By Angela Asriarti, 36 tahun, Management Keuangan.

Penulis Testimoni ini pernah belajar hidup kontemplatif di Biara Trapistin Gedono selama 6 tahun dan kini sedang menyiapkan diri untuk belajar hal yang sama di Biara OCD Lembang. Tulisan berikut adalah Testimoni pengalaman Retret MTO 2-10 Juli 2016. (Admin)

Sebelum mencoba menggambarkan dan merefleksikan perjalanan rohani ini, pertama-tama saya sungguh ingin mengungkapkan ucapan terima kasih untuk Romo pembimbing, panitia, dan rekan-rekan seperjalanan dalam retret kali ini. Saya merasa bahwa ucapan ini tidak sebanding dengan pengalaman berharga nan indah yang sudah diberi begitu saja selama 9 hari. Sembilan hari yang setara dengan sembilan masa tak terukur yang sungguh bermakna dalam, sebagai buah dari totalitas ketulusan kasih Romo Sudri bagi kami, masing-masing maupun bersama.

Setelah sekian waktu lamanya dalam masa transisi hidup saya, saya mulai perlahan menjauh dari perjalanan interior. Momen ini telah memperbaharui kembali janji yang telah saya ucapkan untuk senantiasa belajar menerima undangan cuma-cuma dari Yang Ilahi, bergerak dan bertindak dari kedalaman ruang batin penuh kesadaran.

Ada intuisi bahwa perlu membiarkan diri ini kembali bertolak ke dalam ruang batin yang seringkali saya hindari. Namun saya ingat, saat Romo mengirim pesan bahwa saya diperbolehkan untuk menjadi peserta, seketika itu pula muncullah keraguan besar pada keinginan sendiri. Apakah saya akan dapat bertahan selama sembilan hari? Ataukah ingatan-ingatan yang membuat batin ini sedemikian keruh justru akan membawa diri saya semakin jauh berlari menghindari kenyataan? Apakah mungkin bagi saya untuk diijinkan pulang lebih awal sehingga tidak perlu sampai di akhir hari ke sembilan? Pertanyaan terakhir dijawab langsung oleh Romo. Beliau memastikan, saya harus mengikuti sampai selesai. Pertanyaan lainnya baru akan terjawab di saat-saat terakhir retret.

Saya menerima anugerah perjumpaan kembali dengan rekan-rekan yang telah sekitar 6 tahun tidak bertemu, sejak retret bersama di Wisma Cibulan. Juga beberapa rekan lainnya yang baru pertama kalinya hadir. Namun nampaknya kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadikan suasana berkanjang dalam kehangatan kasih kekeluargaan.

Hari pertama, saya sempat mengagumi lokasi retret yang penuh dengan berkah kesegaran. Sungai kecil yang mengalir, pepohonan, serta kontur tanah yang naik dan turun. Bagi saya, ideal bagi orang-orang yang rindu menimba kearifan serta kekuatan alam sebagai daya hidup yang tak kunjung habis ditimba, meski manusia menjadi alpa untuk mengembalikan kebaikannya. Namun meski dengan itu semua, kekalutan pikiran dan batin ini, hampir tak tertahankan. Bahkan Misa pembukaan, tidak membawa pengaruh yang cukup berarti. Saya menjadi amat lelah. Syukurlah, Romo memberi waktu istirahat malam lebih awal daripada yang telah disepakati bersama.

Hari berikutnya, saya mulai sedikit demi sedikit dapat mengikuti tata tertib dengan perhatian yang lebih intens. Mulai dari pola makan vegetarian serta proses detoksifikasi tubuh melalui air minum yang disediakan serta dipersiapkan khusus oleh Romo. Bahkan sekali waktu saya sempat melihat Romo sendirilah yang mengangkat galon-galon air itu. Akh, ketika melihat hal itu batin saya bergeming dan bertanya, untuk apakah Romo bersusah payah seperti itu? Sebenarnya untuk siapakah semua itu Romo lakukan? Dan sesungguhnya siapakah saya ini? Betapa itu semua pun pada akhirnya hanya dapat terjawab dalam keheningan batin dan bukan melalui gerak pikiran yang dilekati oleh ego.

Saat-saat kebersamaan kami diwarnai dengan uraian-uraian Romo tentang perjalanan yang sedang ditempuh hingga ke akhir perjalanan nanti. Tentang bagaimana setiap kali kami dapat terus belajar menerima kesempatan untuk berlatih menyadari gerak batin yang penuh dengan keterkondisian dari ego yang masih bercokol. Romo menunjukkan pada kami cara yang efektif dan efisien untuk mengakhiri penderitaan akibat kelekatan-kelekatan dari segala bentuk objek. Bahkan juga bagaimana senantiasa belajar melihat dalam kejernihan tanpa intervensi ego atau keakuan. Tetapi perlu dinyatakan sekali lagi kesepahaman kami bahwa ternyata jalan kesadaran yang ditawarkan ini tidak selalu manis berbunga-bunga. Ini menyakitkan.

Saya mengalami keindahan tersendiri ketika setiap sore, kami berbagi pengalaman-pengalaman riil dalam meditasi 24 jam minus tidur yang sedang dijalani bersama. Betapa nyatanya bahwa di antara kami, tidak ada perbedaan yang berarti. Bahwa masing-masing dari setiap pribadi, pada akhirnya akan harus berjalan semakin dalam ke ruang interior batin dan menemukan sendiri siapa dirinya sesungguhnya, yang bukan hasil identifikasi dari pikiran. Ini adalah kesempatan saling memperkaya melalui pengalaman-pengalaman sederhana dalam meditasi yang dibagikan.

Secara pribadi, saya sangat tersentuh ketika kami berjalan beriringan melakukan peace walk ke jalan raya dalam kegelapan pagi maupun sore hari. Ada dimensi yang melampaui bahasa manusia. Keheningan mendalam di balik lalu lalang kendaraan, suasana riuh perkotaan di kejauhan, dan terutama di tengah-tengah suara alam. Menapak dengan bertelanjang kaki seolah-olah mengundang kesadaran terdalam untuk merangkul setiap jiwa yang berada dalam kegelapan, di setiap langkah kami.

Retret kali ini juga seakan-akan mengantar saya pada kesadaran fisik. Betapa tubuh saya pun dapat perlahan menjadi aus di beberapa tempat, khususnya bagian kaki kanan. Menerima keadaan fisik yang sudah tidak seperti dulu. Berkali-kali berdiri di tempat dan mengubah posisi duduk. Tapi sudah kepalang tanggung, saya tidak bisa terus berlari setiap kali merasa kurang nyaman. Sekali waktu, akhirnya saya memutuskan untuk bertahan selama mungkin dalam pada posisi yang sama sampai sungguh-sungguh terasa tak tertahankan sakitnya. Tidak frustasi ketika dirasa perlu mengubah dan belajar peka pada suara arahan Romo untuk membiarkan diri terarah lebih dalam pada kesadaran di luar tingkat kesadaran fisik semata. Berlatih untuk menjadikan segala objek pikiran termasuk sensasi tubuh sebagai batu loncatan untuk menemukan ruang kesadaran yang melampaui objek dan subjek.

Hal serupa juga menjadi pengalaman tersendiri bagi kami ketika Romo menyentuh titik terdalam dari jiwa kami masing-masing. Momen meditasi bersama di taman yang berlimpah kesegaran, bagi saya, adalah saat penting dalam kesadaran untuk bertemu dengan ego yang masih tersembunyi, meskipun pikiran mampu meyakinkan saya bahwa semua sudah terselesaikan. Romo juga mengatakan pada kami, hal-hal sama yang seringkali muncul itupun dapat menjadi bantuan untuk mengenali siapakah saya yang sesungguhnya. Ahh…! Menggambarkan secara rinci mengenai pengalaman itu, rasanya tidak mungkin. Yang bisa saya ingat adalah pada awalnya memang sangat tidak menyenangkan dan cenderung menyesakkan dada. Namun di ujung kesadaran, hanya ada kekosongan. Tak ada apapun yang dapat dikatakan sebagai derita tak tertanggungkan. Semua adalah ilusi.

Sore hari yang terakhir penuh kehangatan dan menyejukkan jiwa. Saya memeluk satu demi satu rekan-rekan seperjalanan dan diundang oleh Romo untuk saling membagikan Terang Kesadaran yang telah dianugerahkan pada kami masing-masing. Kami melakukan peace walk terakhir sembari membawa misi perjalanan rohani di kehidupan berikutnya. Kedamaian sejati yang tidak dapat diberikan oleh dunia dan terpatri rapi di sudut ruang hati, itulah sekurang-kurangnya bagi saya. Bekal berlimpah untuk terus berjalan ke dalam dan setia pada “Empat Janji Agung” yang sudah saya ucapkan dalam Misa penutupan. Misa paling indah yang pernah saya alami serta sungguh menggetarkan jiwa. Kemahakuasaan Kasih Sejati yang tidak akan lenyap meski langit dan bumi berlalu.

O Yang Tak Terselami, bantulah kami senantiasa untuk setia berkanjang di kedalaman ruang kesadaran dan menemukan KerajaanMu yang abadi, bersama setiap jiwa yang Kau pertemukan dalam hidup kami. Amin.

Terima Kasih
dan Penuh Cinta,
Asri