By ACD, 46 th, karyawan swasta

Senang sekali diijinkan mengikuti retreat Lebaran 2016. Ini adalah pengalaman saya yang kedua mengikuti retreat meditasi yang panjang. Saya pernah mendaftarkan juga mengikuti retreat panjang pada saat lebaran tahun lalu, namun saya batalkan sendiri karena belum bisa melepaskan kekuatiran tentang kondisi pekerjaan. Namun timbul penyesalan karena kekuatiran itu sendiri, karena selama libur lebaran tersebut sayapun tidak melakukan apa-apa terkait dengan pekerjaan yang saya kuatirkan.

Kekuatiran muncul berkaitan dengan target yang harus dicapai dalam pekerjaan. Dengan membawa kekuatiran itupun saya niatkan dan mantapkan untuk mengikuti retreat kali ini.

Pada hari pertama saya merasa lucu saja melihat rekan-rekan lainnya hanya berdiam diri, tidak bertegor sapa walau duduk semeja makan dan bertatap muka. Bukannya kali pertama saya menyaksikan situasi seperti ini dalam retret, tapi serasa kali ini lebih lucu saja menyaksikannya sehingga membuat saya sering mendedangkan lagu dangdut dalam hati, sambil sedikit usil sampai akhir retreat tersebut.

Anehnya dengan keusilan tersebut, saya merasakan keheningan yang lebih jauh dalam ruang keheningan yang sangat luas. Apakah itu ekspresi dari bathin itu sendiri?

Sungguh saya sangat menikmati retreat kali ini yang disajikan dengan metode lain oleh Romo pembimbing. Kali ini banyak dipakai metode diskusi kelompok kecil dengan topik bahasan beragam. Diskusi memperkaya pemahaman akan makna kesadaran murni dan membantu kami tidak terjebak dalam teori belaka.

Kekuatiran yang saya bawa rasanya hilang dengan sendirinya. Saya menyadari bahwa masalah pasti selalu ada kapanpun. Bagaimana kita menyikapi dan menyadarinya dalam setiap laku dan langkah, itulah yang terpenting. Dengan menyadari setiap laku dan langkah, kita sadar akan “diri” kita yang sebenarnya.

Tidak terasa retret 9 hari berjalan cepat dan ditutup dengan Misa singkat. Setelah itu kami bisa berbicara lepas. Anehnya saya tidak menemukan kelucuan lagi di hati ini walau sudah berbicara lepas.

Saya menyetir mobil pulang ke Jakarta dengan rasa ringan. Tidak ada sesuatu yang terasa mengganggu dalam batin ini, meskipun timbul bintik-bintik luka kecil di tubuh yang terasa perih saat berkeringat atau saat terkena air ketika mandi. Barangkali efek detoksifikasi masih berjalan.

Akhirnya saya kembali lagi beraktivitas seperti biasa di dalam keluarga, pekerjaan dan terlibat dalam hubungan-hubungan inter-personal. Saya membiarkan kesadaran bekerja dalam setiap hubungan tersebut.

Saya membawa kesadaran baru bahwa kekwatiran itu bukanlah diri saya. Saya yang sesungguhnya adalah Kesadaran. Tugas saya adalah menjalankan tanggung jawab di dunia ini dengan penuh Kesadaran. Jalani dan jalani saja untuk kebaikan sesama dan alam semesta ini. Apapun yang terjadi, jalani saja. “Just Do it.”

Terimakasih
Salam
ACD