Oleh J. Sudrijanta

Banyak orang menjalani hidup religi atau spiritual dalam keadaan “tidur”. “Tidur” yang dimaksud di sini adalah “tidak sadar”.

Apabila agama dan spiritualitas hanya dihayati sebagai sarana untuk menyokong survival dan memperkuat ego, maka orang tersebut masih “tidur” atau “tidak sadar”.

Tidak ada cara hidup dan cara menghayati religi atau spiritual yang lebih otentik tanpa menjalani hidup yang berkesadaran. “Bangun” secara spiritual adalah hidup berkesadaran. Praktik hidup berkesadaran adalah laku spiritual yang paling dekat membawa pembebasan dan pencerahan.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga model dalam menjalani hidup religi atau hidup spiritual: model pengikut, model pencari, dan model praktisi. Dari ketiganya, hanya model praktisi lah yang paling selaras dengan ideal hidup berkesadaran.

Model Pengikut

Mayoritas penganut agama berada pada model ini. Mereka terutama berasal dari generasi tua dan sebagian kecil berasal dari generasi muda yang hidupnya terkungkung dalam komunitas agamanya yang eksklusif.

Allah atau sesuatu yang mengatasi yang imanen bagi mereka ditemukan di tempat-tempat khusus seperti di bangunan Masjid, gedung Gereja, Pura, tempat-tempat ziarah, dan tempat-tempat lain yang dianggap suci. Tempat-tempat tersebut merupakan tempat yang paling ideal di mana orang bisa menemukan ketenangan atau bisa berjumpa dengan Allahnya.

Percaya adalah kunci dalam hidup beriman. Tidak penting apakah orang paham akan isi kitab-kitab, ajaran para pemuka agama dan tradisi di mana mereka hidup. Yang paling penting adalah percaya meskipun tidak melihat langsung kebenarannya, serta setia melakukan ritual dan kewajiban agamanya. Pada umumnya para pengikut ini gemar bergabung dengan kelompok-kelompok doa, devosi, atau pengajian. Banyak dari mereka sangat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di komunitas agamanya namun tanpa kedalaman.

Meskipun tidak memiliki pemahaman yang dalam tentang isi kitab-kitab, mereka meyakini bahwa kebenaran bukan hanya ada di dalam agamanya, tetapi mereka sering mengklaim bahwa kebenaran hanya ada secara ekslusif di dalam agama mereka saja.

Mereka merasakan bahwa agamanya adalah rumahnya. Mereka menemukan ketenangan di dalam rumah agamanya, entah mereka beragama Islam, Katolik, Hindu, Budha atau yang lain. Mereka merasa eksis menjadi bagian dari sebuah komunitas agama atau komunitas spiritual yang lebih besar. Apapun yang mereka lakukan di dalam dan bersama komunitasnya, banyak diwarnai oleh kepentingan ego pribadi atau ego kolektif.

Orientasi dasar dari hidup keagamaan mereka berciri privat. Yang terpenting adalah hubungan pribadi dengan Allah dan hidup serba berkecukupan di dunia. Dimensi sosial dari hidup keagamaan atau hidup spiritual kurang mendapat tempat.

Agama sebagai rumah aman ini bisa meninabobokkan warganya. Setiap anggota komunitasnya merasa diperhatikan, dipenuhi kebutuhan dasarnya, dibela dan dilindungi. Mereka dijauhkan dari apa saja yang bisa menggoncang iman mereka. Mereka diberi janji-janji surga, diberi kepastian-kepastian iman, dengan berpegang pada dogma-dogma dan konsep-konsep kebenaran. Mereka hidup seperti di dalam sangkar emas.

Jebakan lainnya adalah bahwa orang bisa menjadi “mabuk agama” atau “over dosis agama”. Agama dipakai sebagai tolok ukur utama dalam memilih sekolah, teman bergaul, pasangan hidup, pekerjaan, gubernur atau presiden. Orang-orang yang “mabuk agama” ini mudah dieksploitasi oleh para pemuka agama dan para peternak politik demi bisnis dan kekuasaan mereka.

Agama sebagai rumah aman bisa menjadi penjara yang menyesakkan ketika mereka melihat para pemimpin atau pengurus agamanya hanya mementingkan uang, kekuasaan, aturan, tuntutan organisasi, berlaku rigid, dangkal dan superfisial.

Model Pencari

Mereka yang sudah bosan atau jenuh dengan agama sebagai penjara yang menyesakkan atau sebagai sangkar emas dan mulai menyadari akan kebutuhan spiritual yang lebih dalam akan mulai melakukan pencarian. Semua orang dari segala umur, dari anak-anak hingga usia lanjut, bisa merasakan kebutuhan ini. Secara lebih khusus, sebagian besar anak-anak milenial yang dilahirkan di era pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, cepat atau lambat akan menjadi para pencari. Mereka tidak puas hanya menjadi generasi pengikut seperti orang tua mereka.

Mereka mencari siapa Allah itu dan apakah memang ada. Mereka mencari apa betul surga dan neraka itu ada. Mereka mencari apa betul kebenaran yang dikotbahkan di Masjid-Masjid atau Gereja-Gereja itu cocok dengan fakta-fakta kehidupan. Apabila tidak, mereka akan bilang itu semua hanya omong kosong.

Percaya buta bukan hanya tidak cukup tetapi juga naif. Mereka lebih membutuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang fakta-fakta kehidupan. Iman menuntut pemahaman dan musti rasional.

Mereka tidak menempatkan agama sebagai rumah melainkan sebagai supermarket. Mereka mencari barang dan jasa spiritual yang bisa dibeli. Mereka membaca buku-buku spiritual, mengambil kursus kitab suci, mengikuti seminar atau workshop, mengambil program retret atau meditasi, terlibat dalam support groups dan kelompok-kelompok pelayanan. Apabila mereka tidak menemukan sesuatu yang dicari, mereka tidak takut untuk mencari di luar agama yang dianutnya.

Mereka tidak mudah percaya pada apa yang disampaikan oleh para orang tua, pemuka agama, guru-guru spiritual, dan para pendidik. Mereka lebih percaya pada apa yang mereka temukan melalui internet atau media sosial.

Mereka “ngaji di media sosial” atau “belajar kitab-kita dari internet.” Loyalitas dan hubungan antara murid dan guru, santri dan kyai, umat dan pembimbing rohani makin memudar. Sebagian dari mereka menjadi “anti-agama.” Mereka bisa memilih “guru-guru spiritual” dan “teks-teks spiritual” yang mereka anggap paling cocok dengan kebutuhan atau selera mereka. Ego mereka menentukan ajaran mana yang akan diterima atau ditolak.

Banyak dari generasi milenial ini menganut ideologi post-truth. Mereka hanya mau menerima sesuatu sebagai kebenaran apabila cocok dengan rasa-perasaan dan keyakinan yang sudah mereka pegang sebagai kebenaran. Emosi lebih penting dari pada fakta dan keyakinan lebih utama daripada data. Mengapa pada pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017, banyak orang tidak memilih calon gubernur yang lebih profesional dan justru memilih calon gubernur yang kurang profesional? Pilihan mereka menunjukkan ideologi post-truth yang mereka anut: “Tidak penting gubernur pilihanku bisa bekerja atau tidak; yang penting satu iman denganku.” Itu sekedar contoh yang paling gamblang.

Sebagian tidak mengedepankan emosi dan keyakinan malainkan fakta. Kebenaran haruslah sesuai dengan fakta. Maka mereka akan sulit menerima spekulasi atau penilaian selama tidak didukung oleh fakta-fakta. Namun posisi ini akan membuat sebagian dari mereka kesulitan dalam memahami misteri atau kebenaran-kebenaran spiritual melampui intelek ketika pemahan rasional menjadi matriks pencarian.

Pencarian akan membuat pertumbuhan spiritual menjadi lebih matang. Akan tetapi apabila pencarian dijadikan tujuan itu sendiri, maka mereka akan menjadi pengembara spiritual atau gelandangan spiritual tanpa akar, tanpa rumah. Bisa jadi mereka belajar banyak jalan spiritual dari tradisi yang berbeda-beda. Namun mereka tidak sungguh mendalam. Mereka seperti menggali banyak sumur namun dangkal. Sebagian dari mereka merasa tercerabut dari tradisi atau akar spiritual dari mana mereka berasal dan mereka terus mengembara tanpa arah. Sebagian yang lain akhirnya kembali menemukan akar atau rumahnya dan justru diperkaya melalui pencarian yang sudah mencapai di penghujung jalan.

Model Praktisi

Model ini banyak dipraktikkan oleh mereka yang sudah sampai di penghujung jalan, yang tahu betul keunggulan-keunggulan sekaligus jebakan-jebakan dari model pengikut dan model pencari.

Allah atau sesuatu yang Tak-Dikenal yang tak terpisahkan dari segala hal yang dikenal, ditemukan bukan hanya pada tempat atau lokasi tertentu dan moment-moment tertentu, melainkan di semua lokasi dan semua moment sepanjang waktu. Terlebih lagi Allah yang demikian bisa didekati secara lebih baik melalui gerak, kerja atau aktivitas.

Ungkapan-ungkapan berikut menunjukkan kebenaran yang dimaksud. “Tubuh ini adalah Bait Allah dan seluruh gerak melalui tubuh ini adalah doanya.” “Tubuh ini adalah Budha.” “Allah adalah fondasi dari inter-being (jalinan bersama yang saling mempengaruhi). “Rumah Allah bukan hanya di Gereja tetapi juga di alam semesta.” “Kerajaan Allah adalah di sini dan sekarang ini.”

Kunci dari iman bukanlah kepercayaan ataupun pemahaman rasional, melainkan realisasi kebenaran. Kebenaran yang membebaskan adalah kebenaran yang ditemukan melalui penghayatan. Kebenaran yang ditemukan dari kitab-kitab atau pemegang otoritas kebenaran hanyalah konsep tentang kebenaran, bukan kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran yang sesungguhnya mustilah ditemukan sendiri secara langsung dari tangan pertama. Praktik “melihat” dan “mengetahui” kebenaran langsung adalah praktik spiritual yang paling utama. Itulah inti dari praktik “diskresi spiritual.”

Kebenaran yang membebaskan ini tentulah melampaui dogma, melampaui kepercayaan atau keyakinan, melampaui rasa-perasaan emosi. Kebenaran yang sesungguhnya seperti ini tidak bisa ditemukan hanya dengan mengikuti aturan atau syariah, malainkan buah dari praktik, latihan, laku, atau olah hidup.

Kebenaran yang sesungguhnya tidak berada di tempat yang jauh. Ini adalah soal gerak batinnya sendiri dengan lika-liku pikiran dan keakuannya. Menyadari dan memahami fakta-fakta kebenaran batinnya sendiri dari moment ke moment, membuka akses pada kedalaman hidup dan menggerakkan aktivitas untuk melakukan segala hal dengan cinta dan perhatian yang besar. Apabila kita sendiri hidup secara berbeda setiap hari, dunia juga akan bergerak secara berbeda. Realisasi pembebasan dan pencerahan baik bagi diri sendiri maupun sesama makhluk ini, hanya bisa dicapai melalaui praksis saat ini.

Rumah spiritual dari para praktisi bukanlah tempat atau lokasi tertentu, melainkan seluruh alam semesta di mana mereka melakukan praktik spiritual dari saat ke saat. Mereka bisa melakukan praktik spiritual di manapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Mengurus pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, bekerja di kantor atau menjalankan bisnis, berkarya di bidang politik, aktif terlibat sebagai anggota RT/RW, terlibat dalam pelayanan sosial, semuanya bisa menjadi praktik spiritual yang konkret, indah dan menyegarkan.

Mereka tidak kehilangan akar tradisi dari mana mereka berasal sekaligus memiliki sayab kebebasan untuk melakukan eksplorasi. Eksplorasi kedalam maupun keluar tradisi di mana mereka berasal akan memperkuat akar-akar spiritual mereka. Yang Islam akan menjadi lebih Islami, yang Katolik akan menjadi lebih Katolik, yang Budhist akan menjadi lebih Budha, tanpa menjadi terkotak-kotak dalam sekat-sekat agama dan tradisi.

Selama ego masih bercokol, semua praktisi spiritual masih memiliki peluang untuk mengalami jebakan. Misalnya, mereka bisa saja terjebak dalam rasa aman palsu atau merasa sudah mengalami pencerahan tanpa mau terlibat bersama komunitasnya untuk menolong sesama makhluk. Dengan kata lain, dalam bentuk yang masih kasar, bisa jadi para praktisi hidup berkesadaran terjebak seperti kedua model yang lain: terjebak dalam “sangkar emas”, “anti-agama”, “anti-sosial”, dan “over dosis spiritual”.

Berbeda dari dua model yang lain, praktik spiritual yang dibarengi dengan refleksi, diskresi, dan komitment total bagi pembebasan dan pencerahan diri sendiri dan sesama, dengan menanggalkan ego dan keakuan, memperkecil kemungkinan orang terjatuh dalam jebakan yang tidak perlu.*