By J. Sudrijanta

Hampir setiap saat layar batin kita tidak pernah sepi. Batin kita pepat dengan arus pikiran, persepsi terkondisi, perasaan, ingatan, fantasi, keinginan, dan bentukan-bentukan mental. Pikiran kita terus-menerus bergerak, tidak pernah diam. Dari manakah arus batin ini berasal dan apa yang membuatnya terus-menerus eksis?

Terdapat empat hal yang saling berhubungan erat: layar batin, kesadaran terpendam, eksistensi, dan kemelekatan. Apa saja yang muncul pada layar batin berasal dari kesadaran terpendam; apa saja yang muncul dari kesadaran terpendam menciptakan eksistensi kita; dan proses eksistensi terus berlangsung karena terdapat factor kemelekatan. Seperti bensin berfungsi menciptakan dan mempertahankan nyala api, begitu pula kemelekatan menciptakan dan menopang seluruh eksistensi kita. Tidak ada eksistensi tanpa kemelekatan. Itulah sebabnya eksistensi kita adalah penderitaan; hidup adalah penderitaan. Begitulah temuan Buddha.

Kemelekatan adalah keadaan mental seseorang yang meyakini bahwa seolah-olah ia hanya bisa bahagia apabila bergantung pada sesuatu atau seseorang sebagai “aku” atau “milikku”. Kenyataannya, kemelekatan membuat orang justru tidak bahagia. Ketakutan, kecemasan, kegalauan, kebencian, ketidakpuasan dan berbagai bentuk kesakitan mengiringi batin yang melekat.

Menurut Sutta Pitaka, sekurang-kurangnya terdapat empat jenis kemelekatan (upādanā) terkait dengan objeknya. Pertama, kemelekatan pada objek-objek inderawi (kamupadana). Objek-objek indera meliputi segala objek yang memiliki bentuk dan warna, suara, rasa pencecapan, bebauan, sentuhan. Objek-objek tersebut bisa hadir dihadapan kita dahulu, sekarang atau di masa datang, baik secara fisik maupun gambaran mental atau imaginasi.

Kedua, kemelekatan pada opini atau sudut pandang (ditthu-padana). Contoh kemelekatan pada opini atau sudut pandang adalah pikiran, perasaan, cita-cita, harapan, kebiasaan, keyakinan, kepercayaan.

Ketiga, kemelekatan pada ritual upacara (silabbatupadana) atau hal-hal yang dianggap spiritual. Contoh objek kemelekatan ini adalah ritual agama, cara doa atau devosi, kitab suci, nilai-nilai dan dogma agama, guru spiritual, tempat-tempat ibadah, benda-benda suci, dewa-dewi, tuhan-tuhan sebagai konsep, dst.

Keempat, kemelekatan pada keakuan (attavadupadana). Manifestasi keakuan ini berupa identifikasi dengan sesuatu atau seseorang sebagai “aku” dan rasa memiliki sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”. Dalam semua bentuk kemelekatan terdapat kemelekatan pada keakuan ini.

Meskipun kemelekatan memiliki objek yang beragam hingga pada tingkatan yang sangat halus, apa yang membuat batin melekat pada suatu objek bukan berasal dari kualitas objeknya, melainkan dari batin kita sendiri. Batin inilah yang menciptakan kemelekatan pada suatu objek, bukan sebaliknya. Fakta inilah yang jarang dilihat oleh kebanyakan orang yang tidak berlatih.

Proses munculnya kemelekatan adalah sebagai berikut. Kita semua memiliki “kesan atau ingatan yang tertanam pada kesadaran terpendam”. Kesan atau ingatan terpendam ini disebut dengan istilah lain seperti “cetakan karma masa lampau” (past karmic imprint) atau “sanskara” (sanskars). Seperti halnya gen atau DNA mampu menyimpan informasi biologis, “cetakan karma masa lalu” adalah seperti “gen/DNA psikologis” yang menyimpan segala informasi dalam kesadaran terpendam. “Gen/DNA psikologis” ini mempengaruhi sikap, pikiran, kata-kata dan tindakan kita setiap kali kita berkontak dengan suatu objek. Melihat langsung bagaimana factor ini berperan dalam menciptakan fenomena kemelekatan akan menolong dalam berlatih.

Ketika terjadi kontak dengan suatu objek, misalnya tubuh fisik orang lain, cepat sekali timbul impresi atau gambaran mental pada layar batin. Gambaran mental tersebut sesungguhnya muncul dari dua periode waktu yang berbeda, yaitu masa lampau dan masa sekarang. Gambaran mental masa lampau itulah yang disebut “cetakan karma masa lampau”. Kemudian “cetakan karma masa lampau” ini diproyeksikan pada suatu objek yang menghasilkan gambaran mental saat sekarang sebagai sesuatu yang menarik.

Anda barangkali pernah suatu saat melihat seseorang yang kemudian menjadi pasangan Anda dan mengatakan, “Ia memiliki paras cantik”. Anda tidak mungkin bisa mengenali kecantikan wajahnya, apabila Anda tidak memiliki “cetakan karma”, “sanskara”, atau “gambaran mental cantik” yang sudah tertanam pada kesadaran terpendam sebelum kontak terjadi. Konsepsi Anda sekarang hanyalah proyeksi mental dari “kesan” atau “cetakan karma” yang sudah ada pada diri Anda.

Kemudian barulah batin menginterpretasikan objek yang hadir menurut “cetakan karma masa lampau.” Pikiran berkata, “Wajahnya cantik; ia pantas untuk dilekati. Dengan melekat, aku akan bahagia.” “Wajah cantik” yang dimaksud sesungguhnya bukalah objek real, tetapi gambaran mental.

Ketika terjadi kontak antara laki-laki dan perempuan, misalnya, pihak laki-laki memiliki gambaran mental yang diproyeksikan pada tubuh perempuan; dan pihak perempuan memiliki gambaran mental yang diproyeksikan pada tubuh laki-laki. Perjumpaan laki-laki dan perempuan tersebut menghasilkan impresi yang kemudian diinterpretasikan menurut “cetakan karma masa lampau”. Lalu muncullah interpretasi, “Tubuh perempuan/laki-laki itu indah.” Laki-laki melihat keindahan tubuh perempuan dan perempuan melihat keindahan tubuh laki-laki. Setelah proyeksi dan interpretasi, maka timbullah kemelekatan pada tubuh. Anda tidak akan menemukan fenomena kemelekatan apabila tidak ada proses proyeksi dan interpretasi.

Dengan melihat proses batin seperti ini, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang layak untuk dilekati dari sisi objek, karena apa yang dilekati bukan objeknya itu sendiri, tetapi gambaran mental yang diproyeksikan pada objek. Jadi sesungguhnya orang hanya melekati gambarannya sendiri tentang sesuatu atau seseorang, bukan sesuatu atau seseorang pada dirinya sendiri. Kemelekatan bukan datang dari objek tetapi hasil buatan Anda sendiri—hasil konsepsi, interpretasi, dan proyeksi batin Anda sendiri.

Anda barangkali pernah berelasi dengan seseorang bertahun-tahun lamanya tanpa kemelekatan sama sekali. Kemudian tiba-tiba suatu hari pandangan Anda tentang orang tersebut berubah. Anda melihat wajahnya menjadi lebih cantik dan kepribadiannya mempesona, kemudian timbulah kemelekatan ketika Anda sudah mulai menemukan kenikmatan dalam berelasi dengannya. Ketika kemelekatan sudah timbul, muncul pula rasa ketagihan untuk setiap kali ada bersamanya.

Pandangan Anda tentang wajah cantik yang Anda lekati datang dari konsep yang Anda ciptakan sekarang, yang dipengaruhi oleh “cetakan karma masa lampau”. Itu seperti sebuah gambar gerak di layar dari sebuah film pada mesin proyektor dan apa yang diproyeksikan menjadi objek kemelekatan. Wajah cantik dari seseorang yang Anda lihat dan lekati adalah perpaduan antara “konsepsi” sekarang dan “proyeksi” dari “cetakan karma masa lalu.”

Apa yang terlihat, terdengar, tercium, tercecap, dan tersentuh adalah apa yang dilabeli oleh batin. Anda tidak melihat sesuatu yang tidak datang atau tidak bergantung pada batin. Tidak ada sesuatu yang bisa eksis di luar label pikiran. Batin yang terdelusi tidak bisa melihat fakta ini dan beranggapan apa yang dilihatnya sungguh nyata, eksis dari dirinya sendiri dan bukan semata-mata label pikiran.

Dengan memahami proses-proses batin yang terdelusi—kontak, konsepsi, proyeksi, interpretasi—membuat kita mengerti bahwa adalah tidak masuk akal mengumbar kemelekatan. Latihan-latihan kita musti sampai pada pemahaman bahwa “tidak ada yang pantas untuk dilekati dan tidak ada yang pantas melekati.”

Saat kemelekatan timbul, pertama, kita bisa berlatih untuk melihat “konsepsi” batin kita, “Ini hanyalah pandangan saya sendiri, konsepsi saya sendiri. Apa yang tampak hanyalah dampak dari apa yang dilabeli oleh pikiran.”

Kedua, lihatlah proses “proyeksi” dari batin. Suatu gambaran mental yang sudah tertanam di benak kita diproyeksikan pada objek yang kita lekati, “Tidak ada sesuatu dari sisi objek—ini hanyalah penampakan dari cetakan karma masa lampau saya. Objek yang saya lekati atau saya benci adalah sebuah tampilan yang diciptakan oleh batin saya sendiri.” Anda melihat sekarang bahwa apa yang tampaknya semata-mata berasal dari luar, dari sisi objek, tidaklah nyata sama sekali. Itu adalah delusi.

Dengan melihat secara langsung “konsepsi” dan “proyeksi” dibalik fenomena kemelekatan, maka kita sedang berlatih membersihkan batin dari cetakan karma masa lampau, dari akar-akar kotoran batin, dari delusi.*