By AF, 50 tahun, karyawan sebuah Bank.

Terima kasih atas pengalaman dan bimbingan selama retret meditasi lebaran ini. Rasanya sulit untuk menuangkannya, karena setiap peristiwa sarat makna.

Saya senantiasa merindukan dapat ikut retret meditasi setiap tahun. Bagi saya, mengambil waktu khusus untuk mundur dari hidup keseharian, diam bermeditasi, sudah menjadi kebutuhan. Saya sempat mengalami keraguan sebelum mendaftar retret 9 hari ini. Ini tahun ke-7 saya rutin ikut retret meditasi dan sudah pernah 4 kali ikut yang 10 hari. Sejak ibu meninggal bulan Oktober 2015, saya memilih untuk pulang ke Semarang setiap weekend atau libur panjang. Ada ikatan batin untuk lebih memperhatikan keluarga terutama sejak kami menjadi yatim-piatu, dan sekaligus ingin menjenguk kakak yang harus hemodialisa seminggu 2 kali, serta beberapa kalidirawat di RS/ ICU. Masih terbayang amanat terakhir ibu,agar kami hidup rukun, saling memberi-menerima dan mencintai. Kondisi fisik saya beberapa bulan terakhir hampir selalu pulang di atas jam 9-10 malam bahkan nyaris tengah malam atau dini hari baru tiba di rumah. Lengkaplah kelelahan saya. Syukur kepada Allah karena pada saatnya, saya dapat mengikuti retret meditasi lebaran 2016.

Selama retret meditasi, saya sering mengalami pergulatan menghadapi berbagai obyek bebas-liar yang selalu muncul melalui pikiran. Penjelasan Romo mengenai “I”, “me”, “mine”, “self” dan “no self”, pada awal retret, sangat membantu saya untuk menemukan kedamaian sekalipun kecamuk obyek bebas-liar masuk-keluar. Obyek masuk dalam wujud apa saja: masa lalu, memori, angan-angan, kondisi, ingatan yang menyakitkan, peristiwa, kegalauan untuk mengubah posisi tubuh, atau reaksi terhadap serangga. Obyek bisa berupa fisik maupun non-fisik dari dalam atau luar diri. Setiap bergumul dengan obyek, pikiran tercurah pada daya upaya, ketidakjelasan, dan ketidakbermaknaan.

Dengan menetapkan hati penuh kesadaran pada saat mengambil sikap siap akan memulai meditasi, bahwa ini adalah Meditasi, tidak ada aku (ego/ diriku) yang bermeditasi. Tidak ada artinya semua penderitaan atau rasa sakit timbul-lenyap tanpa ada si aku. Dengan cara ini, saya merasa sangat mudah untuk masuk ke dalam suasana hening. Setiap obyek yang tiba-tiba masuk saya ikuti, dan begitu kesadaran muncul, tanpa ampun pikiran terhenti; kemudian mantap masuk kembali bergumul dalam keheningan, menembus dalam. Penderitaan yang muncul tidak mempengaruhi kehidupan saya. Saya tidak runtuh oleh penderitaan. Tidak menetapkan target apapun saat meditasi, selain hanya ingin “diam” masuk dalam keheningan. Ini justru membuat saya memperoleh kekuatan untuk bertahan lama dalam keheningan. Saat diri sadar ada penderitaan, tertekan, sakit luar biasa, kesadaran murni muncul dan dengan cerdasnya melenyapkan seluruh penderitaan, mengubah menjadi kekuatan.

Pada hari kedua, ingatan pada kalimat “Diam dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah” (Mazmur 46:11), muncul saat meditasi di halaman depan, menguatkan saya untuk masuk lebih dalam, merasakan ketenangan, kedamaian, suka cita, dan penerimaan apa adanya. Menanggalkan “keakuan”, meniatkan diri untuk tekun, sabar, dan “diam” (tidak sibuk dengan pikiran) membiarkan Kesadaran mentransformasi penderitaan. Puji Tuhan, saat mengkonsultasikan kepada Romo, saya mendapat pencerahan bahwa penderitaan hanya merupakan percik-percik kehidupan. Menolong penderitaan orang lain baru dapat dilakukan secara efektif jika kondisi batin bebas (murni).

Dalam kesempatan lain, terumuskan, saat diri pernah meraih keberhasilan, secara normal diri mudah untuk ingin kembali berada pada posisi yang sama. Ibarat permainan jungkat-jungkit, betapa senang saat saya berada di posisi atas. Diri pun ternyata suka dan cenderung mencari rasa aman, pujian, penghargaan, pengakuan. Bagai sekeping mata uang, inipun terjadi saat berkanjang dalam meditasi selanjutnya, di ruangan, di dekat sungai, pendopo, di area atas, saat subuh, pagi, siang, atau malam. Membiarkan diri larut dalam melakukan hal yang disukai ataupun posisi sama yang pernah diraih, jika disadari, hanya mengakibatkan batin terkondisi dengan kemelekatan. Semakin kuat melekat, yang ada hanya ketidakbermaknaan, karena Ego memegang kendali.

Ego adalah pikiran yang terus bergerak, berlari, memenuhi dan mencoba menguasai diri karena dorongan agar puas di posisi atas. Betapa senang jika dapat menguasai, mendapat pujian, dilindungi, jauh dari kesulitan, atau bentuk-bentuk lain sejenis. Sejak lahir hingga dewasa, mungkin hampir setiap anak masuk dalam mekanisme diprogram harus ini dan itu, “ditepuktangani”, diinginkan orang tua menjadi seperti maunya, tanpa menyadari bahwa ada batin dalam setiap diri sang bocah (manusia) yang perlu didengar, diajak berkomunikasi dalam “diam.”

Hanya dengan Kesadaran Murni, memahami semua obyek, Kenikmatan ataupun Penderitaan, bertahan dan memberi perhatian penuh ke dalam akar Penderitaan, tidak jemu terus-menerus berada dalam “diam”, maka kita dimampukan untuk mengalami kelegaan, kedamaian, penyembuhan atau pemurnian batin.

Berbagai moment kedamaian saya alami saat peace walk dan jeda standing meditation, berjalan tanpa alas kaki di atas rerumputan, jalanan, dan segala obyek, dalam kegelapan, menyadarkan saya bahwa Allah begitu memberikan kasih yang besar kepada saya, dan betapa bumi, langit, dan semesta memiliki enerji luar biasa yang dapat memberi dan menguatkan kesadaran saat kita mau “diam”, hadir melalui meditasi.

Puncak ekstase meditasi yang saya rasakan adalah saat meditasi malam di pinggir sungai, dalam deburan suara air, gemerisik angin, gesekan dedaunan, berbagai bunyi hewan dan unggas yang saling memadu bersahutan. Sangat indah. Saat penderitaan terasa menghampiri dan mendesak, saya menarik dan menghembuskan nafas panjang beberapa kali. Sempat terasa tubuh saya terangkat, begitu ringan. Sungguh kedamaian yang teramat dalam.

Melalui alam semesta saya banyak dicerahkan. Memahami suara air yang mengalir tiada henti, dahan pohon yang tenang tegak berdiri, sapaan angin malam penuh kelembutan, malam yang tidak selamanya kelam, langit berhiaskan bulan dan bintang. Semua bergerak tenang-damai, memberikan enerji bagi saya untuk lebih dalam bersyukur. Tak terasa menitikkan air mata rasa syukur saat menatap langit dan terlintas senandung “Betapa Mulia Nama Tuhan…”

Meditasi mencerahkan saya, mengingatkan saya sebagai mahluk ciptaanNya, untuk senantiasa “diam” hadir bersamaNya. Tanpa sibuk berdaya upaya, tanpa target, diam bersama nafas. Saya percaya bahwa Roh yang telah diberikan Allah kepada tiap manusia, dan hanya hadir total melalui diam, pasrah, berserah, sadar penuh, tekun-sabar dalam penderitaan, maka batin bening murni bebas tak terkondisi akan terpelihara abadi.

Pencerahan retret saya rasakan sudah muncul sejak kehadiran, saat secara acak saya mengambil dhamma-sheet berisi “Praktek Kesadaran keempat: Menyadari Penderitaan”. Saya tergetar karena sangat pas dengan kondisi saya yang sedang memikirkan bagaimana cara menolong penderitaan orang lain. Saya belajar melihat lebih dalam makna penderitaan, belajar menerima, memeluk, mendengarkan dengan segenap enerji kesadaran, tidak menutupinya dengan berbagai kesenangan, melainkan terus berlatih dengan tekun, bertahan bersama penderitaan dan siap bertahan di dalamnya selama apapun jika kondisi menuntut demikian. Hanya dengan cara memahami akar penderitaan, barulah dapat terjadi transformasi Penderitaan. Selajutnya barulah saya dapat menolong orang lain, lewat perjumpaan dengan tiap pribadi secara langsung maupun tidak langsung.

Secara umum saya memperoleh Pencerahan sejak awal hingga akhir retret. Saya pulang dengan mantap, dan setidaknya lebih tahu dibanding sebelumnya, apa yang harus lebih dulu saya lakukan terhadap diri saya sebelum menolong penderitaan orang lain.*