By J. Sudrijanta

Kapan Anda merasakan bahwa tubuh Anda sungguh-sungguh berharga? Dalam keadaan sehat, seringkali saya lupa bahwa tubuh ini begitu penting. Ketika sakit barulah saya merasakan bahwa tubuh ini sungguh berharga.

Sudah seminggu ini saya tidak bisa duduk lama; paling lama hanya sekitar 5 menit. Saya belum pernah merasakan sakitnya duduk seperti saat-saat ini. Ketika rasa sakit sudah tak-tertahankan, saya lalu berdiri dan berjalan mondar-mandir. Keadaan tubuh seperti ini membuat saya punya banyak kesempatan melakukan meditasi jalan (walking meditation).

Lebih menyiksa lagi saat tidur. Meskipun sudah ngantuk, tubuh ini tidak bisa tidur. Dalam posisi terlentang atau telungkup, tubuh terasa nyeri. Rasa nyeri ini merayap dari punggung bawah dan sekujur kaki kiri, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Paling-paling hanya bisa tidur dalam posisi miring ke kanan. Tetapi itupun hanya bisa bertahan 5 menit. Terkadang kekuatan untuk membalikkan badan atau untuk bangun bisa hilang sama sekali. Kalau sudah seperti ini, saya hanya bisa diam dan merasakan sensasi rasa sakit sambil menunggu rasa sakit itu berkurang dengan sendirinya.

Saya punya problem penyempitan syaraf di lumban 4 dan 5. Kalau sedang kambuh seperti sekarang ini, kadang tidak bisa duduk, tidak bisa berjalan, tidak bisa tidur. Kalau sudah demikian, sering terpikir apa gunanya tubuh ini ketika tidak bisa berfungsi melakukan aktivitas sehari-hari. Itu adalah suara ego yang protes karena tubuh tidak bisa menuruti nafsu keinginan.

Syukurlah, pada saat ini tubuh ini sudah bisa tidur, duduk, berdiri, atau berjalan. Tapi ada triknya. Saat tidur, posisinya seperti duduk meditasi. Hanya saja, yang menempel di lantai adalah punggungya, sedangkan kaki menghadap ke atas dengan posisi bersila dan menempel tembok. Model tidur biasa—terlentang, telungkup, miring ke kanan atau ke kiri—masih menimbulkan rasa nyeri yang tidak tertahankan. Kalau mau berdiri, musti bergerak sangat pelan. Kalau mau berjalan, musti berdiri diam tanpa bergerak beberapa saat dan setelah terasa relatif enak, barulah melangkah. Begitu pula saat mau duduk.

Pengalaman sakit hari-hari ini membuat saya sadar bahwa tubuh ini bagaikan kendaraan yang sungguh berharga. Sehat atau sakit hanyalah sifat yang ditempelkan pada tubuh sesuai kondisinya saat itu. Kita hanya perlu menjaga agar kendaraan ini selalu terawat dan terjaga. Bukan agar setiap kali kita membutuhkan, ia dapat melayani kita, melainkan agar ia dapat berfungsi menurut Kecerdasannya sendiri.

Tubuh ini memiliki Kecerdasannya sendiri. Ia tahu kapan harus duduk, berdiri, berjalan, bekerja atau tidur. Ketika nafsu keinginan memaksa tubuh bekerja melampaui batas kecerdasannya sendiri, timbullah rasa nyeri, ngilu atau sakit. Itu semua hanyalah reaksi syaraf yang seringkali menunjuk bahwa ego dan keinginan lebih dipentingkan daripada Kecerdasan tubuh.

Saat sakit tiba, sungguh mengagumkan mengamati bagaimana proses-proses jasmani berlangsung dan menimbulkan sensasi sakit. Saat rasa sakit berangsur-angsur mereda dan lenyap, kita menyebutnya tubuh berada dalam keadaan sehat. Tidak ada sakit yang bersifat menetap; begitu pula sehat. Sakit dan sehat ternyata silih berganti, seperti roda yang terus berputar.

Tubuh bukanlah kata benda, melainkan kata kerja. Dalam tubuh terdapat proses-proses “me-nubuh” yang terus berjalan dari detik ke detik. Unsur-unsur makanan, air, udara, api, dan tanah ditransformasikan menjadi sel-sel yang membentuk tubuh. Jutaan sel-sel ini mengalami kematian dan kelahiran setiap hari. Begitulah sesungguhnya tubuh mengalami pembentukan dan pengakhiran dari saat ke saat.

Lebih membebaskan lagi adalah melihat fakta bahwa si aku atau ego yang mengklaim diri sebagai si empunya tubuh atau si pengendali tubuh ternyata ilusi belaka. Si aku atau ego hanyalah ilusi yang diciptakan oleh pikiran. Ketika si aku atau ego ini muncul, rasa sakit terasa lebih menyengat dan menimbulkan penderitaan. Melihat fakta ini dari saat ke saat sebagaimana adanya cukup membawa pembebasan.

Apabila kita hendak menghargai kehidupan, kita perlu belajar mendengarkan tubuh kita. Dari tubuh ini, kita diberi tahu apakah hidup kita berjalan selaras dengan Kecerdasan Semesta atau tidak. Apabila sakit, tubuh ini yang merasakan. Apabila sehat, tubuh ini juga yang merasakan.

Beruntung kita hidup dengan tubuh fisik ini. Bukan karena dengan memiliki tubuh fisik, kita masih bisa berfungsi di tengah dunia. Tetapi terutama karena dengan tubuh fisik ini, kita dibantu untuk melanjutkan perjalanan spiritual—perjalanan spiritual untuk hidup selaras dengan Kecerdasan Semesta—sampai saatnya tubuh ini tidak lagi bisa berfungsi.*