By J. Sudrijanta

“Tidak ada manusia yang tercerahkan sebelum mampu menjalani kehidupan melampaui agama.”

Agama dalam kenyataan seringkali menjadi candu atau sumber eksploitasi, konflik, kebencian, dan kekerasan. Namun bukan karena agamanya orang berbuat jahat, intoleran atau suka kekerasan, melainkan karena cara pandang yang yang dangkal dalam melihat kehidupan dan ajaran agamanya, termasuk cara berpikir sempit dalam melihat perbedaan.

Marilah kita melihat berbagai model berpikir dalam menghadapi perbedaan agama dan mengevaluasi pendekatan mana yang paling memungkinkan untuk dikembangkan guna memutus rantai kekerasan atas nama agama dan untuk mengembangkan kerjasama yang lebih luas demi membangun dunia kearah yang lebih baik.

1.Model Eksklusif. Setiap sudut pandang bersifat unik dan saling mengekslusi satu dengan yang lain. Anda tidak bisa mencampur-adukkan yang satu dengan yang lain, seperti mencampur beberapa unsur makanan menjadi satu mangkuk sup. Tentu saja ada kemiripan, tetapi tidak ada kesamaan. Konsep dari system kepercayaan yang satu tidak sama dengan yang lain. “Keselamatan” di Kristen tidak ada dalam Buddha, begitu pula “pencerahan” di Buddha tidak ada dalam Kristen. Paham “Allah” dalam Kristen bukanlah “Allah” menurut Islam.

Ujaran-ujaran khas model ekslusif adalah seperti berikut. “Agamaku adalah satu-satunya yang benar, agama lain keliru, tidak sempurna, atau tidak lengkap.” “Tidak ada keselamatan di luar Gereja.” “Tidak ada pencerahan di luar Buddha.” “Islam adalah jaminan masuk surga.”

Model ini paling efektif memecah-belah manusia dalam sekat-sekat agama, mengobarkan kebencian dan permusuhan, melanggengkan konflik dan peperangan. Model ini telah menorehkan catatan berdarah dalam sejarah kebiadaban bangsa-bangsa.

2.Model Inklusif. Di sini pandangan agama lain ditafsirkan dalam terminology agamanya sendiri dan divalidasikan. Bagi orang-orang Kristiani, Kristus adalah pewahyuan unik, kepenuhan Allah; tokoh-tokoh dan agama-agama lain adalah manifestasi Kristus yang tersembunyi, tidak langsung dan implicit. Misalnya, orang-orang Kristiani mengatakan bahwa dalam Buddhisme terdapat “Roh Kudus” atau “Kristus,” tetapi dalam bentuk implicit atau tidak langsung. Umat Buddha akan mengatakan Jesus adalah seorang Bodhisattva, atau Jesus bukan Tuhan tetapi hanyalah seorang nabi menurut Islam. Guru Zen Hakuin menyatakan bahwa semua makhluk memiliki “hakikat-Buddha”. Kemudian orang di luar tradisi Zen mencoba menterjemahkan konsep “hakikat –Buddha” dalam terminology religius mereka sendiri, yang belum tentu persis dimaksudkan oleh Hakuin.

Di satu pihak posisi ini bisa didukung karena tidak mengobarkan permusuhan kepada pemeluk agama lain. Tetapi model ini masih menyisakan masalah superioritas dan inferioritas: “agamaku lebih superior dibanding agama lain.” Sikap ini masih bisa memprovokasi ketidakpuasan, kalau bukan permusuhan.

3.Model Pluralistik. Menurut teori ini, setiap agama dipandang sama dan valid, tidak ada yang lebih benar atau kurang benar. Setiap agama berbeda dan tidak bisa diperbandingkan. Dalam bentuk ekstrem, setiap agama memiliki jalan yang berbeda, tujuan akhir yang berbeda, bentuk keselamatan atau pembebasan yang berbeda, memiliki pandangan tentang sesama dan alam semesta yang berbeda. Terdapat banyak kebenaran yang berbeda-beda dan etika yang berbeda. Pandangan ini merelatifir semua agama. Para penganut agama didorong untuk hidup bersama dan saling bertoleransi. “Timur adalah Timur, Barat adalah Barat, dan keduanya tidak akan pernah bisa bertemu.” Anda menghidupi agama Anda, dan saya menghidupi agama saya. Apabila kita bisa bertemu, itu baik; apabila tidak, tidak apa-apa. Setiap orang menutup diri dalam rumah dan tempatnya sendiri.

Pada jaman modern dengan begitu banyak tantangan berupa konflik dan kekerasan, pemiskinan dan ketidakadilan, serta kerusakan lingkungan, model ini tidak cukup menjadi fondasi yang kuat bagi sebuah solusi bersama. Kita musti belajar untuk lebih terbuka, belajar berdialog, saling mendengarkan dan saling menghormati. Kita perlu keluar dari relasi superior-inferior. Kalau tidak, kita akan menjadi korban seperti yang diilustrasikan oleh Plautus dalam Asinaria (195 SM): “lupus est homo homini.” Manusia adalah serigala bagi sesamanya, setiap orang menjadi serigala bagi dirinya sendiri, dan si jahat yang akan pegang kendali.

4.Posisi dua-kaki (dual-belonging). Kini banyak orang hidup dalam dua tradisi atau lebih pada saat yang bersamaan. Mereka adalah Kristiani-Buddhist, Hindu-Kristiani, Yahudi-Buddhist, Islam-Buddhist, Islam-Kristen dst. Hidup dalam satu tradisi secara eksklusif membuat orang merasa sesak dan terbatas. John Dunne (1970) menggunakan istilah, “Passing over and coming back” (“Menyeberang dan kembali lagi”). Menyeberang ke tradisi atau agama lain dan kemudian kembali lagi. Model menyeberang dan kembali lagi ini adalah visi yang membebaskan dan memperluas cakrawala. Orang tidak lagi terjebak pada kungkungan tradisi dan agamanya sendiri. Model ini disebut dengan istilah lain seperti “integral terbuka” (open integral) atau “inter-religious.” “Menjadi religious dewasa ini musti menjadi inter-religious” (Kongregasi Jenderal Serikat Jesus ke-32 tahun 1974/75).

Ada banyak bahaya dalam model menyeberang dan kembali lagi. Jalan ini bisa membuat orang jatuh dalam sinkretisme, menghapus batas-batas agamanya atau agama lain, pengabaian (indifference), pengenalan secara dangkal, kurang komitment pada komunitas imannya, atau bahkan pengkhianatan pada komunitas dan agamanya, dan seterusnya. Jalan ini selalu menciptakan ketakutan bagi pemegang otoritas agama.

Di pihak lain, model inter-religius ini bisa menjadi berkah baik bagi individu itu sendiri maupun bagi komunitasnya. Banyak orang punya pengalaman yang serupa. Mereka berbagi rahasia, “Tanpa Buddha, saya tidak bisa menjadi seorang Kristen.” Atau sebaliknya, “Tanpa Kristus, saya tidak bisa menjadi Buddha.”

Dalam model dual-belonging, pemahaman kita tentang isi Kitab Suci, tradisi maupun ritual agama diperkaya. Pemahaman, penerimaan, rasa hormat dan toleransi tumbuh berkembang. Dengan “menyeberang” ke agama atau tradisi lain, orang mendapat pemahaman yang lebih dalam dan kebenaran yang lebih jelas tentang kekayaan dalam tradisi dimana orang tersebut berasal. Dengan demikian tradisi atau agama lain justru menolong orang untuk “kembali” dan “lebih berakar” pada tradisi atau agama darimana ia berasal.

Di satu pihak, Anda diperkaya dan dipihak lain Anda juga memperkaya. Anda membawa berkah bagi kedua tradisi. Apabila semua agama institusional terbuka dan saling dapat menerima, pengalaman “menyeberang dan kembali” ini akan menjadi berkah baginya.

Model dual- belonging ini tidak bisa dicapai mayoritas orang-orang beragama. Hanya sebagian orang saja yang bisa sungguh “menyeberang dan kembali lagi.” Apabila lebih banyak orang berani melakukannya, wajah peradaban manusia tentu akan jauh berbeda.

5.Model antara melampaui dogma (in between way). Model ini dekat dengan dual belonging, namun berbeda. Supaya lebih jelas, saya akan kemukakan pengalaman saya. Saya adalah seorang pastor Katolik sekaligus pengajar Meditasi (Post-) Vipassana. Ketika saya merayakan Ekaristi atau memberi pelayanan sakramen, saya sungguh seorang (Imam) Katolik. Ketika saya melakukan praktik kesadaran (Post-) Vipassana, maka saya adalah seorang praktisi (Post-) Vipassana. Ketika saya mengajarkan ajaran-ajaran Katolik, saya sungguh sebagai pengajar Katolik, sekalipun sudah diperkaya oleh pengalaman (Post-) Vipassana; dan ketika saya mengajar praktik kesadaran (Post-) Vipassana, saya sungguh seorang (Post-) Vipassana, sekalipun sudah diperkaya oleh kekayaan spiritualitas Katolik. Namun bagi saya, (Post-) Vipassana adalah (Post-)Vipassana dan Katolik adalah Katolik. Tidak ada campur aduk.

Siapa saja bisa berdiri di tengah di antara dua tradisi atau dua agama. Berada di tengah adalah berada pada realitas serba “tidak tahu.” Ini adalah seperti “Awan Ketidaktahuan” (Cloud of Unknowing) menurut seorang mistik Kristen abad 14, atau “keheningan tanpa-diri” menurut Bernadette Roberts, atau “Kekosongan” (emptiness, sunyata) dalam Zen atau Vipassana.

Dalam Sutra Hati (the Heart Sutra) kita menemukan ungkapan ini, “Emptiness is form, form is emptiness”. Kekosongan adalah kekosongan dan bentuk adalah bentuk. Itu barulah separuh kebenaran. Separuh kebenaran yang lain adalah kekosongan adalah bentuk, bentuk adalah kekosongan.” Ketika orang berdiam “di antara” (in-between), yang adalah “Kekosongan”, orang berada pada dasaran yang tidak memiliki dasaran lagi sebagai fondasi dari segala yang ada (groundless ground of being).

Dengan berdiri “di antara” (in-between) konsep, ide, symbol-simbol, tradisi, agama, maka suatu cakrawala luas terbuka. Di sinilah orang melampaui konsep, dogma, atau bentuk. Tetapi orang tidak akan dapat bertahan dalam realitas ini terus-menerus. Orang musti memasuki bentuk dan kembali ke tradisi atau agama di mana mereka berasal. Tetapi sekarang berbeda. Mereka bukan sekedar “penganut suatu agama” tetapi “penghayat kebenaran.” Mereka adalah pertama-tama manusia, manusia yang tercerahkan, manusia yang melampaui agama. Baju mereka bisa jadi tetap Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha atau yang lain. Tetapi agama mereka sesungguhnya adalah kedamaian, kasih, keadilan. Bagi mereka, “tidak ada agama di atas kebenaran.”

Kedalaman pandangan kita terhadap ajaran agama lain sangat bergantung pada tingkat kedalaman pemahaman kita terhadap ajaran agama kita sendiri. Begitu pula sebaliknya. Kedalaman pandangan kita terhadap ajaran agama kita sendiri sangat bergantung pada tingkat kedalaman pemahaman kita terhadap ajaran agama lain. Dan kedalaman pandangan kita terhadap baik ajaran agama kita sendiri maupun agama lain bergantung pada kedalaman pemahaman kita tentang diri kita sendiri.

Kita membutuhkan suatu pendekatan yang bukan hanya membuat kita bisa menghormati perbedaan, tetapi dapat menemukan nilai-nilai luhur dan merayakan keberagaman yang akan memperkaya hidup bersama. “Model Eksklusif” paling berseberangan dengan tujuan kita. “Model Inklusif” dan “Model Pluralis” tidaklah buruk, tetapi tidak mencukupi. “Model dua-kaki” dan “Model Antara” adalah dua pendekatan yang paling baik menjawab kebutuhan kita.*