By MAS, F-42 tahun, Human Resource Development di sebuah perusahaan

Retret kali ini adalah retret MTO yang ketiga kalinya yang pernah saya ikuti. Saya selalu mengikuti Retret MTO setiap tahun sejak 2014. Retret tahunan menjadi kesempatan untuk berhenti sesaat dari kegiatan rutin keseharian dan secara khusus melakukan perjalanan spiritual, perjalanan batiniah “ke dalam.”

Silentium

Di dalam retret MTO, suasana silentium (keheningan) perlu dijaga oleh seluruh peserta. Silentium merupakan istilah dalam bahasa Latin yang artinya diam atau hening. Selama retret berlangsung, seluruh peserta tidak diperkenankan berbicara satu sama lain. Proses ini tidaklah mudah untuk kebanyakan peserta. Saya sangat bisa memahaminya. Bayangkan, sebagian besar peserta adalah warga kota Jakarta. Dalam keseharian mereka jarang menemukan situasi dimana mereka berdiam diri. Untuk bisa bertahan hidup, maka warga Jakarta harus berjuang untuk memenangkan persaingan dengan menyampaikan pemikiran, memperdebatkan gagasan, mengungkapkan keinginan. Maka saat para peserta dimasukkan ke dalam situasi dimana harus diam, tidak boleh berbicara satu sama lain, tenang dan sepi, justru timbul keresahan. Saya yakin banyak pertanyaan muncul: “kalau saya butuh sesuatu, bagaimana?”; “kalau saya tidak memahami penjelasan Romo tentang konsep yang dijelaskan, saya harus bertanya kepada siapa, sementara saya malu kalau harus langsung bertanya kepada Romo?”; “kalau saya sakit, bagaimana?”; “kalau saya papasan dengan sesama peserta, masa saya tidak menyapanya, nanti saya di cap sombong” dan beribu pertanyaan lainnya. Belum lagi kekhawatiran bertemu dengan diri sendiri, yaitu pikiran-pikiran kita sendiri yang dapat dengan bebas dan liar bermunculan tanpa bisa dibendung, yang selama ini selalu kita simpan paling dalam ataupun kita sangkal keberadaannya, yang tanpa disadari menjadi pendorong untuk berlari dari suasana hening.

Pada saat awal saya mengikuti meditasi, hal-hal tersebut pun saya alami. Maka hanya dengan alasan kepatuhan terhadap aturan saja, saya menjalani silentium. Saya komit untuk tidak berbicara.

Dalam silentium, hal pertama yang saya hadapi adalah diri saya sendiri. Saya langsung berhadapan dengan pikiran saya yang tidak berhenti bermunculan, pikiran yang begitu sibuk dan tidak pernah berhenti. Meskipun bising, selama ini kesibukan dan hingar-bingar denyut kota Jakarta menjadi tempat saya bersembunyi dari kesibukan pikiran saya sendiri. Saat bertemu dengan pikiran-pikiran itu, seolah olah saya harus berhadapan dengan diri sendiri. Maka dalam keheningan saya menghadapinya, menerimanya, memeluknya, dan berdamai dengannya, kemudian ketenangan tidak lagi hanya di ranah fisik; tidak berbicara, tidak menimbulkan kegaduhan, tetapi juga meresap jauh hingga menyentuh batin.

Lebih jauh lagi, dengan silentium saya bisa secara jernih melihat pikiran apa yang muncul dan perasaan apa yang mengikutinya, menyadarinya dari saat ke saat. Maka buat saya silentium adalah alat yang bisa mempertajam kepekaan saya untuk “melihat ke dalam” dan untuk terus berada pada saat ini. Maka silentium bukan lagi sebagai peraturan, tetapi menjadi alat dan kebutuhan dalam perjalanan spiritual saya, dalam proses untuk “melihat ke dalam”.

Peace Walk
Di retret kali ini, di salah satu pagi di hari-hari awal masa retret, dimana hari masih gelap dan udara pagi masih terasa dingin, saya menggunakan kaos kaki untuk memberikan kehangatan dan rasa nyaman selama meditasi pagi. Seperti biasa, kami memasuki ruang meditasi, dan langsung bermeditasi dalam suasana hening berbalut Selimut Dhamma (the Seal of Dhamma) yang melindungi dari udara pagi yang dingin. Saya bermeditasi dalam hening. Menyadari pikiran yang muncul dari waktu ke waktu.

Saya merasa bahwa saya sudah cukup lama bermeditasi, dan terdengarlah “tiiiiiiiinnggggggggg…” Bel Romo bergema sebagai tanda meditasi berhenti. “Asiikk meditasinya selesai. Artinya, saya bisa meluruskan kaki saya yang sudah mulai mati rasa…”

Romo berkata “mari kita melakukan peace walk.” Saya langsung berpikir “aahh enak juga nih peace walk. Mungkin seperti walking meditation. Lumayan bakal mengurangi pegalnya kaki”.

Kemudian Romo mengatakan bahwa kita perlu mencopot kaos kaki dan kita akan berjalan di atas rerumputan di halaman wisma tanpa menggunakan alas kaki. “Waduhh harus buka kaos kaki ya.. dingin dong..” Otomatis meluncur pemikiran seperti itu. Namun, saya pun langsung mencopot kaos kaki, dan menanggalkan kenyamanan saya. Si pikiran muncul “Apa lagi sih ini….. hmmm jalan di atas rumput; nanti kalau ada semut gimana; saya alergi dengan gigitan serangga; pasti kaki saya bisa bengkak; dan kalau saya menginjak cacing bagaimana”.

Dalam sepersekian detik, pikiran itu muncul dengan cepatnya. Bayangkan, sebagai warga Jakarta, yang sudah tidak mudah menemukan rumput, pasti sudah sangat lama sekali tidak pernah berjalan di atasnya. Namun saya tidak berdaya untuk menolak. Saya harus melakukannya. Saya berjalan mengikuti semua peserta yang langsung berjalan di belakang Romo.

Saat saya akan membuat langkah pertama meninggalkan ruang meditasi dan harus melangkah ke arah halaman, ada suara di benak pikiran “Inilah saatnya…good bye kehangatan, keamanan dan kenyamanan…. Hmm saya harus pilih jalan yang enak ahh..” Demikian si pikiran muncul dan sayapun memilih untuk menginjak bebatuan jalan setapak. Saya berpikir
“Hmm.. masih ok lah kalau bebatuan ini, asal jangan kena rumput nih, agak basah karena embun pagi, pasti dingin…”.

Saya melanjutkan berjalan dari satu batu ke batu berikutnya tanpa menyinggung rumput yang tumbuh diantaranya. Namun hal itu tidak bisa saya pertahankan lebih lama, saya sudah sampai di ujung bebatuan dimana saya tidak memiliki pilihan apapun kecuali menginjak rumput pagi yang basah.

Si pikiran langsung muncul lagi “Oh no… harus menginjak rumput ini… basah…lembek…ihh jijik… tapi aduh kayaknya saya ga bisa berbuat apa-apa, saya nggak bisa dong bilang ke Romo bahwa saya jijik.”

Akhirnya saya melangkah di atas rumput. Saya menjadi ragu. Muncul rasa keengganan yang luar biasa di dalam hati. Saya bisa merasakan adanya helai rumput-rumput yang saya injak, masih basah, dan juga tanah yang lembek. Si pikiran muncul lagi, “Sesuai dugaan… basah dan lembek…. Semoga nggak ada serangga yang gigit… tapi pasti banyak cacing… nah rumah cacing yang tanahnya menggunung, pasti tanah itu jadi lembek banget karena embun pagi ini, wah kalau keinjak, iihhh… pasti ga enak banget kena telapak kaki, semoga saya ga menginjak rumah cacing.”

Tiba-tiba Romo berkata “Sadari setiap langkah tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka…” Entah mengapa, perkataan Romo tersebut rasanya seperti ditujukan kepada saya, untuk menjawab suara-suara yang sibuk di kepala saya. Kalimat itu saya ulangi beberapa kali dalam hati, saya pahami dan resapi. “Menyadari tanpa memunculkan rasa suka atau tidak suka …” Kemudian secara langsung kalimat tersebut benar-benar melemahkan bahkan menghentikan kesibukan pikiran saya dan berubah menjadi sumber energi untuk saya bisa melangkah. Setelah itu setiap langkah menjadi lebih mantap dan lebih ringan. Saya menyadari setiap langkah, saat kaki kanan terangkat dan mendarat dengan bagian tumit terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan seluruh telapak kaki kanan saya yang menapak kuat di atas rumput pagi, lalu di susul oleh kaki kiri yang terangkat dan melangkah ke depan, tumit kiri mendarat di atas rumput basah, diikuti oleh seluruh telapak kaki kiri. Saya sadari pula bahwa bentuk rumput dan tanahnya, masih sama. Ada bagian yang helai rumputnya cukup renggang sehingga lebih terasa tanahnya, dan ada bagian yang rumputnya sangat lebat sehingga tidak terasa tanahnya. Semua saya jalani, tanpa memilih bagian tanah mana yang akan saya injak, tanpa juga memunculkan rasa suka dan tidak suka. Saya terus melangkah, hingga kegiatan itu selesai.

Pengalaman sederhana di pagi itu, memberikan insight buat saya bahwa betapa cepatnya pikiran dan ego muncul bahkan lebih cepat dari pada kecepatan cahaya. Pikiran dan ego selalu mencari kenyamanan dan berlindung di baliknya. Pikiran dan ego terus merayu saya untuk mengikutinya. Ia hadir dalam bentuk yang sangat halus, sampai bentuk yang sangat nyata, jelas dan terdengar keras. Proses yang saya alami pun tidak mudah. Kemunculan pikiran itupun berjalan dengan sangat cepat, sekaligus sangat halus. Ia tidak cukup terdengar namun ia ada. Ia membesar dan menguat apabila saya terbawa oleh kehadirannya dan langsung mengikutinya. Titik balik buat saya adalah saat saya memutuskan untuk menembus rasa aman atau nyaman, menjalani apa yang harus saya jalani, tanpa berpikir. Saat dijalani, ternyata saya baik-baik saja; segala kekhawatiran saya tidak terwujud.

Seperti halnya air sungai yang mengalir, saya menjalani setiap latihan tanpa membawa banyak kekhawatiran. Meskipun air sungai akan bertemu batu yang menghadangnya ataupun harus terjun karena perbedaan ketinggian dasar sungai, ia terus mengalir. Tanpa berpikir, hanya menjalani saja.

Manusia dan alam
Pada hari kelima di sore hari, kami melakukan meditasi di tengah halaman rumput, di bagian depan wisma. Suasananya sangat menyenangkan dan sangat kondusif untuk bermeditasi.

Saya dapat dengan jelas merasakan angin yang berhembus. Sentuhan angin membawa kesejukan yang menerpa wajah, tangan dan sekujur tubuh. Saya letakkan tangan saya di atas lutut kaki yang bersila setengah lotus, dengan telapak tangan menghadap ke atas sehingga rasanya saya bisa menyerap seluruh kesejukan angin dan udara dengan seluruh permukaan kulit, khususnya melalui telapak tangan. Kesejukan dan kesegaran angin yang bertiup lembut memberikan kesegaran buat jiwa dan raga, yang terus menembus masuk, menyusup ke seluruh sel di dalam tubuh. Kesegaran angin pun membuat saya sadar akan saat ini (here and now).

Suara burung riang gembira berkicau menemani kami bermeditasi. Suaranya yang beragam menunjukkan jenis burung yang beragam Ada yang suaranya keras dan ada yang nyaring. Ada yang suaranya dekat dan ada yang jauh. Ada yang panjang bunyinya dan ada yang pendek-pendek. Ada yang sering terdengar dan ada yang jarang. Saya merasakan bahwa kicauan mereka begitu ringan, tanpa beban, tanpa khawatir, tanpa berpikir, hanya berkicau. Suasana itu memberikan kegembiraan sekaligus ketenangan. Itu menyadarkan saya untuk tidak bersibuk diri dengan pikiran dan menghadirkan saya di momen ini, saat ini dan disini.

Air yang mengalir di sungai pun terdengar dengan jelas. Bunyinya konstan dan terus berlangsung yang menunjukkan bahwa air terus mengalir, walaupun saya yakin di dalam sungai itu terdapat banyak bebatuan. Namun kelenturan air dapat melewatinya dengan baik dan tidak menjadikannya hambatan. Air akan mencari celah yang bisa dilaluinya. Setiap air baru yang bertemu dengan batuan tersebut, tetap menunjukan kelenturan yang sama. Betul, setiap air yang bertemu dengan batuan tersebut adalah air yang baru. Demikian juga dengan momen yang sedang kita hadapi, adalah momen yang baru. Moment ini adalah awal sekaligus akhir; hanya ada satu momen ini, yaitu pada saat ini. Kelenturan air yang dibawa oleh suara gemericiknya, dan kesadaran akan momen yang selalu baru, meresap masuk ke dalam batin, membuat saya dapat secara lentur menyadari kehadiran si pikiran dan tidak terjebak untuk larut di dalamnya, sehingga memudahkan saya di dalam meditasi.

Keberadaan saya di tengah alam, sangat membantu dan mempermudah saya untuk masuk lebih dalam. Saya sungguh hadir pada saat ini disini sepenuhnya. Menyadari setiap pikiran yang hadir dan iapun segera lenyap begitu saja.

Manusia memang sangat dekat dengan alam, karena sesungguhnya manusia memiliki sifat sifat yang sama dengan alam. Ia tidak bisa ada dari dirinya sendiri. Ia membutuhkan berbagai elemen yang membuatnya menjadi ada. “Being is always inter-being,” begitu kata Romo.

Meditasi dan Perjumpaan dengan Tuhan
Meditasi adalah suatu perjalanan ke dalam, perjalanan untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sadar akan segala sesuatu, termasuk menyadari setiap pikiran yang tidak berhenti berdatangan, itulah inti meditasi. Seorang biksu pernah berkata bahwa pikiran ini seperti jumping monkey. Ia dapat datang seenaknya dan dapat melompat dari satu peristiwa ke peristiwa yang lain. Ia bisa loncat ke masa lalu, ke momen beberapa menit yang lalu hingga kebeberapa tahun yang lalu. Ia bisa loncat pula ke masa depan, ke bayangan momen beberapa menit atau beberapa tahun yang akan datang. Pikiran adalah seperti seekor kera yang suka melompat-lompat, menciptakan konsep di kepala kita, yang kita proyeksikan berdasarkan pengalaman masa lalu, kemudian memunculkan interpretasi yang bebas dan liar.

Ego tidak lain adalah pikiran, pikiran yang menjadi pusat atau sumber “eksistensi”. Ego adalah pikiran yang mementingkan dirinya, yang menyerap diri kita ke dalam pikiran itu sendiri. Jika kita tidak awas, si jumping monkey lah yang menguasai kita. Oleh karena itu, penyadaran akan kehadiran si pikiran menjadi sangat penting. Prosesnya terus berlangsung tanpa henti.

Selain pikiran, di dalam meditasi segala sesuatu menjadi sangat relatif. Kadang waktu terasa sangat lama atau berjalan sangat lambat. Kadang ia terasa berlalu terlalu cepat, sehingga rasanya kekurangan waktu. Begitu juga dengan fenomena fisik. Kadang kaki dengan posisi bersila ini terasa sangat sakit, hingga menusuk hingga ke tulang terdalam dari sekujur kaki. Ujung jempol kadang mati rasa sampai persendian kaki. Rasanya seperti mau menjerit karena rasa sakit yang tidak tertahankan. Juga dengan punggung baik punggung bagian bawah, tengah hingga bagian atas. Di lain waktu, kaki dalam posisi bersila terkadang tidak terasa keberadaannya; rasanya ringan. Punggung pun dapat tetap tegak tanpa ada rasa sakit hingga meditasi berakhir. Maka semua fenemona fisik pun bersifat relative.

Ketika kita dibebaskan dari jebakan Jumping monkey, absoluditas waktu dan rasa sakit, kita berjumpa dengan suatu pengalaman yang lain. Pada saat saya bisa secara jelas menyadari setiap pikiran yang datang, maka jumping monkey pun langsung lenyap begitu saja. Kesadaran inilah yang perlu saya hadirkan terus, dari momen ke momen. Hingga akhirnya saya menemukan ruang batiniah yang sangat luas, tidak terbatas dan tidak terdapat apa-apa di sana, kosong, tanpa bentuk apapun. Awalnya saya menemukannya secara samar-samar atau terasa kecil. Kemudian saat saya masuki lebih dalam, ruangan itu menjadi semakin besar, luas dan tidak terbatas, dan semakin jelas bahwa di dalam nya tidak terdapat apapun. Pada saat ruangan tersebut tersadari, sekonyong-konyong saya disergap oleh perasaan ketenangan dan keheningan yang mendalam, sekaligus memberikan luapan rasa kepenuhan yang tidak terbendung, kekayaan yang sempurna, kehangatan yang romantis, sekaligus rasa kesatuan yang tak terpisahkan, dan kebahagiaan yang tiada terkira. Luapan suka cita termanifestasi dalam cucuran air mata dan senyum bahagia terulas di bibir. Inilah yang saya sebut sebagai The Ultimate Happiness (Kebahagiaan Tak-Terbatas). Pada saat bersamaan muncullah pemahaman bahwa inilah rasanya saat kita bertemu dengan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kasih, Yang Maha Penyayang. Cinta yang sangat mendalam atau Tuhan dalam bahasa umum. Ia adalah Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan. Kita manusia adalah juga Cinta, Kebahagiaan dan Kebebasan, sama seperti Dia.

Surrender (keikhlasan atau penyerahan diri)
Di hari kelima dalam retret MTO kali ini, setelah meditasi di taman, ketika sore berganti malam, kami melakukan peace walk lagi ke arah jalan raya. Karena ini adalah peace walk yang kesekian dan saya sudah mulai terbiasa dengan nya, maka saya pun langsung mempersiapkan diri untuk berjalan di dalam barisan yang berjalan mengikuti di belakang Romo.

Di dalam barisan, saya berjalan dalam diam, sama seperti yang lainnya. Kami melangkah dalam kegelapan malam. Saya bisa merasakan jalan yang saya injak. Berawal dari bagian halaman wisma, dimana saya bisa merasakan rumput di bawah kaki saya, sejuk helai rerumputan jelas terasa, dan juga tanah kering yang mulai terasa lembab seiring dengan malam yang mulai turun. Kemudian perjalanan diteruskan dengan menginjak bebatuan jalanan setapak. Terasa jelas keras dan tidak ratanya permukaan bebatuan. Hingga bebatuan jalan setapak itu habis. Ketika harus menginjak jalan yang terbuat dari beton, yaitu jalanan di dalam wisma yang sudah mengarah ke jalan raya. Ada bagian yang betonnya halus, ada yang mulai terurai karena erosi air. Bagian beton yang terurai hanya tertinggal kerikil-kerikil tajam dan pasir, sehingga menimbulkan rasa sakit yang menyengat di kaki. Setelah melewati jalan beton itu, sampailah kami di jalanan aspal, jalan raya yang dilewati oleh mobil, motor dan kendaraan lainnya.

Saat saya melangkahkan kaki di atas aspal, terasa permukaan aspal yang tidak rata. Terdapat kerikil-kerikil kecil dan tajam, yang kalau di injak juga menimpulkan rasa sakit. Ada juga kerikil besar yang juga memberikan rasa sakit yang berbeda dengan kerikil kecil. Ditambah lagi jalan raya tersebut tidak dilengkapi dengan lampu jalan, sehingga jalanan menjadi sangat gelap. Saya terus berjalan. Mengikuti Romo yang berjalan paling depan, menghadapi gelapnya malam. Sesekali terdapat motor atau mobil yang lewat dan lampunya memberikan cahaya sehingga saya bisa melihat jalanan yang akan saya injak di depan saya. Saya bisa menghindari kerikil ataupun benda lain yang berbahaya. Namun setelah itu saya akan masuk lagi ke dalam kegelapan malam, dan terus melangkah.

Kemudian “Ttiiiiiinnngggg…” bel Romo bergema. Kami berhenti dan berdiri menghadap ke arah kota yang terletak di bagian bawah, jauh di depan kami. Terlihat kota yang penuh gemerlap lampu dan kembang api yang meledak di udara. Hari itu adalah Hari Lebaran sehingga penduduk kota merayakan kemenangan dengan menyalakan kembang api. Tampak indah dari kejauhan. Dalam keheningan malam itu, kami berhenti berjalan dan menatap pemandangan itu. Hening. Setiap peserta mengalami prosesnya masing-masing. Begitu juga dengan saya.

Saya berpikir, bahwa kami ini benar-benar melakukan apa yang diminta Romo untuk kami lakukan. Romo minta kami berjalan, kami berjalan. Romo minta kami berhenti, kami berhenti. Tidak ada seorangpun yang mengeluh dan protes akan keputusan dan kegiatan yang harus kami lakukan. Walaupun sesungguhnya Romo mengajak kami berjalan di jalan raya yang gelap. Bisa saja ada motor atau mobil ngebut yang tidak melihat keberadaan kami dan menabrak kami yang sedang berjalan. Ataupun bisa saja kami menginjak pecahan kaca yang berserakan di jalan raya. Namun semuanya itu tidak menjadi hambatan. Semua peserta tanpa terkecuali, melakukannya, juga saya.

“Tttiiiiiinnnnggg….” bel Romo bergema kembali dan Romo lanjut berjalan. Pada kesempatan itu, saya kebetulan tepat berada di belakang Romo. Saya berjalan mengikuti Romo. Saya melihat setiap langkah yang Romo lakukan dan saya pun mengikutinya. Langkah-langkah mantap, tanpa ada keraguan sedikitpun. Lalu sekonyong-konyong saya tersergap oleh pemahaman akan kata SURENDER. Itulah yang kami lakukan dalam peace walk. Itu lah yang saya lakukan dan alami juga. Saya totally surrender (berserah total). Saya tidak tahu apakah saya akan menginjak pecahan kaca. Saya juga tidak tahu apakah saya akan menginjak jalan halus yang nyaman. Saya hanya berserah diri dan mengikuti semua kegiatannya dengan sepenuh hati. Pemahaman itu sekaligus memberikan rasa kepenuhan yang meluap keluar. Hingga saya pun tidak bisa membendung air mata yang bercucuran. Setiap langkah yang saya lakukan di gerakkan oleh sikap batin yang totally surrender.

Saat saya menginjak kerikil kecil yang memberikan rasa sakit minta ampun, saya tidak mengeluh sedikit pun dan saya pun tidak membiarkan kerikil itu terus melekat di telapak kaki saya atau saya tidak melekati penderitaan itu. Saya hanya melangkah. Tidak selamanya saya bertemu kerikil atau aspal yang tajam. Ternyata di langkah berikutnya, saya bertemu dengan aspal yang halus tanpa adanya kerikil, belum lagi ada cahaya lampu motor yang lewat, sehingga saya bisa melihat dengan jelas. Saya pun tetap melangkah. Jalanan yang halus tidak bisa membuat saya berhenti dan menikmati kenyamanan yang diberikan. Kenyamanan itu pun saya tinggalkan dan terus melangkah. Sekali lagi saya pun tidak melekati kenyamanan itu. Saya tidak tahu bagaimana kondisi jalanan di depan. Saya hanya terus melangkah. Secara sadar saya semakin paham dan yakin bahwa segala sesuatu dapat terus berjalan karena digerakan oleh sikap batin yang totally surender. Keharuan dan kepenuhan yang meluap-luap terus menemani langkah-langkah saya.

Saya teringat akan keseharian saya, dimana seringkali saya merasa bahwa segala yang saya peroleh adalah hasil dari usaha dan kerja keras saya. Tampaknya semua berada di dalam kontrol dan genggaman saya. Itu adalah bentuk kesombongan yang terus memperkuat ego dan memenjarakan kebebasan saya. Kini saya sadar bahwa hanya dengan totally surender semuanya akan baik-baik saja. Kesombongan tidak akan membawa saya kepada kebahagiaan. Kesombongan hanya memperkuat ego yang memenjarakan saya dalam penderitaan. Sebaliknya sikap batin yang totally surrender akan membawa saya kepada kebahagiaan.

Rasanya buat saya peace walk malam itu adalah kompilasi atau puncak pemahaman selama retret. Pada saat kita memberikan diri kita secara penuh dan digerakkan oleh sikap batin yang totally surrender, maka tidak ada lagi kekhawatiran, tidak ada lagi kemelekatan; yang ada hanyalah Kepenuhan, Kebahagiaan, dan Kebebasan. Semoga keikhlasan atau penyerahan diri secara total menjadi sikap keseharian saya.*