Oleh J Sudrijanta

Adalah kecenderungan umum bahwa orang lebih menghargai sehat daripada sakit. Padahal keduanya memiliki nilai yang sama. Rasa sakit adalah bagian dari hidup sehat dan menolong kita untuk mengalami pencerahan.

Tidak semua symptom rasa sakit bersifat patologis. Symptom rasa sakit non-patologis tersebut bisa bersifat ringan, seperti ketika Anda duduk lama dalam meditasi, dan bisa bersifat kronis atau terminal seperti penyakit kanker—tentu saja tidak semua symptom penyakit kanker atau penyakit-penyakit yang mematikan bersifat patologis.

Apa yang Anda lakukan ketika sakit? Anda pergi mencari obat? Obat dibutuhkan untuk menyembuhkan sakit atau mengurangi rasa sakit. Namun untuk penyakit-penyakit tertentu, baik skala ringan atau berat, bahkan kronis atau terminal, tidak ada obat yang lebih ampuh selain rasa sakit itu sendiri.

Symptom rasa sakit berfungsi untuk membantu kita mengenal diri. Seperti halnya kematian, rasa sakit adalah fenomena alamiah yang perlu dipahami, bukan untuk ditekan atau dihindari, yaitu sebagai penunjuk akan realita kehidupan kita yang tersembunyi yang barangkali belum kita lihat dan pahami.

Bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi sakit? Ketika timbul rasa sakit, rasakan dalam-dalam kesakitan itu. Dengan merasakan sakit dalam-dalam, tidak ada satupun bagian dari tubuh Anda yang akan menjadi lebih buruk. Justru sebaliknya, merasakan dalam-dalam symptom rasa sakit akan membawa penyembuhan dan pencerahan.

Merasakan symptom rasa sakit dalam-dalam tidak akan membuat Anda mati. Tidak ada kematian yang disebabkan oleh rasa sakit. Semua kematian normal terjadi karena orangnya sudah siap untuk mati, bukan karena sakit. Jadi rasakan dalam-dalam rasa sakit itu, pun kalau Anda berpikir akan mati karena rasa sakit. Biarlah kematian terjadi kalaupun harus terjadi! Totalitas dalam menerima rasa sakit, memeluk, merasakan dalam-dalam, menjadi penting untuk mendatangkan efek penyembuhan baik fisik maupun non-fisik.

Merasakan rasa sakit dalam-dalam bukan hanya bisa membawa penyembuhan fisik, tetapi juga membawa pencerahan. Semua rasa sakit adalah rasa sakit dalam relasi-relasi. Ketika timbul rasa sakit, jangan bertanya, apa yang salah dengan tubuh ini? Tetapi bertanyalah, apa yang sekiranya mau ditunjukkan oleh tubuh ini sebagai yang mungkin keliru dengan relasi-relasi dan kondisi hidup kita. Adakah cara berpikir yang keliru, adakah hubungan-hubungan yang tidak sehat, adakah cara hidup dan cara mencari penghidupan yang tidak benar?

Tidak cukup bertanya, obat apakah untuk menyembuhkan symptom rasa sakit? Tetapi bertanyalah, apa yang mungkin diminta atau dituntut oleh tubuh ini untuk memulai hidup sehat atau menghentikan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Banyak cerita mengisahkan bahwa hidup sesorang berubah secara signifikan karena pernah mengalami ‘krisis’ saat sakit. Jadi moment sakit bisa menolong orang untuk mengalami perubahan hidup secara berarti.

Kita perlu mengenali korelasi antara symptom rasa sakit dan kondisi hidup kita. Saat sakit seringkali adalah saat yang paling tepat untuk mengenal, merasakan dan menghadapi langsung persoalan-persoalan hidup kita. Tubuh ini adalah yang pertama kali merasakan apa yang terjadi dengan kehidupan kita. Pikiran bisa menipu, tetapi tubuh tidak bisa bohong. Kita bisa berlari dari persoalan-persoalan hidup, enggan menghadapi trauma-trauma emosional yang terpendam, berusaha untuk menekan atau membuangnya. Saat sakit datang, kita tidak bisa lari. Itulah saat di mana kita harus berani menghadapinya, termasuk apabila persoalan tersebut adalah rasa sakit itu sendiri.

Kita perlu bukan hanya mengenal efek dari symptom rasa sakit terhadap kehidupan kita, baik secara fisik, mental, dan emosional. Tetapi juga memahami bahwa setiap kondisi tubuh, termasuk kondisi sakit, bukanlah sekedar kondisi fisik, tetapi juga selalu merupakan kondisi kesadaran (a state of consciousness). Begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, lewat cara merasakan dalam-dalam symptom rasa sakit secara lebih intensif, kita berkontak secara langsung dengan realitas hidup kita dan belajar menyadari dengan tingkatan kesadaran yang berbeda dari tingkatan kesadaran yang menciptakan symptom rasa sakit tersebut (state of awareness). Saat meditasi atau retret adalah saat-saat terbaik untuk melakukan praktik memeluk rasa sakit secara lebih intensif.

Di sinilah kita belajar mentransendir rasa sakit. Terdapat dua aspek ketika kita belajar merasakan dalam-dalam rasa sakit, yaitu kesadaran (awareness) dan rasa sakit (sicknesses). Kesadaran tentang sesuatu selalu melampaui sesuatu tersebut. Begitu pula kesadaran terhadap rasa sakit selalu melampauinya atau membuat kita bisa melampauinya.

Kunci penyembuhan dan pencerahan atas rasa sakit adalah merasakan dalam-dalam dan menyadari symptom rasa sakit pada tingkatan yang baru. Apa yang kita sadari bukan sekedar sensasi fisik yang terasakan pada titik lokasi tertentu atau kaitannya dengan kondisi mental-emosional tertentu, tetapi tingkatan kesadaran yang menunjukkan siapa diri kita melampaui ‘identitas tubuh’ dan bagaimana kita bisa merasakan diri kita dan hidup kita secara baru.

Kemandegan (stuck) terjadi hanya ketika kita mengidentikkan diri dengan tubuh fisik. Ketika Anda merasa terpenjara dalam tubuh fisik dan menderita karena sakit, itu adalah pertanda bahwa Anda sudah mengidentikkan diri dengan tubuh fisik. Sadari kemandegan ini dan rasakan dalam-dalam kemandegan ini dari tingkatan kesadaran yang berbeda (awareness). Lalu lihat sendiri apa yang terjadi.

Setiap symptom rasa sakit, apabila dirasakan dalam-dalam pada tingkatan kesadaran yang berbeda dari tingkatan kesadaran yang menciptakan rasa sakit tersebut, tidak mustahil akan mendatangkan penyembuhan-penyembuhan. Juga akan memberikan pemahaman-pemahaman baru tentang kehidupan serta rasa kehadiran yang baru dan berbeda. Kalaupun symptom rasa sakit masih ada, Anda akan bisa menanggungnya dengan damai dan mampu menjalani hidup secara berbeda.*