Oleh J. Sudrijanta

Apa yang akan terjadi dengan kesehatan kita apabila kita tidak bisa mengampuni orang yang berbuat salah terhadap kita? Orang yang tidak bisa mengampuni pastilah memiliki problem kesehatan, entah kesehatan fisik, emosional, maupun mental. Apabila kita banyak mengampuni, tekanan darah akan cenderung menurun, system kekebalan tubuh meningkat, bebas dari penyakit kronis psiko-somatik, hubungan-hubungan pribadi menjadi lebih baik, dan bebas dari kecemasan dan depresi. Banyak kajian telah membuktikan hal tersebut.

Dalam ranah psiko-spiritual, ketidakmampuan mengampuni membuat orang mengalami stagnasi atau kemandegan. Dengan meminjam skala kesadaran dari David R. Hawkins, kita bisa melihat lebih jelas dampak yang bisa diukur dari sebuah tindakan pengampunan.

David R. Hawkins, PhD (Power vs Force, The Hidden Determinants of Human Behaviour, 1995-2000) membuat skala kesadaran 0 – 1.000 dengan menggunakan metode kinesiology atau “test reaksi otot”, yang lebih dulu dikembangkan oleh Dr. John Diamond sebagai disiplin ilmu baru tahun 70-an. Angka 0 menunjukkan tingkat kesadaran terendah, sedangkan 1.000 menunjukkan tingkat kesadaran tertinggi.

Mereka yang hidup dengan energy negative, tingkat energy kesadarannya berada di bawah 175. Energi kesadaran yang paling rendah berada di angka 20, yaitu mereka yang didera oleh rasa malu. Rasa salah, 30. Putus asa, 50. Rasa pedih, 75. Rasa takut atau cemas, 100. Rasa kecewa, 125. Kebencian atau rasa permusuhan, 150. Sombong atau suka menuntut 175. Semua rasa perasaan tersebut menunjukkan perlunya tindakan pengampunan.

Energi kesadaran orang akan berubah dari negative menjadi positif ketika orang menunjukkan keberanian. Energi yang dihasilkan oleh keberanian berada pada angka 200. Lebih jauh lagi, apabila orang bisa mengampuni, energy kesadarannya meningkat menjadi 350 dan pengampunan ini membuka pintu bagi energy kesadaran yang lebih tinggi, seperti pemahaman (400), kasih (500), sukacita (540), damai (600) dan pandangan cerah (700-1.000).

Mengampuni Setiap Saat

Ketidakmampuan dalam mengampuni orang lain atau diri sendiri selalu terkait dengan peristiwa di masa lampau, masa depan dan masa kini. Orang bisa merasakan kecemasan karena peristiwa yang telah lewat, atau takut karena peristiwa yang belum terjadi, atau penuh ketegangan karena suka membuat perlawanan terhadap kondisi sekarang. Itu menunjukkan bahwa orang tidak mengampuni. Tidak mampu mengampuni artinya tidak bisa menerima situasi seperti apa adanya, entah situasi di masa lampau, masa depan atau masa sekarang.

Pengampunan terhadap masa sekarang lebih penting daripada pengampunan terhadap masa lampau dan masa depan. Apabila kita mampu mengampuni setiap saat, maka tidak akan ada penumpukan kekesalan yang perlu diampuni atau dilepaskan di masa depan. Kita memiliki problem dengan masa lampau atau masa depan karena kita tidak pernah sungguh mengampuni sepenuh hati di saat sekarang.

Pengampunan sebagai Pelepasan Kekesalan (Kilesa) dan Penderitaan (Dukkha)

Pengampunan pertama-tama adalah pelepasan dari kekesalan (kilesa) dan penderitaan (dukkha). Pelepasan atau pembebasan dari kekesalan dan penderitaan ini sesungguhnya berjalan secara mudah dan alamiah apabila kita mampu melihat sendiri delusi-delusi atau persepsi-persepsi keliru yang sudah kita yakini sebagai kebenaran. Yang tidak mudah adalah bagaimana kita menemukan sendiri secara aktuil delusi-delusi ini.

Banyak delusi di balik kesulitan kita dalam mengampuni. Berikut adalah sekedar beberapa contoh.
1) “Penderitaan dan kebahagiaan kita ditentukan dari luar—perilaku orang lain, perilaku diri sendiri serta kondisi-kondisi dari masa lampau, masa sekarang dan masa depan.” Kekesalan dan penderitaan muncul karena delusi ini. Sesungguhnya, “pikiran dan keakuan” kita sendirilah yang menciptakan kekesalan dan penderitaan. Apabila kita melepaskan diri dari cengkeraman “pikiran dan keakuan”—sebagai inti dari proses pengampunan—maka kita bebas dari kekesalan dan penderitaan.
2) “Pengampunan adalah sebuah kelemahan; pembalasan adalah bukti kekuatan.” Delusi ini membuat kita (ego atau keakuan) merasa eksis hanya kalau kita bisa melakukan balas dendam, tetapi kita akan terus merasa tidak damai. Sebaliknya, apabila kita sungguh mengampuni, kita menemukan kelegaan, kedamaian dan kekuatan.
3) “Pengampunan tidak layak dan tidak efektif diberikan apabila orang tidak menunjukkan perubahan perilaku.” Delusi ini mudah dipatahkan dengan melihat fakta-fakta efek positif dari tindakan pengampunan tanpa syarat. Pengampunan justru sering menjadi pintu perubahan perilaku, bukan sebaliknya.

Pengampunan sebagai Welas Asih

Pengampunan adalah juga berarti berkontak dari kedalaman. Berkontak dari kedalaman berarti berkontak bukan secara reaktif. “Saat aku ingat atau bertemu dengan orang yang melukaiku, aku tidak akan menghindar, sembunyi, membenci atau balas dendam. Aku akan menjaga intensi yang baik dan memberi rasa hormat, empati atau welas asih.” Pengampunan di sini bermakna lebih aktif: “memberi rasa hormat, empati atau welas asih.”

“Apabila pada saat ingat atau berjumpa dengan orang yang melakukaiku masih timbul kebencian, keinginan untuk menghindar, membenci atau balas dendam, aku akan merasakan dan menyadari sensasi-sensasi dalam tubuh dengan bantuan nafas yang dalam sampai reaksi-reaksi ini mereda dan hilang.” Pengampunan di sini bermakna transformative.

Sambil kita merasakan dan menyadari reaksi-reaksi tubuh dan batin pada moment kontak dengan orang yang melukai kita, kita realisasikan kebenaran ini bahwa orang lain tidak akan pernah bisa melukai “siapa kita yang sesungguhnya.” Yang bisa terluka hanyalah gambaran kita tentang diri kita, tetapi bukan hakikat kita yang sesungguhnya. Apabila kita berada pada kedalaman kesadaran, tidak lagi mencengkeram gambaran mental tentang diri kita atau orang lain, maka rasa luka yang tadinya terasa menggumpal seperti sebongkah es, kini lumer atau mencair seperti gumpalan es yang terkena sinar matahari. Moment “kontak” dengan orang yang melukai kita bisa menjadi moment penyembuhan dan pembebasan.

Pikiran tidak bisa mengampuni. Kalaupun kita berjanji sampai 1000 kali untuk mengampuni, selama kita tidak masuk pada kedalaman, pada kesadaran tanpa reaksi, kita tidak akan mampu mengampuni. Itulah mengapa kita sering terkejut. Kita pikir kita sudah mengampuni; ternyata kita masih merasakan luka atau kebencian saat bertemu dengan orang yang melukai kita.

Setelah kita mengalami pembebasan dari rasa luka barulah mungkin kita bisa berhubungan kembali dengan orang yang tadinya melukai kita dengan cara baru. Kita bisa menghormati orang tersebut dan mampu memberikan energy welas asih, karena kita lebih dulu bisa menghormati dan berwelas asih pada diri sendiri.

Mengampuni Diri Sendiri

Tidak mudah mengampuni orang lain, tetapi lebih tidak mudah lagi mengampuni diri sendiri. Dengan kata lain, adalah lebih tidak mudah untuk melepaskan kekesalan-kekesalan terhadap diri sendiri, untuk menerima diri dengan sepenuh hati, menghargai dan berwelas asih pada diri sendiri.

Apabila kita bertemu dengan kekesalan terhadap diri sendiri, hal yang pertama perlu diingat adalah janganlah kita mencari pembebasan, kedamaian atau apapun juga di luar dari apa yang kita rasakan. Apabila Anda tidak merasa damai, ampunilah bahwa Anda tidak damai. Rasakan dan sadari kekesalan tersebut melalui sensasi-sensasi tubuh sebagai reaksi fisik terhadap keadaan batin Anda. Bisakah merasakan dan menyadari kekesalan dan reaksi-rekasi tubuh-batin, tanpa reaksi? Pada moment Anda sungguh merasakan dan menyadari tanpa reaksi—yang berarti sungguh menerima seperti apa adanya, kekesalan itu diubah menjadi kedamaian.

Apabila Anda terus membawa luka di dalam hati dan tidak mau mengampuni, maka Anda tidak respek pada diri sendiri. Siapa yang Anda harapakan bisa menghargai diri Anda kalau bukan Anda sendiri?

Pengampunan adalah sebuah seni atau keahlian yang hanya bisa dikuasai kalau dipraktikkan. Selama masih timbul rasa luka, kebencian, kekesalan, rasa marah, rasa takut, kecemasan atau kekhawatiran, kita masih perlu berlatih untuk mengampuni.

Mengampuni tanpa syarat adalah manusiawi sekaligus ilahi. “Allah adalah pengampun”. Apabila kita lebih banyak mengampuni dengan sepenuh hati, kita menjadi lebih manusiawi sekaligus ilahi.*