By J. Sudrijanta

Adalah fakta bahwa pada umumnya semakin meningkat umur seseorang, semakin tidak bahagia hidupnya. Boleh jadi hidupnya semakin enak atau nyaman karena ditopang oleh sarana yang memadai. Tetapi kenyamanan atau rasa enak karena uang atau prasarana teknologi yang dimiliki tidak berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan seseorang.

Barangkali tidak ada saat yang lebih bahagia dalam siklus hidup manusia kecuali saat kanak-kanak di bawah usia 5 tahun. Kebanyakan anak menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam keadaan bahagia. Kalaupun tidak bahagia, persentasenya sangat kecil. Ketika anak menginjak remaja, tingkat kebahagiaan ini makin berkurang. Penderitaan orang kemudian semakin meningkat lagi ketika orang menikah dan menjadi tua. Jadi secara umum semakin tua seseorang, orang itu semakin tidak bahagia, kecuali orang tahu bagaimana mengubahnya.

Meskipun hidup penuh dengan penderitaan, setiap orang sudah ditakdirkan untuk bisa melampauinya. Mengapa begitu? Kita semua tidak bebas dari rasa sakit, tetapi kita bisa bebas sama sekali dari penderitaan karena penderitaan itu kita sendirilah yang menciptakan. Jadi Anda sendirilah penentu apakah Anda mau tetap hidup dalam penderitaan yang Anda ciptakan sendiri atau mau melampauinya.

Meskipun eksistensi kita adalah penderitaan, sesungguhnya kebahagiaan adalah keadaan alamiah dari keberadaan kita (the natural state of being). Banyak pejalan spiritual yang telah sampai mengatakannya. Tentu yang dimaksudkan bukanlah kebahagiaan yang terbatas atau terkondisi, karena apa saja yang terbatas atau terkondisi hanyalah bentuk lain dari penderitaan.

Kalau Anda sedang menderita, apakah Anda kehilangan kebahagiaan tak-terbatas Anda? Ketika Anda berada di puncak gunung dan tiba-tiba kabut tebal menyelimuti seluruh pandangan Anda, apakah bisa dikatakan bahwa gunung tempat Anda berpijak itu lenyap? Tentu tidak, bukan? Kebahagiaan tak-terbatas Anda tidak hilang, tetapi hanya tertutupi oleh penderitaan yang Anda ciptakan sendiri.

Penderitaan tidak bisa ada tanpa Anda ciptakan, sedangkan kebahagiaan tak-terkondisi sudah ada tanpa perlu Anda ciptakan. Bagaimana mengakses keadaan yang paling alamiah ini? Kita hanya perlu menyadari ketidakalamiahan batin kita yang terkondisi ini dan membiarkannya berhenti. Batin kita sudah terbiasa berlari dari keadaan alamiah ini dengan menciptakan begitu banyak bentuk penderitaan. Mekanisme batin seperti inilah yang menutupi keadaan alamiah ini dalam banyak cara. Beberapa di antaranya bisa kita lihat di bawah ini.

Pertama, kita seringkali kehilangan kebahagiaan karena kita hidup, bergerak dan ada secara kompulsif. “Kompulsif” artinya, kita bertindak semata-mata mengikuti dorongan sesaat dari batin yang terkondisi. Kita bersikap reaktif, berpikir reaktif, berkata-kata reaktif, berperilaku dan bertindak reaktif. Rasa takut, rasa cemas, kesepian, keserakahan, kebencian, rasa marah adalah contoh manifestasi dari gerak batin yang kompulsif dan semua tindakan kompulsif memperkuat kembali mekanisme batin yang terkondisi.

Apabila kita menyadari setiap kata yang kita ucapkan, tindakan yang kita lakukan, reaksi-reaksi kita, motif-motif atau latar-belakang di baliknya–ambisi-ambisi, ketakutan-ketakutan, kesepian-kesepian kita—maka penderitaan-penderitaan kita akan cepat ditransformasikan.

Kedua, kita seringkali kehilangan kebahagiaan karena kita masih membawa kepercayaan keliru bahwa tidak ada kebahagiaan tanpa terkait dengan objek-objek di luar—seseorang, uang atau materi, sesuatu atau suasana di luar. Sistem kepercayaan ini sangat halus dan mengakar dalam pada batin kita.

Kepercayaan ini membuat hidup kita terombang-ambing seperti gerak bandul. Kita terayun di antara suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan. Tidak ada objek yang memuaskan dan bersifat permanen. Maka batin yang menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang bersifat sementara dan tidak memuaskan pastilah rentan terhadap goncangan dan penderitaan.

Kita tidak melihat fakta bahwa kebahagiaan yang dikondisikan oleh objek-objek di luar adalah bentuk lain penderitaan. Apabila kita melihat ilusi ini sebagai ilusi, maka tindakan melihat ini adalah kecerdasan yang selalu membawa damai dan pembebasan. Pesona keindahan objek-objek di luar itu memang menarik tetapi batin ini tahu mana yang sungguh dibutuhkan dan mana yang tidak sungguh dibutuhkan.

Ketiga, kita seringkali kehilangan kebahagiaan karena kita begitu mementingkan identitas yang kita bentuk atau ditempelkan orang lain kepada kita. Kita memiliki banyak identitas terkait, suku, bangsa, agama, pendidikan, keahlian, status sosial atau ekonomi. Itu semua kita butuhkan untuk survival, tetapi identifikasi diri dengan identitas tersebut justru menutupi keadaan alamiah keberadaan kita. Anda bisa berlatih untuk menyadari kelekatan-kelekatan pada identitas Anda dan melepaskannya.

Apabila pelarian-pelarian ini kita sadari dan berhenti, maka kita kembali kepada keadaan alamiah kita. Lalu kedamaian dan kebahagiaan tak-terkondisi akan mengiringi hidup kita.*