobedience) adalah satu-satunya jalan untuk melangkah maju.

Nelson Mandela adalah contoh yang lain. Ia dipenjara 20 tahun karena berani berbicara melawan kebijakan diskriminasi ras. Setelah bertahun-tahun dipenjara, mandela bisa saja berubah menjadi orang yang penuh kepahitan, kemarahan dan bahkan bertikai semakin keras dengan pemerintah bangsanya karena sebagian terbesar hidup Mandela telah direnggut darinya. Namun waktu Mandela dilepaskan, ia mengusung pesan “rekonsiliasi” (reconciliation).

Kini di Nusantara ini, Anda juga memiliki orang-orang besar seperti Nelson Mandela, Martin Luther King Jr, Mahatma Gandhi. Saya tidak perlu menyebutkan nama karena Andapun sudah mengerti. Orang ini dicaci maki tiap hari, tapi ia tidak bergeming. Bekerja, bekerja dan bekerja untuk membawa negeri ini ke arah yang lebih baik dalam jangka panjang. Ada lagi tokoh luar biasa yang masih mendekam di penjara karena korban kebencian dari para peternak politik yang korup. Kita tunggu saja apa yang akan dia lakukan setelah keluar dari penjara tidak lama lagi.

Kita ingat kata-kata penghiburan dari Yesus: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu kuberikan kepadamu, dan damai yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh 17:27)

Kedamaian bukanlah “tujuan hidup”, tetapi “tuntutan hidup”. Kedamaian tidak bisa digapai “suatu saat nanti”, tetapi hanya tersedia “saat ini.” Kedamaian tidak berada “di luar sana”, tetapi “di dalam sini.”

Apabila kita melakukan segala aktivitas dalam damai, aktivitas tersebut akan berakhir juga dengan damai dan akan menambah kualitas kebahagiaan kita. Sebaliknya apabila kita melakukan segala aktifitas tanpa damai, aktivitas tersebut akan membawa kita pada ujung penderitaan dan makin menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Kita memiliki banyak sekali tanggung jawab dalam hidup ini: tanggung jawab terhadap orang lain, tanggung jawab bagi masyarakat dan bangsa ini, dan tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan. Tetapi seringkali kita lupa tanggung jawab yang utama dan pertama, yaitu tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Bertanggung jawab terhadap disi sendiri bisa dimulai dengan bertanggung jawab terhadap apa saja yang kita rasakan. Apabila Anda terus-menerus kesal dan sakit hati, itu adalah tanggung jawab Anda. Apabila Anda hidup bahagia, itu juga adalah tanggung jawab Anda. Menderita atau bahagia sepenuhnya adalah hasil ciptaan Anda sendiri.

Berbeda dengan kedamaian. Kedamaian tidak perlu Anda ciptakan. Kedamaian adalah kondisi alamiah jiwa Anda. Kedamaian adalah rumah Anda, Hakikat Jiwa Anda. Kedamaian tidak perlu dicari, hanya perlu ditemukan kembali.

Anda bebas kapanpun untuk kembali ke rumah. Rasa kesal, sakit dan penderitaan ada agar kita bisa mengalami kedamaian yang lebih dalam, lebih bijaksana, cinta dan welas asih lebih sempurna. Kedamaian alamiah begitu dekat dengan kita, jauh lebih dekat dari pada nafas, sensasi, pikiran dan emosi kita. Mari kita belajar menyentuhnya dan menghidupinya.

Mari kita bawa perdamaian itu dalam hidup berkeluarga, hidup beragama, hidup bermasyarakat, dalam aktivitas politik dan ekonomi. Janganlah berjuang untuk menciptakan perdamaian sementara hati Anda tidak damai. Tetapi jadilah damai, jadilah pendamai. Dunia akan menjadi lebih damai apabila kita sendiri damai. Keluarga Anda akan menjadi lebih damai apabila Anda sendiri damai.

Kristus dilahirkan di tengah dunia supaya Hakikat Kristus, Hakikat Jiwa Asali kita yang penuh damai, dilahirkan kembali dalam diri kita. Apabila kita hidup sesuai hakikat kita, kita akan hidup lebih damai dan kita akan melihat dunia juga akan menjadi lebih damai.*

(*) Disampaikan dalam renungan malam natal 24 Desember 2018, di hadapan 5000 umat di Blok Q.