Oleh J. Sudrijanta

Pernahkah Anda dengan serius mengajukan pertanyaan seperti ini, “Bagaimana caranya mengubah dunia?” Atau dengan memakai bahasa Injil, “Bagaimana terlibat dalam menciptakan Surga Baru dan Bumi Baru?” Apabila belum pernah diganggu oleh pertanyaan seperti itu, marilah kita bertanya bersama-sama, “Bagaimana kita bisa mengubah dunia?”

Surga bukanlah suatu lokasi tetapi merujuk pada alam kesadaran manusia. Sedangkan bumi adalah ekspresi atau manifestasi dari kesadaran yang tak-berbentuk dari dalam. “Surga baru” adalah suatu keadaan kesadaran manusia yang sudah tercerahkan atau terilahikan dan “dunia baru” adalah manifestasinya di alam fisik.

Pada tingkatan bentuk, terdapat perbedaan antara Anda dan saya, kita dan dunia; tetapi pada tingkatan kesadaran tanpa-bentuk, sesungguhnya tidak ada perbedaan mendasar antara kita dan dunia. Kita adalah dunia. Anda dan saya adalah alam semesta.

Kesadaran Anda dan saya membentuk kesadaran kolektif dan kesadaran manusia kolektif itulah yang menciptakan wajah dunia. Oleh karena itu, Kita bisa mengubah dunia bukan pertama-tama melalui apa yang kita lakukan (what we do) atau apa yang kita miliki (what we have), melainkan melalui kualitas kesadaran dan kehidupan kita (what we are). Apabila kesadaran kita berubah, maka cara pandang terhadap harta milik dan cara kita bertindak akan berubah dan cara pandang terhadap dunia menjadi berbeda.

Kualitas kesadaran dan kehidupan manusia—dan pengaruhnya bagi keadaan alam semesta–sangat ditentukan oleh keutuhan dan integrasi empat dimensi yang menjadi unsur pokok pembentuknya: (1) dimensi psycho-physic, (2) dimensi kognitif-rasional, (3) dimensi psycho-sosial, dan (4) dimensi afektif-spiritual.

Bukan hal baru apabila orang mengatakan bahwa institusi-institusi pendidikan masih terlalu menekankan aspek kognitif-rasional dan kurang memperhatikan sisi afektif spiritual. Akibatnya, terjadi penyimpangan dalam perilaku individu dan selanjutnya mudah menyebabkan konflik dan kerusakan dalam hubungan-hubungan. Keburukan ini sudah berlangsung dari generasi ke generasi dan menyusup di semua bidang kehidupan: kehidupan pribadi, hubungan-hubungan personal, kehidupan dalam rumah tangga, hidup dalam komunitas warga, hidup bernegara, hubungan dengan alam semesta dan dunia.

Ketimpangan dalam keempat dimensi ini mengakibatkan perilaku ‘narsis’. Perilaku ‘narsistik’ ditandai dengan kecenderungan untuk mencari kepuasan dengan mementingkan diri sendiri, menonjolkan diri, pamer dan berharap orang lain memberi pengakuan atau pujian. Perkembangan teknologi membuat ‘penyakit narsis’ ini mudah menyebar bak virus di alam semesta.

Kita tahu banyak orang suka ‘narsis’ termasuk sebagian pejabat atau tokoh public. Perilaku mereka terasa menyebalkan. Tetapi barangkali kita sendiri pada tingkatan tertentu juga terjangkit oleh ‘penyakit narsis’ dan tidak sadar kita sendiri juga menyebalkan.

Bila seseorang memiliki hidup ‘afeksi spiritual’ kokoh atau mantab, maka pencapaian ‘fisik-material’ dan ‘talent professionalnya’ tidak akan pernah menjadi ‘narcis.’ Dimensi ‘psycho-social’ dalam hidup pertemanan, hidup berkeluarga, atau hidup bermasyarakat menjadi menyenangkan dan bermutu. Hubungan-hubungan yang menyenangan dan bermutu selanjutnya akan memperkokoh ‘afeksi spiritual’ dan ‘afeksi spiritual yang kokoh akan memantabkan ekspresi ‘talent professional’ dan pencapaian-pencapaian ‘fisik-material’. Keempatnya saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Kematangan afeksi spiritual biasanya termanifestasi dalam sikap bermurah hati, mau memperhatikan, bisa mendengarkan, suka memuji, mampu menghargai, bisa menanggung beban orang lain, mau mengaku salah, lebih peka pada penderitaan segala makhluk, tidak ingin menjadi pusat perhatian. Singkatnya, tidak lagi ‘narsis’.

‘Afeksi spiritual’ pada dasarnya merupakan buah pengolahan batin dalam mentransformasikan ‘needs’ (kebutuhan psikologis yang berpusat pada ego dan keakuan di balik pikiran, sikap, kata-kata dan tindakan) menjadi ‘values’ (nilai-nilai luhur kehidupan). Misalnya, kemampuan rohani afektif untuk memperhatikan orang lain merupakan buah dari transformasi ‘kebutuhan ingin diperhatikan.’ Kemampuan rohani afektif untuk mempercayai teman, merupakan buah dari transformasi ‘kebutuhan ingin dipercaya.’ ‘Keindahan berbagi’ (waktu, tenaga, ilmu, energi, dst) merupakan buah dari transformasi ‘kebutuhan ingin memiliki’.

Transformasi ini tidak mungkin tanpa praktik “melihat diri sendiri seperti apa adanya”. Lihatlah dengan batin yang hening apa yang sesungguhnya menjadi ‘kebutuhan’ Anda di balik nafsu kemarahan atau nafsu keinginan Anda, dan lihatlah apa yang terjadi. Bukankah melihat ‘apa adanya’ adalah ‘transformasi seketika’ dan nilai-nilai luhur kehidupan mekar dengan sendirinya dari kedalaman batin Anda?

Praktik ‘melihat’ dan ‘mentransformasikan’ bukanlah dua langkah yang berbeda dan terpisah. ‘Melihat apa adanya’ selalu mendatangkan ‘transformasi seketika’. Apabila transformasi yang terjadi tidak seketika–membutuhkan waktu atau berlangsung secara bertahap–maka perubahan tersebut sekedar akibat dari penyesuaian dengan ‘apa yang seharusnya’ tetapi bukan buah dari ‘melihat apa adanya.’

Anda tidak mungkin bisa berbagi dengan tulus, pun kalau itu sudah menjadi nilai bagi Anda, tanpa sepenuhnya sadar kelekatan-kelekatan Anda pada lapisan yang dalam. Anda tidak mungkin gampang memuji atau menghargai kebaikan orang lain, tanpa sepenuhnya sadar pada moment ketika terdapat kebutuhan yang dalam untuk dipuji atau dihargai. Anda tidak mungkin mekar dalam kasih sayang, tanpa melihat dari saat ke saat kebutuhan yang dalam untuk diterima, dimengerti dan dicintai. Anda tidak mungkin menegasikan ego atau keakuan Anda dan sepenuhnya bertindak demi kebaikan orang lain, tanpa melihat secara actual ego atau keakuan pada moment kemunculannya.

Apabila Anda prihatin pada situasi keluarga Anda dan mengharapkan ada sesuatu yang berubah tetapi belum berubah, Anda perlu melihat ke dalam. Jangan-jangan Anda sendiri belum cukup berubah.
Apabila Anda prihatin pada situasi masyarakat Anda dan mengharapkan ada sesuatu yang berubah tetapi belum berubah, Anda perlu melihat ke dalam. Jangan-jangan Anda sendiri belum cukup berubah.
Apabila Anda prihatin pada situasi bangsa Anda dan mengharapkan ada sesuatu yang berubah tetapi belum berubah, Anda perlu melihat ke dalam. Jangan-jangan Anda sendiri belum cukup berubah.

Praktik ‘melihat apa adanya’ membangkitkan nilai-nilai luhur kehidupan dari dalam. Tidak dibutuhkan pergulatan panjang untuk merealisasikan nilai-nilai luhur melampaui nilai-nilai moralitas atau religiositas yang tadinya kita pelajari dari luar dan kita batinkan. Melalui praktik ini, kita mendapati diri kita berubah secara alamiah; hati kita menjadi lebih damai dan bahagia; dan kita tergerak dari dalam untuk lebih memperhatikan kesejahteraan sesama dan segala makhluk. Hidup seperti ini terasa lebih indah.

Halnya sudah sangat jelas, tidak diperlukan penjelasan panjang-lebar. Shantideva, seorang Guru India abad 8 mengatakan begini: “Orang-orang yang tidak matang bekerja demi kepentingan diri mereka sendiri, sedangkan para Buddha (orang-orang yang kesadarannya sudah tercerahkan atau terilahikan—penulis) bekerja demi kebaikan orang lain dan segala makhluk. Lihatlah perbedaan di antara keduanya.”

Proses transformasi diri, dari ‘needs’ menjadi ‘virtues’, dari orientasi berpusat pada “diri sendiri” menjadi terarah keluar pada “orang lain dan segala makhluk”, membawa keindahan dan kedamaian bagi semua penghuni alam semesta. ‘Melihat wajah kita seperti apa adanya’, dengan segala ‘kebutuhan ego dan keakuan’ yang sudah mengakar dalam, merupakan lompatan untuk mengubah dunia menjadi tempat mengekspresikan nilai-nilai luhur kehidupan.

“Apabila terdapat terang dalam jiwa,
Akan terdapat keindahan dalam diri orang tersebut.
Apabila terdapat keindahan dalam diri orang tersebut,
Akan terdapat keselarasan dalam rumah tangga.
Apabila terdapat keselarasan dalam rumah tangga,
Akan terdapat keteraturan di seluruh negeri.
Apabila terdapat keteraturan di seluruh negeri,
Akan terdapat damai di seluruh dunia.”
–Pepatah Cina