By J. Sudrijanta

Semua agama kuno dan ajaran para mistik dari berbagai tradisi religius sangat menekankan pentingnya aspek keheningan batin (inner silence) bagi hidup dan praktik spiritual.

Keheningan menjadi instrument kunci apabila manusia ingin menemukan penyembuhan batin, transformasi diri, pemurnian jiwa, pembebasan, perjumpaan dengan Tuhan yang sesungguhnya, dan menjadikan manusia menjalani hidup secara dalam, damai, penuh vitalitas, dari saat ke saat sepanjang waktu.

“Keheningan batin” (inner silence) itu sendiri memiliki dua dimensi lain yang saling berkaitan dan tak terpisahkan, yaitu “batin yang diam” (inner stillness) dan “batin yang mahaluas” (inner spaciousness). Memahami ketiganya akan menolong kita dalam latihan.

Batin yang Diam (Inner Stillness)

Batin yang diam adalah batin yang tidak berlari. Orang yang ingin menimba kedalaman hidup dan menjadikan seluruh aktivitas dan kesibukan sehari-hari menjadi sebuah praktik spiritual, mustilah pertama-tama punya kemauan untuk berhenti berlari dan diam. Kita mudah berlari untuk menghindari sesuatu yang kita tidak suka melalui gerak tangan, kaki dan tubuh kita. Pekerjaan dan kesibukan apapun bisa menjadi bentuk pelarian.

Duduk diam, tanpa bergerak, tanpa bereaksi, akan membantu Anda menangkap banyak hal yang belum Anda ketahui secara dalam tentang tubuh dan batin Anda. Di antaranya, cepat atau lambat Anda akan bertemu dengan banyak hal yang tidak Anda sukai: rasa pegal, rasa sakit, kesepian, kecemasan, kegelisahan, ketakutan, rasa bosan, rasa tidak enak, berbagai bentuk kesakitan dan penderitaan. Biasanya kita berlari menghindar. Sekarang kita diam, berhenti berlari; diam, tidak bereaksi.

Dengan diam–tidak bergerak, tidak bereaksi–kita sedang membangun kontak langsung dengan kesakitan dan penderitaan kita. Bila terdapat perhatian total tak terbagi, meskipun hanya berlangsung singkat, maka tidak ada reaksi-reaksi. Apabila terdapat reaksi-reaksi, cobalah disadari, juga tanpa reaksi. Itulah yang disebut dengan batin yang diam. Rasakan dan sadari titik diamnya batin, sementara tubuh betul-betul diam. Tinggallah di situ selama Anda bisa. Itulah rumah Anda.

Jadikan kesakitan dan penderitaan Anda sebagai jalan pembebasan. Setiap kali Anda menemukan batin yang diam, kesakitan dan penderitaan yang Anda rasakan mereda atau lenyap begitu saja. Ini hal yang sangat sederhana tetapi luar biasa. Cobalah dan buktikan sendiri.

Dalam perjalanan latihan, Anda akan berjumpa dengan pengalaman seperti ini. Kesakitan dan penderitaan bisa terasa semakin hebat dan Anda kehilangan titik diam. Mengapa begitu? Batin Anda hanya bisa berlari ketika pikiran sudah menciptakan identifikasi diri dengan sesuatu dalam sebuah relasi pada moment itu. Itulah moment kemunculan ego. Tidak ada pelarian diri tanpa ego. Lihatlah munculnya identifikasi diri dan realisasikan kebenaran ini. “Tubuh ini bukanlah milikku. Pikiran dan perasaan ini bukanlah milikku. Tidak ada si aku di dalam tubuh, pikiran dan perasaan ini. Tidak ada si aku di luar tubuh, pikiran dan perasaan ini. Tubuh hanyalah tubuh. Pikiran hanyalah pikiran. Perasaan hanyalah perasaan.” Apabila Anda mampu melihat secara langsung bahwa Anda bukanlah kesakitan dan penderitaan, Anda bebas.

Ketika terdapat perhatian tak terbagi terhadap kesakitan dan penderitaan tanpa reaksi, maka ego (identifikasi diri) lenyap. Ketika ego lenyap, Anda menemukan batin yang diam. Ketika Anda merasakan titik diamnya batin, Anda sudah menemukan jalan yang benar. Jalan yang benar menuju pembebasan haruslah mulai dari titik diam dan berakhir pada titik diam.

Sekarang bagaimana menemukan titik diam dalam gerak atau kesibukan harian? Pada prinsipnya, apa yang kita lakukan saat duduk diam, kita lakukan pula saat berdiri, berjalan, berbicara, bekerja atau melakukan aktivitas sehari-hari.

Diam adalah diam dan gerak adalah gerak. Tetapi sekarang kita berlatih untuk menemukan diam dalam gerak dan gerak dalam diam. Lihatlah bumi ini. Apakah bumi ini diam atau bergerak? Bumi terus bergerak mengitari matahari, bukan? Ya, ia terus bergerak, tetapi bergerak secara sempurna dan diam secara sempurna. Apabila bumi terus bergerak tanpa diam, seperti ketika Anda merasakan goncangan gempa bumi, maka akan menjadi kacau-balau. Apabila bumi ini tidak pernah bergerak dan hanya diam, maka tidak akan ada kehidupan. Bumi bisa menjadi topangan kehidupan begitu banyak makhluk, karena ia sepenuhnya diam sekaligus bergerak.

Diam dan bergerak adalah dua dimensi yang membentuk integrasi dalam kehidupan kita. Kita perlu belajar untuk diam dalam gerak dan gerak dalam diam. Kita perlu belajar menemukan titik diam dalam berbicara, bertindak dan bekerja dalam segala hal. Apabila kita berbicara tanpa diam, maka kata-kata kita hanya menjadi ekspresi kegaduhan. Maka diam dan berbicaralah juga dalam diam. Apabila kita bertindak atau bekerja tanpa diam, maka segala kesibukan kita hanya menjadi pelarian. Maka diam dan bertindaklah juga dalam diam.

Banyak hal dalam hidup ini sulit kita pahami kecuali apabila kita diam. Banyak misteri kehidupan ini hanya bisa dimengerti juga apabila kita diam. Hidup yang adalah relasi-relasi akan berjalan pada kedalaman dan ketertibannya apabila kita bisa diam.

Keheningan Batin (Inner Silence)

Keheningan batin pada dasarnya memiliki dua pengertian. Yang pertama adalah berhentinya pikiran dan yang kedua adalah batin yang tidak terganggu meskipun pikiran terus bergerak. Untuk bisa mengalami keheningan dalam pengertian pertama (berhentinya pikiran), kita perlu belajar menemukan keheningan dalam pengertian yang kedua, yaitu batin yang tidak terganggu oleh pikiran.

Setelah berkanjang dalam diam, kita akan mampu menangkap suara keheningan di balik suara-suara kegaduhan di kepala kita. Suara kegaduhan atau kebisingan itu mewujud dalam pikiran, kata-kata, atau perbincangan dengan diri sendiri. Itu adalah suara kesakitan dan penderitaan. Ia masih akan bersuara apabila belum cukup mendapat sentuhan perhatian penuh kesadaran secara tepat pada titiknya.

Bagaimana bisa menyentuhnya secara tepat? Yang terpenting bukan suara kegaduhannya, tetapi suara keheningan di baliknya. Suara keheningan selalu ada di sana apabila kita tidak bereaksi, tidak menolak, tidak menekan, tidak membuang, tidak mengeluh, tidak menilai, tidak menyalahkan atau membenarkan. Dengarkan suara keheningan di dalam, dan seketika suara kegaduhan lenyap. Itu adalah resep sederhana dan luar biasa.

Tentu saja sesaat kemudian suara gaduh itu akan datang lagi apabila Anda kehilangan keheningan di dalam. Suara gaduh di dalam batin hanya muncul pada moment ketika kita kehilangan keheningan. Maka bertahanlah di dalam keheningan dan temukanlah dari saat ke saat. Suara keheningan selalu ada di sana, sedangkan suara gaduh datang dan pergi, muncul dan lenyap.

Siapa Anda yang sesungguhnya tak terpisahkan dari keheningan itu sendiri. Apabila Anda terpisah dari keheningan, Anda terpisah dari siapa Anda yang sesungguhnya. Dengan merasakan getaran keheningan, Anda sedang berkontak langsung dengan siapa Anda yang sesungguhnya.

Suara alam semesta di sekitar kita bisa membantu kita untuk merasakan getaran keheningan di dalam batin. Kita bisa mendengarkan dengan perhatian penuh kesadaran suara gemericiknya air yang mengalir, suara burung yang bernyanyi, suara angin yang menerpa pepohonan. Bahkan suara yang memekakkan telinga pun bisa kita ambil sebagai alat bantu untuk menemukan getaran keheningan batin, seperti suara deru mobil, suara lonceng gereja, suara adzan di mesjid, bahkan suara cacian dan celaan tetangga kita.

Di tengah kesibukan, kita perlu setiap kali mundur untuk menemukan titik diam, titik keheningan batin. Itulah rumah kita. Itulah siapa kita yang sesungguhnya. Sejauh apapun kita berjalan keluar, kita musti setiap kali kembali ke rumah. Kita musti menjadi diri kita yang sesungguhnya.

Kemahaluasan Batin (Inner Spaciousness)

Batin yang mahaluas adalah batin yang lapang, jernih, terang-benderang, tidak memiliki pusat, tidak memiliki pinggiran, tak terbatas, tak tertambat pada apapun. Di dalam batin yang diam dan hening, keakuan masih bisa bercokol; tetapi di dalam kemahaluasan batin ini, keakuan tak lagi bisa bertahan.

Ego adalah pecahan batin yang kita jadikan pusat kendali, yang sesungguhnya tidak berbeda dari pikiran. Sedangkan keakuan adalah rasa diri yang mengiringi setiap pengalaman, yang sesungguhnya tidak berbeda dari perasaan atau pikiran halus bahwa ada suatu entitas yang terpisah dari pengalaman.

Akar dari seluruh persoalan batin adalah karena pikiran membentuk poros ego dan keakuan. Sesungguhnya yang ada hanyalah pikiran yang terkondisi. Entitas keakuan di luar pikiran adalah ilusi. Meyakini ilusi sebagai kebenaran adalah esensi dari batin yang terkondisi.

Seluruh gerak dan kegiatan pikiran kita adalah seperti air sungai yang sudah terpolusi mulai dari dekat sumbernya. Orang di bawah tidak tahu. Apapun yang mereka upayakan untuk membersihkan sungai hanya menambah polusi, karena memori dan pikiran tidak dibebaskan dari poros ilusi ego dan keakuan.

Dalam perjalanan latihan, kita akan melihat bahwa seluruh gerak dan kegiatan batin akhirnya mendapatkan tempat berlabuh dalam diam dan heningnya batin. Sedangkan diam dan heningnya batin mendapatkan tempat istirahat terakhir dalam kemahaluasan batin. Itulah sumber dari segala sumber yang ada. Anda bisa menyebutnya “open awareness” (rigpa), “choiceless awareness,” “kekosongan,” “suwung,” “sunyata,” “inti Ketuhanan” (the Godhead), atau lebih baik tidak perlu memberinya nama. Yang penting Anda mengalaminya secara actual.

INI adalah neumena di balik segala fenomena. INI adalah dimensi yang tak-berbentuk yang tak-terpisahkan dari segala bentuk.

INI adalah landasan bagi kesatuan diam di dalam gerak dan gerak di dalam diam. INI adalah landasan dari keheningan dan landasan bagi ekspresi dari keheningan.

INI meresapi segala yang ada, melingkupinya dengan sempurna, dan mengisi ruang di antara segala yang ada. INI adalah fondasi dari segala yang ada dan dari keterhubungan dari segala yang ada.

INI membuat segala hal menjadi jernih, transparan, apa adanya. INI membuat batin mampu menembus segala tembok pemahaman yang sempit, terbatas dan terkondisi.

Setiap kali kita merasakan getaran kemahaluasan batin ini, kita bukan hanya bisa mengalami damai, sukacita dan kepenuhan batin dari dalam, tetapi terlebih pembebasan yang tiada tara.

Manfaat dari berlatih setiap hari tak terhitung banyaknya. Kita hanya perlu belajar berhenti berlari, mendengarkan suara keheningan batin, dan merealisasikan hakikat batin yang mahaluas ini. Lakukan latihan ini secara intensif dan kontinyu, maka Anda akan melihat tidak ada lagi kesakitan dan penderitaan yang tidak bermakna: segala hal baik adanya dan berguna bagi pembebasan kita.*