By J. Sudrijanta

Damai adalah rumah sejati setiap makhluk, termasuk setiap insan manusia. Namun untuk bisa menghirup udara kedamaian secara dalam, kita perlu memahami dan membersihkan benih-benih kebencian yang ada di lapisan dalam. Tanpa pembersihan pada tingkatan yang dalam, damai yang kita rasakan bersifat dangkal dan mudah menguap.

Pernahkah Anda berkonflik atau bermusuhan dengan orang lain? Mengapa Anda memiliki konflik atau permusuhan? Bukankah kebencian dalam diri Andalah yang menciptakan konflik atau permusuhan? Apabila ada kebencian, pastilah ada konflik. Apabila ada kemarahan, pastilah ada permusuhan. Sebaliknya, apabila batin Anda bebas sama sekali dari kebencian, tentu Anda tidak memiliki konflik atau permusuhan, sekalipun ada orang lain yang membenci Anda.

Kebencian atau kemarahan selalu memiliki objek sasaran. Kebencian bisa tertuju pada orang lain atau sesama makhluk hidup; makhluk tidak bernyawa, misalnya kerikil atau batu saat kita tersandung; penderitaan fisik maupun psikologis.

Tetapi kebencian atau kemarahan muncul bukan pertama-tama karena objeknya secara objektif memiliki sifat-sifat buruk, melainkan karena batin sudah memiliki gambaran mental yang buruk yang diciptakannya sendiri yang ditempelkan pada objeknya. Seringkali kualitas-kualitas keburukan dari objeknya dilebih-lebihkan atau diada-adakan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataannya. Ketika kebencian memuncak, bisa jadi terdapat dorongan ingin menghancurkan atau melenyapkan objek tersebut.

Terdapat sembilan situasi yang memunculkan kebencian ini: kebencian terhadap sesuatu atau seseorang yang telah, sedang, atau akan melukai sesuatu atau seseorang sebagai “aku”; terhadap sesuatu atau seseorang yang telah, sedang, atau akan melukai sesuatu atau seseorang sebagai “milikku”; terhadap sesuatu atau seseorang yang telah, sedang, atau akan membantu “musuhku”.

Musuh yang paling buruk bukan berada di luar, tetapi berada di dalam batin kita sendiri, yaitu saat kita dikuasai oleh kebencian dan kemarahan. Kebencian menghancurkan keseimbangan batin dan batin yang tidak seimbang sulit menemukan damai. Tidur tidak nyenyak, makan tidak enak. Semua hubungan menjadi hambar. Kita menjadi sulit tertawa dan tidak bisa menikmati segala hal. Hal-hal yang indah menjadi buruk, yang cerdas menjadi bodoh. Teman menjadi musuh dan orang yang paling dekat menjadi orang yang paling kita benci.

Anda bisa membuat daftar sendiri tentang keburukan yang diciptakan oleh kebencian dan kemarahan: efeknya terhadap kesehatan fisik, terhadap kesehatan mental, terhadap cara kita memandang dan mempersepsikan segala hal, terhadap hubungan-hubungan personal dan komunal.

Yang jarang dilihat adalah fakta keburukan tersembunyi dari kemarahan. Setiap moment kemarahan memperkuat benih kemarahan dalam batin kita, sehingga kita memiliki potensi yang lebih besar untuk marah di waktu-waktu mendatang. Ketika kemarahan muncul, ia memperlemah atau menghancurkan potensi-potensi positif dan menambah hebat penderitaan kita.
Alasan utama kita perlu bebas dari kemarahan adalah tidak ada kebaikan apapun yang datang dari kebencian dan kebencian yang memuncak dalam kemarahan hanya menciptakan penderitaan yang lebih hebat. Tidak ada dari kita yang mau menderita, tetapi kita terus menciptakan kebencian dan kemarahan yang membuat batin kita makin menderita. Itu dua hal yang saling kontradiktif.

Untuk bisa bebas secara total, kita perlu meneliti dengan hati-hati dan memahami proses-proses yang menciptakan kebencian dan kemarahan.

Pertama, menemukan delusi di balik kebencian dan kemarahan.
Semua fenomena, termasuk fenomena kebencian, memiliki tiga element pembentuk: sebab, kondisi, dan persepsi. Anda sekarang barangkali sedang asyik membaca tulisan ini dan sedang tidak didera oleh kemarahan. Namun demikian, meskipun Anda sekarang sedang tidak marah-marah, benih kebencian itu ada pada kesadaran terpendam. Ketika terdapat situasi yang matang, benih kebencian bisa bermanifest keluar. Misalnya, sementara Anda sekarang duduk dan membaca dengan tenang sekarang, tiba-tiba Anda diberitahu bahwa mobil Anda di parkiran penyok ditabrak orang. Apakah timbul kemarahan? Kebencian atau kemarahan terhadap sesuatu atau seseorang yang mendatangkan hal-hal buruk yang tidak kita ingini sudah ada “benih”-nya pada batin kita. Mobil penyok karena ditabrak orang adalah “kondisi” yang mematangkan kemunculan benih. Mobil itu sebagai “milikku” secara psikologis adalah delusi yang berfungsi sebagai bensin bagi timbulnya kemarahan.

Bila ada sebab tanpa kondisi, kemarahan tidak muncul. Bila ada kondisi tanpa benih, kemarahan juga tidak muncul. Bila ada sebab sekaligus kondisi, tetapi tidak ada delusi, maka kemarahan tidak muncul. Melihat jalinan ketiganya dan terutama meneliti aspek delusi menjadi penting.

Delusi di sini adalah keyakinan, konsep, pandangan, nilai-nilai, asumsi atau persepsi terkondisi yang membenarkan tindakan kebencian dan kemarahan. Ketika kita marah-marah, ada delusi yang mengatakan seperti ini misalnya: “Aku marah, maka aku ada.”; “Aku punya hak untuk marah.”; “Aku benar, orang lain salah.”; “Orang tidak bisa berubah kalau tidak dimarahi.”

Delusi terbesar di balik kebencian dan kemarahan adalah ketidakthauan batin yang melekat pada sesuatu sebagai “aku” dan “milikku”. Tidak ada cara membersihkan diri dari kebencian dan kemarahan secara permanen tanpa realisasi terus-menerus bahwa diri yang ada secara konvensional ini sesungguhnya kosong atau hampa dari “inti-diri”.

Apabila batin mampu melihat secara langsung delusi adanya ego dan keakuan ini sebagai delusi, maka timbullah kearifan (wisdom). Dengan kearifan ini, sebab-sebab terdekat dari kemarahan akan cepat dibersihkan, seperti rasa takut, luka atau kepedihan.

Kedua, praktik sukarela menanggung kesulitan.
Kemarahan selalu lahir dari batin yang tidak bahagia. Apabila kita melampiaskan kemarahan di depan orang, maka kita sedang mengekspose atau mempertontonkan penderitaan kita sendiri. Dengan melampiaskan kemarahan, kita memperkuat benih kemarahan dalam diri orang lain dan tindakan ini justru memperkuat benih kemarahan dalam batin kita sendiri.

Oleh karena itu, ketika terdapat dorongan untuk melampiaskan kebencian atau kemarahan, kita pertama-tama perlu menyadari ketidakbahagiaan kita dan menyelesaikannya. Rasa marah karena kepedihan di hati, rasa takut, cemas, atau gelisah disebabkan oleh tidak adanya pemahaman yang tepat. Apabila kita cepat marah, menyalahkan objek atau situasi di luar sebagai penyebab persoalan kita, maka kepedihan kita akan semakin parah. Situasi akan terus berubah dan persoalan akan terus datang kepada kita, tetapi kita memiliki kemampuan untuk menghentikan luka yang tercipta oleh reaksi penuh kebencian atau kemarahan terhadapnya.

Untuk bisa melakukan ini, kita perlu berlatih tidak menghindari masalah dan mengembangkan rasa terimakasih ketika hal-hal buruk terjadi dengan melihat situasi-situasi ini sebagai kesempatan untuk berlatih. Rasa terimakasih juga bisa kita kembangkan setiap kali kita dipertemukan dengan orang-orang yang sulit. Mereka adalah “guru-guru terbaik” yang menunjukkan sesuatu yang harus kita selesaikan dalam batin kita.

Kita perlu mengembangkan keyakinan bahwa kebencian dan kemarahan, sama sekali tidak berguna. Itu tidak mengurangi penderitaan, tetapi justru menambah masalah. Mengapa benci dan marah terhadap sesuatu apabila persoalannya bisa diselesaikan? Kebencian dan kemarahan hanya menambah kepedihan, seperti menuangkan garam pada luka. Dan mengapa benci dan marah apabila persoalannya tidak bisa diselesaikan? Memperpanjang kepedihan dengan cara demikian merupakan penderitaan yang kita ciptakan sendiri; itu bukan akibat dari persoalan yang Anda hadapi.

Ketiga, praktik welas asih.
Mereka yang marah terhadap kita adalah orang-orang pertama yang menjadi korban dari penderitaannya sendiri. Apabila Anda dicaci maki, entah karena ada alasan atau tanpa alasan, apakah timbul rasa sakit? Kesakitan Anda sesungguhnya bukan apa-apanya dibanding kesakitan yang mendera orang yang mencaci-maki Anda.

Ketika Anda dipertemukan dengan orang-orang yang terluka—seringkali mereka adalah orang-orang yang membenci Anda—respons apa yang muncul? Apakah kebencian dibalas dengan kebencian, kemarahan dibalas dengan kemarahan? Bukankah orang-orang yang menderita lebih membutuhkan pemahaman, penerimaan dan welas asih, bukan menjadi objek kebencian? Kita bisa belajar membangkitkan welas asih. Apabila tidak mampu membangkitkan welas asih, sekurang-kurangnya janganlah kita mengobarkan kemarahan atau balas dendam.

Apabila kita tidak menyelesaikan kebencian dan kemarahan, maka kita sendiri terus-menerus mempertahankan luka itu dalam diri kita. Kita bisa berhenti melukai diri kita sendiri apabila kita berhenti membenci.

Tidak mudah berlatih apabila kita berjumpa dengan situasi yang buruk atau orang-orang yang sulit. Namun perjumpaan seperti itu adalah kesempatan sekaligus batu ujian bukan hanya agar kita mampu menemukan damai yang kokoh, tetapi juga mampu membangkitkan welas asih.

Kebencian tidak bisa dilenyapkan oleh kebencian. Apabila Anda tahu bahwa Anda masih sering dikuasi oleh kebencian, dan Anda sendiri menjadi benci dengan situasi Anda, maka Anda sedang berputar-putar dengan kebencian.

Dibutuhkan kesadaran yang dalam untuk bisa menyentuh kebencian dan kemarahan secara tepat. Dibutuhkan pengamatan yang jernih hingga sampai pada pemahaman cerah bahwa tidak ada sesuatu “yang membenci” dan “yang layak untuk dibenci”. Barulah kemudian damai, kearifan, dan welas asih akan melingkupi hati kita.

Ada kebenaran spiritual di balik kata-kata berikut ini, “Segala sesuatu adalah baik adanya, akan menjadi baik dan pasti akan menjadi baik.” Apabila segala sesuatu baik adanya, bukankah tidak ada tempat bagi kebencian? Itulah dasar spiritual mengapa kita perlu bebas secara total dari kebencian dan kemarahan.*