By J. Sudrijanta

Kita sering mendengar pertanyaan seperti ini, “Mengapa fenomena kekerasan dan kejahatan tidak pernah hilang dari sejarah kehidupan manusia di muka bumi?” Tentu ada banyak factor penyebab. Salah satu akar penyebabnya terkait dengan kuat dan masifnya delusi tentang “kebaikan” vs “kejahatan” yang diyakini sebagai kebenaran bagi kebanyakan orang.

Ada “benar dan salah” menurut hukum positif dan ada “baik dan buruk” menurut hukum moral. Tetapi bagi orang-orang yang sudah lebih maju kesadarannya, pada tataran yang lebih dalam tidak dikenal dualitas, seperti dualitas “kebaikan vs kejahatan”. Apa yang ada hanyalah “kebaikan”.

Kejahatan sebagai pecahan kebaikan

Apa yang dipandang sebagai “kejahatan” sesungguhnya hanyalah “kebaikan yang terpecah” dan semua kebaikan yang masih memiliki lawan bukanlah kebaikan yang sesungguhnya.

Para pelaku kejahatan atau orang-orang yang dicap jahat pada dirinya bukanlah orang-orang jahat. Mereka pada dasarnya adalah orang-orang baik tetapi melakukan tindakan “kebaikan yang terpecah.” Sebagai contoh, para teroris yakin bahwa jalan tercepat masuk surga adalah dengan mati sahid, yaitu mati karena memerangi kaum kafir. Mati dengan cara demikian adalah jalan “terbaik” bagi mereka, tetapi sebuah “kebodohan” bagi yang lain.

Kebaikan yang terpecah selalu menciptakan penderitaan bagi orang lain sekaligus diri sendiri. Sedangkan kebaikan yang utuh tidak membawa dampak penderitaan bagi orang lain dan diri sendiri. Mengapa demikian? Sebab, kebaikan yang utuh selalu bebas ego atau kepentingan diri sendiri. Sedangkan kebaikan yang terpecah selalu ditunggangi ego atau kepentingan diri sendiri.

Singkatnya, semua tindakan yang sudah dibersihkan seluruhnya dari penghalang ego adalah “tindakan yang utuh” sedangkan semua tindakan yang ditunggangi atau digerakkan oleh ego adalah “tindakatan yang terpecah”. “Keutuhan” adalah esensi dari “kebaikan” dan “keterpecahan” adalah esensi dari “kejahatan” itu sendiri.

Kebaikan utuh adalah seperti cahaya dan kebaikan yang terpecah adalah seperti bayang-bayang. Bayang-bayang hanya ada selama terdapat cahaya yang terhalang oleh benda-benda. Bayang-bayang adalah pecahan cahaya atau pancaran cahaya yang terhalang. Tidak ada bayang-bayang yang eksis dari dirinya sendiri, begitu pula “kejahatan”. Jadi dari dirinya sendiri, tidak ada yang disebut entitas kejahatan; yang ada hanyalah tindakan jahat sebagai pecahan kebaikan.

Darimanakah tindakan kejahatan berasal?

Tindakan jahat adalah reaksi dari batin yang terkondisi sedangkan tindakan kebaikan adalah respons dari batin yang bebas keterkondisian. Pusat dari keterkondisian dan keterpecahan ini adalah delusi diri atau ego.

Batin yang terkondisi adalah proses-proses sebab-akibat atau aksi-reaksi yang membentuk arus keterkondisian. Arus ini bernama ketakutan, kecemasan, keserakahan, kebencian, kemarahan, kebrutalan, kekerasan dan seterusnya.

Tidak ada “inti-diri” atau “entitas” dalam arus ini. Ia terus mengalir sepanjang waktu seperti arus sungai. Apapun tidak bisa membatasi gerak arus ini termasuk kematian fisik, kecuali batin berada dalam kebebasan total.

Hanya dalam kebebasan total, terdapat perhatian total tak-terbagi terhadap fakta keterpecahan batinnya sendiri. Pada moment ketika batin berada pada keutuhan atau totalitas, tidak terdapat pecahan sekecil apapun, batin seperti ini tidak bisa dipengaruhi oleh arus pecahan apapun. Pada moment inilah batin keluar secara alamiah dari arus keterkondisiannya.

Tidak ada “orang” jahat

“Kejahatan” dengan demikian tidak memiliki realitas intrinsic pada dirinya. Apa yang ada hanyalah tindakan jahat atau arus kejahatan sebagai pecahan kebaikan, tetapi tidak ada “orang” jahat—“entitas” jahat, “sosok” jahat, “makhluk” jahat, “penguasa” jahat, “kelompok” jahat.

Banyak tindakan “kejahatan” muncul justru karena masih banyak orang memegang kepercayaan bahwa terdapat entitas kejahatan dan akibatnya konflik “kebaikan vs kejahatan” dianggap biasa dan bersifat abadi. Apabila kita meyakini bahwa ini benar demikian, maka kita semua ikut bertanggung jawab terhadap nasib kemanusiaan yang semakin buruk.

Kepercayaan bahwa sebuah kejahatan dilakukan oleh “orang” jahat menjadi landasan bagi aksi-aksi yang lebih jahat lagi. Inilah yang terjadi. Apabila seseorang dipandang sebagai orang jahat, maka orang lain mendapatkan pembenaran—secara politik, moral, social, religius—untuk melakukan apa saja untuk melenyapkan orang jahat tersebut, termasuk pengusiran, penyiksaan dan pembunuhan.

Ada banyak bentuk “kejahatan” seperti perkosaan, penyiksaan, pengusiran paksa, pembunuhan, genocida, perampokan, produksi dan pengedaran narkoba, dst. Itu semua disebut sebagai tindakan jahat karena mengakibatkan penderitaan. Namun melekatkan kejahatan pada si pelaku—bukan pada perilaku atau tindakannya—justru memperkuat tindakan “kejahatan.”

Ironisnya, tindakan jahat seringkali dilakukan justru mengatasnamakan “kebaikan”–untuk membela kemanusiaan, untuk menurunkan angka kejahatan, atau untuk mencari keadilan. Lalu orang merasa sah melakukan kekerasan sebagai bentuk balas dendam atau merasa sah dengan pembenaran bahwa “tujuan bisa menghalalkan cara.” Meyakini adanya “orang” jahat merupakan sebuah bentuk kayakinan yang “jahat” karena bisa membawa kepada tindakan yang sama-sama “jahat”.

Orang sakit bukanlah “orang” jahat

Mengapa kita tidak memahami bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kesakitan dalam dirinya dan mereka sendiri adalah orang-orang yang paling menderita sebelum mereka membuat orang lain menderita? Apabila kita ingin melenyapkan mereka, kita tidak berbeda dari diri mereka.

Kaum teroris, pelaku kekerasan, pembunuh, pebisnis narkoba, para criminal dan kaum tyran adalah orang-orang yang bukan hanya menyebabkan orang lain menderita. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan pemahaman dari orang lain bahwa mereka sendiri menderita dan membutuhkan bantuan untuk keluar dari penderitaan.

Banyak dari pelaku kekerasan terhadap anak-anak seringkali adalah orang-orang yang dulunya pernah menjadi korban kekerasan di usia anak-anak. Para pencuri dan perampok seringkali adalah korban dari pemiskinan karena perselingkuhan korporasi bisnis dan politik. Para teroris seringkali adalah orang-orang polos biasa yang menjadi korban indoktrinasi dari para pembela keyakinan yang keliru. Arus “kejahatan” ini terus bergerak dan berputar.

“Kejahatan” karenanya adalah sebuah istilah yang ditempelkan pada bentuk-bentuk ekstrem yang disalahpahami dari “perilaku patologis”—perilaku yang berakar pada penderitaan para pelaku itu sendiri yang mengakibatkan penderitaan orang lain. Para teroris atau para produsen dan pebisnis narkoba, misalnya, bukanlah orang-orang jahat, betapapun tindakan mereka bisa menyebabkan jutaan orang lain menderita. Mereka bukan orang-orang “jahat”, tetapi orang-orang sakit; dan orang sakit butuh disembuhkan, bukan dilenyapkan.

Mereka juga membutuhkan rekonsiliasi. Rekonsiliasi pada tingkatan manapun, baik secara personal, interpersonal maupun komunal, membutuhkan pengakuan jujur akan apa yang menjadi kebutuhan dasariah yang melandasi setiap tindakan kejahatan.

Mereka membutuhkan bantuan spiritual, psikologis dan etis. Mereka membutuhkan bantuan untuk membongkar keyakinan-keyakinan palsu, kepercayaan-kepercayaan sempit, pikiran-pikiran dan pengetahuan yang terdelusi. Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bahwa rasa takut, kepedihan dan penderitaan yang mereka alami tidak berbeda dari pengalaman semua orang lain. Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bahwa balas dendam bukanlah jawaban persoalan.

Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bahwa siapapun yang mereka rasakan telah menyebabkan diri mereka menderita—atau terhadap siapa mereka merasakan kebencian dan kemarahan—pada dasarnya bukanlah orang-orang “jahat”. Mereka membutuhkan bantuan untuk memahami bagaimana konsep “kebaikan vs kejahatan” telah mendorong lebih banyak tindakan kejahatan di muka bumi.

Kita butuh perlindungan dan kepastian hukum untuk melindungi kemanusiaan dan keutuhan hidup bersama dari segala bentuk tindakan jahat. Terhadap mereka yang jelas-jelas sudah melakukan tindakan yang melukai kemanusiaan dan keutuhan hidup bersama, haruslah diambil tindakan hukum, ditangkap dan dikarantina, sebelum mendapatkan bantuan penyembuhan dan rekonsiliasi.

Kita semua membutuhkan perlindungan agar terbebas dari tindakan jahat yang dilakukan dari luar, tetapi kita juga perlu waspada terhadap sumber kejahatan yang tersembunyi di dalam diri kita masing-masing.

Konsep adanya “kejahatan” telah membawa kepada kesalahan, kekerasan dan kepedihan yang paling buruk. Tidak ada jalan keluar bagi kemanusiaan dan keutuhan hidup bersama untuk mengatasi semua hal yang mengerikan sebagai “jahat” apabila kita tidak membersihkan diri kita dari kepercayaan akan adanya “sosok” yang jahat.

Di satu pihak kita perlu melawan habis segala bentuk tindakan jahat. Di pihak lain kita musti merangkul para pelaku kejahatan dengan kasih, penerimaan dan pemahaman terbaik.*