By J Sudrijanta

Adalah fakta bahwa kita masing-masing memiliki cacat bawaan eksistensi. Cacat bawaan eksistensi adalah kecenderungan dasariah yang melekat pada keberadaan kita sebagai manusia yang menyimpang dari apa yang utuh, murni, benar, baik, dan indah. Kecenderungan dasariah itu bernama dosa (kotoran batin, pelanggaran dan kejahatan), dukkha (kesakitan dan kenikmatan) dan maya (penyimpangan, kesesatan, dan kepalsuan).

Bukankah tidak sulit menemukan manifestasi dari cacat bawaan kita? Kebiasaan buruk seperti takut, mudah tersinggung, suka galau, gampang marah adalah contohnya. Berbicara buruk tentang orang lain, malas, mengumbar nafsu keinginan, suka mencuri, serakah adalah contoh yang lain.

Darimanakah cacat bawaan eksistensi ini berasal? Cacat bawaan ini berasal dari pikiran. Tidak ada dosa, dukkha dan maya tanpa melibatkan pikiran karena pikiran itu sendiri adalah sumbernya.

Dari pikiran timbul ucapan dan perbuatan. Namun pikiran lebih buruk daripada ucapan dan perbuatan. Mungkin Anda merasa harus bersikap sopan atau manis-manis di depan orang, tetapi dalam pikiran mungkin Anda bersikap sangat kasar. Atau mungkin Anda tidak berani berucap atau berbuat di muka umum, namun dalam pikiran siapa yang tahu?

Pikiran juga lebih berbahaya daripada ucapan dan perbuatan. Sebelum Anda mengatakan atau berbuat, begitu pikiran Anda sangat buruk, maka energy keburukan sudah menyebar di sekitar Anda. Pikiran adalah energy yang bervibrasi dan menyebar jauh lebih cepat dibanding ucapan atau perbuatan dengan tubuh Anda. Dan ketika pikiran sudah sedemikian buruk, ucapan dan perbuatan hanyalah wujud yang tampak dari kekuatan energy keburukan yang tidak tampak. Karena itulah pikiran sangat berbahaya.

Bagaimanakah memutus pikiran-pikiran buruk sebagai akar dari cacat bawaan eksistensi kita?

Pertama, kita perlu menjaga moralitas. Di sini dibutuhkan usaha terus-menerus dalam menyelaraskan pikiran dan perilaku kita dengan nilai-nilai moralitas. Apabila kita tidak menjaga moralitas, maka ucapan dan perbuatan kita menjadi kotor. Anda tahu apa yang Anda rasakan apabila badan dan baju Anda kotor. Apabila badan dan baju kita kotor, maka kita sendiri tidak enak atau tidak nyaman. Apabila badan dan baju kita bersih, maka kita juga akan merasa enak atau nyaman. Begitu pula apabila kita berlatih menjaga moralitas, kita menjaga batin ini bersih dan pikiran menjadi damai. Lalu ucapan dan perbuatan akan mengikuti.

Batin kita ini seperti gelas dengan air yang kotor. Moralitas berfungsi untuk mencegah air kotor ini supaya tidak tumpah keluar. Kita perlu terus-menerus berlatih agar kotoran-kotoran batin tidak keluar dalam pikiran, ucapan dan perbuatan.

Namun demikian, meskipun kita berhasil tidak melakukan pelanggaran moral, kotoran-kotoran batin itu masih ada dalam gelas batin kita. Repotnya lagi, seringkali kita tidak bisa menunjuk dengan persis kotoran-kotoran batin kita. Barangkali kita hanya merasa galau, kacau, tidak damai, tidak bahagia; tetapi kita tidak bisa melihat persis sebabnya karena kotoran-kotoran itu bercampur dengan air dan tersamar dalam gelas batin kita.

Oleh karena itu, kita membutuhkan latihan kedua, yaitu meditasi ketenangan. Meditasi ketenangan adalah meditasi yang berfokus atau berkonsentrasi pada objek utama secara terus-menerus. Anda bisa berkonsentrasi pada nafas, mendengarkan music atau lagu, berzikir menyebut nama Allah atau mendaraskan kata-kata pendek sebagai mantra seperti Jesus atau Maranatha. Anda bisa berkonsentrasi untuk memasuki misteri dalam perikope Kitab Suci. Anda bisa berdoa Rosario atau Tasbih, melakukan praktik devosi atau merayakan Ekaristi. Itu semua bisa membawa Anda pada ketenangan.

Meditasi konsentratif berfungsi mengendapkan kotoran-kotoran dalam gelas batin kita. Ketika kotoran-kotoran sudah mengendap, kita menemukan ketenangan atau rasa damai.

Saat merasa tenang atau damai, kita mengira sudah bebas. Kenyataannya, kita belum mengalami kebebasan sempurna, sebab kotoran-kotoran itu masih ada. Apabila terjadi sedikit goncangan, bisa jadi gumpalan kotoran-kotoran batin membual keluar dan mengotori air dalam gelas batin Anda. Dalam sekejap Anda kehilangan ketenangan atau kedamaian. Pikiran, ucapan dan perbuatan bisa kembali dipenuhi oleh kekotoran.

Oleh karena itu, kita membutuhkan latihan ketiga, yaitu meditasi pencerahan. Meditasi pencerahan adalah praktik kesadaran atau praktik keheningan yang lebih dalam yang dapat dilakukan terus-menerus, kapanpun dan dimanapun, 24 jam setiap hari. Meditasi ini membuat batin sadar, awas, atau terjaga setiap saat terhadap apa yang sedang terjadi di luar maupun di dalam batin kita, termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita.

Ketika batin mampu melihat kotoran-kotorannya dalam kejernihan, maka ia dibebaskan seketika dari apa yang dilihatnya. Ketika perbuatan buruk diketahui dan dipahami dalam kejernihan pada saat kemunculannya, maka batin dibebaskan darinya seketika. Pembebasan penuh hanya muncul dari penglihatan cerah ini. Itu seperti melihat kotoran dalam gelas air batin kita dan kotoran itu langsung menguap atau lenyap seketika.

Melalui praktik doa atau puja, mengikuti kebaktian agama, berziarah, atau melakukan praktik meditasi, kita dapat menemukan ketenangan atau kedamaian hati, tapi bisa jadi tidak mengalami pencerahan. Batin yang belum berpandangan cerah tidak jernih dalam melihat segala perkara meskipun mengalami ketenangan. Persepsinya mudah meleset. Yang palsu dilihatnya sebagai yang benar dan yang sejatinya benar dilihatnya salah. Apa yang sejatinya penderitaan dianggapnya sebagai kebahagiaan dan apa yang sejatinya membebaskan dianggapnya kesesatan.

Batin yang berpandangan cerah adalah batin yang mampu melihat dengan jernih kotoran sebagai kotoran, penderitaan sebagai penderitaan dan kebahagiaan sebagai kebahagiaan, kepalsuan sebagai kepalsuan, dan kebenaran sebagai kebenaran. Pandangan cerah seperti inilah yang mengubah.

Sejauh mana Anda berubah? Apabila Anda rajin beribadah, rajin berdoa atau bermeditasi, tetapi tidak berubah, itu apa artinya? Apakah Anda hanya mencari ketenangan atau hiburan, tetapi bukan pencerahan atau pembebasan? Untuk mengalami pembebasan dibutuhkan praktik spiritual yang lebih dalam.

Segala upaya untuk membebaskan diri dari dosa, dukkha dan maya tanpa menemukan akar sebabnya dan mencabutnya adalah sia-sia belaka. Itu seperti menarik ujung tali yang satu sementara ujung tali yang lain terikat pada batu. Kita harus melepaskan ikatan tali pada batu lebih dulu barulah kemudian kita bisa menarik talinya dengan leluasa. Begitu pula kita harus melepaskan akarnya lebih dulu dan barulah kita bebas dari cacat bawaan eksistensi kita.

Pikiran, ucapan dan perbuatan buruk pasti membawa akibat buruk. Kita perlu sadar, berjaga, awas atau waspada setiap saat. Itulah mengapa Jesus berpesan kepada murid-muridNya, “Berjaga-jagalah dan berdoalah selalu, supaya kamu pantas diluputkan dari malapetaka yang akan terjadi dan sanggup menghadapi Putera Manusia.” (Lukas 21:36)