By J. Sudrijanta

Setiap orang pernah merasakan saat-saat terberat dalam hidup. Ada saat-saat jatuh, kehilangan nama baik, dianggap rendah, mendapat penolakan, tidak dimengerti, dikhianati, putus cinta, gagal, kehilangan orang yang dicintai, menderita sakit, dst. Anda bisa membuat daftar lebih panjang tentang beban-beban hidup Anda.

Apa yang sesungguhnya membuat hidup terasa berat? Bukankah adanya rasa diri itulah yang membuat hidup terasa berat? Rasa diri sebagai entitas yang permanen dan abadi itulah esensi dari ego dan keakuan. Ego dan kekauan itulah bebannya, bukan hal-hal apapun yang datang dari luar. Semua yang lain hanya tambahan. Apabila tidak ada rasa diri—tidak ada ego, tidak ada keakuan–dalam hubungan dengan apapun, maka tidak akan ada saat-saat yang terlalu berat.

Dalam meditasi, pengalaman tanpa-diri—tanpa ego dan tanpa keakuan–adalah pengalaman puncak pembebasan atau puncak pengalaman mistikal. Beban yang barangkali kita panggul bertahun-tahun lamanya lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya “eksistensi diri”. Lalu kita hadir pada moment kekinian dari kedalaman batin dengan membawa dimensi kemahaluasan, keindahan, keheningan, atau kesadaran.

Barangkali pengalaman tanpa-diri ini hanya berlangsung sebentar dan memberi kita kilasan rasa pembebasan yang tiada tara atau kilasan pengalaman mistikal yang menggetarkan. Kemudian beban hidup akan terasa kembali begitu ego dan keakuan muncul. Tetapi setiap kali ego dan keakuan dikenali kemuncullannya dan lenyap, pembebasan dan kelegaan seketika bisa kita rasakan.

Tulisan ini tidak akan menjelaskan seperti apakah pengalaman puncak pembebasan ataupun puncak pengalaman mistikal itu. Melainkan akan menerangi pertanyaan bagaimana ilusi adanya eksistensi diri sebagai ego dan keakuan bisa ditanggalkan.

Untuk mengalami tanpa-diri, orang musti mengenal diri. Dalam kesadaran meditasi, Anda tidak bisa mengatakan bahwa di sini tidak ada diri, tanpa mengenal atau melihat dengan jelas ilusi “eksistensi diri”. Dengan kata lain, diri tidak bisa dinegasikan tanpa melihat kemunculannya. Ilusi hanya bisa dinegasi apabila kita bisa melihat dengan jelas keberadaannya.

Persoalannya, meskipun kita sudah merasa berbeban berat, bukannya kita tidak mau meletakkan beban-beban yang kita bawa, kita seringkali tidak melihat pokok bebannya. Kita berpikir bebannya berasal dari luar, bukan di dalam diri sendiri. Lebih jauh lagi, meskipun kita melihat beban itu ada dalam diri sendiri, kita tidak melihat dengan jelas bahwa ilusi “eksistensi diri” adalah beban pokoknya. Oleh karena itu, melihat bagaimana ilusi ini muncul, bergerak dan ada, akan membantu kita dalam berlatih.

Tidak henti-hentinya kita mengafirmasi atau memperkuat “eksistensi diri”—“aku,” “diriku,” “milikku”– dengan segala cara. Pada dasarnya itulah yang mewarnai hidup kebanyakan orang di dunia. Sekalipun “eksistensi diri” ini kita pertahankan atau kita lindungi terhadap segala ancaman, kita masih saja tetap merasa tidak aman. Kita punya anggapan bahwa diri adalah suatu entitas solid yang eksis dari dirinya sendiri. Apabila kita melihat dengan jernih fakta bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu atau seseorang yang memiliki “inti-diri” yang demikian, maka kita tidak akan merasa terlalu sering menderita.

Sekurang-kurangnya terdapat tiga cara utama bagaimana ilusi bekerja menciptakan “inti-diri.” Ia eksis melalui identifikasi, posesi, dan proses menjadi.

1) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “identifikasi diri”.

Kita mengidentifikasikan diri dengan sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” atau “diriku.”

Banyak hal bisa kita jadikan objek identifikasi diri. Berikut adalah contohnya. Aku seorang lelaki, seorang perempuan, atau trans-gender; aku seorang kaya, seorang miskin, seorang dari keluarga terpandang atau keluarga jelata; aku adalah seorang suami, seorang isteri, seorang anak; aku seorang pengusaha, seorang karyawan, seorang akademisi, seorang pelajar; aku seorang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Buddha, atau tak-beragama; aku seorang yang malang dan tidak bahagia, atau seorang yang bernasib baik dan bahagia.

Kita sering menggunakan kata ganti “aku” dalam berkomunikasi dan kita meyakini adanya “si aku” sebagai entitas solid dan itulah siapa kita. Ketika sesuatu atau seseorang yang kita lekati sebagai “aku” terancam bahaya, maka kita mudah gelisah, cemas, khawatir, takut, panic, menderita.

Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang bersifat pemanen; segala hal berubah. Maka menjadikan sesuatu atau seseorang yang terus berubah sebagai penopang eksistensi “si aku,” membuat “si aku” merasa terus-menerus terancam. Apabila anak-anak sudah pergi, “si aku” tidak lagi bisa menikmati peran sebagai ibu atau ayah mereka. Apabila kehilangan pekerjaan dengan pendapatan yang baik, “si aku” tidak bisa menikmati kenyamanan hidup seperti sekarang. Apabila kitab-kitab suci dan ajaran-ajaran agama yang dipegang teguh dilepaskan, “si aku” kehilangan penopang rasa kepastian.

Mengapa saat duduk meditasi, rasa sakit yang timbul dalam tubuh fisik atau batin gampang membuat kita menderita? Proses identifikasi “Tubuh ini adalah aku; aku adalah batin ini” sudah berlangsung. Mengapa pikiran terus berlari dan kita bisa dibuat lelah? Proses identifikasi terus berjalan. Identifikasi menjadi taruhan hidup dan matinya ego. Ke mana pikiran pergi, identifikasi mengikuti. Ia menjadikan objek-objek yang ditemui sebagai objek identifikasi. Itulah mengapa sulit pikiran berhenti. Karena tanpa pikiran terkondisi, tidak ada identifikasi.

2) Kita memperkuat eksistensi diri melalui “posesi”.

Identifikasi membawa kepada rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai “milikku.” “Aku eksis kalau memiliki; aku tidak eksis apabila tidak memiliki.”

Terus-menerus kita membawa dalam diri tubuh dan batin. Kita beranggapan bahwa tubuh dan batin ini adalah “milikku”: tubuhku, pikiranku, perasaanku, persepsiku, formasi mentalku, kesadaranku. Karena kemelekatan, “keakuan” muncul dan ketika keakuan muncul, persoalan timbul. Apabila tidak ada “keakuan,” akankah timbul persoalan? Apapun keadaan tubuh dan batin ini tidak pernah menciptakan problem, selama tidak timbul rasa diri sebagai “aku,” “diriku,” “milikku”.

Rasa cemas, gelisah atau khawatir adalah hal-hal biasa yang kita alami baik dalam kesadaran sehari-hari ataupun saat meditasi. Tidak mungkin timbul rasa cemas apabila tidak terdapat kemelekatan terhadap sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”. Kita ingin melindungi “eksistensi diri” dari segala kemungkinan yang mengancam atau melakukan perlawanan terhadap apapun yang membahayakan “eksistensi diri”. Upaya untuk melindungi “eksistensi diri” atau melawan bahaya yang mengancam “eksistensi diri” digerakkan oleh energy yang diciptakan oleh ilusi “eksistensi diri”.

3)Kita memperkuat eksistensi diri dengan “proses menjadi”

Ego memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri, memperkuat dan memperluas diri. Kita merasa kurang eksis atau tidak eksis apabila belum menjadi sesuatu atau seseorang yang kita idealkan. Kita didorong untuk lebih eksis, memiliki hal-hal yang lebih memuaskan dan bersifat tetap. Perjuangan ke luar untuk lebih sukses, lebih berkuasa, atau lebih bahagia telah menjadi cara penopang eksistensi ego yang dominant. Baik kegagalan ataupun keberhasilan akan mudah menjebak kita dalam memperkuat kembali proses identifikasi dan posesi terhadap segala hal dari dunia ini.

Pergulatan kita dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sesuatu atau seseorang sering terbawa dalam meditasi. Pencerahan, pembebasan atau puncak pengalaman mistikal tidak bisa menjadi objek yang bisa kita kejar. Sebaliknya, itu semua akan datang kepada kita sebagai berkah apabila kita sudah banyak melepas. Tetapi tidak ada sesuatu yang lebih sulit dilepaskan kecuali kemelekatan pada konsep adanya “eksistensi diri”.

Tiga struktur penopang “eksistensi diri” inilah yang menciptakan dan memperkuat identitas diri dengan dunia wujud dan melupakan dimensi tak-berwujud. Untuk melihat dengan jelas secara actual manifestasi dari tiga struktur penopang “eksistensi diri” ini, mutlak dibutuhkan kebebasan. Batin musti betul-betul bebas dari keinginan, kebencian, harapan, prasangka. Tidak boleh ada sesuatu yang ditekan, dilawan atau dilindungi; juga tidak boleh ada sesuatu yang menekan, melawan atau melindungi. Lihatlah tanpa ada entitas diri yang melihat!

Tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan untuk menyadarkan siapa Anda yang sesungguhnya. Tulisan seperti ini hanya berfungsi untuk menolong Anda melihat apa yang memisahkan Anda dari siapa Anda yang sesungguhnya yang sudah Anda ketahui dari kedalaman keheningan tanpa-diri.

Anda yang sesungguhnya bukanlah apa yang Anda pikirkan tentang siapa Anda, bukan apa yang Anda miliki, bukan apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda capai. Anda yang sesungguhnya melampaui itu semua, melampaui wujud.

Dengan cara inilah kita setiap kali meletakkan beban-beban yang kita bawa. Semakin sering kita melepaskan beban, semakin bebas dan lega langkah kita. Lalu kita bisa menjalani kehidupan setiap hari secara otentik dan mantap dari kedalaman keberadaan kita yang melampaui wujud.*