Bisakah melihat fakta ini, bahwa kita—batin manusia yang terkondisi ini–mudah mengikuti otoritas secara buta. Kita mudah ikut-ikutan. Kita tidak tahu pasti kenyataannya, tetapi percaya apa yang dikatakan pemimpin agama, guru spiritual atau kitab suci adalah kebenaran. Istilah kerennya “kita beriman”.

Otoritas yang saya maksudkan bukanlah otoritas polisi yang akan menyemprit Anda ketika Anda melanggar lalu-lintas di jalan, atau otoritas hakim di pengadilan yang berkuasa menghukum atau membebaskan Anda, atau otoritas orang tua yang berkuasa mengatur hidup Anda dulu ketika Anda masih kecil. Otoritas yang saya maksudkan adalah otoritas psikologis sebagai rujukan atau sumber yang dari sana kita mencari kebenaran dan hanya melalui otoritas tersebut kebenaran ditemukan.

Pada mulanya seringkali kita terpukau oleh penampilan, kata-kata atau tindakan guru atau pemimpin agama yang kita ikuti. Namun ketika mereka tidak lagi cocok dengan selera atau pendirian kita, kita lalu kecewa, sakit hati, menyalahkan atau melancarkan kritik. Lalu kita berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain–atau dari agama yang satu ke agama yang lain.

Kitab-kitab, tradisi, ritual, dan dogma-dogma agama yang kita tolak atau kita lekati seringkali kita pakai hanya untuk membenarkan kelemahan atau keserakahan kita. Dan kita secara tidak sadar membiarkan diri kita ditipu atau dieksploitasi oleh guru-guru spiritual atau para pemimpin agama.

Kalaupun kita menolak semua otoritas kebenaran di luar, diam-diam kita menciptakan otoritas bagi diri kita sendiri. Kita menjadikan pengetahuan, ide, keyakinan, dan pengalaman kita sebagai otoritas kebenaran bagi diri kita sendiri. Jadi batin manusia yang terkondisi ini tidak pernah bebas dari otoritas.

Orang yang dibelenggu otoritas hidup terbungkuk-bungkuk karena harus mengikuti tuntutan otoritas dan semua otoritas justru menghalangi ditemukannya kebenaran. Ilustrasi di bawah ini barangkali akan memperjelas apa yang dimaksudkan.

Pada bulan ini saya mendapat 5 kasus perkawinan; 2 perkawinan berusia di bawah 10 tahun dan 3 perkawinan berusia sekitar 25 tahun. Dua orang suami datang dengan pertanyaan kurang lebih seperti ini. “Pastor, kami menikah di bawah 10 tahun. Perkawinan kami berada di tebing kehancuran. Bagaimana keluar dari persoalan ini.”

Tiga perkawinan yang lain berusia sekitar 25 tahun. Yang datang adalah dua orang suami dan satu orang isteri. Pertanyaan ketiganya kurang lebih sama. “Pastor, bagaimana caranya kami bercerai?” Atau begini, “Kami sudah cerai secara sipil. Sekarang bagaimana caranya saya mengajukan pembatalan pernikahan di Gereja.”

Saya akan ceritakan satu kasus saja, yaitu kasus perkawinan yang kandas di saat usia perkawinan sekitar 25 tahun. Isteri Katolik dan suami Moslem. Mereka punya kisah cinta yang hebat hingga mereka memutuskan untuk menikah. Pihak Moslem tidak keberatan menikah secara Katolik. Mereka merasa hidup bahagia sampai tahun kelima perkawinan.

Setelah tahun kelima usia perkawinan, ada sesuatu yang berubah. Suaminya sering merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang Moslem, yaitu menjadi imam bagi keluarganya. Dan dia juga merasa hidup dalam perzinahan karena menikah dengan orang yang tidak seagama.

Karena konflik dan pertengkaran terus terjadi, mereka akhirnya sepakat bercerai dengan alasan agar bisa menjalani hidup sesuai dengan iman dan kaidah agamanya masing-masing. Itulah yang mereka pikir akan membuat hidup mereka menjadi lebih nyaman.

Alasan tersebut kedengaran masuk akal. Namun saya tidak puas dengan jawaban itu. Saya telusuri lebih lanjut apa yang terjadi sesungguhnya. Akhirnya ditemukan fakta ini. Pada lima tahun pertama perkawinan, si suami merasa diri dipercaya dan dihargai sebagai suami dan kepala keluarga. Setelah 5 tahun perkawinan, dia merasa tidak dipercaya dan tidak dihargai lagi. Mengapa? Penghasilan si isteri jauh lebih tinggi dari suaminya setelah lima tahun perkawinan. Dan apa yang terjadi? Saat pendapatan si isteri lebih rendah dari suami, dia nurut dengan suami. Saat pendapatan si isteri lebih tinggi dari suami, ia tidak sadar menjadi lebih berkuasa dan mulai berani mengatur suami. Si suami lalu merasa tidak dihargai. Karena persoalan-persoalan ini tidak diolah dan diselesaikan dengan baik, si suami berlari ke kitab-kitabnya sendiri dan menggunakan otoritas kitab-kitab itu untuk memutus perkawinan. Begitu pula dengan si isteri.

Jelaslah bahwa masalahnya bukan pada perbedaan cara pandang agama petama-tama, tetapi pada kompetisi kekuasaan yang dipicu oleh perbedaan penghasilan.

Jadi sering kali orang menggunakan otoritas untuk melihat persoalan dan kebenaran mleset ditemukan. Bagaimana mungkin kita memahami isi kitab-kitab suci apabila kita tidak bisa dengan jernih melihat persoalan-persoalan hidup konkret sehari-hari? Begitu pula sebaliknya, bagaimana mungkin kita bisa melihat dengan jernih persoalan-persoalan konkret hidup sehari-hari apabila kita melekat pada otoritas kitab-kitab suci? Kebenaran tidak mungkin ditemukan apabila kita melihat masalah-masalah kehidupan dengan distorsi otoritas di benak kita.

Bagaimana cara belajar orang pada umumnya tentang kehidupan dan hal-hal spiritual? Pada umumnya kita belajar melalui pengajaran, ceramah atau seminar, melalui kotbah, melalui buku-buku atau melalui pengalaman hidup. Kita berpikir, menganalisa, membanding-bandingkan, mencocokan dengan sumber tradisi kita dan mengambil kesimpulan. Apa yang kita pelajari kemudian kita catat dalam ingatan sebagai pengetahuan dan pengetahuan itu berfungsi sebagai rujukan saat menghadapi tantangan.

Cara belajar seperti itu kita pakai saat kita ingin lulus sekolah atau ingin berhasil dalam pekerjaan. Tetapi cara belajar seperti itu kecil artinya untuk memahami dan menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang lebih mendalam—seperti konflik, ketakutan, hasrat untuk berkuasa, kesepian, kedangkalan dan kepalsuan hidup, eksistensi Tuhan, dst.

Terdapat cara belajar yang sama sekali berbeda, tetapi untuk memahaminya dan untuk belajar dengan cara lain ini, Anda harus membuang semua otoritas psikologis yang Anda ciptakan. Kalau tidak, Anda tidak akan pernah bisa melihat kebenaran di balik setiap persoalan. Bisakah, misalnya, Anda menggunakan otoritas sebagai suami atau isteri untuk berbagi peran hidup, tetapi bebas sama sekali dari otoritas psikologis sebagai suami atau isteri. Bisakah, misalnya, Anda menggunakan otoritas sebagai atasan terhadap bawahan, tetapi bebas sama sekali bebas dari otoritas psikologis sebagai atasan? Bisakah, misalnya sebagai orang yang beragama, membuang semua otoritas yang Anda berikan kepada Jesus, Mohamad SAW, Buddha, dan tokoh-tokoh panutan Anda sebagai sosok yang memiliki otoritas di luar dan menjadikan mereka tidak lebih sebagai teladan?

Pemimpin agama atau guru spiritual yang palsu akan menciptakan rasa aman atau rasa pasti bagi para pengikutinya supaya mereka bisa diperdayai. Sebaliknya, para pemimpin agama atau guru spiritual sejati tidak segan-segan untuk menggoncang rasa aman atau rasa pasti pada diri semua orang yang mendengarkannya karena mereka mudah melekat pada otoritas di luar atau di dalam batinnya sendiri.

Iman bukanlah rasa aman atau rasa pasti sebagai hasil dari kelekatan pada doktrin-doktrin, kitab-kitab, atau sosok pemegang otoritas kebenaran. Iman yang sesungguhnya adalah kejernihan, kecerdasan, kepastian, keteguhan, atau kekuatan yang lahir dari batin yang tidak lagi bisa melekat pada apapun.

Seperti apa jadinya apabila batin tidak lagi dibelenggu oleh otoritas? Batin yang bebas dari otoritas adalah batin yang muda, segar, baru, polos, murni, trengginas (cepat tanggap), cerdas dan religius. Sebaliknya batin yang dipenuhi otoritas adalah batin yang tua, layu, kolot, dangkal, penuh rasa takut, ambisius, bisa jadi saleh dan tahu banyak hal tetapi tetap sempit, terbatas dan terkondisi.

Berikut adalah sebuah dialog imaginer tentang seorang imam rahib Katolik dan seorang wartawan yang saya ciptakan untuk menjelaskan secara naratif hubungan antara iman, otoritas dan kebenaran.

Ada seorang imam rahib Katolik yang menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai imam rahib di sebuah Asram Hindu di India. Si rahib ini sering mendapat kunjungan orang-orang dari berbagai latar belakang tradisi agama dan mereka mengaku mendapat banyak pencerahan dari perjumpaan dengannya. Ada seorang wartawan atheist yang mendengar ketenaran pertapa ini. Dia datang dan membuat wawancara.

Dia bertanya, “Guru, saya yakin Anda sudah mengalami pencerahan. Tetapi mengapa masih memeluk sebuah agama kalau sudah tercerahkan?”
Guru menjawab, “Anda tahu apa tentang agama saya? Katolik, seperti halnya Hindu atau Islam atau Buddha hanyalah label; agama saya bukan label; agama saya adalah damai, agama saya adalah kasih.”

“Tetapi mengapa Anda masih merayakan Ekaristi?” Tanya si wartawan menyelidik.
“Merayakan Ekaristi adalah cara saya merayakan keindahan kehidupan bersama orang-orang yang cinta damai dan haus kasih sayang.”

Wartawan ini masih penasaran, “Kalau begitu agama apa yang paling baik di antara semua agama yang ada.”
“Agama yang paling baik adalah agama sebagai antitesa ketidaksadaran. Sebab tidak ada damai dan kasih sayang apabila orang hidup dalam ketidaksadaran. Dan orang tidak mungkin bebas dari bentuk-bentuk ketidaksadaran tanpa meruntuhkan seluruh otoritas yang tertanam dibenaknya sendiri, termasuk otoritas agama, pengetahuan, tradisi, kitab suci, dan pengalamannya sendiri.”

Bisakah melihat otoritas yang tertanam di benak kita masing-masing dan beranikah kita meruntuhkan seluruhnya? Apabila otoritas tidak diruntuhkan, maka tidak mungkin terdapat kebenaran, damai dan kasih sayang dalam diri kita. (js)

Sekian!